Hai, terima kasih telah me-review A2DT chapter 1: queensha, Rise Star, rest, Lily Purple Lily, christabelicious, RotiSkuter, Bigfan, SeiraAiren, megu takuma, Reverie Light, VanVin, mikhaela malfoy, DarkBlueSong, Yuiki Nagi-chan, winey, yanchan, WatchFang, Beatrixmalf, Shine, dwieambar, Ochan malfoy, kamon, MichelleOey, Atsilla, driccha, Ameliasinta5, deejareed, Hamba Allah, mm, Rin, tinaweasley, ayren caddi, Devia Purwanti, herianiyulia, YMFS, Selena Hallucigenia, Ranes, BlueDiomond13, Widarsi, nn, Dahayu, reader, , Alf Velyta, revacharmy, rawit, ferra, Molly Efrisari, Ladyusa, desydrew, Ellena weasley, Uvii Radclieffe, Gue Cowok.

Rise Star:Aku tahu, pasti banyak penggemar Romance yg kecewa. Maafkan aku! KNG kali ini memang lebih menonjolkan sisi supernatural-nya:) SeiraAiren:Ah, mana mungkin pernah membacanya. Ini ceritaku sendiri, lo! Tetapi kalau berbicara tentang tema yang sama, aku akui sudah pernah ada yang menulis tentang tema hantu seperti ini, contohnya fic Scorose Dead or Alive karya AdfinemAdinfinitum (pasti maksudmu fic itu, kan?) Dia memang author fave-ku, tapi KNG ini sangat berbeda dg fic-nya (coba baca lagi fic itu dan baca lagi KNG ini, lalu bandingkan, kau pasti akan tahu perbedaannya). Btw, tema hantu seperti ini memang sudah banyak ditulis di mana-mana, seperti naskah film Just Like Heaven, lalu ada naskah drama, komik, buku-buku cerita, dan kurasa ada film Indonesia/FTV yang memakai tema seperti ini, kalau tidak salah. Tetapi aku yakinkan pada para pembaca bahwa, selain tema yang sama, fic A2DT ini adalah ceritaku sendiri, aku tidak menjiblak atau menirunya dari hasil kerja keras orang lain:) DarkBlueSong:Walaupun ada kesamaan setting kurasa itu cuma kebetulan belaka, krn aku blom pernah membaca Ghost Girl. Adegan awal itu hasil imaginasiku sendiri krn sering membaca kitab Wahyu dan Perumpamaan tentang Lazarus. Kurasa penulis Ghost Girl pasti suka membaca Wahyu;) VanVin:Thanks, sarannya akan dipertimbangkan:) Deejareed:Draco/Hermione nanti setelah KNG dan fic lain selesai:) mm:tenang saja, akan kubikin Al lebih cakep dr Scorpius:) Tinaweasley:Draco/Hermione, Harry/Ginny nanti setelah KNG dan fic lain selesai:) ayren caddi:Nggak usah follow/Fave jg nggak apa-apa, tidak begitu penting untukku. Yang penting kan aku tahu, kau pernah membaca chapter 1:) Devia Purwanti:Tema hantu seperti ini memang sudah banyak sekali yang menulisnya lebih dulu (lihat penjelasan untuk SeiraAiren). Btw, q blom pernah nonton film Phantom of the Opera, hy baca sinopsis-nya. Dan kurasa 'Antara Ada dan Tiada' lebih cocok untuk judul fic ini, y. Aku memang sangat payah membuat judul, kupinjam frasenya, ya:) nn:Sudah byk skli yg menulis tentang Ketua Murid dsb. Ntar dikira aku ikut-ikutan:) rawit:Settingx bukan di Hogwarts. Kan lg liburan musim panassudah dijelaskan di JMA chapter 3 dan 9 (cb dibaca lg). Lucius/Narcissa nti setelah KNG dan fic yg lain:) Uvii Radclieffe: Nggak nyambung gimana? Nyambung kok, coba dibaca lagi:)


Selamat membaca A2DT chapter 2!

Disclaimer: J. K. Rowling

Image Rose Weasley: Gia Farrell (berasal dari Harry James Potter Facebook)

Title's Idea: Devia Purwanti

Prequel: KNG 1,2,3,4,5,6,7,8 dan sequel-sequelnya.

KISAH NEXT GENERATION 9: ANTARA ADA DAN TIADA

Chapter 2

Tanggal: Senin, 2 Juli 2023

Waktu: 11 a.m

Lokasi: Malfoy Manor

Dear Diary,

Kami baru saja kembali dari ruang makan utama beberapa menit yang lalu. Sekarang, Scorpius sedang duduk di sofa dalam kamarnya, termenung, menatap halaman Daily Prophet yang berisi artikel tentang Rose Weasley. Di atas artikel itu, ada sebuah foto hitam putih seorang gadis berambut berantakan. Dari posisiku, melayang di belakang sofa, tepat di belakang Scorpius, aku bisa melihat foto itu dengan jelas. Gadis dalam foto itu masih sangat muda, kira-kira berusia sekitar lima belas tahun. Dia mengenakan jubah hitam yang ada lambang Hogwarts-nya di dada kiri, dan sedang duduk di kursi, menolak menatap kamera, tapi tersenyum sambil melambai pada sesuatu di sebelah kanannya, sesuatu yang tidak terekam oleh kamera.

Perasaan aneh muncul di dadaku, saat memandang wajah gadis itu—perasaan sedih yang membingungkan. Rasanya aku pernah melihat wajah seperti itu sebelumnya, tapi aku tidak yakin, karena ingatanku tentang masa lalu tidak lebih dari bayangan kabut abu-abu. Meskipun ada beberapa kilasan peristiwa yang sesekali muncul di benakku, itu sama sekali tak berarti, karena itu hanyalah bentuk samar dari sesuatu yang tidak kumengerti.

Tentunya gadis dalam foto ini adalah Rose Weasley, karena artikel di bawahnya adalah tentang Rose Weasley yang kematiannya karena beberapa saat yang lalu, aku telah menyimpulkan bahwa Rose Weasley adalah aku, maka gadis dalam foto itu adalah aku. Namun, aku tidak bisa memastikannya karena aku telah melupakan rupaku sendiri. Aku bahkan tidak bisa bercermin untuk melihat bagaimana wajahku.

Sekali lagi, aku memperhatikan foto itu, mencari sesuatu yang bisa kukenali. Model rambutnya memang sama dengan rambutku, meskipun aku tidak yakin dengan warnanya karena tersamar warna hitam putih. Aku juga tidak yakin dengan bintik-bintik hitam di kulitnya—bisa saja itu adalah tinta yang tercecer saat koran dicetak, atau sesuatu yang lain. Tetapi, aku melihat sesuatu di punggung tangan kirinya; sebuah plester bergambar Pygmy Puff mungil. Lalu, tiba-tiba saja, suatu kilasan peristiwa muncul di benakku: di suatu tempat, di musim panas yang indah, di mana ada banyak sekali air, jembatan, juga toko-toko dan Muggle, lalu ada wajah-wajah yang tidak bisa kukenali. Setengah tersadar, aku memandang punggung tanganku sendiri, dan melihat tato kalajengking berwarna hijau gelap tertempel di sana seperti cap stempel.

Aku tersentak, apakah aku sedang mengkhayalkannya? Aku memejamkan mata, dan membukanya beberapa detik kemudian, tapi tato itu masih ada. Lalu, dengan menggunakan tanganku yang lain, aku mencoba menghapusnya, tapi tato itu tidak hilang—tetap melekat di sana dan menolak untuk meninggalkan punggung tanganku. Aku menggelengkan kepala, tidak yakin bagaimana tato ini bisa ada di sana. Tetapi aku sangat yakin bahwa tato ini tidak ada saat aku ada di dunia abu-abu. Lalu, mengapa tato ini bisa tiba-tiba ada? Ataukah tato ini memang sudah ada di sana, dan akulah yang tidak melilhatnya?

Menggelengkan kepala lagi, aku segera mengabaikan tato itu. Mungkin dulu, saat memutuskan untuk menato punggung tanganku, pikiranku tidak berada di tempat yang benar. Bukankah gadis baik-baik tidak memiliki tato di tubuhnya? Dan aku yakin aku adalah gadis baik-baik. Ketika sedang memikirkan hal itu, mataku menangkap gambar kalajengking terukir indah di karpet di lantai. Setengah tak mempercayainya, aku memelototi gambar itu.

Oke, kurasa jelas sekali bahwa kalajengking—scorpion berarti Scorpius Malfoy. Lalu, apa hubungannya denganku? Bagaimana bisa ada tato lambang nama Scorpius di punggung tanganku? Apakah aku dulunya, saat masih hidup, sangat menyukai Scorpius Malfoy? Ah, mana mungkin, siapa juga yang menyukai pemuda aneh, tak punya rasa simpatik, seperti Scorpius Malfoy. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, pastilah aku sangat menyukainya. Karena itulah aku menato punggung tanganku dengan lambang namanya; karena itulah, Kematian muncul di depanku dalam wujud Scorpius Malfoy; dan mungkin karena itu juga, aku ada di sini—melayang-layang di rumahnya, bukan di rumahku sendiri.

Alasan yang memalukan, bukan? Maksudku, alasan aku melayang-layang di sini, dan bukan di rumahku sendiri adalah karena aku menyukainya. Benar-benar tak bisa dipercaya! Tidak adakah alasan yang lebih masuk akal daripada alasan itu? Misalnya, aku sengaja dikirim ke sini untuk membuat keluarga Malfoy menjadi orang-orang yang lebih baik. Ah, alasan barusan juga tidak masuk akal. Apapun yang terjadi pada Malfoy dan keluarganya bukan urusanku. Urusanku adalah bagaimana cara untuk membuat jiwaku kembali ke tubuhku, atau membuat jiwaku aman dan tenang. Aku tidak ingin melayang-layang seperti ini, tidak hidup ataupun tidak mati. Aku ingin terus dan ditempatkan pada salah satu dari dua pintu itu.

Walaupun ada lambang nama Scorpius di punggung tanganku, aku tidak ingat pernah menyukai Scorpius. Aku benar-benar telah melupakan perasaanku padanya, selain getaran aneh di hatiku saat pertama kali melihatnya di dunia abu-abu—meskipun itu adalah Kematian yang menyamar. Yeah, kurasa aku patut bersyukur karena sudah lupa bahwa aku menyukainya. Setelah berada di sini dan melihat bagaimana keluarga Malfoy menjalani hidup mereka (menganggap kemurnian dan derajat lebih dari segalanya), aku merasa sangat bodoh karena pernah menyukainya. Tentu saja, saat ini, itu tidak ada hubungannya lagi denganku. Aku sudah mati, kan? Dan hantu tidak berhak untuk menyukai seseorang.

