Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Drama.
Pair : Naruto U., Hinata H.
Rated : T [15+]
Warning : Standart Warning Used. OOC
Basedon 'Critical Eleven by Ika Natassa' and 'Cold by Maroon 5'
I don't get any commercial when publish this story.
yamanakavidi Present
"Cold"
II
Tidak ada yang tahu kalau matahari pagi adalah hal yang paling menyebalkan bagi Naruto, karena dia dibangunkan dari mimpi indahnya sekali lagi hari ini. Mimpi indah dengan ayah dan ibu di dalamnya, bersama dengan Sasuke yang akhirnya pulang kembali ke desa dan senyum Sakura serta Kakashi-sensei menambah hangat suasana mimpi berdurasi sekitar lima sampai enam jam yang pada akhirnya disadarkan secara paksa oleh secercah berkas cahaya raja langit di sela-sela jendelanya.
Pria itu benci pagi hari, karena pada akhirnya dia harus sendirian lagi di apartemen kecilnya. Dia dipaksa kembali pada kenyataan bahwa dirinya hanya seorang tanpa ayah yang mengajaknya belajar rasengan atau ibu yang meneriakinya karena tidak patuh. Hal itu sudah terjadi mulai dia kecil sampai dia berhasil meredam perang dunia keempat bersama teman-teman. Meskipun di saat-saat terindahnya ada teman-teman satu desa, namun dia butuh seseorang yang menemaninya lebih dari dua puluh empat jam.
Naruto mulai menyukai pagi sejak dia mengenal perasaannya sendiri terhadap Hinata, sejak dia dilempar ke bulan dan harus mengakui bahwa hatinya memang sudah tertambat jaring cinta Hinata entah sejak kapan, kemudian Naruto jadi menyukai pagi. Dia suka menunggu hari baru untuk membuat cerita baru dengan Hinata, dimulai dengan menggoda gadis itu dan berakhir dengan saling senyum di depan mansion Hyuuga. Hinata saat itu masih canggung untuk berpelukan dan dia tidak ingin memaksakan apapun, Naruto juga lebih suka melempar senyum daripada memeluk kekasihnya, dia menyukai sorot mata gadis itu.
"Ohayou."
Naruto terbangun, menatap wajah ayu milik istrinya yang sudah segar adalah kebiasannya sekarang semenjak menikah. Pria itu mengernyit karena sinar matahari musim panas sudah menyapanya secara bersamaan, "Sekarang jam berapa Hinata?" suara seraknya keluar membuat wanita yang sedari tadi menatapnya itu melirik jam di dekat lampu tidur.
"Sepuluh."
Dulu, dia mendamba mimpi indah. Sekarang dia tidak terlalu memikirkan mimpi apa yang akan mendatanginya, karena yang terindah sudah ada di depannya.
Suaminya bangun tiba-tiba dan mencuri sebuah ciuman kecil dari bibir manis Hinata, dan seperti reaksi pada hari sebelumnya, wajah Hinata memerah.
Naruto tertawa dan memeluknya.
"Naruto-kun kenapa tertawa?" tanya Hinata yang dirinya masih di dalam dekapan Naruto.
"Kamu lucu, seperti wanita yang di pertunjukkan semalam."
Hinata mengerjapkan mata berfikir tentang siapa yang dimaksud Naruto, "Pelawak itu?" Mendapat anggukan suaminya, sang nyonya Uzumaki mengeluarkan delikan tajam yang langsung membuat Naruto diam tidak berkutik.
"Kamu memang lucu."
Hinata semakin menatapnya tajam, dan inilah yang Naruto suka wanita itu selalu mempunyai hal baru di setiap harinya. Suaminya itu melepaskan pelukan dan menatap Hinata dengan mata biru cerahnya.
"Nani?" tanya Hinata yang wajahnya semakin memerah. Lagipula siapa yang tahan ditatap dengan tatapan mendamba dari orang yang kamu cintai seumur hidupmu.
"Aku ada permintaan, eja namaku." Pinta Naruto.
