Melangkahkan kaki menuju keremangan malam. Melayangkan asa jauh ke dalam selabung mimpi yang tak berkesudahan. Lama, kelam, dan tak berujung. Sakit, perih dan penyesalan. Dan saat sebuah cahaya ajaib menerpa, semuanya terhapus. Semuanya berganti. Menjadi lebih baik? Atau menjadi lebih buruk? Terkadang memang lebih baik, namun tak jarang menjadi lebih buruk. Pilihan, pilihanlah yang menentukan semuanya. Langkahkan kakimu sesuai pilihan hatimu. Rasakan kebenaran yang berasal dari nurani terdalam. Percayailah nurani tersebut.
.
.
.
Pair :
HaeHyuk.
.
Genre :
Romance, Hurt/Comfort and maybe a little bit of fluffy
.
Rate :
T+
.
Disclaimer :
Mereka ya milik mereka sendiri, saat ini bernaung di bawah SMent dan member dari Super Junior.
.
Warning :
Boys Love, DON'T LIKE JUST DON'T READ.
.
.
.
^^KOKORO KARA AISURU by KIM KEYRA^^
Just enjoy this fict.
.
.
.
.
.
.
^Normal POV^
.
.
.
"Hyukkie aegi~~~ Noona pulang!" begitu menginjakkan kakinya ke dalam rumah sederhana milik keluarganya, Lee Sora, segera berteriak menyebut nama adik kesayangannya. Cukup vocal, dan cukup menggemparkan seisi rumah.
"Noona, naega aegi anniya. Aku sudah besar noona." Protes si adik yang sempat tersedak minuman yang sedang ia teguk saat mendengar panggilan kakaknya itu.
"Ya! Bukan aegi bagaimana, minum saja masih berantakkan seperti ini. Aigoo, Hyukkie aegi~." Bantah Sora sembari menyeka lelehan minuman yang tercecer di sekitar mulut sang adik.
"Itu 'kan salah noona juga, ada apa noona berteriak seperti tadi?" tanyanya setelah sang kakak selesai membersihkan dirinya.
"Kau tahu? Kampusku akan mengadakan festival, kau mau mengikuti kompetisi yang diadakan?" Tanya Sora yang kini sedang melangkah menuju kulkas hendak mengambil air minum untuk dirinya sendiri.
"Dance?" sang adik mengerutkan keningnya sedikit ragu dengan pertanyaannya sendiri.
"Menurutmu apalagi pabo dongsaengie? Tentu saja dance, memang apalagi? Kau mau ikut kompetisi menyanyi lagu trot begitu?" Sora memukul pelan kepala adiknya yang sedikit lamban itu.
"Kau menyebalkan noona." Gerutu Eunhyuk dan segera berlalu ke ruang makan yang tak jauh dari dapur tempatnya.
"Hyukkie mau mengikuti kompetisi itu?" sang eomma yang saat ini sedang mengambilkan makanan untuk sang suami, menanyakan hal yang sedari tadi sedang didiskusikan oleh kedua anak kebanggaannya.
"Mollayo eomma, noona… memang kompetisinya kapan?"
"Sekitar tiga minggu lagi, wae? Kau ikut 'kan?"
"Ngg…" Eunhyuk tampak sedikit mengernyit bingung, pasalnya selama dua minggu ke depan ia dan sekolahnya memiliki agenda tersendiri untuk anak baru. Dan tidak mungkin baginya hanya mempersiapkan diri dalam waktu seminggu. "Aku… akan ikut. Yah sekalian aku melihat kampus noona." Putusnya kemudian.
"Yay, nae aegi memang tak akan mengecewakan aku~." Sora yang sangat girang itupun mengacak surai platina sang adik dan tersenyum senang setelahnya.
Ya, memang kelihatan janggal. Mengapa Sora begitu senang melihat sang adik berlomba? Bukannya sudah biasa? Ada alasan lain sebenarnya.
Dia hanya ingin adiknya dilihat oleh orang banyak. Sebagai Lee Hyukjae yang menawan jika berada di atas panggung. Ia ingin adiknya melupakan bayang-bayang memuakkan itu. Ia ingin adiknya bersosialisasi. Hanya itu saja. Keinginan yang sederhana.
"Jika butuh apa-apa, minta pada appa nde?" appa mereka berdua memang sangat mendukung apapun yang dilakukan oleh kedua anaknya. Tak ada sedikitpun kekangan, dan tak ada sedikitpun larangan. Karena keduanya selalu melakukan hal yang positif.
.
.
.
"Hankyung seongsaenim, ada yang ingin saya bicarakan." Siang itu Eunhyuk terlihat memasuki ruang guru, dan ia segera menuju meja Hankyung, salah seorang guru di sana.
"Ah? Hyukjae-sshi. Ada apa?" guru yang satu ini memang tak pernah meninggalkan kesan menakutkan pada setiap muridnya, senyuman ramah selalu menghiasi wajah orientalnya.
"Boleh saya meminjam ruangan klub seongsaenim selama tiga minggu ini?" mulai Eunhyuk.
