Yeah saya balik! /dan gak ada yang nanya
A/n: alasan meneruskan ini karena otak hentai saya! Jujur aja sebenernya gak ada niat latihan nulis hari ini, tapi berhubung pen tab saya rusak dan tidak bisa di pakai, saya berdelusi sambil menulis.
Warn: ooc, tyopos, adult content, and much more (terinspirasi salah satu lagu Aimer)
Shingeki no kyojin and cover isn't mine its always belong hajime isayama and the artist
Hoped you enjoy this story ^^
.
.
.
Pagi sudah tiba, matahari mencuat dari timur dan sinarnya yang silau menembus tirai jendela. Tidur terganggu Levi memutuskan menyusup ke dalam balutan selimut.
Tak lama suara berisik weker terdengar beep beep bebep, begitulah bunyinya. Levi terpaksa bangun. Mendapati tubuhnya dengan pakaian lengkap, semalam hanya mimpi basah pikirnya
Dan...kenyataan membantingnya. Semalam bukan mimpi. Tepat saat ia melihat bercak kemerahan di sepanjang leher. "demi wall maria manusia ketinggian itu, semalam bukan mimpi!" Iris matanya mengecil
Turun kebawah, mengenakan kemeja. Menaikan kerah agar tidak ada yang lihat, sayang Hanji punya insting pemangsa yang cukup buas. Ia dengan mudah mengetahui apa yang terjadi semalam hanya dengan melihat ekspresi
"kau melakukannya dengan Eren semalam 'kan? Katakan padaku bagaimana rasanya saat lubang kecilmu di lewati benda yang lebih besar dari jari?" Hanji tertawa terbahak-bahak. Levi tetap memasang tampang dingin tak berperasaan, dalam hati terbakar emosi. Bila orang yang bicara dengannya ini adalah seorang lelaki sudah dapat dipastikan bahwa miliknya akan jadi sasaran
Menatap seorang genderless dengan tatapan mengancam seolah berkata 'kalau kau bocorkan aku akan menjadikanmu makanan hiu'. Hanji masih tertawa terbahak "bagaimana rasanya seks pertamu? Tidakkah luar biasa, di mana seseorang mengambil alih tubuhmu dengan mudah"
"satu-satunya yang luar biasa adalah membunuhmu lalu menjadikanmu makanan ikan" krik krik krik Hanji speechles mendengarnya. Menunjuk kamar Eren di lantai dua sambil berkata kalau kau mau cari Eren
.
Sekolah, satu-satunya tempat dimana Levi bisa menjadi normal. Di rumah? Sepertinya tidak mengingat seorang genderless dan seorang maniak seks bersua di sana. Seorang gadis datang menghampiri sembari menenteng buku doujinshi rating 18+ dengan santainya
"bagaimana akhir pekan? Tidakkah seseorang menikmati harinya?" Tersenyum secantik dewi, dalamnya tak lebih dari cewek busuk pecinta cerita antar lelaki. Tapi itu hobinya tersendiri, bagi gadis itu cerita yaoi adalah asupan bernurisi yang siap santap!
"bukan aku yang menikmatinya, tapi seorang maniak seks dan seorang genderless yang hidup bersamaku." Tatapan mata tajam, melirik kearah gadis tersebut
"jangan bilang kalau kau menemani kakak-kakakmu menonton video cabul semalaman?" Gadis itu melotot tak percaya, seolah mendengar emas jatuh dari langit
"bukan, dan bisakah kau jauhkan otak mesummu sekali saja? Itu mengganguku" Tawa rendah si gadis berlari menghampiri teman sesamanya di bangku yang lain
"jauh lebih buruk dari itu"
.
Entah karena bumi tidak memihaknya tau alam tidak mengizinkannya jauh dari sarangnya, sore datang elbih cepat dari biasanya. Levi sempat berharap hari ini akan lebih panjang dari kemarin. Dan yang kemarin bukan hari yang panjang hanya malam yang berat
Keluar dari gerbang sekolah, matahari mulai bersembunyi di balik gedung-gedung tinggi. Tampangnya yang setengah lingkaran seolah mengintip nasib sebelum benar-benar menghilang.
