DAMN THOSE FREAKS…
Disclaimer: Saya tidak punya Naruto dan kawan-kawan. Naruto milik Kishimoto Masashi.
Rating: T , hati-hati agak nyerempet.
Genre : General, Romance. Humor dikit.
Warning: Yaoi. OOC. AU. Highschool fic (non-ninja). Abnormality.
Previous Chap: Itachi masuk ke kelas barunya, 1-C, yang wali kelasnya kakaknya sendiri. Muncul seorang murid baru yang terlambat masuk kelas. Bukannya memberi murid tersebut hukuman, kakaknya – yang rada abnormal – malah menciumnya. What next?
xXxXxXx
Chapter 2
xXxXxXx
Tak ada yang tak kaget melihat pemandangan ini. Seorang guru, di hari pertamanya menjadi wali kelas murid baru tahun ini, mencium muridnya sendiri. Di depan kelas dengan semua muridnya menyaksikan. Sama-sama cowok.
Murid yang menjadi mangsa kakakku itu diam. Tidak bergerak sama sekali. Matanya terbelalak, bahkan terlihat hanya beberapa cm lagi bola matanya akan keluar dari kantungnya. Mukanya sudah tak bisa dideskripsikan lagi – kaget, takut, malu, kesal…
Beberapa saat kemudian, aniki melepaskannya. Dia tersenyum sinis sementara murid itu – dan murid yang lain – masih shock.
"Jangan pernah berani-berani menyakiti Uzumaki Naruto. Dia milik saya. Terserah saja jika kalian ingin melaporkan kejadian ini pada pihak sekolah. Saya tidak peduli sama sekali. Saya dikeluarkan? Tinggal cari sekolah lain dan terus berhubungan dengan Uzumaki- ah, Naruto-kun. Dicabut dari pekerjaan sebagai guru? Saya kan jenius dan ganteng, tinggal cari pekerjaan lain. Mengerti?" Ancamnya dengan tegas.
Seketika aku merasa malu telah diperkenalkan sebagai adiknya.
Semua murid terkaget-kaget. Ada yang mengangguk pelan, ada yang menelan ludah, ada yang memandang aniki dengan kagum – mungkin sama-sama gila – ada juga yang biasa-biasa saja. Para gadis ada yang memandang jijik, merasa kalah, dan beberapa yang terlihat senang bukan kepalang.
Hidup memang beragam.
"Lagian sekolah ini gak punya peraturan macem-macem, bodo amat lah saya mau berhubungan dengan siapa aja. Naw Naruto-kun, duduklah. Atau mau saya antar?" Ucapnya dengan senyum paling licik dan menakutkan di dunia. Lantas Uzumaki menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, membuat aniki sedikit kecewa. Aniki melanjutkan absensi. Uzumakipun duduk di samping kursiku.
Kulihat matanya menerawang, badannya sedikit gemetar. Kasihan juga, ini hari pertamanya masuk sekolah. Mungkin, aku harus menghiburnya.
"Hey, maafkan sikap kakakku. Dia memang agak terganggu sifatnya, tapi dia tidak pernah bermaksud buruk kok." Kataku pelan. Dia menatapku, agak kaget.
"Kamu… adiknya?"
"Yah, meski tak mau mengakuinya, tapi itu kenyataannya." Jawabku tenang. Dia masih agak canggung tapi gemetarnya sudah hilang.
"Kenapa… tadi dia begitu… padaku?" Tanyanya, masih takut-takut. Aku menghela nafas. Mana kutahu pikiran kakakku itu? Dia senang membuat anak kecil menangis karena dia pelototi terus dengan alasan yang tidak masuk akal. Katanya, anak kecil itu menyebalkan dan dia puas melihat mereka menangis ketakutan karenanya.
What a Freak.
"Mungkin… dia suka padamu, Uzumaki-san?" Mendengar kata-kata itu, mukanya langsung pucat. Aku tertawa kecil melihatnya. Betapa malangnya.
"Ja-jangan bercandaaaa!!! Dia itu menakutkan!!! Gak mau! Aku harus pindah kelas!" Teriaknya dengan muka horor. Aku tersenyum, lalu menepuk pundaknya.
"Dia memang menakutkan, tapi tidak jahat. Percayalah. Mungkin dia hanya terlalu jujur pada perasaannya." Ujarku meyakinkannya.
"Be-benarkah?" Sebelum aku sempat menjawab, muncul bayangan dari depan.
"Sedang apa kalian? Gak sadar kalau pelajaran udah dimulai? Ngobrol terus! Sebagai hukumannya, Itachi, jelaskan teori atom Dalton dan Naruto-kun, besok kamu buatkan bekal untuk saya." Sekali lagi Uzumaki shock dengan tingkah laku aniki. Dia menatapku. Aku hanya menelan ludah sambil bergumam.
