Bukan Cinderella

By: . Karoru .Charlotte .Cullen .

A Bleach FanFiction

Pairings : HitsuHina, HitsuRangi, IchiRuki, IshiOri

Side Story:

The Last Memories

Sfx : Namidairo or Goodbye Days by Yui

-------------------------------------------Hinamori's P.O.V-----------------------------------------------

Pada tanggal 17 Januari 18 tahun yang lalu, aku dan Unohana-san belum tinggal di cottage milik Unohana-san di dekat Kuchiki no Mori, saat itu aku dan Unohana-san pergi ke sebuah kerajaan.

" Unohana-san, apa yang kita lakukan disini??" tanyaku yang saat itu berumur 4 tahun.

Dia hanya tersenyum " Kau akan mengetahuinya nanti." jawabnya sambil tersenyum, aku menggenggam erat tangannya. Hari itu aku memakai kimono berwarna baby pink super lembut bermotif bunga sakura berwarna putih dan obiku berwarna pink muda, rambutku dikuncir dua seperti biasanya.

Lalu aku melihatnya untuk pertama kali.. Dia memakai kimono berwarna putih dengan motif garis-garis tak beraturan bewarna turquoise dan diujung lengan kimononya itu ada gambar naga es yang melingkari ujung lengan kimononya itu. Dia tampak sangat tampan. Tidak, dia sempurna. Aku berjinjit supaya bisa melihat wajahnya dengan baik. Rambutnya yang berwarna silver tampak sangat kontras dengan warna matanya yang berwarna turquoise . aku yakin usianya hanya beberapa tahun lebih tua dariku

" Unohana-san, siapa dia??" bisikku sambil menunjuk kearahnya

" Dia Hitsugaya Toushirou-sama. Cucu dan pewaris tahta dari Yamamoto Shigekuni Genryuusai-sama." Jelasnya sambil tersenyum.

" Hitsugaya Toushiro??" tanyaku bingung. Nama yang aneh. –digampar Hitsu-fans padahal saia juga Hitsu-fans-

" Kau nanti harus akrab dengannya, Hinamori" tambah Unohana-san

" Hai." Jawabku semangat " Hinamori akan berteman baik dengan shirou-chan" kataku meyakinkan Unohana-san. Wanita itu tertawa kecil.

Lalu kami berdua terpaksa diam karena Yamamoto Shigekuni Genryuusai -sama telah memasuki ruangan Hall itu dan dia mulai berbicara sementara aku terus memperhatikan bocah lelaki itu

---2 years later---

" Shirou-chan!!" aku memanggilnya, dia masih setampan dulu dan dia tersenyum kecil ke arahku dan hanya tersenyum kecil saja dia sudah sukses membuatku terkena serangan jantung –bayangin Shirou-chan yang lagi imut-imutnya itu ngeluarin senyumnya Edward Cullen-

" Hinamori?" tanyanya dengan nada suaranya yang dalam itu.

" Yamamoto-sama memanggilmu." Kataku sambil menunjuk ke arah The Palace. Dia mengangguk.

" Kau mau ikut?" tanyanya. Aku mengangguk semangat. Lalu dia mengulurkan tangannya ke arahku, aku kebingungan tapi wajahku memerah.

" Apa yang kau lakukan, Shirou-chan??" tanyaku bingung.

" Genggam tanganku. Aku tidak ingin kau tersesat." Katanya dengan nada datar. Seketika kata-katanya sukses membuat wajahku memerah semerah tumis kepiting saus asem pedes (Author : Hiks.. Gue Lapeeeeerrrr!!!!!!!). Aku mengangguk dan menggenggam erat tangannya sementara kami berdua berjalan menuju istana.

--------------------------------------------------------The Hall--------------------------------------------------------

---3 years later---

" Hinamori, kemari." Unohana-san memanggilku. Aku yang saat itu sedang bermain di dapur dengan Kurotsuchi Nemu langsung mengangguk dan meninggalkan Nemu yang wajahnya penuh dengan tepung. Setelah membersihkan kimonoku dari tepung aku berlari ke arah Unohana-san yang sudah menungguku.