"Naruto?" tanya Hinata memastikan.
Suaminya mengangguk, mereka sekarang sedang duduk di atas ranjang, berhadapan, dan menghiraukan sinar matahari yang sudah naik ke atas langit.
"Na~"
Cup!
Naruto mengecup pelan bibir Hinata dan melepaskannya untuk melihat reaksi Hinata, "Naruto-kun." Istrinya tidak terima perlakuannya hari ini, wanitanya sedang memerah sekarang. Naruto tertawa dalam hati, dia harus sedikit cool hari ini.
"Terus eja itu, Hinata."
"Ru~"
Cup!
"To~"
Cup!
Naruto melepaskan ciuman terakhirnya, "Itu permintaan maafku. Mulai sekarang, kalau aku membuatmu kesal lagi, cukup panggil aku seperti itu. Aku akan meredakan kesalmu."
Hinata tersenyum manis, dia mengangguk dan mulai memainkan tangan Naruto yang ada digenggamannya. "Aku mencintaimu, Anata."
"Hah~"
"Kenapa?" Hinata bertanya karena sekarang Naruto menundukkan kepalanya, terlihat seperti pasrah.
"Jangan begitu, aku akan meleleh jika kamu bertingkah manis sekali lagi."
Hinata tertawa panjang melihat Naruto yang bersikap seperti anak kecil. Dia merengkuh wajah prianya dan memberikan kecupan selamat pagi yang terlambat, "Sekarang waktunya mandi."
Naruto mengangguk, membiarkan sensasi Hinata tertinggal di kulit bibirnya.
"Mau mandi bersama?" tawar Hinata.
Naruto menatap istrinya tidak percaya, "Aku dapat jackpot hari ini."
Ucapannya disambut tawa oleh Hinata, wanita itu hanya ingin memanjakan prianya yang baru pulang dari misi kemarin dan Naruto segera mengangkat istrinya dan membawa wanita yang dinikahinya hampir sebulan itu masuk ke dalam kamar mandi bersama dengan dirinya. Biarlah burung gereja yang hinggap di jendela kamar mereka merasa cemburu, ini dunia yang mereka buat hanya untuk dua orang. Naruto dan Hinata.
Salju turun pagi ini meninggalkan hawa dingin bagi para ninja kecil yang berjalan menuju akademi, mengeratkan jaket mereka dan menggerutu karena sensei tidak mau menjadikan tanggal hitam menjadi tanggal merah hanya untuk hari ini. Jalanan Konoha juga tidak seramai biasanya, tidak ada yang berlarian memainkan salju seperti kemarin, suhu hari ini turun drastis dan dipastikan tidak ada orang yang akan mau membekukan dirinya secara suka rela.
Hanya di dalam rumah yang merupakan tempat teraman dan terhangat, untuk sebagian besar warga Konoha kalimat itu ada benarnya. Tapi untuk Naruto dan Hinata, kalimat itu merupakan kebohongan yang begitu besar. Di luar dan di dalam rumah sama saja, dingin dan sepi walaupun ada dua orang yang hidup didalamnya.
Pria dengan garis kucing itu terbangun, mengerjapkan matanya dan menyadari bahwa hari ini dia merindukan mimpi indah lagi, karena ketika dia bangun ada ketakutan kalau dia akan kembali sendiri seperti dulu. Naruto mengurungkan diri menuju kamar mandi karena hari ini penghangat air saja tidak cukup untuk menghangatkan badannya, dia menuju dapur memasak air panas terlebih dulu.
"Aku sudah siapkan airnya."
Wanita berambut gelap itu menyapanya pagi ini, masih terlihat cantik padahal hanya mengenakan baju tidur dengan rambut yang belum rapi dan mata bengkak di wajahnya. Naruto menghela nafas, Hinata menangis lagi hari ini.
"Hinata."
Naruto buru-buru menghentikan langkah Hinata yang akan keluar dari dapur, "Hari ini ada pertemuan di gedung Hokage. Semua akan datang."