Eren berdiri di sana di samping motor sportnya, Levi menatapnya dingin. Eren dapat melihat hujan salju imaginer di sekelilingnya, "whoa, lihat yang datang sambil berlagak di sini?" Nada menantang digunakan, Eren enggan bicara.
"wah, wah siapa yang bicara. Si kecil Levi yang semlam ku gempur di atas ranjang. Bagaimana rasanya milikku di dalammu?" Semua tau bahwa bensin dan api jangan di pertemukan
Ingin rasanya Levi menyumpal mulut itu dengan apapun itu. Eren menaiki motornya menyalakannya kemudian, Levi menatapnya seolah berkata 'kau datang ke sini hanya untuk pamer'. Levi di lempari helm, Eren menepuk jok belakang motornya.
Lihat siapa yang di boncengi semenya kala itu
"jadi apa bayarannya menjemputku pulang? Membersihkan kamar, mengerjakan PR, atau latihan dengan buku bank soal?" Levi menawari sesuatu yang tidak pernah Eren inginkan. Gelangan kepala, Eren lebih dewasa ia yang berhak memilih
"aku akan membersihkanmu sampai bersih..." oh shit, that bastard! Pikir Levi setelah mendengarnya
.
Melihat sekitar, suasana rumah sepi. Aman terkendali lapan anam. Levi dapat merasakan keinginan seks menguar dari tubuh Eren. Kesalahannya adalah bertanya soal harga.
"katakan padaku Levi, tugas seorang kekasih." Sebenarnya Eren tidak menggunakan nada perintah atau memaksa, tapi gaya bicaranya seolah mencerminkan langsung kinginannya
Monoceras akan membawamu ke bintang ke tujuh. Levi menyebutkannya satu persatu, mulai dari saling berbagi bahkan mengorbankan. Eren tertawa mendengar jawaban polosnya, semburat merah tipis terlihat di pipi pucat pemilik nama Ackerman
"kau memang benar, tapi melewatkan bagian seks. Kuharap kau tidak lupa kejadian semalam." Eren dengan wajah polos seolah tidak melakukan apa pun
"lupa yang semalam? Heh. Kau membuatku nyaris telat setelah membuatku bekerja semalaman." Levi harusnya tau Eren akan menggunakan wajah tololnya untuk melakukan sesuatu yang lebih besar.
Seperti menjebak seekor tikus dengan keju, sekali pun tikus yang sekarang lebih suka daging. Eren mendorong tubuh sang remaja ke dinding, tangannya menelusup ke dalam kemeja. Eren benar-benar tak habis pikir, apakah ini karena ia memang dalam masa pengembangan seks, atau apa pun itu yang jelas tubuh pemuda yang satu ini sensitif sekali.
"tegang? Ayolah kemarin aku bermain adil!" Eren melanjutkan kegiatannya menciumi leher si surai eboni. Kenyataannya memang benar, Levi tidak melakukan penolakan yang berarti kemarin. Maka Eren tidak melakukan foul play.
Eren melepaskan 'mangsa'nya. Beralih menyalakan air, mengsisi bathup. Tangannya meraih garam mandi, "tanggalkan pakaianmu, Levi" tidak ada nada memaksa saat mengatakannya
Levi merasa tatapan mata itu makin tajam setiap harinya, merasa di telanjangi. Si surai brunette menawarkan bantuan, ditolak mentah-mentah
Setiap bagian dari tubuhnya adalah miliknya, tidak ada yang boleh menyentuhnya selain dirinya sendiri. Terlepas dari kenyataan Eren menyentuhnya semalam.
Eren tersenyum tipis, melihat satu persatu fabrik pakaian meninggalkan tempatnya, jatuh ke lantai. Ia mendapati keinginannya, nyaris, "kau bukan perempuan 'kan? Kalau begitu kenapa tidak kau lepaskan saja celana dalammu?" mari kita mulai berpura-pura binggung
Reflek tanggan meremat karet celana dalamnya, Levi menatap tak suka ekspresi barusan. Uke, mangsa, bawahan, omega, apa pun itu sekarang jelas, Levi adalah yang di dominasi.
