Hika kembali~ Akhirnya jumlah reviews di fanfic My Day My World mencapai dua digit angka ;w; ini sesuatu banget bagi author baru yang gak pengalaman buat fic seperti saya. Saya pun membuat fic My Day My World hanya karena ada ide muncul dan saya langsung buat account disini *buka aib*
Anyway, saya bales review dulu
Yami no Ryou: makasih atas support nya, sudah saya lanjutkan~
Stida Otoejinsei: waa, ava nya Len di Synchronicity~! *fangirling* oke, saya mau bales review Stida-san. Kenapa angkanya hitungan mundur? Karena takdir /plak. Umm... Mungkin genre nya tak sesuai harapan Stida-san, mengingat genre yang saya gunakan adalah Romance dan Friendship. Sekali lagi maaf mengecewakan ya ;w;
Kurayami Nea: arigatou, ini sudah lanjut OwO
So, let's begin!
Cerita sebelumnya: Rin terperangkap di taman hiburan Pactheland. Dia bertemu dengan Kiyoteru yang (mungkin) kalem, Kaito yang santai dan ramah, juga Miku yang pendiam. Namun, muncullah seorang lelaki berambut hitam...
Numbers
a crossover fanfiction by hikari-lenlen
Vocaloid © YAMAHA and Crypton Future Media
Number Days and storyline © Pacthesis
Normal P.O.V
Seketika itu juga, masuklah Kiyoteru bersama seorang pemuda lain ke dalam cafe. Keduanya menunjukkan raut wajah yang kesal, seolah-olah keduanya merupakan musuh bebuyutan.
"Aku tidak perlu bantuanmu!" hardik lelaki berambut hitam.
"Oh, Rin. Kau sudah sampai rupanya," sapa Kiyoteru pada Rin.
"Kiyoteru-san? Apa yang kau lakukan dari tadi?" tanya Rin.
"Aku terlalu lama ya? Aku sedang mengejar seekor anjing hitam," kata Kiyoteru dengan nada tenang namun 'sedikit menantang'.
"Siapa yang kau maksud dengan anjing hitam? Mentang-mentang rambutku hitam!" Oh tidak, sepertinya pemuda ini mudah marah.
Namun, Kiyoteru tidak menjawab, dia malah bertanya lagi. "Siapa pemuda bersyal itu?"
"Namaku Kaito, salam kenal," Ya, Kaito memang memakai syal, padahal ini musim panas. Syal biru itu membuat penampilannya terlihat agak konyol.
"Siapa pemuda ini?" tanya Rin sambil melirik si pemuda pemarah tadi.
"SIAPA KALIAN SEMUA?" pemuda itu bertanya balik.
Kaito memberi aba-aba, "Sebutkan nama kalian semua!"
"Kiyoteru Hiyama"
"Rin Kagami"
"...Miku Hatsune"
"A-ah, Rei Kagene!" tanpa sadar, pemuda bersurai hitam, atau yang bisa kita sebut Rei telah menyebutkan namanya.
"Kaiko Shion!" sahut Kaito dengan wajah yang... minta dihajar.
"Hei, namamu Kaito!" Rin mengoreksi.
"Iya, aku cuma bercanda," Kaito nyengir.
"Jadi semua orang disini mendapat SMS aneh itu..." kata Kiyoteru membuka diskusi (?) mereka.
"Dan di setiap handphone kita tertera angka..." lanjut Kaito. "Angkaku adalah 17, punya Rin 12, punya Kiyoteru 29, punya Miku 20, dan terakhir, milik Rei adalah 22.
"Kenapa angkaku yang terbesar ya?" gumam Kiyoteru.
"Hei, jangan sombong!" Oh, tampaknya Rei masih kesal.
"Punyaku malah yang terendah..." Rin pundung.
"Uh, kenapa aku sangat lelah sekarang? Padahal ini belum jam 9 malam?" tanya Rei bingung.
"Bukan hanya kau yang lelah." timpal Rin.
"Aku yang kerja seharian aja masih kuat." Kiyoteru pamer.
"Eh sebentar," Rei mengambil sebuah charger handphone dari tas ranselnya dan mengisi baterai hp-nya.
"Bagaimana kalau kau tidur saja sekarang?" usul Kaito.
"Yang benar saja, ini masih jam enam!" Rei menolak.
"Bukankah tadi kau bilang bahwa kau lelah? Tidak konsisten." kata Kiyoteru
"Yah, aku memang... AAAAHHH!" Tiba-tiba Rei berteriak.
