Chapter 2 UPDATE euy! Sebelumnya Rissa mau ralat dulu namanya Naruto. yang bener itu UZUMAKI NARUTO. Yang Namikaze itu adalah suatu kecelakaan tidak terduga saat Rissa dengan tidak sadarnya (alias bengong) mengetik fict ini.

Oke, sekarang saatnya membalas review~

Ikhaosvz
Arigatou udah mau ngreview cerita gajenya Rissa. Ini udah apdet, moga2 gak mengecewakan yah…

ttixz lone cone bebe
Ini dah apdet, nanti jangan lupa review lagi ya…

Superol
Emang Naru sengaja Rissa bikin agak ganjen supaya ada penyelingnya(?). Kan kurang ngeh rasanya kalo gak ada tokoh yang kayak gitu. Kalo mau daftar jadi kelompok fujo-nya Sakura gampang kok. Tinggal menghubungi apotik terdekat (?).

Naru Nay-nie
wkwkwkwk… makasih udah mau review di chap kemaren, jangan lupa review lagi ya^^

chocho mami-Riicho
arigatou gozaimas buat review-nya. Yah, kalo masalah gender Naruto emang Rissa pertanyakan hingga saat ini *rasengan*, tapi di chap 2 ini Naru-nya gak begitu manja-manja banget kok, lebih ke arah 'korban'nya Sasuke. Hehehehe…. Moga-moga choco-san suka~

KyouyaxCloud
wkwkwkwk… idenya Kakashi emang selalu yahud ^^b

hatakehanahungry
Kelanjutan hubungan SasuNaru disini bakalan lebih diekspos lagi, dan yang pasti bakal lebih banyak romance lagi di chap dua ini.
Salam kenal, Hana~

sabishii no kitsune
Pentas dramanya bakalan ada di chap depan, jadi sabar ya~
buat nama marganya Naruto, Rissa salah cetak. Maunya ngetik Uzumaki malah marga bapaknya yang ketulis. Hehehe… gomenne~
Naruto udah dari kelas 1 SMP suka sama Sasuke, tapi karena masih takut-takut dan gak ada kesempatan, jadilah perasaannya dipendam sendiri. Tapi karena Kakashi ngasih tugas kayak begono, yah ini adalah kesempatan emas buat Naru deketin pujaan hatinya.

Micon
Yup! Cintanya Naruto (sementara) emang bertepuk sebelah tangan. Lihat kelanjutan ceritanya disini yah…

Akasuna no Aruta
arigatou Aru-san buat pujiannya. Masalah typo emang udah penyakit lama Rissa yang susah diilangin. Moga-moga di chap ini berkurang. Adegan romance menanti untuk dibaca…

ChaaChulie247
wkwkwkwk… Kakashi emang sensei paling antik kedua se-Konoha setelah Maito Guy *dibantai Kakashi* kalo beneran ada guru kayak Kakashi, bakalan jadi berkah buat para fujoshi sejati. Lumayan buat pelampiasan he8x…

HimeZha Aruzaki
wkwkwkwk… fict yang kali ini Rissa bikin threeshot. Soalnya kalo dijadikan oneshot bakal paaannnjaaaangggg banget. Jangan lupa review lagi abis baca fict gaje ini, ya~

tsukihime akari
Mau di fav? Boleh banget! *ngangguk-ngangguk gaje* Rissa bakal seneng banget kalo ada yang nge-fav cerita gak mutu ini.
untuk ide, lagi-lagi bersumber dari acara bengong Rissa yang berandai-andai kalo di sekolah beneran ada program remidial pake cara begituan. Pasti seru deh!
buat Uchiha, emang udah watak kali ya. Jaim dan sok cuek demi menjadi image. Apalagi yang namanya Uchiha Sasuke. Selain dianugrahi oleh Kami-sama otak jenius, juga dianugrahi pikiran MESUM! *chidori*.

Buat semua yang udah review hontou ni arigatou gozaimas. Happy reading, minna~

DRAMA YAOI

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: Sasu x Naru

Rated: T

Genre: Romance/Humor

Warning: yaoi/shou-ai, kadar kegajean yang tidak bisa ditolerir, alur kecepetan, OOC kelas kakap (terutama disini Sasuke) , dan kegaringan setengah nyemek *halah!*

Summary:
Gimana kalau seandainya seme-seme keren a.k.a Sasuke, Shikamaru, dan Neji disuruh oleh Kakashi-Sensei untuk mementaskan drama yaoi dengan uke-uke manis sekolah a.k.a Naruto, Gaara, dan Kiba demi perbaikan nilai?

Seorang cowok bermata safir tengah mengaduk-ngaduk jus jeruk yang diambilnya dari lemari es. Pikirannya masih melayang ke insiden dimana ia dan cowok dambaannya secara tidak sengaja berciuman.