" Nani desu ka, Unohana-san?" tanyaku ceria.

" Kita harus pergi dari sini secepat mungkin." Katanya tegas. Aku terbelalak.

" Naze ka, Unohana-san??" tanyaku, aku bisa mendengar suaraku bergetar.

" Kita harus pergi, Hinamori." Kata Unohana-san padaku, masih dengan nada tegas.

" AKU TIDAK MAUUU!!!!!!" aku menjerit.

" Hinamori!" bentak Unohana-san. Aku menangis.

" Hinamori-tidak-mau-meninggalkan-Shirou-chan-Unohana-san" kataku disela tangisanku

" Kenapa kau tidak mau meninggalkan Hitsugaya-sama?" tanyanya.

" Hi-Hinamori…. Hinamori sayang Shirou-chan" jawabku pelan. Aku berani bersumpah wajahku memerah.

" Karena itu kita harus pergi, Hinamori Momo." Katanya. Aku semakin sedih mendengarnya.

Aku tidak mau berpisah dengan Shirou-chan.. Aku menyayanginya…

" Sebelum pergi, bolehkah aku bertemu Shirou-chan untuk terakhir kalinya??" nada suaraku bergetar. Unohana-san terdiam sejenak, lalu dia mengangguk.

" Arigatou, Unohana-san" bisikku. Akupun berlari menuju kamar Shirou-chan yang berhadapan langsung dengan laut. Sejak dulu, aku sangat menyukai kamarnya karena aku bisa melihat sunset di kamarnya. Kami berdua biasa melewatkan sore hari dengan duduk di beranda kamarnya dan melihat sunset atau pergi ke pantai berdua saja untuk bermain bola atau lomba lari.

" Shirou-chan??" aku memanggil namanya setelah aku sampai di depan pintu kamarnya.

" Masuklah." Sebuah suara yang dalam dan tenang terdengar dari dalam. Akupun membuka pintu dan melihatnya sedang memakai laptop apple warna biru metaliknya.

" Hinamori?"

" Shirou-chan, ada yang ingin aku bicarakan." Kataku langsung tanpa basa-basi.

Wajahnya tampak kebingungan " Nani desu ka?" tanyanya. Aku melihat ke arah wajahnya sebentar. Memandangi wajahnya yang menurutku sangatlah sempurna, lalu bicara.

" Apa Shirou-chan mau makan semangka kesukaan Shirou-chan di halaman istana?" tanyaku. Dia tampak kebingungan tapi dia mengangguk.

" Tunggu sebentar, aku harus memberi laporan pada Hisagi dan Ukitake" katanya. Aku mengangguk dan menunggu, aku duduk di sebelahnya sambil memperhatikan apa yang dikerjakan di laptop mahalnya itu.

" Apa itu, Shirou-chan??" tanyaku.

" Hitsugaya-taichou" dia meralatnya.

" Baiklah.. apa itu, Hitsugaya-kun?" tanyaku. Rasanya susah memanggilnya dengan nama gelar elite seperti itu. Dia tampak pasrah.

" Ini laporan keamanan di Seireitei" jawabnya sambil terus mengetik.

" Apa yang terjadi di sana?" tanyaku.

" Zaraki Kenpachi membuat masalah lagi, kali ini dengan Ayasegawa Yumichika dan Kusajishi Yachiru" jelasnya. Aku mengangguk saja walaupun sebenarnya aku tidak mengerti apa yang dibicarakannya. Lalu tiba-tiba saja dia langsung berdiri dan menarikku keluar dari kamarnya.

" Shirou-chan, apa yang kau lakukan??" aku bisa mendengar nada panik dalam suaraku.

" Ayolah, kau yang mengajakku ke taman, ingat?" tanyanya, dia tidak menoleh ke arahku.

" Hai" hanya itu yang bisa aku katakana.

--------------------------------------------------------Castle Ground--------------------------------------------------------

Aku tahu kalau dia paling suka semangka, karena itu aku mengajaknya makan semangka untuk terakhir kalinya.

" Shirou-chan.." panggilku.

" Hn??" dia hanya memalingkan wajahnya sementara wajahnya kotor karena semangka.