Juga, dengan adanya tato ini—yang selama hidupku yang singkat telah kututupi dengan plester bergambar Pygmy Puff—akhirnya aku bisa mengakui bahwa aku memang adalah Rose Weasley, anak Ronald dan Hermione Weasley, dan sudah saatnya aku menyingkir dari sini. Aku bisa pergi ke Godric's Hallow 146, yang kata Daily Prophet adalah rumahku, atau ke The Burrow, tempat mereka mengirim karangan bunga turut berdukacita. Mungkin saat tiba di sana, dan bertemu keluargaku, aku bisa mengingat apa yang terjadi dengan hidupku yang singkat ini. Tetapi, aku tahu aku tidak bisa melakukan itu. Saat pertama kali muncul di Malfoy Manor, aku diam-diam menyadari bahwa aku tidak bisa ke mana-mana. Aku hanya akan menghantui Malfoy Manor sampai waktu yang tidak kuketahui, atau sampai penghuni Malfoy Manor menyadari aku ada di sini, dan memutuskan memanggil pegawai Kementrian Sihir dari Divisi Hantu untuk mengusirku.

Tetapi, aku tahu aku bukan hantu biasa. Aku tidak bisa dilihat ataupun didengar, aku juga tidak transparan dan mengeluarkan sinar keperakan, seperti para hantu yang lain. Aku adalah tubuh, seperti layaknya tubuh manusia biasa, dengan berat yang seringan udara, sehingga aku bisa melayang-layang dan menembus dinding. Mungkin inilah alasan laki-laki bercahaya itu mengirimku pulang ke dunia. Tubuhku belum lengkap sebagai manusia yang sudah meninggal. Jiwaku belum benar-benar meninggalkan tubuhku. Lalu apa yang harus kulakukan? Bagaimana caraku kembali ke tubuhku? Atau bagaimana cara agar jiwaku benar-benar meninggalkan tubuhku? Sementara aku ada di sini dan tidak bisa ke mana-mana. Andai saja, laki-laki bercahaya itu mengirimku langsung ke tubuhku atau ada di sini untuk membantuku, semuanya tentu akan beres. Aku tidak perlu berkeliaran di sini dan melihat bagaimana keluarga Malfoy dalam keseharian mereka. Ah, mudah-mudahan saja, aku tidak ditakdirkan hidup sebagai setengah jiwa selamanya.

Menghilangkan pikiran aneh dari kepalaku, aku kembali memandang gadis dalam foto. Wajahnya, maksudku wajahku dalam foto, biasa-biasa saja; tidak cantik, juga tidak jelek. Ukuran mata, hidung dan mulut juga biasa-biasa saja, seperti wajah gadis Inggris pada umumnya. Tetapi aku suka caraku tersenyum. Senyumku adalah senyum yang tulus, tanpa beban dan tanpa kepura-puraan. Kurasa aku adalah gadis yang baik—raut wajahku menunjukkan kelembutan dan mataku bersinar hangat. Aku suka wajahku, dan tidak akan menyesal memiliki wajah seperti ini, karena wajah cantik bukanlah yang terpenting di dunia ini. Hati yang baik, yang hangat dan tulus, serta mau mengasihi orang lain seperti kita mengasihi diri kita sendiri adalah hal terpenting dari segalanya. Buat apa memiliki wajah cantik, jika hati kita sama sekali tidak memancarkan kehangatan.

Pengalaman di dunia abu-abu mengajarkanku tentang hal ini. Tidak ada yang abadi di dunia ini, semuanya akan berakhir. Kekayaan, ketenaran, kecantikan dan segala kesenangan hidup akan kita tinggalkan, jika kematian datang menjemput. Kemudian, kita akan dihadapkan pada penghakiman yang jujur dan adil, lalu ditempatkan di pintu yang sesuai dengan segala hal yang telah kita lakukan di dunia. Jadi, aku menyimpulkan bahwa kebaikan hati, kelembutan, kesabaran, ketulusan dan kepolosan, seperti yang ada pada anak-anak—dalam hal ini adalah seperti yang kulihat pada Daniel Jeremy—akan menjadi jalan terbaik untuk menuju pintu sebelah kanan, pintu putih yang menuju ke kehidupan kekal.

"Red, apakah kau memang sudah mati?" Scorpius tiba-tiba bertanya, memandang halaman Daily Prophet yang berisi foto hitam putih itu.

Aku melayang melewati sofa dan duduk beberapa inci di atas sudut melengkung sofa, sehingga aku bisa memandang wajahnya. Aku ingin melihat ekspresi wajahnya, ingin tahu apakah sebenarnya dia bersedih untukku atau tidak. Jika dia menyukaiku, seperti dulu aku menyukainya, dia pasti akan bersedih.

"Mengapa kau pergi begitu saja, Red? Kau membuatku sangat terkejut! Aku bahkan tidak meneteskan airmata, karena tidak mempercayainya," lanjut Scorpius. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi sedih, menyesal, atau yang sama dengan itu; ekspresinya biasa saja, seolah sedang membicarakan sesuatu yang sudah sewajarnya. Mungkin baginya, sudah sewajarnyalah aku mati.

"Aku tahu kau tidak akan meneteskan airmata untukku," kataku tanpa penyesalan. Aku tidak ingat bagaimana hubunganku dengan Scorpius, tapi aku sungguh-sungguh tidak menyesal dia tidak menangisi kematianku.

"Kau pergi begitu saja, setelah mengatakan bahwa kau akan menikah denganku suatu saat nanti... Bagaimana menurutmu perasaanku?" Scorpius menggelengkan kepala, dan aku terperangah.

Aku mengatakan bahwa aku akan menikah dengannya suatu saat nanti? Apakah dia serius? Lucu. Benar-benar lucu. Dan aku memang tertawa terbahak-bahak, meskipun Scorpius tidak bisa mendengarnya. Omong kosong, mana mungkin aku pernah berbicara seperti itu. Oke,jika aku memang pernah bilang begitu, aku menyesalinya sekarang. Aku memang menyukainya, tapi aku tidak sungguh-sungguh memikirkan dia sebagai calon suami, kan? Mungkin saat mengatakan hal mengerikan seperti itu, aku berada dalam keadaan yang tidak sadar: sedang mabuk, atau kurang waras. Atau, mungkin saja Scorpius hanya asal omong, karena tidak ada lagi aku di dunia untuk mengkomplain apa yang dikatakannya. Dan kukira, sangat tidak mungkin aku mau menikah dengan cowok arogan seperti Scorpius Malfoy. Cowok sok, yang tidak memiliki perasaan kasih terhadap sesama, yang tidak bisa merasakan penderitaan orang lain, yang tidak bersimpati pada sekelilingnya, yang menganggap bahwa dunia ini hanya berpusat pada dirinya dan keluarganya. Aku tidak mungkin menikah dengan orang seperti itu. Aku ingin tahu, apakah selama hidupnya Scorpius pernah membantu seseorang? Apakah dia pernah meminjamkan pena-bulu pada seseorang yang sangat membutuhkan? Apakah dia pernah membantu seorang anak kelas satu yang tidak tahu jalan ke perpustakaan? Kupikir tidak pernah. Dia pasti tidak pernah melakukan hal-hal sederhana yang penuh kebaikan seperti itu.

"Apakah kau tahu apa yang kurasakan, Red?" Scorpius masih berbicara pada halaman Daily Prophet itu. "Aku tidak merasakan apa-apa... Biasa saja, seperti aku tidak pernah mengenalmu sebelumnya."

"Aku sudah tahu kau tidak akan merasakan apapun, tanpa kau mengatakannya," kataku, mengangkat bahu. "Lagipula, bukankah tidak pernah mengenalku sebelumnya adalah omong kosong? Tentu saja kau mengenalku, Scorpius. Untuk apa jiwaku melayang-layang di sini, kalau kau tidak mengenalku? Untuk apa kau memandang fotoku dan berbicara padanya, jika kau tidak mengenalku?"

"Kurasa aku akan mengenangmu sebagai seseorang yang tak berarti apa-apa bagiku."

"Scorpius, aku lebih suka tidak dikenang daripada dikenang sebagai orang yang tak berarti apa-apa."

"Tetapi apa yang sebenarnya terjadi, Red? Apakah seseorang telah membunuhmu? Ataukah seperti kata Father, kau bunuh diri karena depresi—"

Scorpius berhenti berbicara. Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya dan keningnya berkerut dalam. Tampaknya suatu pikiran mengerikan telah masuk ke benaknya, membuatnya sedikit ketakutan. Beberapa detik kemudian, dia mengumpat kasar, melemparkan Daily Prophet ke atas meja kopi, berdiri, lalu berjalan mondar-mandir di depan sofa; sementara aku memandangnya dengan heran.

"Apa yang terjadi?" tanyaku, masih memandangnya, dan mataku bisa juling setiap saat, kalau dia terus mondar-mandir seperti itu.

"Tidak... Kau tidak mungkin bunuh diri karena itu, kan, Red?" tanya Scorpius pada udara.

"Bunuh diri?" ulangku tak percaya, menunduk memelototi gambar kalajengking di karpet.

Tidak mungkin! Aku tidak mungkin bunuh diri. Aku tidak akan sedepresi itu sampai menghabisi diriku sendiri. Tapi, jika itu benar—jika aku benar telah bunuh diri, maka aku mengerti alasan Kematian menginginkanku dikirim ke neraka. Bukahkah aku adalah pembunuh, meskipun yang telah kubunuh adalah diriku sendiri. Aku memang pantas dimasukkan ke perapian yang menyala-nyala, karena hal itu.

Scorpius masih mondar-mandir dan terus mengumpat.

"Sial, apa yang harus kulakukan? Jika kau memang mati bunuh diri karena surat itu, berarti aku dalam masalah. Setiap saat dari sekarang, para Auror itu bisa langsung menangkapku."

Surat? Surat apa? Apakah Scorpius ada hubungannya dengan kematianku? Kuharap itulah yang terjadi. Aku ingin alasan jiwaku melayang-layang di sini, karena Scorpius ada hubungannya dengan kematianku, bukannya karena aku menyukainya. Dan lagi, jika dia memang ada hubungannya dengan kematianmu, mungkin sebentar lagi aku akan segera tahu apa yang terjadi denganku, dan mungkin saja aku bisa segera kembali ke tubuhku.

"Oh, aku harus menemukan surat itu sebelum para Auror itu menemukannya," kata Scorpius tegas pada udara. "Tapi bagaimana caranya?"

Dia berhenti mondar-mandir, berpikir sebentar, lalu berbisik tajam, "Rucky!"

Bunyi tar keras terdengar dan Rucky muncul, membungkuk rendah di depan Scorpius.

"Tuan Muda Scorpius," katanya serak.

"Rucky, aku akan pergi dan akan kembali saat makan siang... Kalau aku tidak kembali, dan Mother mencariku, katakan aku sedang bersama Ariella di Zabini Mansion."

"Apakah anda akan mengunjungi Nona Ariella, Tuan Muda Scorpius?" tanya Rucky.