"… Yah, mungkin…"
"Itachi! Cepat jelaskan teori atom Dalton!"
"Yaa. Menurut Dalton, zat terdiri atas partikel terkecil yang disebut atom. Atom merupakan suatu zat murni yang tidak dapat diuraikan menjadi partikel lebih kecil dan tidak dapat diubah menjadi atom zat lain. Gabungan antara dua atom atau lebih akan membentuk suatu senyawa." Ucapku panjang lebar.
"Huh, kenapa sih kamu pinter banget? Naruto-kun, jangan lupa hukumanmu besok. Ya sudah, kita lanjutkan pelajarannya." Diapun kembali menerangkan pelajaran. Kali ini aku tak mau macam-macam, aku mendengarkan penjelasannya.
-.-.-.-.-
Istirahat siang
-.-.-.-.-
"Haah, akhirnya istirahat juga… gak makan, Itachi?" Ujar pemuda pirang disampingku. Aku menggeleng pelan.
"Kamu sendiri? Nanti jajanan kantin habis lho, Uzumaki."
"Kamu ini! Gak usah formal gitu lah, panggil aja Naruto! Hm, aku bawa bekal kok. Mau?" Dia menyodorkan bekalnya padaku. Sebenarnya aku agak lapar juga. Tapi membayangkan aku harus ngantri sambil rebutan jajanan di kantin, jadi malas. Akupun mengambil sepotong sandwich dari bekalnya.
"Boleh kan? Makasih ya, Naruto. "
"Yup! Santaii, ambil lagi juga gak apa-apa!" Sahutnya dengan ceria. Anak ini, tampak bahagia sekali.
"Lezat. Antara roti dan isinya tertata sempurna. Mahir juga kamu. Pantas jadi pendampingku kelak." Tiba-tiba aniki muncul sambil mengunyah sandwich.
"AAAAAH!!!! KENAPA KAU DISINI!!!" Teriak Naruto, menunjuk ke aniki. Sambil mengunyah dan mengangkat sebuah alisnya, dia menjawab.
"Minta makanan gratis. Lapar. Lagipula itu buatanmu."
"Siapa yang mengijinkan kamu memakan bekalku – ah!! TINGGAL SATU!!"
"Yaela, cuma makan dua."
"AKU BELUM MAKAN SATUPUN!!" Teriaknya sambil memegang sisa sandwichnya erat-erat.
"Ya udah, sini, gue suapin. Jadi meski cuma satu, akan terasa mengenyangkan." Aniki mendekat ke arah Naruto lagi. Namun sebelum dia sempat mengambil sandwich yang ada di tangan Naruto, si rambut pirang tersebut sudah memakannya bulat-bulat.
"Jah, kok udah dimakan…"
"Ogah, amit-amit, kalo gue sampe disuapin sama Freak kayak lo!! Sana pergiii!!" Naruto bersembunyi di balik pundakku, meminta perlindungan.
"Aniki, sudahlah, kasihan kan Naruto kamu ganggu terus. Maksudmu apa sih?" Tanyaku, terheran-heran dengan kelakuannya yang sedikit lebih aneh dari biasanya.
"Lamban banget sih lo Itachi! Ya jelas lah karena gue suka sama dia! Lihatlah, rambutnya yang pirang, bersinar terang di mataku, bagaikan matahari… matanya sebiru lautan, seolah-olah jika kita menatapnya terus kita akan tenggelam ke dalamnya… tubuhnya yang mungil, kulitnya yang sawo mateng… yang paling penting, dia itu apa adanya, terlihat jelas saat tadi dia masuk kelas dan menjelaskan tentang keterlambatannya. Tipe gue banget." Jawabnya dengan santai, tak peduli kalau semua murid yang ada di dalam maupun di luar kelas melihatnya dengan tatapan curiga.
"Itachi… aku ngeri sama kakakmu…" Ujar Naruto ketakutan.
"Yah, seenggaknya kamu bukan satu-satunya yang ngeri sama manusia satu ini..."
"Kalian tahu? Semakin takut kalian pada sesuatu, semakin dekat dan bertambahlah rasa ingin tahu kepada sesuatu tersebut. Mungkin inilah jalanmu untuk lebih mengenalku ; dengan rasa takut…" Ucapnya dengan senyum menyeringai khasnya. Suasana canggung mengelilingi kelas ini.
"… Sasuke-sensei…"
"Ya, Naruto-kun?"
"… Keanehanmu benar-benar menggangguku. Aku tak mau dekat-dekat denganmu. Serius, sensei…" Ucapnya dengan muka takut bercampur kesal.