" Apa yang Shirou-chan pikirkan tentang aku?" tanyaku to-the-point.

" Apa maksudmu?" tanyanya bingung.

" Bagaimana aku dimata Shirou-chan?" tanyaku dengan kalimat berbeda.

" Kau cerdas, baik dan sabar." Katanya jujur. Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar barusan.

" Ada yang lain?" tanyaku penasaran. Dan aku berani bertaruh 1 juta ryo kalau tadi aku melihat wajahnya memerah.

" Kupikir…." Dia terdiam sejenak, membiarkan angin menerpa wajahnya " Aku menyukaimu" katanya sepelan mungkin. Aku terbelalak kaget mendengarnya.

" Kau serius?" tanyaku.

Dia mengangguk lalu tertunduk malu " Aku serius, Hinamori" jawabnya. Aku menangis dan dia panik.

" Hi-Hinamori?? Kau kenapa? Apa yang terjadi??" tanyanya panik.

Aku tidak menyangka akan sesulit ini jadinya.. aku semakin tidak bisa meninggalkannya…

" Gomen ne, Shirou-chan" bisikku. Akupun pergi meninggalkannya dan berlari masuk ke istana.

--------------------------------------------------------The Great Hall--------------------------------------------------------

" Hinamori, Kau kenapa??" Abarai-kun melihatku menangis. Tanpa sadar aku langsung memeluknya dan menangis sejadi-jadinya di pundaknya, membasahi kimono hitamnya dengan air mataku.

" Abarai-kun, aku menyayanginya.." kataku perlahan sementara aku terus menangis.

" Siapa?" Tanya Abarai-kun bingung.

" Shirou-chan" jawabku masih sambil menangis.

" Tunggu dulu, kau menyukai taichou??" Tanya Abarai-kun padaku. Aku hanya mengangguk sambil terus menangis kencang.

-------------------------------------------Hitsugaya's P.O.V-----------------------------------------------

' kenapa Hinamori menangis?? Apakah salah kalau aku memang mencintainya?? Kenapa dia malah lari meninggalkanku??' aku terus berpikir untuk memecahkan masalah itu sambil berjalan memasuki Great Hall karena ojiisama memanggilku. Tapi saat aku sedang di lorong aku melihat hal yang paling tidak ingin kulihat seumur hidupku.

' Ada apa ini?? Hinamori memeluk Abarai?? Apa yang sebenarnya terjadi??' aku memilih bersembunyi sambil terus memperhatikan gerak-gerik mereka berdua.

" Apa yang sebenarnya ada di kepalamu, Hinamori??" aku berbisik, lalu Izuru lewat.

" Izuru, apa mereka berdua lakukan?" tanyaku.

" Hinamori-san sedang ada masalah, dan Abarai yang merupakan sahabatnya hanya menghiburnya" jawabnya jujur.

" Apa masalah Hinamori?" tanyaku.

" Apakah taichou tidak tahu??" Tanya Kira bingung.

" Apa?" tanyaku penasaran.

" Hinamori-san dan Unohana Retsu-san akan pindah" jawab Kira, aku terbelalak kaget.

" NANI??" tanpa sadar aku berteriak.

-------------------------------------------Hinamori's P.O.V-----------------------------------------------

Aku yang masih menangis dan mendengar satu suara yang kukenal. Aku berbalik dan melihat bola mata turquoisenya menatapku dan Abarai-kun.

" Hitsugaya-taichou" hanya itu yang bisa Abarai-kun katakana.

" Abarai, kau dipanggil oleh Kurosaki" katanya sambil menunjuk ke arah lorong. Aku menatap wajahnya yang tampak kebingungan tapi dia mengangguk.

" Aku janji aku tidak akan mengatakannya pada siapapun" bisiknya. Aku mengangguk.

" Arigatou, Abarai-kun" balasku. Dia mengangguk lalu meninggalkanku dan Shirou-chan karena Kira-kun sudah pergi. Shirou-chan datang menghampiriku. Jantungku berdegup kencang.

" Kenapa kau tidak bilang padaku?" tanyanya langsung dengan nada sinis.

" Apa maksudmu?" tanyaku bingung.