"Ya..." jawab Scorpius, sambil meraba-raba kantong jubahnya—mungkin mencari tongkat sihir.

Rucky membungkuk dalam-dalam dan berkata, "Rucky pikir tidak baik mengunjungi rumah orang di awal liburan musim panas, Tuan Muda Scorpius. Nona Ariella dan keluarganya mungkin ingin menghabiskan liburan musim panas bersama."

"Apakah kau mendengarku minta pendapatmu?" tanya Scorpius tajam. "Bukankah aku sudah melarangmu untuk bicara, kalau tidak disuruh bicara?"

"Maafkan Rucky, Tuan Muda Scorpius, Rucky akan menghukum diri sendiri, setelah kembali ke dapur," kata Rucky tetap membungkuk.

"Bagus," kata Scorpius tak peduli. "Aku senang kalau kau bergantung terbalik di atas kompor selama satu hari ini, agar panas dari kompor menjalar ke kepalamu dan kau ingat bahwa kau tidak diijinkan untuk berbicara saat tidak disuruh bicara."

Aku terperangah. Hukuman macam apa itu? Dia tidak serius, kan?

"Baiklah, Tuan Muda Scorpius, Rucky akan melakukannya!"

"Tidak," jeritku, tanpa ada yang mendengar, melayang meninggalkan sofa, lalu mengamati Rucky. "Kau tidak mungkin melakukan itu, kan?"

Yah, Rucky tidak mungkin melakukannya. Sekarang ini tidak ada lagi peri-rumah yang diperlakukan dengan tidak baik. Semua peri-rumah bebas melakukan apapun yang mereka mau, dan bebas untuk tidak menjalankan hukuman. Tetapi, Scorpius dan Rucky tampaknya sudah tahu bahwa Rucky akan melakukan hal itu—bergantung terbalik di atas kompor.

Aku melayang di depan Scorpius, dan memandangnya dengan tajam. "Scorpius Malfoy, kau tidak mungkin membiarkannya melakukan itu, kan?"

Scorpius, yang tidak berhasil menemukan tongkat sihirnya di kantong jubah, segera memandang berkeliling ruangan.

"Bagaimana kalau dia terjatuh dan terbakar? Dia bisa mati!" aku berseru di depannya.

Scorpius berjalan menembusku menuju nightstand—meja kecil dengan lampu hias di atasnya—di sisi kiri tempat tidur. Aku berbalik dan melihat tongkat sihir dari kayu Hawthorn itu tergeletak begitu saja di sana, dan dia mengambilnya.

"Jika kau memang berperasaan, kau akan menghentikannya." Aku tak ingin menyerah. Aku tidak suka Rucky menghukum dirinya sendiri.

"Aku pergi, Rucky, ingat—"

"Larang dia melakukan hukuman itu, Scorpius Malfoy!" aku menjerit, membuat tenggorokanku sakit. Bagaimana aku bisa merasa sakit? Bukankah hantu tidak merasa sakit? Ah, aku kan bukan hantu bisa. Jadi, aku harus berhati-hati, siapa tahu aku bisa terkena mantra salah sasaran.

Sementara itu, Scorpius memandang berkeliling dengan heran, selama beberapa detik. Apakah dia bisa mendengarku? Ah, mana mungkin!

"Oh ya, Rucky, kurasa aku memaafkanmu, dan kau tidak perlu melakukan hukuman itu."

Rucky dan aku memandang Scorpius; Rucky dengan airmata bercucuran dan aku dengan senyum di wajah.

"Bagus, Scorpius," kataku lega, lalu berdehem untuk melegakan tenggorokanku. Aku senang, akhirnya otak Scorpius bekerja di jalan yang benar.

"Tuan Muda Scorpius, anda tidak serius mengatakan hal itu, bukan?" tanya Rucky.

"Aku tidak tahu mengapa aku melakukannya, tapi aku serius, aku—"

Rucky memeluk kaki Scorpius sambil menangis terharu.

"Oh, sudahlah," kata Scorpius, menyingkirkan ujung jubahnya dari Rucky yang sedang membuang ingus di toganya. "Kembali ke dapur, Rucky, dan katakan pada Mother di mana aku berada."

Rucky menjauh sedikit, membungkuk rendah, lalu berkata, "Anda sangat baik hati, Tuan Muda Scorpius. Rucky akan melakukan apapun yang anda inginkan."

"Pergilah!" Scorpius mengibaskan tangannya, mengusir.

Rucky membungkuk rendah untuk terakhir kalinya, dan berjalan keluar kamar.

"Ada-ada saja," kata Scorpius, memandang ujung jubah hijaunya, memeriksa apakah ada bekas ingus Rucky atau tidak. Tentu saja tidak ada. Jubahnya bersih dan penampilannya tetap cling seperti seorang penyihir sejati.

"Bagaimana perasaanmu, Scorpius?" tanyaku, memandangnya. "Bukankah kau senang karena telah melakukan sedikit kebaikan?"

Scorpius tidak menjawab, karena dia tidak bisa mendengarku tentunya. Dia mempersiapkan tongkat sihirnya, berputar di tempat dan ber-Disapparate. Sementara aku, hanya punya waktu untuk mengerjap. Aku bahkan belum sempat memikirkan apa yang akan kulakukan saat Scorpius pergi. Detik berikutnya, aku merasa seperti sedang disedot masuk ke dalam pipa yang sempit—ya, ini adalah sensasi yang muncul, ketika seseorang sedang ber-Disapparate atau ber-Apparate. Tetapi mengapa aku merasakannya, padahal aku tidak sedang ber-Disapparate, aku juga tidak sedang menyentuh Scorpius saat dia hendak ber-Disapparate? Lalu apa yang terjadi denganku? Mengapa bisa ikut ber-Disapparate bersamanya?

Yah, sekarang semua jelas, bukan? Aku bukannya tidak bisa meninggalkan Malfoy Manor. Yang tidak bisa kutinggalkan adalah Scorpius Malfoy. Aku terjatuh di Malfoy Manor, karena Scorpius ada di sana; dia adalah alasan aku ada di sini, jadi aku akan ikut ke manapun dia pergi. Mudah-mudahan alasan jiwaku tidak bisa jauh darinya bukan karena aku tergila-gila padanya. Kuharap ada alasan yang lebih berharga daripada itu.

Sincerely,

Rose Weasley

Jiwa yang mungkin akan terus melayang-layang di sekitar Scorpius Malfoy selama waktu yang tidak diketahui.

PS: Kemanapun Scorpius ber-Apparate nanti, kuharap aku akan lebih dekat pada alasan mengapa jiwaku tidak bisa kembali ke tubuhku.


Tanggal: Sama

Waktu: 11.10 a.m

Lokasi: Zabini Mansion, Bristol.

Dear Diary,

Scorpius dan aku muncul di depan pintu gerbang besi dari pagar batu bata yang dibangun kira-kira tiga meter di atas tanah. Mengapit pintu gerbang itu, ada dua buah patung Minotaur raksasa—makhluk berkepala lembu dan bertubuh manusia—memegang pentungan yang ujung penuh jarum-jarum tajam. Mereka tampak mengerikan, seperti dua penjaga yang tak akan mengijinkan siapapun melewati gerbang ini, tanpa memberikan kepalanya. Omong kosong, itu hanya kesannya saja, mereka kan cuma patung. Tetapi, tampaknya mereka bukan sekedar patung, karena Scorpius sedang memandang mereka dengan serius.

Tak menghiraukan Scorpius, aku segera memandang ke balik pagar melalui terali besi. Di sana tampak sebuah taman luas berumput hijau dengan air mancur di tengahnya. Dan di ujung jalan beton berdirilah Zabini Mansion, sebuah bangunan besar yang tampak menjulang tinggi dengan jendela-jendela kaca berbentuk kubah.

Aku melayang masuk melewati ujung atas pintu gerbang untuk mengagumi keindahan mansion dan tamannya dari udara, sementara Scorpius berbicara dengan tegas pada salah satu Minotaur raksasa, "Aku Scorpius Malfoy. Jangan berpura-pura tidak mengenalku! Biarkan aku masuk, aku ingin bertemu Ariella."

Gerutuan tak jelas terdengar dari kedua Minotaur itu, dan pintu pagar terbuka sendiri beberapa detik kemudian. Scorpius masuk, aku melayang turun di sampingnya, dan kami melangkah (aku melayang) menyusuri jalan beton menuju pintu besar berwarna cokelat dengan pengetuk dari besi. Scorpius mengetuk, peri-rumah mungil yang kurus dan tampak sudah sangat tua membukakan pintu.

"Tuan Muda Scorpius, selamat datang!" katanya dengan suara melengking tinggi, tapi bernada lambat. Peri-rumah ini mengenakan pakaian seperti toga, dengan lambang keluarga Zabini (ular perak dibentuk sedemikian rupa sehingga membentuk hurup Z besar dalam lingkaran dengan warna dasar hitam) beserta motonya Sanctimonia estSempiternum, yang dalam bahasa Inggris berarti Purity is Forever—Kemurnian Darah adalah Selamanya.

Aku mencibir; yah, cocok sekali dengan keluarga Malfoy—Kemurnian Darah akan selalu Bertahan. Tidak ada yang bisa melawan mereka, tentu saja. Meskipun jika aku boleh mengatakan sesuatu, berdarah-murni tidak bisa membuatmu masuk melalui pintu putih di sebelah kanan. Tetapi bukan hakku untuk berkomentar.

"Aku ingin bertemu Ariella, Trincer," kata Scorpius, tanpa basa-basi, saat kami melangkah masuk ke dalam aula luas berkarpet merah gelap dan berpenerangan sempurna, karena jendela-jendela lebar berbentuk kubah berjejer di dinding depan aula ini, memberikan pemandangan taman beserta air mancurnya.

"Nona Ariella sedang berada di taman mawar. Jika anda ingin—"

"Tidak usah, aku tahu di mana taman mawar," sela Scorpius, lalu langsung keluar lagi, tanpa menghiraukan Trincer, yang tampak agak terperangah.

Melayang mengikuti Scorpius, aku melihat bahwa dia mengambil jalan ke arah kiri bangunan, melewati bedeng bunga daisy dan cunterbury bell, juga melewati patung-patung hias dan lampu taman. Kami baru berhenti berjalan saat sudah tiba di taman mawar.

Yang dimaksud dengan taman mawar dalam Zabini Mansion adalah sebuah lahan terbuka yang seluruh permukaannya dipenuhi rumpun mawar dari berbagai warna dan jenis. Bedeng-bedeng diatur dengan artistik dan ditanami rumpun mawar sesuai jenisnya. Aku tidak tahu jenis-jenis mawar, tapi aku bisa menyebutkan beberapa yang kuketahui, seperti jenis Cinnamomeae, yang berwarna merah, kuning dan putih di bedeng yang berderet-deret di sebelah kiri; juga ada rumpun mawar tak berduri, Zephyrine Drouhin, yang bunganya berwarna merah muda ceria, dan batangnya tumbuh merambat memenuhi seluruh pagar batusebelah barat, sehingga pagar batu cokelat itu terlihat seperti berwarna merah muda. Dan meskipun aku tidak bisa membaui udara, aku yakin udara sekitarku pasti penuh aroma mawar.

