A NEW LIFE
Pairing : Sasuke U & Hinata H
Disclaimer by Masashi Kishimoto
Tidak suka pairing ini? Don't read ^^
.
.
Terkadang goresan luka itu terlalu dalam, sehingga membuatmu menyerah. Lalu kau mulai mencari jati diri baru dan duniamu sendiri. Berawal dari sebuah kesalahan kecil, takdir membuatmu seolah terikat pada benang merahnya yang membawamu pada pria yang tak kau kira. Dan hidup barumu pun segera dimulai. SasuHina, Canon (Dihatiku).
.
.
"Hokage-sama, beruntung kau ada disini. Sasuke-kun, dia mengalami tanda-tanda pergerakan. Kumohon segeralah memeriksanya!" Ino berkata dengan cepatnya. Tsunade yang mendengar itu pun segera berlari menuju ruangan bocah itu, bocah yang sudah membawa banyak sekali petaka dan masalah terhadap desa ini.
Pintu ruangan itu dengan cepat di buka oleh Tsunade untuk melihat kondisi pemuda di depannya. Pemuda itu mengerak-gerakkan tangannya, seperti ingin mengapai sesuatu. Dan terdengar rintihan "Kumohon, jangan pergi… ," lalu seketika itu juga tubuh pemuda itu mengalami kejang-kejang yang hebat. Tsunade segera mendekat kearah pemuda itu, untuk memeriksa kondisinya.
"Shizune, tubuhnya mengalami panas yang tidak wajar. Segera kau ambilkan ramuan penurun demam. Ino, kemarilah dan jaga detak jantung dari Sasuke supaya stabil. Sepertinya ada bagian saraf otaknya yang terlalu tegang sehingga tubuhnya bergerak tidak beraturan. Aku akan mencoba menemukkan titik sarafnya yang bermasalah dan mengatasinya. "
Ino segera saja mentransfusikan chakranya ke dalam jantung Sasuke untuk mengontrol agar denyut jantung Sasuke menjadi stabil. Sementara itu Tsunade sedang berkonsentrasi untuk menemukan titik saraf yang mengalami penekanan. 'Dapat… ,' batin Tsunade, dia pun langsung mencoba merileksasikan saraf pemuda itu. Dan perlahan gerakan pemuda itu semakin tenang. Detak jantungnya pun menjadi stabil. Dia kembali tenang, dan matanya pun tidak kunjung membuka semenjak setengah tahun terakhir.
"Hokage-sama, apa yang terjadi sebenarnya? Padahal aku kira Sasuke-kun akan segera sadar?"
"Bagian saraf sensoriknya sepertinya mendapatkan rangsangan, sehingga membuat hantaran implus pada bagian saraf pusat yang mencangkup otak dan sumsung tulang belakang, karena pasien sedang mengalami koma, maka rangsangan itu bisa jadi terjadi di bawah alam bawah sadarnya. Selain itu setelah adanya hantaran pada bagian saraf pusat dapat menyebabkan saraf motorik mampu mengerakkan bagian otot, meski terjadi lantaran bagian otak besar Sasuke sepertinya mengalami benturan yang keras pada waktu itu dan membuat gerakan secara tidak sadar." Jelas Tsunade
"Jadi maksud Hokage-sama, ada hal yang membuat saraf sesorik Sasuke menjadi terangsang sehingga dapat mengahantarkan implus ke bagian saraf pusatnya?"
"Iya, sepertinya indera Sasuke telah menangkap sesuatu secara tidak sadar."
"Tapi, bukan kah ini terlalu aneh jika indera Sasuke-kun menangkap sesuatu? Sementara tidak ada siapapun sejak tadi! Aku selalu mengecek keadaan Sasuke selama lima belas menit sekali," ujar Ino yang merasakan kebingungan, karena sepengetahuannya tidak ada orang yang pernah masuk kesini semenjak tadi pagi dia bertugas, Sakura atau Naruto sebagai pengunjung setia dari Sasuke selama hampir setengah hari ini belum menampakan batang hidungnya.
"Tapi mungkin juga dugaanku salah, bisa juga bocah ini sedang mengalami gejolak dalam alam bawah sadarnya!" Ino mengangguk meng'iyakan perkataan Tsunade. Karena itu adalah kemungkinan yang paling logis untuk di terima saat ini, dari pada perkataan Tsunade yang tadi. Sasuke sedang bermimpi di dalam alam tidurnya, itu yang diyakini Ino.
"Maaf Hokage-sama, ini obat yang tadi diminta oleh Hokage-sama. " Ucap seorang wanita medic-nin yang tiba-tiba datang menghampiri Ino dan Tsunade.
"Kemana Shizune? Bukankah aku tadi menyuruh Shizune yang mengambilkan?" Tsunade memandang tajam medic-nin tersebut.