"Aarrghh… kok gue mikirin itu lagi sih?" Naruto mengacak-ngacak stres rambutnya. "Baka banget sih lo, Naruto! Malu-maluin aja!"

Ia kembali berkutat ke acara ngobok-ngobok (?) jus jeruknya. Kushina yang sedang menyiapkan makan malam bingung dengan kelakuan anaknya yang sudah seperti orang gila setelah pulang ke rumah.

"Naru-chan? Naru-chan masih waras kan?" Kushina berusaha memastikan kalau kejiwaan anaknya belum terganggu.

"Ya iyalah, Kaa-san. Naru masih waras sewaras-warasnya. Memangnya kenapa sih?" Naruto yang pikirannya masih kacau, agak sedikit kesal dengan pertanyaan Kushina yang tidak bermutu.

"Tidak apa-apa. Hanya saja daritadi Kaa-san lihat, kau itu ngomong sendiri, kadang keliatan stres, kadang ngamuk-ngamuk gaje. Kaa-san cuma mau memastikan kalau Naru-chan belum gila. Kan Kaa-san bisa repot nanti kalau Naru-chan beneran udah gila. Masih waras aja udah bikin Kaa-san stroke tiap hari, apalagi gila. Udah Kaa-san jual kali ke tukang loak," jelas Kushina tanpa sambil tetap melanjutkan acara masaknya.

Naruto yang mendengar pernyataan Kaa-sannya langsung sweatdrop. 'Emang gue sandal jepit apa?' batinnya lalu menenggak jus jeruk yang sudah diaduk-aduk tadi.

"Nah, makan malam sudah siap," seru Kushina. "Naru-chan, panggilkan Tou-sanmu sana!"

Naruto mengangguk kecil dan tak berapa lama Minato turun dari ruang kerjanya. "Wah, baunya enak sekali." Mereka bertiga akhirnya duduk manis di ruang makan layaknya keluarga bahagia nan harmonis.

"Oh ya, Naruto, omong-omong ulangan bahasa jepangmu bagaimana? Dapat nilai berapa?" Minato memulai pembicaraan.

Makanan yang tadinya sudah sampai di tenggorokan Naruto buru-buru keluar lagi dari mulut saat mendengar pertanyaan Tou-sannya.

"Naru-chan, kenapa makanannya disemburin sih? Jorok ih," Kushina terkejut saat anaknya tiba-tiba beralih profesi jadi dukun sembur.

Naruto tertawa kaku, 'Sial.'

Ulangan bahasa jepangnya yang mendapat nilai terindah (?) se-Konoha itu sudah ia lempar dari atap sekolah dan sekarang entah berada dimana. 'Gue harus ngomong apa sekarang?' cowok berkulit tan itu menggigit bagian bawah bibirnya.

"Naruto? Kok diam saja? Bagaimana ulanganmu?" Minato mengulang pertanyaannya lagi.

"Err… itu…"

"Kenapa Naru-chan? Nilaimu pasti baguskan? Kaa-san melihatmu belajar keras kemarin."

Pernyataan terakhir Kushina membuat lidah Naruto semakin kelu. Kushina memang melihat anaknya sedang membaca sesuatu dengan serius, tapi ia sama sekali tidak tahu buku apa yang sedang dibaca Naruto. Asal readers tahu, sehari sebelumnya Naruto diberi buku Icha-icha Paradise keluaran terbaru oleh kakeknya, Jiraiya. Meskipun bocah itu tidak terlalu suka, tapi daripada belajar, lebih baik baca komik kan? Dan jadilah hari itu, ia meletakkan buku bahasa jepang di atas sebagai kedok dan di bawah bertengger (?) sebuah komik kesukaan Kakashi.

Dalam hati Naruto mulai mempersiapkan mental untuk berkata jujur pada Kushina. Apa pun yang terjadi nanti itu urusan belakang. Ia menarik napas sedalam sumur (?), sekali lagi mempersiapkan mental, kemudian…..

TING TONG

Desahan napas lega terdengar jelas dari mulut Naruto. Nyawanya masih bisa diselamatkan kali ini.

"Naru-chan, bisa tolong bukakan pintunya?," pinta Kushina lembut.

"Ya, Kaa-san." Naruto buru-buru beranjak dari kursi yang baginya seperti kursi eksekusi itu dan berjalan ke pintu. "Siapa ya?" tanyanya sambil membuka pintu.

Naruto sempat membatu di tempat saat melihat 'tamu' di hadapannya. "T.. teme?"

"Hn," jawab 'tamu' itu singkat.

"Elo kenapa bisa tau rumah gue?"