"Ah, kau mau mengikuti kompetisi lagi? Kenapa masih canggung dan meminta izin seperti ini sih? Seakan kau baru sekali akan meminjam ruangan klubku saja. Kali ini kau mengikuti kompetisi di mana Hyukjae-sshi?" Sepertinya Hankyung akan menyetujui permintaan yang diajukan oleh Eunhyuk.
"Di kampus kakak saya, mereka akan mengadakan festival tahunan. Dan saya diminta kakak saya untuk mengikuti dance kompetisinya."
"Ah, kalau tidak salah kakakmu kuliah di salah satu SKY universitas kan?"
"Nde seongsaenim."
"Aku mengerti, baiklah, ini kunci ruangan klub. Biar nanti aku yang akan mengatakannya ke ketua klub dance."
"Tidak usah seongsaenim. Biar saya sendiri yang mengatakkannya pada Sungmin-hyung. Baiklah seongsaenim, saya permisi dulu." Pamit Eunhyuk singkat dan membungkuk singkat sebelum keluar dari ruangan guru tersebut.
"Anak itu mau meminjam ruangan klubmu lagi Han?" salah satu guru yang kebetulan berada di sana melihat percakapan keduanya dan segera menghampiri Hankyung begitu Eunhyuk keluar dari kelas.
"Nde, Heechul-ah. Anak yang berbakat, tapi sayang sekali. Cara berkomunikasinya cukup kaku. Ah, bahkan Sungmin yang bersahabat dengannya saja tak bisa membuatnya masuk ke klubku." Gerutuan gemas dilayangkan oleh Hankyung yang kini menyadarkan kepalanya ke atas meja kerjanya itu.
"Sudahlah, anak itu benar-benar pengecualian Han. Selama ia membawa harum nama sekolah kenapa tidak? Nah, aku masuk ke kelas duluan. Kekeke, tak sabar rasanya melihat muka depresi mereka di pagi hari." Dan Heechulpun meninggalkan Hankyung dengan seringaian yang terpoles sempurna di wajahnya.
"Manusia yang satu ini, senang sekali sih melihat anak orang menderita." Gerutuan yang keluar setelah Heechul keluar dari ruangan guru itu tentu saja benar-benar dilontarkan sesudah Heechul keluar, karena kalau tidak… yah tak bisa dibayangkan lagi apa yang akan terjadi pada Hankyung.
.
.
.
^Eunhyuk POV^
.
.
.
Tidak ada yang sempurna, semua orang sangat mengetahui itu semua. Aku pun bukanlah manusia yang sempurna, bukanlah manusia yang memiliki segalanya. Masa laluku pun bukanlah masa lalu yang pantas untuk diceritakan. Memalukan malah. Sangat memalukan sekaligus menjijikan.
"Sial, kenapa aku harus mengingat itu lagi."
.
.
.
^Normal POV^
.
.
.
Setelah menggumam tidak jelas, Lee Hyukjae segera menutup sebuah pintu loker yang tentu saja itu miliknya dan segera melangkahkan kakinya ke ruang klub dance. Yang pastinya saat ini sudah sangat sepi, mengingat jam pulang sekolah sudah berlalu sejam yang lalu.
"Ah, Sungmin hyung. Belum pulang?" Hyukjae yang mendapati Sungmin masih berada di ruangannya itupun cukup terkejut.
"Nde Hyukkie-yah, Kyu belum menjemputku. Katanya sih ada diskusi kelompok. Sudah sejam lebih dan belum datang." Gerutuan Sungmin itu diakhiri dengan bibir Sungmin yang dimajukan pertanda ia kesal.
"Hyung, bagaimana kalau kau memperhatikan tarianku sembari menunggu Kyuhyun?" Hyukjae memberi sedikit solusi agar Sungmin tak begitu bosan.
"Ah iya, kompetisi itu ya. Kau yakin bisa mempersiapkan dirimu? Sekolah kita 'kan juga sibuk dengan festival tahunan?"
"Kalau aku tidak bisa, tak mungkin aku menerima tawaran Sora noona, hyung. Nah, aku mulai ya hyung." Setelah semua persiapannya siap, Hyukjae segera berdiri di tengah-tengah ruangan dan menghadap cermin besar yang akan menampilkan detail dari setiap gerakan yang ia lakukan.
Sungmin seperti biasanya, akan jadi partner yang dibutuhkan Hyukjae. Memperhatikan Hyukjae saat sedang menari, memberi arahan bagaimana gerakan yang mungkin akan lebih indah jika gerakan itu dipakai. Layaknya guru, Sungmin selalu diminta Hyukjae untuk melihat tariannya.
Seperti sekarang ini, Hyukjae sedang menari. Benar-benar menari, bukan hanya sekedar menggerakkan anggota tubuhnya.
Anak itu terlihat berbeda. Serius, misterius, sensual dan polos di saat yang bersamaan. Seakan menari adalah helaan nafasnya, seakan menari adalah partner terbaiknya, seakan menari adalah tujuan hidupnya.
.
.
.
"Hei bocah setan, belum pulang?" Donghae yang baru saja keluar dari kelasnya berpapasan dengan Kyuhyun yang sedang berjalan dengan tergesa-gesa, setengah berlari malah.