Hinata mengangguk, "Aku tahu. Kita akan bersikap seperti tidak ada apa-apa." Si pemilik mahkota indigo akan segera pergi jika saja Naruto tidak menjawab kalimatnya.
"Kita sedang ada apa-apa Hinata. Kita tidak seperti yang dibayangkan teman-teman, tidak seperti apa yang dipikirkan keluargamu sekarang." Naruto berkata pelan, selangkah dia mendekati wanita yang tengah membeku itu.
"Berhenti." Hinata sedikit berteriak mengucapkannya, dia takut Naruto mendekatinya.
Si blonde menghela nafas lagi, sudah keberapa untuk pagi ini. Dia mulai mengkhawatirkan sisa umur yang dia punyai sekarang, mata birunya menatap sendu Hinata yang sekarang sudah kembali ke dalam kamar mereka, atau untuk sekarang, kamar Hinata.
Hinata menatap almari di depannya sambil terus menahan air mata yang keluar terus menerus, dia sudah membengkakan matanya tadi malam, dan sekarang dia tidak mau itu bertambah parah karena hari ini ada pertemuan di gedung Hokage, dia tidak ingin terlihat buruk di depan teman-temannya dan juga para teman Uzumaki Naruto.
Hinata membenci nama itu, nama yang bagaimanapun caranya tetap tidak bisa keluar dari otak dan hatinya. Nama dari pria yang mengucapkan janji bersama selamanya di depan para tetua, di depan tuhan. Pria itu yang meninggalkannya ketika dia butuh pegangan. Pria itu memeluknya hangat tapi juga memberi dingin, memberi cinta tapi juga benci, memberi harapan tapi juga menghancurkannya.
Hinata benci Uzumaki Naruto yang sekarang membuatnya menangis sambil memeluk sweater kecil yang kemarin dia beli, menggigit bibirnya dan menyesali nasibnya. Karena sekarang dia sendirian, dia benci hidupnya.
Hinata terus menangis dalam diam tidak mengetahui di balik pintu besar kamar ada Naruto yang mengepalkan tangannya kesal. Pria itu juga merasakan sedih yang dialami Hinata, hanya saja dia tidak boleh menunjukkannya karena harus ada salah satu dari mereka yang menjadi pihak penenang, dan sebagai suami Naruto merasa dia yang harus mengalah.
Malam datang terlalu cepat bagi Hinata karena dirinya belum siap untuk menunjukkan senyum sembari berpura-pura menggandeng tangan Naruto di hadapan banyak orang. Wanita itu sekarang tengah menatap ke cermin setelah tubuhnya berbalut handuk mandi, dia kebingungan memilih pakaian untuk pertemuan nanti. Pertemuan di gedung Hokage hanyalah kata lain dari percakapan serius untuk kemajuan Konoha, dan Hinata hari ini tidak bisa diajak untuk berfikir. Dia sudah mati dari dulu, sejak Naruto melangkah keluar dari rumah mereka.
"Hinata." Suara Naruto menghentikan tangannya yang baru saja menggunakan cheongsam berwarna gelap untuk malam ini, setelah memilah banyak barang di lemari dan mengabaikan baju yang ada kenangan dengan Naruto, hari ini tidak ada Uzumaki Naruto yang melekat pada tubuhnya.
Pria yang berpakaian hitam oranye itu masuk setelah Hinata tidak menjawab apapun, dia terpaku melihat wanitanya –istrinya- tampak mempesona dengan balutan cheongsam gelap dengan sedikit aksen bunga itu.
"Cantik."
Hinata memandang nanar Naruto, wanita itu tidak percaya dengan telinganya yang menangkap suara pujian dari pria Uzumaki di depannya.
"Em, mau kubantu?" tawar Naruto, karena dia tahu kalau baju Hinata belum tertutup sempurna. Tangan wanita itu terlalu pendek untuk menjangkau zipper di punggungnya.