"Gak usah banyak tanya," jawabnya. Tamu yang merupakan anak bungsu Uchiha Fugaku itu kemudian menyodorkan sebuah tas oranye bergambar jeruk ke Naruto. "Tas lo ketinggalan."

Naruto segera menyaut tas di depannya lalu memeluknya erat-erat, "Oh, tas jeruk gue, belahan jiwa gue! Kenapa gue gak nyadar kalo barang ini ketinggalan ya? Honey, bunny, sweety, lo gak apa-apa kan?" Naruto mulai membolak-balik tasnya, melihat apakah ada noda ataupun lecet-lecet di tasnya.

'Lebay,' cibir Sasuke.

"Elo mau masuk, Teme?" tanya Naruto begitu selesai memeriksa tas oranyenya.

"Gak usah," jawab Sasuke datar. "Gue mau pulang."

Namun sebelum Sasuke sempat membalikkan badannya, seorang wanita cantik berambut merah muncul dari balik pintu. "Siapa yang datang, Naru-chan?" tanyanya pada Naruto.

"Temanku, Kaa-san. Namanya Sasuke."

"Oh, Sasuke," Kushina ber-oh-ria. "Aku belum pernah lihat Naruto punya teman lain selain Kiba dan Gaara. Apalagi yang setampan ini. Ada perlu apa, ya, Sasuke?"

"Saya tadi mengembalikan tas Naruto yang ketinggalan," jawab Sasuke sopan.

"Oh begitu, ya. Terimakasih, ya, Sasuke. Maaf kalau membuatmu repot. Anak satu ini memang bodoh dan ceroboh." Tanpa rasa bersalah, Kushina menjitak kepala Naruto sehingga sang empunya kepala merinngis kesakitan.

"Kaa-san!"

Kushina hanya tertawa lembut melihat kelakukan anak semata goleknya (?), "Abaikan saja anak bodoh ini ya, Sasuke. Ayo masuk, disini dingin."

Sasuke menggeleng, "Tidak usah repot-repot, Kushina-san. Saya juga mau pulang."

"Tidak apa-apa. Kau sudah makan, Sasuke?"

Lagi-lagi Sasuke menggeleng pelan.

"Kalau belum bergabunglah dengan kami. Kebetulan kami juga sedang makan malam. Ayolah, tidak usah sungkan, ini juga sebagai tanda terimakasih karena kau sudah mau repot-repot mengembalikan tas si bodoh ini," ajak Kushina.

Setelah menimang, memilah, dan menyeleksi *halah!*, akhirnya Sasuke menerima ajakan wanita cantik dihadapannya ini. "Baik, Kushina-san. Terimakasih banyak."

"Nah, begitu dong. Ayo masuk," Kushina mempersilakan Sasuke masuk, disusul dirinya, dan yang kini merasa dianaktirikan oleh ibunya, Naruto.

Sampai di dalam, Minato menyambut Sasuke ramah. "Eh, kau Sasuke anak Uchiha Fugaku, kan? Tumben datang ke sini."

"Iya, Minato-san."

"Sayang, Sasuke akan makan malam disini. Tidak apa-apa kan?" pinta Kushina sambil mengeluarkan jurus puppy eyes no jutsu-nya.

"Tentu saja. Kenapa tidak? Ayo duduk disini, Sasuke." Minato menarik kursi di sebelah kursi Naruto. Pemuda raven itu hanya menurut lalu duduk manis di sebelah Naruto.

Makan malam pun berlanjut…

"Oh ya, Naru-chan," kata Kushina membuka perbincangan. "Masalah ulangan bahasa jepangmu bagaimana tadi? Kau belum memberitahu Kaa-san dan Tou-san."

Lagi-lagi, makanan yang sudah mau ditelan Naruto menyembur keluar. Sambil batuk-batuk kecil ia mengambil segelas air untuk melegakan tenggorokkannya.

"Naruto yang sopan, dong," tukas Minato. "Kita sedang ada tamu."

"Maafkan, Naruto ya, Sasuke," ujar Kushina. "Dia anaknya memang jorok."

Sasuke menggelangkan kepala kalem, "Tidak apa-apa."

Inner Sasuke: 'Baka Dobe! Jorok banget sih lo! Mana kena rambut keren gue lagi. Ampun…'

"Ah, Naru-chan, pertanyaan Kaa-san sama Tou-san gak dijawab sih dari tadi," rengek Kushina. "Jangan-jangan nilai Naru abal ya?"

"U..udahlah, Kaa-san. Gak usah bahas ulangan dulu ya, ada tamu nih," kilah Naruto.