Kata-kata yang menusuk.
"Lihat saja," Aniki membalikkan badannya, bersiap untuk kembali ke ruang guru. Dia memandang Naruto sesaat, dengan mata penuh percaya diri dan pantang menyerah.
"Aku akan mengubah pandangan sempitmu tentangku." Lalu diapun pergi. Naruto terlihat geram. Akupun menghela nafas, menepuk kepalanya pelan.
"Sudah, jangan dipikirkan." Hiburku. Dia hanya melengos.
"Kuakui, aniki memang aneh. Tapi dia tidak pernah membohongi perasaannya sendiri. Meski terlihat ketus, menyebalkan, dan cuek, namun dialah yang merawatku selama ini." Naruto melihatku dengan tatapan heran. Aku tersenyum kecil.
"Orangtuamu?"
"Mereka sudah wafat lima tahun lalu karena kecelakaan."
"Oh… maaf."
"Gak apa-apa. Aku masih bersyukur mempunyai kakak. Untunglah dia sudah bekerja, jadi kami masih bisa mencukupi kebutuhan meski orangtua kami sudah wafat." Aku teringat saat-saat bersama keluargaku. Agak kaku, tapi nyaman. Naruto terlihat murung.
"Ya, kau masih beruntung… Maaf ya, aku sudah mencela Sasuke-sensei… Aku akan minta maaf padanya nanti…" Dia terdiam sebentar.
"Kamu masih mau jadi temanku kan, Itachi?" Tanyanya dengan penuh harapan. Kata-kata itu menembus pikiranku.
Teman.
Sejak dulu aku lebih sering sendirian, tidak suka bersama siapapun. Paling hanya aniki yang menemaniku. Aku merasa, teman itu tidak terlalu penting asal kita bisa mengurus diri sendiri. Terkadang mereka munafik, mendekat hanya saat mereka butuh bantuan. Lagipula aku tidak mau merasakan dikhianati oleh sesuatu yang disebut 'teman'. Hanya melihat dari TV dan media massa aku bisa merasakan, betapa pedihnya terkhianati oleh orang yang paling kita percaya.
Tetapi hari ini, aku banyak berbicara dengannya. Keramahan dan kepolosannya sama sekali tidak menggangguku. Aku juga tidak melihat kelicikan di matanya. Saat ini di depanku, dia menawarkan diri untuk menjadi temanku. Pandangan matanya diliputi rasa cemas.
"Huh, kenapa baru bilang sekarang?" Ucapku sinis. Matanya terbelalak, terlihat kebingungan. Aku menyentil dahinya.
"Dari awal juga kita sudah berteman." Lanjutku sambil meringis. Diapun melebarkan senyumnya.
"Ehehe, thanks ya, Itachi. Jujur, aku tak pernah punya teman. Semua mengolok-olokku karena tanda lahirku ini." Dia menunjukkan codetan di pipinya, 3 garis di masing-masing pipi. Dari awal aku juga melihatnya unik, karena dia terlihat seperti kucing.
"Dan lagi, aku yatim piatu sejak lahir. Aku diasuh oleh teman ayah. Jadi, mereka semua menjauhiku, bahkan kadang mengejekku. Itu berlanjut sampai SMP. Karena itu aku bertekad, mulai masuk SMA, aku harus mendapat teman. Dan sekarang sudah tercapai." Dia menatapku sambil tertawa. Aku berpikir, betapa tegarnya dia.
"Tenang, aku juga baru kali ini punya teman."
"Eh?"
"Ya. Selama ini aku merasa tidak membutuhkan teman. Mereka tidak bisa dipercaya, bisa menusuk dari belakang. Tapi," Aku menutup mataku sambil tersenyum.
"Kurasa kamu tidak seperti itu."
Riiiiiiingggg riiiinnggggg
Bel masuk berbunyi, anak-anak mulai kembali ke bangkunya. Naruto juga membereskan bekalnya, dengan senyum menghias wajahnya.
Teman… tidak buruk juga.
Bersambung …
A/N: What a friendship. Corny banget xD maaf kalo masih belepotan cerita en kata-katanya. Btw, thanks banget yang udah review =D Cuma mau konfirmasi, bener ini SasuNaru. En si Sasuke emang kubuat aneh. Maaf ya bagi yang nggak suka. Soal Itachi n Gaara… masih dalam pertimbangan –wink-
Oh ya, kadang-kadang saia nambahin pelajaran di fict ini. Kalo ada yang salah, tolong dikoreksi ya =D
See ya later!
- Ngelanjutin tugas mulok yang belom kelar tentang KDRT TToTT -