.
Air tumpah ruah ke lantai, suara keran yang dibiarkan menyala menutupi suara desahan di dalam sana. Tak akan ada yang curiga bila mendengar suara basah, ini kamar mandi, yo! Wajar saja
"aaah...hnn" Levi melengkungkan tubuhnya, reaksi dari dua digit jari di dalam lubangnya. Sementara si surai brunette menikmati permainan 'mencari domba'nya. Mencoba masuk sedalam yang ia bisa, berbisk seduktif di telinga remaja 15 tahun yang kini sedang menahan suaranya
"kau sensitif juga, dengar uke sepertimu banyak diincar, ini seperti permainan menjaga harta" Eren megangkat telakpak tangan, cairan putih agak lengket membasahinya. Eren tidak terima saat Levi berteriak tentang orientasinya yang belok. Tidak, Eren bukan lah Gay.
Jujur ia masih lurus –sepertinya –ia masih tertarik dengan wanita. Ia masih sering mampir ke bar untuk sekadar melihat para penari tiang yang berada disana.
Semua berubah saat ia menemukan mainan yang menarik.
"pedofil sialan, tua bangka, dan spesies sebangsa itu yang lain..." Levi terengah, bersandar pada pinggiran bathup. Eren menganti air, membiarkan air bersih memenuhi bathup. Tangannya beralih mengambil sabun dan spons
Dengan cepat menyabuni seluruh tubuh si remaja berwajah grumpy yang lemas bersandar. Levi diam tidak protes atau melawan, Eren mapan menjadi ayah –sekalipun ia akan modus pada anaknya –memperlakukan Levi dengan sangat baik. Memperlakukan mainan dengan baik adalah modal utama membuat mainan itu bertahan lama.
.
Malam semakin larut, Hanji kembali menuang kembali Sherry ke gelasnya. Entah yang keberapa kali ia tertawa, "kau memperlakukannya persis seperti mainan. Tapi harus kuakui, kau pemilik yang baik!" kembali meneguk teman sejatinya. Sherry sepanjang malam seperti di temani teman sejati
"tidak juga, aku tertarik dengannya sejak awal. Dan lagi dia belum sadar siapa yang membunuh ibunya" Eren menggangkat tinggi-tinggi slokinya, seolah menangkap cahaya dengan itu. kacamata berkilat, manik coklat almond menatapnya tajam
"kau...dia belum tau siapa yang membunuh ibunya? Kupikir ia terlihat benci denganmu karena ia sudah tau" Hanji meletakan gelasnya, matanya mencoba mencari kebohongan dari mata turqouis tersebut.
Stop, tak berguna. Eren tidak bohong, dan ia merasa semua akan semakin buruk bila remaja itu tau semuanya, "kau tau Eren, aku selalu berusaha meyakinkannya bahwa kau akan selalu bersamanya sekalipun dalam masalah. Dia mulai bisa menerimamu, buktinya ia tidak mencoba menusuk tanganmu dengan garpu seperti dulu lagi"
"ya, aku tau. Cobalah bertahan seperti ini terus, dia tidak akan sadar. Erwin juga gak bicara banyak" Eren meneguk cairan kekuningan dengan bau alkohol yang tajam. Tidak sadar siluet di balik lemari tua mendengarkan percakapan mereka.
.
.
.
a/n: kenapa saya lanjutkan? Karena saya rada hentai. Soal ide cerita saya dapet setelah baca novel 'the god father' dan ini seperti crossover Meitantei Conan versi Shingeki no kyojin dengan POV black organization. Lihat saja dulu ini saya lanjutkan sampai mana
last word, Review? Saran? Kritik? Asal jangan flame saya terima kok (kokoro ini tak kuaaat) :3
salam sejuta umat!