Kushina yang sebetulnya sudah tahu kebohongan sang anak mengikuti keinginan Naruto. Lagipula nggak enak juga kan mau nggebukin anak sendiri kalau ada tamu? "Ya sudahlah, kita bahas saja nanti. Tapi kalau Naru-chan mau ngomong, beritahu Kaa-san ya. Kaa-san mau ngambil pisau daging dulu sebelum Naru-chan ngasih hasil ulangannya."

Naruto bergidik ngeri membayangkan perlakuan yang ia akan terima kalau ia jujur pada Kaa-sannya. Yang jelas ia tidak mau memikirkannya sekarang dan hal terpenting yang harus ia lakukan adalah menikmati sisa hidupnya selagi bisa.

Tanpa disadari, Sasuke tersenyum tipis melihat kelakuan keluarga Naruto yang hangat. Selama ia hidup sejak empat belas tahun lalu, ia tidak pernah melihat keluarganya sehangat dan seceria keluarga Naruto.

Klan Uchiha dikenal masyarakat sebagai keluarga yang harmonis dan bahagia. Namun semua itu salah besar, saudara-saudara! Kalau kita meninjau lebih dalam lagi, apa yang kelihatan di luar belum tentu persis dengan apa yang terjadi di dalam. Uchiha Fugaku, sang ayah, hanya terfokus pada pekerjaannya sebagai presiden direktur Uchiha Corp.. Fugaku sering pergi ke luar negeri untuk mengontrol semua anak perusahaannya yang tersebar di seluruh Asia. Ia jarang sekali berada di rumah kecuali jika ada acara penting tertentu yang harus dihadiri. Begitu pula dengan Mikoto yang selalu sibuk di kantor pengacara mengurus kasus demi kasus yang harus ia selesaikan di pengadilan. Dan semakin hari, kasus-kasus yang ia tangani bukannya berkurang malah semakin bertambah banyak. Saat Itachi masih di Jepang, rasa kesepian Sasuke bisa sedikit terobati karena sang kakak sering menemaninya. Namun karena satu tahun yang lalu Itachi mendapat beasiswa pendidikan di Inggris, pria berambut hitam panjang itu harus berangkat ke London dan meninggalkan Sasuke sendirian di rumah. Jadilah sekarang, Uchiha Sasuke, tinggal di rumah mewah bertingkat dua dengan para pembantu dan sopir.

Rumah seluas satu hektar itu terasa begitu sepi dan kelam. Jauh berbeda dengan rumah yang sedang ia kunjungi saat ini. Meskipun tidak begitu luas dan besar, tapi terasa nyaman dan hangat. Sasuke selalu mengharapkan makan malam bersama di keluarganya tiap malam. Ia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali keluarga besar Uchiha berkumpul bersama. Pasti akan senang sekali rasanya kalau keinginan itu terwujud…

JDEERR!

Suara petir yang menyambar membuyarkan lamunan Sasuke. Ia hampir saja terjungkal ke belakang saking kagetnya. Tapi yang namanya Uchiha, pasti ada aja pengahalang untuk melakukan hal-hal bodoh yang dianggap bisa membawa aib. Pemuda berkulit seputih susu itu menghela napas panjang berusaha menenangkan dirinya yang masih gemetaran. Tak berapa lama titik-titik hujan mulai turun. Pertama hanya berupa rintik-rintik kecil, tapi lama-lama berubah jadi hujan badai.

"Wah, hujan deras," kata Kushina sembari menatap jendela samping ruang makan. "Sasuke, kau menginap disini saja ya? Hujannya deras sekali, lagipula ini sudah malam."

"Tidak usah, Kushina-san," tolak Sasuke halus. "Saya akan menelepon sopir untuk menjemput. Lagipula saya sudah terlalu merepotkan."

Kushina mengibaskan tangan bolak-balik didepan wajahnya sambil tersenyum manis, "Tidak usah sungkan, Sasuke. Kau sama sekali tidak merepotkan dibandingkan si bodoh pirang ini. Menginaplah disini dan aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi. Lagipula besok kan Minggu, Minato akan menelepon keluargamu supaya tidak cemas."

Sasuke lagi-lagi mengalah, "Baiklah, Kushina-san. Maaf kalau saya merepotkan."

"Sudah kubilang tidak apa," pandangan wanita berparas cantik itu beralih ke anak yang sedari tadi diabaikannya. "Naru-chan, malam ini Sasuke tidur denganmu ya? Tolong antar dia ke kamar dan siapkan baju tidur untuknya. Kaa-san akan menyiapkan air hangat untuk kalian berdua."

Dengan malas, Naruto mengantar Sasuke ke kamarnya yang berada di lantai atas.

"Kaa-san lo manis juga, ya?" Sasuke yang mengekor di belakang tiba-tiba saja bersuara.