"Tadi Shizune-san diminta seseorang untuk datang dan melakukan check up ke ruangan dari pasien yang bernama Hyuuga Hiashi!" ujar medic-nin itu setengah ketakutan, karena takut terkena amukkan Tsunade. "Baikalah, kau boleh pergi!" Tsunade menerima obat tersebut dan menyuruh medic-nin tadi pergi.
Dengan segera Tsunade mencampur obat bubuk tersebut kedalam minuman yang ada di meja samping Sasuke, dan mengambil jarum suntiknya lalu mengisi sebuah suntikan dengan minuman tersebut. Tsunade dangan segera menyuntikkannya ke dalam tubuh Sasuke.
"Enggh… , " erang Sasuke secara pelan, namun matanya masih terpejam erat. Tsunade yang mendengar hal tersebut segera saja mengecek kembali keadaan tubuh Sasuke.
"Hokage-sama, Sasuke-kun… ,"gumam Ino, karena dia merasa terkejut dengan Sasuke yang tiba-tiba bergumam. Mungkinkah dia akan sadar sekarang juga? Pangeran masa lalunya, akan kembali membuka matanya?
"Belum ada tanda-tanda matanya akan terbuka Ino, bocah ini sedang mengalami gejolak dalam alam bawah sadarnya. Kemungkinan ada dua sisi berlawanan dari alam bawah sadarnya, yang membuatnya seperti ingin sadar, tetapi matanya enggan terbuka. Dari perkiraanku kondisinya akan tetap seperti ini, mungkin saja dia akan terus bergumam dengan tidak jelas, jadi kau jangan panik. Aku harus segera mencari Shizune, kau tetaplah disini dan laporkan apapun jika ada perkembangan atau kondisi bocah ini memburuk, mengerti?
Ino hanya menganggukan kepalanya sambil menatap Sasuke dengan iba, karena belum kunjung membuka matanya. Dan ruangan itu menyisakan Ino dan Sasuke yang tengah tertidur lelap. Ino menatap dalam-dalam Sasuke yang masih tidak menunjukkan tanda-tanda pergerakan kembali.
"Huh, Sasuke-kun kau ini seperti Shikamaru. Kalian berdua sangat suka tidur, tapi setidaknya Shikamaru masih dapat aku bangunkan, berbeda denganmu. Mungkin kali ini aku akan meminjam kata-kata Shikamaru. Sasuke-kun sungguh troublesome," Ino menggelengkan kepalanya lalu mengganti arah pandangnya ke arah jendela yang menuju ke hutan.
.
.
.
Hinata hanya bisa bersyukur bahwa Kami-sama masih ingin melindunginya. Sejauh ini dia belum bertemu dengan teman –teman lamanya. Mereka semua hanya bagian dari masalalu seorang Hyuuga Hinata, dia sekarang adalah seorang Hinata, hanya seorang Hinata. Tanpa Klan, tanpa embel-embel seorang Hyuuga, tanpa pernah menjadi seorang ninja. Hanya seorang gadis sederhana, seorang pengajar bagi anak-anak didiknya, dan seorang diri tanpa Uzumaki Naruto. Pemuda dengan senyum secerah matahari. Pemuda yang adalah cinta Pertamanya. Pemuda yang menghancurkan hatinya.
Tidak, Hinata tidak boleh menangis lagi ketika mengingat pemuda itu. Hatinya sudah mati, Hinata Hyuuga sudah pergi, tapi kenapa air matanya tidak bisa berhenti mengalir. Hatinya begitu sakit, sangat sakit. Ingatan tentang Uzumaki Naruto dan Haruno Sakura yang saling tersenyum lembut di balik kamar rumah sakit bernomor 320, hanya berjarak satu nomor dengan kamar ayahnya. Dan ketika pemuda pirang yang tengah terbaring itu mengengam lembut tangan Sakura Haruno. Dia benci, benci mengingatnya. Mengingat bahwa dirinya hanyalah seperti debu yang tak pernah terlihat dimata Uzumaki Naruto. Tapi kakinya enggan untuk beranjak, matanya menatap nanar ruang kamar yang kosong itu.
Hingga seseoarang menepuk pundaknya, dengan refleks Hinata membalikkan badannya dan dilihatnya seorang wanita cantik yang memandanginya dengan tatapan heran.
"Hinata… kau sedang apa disini? Dan kenapa kamu menangis, di depan ruangan kosong ini?" ucap Shizune yang bertanya-tanya melihat air mata mengalir dari pipi gadis yang ada di depannya.
"A… A-aku sangat mencemaskan Otou-san, Shizune-san. Ketika aku kemari dan aku membuka pintu kamar ini, ternyata kamar ini kosong dan gelap, bukankah seharusnya ini kamar Otou-sanku?" ucap Hinata yang berbohong kepada Shizune, Hinata berharap wanita cantik yang ada di depannya ini mau mempercayai ucapannya.