Hinata diam namun membalikkan tubuhnya, membawa rambutnya kedepan sehingga Naruto tidak terhalang untuk melihat punggungnya. Pria itu menahan nafas, wangi Hinata masih sama dan dia hanya tidak ingin lepas kendali, dia ingin berhati-hati mendekatinya. Entah kenapa, Hinata yang sekarang melihat cermin mengetahui apa saja yang dilakukan Naruto hanya bisa terdiam, pikirannya terbang, membayangkan jika mereka tidak ada pada fase ini, jika saja pria itu tidak menuduh Hinata begitu kejam.
"Sudah." Naruto sedikit mengelus leher Hinata sebelum benar-benar menjauh dari wanita itu, dia berjalan ke arah rak untuk mengambil lotion miliknya. Dia rentan dingin dan tangannya akan mengering di cuaca seperti ini.
"Jangan yang itu." Hinata menginterupsi. Wanita itu mendekati Naruto dan memberikan lotion yang benar untuk si pemilik netra biru yang tengah terpana dengan apa yang dilakukan Hinata, wanita itu masih memperdulikannya.
"Ayo."
Naruto tersenyum lebar, ada kesempatan untuk memperbaiki ini dengan Hinata.
Kakashi-sensei berada di tempat duduk yang paling strategis dari semua orang yang hadir, mereka sekarang ada di dalam ruang rapat dengan bentuk melingkar agar satu persatu anggota bisa saling berinteraksi satu sama lain, disamping kanan Kakashi ada sekretaris Hokage dan disamping kirinya ada Tsunade, di sebelah Tsunade ada Naruto, kemudian Shikamaru, Sakura, Ino, dan Sai. Diseberang Tsunade ada Kurenai-sensei, Hinata, Kiba, Shino, Lee, dan Tenten. Lalu dibelakang mereka ada perwakilan dari para warga Konoha, dan beberapa anbu yang menjaga jalannya rapat malam ini.
"Baiklah, aku tidak mau bertele-tele. Malam ini aku mengumpulkan kalian di ruangan ini untuk membahas tentang utara Konoha yang sekarang sedang dikuasai pemberontak. Aku ingin pendapat kalian." Kakashi membuka rapat ini tanpa kata pembuka.
"Turunkan ninja kelas atas untuk mengatasi mereka, kudengar mereka menguasai jurus tingkat tinggi." Tsunade menjawab dengan cepat, dia sudah membawa dengan teliti tentang permasalahan ini.
"Mereka semua sudah memiliki misi dalam waktu dekat, Tsunade -sama." Sekretaris Kakashi menjawab dengan sopan.
"Sekarang mana yang lebih penting, misi mereka atau nyawa penduduk disana?" Tsunade mulai mendebat.
Mereka terdiam, tidak ada yang menjawab karena lebih memilih untuk membolak-balik kertas dokumen tentang hal yang tengah mereka bicarakan sekarang.
"Bagaimana dengan negosiasi? Kita belum mencobanya." Naruto bersuara setelah bermenit-menit mereka diam tidak bersuara. Dan sekarang, mereka mulai berbisik menyetujui perkataannya.
"Kita lebih baik menyerangnya, karena penduduk disana sudah terlalu lama menderita dan dengan negosiasi akan semakin lama mereka terkurung." Hinata menjawab pria itu dengan yakin, mata abunya bahkan tidak bisa digoyahkan.
"Perang? Di wilayah dengan penduduk terbanyak adalah anak-anak? Bagaimana nanti dengan korban perang?" Naruto juga tidak ingin kalah, setelah membaca dokumen di depannya dia tidak ingin ada korban yang bahkan belum bisa baca-tulis.
"Kita bisa cari wilayah yang aman dari radius korban, lalu memancing pemberontak kesana dan menyelesaikan misi ini."
"Korban perang bukan hanya soal fisik, psikis mereka juga akan terganggu."
"Konoha punya rumah sakit terbaik untuk menolong mereka."
"Negoisasi lebih baik untuk sekarang."
"Dengan mempertaruhkan penduduk? Mereka adalah pemberotak yang ingin menghancurkan wilayah itu sampai akarnya. Negoisasi bisa saja berarti peralihan kekuasaan ke mereka."