"APAAA?!" Kaito ikut kaget.
"Rin, boleh kupinjam hp-mu?" tanya Rei.
Untuk sesaat, Rin merasa ragu. Namun, Rin memberikannya pada hp-nya (yang bertipe sama seperti milik Rei). Kemudian, Rei men-charge hp Rin yang kebetulan baterainya juga tinggal sedikit. "Nah, apa yang kau rasakan?"
...
"AH! Aku merasa lebih segar sekarang! Tetapi kenapa? Apa itu artinya..."
"Rupanya energi kita ditentukan oleh banyaknya baterai hp kita ya..." Kaito menyimpulkan.
"Itu gila." respon Rin dengan singkat.
"Sebaiklah jagalah handphone kalian baik-baik, jangan sampai rusak." pesan Kiyoteru.
"Ah, aku tidak bawa charger hp-ku..." kata Kaito kecewa.
"Beli saja di bioskop."
"Oh, benar juga... Tunggu, membeli? Di tempat ini hanya ada kita berlima, apa kita harus beli?"
"Ya. Tadi aku mencoba mengambil Coka Cola (saya sensor-w-), tapi pintunya tiba-tiba terkunci dan aku tak bisa keluar sampai aku meletakkan uang di meja kasir."
"Dasar, taman hiburan ini pelit."
"Sudahlah, ayo kita berpencar dan berkeliling tempat ini," Usul Kiyoteru bijaksana (?)
"Yosh!"
Lima menit kemudian...
Rin sedang berkeliling taman bermain, tetapi ia merasa lelah secara tiba-tiba. Ia mengecek baterai hp-nya dan... baterainya tinggal 20%. Tanpa pikir panjang, Rin segera memasuki toko souvenir dan men-charge hp-nya. Sedikit demi sedikit, rasa lelahnya pun berkurang. Ia menatap angka yang tertera di hp-nya. Angka 14.
'Baterainya sudah 25%, tapi angkanya masih 14. Rupanya baterai memang tidak berpengaruh bagi angka.' batin Rin. Yah, yang terpenting angkanya bertambah 2.
"Oh... Ini merepotkan..."
Saat itu juga, tampaklah sosok Rei memasuki toko souvenir.
"Disitu kau rupanya. Ayo ikut, ada sesuatu yang harus kau lihat!"
Di depan toilet umum
Tampaklah Kaito dan Kiyoteru yang sedang berdiri memperhatikan sebuah robot rusak yang berbentuk balok berwarna putih.
"Oh, Rei, Rin!" sapa Kiyoteru.
"Benda apa itu?" tanya Rin.
"Aku tak tahu... Ini sejenis mesin. Mungkin kita bisa memperbaikinya. Aku pernah belajar memperbaiki mesin di klub mesin di sekolahku dulu." jawab Kiyoteru.
"Kalau begitu, ayo perbaiki!" sahut Rei.
"Tidak segampang itu, enam bagian robot hilang... Kita harus mencarinya." kata Kiyoteru.
"Ya sudah, kita cari saja!" ajak Rin.
"Eh ngomong-ngomong, ada yang lihat Miku?" tanya Kaito.
"Terakhir kali kulihat, dia bersama Kaito."
"Tidak, dia terus menghindar dariku. Tampaknya dia mengira aku ini penjahat..." kata Kaito dengan sedih.
"Mungkin dia menjauhimu karena syal konyolmu itu?" tanya Rei dengan nada bicara yang menyebalkan.
"Sudahlah kalian berdua..." Rin melerai. "Dia mungkin hanya anti-social. Miku pasti aman, yang penting kita cari dulu saja bagian robot ini!"
"Karena kita berenam, maka aku (Rin) akan mencari dua bagian, dan sisanya mencari empat. Siapapun beritahu Miku soal ini!"
"Jangan aku." kata Kaito. "Dia membenciku."
"Aku saja" Rei menawarkan.
"Ya sudah, ayo mulai!" dan mereka pun berpencar.
Rin P.O.V
Nah, sekarang aku harus mencari salah satu sekrup robot dan roda untuk robot itu.
DRRTTT
Oh, hp-ku bergetar lagi... dengan SMS yang aneh lagi?
From: Unknown
When falling damp tree unveils ghost
Received on August 26, 6.37 PM
.