" Kenapa kau tidak bilang padaku bahwa kau akan pergi dari sini dengan Retsu-san?" tanyanya. Aku terbelalak. Aku hanya membisu dan wajahnya semakin tidak sabar " Kenapa Hinamori??" dia membentakku.

" Karena aku tidak mau!!" aku berteriak. Spontan dia kaget mendengar jawabanku.

" Kenapa kau tidak mau menceritakannya padaku?? Kalau kau bilang, aku bisa minta ojiisama agar menyuruhmu tetap tinggal!!" dia memarahiku

" Karena aku membencimu!!" aku terpaksa berbohong agar dia membiarkanku pergi. Dia terbelalak kaget mendengar apa yang kulakukan. Aku tidak bisa menatap wajahnya, akupun berlari ke kamar Unohana-san

" Unohana-san, aku sudah siap." Kataku padanya. Dia mengangguk lalu menggandeng tanganku

" Ayo kita pergi dari sini, secepatnya Hinamori." Katanya. Aku mengangguk pelan

" Kapan?" tanyaku

" Midnight" jawabnya, waktuku hanya tinggal 12 jam lagi sebelum aku benar-benar berpisah dengannya. Aku sebenarnya tidak mau meninggalkannya

" Hai" jawabku lemah

"bersiaplah, Hinamori" Unohana-san menepuk pundakku pelan. Aku hanya mengangguk walaupun aku menahan air mataku agar tidak terjatuh dari pelupuk mataku

-----------------------------------------------Hitsugaya's Bed Room, Midnight---------------------------------------------

Saat aku harus pergi, aku kabur sebentar untuk mengucapkan perpisahan terkahir untuk Shirou-chan, aku harap dia sudah tertidur. Sesampainya di depan pintu kamarnya yang luar biasa besar, aku mengetuk pintu itu pelan, sangat pelan, tidak ingin membangunkannya. Tidak ada jawaban. Dia sudah tertidur. Akupun membuka pintunya perlahan dan masuk ke dalam dalam keheningan malam. Akupun duduk di sebelah tempat tidurnya yang luar biasa mahal dan besar. Memandang wajah indahnya

" Jadi, Shirou-chan, aku datang ke sini untuk mengucapkan perpisahan padamu." Kataku dengan nada pura-pura ceria. Memandangi wajahnya yang tertidur pulas. Air mataku mulai mengalir dari pelupuk mataku

" Maafkan soal perkataanku tadi siang, sebenarnya aku tidak pernah membencimu" lanjutku.

Lalu aku menggenggam erat tangannya dan mencium bibirnya lembut. Hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya

" Aishiteru, Shirou-chan" bisikku si telinganya

" Lupakan saja semuanya tentang kita, karena kita tidak mungkin bisa bersama" aku menangis lagi

" Arigatou, Hitsugaya-taichou" sebelum aku melangkah pergi, aku mengecup keningnya lalu berbisik

" Sayounara" bisikku ditelinganya. Akupun melangkah pergi dari kamarnya, kimono putih yang kukenakan lengannya sudah basah karena air mataku. Sesampainya di luar, Unohana-san sudah menugguku

" Ayo kita pergi dari sini" katanya sambil menyentuh pundakku. Aku mengangguk sambil menghapus air mataku

Selamat tinggal, Hitsugaya-kun. Selamanya…

-------------------------------------------------------Owari-------------------------------------------------------------

Gyaaaaaaaaa!!!!!!!! –lebay mode + histeris mode on!- sumpah gue harus ngaku kalo ni side story aneeeeeehhhh banggeeeettt!!!!!!. Saia dapet inspirasi waktu Hinamori ngasi ucapan perpisahan ke Hitsugaya kayak waktu Orihime ngucapin slamet tinggal ke Ichigo waktu tidur. Jujur waktu liat scene itu, gue nangiiiissssssssss.. apalagi sambil denger 'Namidairo' sama 'Goodbye Days' punya Yui nee-san.. Hiks.. srrrrroooooootttttt -nyusut ingussss- dimihon memberikan sumbangan Review… -dilempar pake sandal jepit merek swallow dengan ukuran 38- Ja Ne!!! review please!!!!