"Manis?" Naruto memasang ekspresi tidak percaya. "Manis dari mananya? Orang sadis kayak gitu kok dibilang manis."

"Kaa-san lo sadis, juga gara-gara lo. Coba aja kalo elo-nya mau nurut, Kushina-san pasti bakal bersikap baik sama lo."

"Iya juga, sih," kata Naruto. Ia lalu membuka kenop pintu kayu yang terletak di ujung koridor lantai dua. "Ini kamar gue. Silakan kalo elo mau lihat-lihat."

"Hn." Sasuke melangkahkan kakinya lebih jauh memasuki kamar Naruto yang sekarang sedang berdiri mematung di depan pintu. Kamarnya tidak terlalu luas, warna oranye cerah mendominasi kamar tersebut. Berbagai aksesoris tentang jeruk terpampang dengan rapi di tiap sudutnya. Namun semua buku pelajaran berserakkan di mana-mana dan ranjang begitu acak-acakkan. Langkah Sasuke terhenti saat ia merasakan sesuatu mengganjal kakinya. Sebuah baju berwarna kuning cerah tergeletak di lantai. Baju yang kotor, kusam, dan sudah mengeluarkan bau busuk.

"Dasar jorok," ejek Sasuke. "Pakaian udah bau kayak gini gak dicuci-cuci."

Naruto mendengus kuda, "Biarin aja. Itu pakaian belum dicuci gara-gara belum sempet gue taruh di mesin cuci."

"Alesan." Sasuke kembali melanjutkan tour kecilnya di kamar Naruto. "Omong-omong, orang tua lo perhatian banget ya sama lo?" nada suara Sasuke berubah jadi lebih pelan ketika mengucapkan kalimat terakhirnya.

"Oh, please deh, Teme. Perhatian dari mananya? Jantung gue aja tiap hari gak bisa tenang kalo di rumah," cowok yang mempunyai tiga garis halus di pipinya itu manyun.

"Tapi mereka selalu ada di rumah buat elo, kan?" Sasuke duduk di tepi ranjang mungil sang pemilik kamar. "Gue iri sama elo."

Naruto tertawa mengejek, "Iri? Kenapa mesti iri? Elo iri sama keganasan Kaa-san gue? Rasanya gak mungkin deh."

"Tapi emang gitu yang gue rasain sekarang."

"Tapi kenapa mesti iri?"

"Karena kehangatan yang lo terima, karena kasih sayang yang lo dapet dari orangtua lo."

"Tapi setiap keluarga emang kayak gitu, kan?"

"Nggak semuanya, Dobe. Contohnya keluarga gue."

"Teme ngaco deh. Siapa sih yang gak tau keluarga terhormat Uchiha yang harmonis?"

"Keluarga terhormat Uchiha yang harmonis," Sasuke meng-copypaste omongan Naruto dengan nada mengejek. "Cih."

Naruto tercengang menatap Sasuke yang sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Kali ini Sasuke benar-benar melepas semua trademark-nya sebagai Uchiha. Pelan-pelan, Naruto duduk diranjangnya, berusaha sejajar dengan Sasuke yang sekarang sedang memandang lurus ke depan. "Tapi selama ini keluarga lo harmonis kan? Nggak mungkin keluarga lo bisa bertahan sampai sekarang tanpa ada rasa cinta dan kasih sayang."

"Tapi kenyataannya emang keluarga gue bisa. Gue gak punya siapa-siapa di rumah kecuali pembantu dan sopir."

"Tapi seenggaknya elo mesti bersyukur karena masih dikasih keluarga yang lengkap dan mapan. Tou-san lo pengusaha sukses, Kaa-san lo pengacara terkenal, aniki lo mahasiswa berprestasi yang sekarang lagi melanjutkan studi di luar negeri, dan lo siswa teladan yang jenius. Keluarga yang benar-benar sempurna, kan?"

Baru saja Sasuke hendak menjawab, sebuah teriakan terdengar dari lantai bawah, "Anak-anak, airnya sudah siap!"

"Ya, Kaa-san," jawab Naruto tidak kalah keras. "Sekarang kita lupain masalah keluarga lo dulu. Kita turun yuk, Teme!"

"Hn."

.

.

.

"Huh, segernya abis mandi," seru Naruto saat membuka pintu kamar diikuti Sasuke yang masih sibuk mengeringkan rambut basahnya dengan handuk. "Gimana, Teme? Pikiran lo jadi tenang, kan?"

"Hn."

"Eh, Teme, apa lo gak bisa ngubah kebiasaan lo yang suka pelit ngomong itu, hah?"

"Hn."

"TEMEEE~"

"Hn."

"Jangan kebanyakan hn hn, Teme! Jawab dong pertanyaan gue."