Berada dalam taman mawar yang indah ini membuatku merasa sangat cantik. Mungkin karena itulah, saat aku melihat gadis berambut merah gelap itu—yang berdiri di antara rumput mawar dan sedang mengayunkan tongkat sihirnya pada rumput mawar di sekitarnya, sehingga bunga-bunga itu melayang masuk ke dalam keranjang kecil di tangannya—aku merasa dia pasti adalah gadis yang sangat cantik.

"Ariella!" panggil Scorpius, dan kami bergerak mendekatinya—Scorpius berjalan dan aku melayang.

Ternyata aku benar. Gadis bernama Ariella ini memang adalah gadis paling cantik yang pernah kulihat. Dia seperti tuan putri berambut merah gelap yang sedang mengumpulkan mawar untuk pesta istana. Wajahnya berbentuk hati dengan mata besar berwarna cokelat cemerlang, hidung mungil yang cantik dan bibir yang berbentuk sempurna. Rambutnya mengikal indah di sekitar kepalanya dan sedikit melewati pundaknya. Rambut itu sangat jauh berbeda dengan rambut merahku yang bergelombang berantakan.

Dia mengenakan jubah putih dengan warna hitam di beberapa bagian, terbuat dari sutra lembut, yang telah didesain sedemikian rupa, sehingga tidak semengerikan jubah hitam yang biasa dipakai murid-murid Hogwarts. Boleh kukatakan bahwa jubah yang dikenakannya tidaklah seperti jubah, tapi lebih mirip gaun yang dipakai gadis-gadis abad pertengahan, tetapi tanpa renda dan korset—syukurlah, karena korset dan renda adalah penemuan yang paling mengerikan. Gaun itu jatuh dengan indah ditubuhnya, mengecil di bagian pinggang dan terus sampai ke mata kakinya. Lengan gaun itu panjang dan melebar di bagian bawah memperlihatkan sebagian dari lengan putih pemiliknya. Dengan gaun itu, dia memang benar-benar cocok memerankan peran putri.

Melihat Scorpius yang tidak merasa heran dengan gaya berpakaian gadis itu, aku memutuskan bahwa Ariella Zabini memang selalu berpakaian seperti itu saat berada di rumah. Atau mungkin saja orang-orang berdarah murni fanatik memang selalu berpakaian seperti ini—laki-laki mengenakan jubah dan perempuan mengenakan jubah yang telah didesain sedemikian rupa sehingga mirip gaun panjang abad pertengahan. Menurutku pakaian orang-orang berdarah murni fanatik ini sangat ribet. Apakah mereka tidak kepanasan? Di musim panas seperti ini, tidak ada salahnya, kalau kita mengenakan sesuatu yang sederhana, misalnya baju tanpa lengan, seperti yang dipakai para Muggle. Tetapi yah, mereka kan sangat anti-Muggle, jadi wajar saja mereka tidak memakai pakaian Muggle. Untung saja mereka penyihir, sehingga mereka bisa menyihir agar pakaian itu tetap membuat mereka nyaman, meskipun di luar matahari bersinar terik.

"Scorpius, apa yang kaulakukan di sini?" dia bertanya, berhenti mengayunkan tongkat sihirnya di udara dan memandang Scorpius dengan wajah terkejut yang cantik. Wajahku tentu tidak bisa dikatakan cantik saat sedang terkejut seperti itu.

"Aku harus bicara denganmu... Ini penting," kata Scorpius cepat.

Ariella menggelengkan kepala. "Aku tidak bisa... Aku sibuk, Scorpius—"

"Apa yang kaulakukan? Kau hanya mengumpulkan bunga."

"Memang, tapi—"

"Ini antara hidup dan mati-ku, Ariella! Apakah kau senang melihat sepupumu ini ditangkap karena pembunuhan dan dikurung di Azkaban?"

Aku memberi Scorpius pandangan heran, berpikir bahwa berbeda dari penampilannya yang sok dan menganggap remeh orang lain, Scorpius juga suka mendramatisirkan keadaan. Ariella juga ternyata berpikir sama, sehingga dia memandang Scorpius dengan ragu.

"Mengapa kau tidak pergi pada Vincent? Biasanya kau pergi padanya, jika kau sedang ingin berbicara dengan seseorang..."

"Ini bukan hal yang akan kubicarakan dengan Vincent... Ini hal yang sangat penting tentang hidupku, keluarga kita... Jadi aku harus bicara denganmu!"

Sekarang giliran aku yang memandang Scorpius dengan ragu. Apakah sebenarnya dia serius, bukan sedang mendramatisirkan sesuatu? Wajahnya memang tampak lebih pucat dan raut wajahnya kelihatan benar-benar serius, juga khawatir. Apakah pembunuhan yang dimaksudkannya tadi adalah pembunuhan atas diriku? Apakah Scorpius yang telah membunuhku? Ah, mana mungkin. Dia sudah mengatakan bahwa aku mati bunuh diri.

"Baiklah... Ayo!" kata Ariella, berjalan lebih jauh ke dalam taman mawar dan tiba suatu tempat terbuka di mana terdapat tiga kursi taman berbentuk bundar dan sebuah meja berkaki satu.

Mereka duduk di dua kursi, dan aku duduk beberapa inci di atas kursi yang ketiga.

"Apa yang terjadi?" tanya Ariella, meletakkan keranjang mawarnya di atas meja.

Scorpius sudah akan mengatakan sesuatu, tapi Trincer, si peri-rumah tua, muncul di sebelah Ariella dengan bunyi tar keras. Dia membawa nampan berisi dua gelas jus buah warna merah—tampaknya stroberi—dan piring bundar berisi kue-kue kecil berwarna cokelat dengan topping warna hijau cerah di atasnya, lalu meletakkan nampan itu di meja.

"Nyonya mengundang Tuan Muda Scorpius untuk makan siang bersamanya dan Nona Ariella hari ini," kata Trincer sambil membungkuk.

"Entahlah, Trincer," kata Scorpius tak begitu yakin. "Ariella dan aku mungkin akan pergi ke suatu tempat setelah ini."

Ariella mengerutkan kening. "Aku tidak pernah berjanji untuk pergi ke suatu tempat bersamamu."

"Kau harus membantuku, Ariella, ini—"

"Baiklah, Trincer," kata Ariella tegas, menghentikan Scorpius. "Katakan pada Mother bahwa Scorpius dan aku sedang membicarakan sesuatu. Jika saat waktu makan siang tiba Scorpius masih ada di sini, dia akan makan siang bersama kita... Oh ya, bawa ini dan letakkan di kamarku!" Ariella menyerahkan keranjang berisi mawar pada Trincer, dan beberapa detik kemudian Trincer menghilang.

"Masalahku lebih penting daripada makan siang," gerutu Scorpius.

"Jadi, apa masalahmu? Kau tidak mungkin sudah membunuh seseorang, kan? Aku tidak peduli, kalau yang telah kau bunuh adalah peri-rumahmu sendiri. Para Auror tidak akan menangkapmu karena hal itu. Apapun yang kita lakukan pada peri-rumah kita adalah hak kita," kata Ariella, dan aku memandangnya dengan sinis. Bagaimana bisa ada orang yang tidak begitu berperasaan seperti mereka ini?

"Apakah kau belum pernah mendengar kalimat: penyihir akan mendapatkan balasan atas apa yang telah mereka lakukan pada peri-rumah?" tanyaku, mendelik pada Ariella.

"Apakah kau sudah membaca Daily Prophet pagi ini?" tanya Scorpius, mengabaikan topik peri-rumah, meskipun aku ingin sekali berdebat tentang itu.

Ariella tampak agak bingung. "Apakah maksudmu berita kematian Rose Weasley?" dia bertanya, lalu tertawa dan aku mendelik lagi. Aku ingin tahu, apakah dia tidak bisa mengatakan hal itu tanpa tertawa? Tidak tahukah dia bahwa di sana, di suatu tempat lain, ada beberapa orang yang sedih atas kematianku? "Kau tidak membunuhnya, kan?" Ariella melanjutkan. "Meskipun aku tahu kau tidak menyukainya, kau tidak mungkin membunuhnya. Tidak menyukai bukanlah alasan yang tepat untuk membunuh orang."

Scorpius tidak berkomentar, dia memandang rumpun mawar merah yang tumbuh beberapa meter di depan mereka.

"Red Rose..." bisiknya pelan.

Aku memandangnya; benar-benar ingin tahu apa yang sedang dipikirkannya.

"Oh ayolah, kematian Rose Weasley bukanlah urusan kita," kata Ariella tak sabar. "Aku tahu, kita sudah mengenalnya saat di Hogwarts, dan aku sempat sekamar dengannya saat di Irlandia, tapi hanya itu. Kita tidak ada hubungannya dengan mereka. Aku bahkan tidak merasa kasihan atau apapun. Berkurang satu penduduk lebih bagus, karena penduduk di dunia ini sudah banyak sekali!"

Oh Mom, darimana dia mendapatkan kata-kata kejam seperti itu? Aku—aku tidak tahu harus berkata apa. Kuharap tidak semua orang berpikir seperti cara Ariella Zabini berpikir.

Scorpius masih memandang rumpun mawar merah, sementara Ariella memandangnya dengan tidak sabar. Setelah beberapa detik, Scorpius berkata lambat, tapi jelas, "Kurasa aku ada hubungannya dengan kematian Rose Weasley."

"Apa?"

Apa?

Ariella dan aku memandangnya; Ariella tampak sangat terkejut, dan aku dengan ingin tahu.

Ah mana mungkin kematianku ada hubungannya dengan Scorpius! Aku bunuh diri, kan? Dia sudah berkata begitu sebelum ini. Apakah ini ada hubungannya dengan surat, yang membuatnya ketakutan?

"Apa maksudmu, Scorpius?" tuntut Ariella. "Apa hubunganmu dengan kematian Rose Weasley? Itu jika benar dia sudah meninggal. Meskipun ada iklan kematian, tapi keluarganya menolak berkomentar—"

"Dia sudah meninggal..." kata Scorpius datar. "Dan kematiannya adalah karena bunuh diri—tidak mungkin karena pembunuhan. Tidak ada penyihir yang akan berani membunuhnya, Uncle Harry-nya dan ayahnya adalah Auror ternama. Kupikir aku—"

"Itulah asalan mereka mengirim Auror ke rumahnya—maksudku karena dia telah bunuh diri?" Ariella menyela Scorpius, keningnya berkerut. "Dan kurasa itu juga adalah alasan mengapa keluarganya menolak berkomentar pada Daily Prophet, benar kan? Mereka takut berita bunuh diri ini tersebar luas dan mereka akan menjadi bahan cercaan di media... Putri Auror terkenal Ronald Weasley bunuh diri hanya gara-gara ditolak oleh pemuda yang dicintai." Setelah mendengus jijik, dia memandang Scorpius. "Pemuda itu bukan kau kan, Scorpius? Kau tidak berkaitan apa-apa dengan kematian Rose Weasley, kan? Tidak, tentu saja tidak! Kau tidak akan punya kesempatan... Dan Rose Weasley tidak mungkin mencintaimu..."

