A/N : Yo~ saya udah berusaha supaya kata-katanya nggak monoton... Tapi... Hasilnya bisa para Reader's lihat sendiri... Saya udah nyoba muter otak mikirin ini tapi hasilnya tetep hancur... Udah Naoto nya OOC banget lagi... Maaf atas kesalahan-kesalahan saya... *pundung*


Bzzztt

Orang-orang berseragam biru menghunuskan pedang tanpa henti. Darah segar berserakan dimana-mana, lautan darah tercipta dari luka-luka di tubuhku dan juga tubuh-tubuh tak bernyawa dihadapanku.

Bagaikan haus dengan darah, pedang yang telah menelan korban itu tetap terus menerus menusukkan diri pada mayat-mayat, yang mereka sendiri tahu, bahwa itu tidak akan menyebabkan mereka kembali hidup dan berteriak kesakitan.

Terkadang saat mereka bosan, perlahan-lahan mereka menyiksaku. Sabetan demi sabetan pedang menghasilkan luka, walaupun tidak fatal, tapi menyakitkan. Kalau mereka memang ingin membunuh kami semua, kenapa mereka hanya bermain-main seperti ini? Bukankah sebaiknya aku langsung dibunuh saja?

Bzzztt

Sebuah ruangan yang cukup lebar, dengan berbagai perabotan kuno dengan suasana kerajaan yang diberi nuansa modern, dan tidak lupa juga sebuah perapian yang siap menghangatkan ruangan saat suhu mulai turun akibat dari musim dingin.

Walaupun begitu, yang memberikan ruangan itu perasaan nyaman bukanlah fasilitas yang mewah, tapi kehangatan keluarga.

Ya… Setidaknya itulah yang kurasakan sekarang…

Dua orang yang setidaknya lebih tua dua puluh tahun dariku berusaha menenangkanku. Mereka memberikan pujian padaku atas nilai yang nyaris sempurna di atas hasil ujianku. Sayangnya saat itu aku sedang memasang wajah masam, perasaan iri dan jengkellah yang menyebabkannya.

Seorang pria dengan umur jauh lebih tua dariku tertawa mendengarkan percakapanku dengan lawan bicaraku, percakapan yang penuh dengan emosi dariku. Pria itu sedang membaca sebuah buku dihadapan perapian dengan api menyala di dalamnya. Di sebelahnya juga seorang pria, berpakaian resmi dan terlihat sangat bisa diandalkan, sedang menuangkan teh hangat ke dalam cangkir pria yang lebih tua. Senyuman kecil menghiasi wajahnya.

Lawan bicara dihadapanku tertawa. Ia memiliki rambut biru yang sama denganku, dengan model yang sedikit berbeda. Di tangannya, dipegangnya hasil ujian miliknya. Hanya berbeda beberapa angka dengan milikku, tapi itu sudah bisa membedakan status hasil itu. Milikku adalah nilai yang 'nyaris' sempurna, sedangkan miliknya adalah nilai 'yang' sempurna.

"Kamu harus belajar lebih banyak lagi, Nao-chan…" Ia mengelus rambutku dengan lembut, tapi tidak semudah itu menghapus rasa jengkelku. Setidaknya, nada bicaraku melunak.

"Sekeras apa pun Nao belajar… Nao tetap tidak bisa mencapai Onii-chan! Apalagi untuk melampauinya!"

"Hahahaha," lawan bicaraku itu kembali tertawa, "karena itulah kamu kalah, Nao-chan. Kamu terlalu cepat menyerah."

Aku berpikir sejenak, "mmm… Memangnya… Kalau Nao tidak menyerah, Nao bisa menang dari Onii-chan?"

"Tentu saja," Ia mengacak-acak rambutku, memberikanku semangat agar bisa maju terus.

Inilah yang namanya keluarga… Orang-orang yang selalu menyemangati, membantu dan menyayangi kita.