"Ck, berisik."

"Ihh… elo itu punya kepribadian ganda, ya? Tadi aja kalem banget, sekarang balik lagi. Apa tadi kelamaan berendem kali ya?"

"Hn."

"Arrgghhh~ Pusing gue ngladenin lo. Mending gue tidur ketimbang harus stroke ngadepin lo."

Naruto langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia tidur terlentang di kasur dengan posisi punggung tangan kanan menutup iris safirnya. Pipinya yang menggembung sebal membuatnya terlihat sangat imut di mata Sasuke.

Wait… imut?

Sasuke menggelengkan kepala kuat-kuat. 'Gue mikir apa sih tadi?'. Sekilas, adegan saat ia dan Naruto berciuman berkelebat di pikirannya. 'Hm… Menarik.'

Dan entah kerasukan setan dari mana, perlahan, cowok berkarakter dingin itu mendekati Naruto dan meletakkan kedua tangan porselennya di kiri-kanan sisi ranjang, mengunci pemuda berambut pirang tersebut di kasur. Naruto yang merasa ada bayangan gelap yang menutupinya menggeser tangannya sedikit ke atas. Maniknya langsung terbelalak saat tahu Sasuke sudah berada tepat di atasnya.

"Lo.. mau a..pa, Teme?" Naruto tergagap ketika Sasuke mulai memperpendek jarak di antara mereka.

"Elo mau ending yang beda, kan? Setelah kejadian di rumah Shikamaru tadi, rasanya bukan ide yang buruk."

"Jangan, Teme," wajah Naruto merah padam saat Sasuke mulai mengeliminasi jarak antara bibir mereka. Ia terus mundur ke belakang untuk menghindari hal-hal yang tidak diingankannya terjadi di rumah. Namun karena dewi fortuna sedang berpihak pada Sasuke, Naruto kini malah terpojok di antara dinding dan sang pemuda raven.

"Teme…" erang Naruto. Ia mulai menutup mata, pasrah akan apa yang sebentar lagi menimpa dirinya.

Lima senti lagi…

Dua senti lagi…

Satu senti lagi…

Satu mili lagi…

"Naruto!" sesosok pria tinggi tegap dengan wajah yang luar biasa tampan masuk tanpa mengetuk pintu dulu. Secara otomatis, Sasuke menarik dirinya menjauh dari cowok berambut duren yang lagi ber-blushing-ria, 'Sial! Padahal tinggal sedikit lagi.'

Pria berambut pirang itu sempat membelalakkan mata, tidak percaya dengan apa yang barusan 'nyaris' terjadi. Oh Sasuke, malangnya nasibmu tertangkap basah mau mencium paksa anak orang. Apalagi yang memergoki adalah seorang Namikaze Minato. Dan yang terjadi selanjutnya pada Sasuke…

"Oh, rupanya Tou-san mengganggu ya? Ya sudah, lanjutkan saja. Tou-san hanya mau memastikan kalian sudah tidur atau belum."

Sasuke sweatdrop seketika. Ia sudah berpikir akan diusir secara paksa oleh Minato dan dimaki-maki, tapi nyatanya? Pernyataan yang sungguh mengagumkan dari seorang Hokage. Sementara itu Naruto hanya meringis kuda. Sebelum Minato menutup pintu sepenuhnya, ia berkata, "Tenang saja, sayang. Aku tidak akan memberitahu Kaa-san."

Sasuke menatap bingung ke arah Naruto, bunyi tatapan matanya kira-kira seperti ini: Tousan-lo-masih-normal-kan-?

"Elo bingung ya, Teme?" cengiran Naruto masih belum hilang dari wajahnya. "Tenang aja. Selama Kaa-san gak tau, elo aman kok." Mendengar jawaban Naruto, Sasuke semakin bingung. Apa yang terjadi dengan Minato? Hanya Naruto, Minato, dan Kami-sama yang tahu.

"Boleh kita lanjutkan yang tadi?" pertanyaan Sasuke dengan sukses menghilangkan senyum indah di bibir Naruto.

"Te…me.."

Tawa Sasuke pecah saat melihat wajah horor Naruto. "Gue bercanda, Dobe. Tapi kalo elo mau bakalan gue ladenin, kok."

Naruto menggelengkan kepala kuat-kuat. Begitu kuat sampai-sampai terlihat akan putus dan menggelinding di lantai. Kalo beneran putus, kan author juga yang repot. Bakalan dibacok sama Masashi-Senpai gara-gara ada tokohnya yang mati konyol di tangan author aneh bin gaje.

Oke, back to story…

Baru kali ini Sasuke bisa tersenyum dan tertawa lepas. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali tertawa. Kalau dipikir-pikir lagi, drama yang diberikan Kakashi tidak terlalu buruk baginya.