"Aissh, namja ikan ini. Kau sedang apa? Kenapa belum pulang?" Kyuhyunpun sedikit memperlambat langkah kakinya.
"Tertidur di atap sekolah, dan baru saja mengambil ini." Tunjuk Donghae pada tas yang ada di genggaman tangannya.
"Aisssh, anak ini. Ah, kau sudah memutuskan akan masuk klub apa?" Tanya Kyuhyun kemudian.
"Mungkin klub dance, kau tahu sendiri, aku hanya tertarik dengan dance." Ujar Donghae sedikit ragu apakah ia harus mengikuti kegiatan klub atau tidak.
"Ah, kalau begitu ayo ikut aku. Aku akan ke ruangan klub dance, untuk menjemput Sungmin hyung. Sekalian kau melihat ruangan klub." Tawar Kyuhyun yang segera disetujui oleh Donghae.
.
.
.
Pernah kau melihat malaikat? Malaikat yang sedang menggoda tubuhmu dengan tubuh indahnya? Malaikat yang tanpa sengaja menggerakan tangannya seakan memintamu datang untuk menjamahnya?
Oke, pikiran itulah yang melayang-layang di kepala Donghae saat ini. Begitu ia masuk ke ruangan klub dance, yang ia lihat adalah pemandangan menggiurkan. Bagaimana tidak? Lee Hyukjae yang sedang menari itu sangat menggodanya.
"Eunhyuk hyung ada di sini juga? Kenapa kau malah bilang sedang sendirian Min hyung? Kau ini, aku 'kan khawatir jadinya." Gerutu Kyuhyun.
"Hyukkie baru datang tiga puluh menit yang lalu, kau yang kelamaan datang." Gerutuan yang dibalas dengan gerutuan juga.
"Ah, hyung. Aku sepertinya hanya sebentar saja. Aku sudah dijemput." Tanpa repot-repot mengganti pakaiannya, Hyukjae segera berpamitan.
"Ah, Lee Donghae imnida. Bangapseumnida." Entah, Donghaepun sedikit malu dengan apa yang dilakukannya saat ini. Menghadang jalannya orang yang sedang bergegas dang memperkenalkan namanya.
"Ye? Ah, Lee Hyukjae imnida." Ujar Hyukjae datar.
"Eung, ini… tunggu sebentar…" Donghaepun terlihat merogoh sesuatu dari dalam tasnya, "ini handuk kecilmu yang waktu itu, sudah kubersihkan. Gomawo~." Ujar Donghae sembari menyerahkan handuk kecil yang pernah diberikan Hyukjae padanya.
"Ah, ye." Hyukjaepun segera memasukkan handuk itu ke tas nya. "Sungmin hyung, Kyuhyun. Aku pulang." Pamit Hyukjae sekali lagi. Dan berlalu dengan cepat setelah menganggukkan singkat kepalanya pada Donghae yang tak henti-hentinya menatapi Hyukjae.
"Awww, appo… ya! apa masalahmu Min hyung!" gerutu Donghae begitu kepala belakangnya menjadi landasan terbang untuk sebuah botol minum, dan begitu ia berbalik, Sungmin menatapnya dengan geram.
"Jangan menjadikan Hyukkie ku korban mu yang selanjutnya, cassanova kacangan." Sungminpun segera berlalu dari ruangan itu, dan segera menyuruh keduanya ikut keluar dari dalam ruangan yang akan segera ia kunci.
"Mati kau ikan." Dengan seringaiannya Kyuhyunpun berlalu dan mengikuti Sungmin.
"Aku rasa kalian salah…" gumaman Donghae itu hanya didengar oleh angin sore yang menerbangkan beberapa helaian daun yang terlepas dari rantingnya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Ini udah lebih panjang belum?
Hehe,
Ah iya, ada yang bingung sama beberapa istilah Jepang yang Key pakai di ff ini ya.
Oke, Key jelasin sesimpelnya aja ya.
-Hikikomori, keadaan diman seorang pelajar Jepang mengurung dirinya didalam kamar dalam kurun waktu 4 bulan atau lebih dan gak ada komunikasi dengan dunia luar selain menggunakan internet. Mereka biasanya mengalami ini kalau mereka dibullying, atau nilai mereka jelek sampai-sampai bikin mereka malu ke sekolah.
-kyou iku mama, pendidikan ada di tangan ibu. Di Jepang, ibu berperan besar dalam pendidikan anak. Karena itu, banyak anak-anak di Jepang yang lumayan tertekan dengan ajaran ini. Tau sendiri 'kan ibu-ibu itu gimana cerewetnya? Terlebih lagi kalu nilai mereka jelek, itu berarti si ibu gak becus ngajarin anaknya. Biasanya dapat cap jelek dari sekitar. Hh~ Jepang dengan semua perspektif luar yang sangat mereka pikirkan.
-kokoro kara aisuru, eunggg, lebih ke gini artinya "Mencintaimu setulus hatiku" kayak gitu, hehe.
Nah segitu aja dulu~