Tapi kenapa… Wajah-wajah mereka terlihat sangat buram sampai aku tidak bisa mengenali mereka?

Bzzztt

Tidak ada jalan keluar.

Dinding putih bernoda merah sekarang sudah menempel dengan punggungku. Orang-orang itu mengelilingiku, pedang berlumuran darah telah siap di depan wajah mereka.

Satu-satunya senjataku untuk melindungi diri adalah sebuah revolver di tanganku.

Dengan tangan yang tidak bisa berhenti untuk bergetar, aku menembak salah satu dari mereka, berharap agar tepat sasaran dan dapat membuka jalan kabur.

Peluru yang melesat cepat membelah udara, bahkan aku sendiri yang menembakkannya tidak bisa melihatnya, ditepis dengan mudah oleh orang yang menjadi sasaranku. Wajahnya memerah akibat amarah.

Orang itu mengayunkan pedangnya ke atas, telah bersiap untuk memberikan serangan terakhir padaku. Dan saat pedang itu hampir mengenai tubuhku, tangannya sudah ditahan oleh orang lain yang sedari tadi berada di belakangnya.

"Jangan, itu bukanlah perintah dari Adachi-sama," katanya dengan nada datar, tapi masih penuh dengan kewibawaan seorang pemimpin.

"Tapi dia sudah berani memberontak! Jadi–" Kalimat orang yang hendak menyerangku tadi dipotong dengan sebuah pedang menempel di lehernya, siap memotong apa pun yang berani menghalangi jalannya.

Setelah orang itu diam, orang dengan kewibawaan tinggi tadi menyarungkan kembali pedangnya, lalu berjalan mendekatiku. Seolah-olah insting, badanku bergerak ingin menjauhinya, tapi dinding dibelakangku adalah jalan buntu dan hanya membuatku semakin menempelkan badanku padanya.

Orang itu mengulurkan tangannya padaku.

"Ayo, Nao-chan."

"Onii-chan…"


Kriiingg Kriiingg

Aku membuka perlahan mataku, sesaat menyipitkannya karena silaunya lampu yang menerangi kamar ini.

"Ahh, ya… Sekarang aku sudah berada di sini…" Gumamku pelan.

Kupaksa tubuhkku yang masih terasa sangat berat ini untuk bangun, lalu duduk sejenak di pinggiran tempat tidur, melancarkan peredaran darah untuk sejenak.

Setelah terasa lebih ringan, kubawa tubuhku menuju kamar mandi, berniat untuk membersihkan diri.

Tanpa sengaja aku melewati kaca di salah satu bagian dinding. Kupandangi pantulan diriku itu, merasa janggal dengan sesuatu yang lain atau bisa dibilang aneh.

Lebih kudekatkan diri pada kaca, lalu memperhatikan bekas air mata yang tersisa di wajahku dan mataku yang sembap.

"Kapan aku menangis?" Aku segera menghapus sisa air mata dari mataku dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.

Aku mulai melepaskan perban yang menutupi bagian tubuhku, rasa ingin tahu apa yang amat dalam menyelimuti hatiku. Sebenarnya luka apa yang tersembunyi.

Kutatap dalam luka-luka di lengan kananku, "5 luka sayatan…"

Mimpi yang kualami tadi kembali muncul dalam pikiranku. Rasa sakit saat pedang itu menorehkan luka di seluruh tubuhku sangat terasa. Wajah bosan orang-orang itu membuat kepalaku pusing, hampir saja aku terjatuh jika aku tidak memegang dinding.

Dengan cepat aku kembali membalut luka itu lalu membiarkan air hangat membersihkan diriku, tidak kupedulikan luka yang mulai terasa perih karena terkena air.

Lima menit kemudian aku sudah memakai baju dari lemari baju ruangan itu. Pakaian yang sama dengan kemarin tentunya, karena tidak ada pilihan baju lainnya.