Uuh, apa maksudnya ini? Sok inggris pula! Umm... artinya... 'Ketika pohon lembab yang jatuh menampakkan setan? Apa sih yang orang aneh ini inginkan? Sudahlah, nanti tanya saja ke yang lain. Yang penting sekarang itu robot!
Aku mulai mencari. Di bangku roller-coaster, di dalam kabin ferris-wheel, bahkan sampai di dalam kolam renang pun kucari. Tapi aku tak dapat menemukan benda-benda itu! Lalu, aku mengecek merry-go-round. Namun, saat aku hendak mencari, aku malah terpeleset! Sial sekali aku hari ini! Oh... Apa ya yang membuatku terpeleset? Jangan-jangan... Ah, ada roda kecil yang menggelinding disana! Inikah yang dimaksud keberuntungan setelah kesialan?
Aku berjalan melewati game center, dan kalau dilihat baik-baik ternyata ada sebuah sekrup kecil tepat di bawah jendela game center! Betapa beruntungnya aku! Dengan cepat, aku membawa semuanya ke tempat yang lainnya.
Kiyoteru mulai memperbaiki robot tersebut.
Semenit...
Lima menit...
.
"Ngomong-ngomong, apa cuma aku saja yang mendapat SMS aneh lagi?" tanya Kaito.
"Maksudmu tentang setan dan pohon lembab itu?" Rei bertanya balik.
"Iya... Mungkin bisa dibaca dengan berbagai cara... Misalnya 'tree ghost unveils damp when falling'?"
"Atau 'ghost damp falling when unveils tree'?"
"Atau 'tsohg sleivnu eert pmad ngillaf nehw'?"
"Atau 'fcdhcksb sdnxksdh skjaclaj'?"
"...Apa yang kalian bicarakan?"
'Sudahlah, pikirkan saja nanti."
.
Sepuluh menit...
Tiga puluh menit...
Tiga puluh satu menit...
Ah, aku tak tahan! "Sebentar, aku ke toilet dulu deh!"
"Aku charge hp dulu!
"Aku beli Coka Cola dulu!"
"TUNGGU, KALIAN SEMUA!"
Dan Kiyoteru ditinggal sendirian... Eh nggak sendirian sih.
"Hai..."
"Miku? Kenapa kau baru datang?" Kiyoteru sweatdrop.
Normal P.O.V
"Selesai!" seru Kiyoteru girang.
Robot itu mulai bergetar, dia berdiri dengan kaki (roda)nya, lalu mulai berbicara.
"Namaku Cashy, senang bertemu dengan kalian~"
"...Imut." Miku berkomentar.
"Aku adalah robot yang menyimpan dan memberi uang~ Jadi jika kalian memberi sedikit energi baterai kalian, aku akan memberi uang..." kata Cashy lagi.
"...Aku mengerti, kita bisa mendapat uang dengan cara itu."
"Dengan memberikan energi baterai kita? Yang benar saja!"
"Setuju atau tidak itu urusan kalian! Hanya uang yang kusuka, hanya uang yang kurindu, hanya uang yang kucinta! TALLYHOMOFO~" Lalu Cashy pergi, dan melindas kaki Kaito dengan rodanya.
"Ow!"
"...Tallyhomofo itu apa?"
"Sudahlah, aku lapar! Seseorang, tolong beli makanan!" keluh Rei.
"Aku saja!" tawar Rin "Baterai hp-ku sepertinya cukup untuk mendapatkan beberapa yen."
"Oke, kutunggu di toko souvenir ya!"
Rin sudah mendapatkan uang dari Cashy dengan bayaran energi baterainya, dan ia telah mendapatkan beberapa bungkus burger dan Cola di tangannya. Namun, saat ia mengecek hp-nya... angka yang tertera bukan lagi 14, melainkan...
04
Empat.
'Apa?! Bagaimana bisa angkanya serendah ini? Apa yang terjadi padaku.. Jika angkanya mencapai nol?' batin Rin.
Saat itu juga, muncullah seorang pemuda yang lebih tinggi dari Rei, namun lebih pendek dari Kaito dan Kiyoteru. Rambut pirangnya itu berkibar tertiup angin. Wajahnya menampilkan senyum riang.
.
.
To be continued
Chapter 2 selesai! Mulai poin ini Romance nya mulai kelihatan lho OwO. Dan bagi yang tau Number Days, mulai poin ini ceritanya juga agak berubah. Jumpa lagi di chapter 3! Akhir kata...
Review please?