Benar. Aku suka kalimat terakhir Ariella: Rose Weasley tidak mungkin mencintaimu. Aku tidak mungkin mencintai Scorpius Malfoy, iya kan?

"Tidak, bukan begitu," bantah Scorpius. "Weasley tidak mungkin bunuh diri hanya karena aku menolak cintanya. Meskipun sebenarnya dia—"

"Dia apa?" tuntut Ariella, curiga.

Scorpius mengabaikannya dan berkata, "Aku telah memikirkan dan memutuskan bahwa dia mungkin bunuh diri karena surat itu..."

"Surat itu?" ulang Ariella dengan suara tercekat.

"Surat ancaman." Scorpius menjelaskan, "Aku mengirimkan surat ancaman..."

"Oh tidak! Surat ancaman seperti apa, Scorpius? Cerita kan padaku!"

"Sebenarnya surat itu tidak bisa disebut surat ancaman, itu hanya surat untuk menakut-nakuti... Dan aku tidak ingat, apa-apa saja yang sudah kutulis dalam surat itu," kata Scorpius dengan kening berkerut, mencoba untuk mengingat. "Tetapi intinya, aku memintanya untuk bersiap-siap karena artikel tentang kejadian di Irlandia akan segera kukirim ke Witch Weekly..."

"Kejadian apa?" tuntut Ariella lagi, kali ini dengan mata melebar. Kurasa dia sudah tahu kejadian apa itu, tetapi hanya ingin meyakinkan diri.

"Kau sudah tahu... Artikel tentang dia hamil, aborsi dan segalanya. Sebenarnya itu hanya omong kosong, aku tidak mungkin mengirim artikel seperti itu ke Witch Weekly. Aku hanya ingin membuatnya sedikit ketakutan... Aku tidak menduga bahwa dia depresi berat dan mengakhiri hidupnya."

Tidak! Aku tidak mungkin bunuh diri karena hal itu... Aku bukan gadis yang mudah depresi, benar, kan?

Sementara itu, Ariella, untuk beberapa saat, tampaknya tak bisa berkata apa-apa, dia mendelik pada Scorpius.

Scorpius memakai kesempatan untuk melanjutkan, "Dan, kalau para Auror menemukan surat itu, maka aku akan diinvestigasi di kantor Auror, lalu dikirim ke Azkaban dengan tuduhan pembunuhan secara tidak langsung."

"Pembunuhan secara tidak langsung?" Ariella tampak berusaha untuk tidak mendengus, lalu kembali serius. "Dan kau benar-benar sudah mengirim surat itu... kapan? Kalau kau mengirimnya beberapa hari sebelum peristiwa bunuh diri itu, kita akan punya alasan untuk membelamu di pengadilan sihir... Kita akan menyewa pembela yang terkenal dan—"

"Semalam, Ariella," kata Scorpius. "Aku mengirim surat itu semalam... Dan semalam adalah saat-saat Weasley mengakhiri hidupnya."

"Oh, ya ampun... Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak boleh membiarkan para Auror menemukan surat itu."

"Yang harus kita lakukan adalah masuk ke rumah Weasley dan mencari surat itu sebelum para Auror menemukannya."

"Bagaimana kita bisa masuk ke sana? Kita tidak bisa menyusup begitu saja. Rumah itu dijaga ketat. Dan menurut Prophet, mereka telah membentengi rumah itu dengan berbagai mantra perlindungan. Jadi, kemungkinan besar, kita tidak akan bisa ber-Apparate di sana, atau bahkan menggunakan Mantra Panggil."

"Yeah, kalau kita tidak bisa masuk diam-diam, kita masuk dengan terang-terangan," kata Scorpius.

"Bagaimana caranya?" tanya Ariella jengkel. "Kita tidak bisa pergi begitu saja ke sana dan bilang: Maaf, bisakah kalian mengijinkan kami masuk ke kamar Rose, kami ingin mencari sesuatu. Auror-Auror itu akan curiga dan langsung menangkap kita."

"Nah, aku datang ke sini mengharapkan bantuanmu, kan? Jadi kau harus membantuku berpikir, bagaimana cara menyusup ke sana tanpa dicurigai," kata Scorpius.

Ariella memalingkan wajah, memandang rumpun mawar sambil berpikir; keningnya berkerut dan bibirnya terkatup rapat. Beberapa saat kemudian, dia berkata lambat-lambat, "Bagaimana kalau kau menyamar jadi salah satu anggota keluarga Weasley dengan ramuan Polijus? Kau akan bisa masuk ke sana dengan santai dan para Auror itu tidak akan curiga."

"Kita tidak punya waktu," tolak Scorpius. "Kita tidak mungkin mendapatkan ramuan itu dalam waktu kurang dari dua belas jam. Dan para Auror mungkin sudah menemukan surat itu. Lagipula, kita tidak bisa begitu saja menyamar jadi salah satu anggota keluarga Weasley. Bagaimana kalau orangnya muncul? Tuduhan pada kita bisa bertambah—menyusup dan menyamar."

Ariella mengerutkan hening lagi. "Yah, kurasa cara termudah adalah menyuruh satu orang dari anggota keluarga Weasley mencari surat itu untuk kita."

Scorpius memandangnya dengan alis terangkat. "Bagaimana kau menyuruh salah satu dari mereka mencarinya? Mereka membenci kita, ingat?"

"Sebenarnya, Roxanne Weasley bisa melakukannya untuk kita."

"Roxanne Weasley?" tanya Scorpius heran. "Bagaimana?"

"Sewaktu di Irlandia, dia pernah memintaku melakukan sesuatu untuknya. Kau ingat? Aku pernah memberitahumu tentang itu."

"Oh, pesta ulang tahun The Shamrock... Dia memintamu pergi bersama Lorcan Scamander, dan sebagai imbalannya dia bersedia melakukan apapun untukmu."

"Benar, sekarang saatnya aku memintanya melakukan sesuatu... Biarkan dia yang mencari surat itu untuk kita."

"Oh, bagus sekali!" kata Scorpius tampak lega, lalu tegang lagi. "Tidak... Kita tidak bisa menyuruhnya mencari surat itu... Dia bisa saja membacanya dan semua orang akan tahu apa yang terjadi."

Ariella mengangkat bahu, kehabisan ide. "Roxanne Weasley adalah harapanku satu-satunya. Jika kau tidak setuju menyuruh dia mencari surat itu, aku tidak bisa membantumu lagi."

"Tidak... Kita akan tetap memakai bantuan Roxanne Weasley, tapi dengan cara yang berbeda. Kita akan memintanya mengantar kita ke rumah Weasley... Kurasa para Auror akan mengijinkan kita masuk ke sana, jika ada anggota keluarga Weasley bersama kita. Dan setelah kita masuk, kita akan mencari surat itu sendiri."

"Maksudmu meminta dia mengantarmu, Scorpius. Tidak ada kita," kata Ariella."Aku tidak akan menginjakkan kakiku di rumah keluarga Weasley."

"Oh ayolah, kau harus menemaniku! Bagaimana aku bisa mencari surat itu sendiri?"

"Itu urusanmu sendiri, kan? Kau yang mencari masalah," kata Ariella, mengangkat dagunya tinggi-tinggi. "Sebagai sepupu yang baik, aku sudah membantumu menemukan cara sempurna untuk masuk ke rumah Weasley. Yang perlu kaulakukan adalah menemukan surat itu."

"Baiklah," kata Scorpius, tersenyum licik. "Aku akan mengatakan pada Aunt Daphne bahwa kau jatuh cinta pada seseorang, dan itu bukan Vincent. Dia mungkin akan sangat terkejut, dan—"

"Apakah pernah ada yang mengatakan bahwa kau sangat licik, Scorpius?" Ariella memberi Scorpius pandangan tajam.

"Red—Maksudku Weasley sudah berulang kali mengatakannya. Tapi, lupakan! Jadi, apa yang harus kita lakukan duluan? Langsung ke rumah Roxanne Weasley?"

Ariella tampaknya menyerah, dia menghela nafas panjang, berpikir sebentar, lalu berkata, "Tidak, kita harus menulis surat."

Dia mengacungkan tongkat sihirnya ke arah mansion. Beberapa detik kemudian, sebuah perkamen, sebuah amplop yang telah diembos dengan lambang keluarga Zabini beserta motonya, pena-bulu dan botol tinta melayang ke arahnya. Setelah menangkap semua barang-barang itu, dia meletakkannya di atas meja.

"Menulis pada Roxanne Weasley?" tanya Scorpius, memandang Ariella yang sedang menggelar perkamen di atas meja.

"Harus, kan? Kita tidak tahu di mana dia berada. Bisa saja, dia ada di rumah mereka di London, toko mereka di Diagon Alley, atau sedang berlibur musim panas di suatu tempat—meskipun aku tidak yakin mereka akan berlibur, setelah apa yang terjadi pada Rose Weasley. Lagipula, lebih sopan kalau kita menulis dulu."

Ariella menunduk dan mulai menulis. Scorpius mendekat untuk membaca apa yang ditulis Ariella, sementara aku melayang di sisinya dan ikut membaca.

Dear, Roxanne Weasley,

Kuharap kau ingat siapa aku. Aku adalah orang yang dengan sangat baik hati telah membantumu menyelesaikan masalahmu, saat kau sedang menghadapi masalah pelik di Irlandia. Aku tahu pertolongan yang kuberikan itu sangat berarti bagimu, dan kau sangat berterima kasih padaku waktu itu.

Lalu, jika aku tidak salah mengingatnya, kau pernah mengatakan bahwa kau dengan senang hati akan bersedia membantuku apa saja dan kapan saja. Sebenarnya, aku tidak sangat membunuhkan bantuanmu, tapi aku memberimu kesempatan untuk membayar apa yang telah kulakukan padamu. Kurasa kau harus berterima kasih, karena aku telah begitu baik hati memberimu kesempatan melakukannya.

Aku akan memberimu penjelasan tentang apa yang harus kaulakukan. Jadi, segera hubungi aku secepatnya, setelah kau menerima surat ini!

Your Helper

Ariella Zabini.

Tak percaya, aku memandang Ariella menandatangi suratnya. Bunyi surat ini benar-benar aneh. Dia sangat membutuhkan bantuan Roxanne, tapi dengan arogan menolak mengakui bahwa dia sangat membutuhkan bantuan.