Di dapur, terdapat sebuah mesin penyiap makanan otomatis. Kupilih jenis makanan yang kuinginkan dan dalam kurung waktu kurang dari tiga menit makanan sudah disajikan. Aku makan tanpa banyak berkomentar tentang makanan yang hambar ini.

Tidak ada kegiatan yang dapat kulakukan. Aku sudah mencoba untuk membuka pintu keluar ruangan itu, tapi pintu itu sama sekali tidak bergeming. Aku juga sudah mencoba untuk membaca buku-buku yang terdapat di sini, tapi sepertinya, semuanya sudah pernah kubaca. Pada akhirnya, aku masuk ke dalam tempat latihan.

Kuisi revolver yang kudapatkan dengan peluru, lalu menembaki sasaran-sasaran bergerak tepat di tengahnya. Menembaki setiap sasaran tanpa terlewat satu pun, mengisi amunisi saat sudah kehabisan peluru, lalu kembali menembak. Itulah yang terus kuulangi tanpa henti sampai gelang di tanganku berbunyi. Kutekan satu-satunya tombol yang tersisa yang belum pernah kuketahui fungsinya. Sebuah layar kecil kembali muncul dari gelang tersebut.

"Selamat pagi semuanya~ Bagaimana ruangan kalian masing-masing? Nyaman kah? Kuharap begitu," Adachi berbicara dengan nada periangnya, "sekarang, aku hanya ingin memberitahu bahwa kalian sudah boleh berinteraksi satu sama lain setelah pukul delapan pagi sampai dengan pukul sembilan malam. Selama jam tersebut, pintu kalian tidak terkunci dan terserah kalian ingin melakukan apa saja~ Hmm… Itu saja mungkin yang ingin kuberitahukan, sampai bertemu lagi~"

"Benarkah?" Aku berlari kecil keluar dari tempat latihan, menuju pintu keluar.

Beberapa langkah sebelum aku sampai di pintu keluar, pintu itu terbuka dengan sendirinya, memperlihatkanku pemandangan taman yang kulewati kemarin.

Rerumputan hijau menyelimuti lantai, semak-semak bunga yang dipangkas dengan rapi berada di sebelah pintu kamar masing-masing, kupu-kupu terbang dengan bebas, hinggap di salah satu bunga sesekali. Setelah dilihat baik-baik, taman ini membentuk sebuah lingkaran yang cukup luas.

Aku menengadahkan kepala, melihat sebuah pohon yang luar biasa besar di tengah taman ini. Para peserta yang lain juga mulai bermunculan di depan kamar mereka.

Seseorang menepuk pundakku, membuatku sedikit terkejut. Seorang pemuda putih dengan sebuah band-aid di ujung alis kirinya. Di belakangnya, seorang anak yang masih cukup muda, mungkin sekitar sepuluh tahun, berdiri tapi selalu menghindar dari kontak mata langsung.

Pemuda berambut putih itu membaca nama yang tertera di pintu kamarku, lalu menatapku langsung, "Shirogane Naoto-san?"

"Ya?" Aku menggangguk pelan.

"Bagaimana kalau kita berbicara sebentar?" Ia menunjuk sebuah bangku di sebelah pohon besar tadi.

"Baiklah, tapi… Bolehkah aku bertanya? Siapa kamu dan apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanyaku sedikit curiga.

"Tidak ada alasan khusus. Beruntung saja kamu bersebelahan kamar denganku… Namaku Sanada Akihiko, dan ini Amada Ken," Ia mendorong anak itu ke depannya, "dia juga bersebalahan denganku."

"Sa- Salam kenal…" Anak itu masih menundukkan kepalanya.

"Salam kenal juga," aku tersenyum melihat sikap anak bernama Ken ini.

"Baiklah, ayo ke bangku itu," Akihiko-san mengangkat Ken dengan mudahnya, membuat anak itu berteriak kaget.