SKIP TIME

KRRIINGGG!

KRRIINGGG!

Suara berisik menggetarkan gendang telinga Sasuke. 'Kenapa suara jam weker gue jadi jelek gini sih?'

Pelan-pelan ia bangkit dari tidurnya. Matanya mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya yang terlihat menyilaukan. Otaknya yang belum bekerja seratus persen bingung melihat suasana ruangan yang begitu asing dan norak. Setelah agak lama, Sasuke baru sadar kalau ia masih di kamar Naruto.

KRIINGGG!

Suara jam weker kembali mengusik telinganya. Disamping, masih ada seorang bocah berambut pirang acak-acakan dengan air liur membasahi sekitar mulutnya. Walau dering jam sudah berbunyi beberapa kali, ia tak kunjung bangun juga. Entah ia berpura-pura tuli atau memang ada gangguan pada pendengarannya. Dengan sedikit malas, ia berusaha membangunkan bocah pirang tersebut. "Oi, Dobe, bangun."

Naruto hanya mengerang dan bergeming sedikit.

"Dobe," Sasuke berusaha lagi.

"…"

"Bangun, Dobe."

"…"

"Dobe!"

"Krok, krok."

"Cih, malah ngorok."

Sasuke menyibak selimutnya lalu mematikan weker di sebelahnya. Ekor matanya kembali melirik ke arah Naruto yang sedang tidur dengan pose yang jauh dari kata indah (?). Senyumnya kembali mengembang melihat mimik lucu teman sekamar dadakannya. Bibir Naruto yang mengerucut membuat Sasuke makin gemas. Tanpa disadari, Sasuke mulai mendekatkan wajahnya ke Naruto, membuat jarak antara bibir mereka semakin tereliminasi. Dan kemudian…

CUP

Sebuah ciuman lembut mendarat di bibir merah Naruto. Sebuah ciuman lembut yang jarang didapatkan dari seorang Uchiha Sasuke. Meskipun ciuman Sasuke terhitung agak lama, Naruto masih tidak mau pergi dari alam mimpinya. Dasar anak kebo! #taboked. Tak berapa lama, wajah Sasuke bersemu merah. Setelah menyerahkan first kiss-nya karena kecelakaan dengan Naruto, ia tidak menyangka akan memberikan ciuman berikutnya ke orang yang sama. Baru saja Sasuke mau turun ke bawah, sebuah suara melengking kembali memekakkan telinganya.

"NARUU-CHAANNN!" Pintu kamar menjeblak terbuka, menampakkan seorang wanita cantik yang sedang menggunakan celemek merah.

"Dasar pemalas," imbuh wanita berambut merah itu. "Sasuke, kau turun dulu ya? Sarapan sudah siap. Aku mau membangunkan anak bodoh ini dulu."

Sasuke mengangguk dan turun ke ruang makan di lantai bawah. Di ruang makan sudah ada Minato yang bersiap makan pagi. "Ohayou, Sasuke," sapanya.

"Ohayou, Minato-san," jawab Sasuke.

"Tidurmu nyenyak?"

"Iya, Minato-san."

"Naruto pasti masih tidur ya?"

"Iya."

Setelah itu terdengar suara teriakan dari atas, "Narutoo! Bangun sekarang atau Kaa-san akan melarangmu makan ramen selamanya!"

"JANNGGANNN!"

Minato geleng-geleng kepala. Ia tidak pernah mendapat pagi yang tenang dan damai sejak Naruto lahir. Selalu saja ada teriakan dari Kushina ataupun Naruto hanya karena masalah sepele seperti bangun pagi. "Gomen, Sasuke. Kau pasti terganggu kan?"

Sasuke menggeleng kepala pelan, "Sama sekali tidak."

"Keluarga Uchiha pasti tidak akan melakukan hal-hal konyol seperti ini."

Tak berapa lama Naruto turun dengan muka masam, disusul Kushina yang tersenyum manis seperti biasa.

"Akhirnya anak ini bangun juga," kata Minato sambil mengacak-ngacak rambut anak kesayangannya. "Mimpimu indah?"

"Sangat indah, Tou-san. Tapi tiba-tiba aku mendengar suara nenek sihir berambut merah yang sedang marah-marah tidak jelas." Sindiran Naruto membuatnya mendapat satu tonjolan besar di kepala, hadiah spesial dari Kushina. "Kaa-san!"

Sasuke tersenyum. Bayangan Fugaku dan Mikoto sebagai Minato dan Kushina kembali berputar di otaknya. Apa mungkin orang tuanya berubah?