"Bagus," puji Scorpius, tanpa melihat keanehan pada surat itu. Kurasa mereka pasti sudah biasa dengan surat-surat bernada arogan seperti ini.

Ariella memasukkan surat dalam amplop dan menyegelnya. Dia bersiup pada udara terbuka, dan seekor burung merpati berwarna putih terbang mendekat, mendarat di lengannya.

Scorpius memandang burung itu dengan ragu. "Kau yakin burung ini bisa terbang ke ujung negeri dengan cepat?"

"Jangan menganggap remeh Doris," kata Ariella, mengikat amplop di kaki burung merpati itu. "Dia bisa terbang secepat elang..."

Scorpius tidak berkomentar lagi, sementara aku memandang ragu pada Doris, si burung merpati, yang dilepaskan oleh Ariella di udara terbuka. Sama seperti Scorpius, aku juga tidak percaya pada kehandalan burung merpati mengantar surat; apa lagi jarak yang ditempuhnya bisa berpuluh-puluh kilometer.

"Dan sekarang kita akan menunggu," kata Ariella, mengirim kembali peralatan tulis-menulisnya ke rumah.

"Sebenarnya, kita tidak bisa menunggu... Bagaimana kalau para Auror sudah menemukan surat itu lebih dulu."

"Sabar, Scorpius! Kita tidak boleh tergesa-gesa melakukan sesuatu, karena bisa berakibat fatal... Tunggu saja! Yuk, kita masuk, kurasa Mother ingin bertemu denganmu. Beri dia kesempatan untuk memamerkan perasaan bahagianya."

Ariella berdiri dan Scorpius segera mengikutinya. Mereka berjalan begitu saja menyusuri rumpun mawar, melupakan jus dan kue dalam nampan. Dan aku, setelah memberikan pandangan menyesal pada kue-kue yang lezat itu, segera melayang menyusul mereka.

"Apa maksudmu dengan memamerkan perasaan bahagia-nya? Apakah hari ini ulang tahun Aunt Daphne?" tanya Scorpius.

"Bukan ulang tahun, tapi pernikahan."

"Pernikahan? Maksudmu ulang tahun pernikahan?"

"Bukan ulang tahun pernikahan, Scorpius, tapi pernikahanku," kata Ariella getir. "Mother sedang tergila-gila pada pernikahan... Dia tidak berhenti membicarakan pernikahan, sejak aku sudah dipastikan akan menikah dengan Vincent."

"Mengapa? Bukankah masih beberapa tahun lagi? Kalian tidak mungkin langsung menikah setelah lulus Hogwarts, kan?"

"Tidak, mudah-mudahan tidak," kata Ariella, agak ketakutan. "Kuharap kami bisa menikah di usia dua puluh tahun... Kurasa itu umur yang sesuai."

"Vincent pasti tidak ingin menikah diusia dua puluh tahun, aku tahu itu," kata Scorpius. "Dia pasti ingin bersenang-senang dulu."

"Bagaimana kalau orangtuanya memaksa? Kau kan tahu bagaimana Mr Goyle. Meskipun tampangnya bodoh, dia sangat kejam kadang-kadang. Jika dia ingin Vincent menikah denganku diusia dua puluh tahun, maka kami pasti akan tetap menikah diusia dua puluh tahun."

"Dan kau tidak ingin menikah."

"Aku? Apakah pendapatku penting? Tidak pernah ada yang meminta pendapatku, jadi aku akan diam saja dan menikah dengan tenang."

"Vincent, pemuda yang baik," kata Scorpius promosi. "Aku yakin dia pasti akan menjagamu."

Karena Vincent adalah temanmu, Scorpius, kurasa dia tidak bisa dikatakan baik. Kau pasti memilih teman yang sifatnya sedikit mirip denganmu. Tetapi karena kalian semua memiliki sifat yang sama, yah, Ariella mungkin akan bahagia bersama Vincent.

"Tak diragukan lagi..." desah Ariella, terus berjalan, sementara Scorpius melangkah ringan di sampingnya. Aku sendiri melayang-layang di sisi kiri Scorpius dengan sangat menyesal, karena tidak bisa menjitak kepalanya.

Kami melewati aula, naik tangga ke lantai satu, menyusuri lorong dan tiba di sebuah pintu cokelat gelap. Dari balik pintu terdengar denting piano yang lembut, dengan irama yang kadang cepat. Kalau tidak salah lagu ini adalah musik klasik Muggle berjudul Canon. Sebenarnya, agak mengherankan juga; orang-orang ini menolak semua hal yang berbau Muggle, tapi tidak menolak musik Muggle. Yah, kalau tidak ada barang-barang penemuan Muggle, seperti musik dan piano, mana bisa penyihir bersenang-senang.

Ariella mendorong pintu itu dan kami masuk ke sebuah ruangan yang separuh kosong. Hanya ada sebuah piano besar dalam ruangan itu. Seorang wanita berambut merah gelap, yang mungkin adalah Mrs Zabini, sedang memainkan piano dengan lincah. Dia mengenakan jubah seperti Ariella, tapi berwarna hijau menyala, yang sangat kontras dengan rambutnya yang berwarna merah gelap. Tetapi, tampaknya warna bukanlah masalah bagi Daphne Zabini. Dia, sepertinya, adalah wanita yang penuh percaya diri. Jadi, warna apa saja sama saja baginya, tetap membuatnya cantik (menurutnya sendiri), meskipun sebenarnya dia tampak seperti burung nuri.

Scorpius bertepuk tangan saat Mrs Zabini mengakhiri permainan pianonya.

"Permainan pianomu sudah bagus sekali, Aunt Daphne," puji Scorpius, dan aku sangat setuju, meskipun aku lebih suka mendengarkan Lucy memainkan Canon dengan biola, diiringi denting piano Dom.

Oh, apa yang baru saja kupikirkan? Lucy, Dom siapa mereka? Aku memejamkan mata, menutup pikiran dan pendengaranku dari Daphne Zabini yang menanyakan kabar ibu Scorpius dan dijawab Scorpius dengan santai. Kilasan peristiwa lain muncul dipikiranku: beberapa orang duduk dalam sebuah ruang keluarga yang sempit, dengan pohon Natal yang dihias dengan berlebihan, juga perapian yang menyala riang; terdengar bunyi gesekan biola yang dimainkan oleh seorang gadis berambut merah, dan denting piano yang dimainkan oleh gadis berambut pirang; dan semua orang tampak begitu bahagia.

"Astoria memang berselera aneh," suara Daphne Zabini yang tajam dan melengking, seperi suara anak kecil mengagetkanku. Dia masih berbicara pada Scorpius yang berdiri di dekat piano, sementara Ariella bersandar di dekat jendela. "Gadis Inggris jauh lebih baik dari gadis asing. Kita kan tidak tahu, apa-apa saja yang orang-orang asing itu pikirkan. Apa lagi, Rusia... Bagaimana kalau dia ada hubungannya dengan Bolshevik?"

"Bolshevik?" tanya Scorpius heran, mengalihkan pandangan pada Ariella yang mengangkat bahu.

Sementara aku memandang Daphne Zabini dengan heran. Bagaimana dia bisa tahu tentang Bolshevik? Bukankan Boshevik tidak ada pengaruhnya pada penyihir? Penyihir Rusia bisa menghindar dari Revolusi Rusia. Aku ingin tahu apa saja yang menjadi bahan bacaan Daphne Zabini di waktu luangnya. Tidak mungkin dia tertarik pada sejarah Muggle, kan?

"Lupakan!" Daphne Zabini mengibaskan tangannya. "Aku lebih suka, jika kau bertunangan dengan Eliza, Scorpius... Eliza jauh lebih baik dari gadis Rusia aneh itu."

"Mother," kata Ariella. "Veronique tidak aneh dan aku lebih suka padanya daripada Eliza."

"Eliza? Eliza Parkinson?" tanya Scorpius.

"Ya, dia," jawab Ariella, tanpa memandang Scorpius. "Dan belum pasti apakah Scorpius akan menikah dengan Veronique. Dia kan hanya datang berlibur musim panas."

"Itukah namanya? Veronique... Tidak kedengaran seperti nama Rusia," komentar Daphne Zabini sambil mengerutkan kening.

"Ibunya orang Prancis..."

"Pantas saja," kata Daphne Zabini mencibir.

"Mother," kata Ariella dengan sangat tegas, tampaknya mencegah ibunya untuk menghina orang Prancis. "Bukahkah Mother ingin menunjukkan sesuatu pada Scorpius?"

"Oh, kau benar sekali, Sayang," kata ibunya, tersenyum sayang pada Ariella. "Ayo Scorpius, ada yang ingin kutunjukkan padamu!"

Daphne Zabini, menggiring mereka semua, kecuali aku yang melayang di sisi kiri Scorpius, keluar ruang musik, dan masuk ke ruangan di sebelah kirinya. Ruangan itu adalah ruang keluarga yang nyaman dengan kursi-kursi empuk dan jendela yang lebar, sehingga taman berair mancur bisa terlihat jelas di bawah. Mereka duduk dan aku menempatkan diri beberapa inci di atas tempat kosong di sebelah kiri Scorpius.

Daphne Zabini mengacungkan tongkat sihirnya, memanggil sesuatu dari rak. Benda itu adalah majalah Witch Weekly edisi Wedding.

"Lihat ini!" katanya, memaksa Scorpius melihat gambar pada halaman depan Witch Weekly itu; gambar seorang model yang berpose dengan berbagai gaya dalam gaun pengantin berenda berwarna putih.

Scorpius memandang gambar itu tanpa berkedip, sedangkan Ariella, yang duduk di kursi lain di depannya tampak menahan diri untuk tidak mengikik.

"Bagaimana menurutmu, Scorpius?" tanya Daphne Zabini.

"Er, bagus," jawab Scorpius ragu.

"Coba lihat halaman lima!"

Scorpius buru-buru membuka halaman lima, dan kemudian aku bisa melihat berderet-deret gambar gaun penganting dalam berbagai mode, kue pengantin dalam berbagai bentuk, dan dekorasi pelaminan, juga dekorasi kamar pengatin dalam berbagai warna.

"Ariella tidak banyak berkomentar tentang pemilihan warna, tapi kurasa warna emas cocok sebagai tema pernikahan."

"Yah, kurasa emas cocok," kata Scorpius tanpa benar-benar memperhatikan, lalu menambahkan. "Aunt Daphne, bukankah terlalu cepat untuk memilih gaun pengantin."

"Terlalu cepat?" Daphne Zabini tampak sangat terkejut. "Tidak, Scorpius! Tidak terlalu cepat. Ariella akan langsung menikah setelah lulus Hogwarts—musim panas tahun depan."

"Mother," Ariella tampak sangat terkejut. "Aku ingat Mother pernah mengatakan bahwa aku akan menikah diusia dua puluh tahun."