"Astaga, Ayahmu baik-baik saja Hinata. Ruangannya ada di kamar 321, di sebelah ruangan ini. Berhentilah menangis dan jangan berpikiran buruk. Aku kemari karena harus melakukan check-up terhadap kesehatan Ayahmu, ayo kita masuk ke kamarnya!" ajak Shizune.
Hinata pun menghapus air matanya, Hinata meminta maaf dalam hati kepada Shizune, karena telah membohonginya. Gadis itu pun masuk ke ruangan yang sebelumnya sudah terlebih dahulu dimasuki oleh Shizune.
.
.
.
Tak pernah ada dalam benak Hiashi sekali pun untuk berada di tempat ini, dan tak merasa berdaya. Dia ingat dulu kedua putrinya sering berada di ruangan ini, terutama Hinata. Gadis itu pernah terluka parah sewaktu ujian genin melawan Neji, yang menghajarnya tanpa belas kasihan. Neji yang merasa dendam akan kematian Ayahnya.
Hinata, gadis itu kini sudah dewasa. Rambutnya kini sudah memanjang, persis seperti almarhum istrinya. Senyum lembutnya, kesabarannya dalam mengahadapi dirinya yang sering sekali memarahinya karena memperlakukan gadis itu dengan kejam.
Pernah dulu suatu ketika seusai perang berlangsung dirinya tak sengaja mendengar isakkan dari kamar gadis itu, dan beberapa kata-kata yang menyayat hatinya.
"Okaa-san, kenapa aku harus terlahir di dunia ini? Hidupku, kisah cintaku semuanya tak pernah ada yang berhasil. Aku ini sorang gadis yang tak berguna!" Sungguh sebagai Ayah, Hiashi merasa sedih ketika mendengar ucapan Putrinya.
"Ayah selalu berkata bahwa aku lemah, dan aku memang lemah dan tak berguna. Harusnya Hanabi yang hanya pantas untuk lahir di dunia ini. Okaa-san, aku ingin pergi bersamamu, aku lelah untuk berada disini. Okaa-san, pria yang aku cintai pun lebih memilih gadis yang kuat, bukan seorang yang lemah sepertiku. Kenapa, aku harus selalu menjadi pecundang Kami-sama? Kumohon, hentikan rasa sakit dari hatiku ini! Aku tak sanggup lagi Okaa-san. Hiks… hiks.. hiks," gadis itu menangis semakin keras. Tanpa Hiashi sadari setetes air mata mengalir dari matanya. Orang tua macam apa, yang hanya berdiam diri melihat putrinya menangis dan kemudian malah beranjak menjauh.
Dan ketika keesokkan harinya, ketika putrinya menolak untuk menjadi pemimpin klan Hyuuga, mengantikan dirinya, meski para tetua telah menyatakan bahwa putrinya itu layak untuk menjadi pemimpin klan. Hiashi, merasa inilah saatnya membuktikan dirinya sebagai seorang ayah dari putrinya tercinta bukan sebagai pemimpin klan Hyuuga, dia membela keputusan putrinya. Hingga akhirnya gadis itu bukan lagi bagian dari Hyuuga, dia di asingkan.
Hiashi menatap putrinya lembut, Hinata datang untuk menemuinya. Dia sangat merindukkan sapaan lembut dari putrinya, seperti yang tengah di ucapkan putrinya sekarang ini. Dan tatapan serta ucapan khawatir dari gadis itu. Tapi Arogansinya sebagai seorang kepala Klan Hyuuga, memaksanya untuk selalu memasang topeng keangkuhan. Tidak memperdulikan gadis itu adalah salah satu cara supaya dia tidak mengingat istrinya, tapi saat ini ketika putri sulungnya itu memegang erat tangannya, dia tak kuasa lagi untuk tidak memeluknya.
"Otou-san?" Hinata bertanya keheranan.
"Hinata….Otou-san sangat merindukanmu, maafkan Otou-san yang selalu tidak memperdulikanmu!" Kata Hiashi dengan suara parau. Hinata benar-benar membeku, suara lembut yang selama ini dia harapkan dari ayahnya akhirnya bisa ia dengar, air mata meluncur begitu saja. Hinata membalas pelukan erat dari Ayahnya.
Dalam isakan mereka berpelukkan, melupakan Shizune yang juga terharu melihatnya. Biarkan sekali saja seorang putri menikmati cinta dan kasih sayang dari ayahnya. Dan seorang ayah menjadi dirinya sendiri, mencurahkan perasaan terpendamnya selama bertahun-tahun.
.
.
.
"Hinata…," Pemuda itu kembali bergumam pelan. Ino merasa kaget, pemuda itu bergumam meski samar. Ino mendekati lagi pemuda itu untuk memastikkan pendengarannya. Tapi tidak ada lagi suara atau gumaman yang terdengar. Ino kembali melanjutkan aktivitasnya untuk menata beberapa baju rumah sakit yang baru saja di antarkan oleh ninja medis lain.