"Setelah ini kau cepat mandi, ya, Sasuke. Naru-chan nanti mandinya belakangan gak apa-apa ya?" Kushina kelihatannya jauh lebih menyayangi anak orang lain ketimbang anaknya sendiri. Ibu yang aneh *kicked*

Sebelum Naruto sempat menyentuh makan paginya, Sasuke sudah selesai sarapan dan beranjak dari kursi untuk mandi. Sebelum Naruto sempat menyelesaikan sarapannya, Sasuke sudah selesai mandi dan berpakaian rapi. Yah, semua orang juga sudah tahu kalau Naruto itu lemot #PLAK.

"Hah~ andai saja aku punya anak seperti Sasuke," Kushina mulai mengkhayal. "Sudah tampan, rajin, penurut, pintar pula. Tidak seperti anak ini, sudah bodoh, bandel, nakal, pemalas, tukang ngeles lagi."

Naruto yang merasa kartunya dibuka blak-blakan oleh ibunya sendiri, mulai pundung di pojokan (penyakit lama kumat.) "Kaa-san jahat!"

"Loh kok jahat? Memang kayak gitu kenyataannya."

"Sudahlah, Sayang," Minato berusaha menengahi. "Terimalah anak kita apa adanya. Meskipun dia bodoh, ceroboh, dan jauh dari harapan kita sebagai orang tua. Mungkin ini kutukan dari Kami-sama karena kesalahan kita dulu."

'Bapak sama Ibu sama aja!' batin Naruto kesal.

"Oh ya, Sasuke, kau pulang diantar siapa?" tanya Kushina.

"Sopir saya akan kesini sebentar lagi," jawab Sasuke.

TIN TIN

Panjang umur tuh sopir.

"Saya permisi dulu, Minato-san, Kushina-san," pamit Sasuke. "Terimakasih atas jamuannya."

"Ya, Sasuke. Hati-hati ya," kata Kushina layaknya sedang mengantar anaknya ke stasiun. "Naru-chan, tolong antar Sasuke ke depan ya."

"Ya, Kaa-san," jawab Naruto malas lalu mengekori Sasuke. Cowok bermata safir itu membelalakkan mata sewaktu melihat mobil Sasuke, "Gila lo, Teme! Nganterin lo pulang aja mobilnya mercy. Lo ke sekolah aja naik BMW. Elo punya mobil berapa sih?"

"Gak usah tanya, nanti elo pingsan lagi kalo gue jawab."

"Huh, dasar sombong!" pipi Naruto mulai menggembung sebal.

"Hn," jawab Sasuke singkat. "Hei, Dobe, elo belum ngomong terimakasih sama gue."

"Oh iya, gue lupa. Makasih ya, Teme!" Naruto memamerkan cengiran manisnya. Entah kenapa kalau dilihat-lihat seperti ini, Naruto kelihatan agak manis. Meskipun masih bau dan bibirnya berlumuran iler, Naruto terlihat seperti makhluk Tuhan paling seksi di mata Sasuke. Entah pemuda emo ini habis kesambet atau apa. Menyadari tatapan aneh Sasuke, Naruto melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Sasuke. "Teme? Halo?"

Onyx Sasuke berkedip beberapa kali. Mimiknya yang sempat menunjukkan rasa kekaguman, kembali ke tampang stoic yang sudah menjadi trademark-nya sejak lama.

"Elo kenapa, Teme?" tanya Naruto. "Kok bengong?"

"Bukan apa-apa," jawabnya singkat. "Omong-omong, Dobe, rasanya gak terlalu buruk juga," lanjut Sasuke penuh misteri lalu masuk ke mercy-nya. Alis kanan Naruto terangkat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Sasuke.

'Rasa? Rasa apa?' pikirnya.

Namun sebelum pemuda pirang itu sempat mengajukan pertanyaan pada si raven, mercy Sasuke sudah menderu menjauhi rumah Naruto. 'Maksud Sasuke apa, yah?' batinnya cengok.

Di dalam mercy

Sasuke kembali tersenyum tipis mengingat kejadian tadi pagi di kamar Naruto. Telunjuknya menyentuh bibir yang sudah bersentuhan dengan bibir pemuda safir itu. Bibir merah yang sudah membuat Sasuke tergoda untuk menciumnya lagi.

'Menarik.'

~TBC~

Sasuke : Fict apaan nih? Ancur amat! Mana gue OOC banget lagi.

Rissa : …

Naruto : Gue kenapa dijadiin korban mulu sih?

Rissa : (lari-lari sambil nangis-nangis gaje)

Sasuke : (geleng-geleng kepala) dasar author gak jelas. Bikin ending yang gaje pula.

Naruto : Mohon reviewnya, minna! *oiro… -ralat- puppy eyes no jutsu*