"Aku tidak ingat pernah bilang begitu," kata Daphne Zabini. "Tapi buat apa menunggu sampai kau dua puluh tahun, kalau akhirnya kau tetap akan menikah juga. Ayahmu dan aku sudah mendiskusikan hal ini dengan keluarga Goyle. Kau dan Vincent akan langsung menikah setelah lulus Hogwarts."

Ariella tampak tak mampu berkata apa-apa selama beberapa saat.

"Scorpius, kau makan siang di sini, kan?" tanya Daphne Zabini memandang Scorpius, setelah mengalihkan pandangannya dari Ariella. "Aku akan ke bawah untuk mengatakannya pada Trincer, kalian di sini saja. Dan, Scorpius, kau harus membujuk Ariella untuk mau mengenakan bunga di rambutnya."

"Baiklah..." Scorpius tersenyum singkat, dan Daphne Zabini keluar ruangan.

"Begitulah," kata Ariella getir, saat pintu tertutup di belakang ibunya. "Aku tidak akan punya waktu untuk bersenang-senang... aku akan segera menikah!"

"Kau bisa menolaknya, kalau kau memang tidak mau," Scorpius mengusulkan dengan hati-hati.

"Tidak... aku tidak bisa menolaknya, kau tahu bagaimana keluarga kita... Oh, sudahlah aku tidak mau memikirkannya." Ariella menyandarkan diri di kursi.

"Mengapa aku harus membujukmu untuk memakai bunga di rambut?" tanya Scorpius heran.

Ariella tersenyum. "Itu ide Mother. Dia ingin aku memakai bunga, bukan tiara, seperti yang biasa dipakai orang saat menikah. Katanya bunga akan menjadi tren, dan aku harus lebih dulu memakainya di pernikahanku."

Scorpius mengangkat bahu, sedangkan aku merasa sedikit kasihan pada Ariella. Menikah di usia delapan belas tahun, apa asyiknya? Kita tidak akan bisa berkeliling Inggris, atau keluar negeri, atau berjalan-jalan ke mana-mana sesuka kita. Jika kita sudah menikah, tentunya kita akan tinggal di rumah mengurus anak dan suami. Walaupun tidak ingin melakukannya, aku tahu bahwa Ariella pasti akan tetap melakukannya. Kemurnian darah dan keluarga adalah hal yang utama bagi keluarga berdarah-murni fanatik seperti mereka.

Sebuah sinar perak masuk melalui jendela, membuat Scorpius dan Ariella terkejut. Sinar itu berhenti di atas meja dan berubah menjadi burung elang perak yang berbicara dengan tegas pada Ariella.

"Sedang di The Burrow, tidak bisa ke mana-mana, karena keluarga menghadapi masalah, tapi aku akan membantumu di lain waktu..."

Sinar perak itu berangsur-angsur redup dan menghilang seperti asap.

"Itu suara Roxanne Weasley, kan?" tanya Scorpius, memandang tempat di mana Patronus itu baru saja menghilang.

"Dia tidak mau membantu kita," kata Ariella kecewa,

"Wajar saja, mereka kan sedang mengalami kedukaan. Tetapi kita tidak bisa menunggu, kita harus mengambil surat itu," kata Scorpius tegas.

"Lalu, kau ingin kita melakukan apa? Dia tidak mau membantu."

"Pergi ke The Burrow, dan memaksanya agar mau membantu kita," kata Scorpius, berdiri.

"Tidak... aku tidak mau," tolak Ariella, tetap di tempatnya.

"Kau harus mau," kata Scorpius memaksa. "Aku tidak bisa bertemu dengan Roxanne Weasley, jika bukan bersamamu."

"Tapi—"

"Ayolah," kata Scorpius, mengeluarkan tongkat sihirnya. "Kumohon! Sekali ini saja, kau harus menolongku. Aku tidak mungkin meminta pertolonganmu lagi, jika kau dan Vincent sudah menikah."

Ariella mendengus. "Baiklah," katanya dengan jengkel. "tapi kita harus ber-Disapparate bersama, karena aku belum lulus ujian Apparition."

Scorpius tertawa. "Mother pernah mengatakan bahwa Aunt Daphne juga tidak lulus ujian Apparition pada uji coba pertama."

Ariella tampak sebal. "Apakah kau masih ingin menertawaiku, atau kita harus segera ke The Burrow."

"Oke, kita harus segera berangkat," kata Scorpius cepat, setelah berhenti tertawa. Dia mengulurkan lengannya pada Ariella, dan kedua ber-Disapparate.

Aku terseret bersama mereka ke dalam pusaran waktu.

Sincerely,

Rose Weasley

Jiwa yang ingin semakin dekat pada kenyataan yang sebenarnya

PS: Aku ingin segera pergi dari lingkungan darah-murni yang fanatik ini.


Tanggal: Sama

Waktu: 12.30 a.m

Lokasi: The Burrow, Devon.

Dear Diary,

Kami ber-Apparate di dekat papan tanda bobrok bertuliskan The Burrow dengan cat yang sudah mengelupas.

"Kau yakin ini tempatnya?" tanya Ariella, memandang ke depan, pada sebuah rumah bertingkat yang berdiri miring di ujung jalan tanah yang berdebu.

"Aku yakin rumah itu adalah The Burrow. Lihat!" Scorpius menunjuk papan tanda bobrok itu.

"Itu adalah rumah paling jelek yang pernah kulihat," kata Ariella mencibir. "Bentuknya seperti kandang babi raksasa."

"Kau benar," Scorpius menyetujui. "Father pernah mengatakan bahwa seluruh keluarga Weasley tinggal dalam satu rumah. Dan katanya lagi, mereka hanya punya satu tempat tidur. Entah, bagaimana mereka tidur?"

Mereka saling pandang, lalu tertawa keras, sementara aku dilanda perasaan frustrasi. Aku sangat ingin menjitak kepala Scorpius, tapi aku tidak bisa menyentuhnya. Oh, kalau saja aku bisa menyentuhnya, aku akan membuatnya babak belur, sehingga tidak bisa dikenali oleh ayahnya yang pucat seperti mayat itu.

"Ayo, sudah saatnya kita bergerak," kata Scorpius, setelah keduanya berhenti tertawa.

Keduanya berjalan pelan menyusuri jalan tanah, sedangkan aku melayang di samping Scorpius.

Semakin dekat ke arah rumah, perasaan rindu tak tertahankan muncul di hatiku. Kilasan-kilasan peristiwa semakin jelas muncul di pikiranku, dan aku perlu memejamkan mata untuk memfokuskan pikiran pada kilasan peristiwa itu. Namun, tak ada yang berarti. Aku tetap tidak bisa mengingat apa-apa.

"Jadi, apa yang harus kukatakan?" tanya suara Ariella.

Aku membuka mata dan melihat pintu tua yang sudah mengelupas berjarak beberapa jengkal dari depan kami. Samar-samar dari dalam terdengar suara-suara orang sedang berbicara.

"Bilang saja kau adalah teman Roxanne Weasley yang datang berkunjung. Katakan bahwa Roxanne Weasley-lah yang mengundangmu ke sini. Kurasa mereka tidak akan menolakmu. Kau tahu kan bagaimana mereka? Mereka adalah orang-orang yang bersedia menerima siapa saja di rumah mereka, baik manusia serigala, setengah raksasa, Darah-Lumpur, dan segala macam yang penting berwujud manusia."

Darah-Lumpur? Bukankah istilah itu sudah tidak digunakan lagi?Aku menggerutu dan memaki Scorpius, sementara Ariella mengangguk, lalu mengetuk pintu.

"Arthur?" terdengar suara dari dalam, suara seorang wanita. "Kita tidak sedang menunggu siapa pun, bukan?"

"Tidak," jawab suara pria.

Terdengar suara langkah kaki, lalu suara seseorang yang berkata, "Biar aku saja yang membukakan pintu, Dad."

Suara langkah kaki terdengar semakin jelas dan pintu terbuka. Di depan kami sekarang berdiri laki-laki jangkung berambut merah, dengan kacamata bergagang tanduk. Dia memandang Scorpius dengan heran, lalu tampak takjub setelah mengalihkan matanya pada Ariella, yang berpenampilan, seperti orang yang akan menghadiri pesta kostum. Tetapi tampaknya dia tidak ingin berkomentar soal penampilan, karena dia berkata, "Pergilah, kami tidak menginginkan kehadiran kalian!"

"Er—" Ariella tampak agak bingung, mendapatkan perlakukan yang tidak diharapkan.

"Kami sudah bilang tidak ingin diwawancara," kata laki-laki itu tegas. "Kukira kalian dari Witch Weekly, kan? Atau The Quibbler" Dia mendelik pada Scorpius. "Mana kameramu? Jangan mengira aku akan terpengaruh, meskipun kau tidak membawa kamera."

"Kami bukan dari Witch Weekly atau The Quibbler, Sir," kata Scorpius segera menguasai keadaan. "Kami adalah teman-teman Roxanne dari Hogwarts... Dia mengundang kami."

"Teman-teman Roxy?" tanya laki-laki itu tampak agak bingung.

"Benar, Sir!"

"Siapa, Uncle Percy?" tanya sebuah suara di belakang laki-laki itu, dan seorang pemuda berambut hitam muncul di belakang Percy Weasley.

Dia adalah pemuda yang sangat tampan dengan rambut hitam yang berantakan—kesannya tak pernah disisir, tapi itu adalah salah satu poin yang membuatnya semakin tampan. Bentuk wajahnya memanjang dengan tulang pipi, hidung, bibir dan dagu yang sempurna. Matanya berbentuk indah, berwarna hijau cemerlang yang memancarkan aura kehangatan, kelembutan dan kebaikan hati.

Ya, inilah dia cowok tampan yang sebenarnya. Saat kau melihatnya kau akan tahu dia dengan sukarela akan meminjamkan mantelnya padamu, meskipun di luar badai salju bertiup dengan kencang. Dia tentu dengan sukarela akan memberikan rotinya padamu, meskipun dia sedang kelaparan. Dan dia tentu akan menyelamatkanmu, meskipun pilihannya adalah antara kau dan dirinya sendiri.

Tetapi, rasanya aku pernah melihat wajah ini. Aku tahu aku mengenalnya, karena perasaan rindu yang membingungkan itu kembali melandaku.

Si mata hijau sekarang sedang menatap Scorpius Malfoy dengan tajam.

"Apa yang kaulakukan di sini, Malfoy?" dia bertanya. Suaranya terdengar sangat tajam dan mengandung nada berbahaya.

Aku tahu si mata hijau adalah cowok yang baik dan tidak mudah membenci seseorang. Tetapi kalau dia tidak suka melihat Scorpius, artinya itu salah Scorpius sendiri. Siapa pun yang mengenal Scorpius Malfoy pasti ingin sekali menjitak kepalanya, atau menonjok wajahnya sampai babak belur.

"Katanya mereka adalah teman-teman Roxy, kau mengenal mereka, Al?"