Sebenarnya, tidak banyak hal yang bisa kami bicarakan. Sedari tadi, hanya Akihiko-san dan Ken-kun yang berbicara, aku hanya bisa mendengarkan karena aku tidak bisa mengingat apa pun.

"Yo, Akihiko," seorang wanita dengan rambut merah panjang bergelombang mendekati kami.

"Hey, Mitsuru! Lama tidak berjumpa! Jadi kamu juga terpilih untuk mengikuti permainan ini?" Akihiko-san menyambut wanita bernama Mitsuru itu dengan nada ramah, sama seperti denganku barusan, tapi ini lebih terdengar seperti percakapan teman lama.

"Ya," Mitsuru-san duduk di sebelah Akihiko-san, "tidak usah ditanyakan lagi karena aku memang berada di sini."

"Benar juga," Akihiko-san menyilangkan tangannya.

Aku menatap dalam warna gelang milik Ken, Akihiko-san dan Mitsuru-san.

Akihiko-san menyadari tatapanku lalu menunjukkan data gelang miliknya, "Crimson Red, menunjukkan semangat membara."

Ken-kun dan Mitsuru-san yang melihat ketertarikanku pada data gelang juga ikut menunjukkan data gelang mereka.

~ Midnight Blue : Balas dendam

~ Maroon : Keeleganan

"Benar-benar Mitsuru-san, Maroon memang sangat cocok untukmu," aku sedikit tertawa, " Tapi… Kenapa balas dendam, Ken-kun?" Aku bertanya pada sang pemilik gelang.

"Harusnya aku membacanya terlebih dahulu…" Ken-kun bergumam pelan, tapi masih bisa kudengar. Tangannya yang satu lagi berusaha menutupi gelang miliknya.

"Maaf," aku menundukkan kepalaku, "karena rasa ingin tahuku…"

"Ah! Tidak apa-apa kok, Naoto-san! Ini juga kesalahanku karena tidak membacanya terlebih dahulu…" Ken-kun terlihat gugup, "tapi… Aku tidak bisa memberi tahumu tentang ini, setidaknya tidak sekarang…"

"Terima kasih banyak Akihiko-san, Mitsuru-san, Ken-kun..."

"Tidak usah dipikirkan, bagaimana jika kamu berkenalan dengan peserta lainnya? Kamu juga ikutlah dengan Naoto, Ken," Akihiko-san mempersilahkan kami.

Aku mengangguk pada Akihiko-san dan mengalihkan pandanganku pada Ken-kun, "Ayo, Ken-kun!"

"Ya," Ken-kun mengikutiku saat aku mulai berjalan menjauh.


"Mari kita sedikit bersenang-senang…"


"KYAAAA!" Gadis berambut cokelat pendek terjatuh di tempatnya berdiri. Ia terlihat gemetaran melihat gumpalan-gumpalan hitam mulai bergabung di hadapannya.

Perlahan-lahan gumpalan itu membesar, terus membesar sampai ukurannya mencapai setengah dari pohon besar di taman ini.

Gumpalan itu kemudian menghilang, menunjukkan wujudnya yang asli. Seekor singa raksasa dengan kalung yang diikatkan dengan sebuah bola besi melayang.

Cakar raksasanya terangkat ke udara, bersiap-siap ingin merobek orang di hadapannya. Kuku-kukunya yang tajam berkilau terkena cahaya lampu taman.

"Ugh…" Kepalaku sakit. Bayangan mimpi itu, saat orang berseragam itu hendak menusukku.

Kugerakkan badanku secepatnya.

Singa itu menarik tangannya dengan kuat, mencakar sasarannya dengan sekuat tenaga. Darah segar mengotori bulu indah singa itu, cakarnya yang awalnya putih bersih sekarang dinodai dengan cairan merah pekat. Di kedua sisi singa itu, telah tertancap sebuah panah dan dua buah pisau. Singa itu terjatuh dan menghilang menjadi gumpalan hitam.

Bruukk!

"Naoto-san!"