"Hinata… tunggulah aku," Ino yang kaget langsung menjatuhkan baju yang baru saja akan dimasukkannya ke lemari yang ada di sudut ruangan itu. Dia mengamati pemuda yang tengah terdiam kembali, pemuda dengan mata terpenjam dan belum juga bangun dari tidur panjangnya.
"Hinata… tunggulah aku,"Mata gadis itu membulat, tidak percaya dengan apa yang barusan saja dia dengar, meski samar tapi pengucapan pemuda itu sangat jelas. Begitu jelas di dalam indra pendengarannya. Gadis itu mendekati pemuda itu. "Sasuke-kun, nama siapa yang barusan kau sebutkan? Bagaimana bisa kau menyebutkan namanya, aku kira kau menyukai Sakura!" ujarnya penuh ketidakpercayaan. Ia tau Sasuke sedang mengalami gejolak dalam alam bawah sadarnya, tapi mengapa nama gadis itu yang disebutnya? Kenapa bukan Naruto, Sakura atau guru Kakashi yang jelas-jelas dekat dengan pemuda yang terus memanggil nama Hinata itu?
Ino sadar dari lamunannya ketika dia merasakan tangan pemuda itu bergerak menyentuh tangannya. Sasuke akan sadar dia harus segera memanggil Hokage-sama. Ketika Dia akan bergerak mencari Hokage, tiba-tiba saja tangannya di gengam oleh Sasuke.
"Mau pergi kemana kau Hinata?" Ucapnya dengan suara keras. Ino pun membalikkan badannya dengan wajah kaget bercampur panik, dia sangat ceroboh membiarkan Sasuke yang jelas-jelas mengalami gejolak alam bawah sadar tanpa memberitaukan Hokage atas kejadian barusan. Dia berusaha melepas tangan Sasuke, tapi gengaman tangan pemuda itu semakin kuat. Dan entah mengapa tubuhnya begitu lemas, chakranya dihisap oleh Sasuke.
"Jangan coba-coba lari dariku!" Pemuda itu kembali membuka suarnya, meski matanya masih terpejam. Ino benar-benar panik, meski sudah cukup lama menjadi ninja medis, namun keahliannya jelas dibawah Sakura, dan perang berlangsung sangat lama, juga pernikahannya membuat gadis itu lama tidak menangani pasien dalam keadaan koma, dan entah mengapa tubuhnya begitu lemas dan sulit untuk di gerakkan. Tapi bagaimana pun dia harus melaporkan hal ini kepada Hokage, kalau tidak dia bisa kehabisan chakra.
Tiba-tiba saja pintu itu kamar Sasuke terbuka nampaklah Tsunade dengan wajah kaget melihat keadaan yang ada di depannya, bersamaan dengan itu pangeran yang sudah lama bermimpi membuka matanya, matanya yang pekat, yang mampu menarikmu kedalam lubang Black Hole yang tanpa arah, dimensi lain serta menjeratmu kedalam situasi yang tak pernah kau bayangkan di sepanjang kehidupanmu.
.
.
Terima kasih banget sudah membaca Fanfict ini, maaf kalau Updatenya sangat lama. Kegiatan di kampus sangat padat sampai aku tidak sempat melanjutkan cerita ini. Terima kasih untuk yang sudah mereview, dan mengikuti cerita ini, aku sangat kaget ternyata banyak banget yang membaca ceritaku dan aku sungguh merasa senang, lain kali aku akan berusaha untuk melanjutkan cerita ini lebih cepat.
.
.
Jawaban Review
Ada flashback knp sasuke cidera? Untuk Flashbacknya belum, mungkin chapter depan Knp sasuke bs gerakin tbuhnya stlh lm dy koma stlh hinata jenguk sasuke? Alasan Sasuke bisa gerakin tubuhnya setelah Hinata jenguk udah ada di chap ini :) Update kilat ya thor ! Sedang diusahakan, maaf ya kalau lama :')Eh kenapa temen-temen hina-chan gax bisa ngenalin keberadaan hina-chan lewat cakra.? Karena dia bukan ninja lagi dan chakranya sudah di segel Ceritanya bagus, Tp masih ada typo Makasih sarannya, berusaha memperbaiki :) Bila ini memang bener-bener Rated M, harus ada bumbu-bumbu di Chap 1, agar tidak ada kecurigaan tentang 'Mencari sensari.' Ada, tapi saya memilih moment yang tepat Apa hime akan kembali jadi ninja? Belum tau :) Saya harap Sasuke sudah 'kenal' Hinata dari 'dulu' ya :) Siapa suaminya ino? Sudah di sebutin tuh :)