"Itu lebih baik dari pada menghancurkan anak-anak."
"Kita bisa menyelamatkan anak-anak terlebih dahulu."
"Bagaimana? Bagaimana caramu menyelamatkannya?"
Hinata merasa pertanyaan Naruto yang terakhir sudah bukan untuk masalah ini, tapi untuk dirinya sendiri. Wanita itu membelalakkan matanya, terdiam dan membiarkan semua orang di ruangan ini berbisik karena bingung ingin berada pada pihak yang mana. Dia menatap pria itu yang tampak menyadari akan apa yang baru saja dia ucapkan.
"Aku…" Naruto mendadak kaku, pria itu mengepalkan tangannya karena memori itu masuk lagi ke dalam pikirannya dan ucapannya tadi pasti akan menyakiti Hinata. Dasar mulut lebar. Naruto mengutuk dirinya dalam hati.
Mereka pulang setelah menyelesaikan pertemuan dengan keputusan akhir bernegosiasi terlebih dahulu dan jika pemberontak tetap tidak bisa diajak kerjasama maka hal terakhir adalah menghancurkan semuanya.
Hinata melepaskan ikatan rambutnya pelan, kepalanya pening karena memikirkan banyak hal ditambah scenario mereka tentang hubungan paling romantis di Konoha di depan teman-teman menambah dentuman kepalanya.
"Hinata, kamu baik-baik saja?" Naruto menatapnya khawatir.
"Kenapa membuang susunya?" Hinata kembali bertanya karena melihat kulkas mereka sudah penuh dengan bahan makanan dan kotak-kotak yang kemarin membuatnya terkejut telah hilang.
"Semuanya sudah basi." Jawab Naruto masih dengan menatap Hinata.
"Ya."
"Hinata." Mungkin sudah menjadi kebiasaan baru Naruto dengan menghentikan langkah Hinata yang ingin menjauhinya lagi.
"Aku minta maaf, malam ini aku terlalu memikirkan nasib penduduk disana sampai tidak sadar akan ucapanku sendiri."
Hinata berbalik menatap Naruto yang sekarang tengah menunduk, "Naruto -kun tidak salah, aku yang salah karena tidak memikirkan nasib anak-anak. Aku tidak pernah bisa berfikir seperti itu."
Naruto mulai kebingungan mencari jawaban karena bukan itu respon yang diinginkannya dari Hinata ketika dia mengatakan maaf malam ini.
"Hinata, aku…"
"Aku tahu, aku tetap seperti apa yang pernah Naruto tuduhkan padaku."
Pria itu terdiam, ini adalah pertanyaan sejak hampir lima bulan yang lalu. Hinata selalu saja mengatakan bahwa dia menuduh pemilik rambut indigo itu, Naruto mencoba mengingat semua perkataannya dulu pada Hinata namun hasilnya dia tidak menemukan apapun. Sementara Naruto tengah disibukan dengan pemikirannya, Hinata mulai masuk ke dalam kamar kecil di samping kamar utama.
Kamar anak mereka.
.
.
.
.
.
To Be Continued
A/N: Halo, Vidi mau say thanks untuk semua yang sudah mensupport Vidi. Terimakasih atas dukungan kalian atas comeback nya Vidi, dan spesial untuk Ijel karena you are my favorite author dan aku gak nyangka kamu juga baca fanfic buatanku. Terimakasih Ijel dan terimakasih para reader, reviewer, dan yang follow dan favorite cerita ini. Ada yang tanya soal username di Wattpad, disana aku cuma reader.. Terimakasih semuanya, tunggu chapter 3 ya.
Cold update setiap hari Jum'at. /Kemarin baru selesai ngetik, jadi updatenya hari Sabtu. *sorry.
P.S. Pairingnya ada yang mau aku benerin, ini cuma Naruhina aja. Menma dan Hanabi itu gak sengaja kecopy. *sorry. Mudah-mudahan gak ada typo(s).