"Teman-teman Roxy?" ulang Al, si mata hijau, mengembalikan pandangannya pada Scorpius sambil mengangkat alis.

"Ya," jawab Ariella, sebelum Scorpius sempat menjawab. Dia bergerak maju selangkah dan berdiri di depan Al. "Kami datang untuk bertemu Roxanne, dia yang mengundang kami ke sini."

Al mengalihkan pandangannya pada Ariella dan terperangah. Yah, wajar saja, Ariella adalah gadis yang cantik, apalagi dengan gaun panjang abad pertengahan-nya.

"Apakah teman-teman Roxy memang berpakaian seperti ini?" tanya Percy Weasley, seperti membaca apa yang sedang dipikirkan Al. "Kupikir mereka berpakaian ala Muggle."

Percy Weasley sendiri mengenakan jubah cokelat panjang, seperti penyihir pada umumnya; sementara Al, mengenakan baju kaos biasa berwarnahijau dengan gambar Hippogriff berwarna abu-abu dan celana jeans.

"Biasanya memang seperti itu," jawab Al, memandang Ariella dari atas ke bawah.

"Jadi, bisakah kami masuk dan berbicara dengan Roxanne?" tanya Ariella tak sabar. Dengan dagu terangkat tinggi, dia bergerak maju, sementara Scorpius bersiap-siap di sampingnya, seperti pengawal. Aku mencibir—ya, cocok sekali, Scorpius, mengapa tidak sekalian saja kau membawa pentungan, dan kau akan terlihat seperti satpam Troll.

"Tidak, Princess, kau tidak bisa masuk," cegah Al, menyebut Princess dengan nada menghina. Kupikir ini mengacu pada pakaian dan gaya Ariella yang memang seperti putri, juga gaya Scorpius yang seperti pengawal sang putri. Ada apa sih dengan orang-orang berdarah-murni ini?

"Apa maksudmu aku tidak bisa masuk?" tanya Ariella tajam. "Roxanne-lah yang mengundang kami."

"Bukan maksudku untuk bersikap kasar, Princess, tapi jujur saja aku tidak mempercayai kalian berdua," kata Al lembut, namun tegas. "Aku kenal siapa saja teman Roxy dan kalian berdua tidak termasuk di dalamnya."

Ariella mendelik, sementara Scropius berpura-pura tertarik pada sepatu bot Wellington yang bertebaran di dekat pintu. Kurasa Scorpius tidak bisa berakting sebagai pengawal yang baik. Seharusnya jika terjadi hal seperti ini, dia harus membela sang putri, kan?

"Kita bisa memanggil Roxy..." kata Percy Weasley, lalu menggerutu. "Anak itu... Dia sudah tahu akan ada pertemuan keluarga, mengapa dia masih mengundang teman?"

Percy Weasley berjalan masuk, sementara Ariella masih mendelik pada Al.

"Kau tidak akan mengusir kami begitu saja, Potter," geram Ariella. "Kalau tidak karena terpaksa, aku tidak sudi menginjakkan kaki di kandang babi yang kalian sebut rumah ini."

Kemarahan merambat dari dadaku dan menjalar sampai ke kulitku. Namun, kemarahanku tidak bisa dibandingkan dengan kemarahan Al; wajahnya merah padam, matanya menyala-nyala, bibirnya mengeras, dan tangannya terkepal kuat.

Yah, sebaik apapun orang itu, dia tentu akan marah kalau kau menghina keluarganya. Namun, aku tahu Al pasti akan mampu menahan diri dan tidak akan menghajar Ariella sampai babak belur.

"Scorpius Malfoy," kata Al dengan suara bergetar marah. "Bisakah kau menyingkirkannya dari hadapanku, sebelum aku memukulnya?"

"Kau tidak akan melakukannya, Potter," tantang Scorpius, sementara Ariella menyeringai. "Kau tidak mungkin memukul seorang gadis di pintu depan rumah keluargamu. Kukira kau takut untuk melihat apa yang akan tertulis di halaman depan Daily Prophet besok pagi: Putra Harry Potter menghajar seorang gadis di depan pintu The Burrow. Menurutmu apa yang akan dikatakan masyarakat sihir, Potter?"

Aku bisa melihat wajah licik Scorpius bersinar penuh kebencian, sementara wajah cantik Ariella membayangkan rasa ketidaksukaan yang besar. Dan Al, memandang mereka dengan tingkat kemarahan yang bisa mengalahkan kobaran api.

"Al, kata Uncle Percy teman-temanku mencariku," kata seorang gadis berkulit cokelat dan berambut hitam, yang baru saja muncul di belakang Al.

Aku memandangnya dan merasa sangat sedih. Yah, aku juga mengenalnya. Aku tahu dia adalah salah satu dari para sepupu yang kulupakan.

Dia memandang Scorpius, lalu memandang Ariella dengan mulut terbuka, mungkin takjud dengan gaun ala princess-nya (menurut Al dan aku setuju).

"Ariella, apa yang kaulakukan di sini?" dia bertanya. "Aku kan sudah bilang akan menghubungimu nanti."

"Kau memang mengundang mereka, Roxy?" tanya Al tak percaya. "Bagaimana kau bisa mengundang mereka? Mereka membenci kita."

"Nanti kujelaskan, Al! Ayo!" Roxy menarik tangan Ariella, dan membawanya agak menyingkir dari pintu. "Dengar, kau tahu apa yang sedang kami alami... Aku tidak bisa membantumu sekarang, tapi aku berjanji untuk membantumu nanti. Kau mengerti?"

"Tugasmu mudah saja," kata Ariella, seolah tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan Roxy. "Bawa Scorpius dan aku ke Godric's Hallow 146."

"Mana mungkin!" Roxy terperangah. "Aku tidak bisa ke mana-mana, sedang ada pertemuan keluarga."

"Bagaimana kalau setelah pertemuan keluarga?"

"Tetap tidak bisa, karena kami harus ke Godric's Hallow."

"Ya, kalau begitu sekalian saja, kan?" kata Ariella penuh kemenangan. "Kami ikut kalian ke Godric's Hallow."

"Tidak!" seru Al, yang juga mendengarkan percakapan ini dari pintu. "Aku tidak percaya kau mengajak mereka ke Godric's Hallow, Roxy!"

Roxy menggelengkan kepala. "Tidak, tentu saja tidak."

"Ada baiknya kalau Scorpius dan aku ikut pertemuan keluarga kalian," kata Ariella memutuskan dengan santai, lalu memandang Scorpius. "Ayo Scorpius, kita masuk!"

Roxy dan Al terlalu kaget, sehingga mereka tidak bisa mencegah Ariella yang sudah berjalan masuk melewati mereka. Scorpius mengekor di belakang Ariella, sedangkan aku melayang di belakang Scorpius.

Kami masuk ke dalam sebuah ruang tamu sempit penuh karangan bunga berbagai bentuk dengan warna-warna mati, seperti putih, pink pucat dan ungu tua; ucapan turut berdukacita dengan berbagai variasi tertempel di bagian depan karangan bunga.

"Tunjukkan di mana semua orang!" perintah Ariella dengan bergaya pada Al dan Roxy yang masih terperangah di dekat pintu.

"Mari ikut sini, Your Highness!" Al mencibir, lalu berjalan lebih dulu melalui pintu di sebelah kiri.

Roxy berjalan di belakangnya; matanya terbinar-binar, kurasa dia sedang menahan diri untuk tidak mengikik—aku sama sekali tidak melihat sesuatu yang lucu dari situasi ini. Sementara itu, Scorpius cepat-cepat melangkah di belakang Ariella dan aku melayang mengikutinya.

Ruang keluarga itu besar dan nyaman, dan semua orang yang sedang duduk di ruangan itu adalah orang-orang yang kukenal. Berbagai kilasan peristiwa dan kejadian berkelebat dengan cepat di benakku, saat memandang mereka satu persatu. Akhirnya, aku bisa mengenali mereka semua. Mereka semua adalah keluargaku, orang-orang yang kusayangi dan juga sangat menyayangiku. Butiran-butiran airmata jatuh di pipiku dan terus mengalir sampai ke bagian atas gaunku.

Dalam ruangan ini ada Grandma dan Grandpa Weasley; ada Uncle Bill dan Aunt Fleur, Uncle Percy dan Aunt Audrey, Uncle George dan Aunt Angelina, Uncle Harry, juga Uncle Charlie, dia sudah jauh-jauh datang dari Romania. Lalu, ada Teddy, sepupuku Victoire, Molly, Dom, Lucy, Fred, Louis dan James. Yah, mereka semua ada di ruangan ini. Tetapi di mana orangtuaku? Di mana Hugo dan Lily? Di mana Aunt Ginny? Apakah mereka sudah melupakanku? Tidak... Aku yakin mereka tidak melupakanku. Mungkin ada alasan tertentu yang membuat mereka tidak ada di sini.

Aku berjalan mendekati mereka, mencoba menyentuh setiap orang, tapi aku tidak bisa menyentuh mereka. Tak bisa menahan perasaan, aku melemparkan diri di karpet cokelat usang dan menangis keras.

Sementara itu, semua orang sedang memandang Ariella dengan tercengang. Sekali lagi, sangat wajar jika mereka tercengang, Ariella dengan penampilan ala princess-nya memang sangat menakjubkan.

"Perkenalkan," kata Ariella, menekukkan lututnya sedikit. "Nama saya Ariella Zabini, dan dia adalah sepupu saya, Scorpius Malfoy. Kami hadir di sini untuk menyampaikan dukacita sedalam-dalamnya atas meninggalnya Rose Weasley, sahabat kami yang kami kasihi... Kami memang tidak begitu akrab di Hogwarts, tapi kami telah menjalin persahatan dengannya saat kami bersama-sama menjadi perwakilan Hogwarts dalam ujicoba piala Quidditch di Irlandia... Rose adalah gadis baik hati, yang bersedia berteman dengan siapapun dan menerima seseorang tanpa memandang latar belakang sosial. Aku sangat beruntung bisa mengenalnya dan akan mengenangnya sebagai sahabat yang baik."

Semua orang tercengang, Roxy dan Al memandang Ariella dengan mulut terbuka. Dan aku, saking tercengangnya, sampai berhenti menangis. Namun, suatu hal yang aneh terjadi: Scorpius sedang memandangku. Tidak salah lagi, dia memang sedang memandangku, yang masih meringkuk menyedihkan di lantai.

"Scorpius, kau bisa melihatku?" tanyaku, berdiri dan berjalan ke arahnya, tapi Scorpius tidak memandangku, dia masih memandang lantai tempatku meringkuk beberapa saat yang lalu.

Ya, sebenarnya apa yang kuharapkan? Tidak mungkin ada yang bisa melihatku.

"Scorpius," bisik Ariella. "Jangan bengong saja, ayo perkenalkan dirimu..."

Seolah tersadar dari mimpi, Scorpius segera mengalihkan pandangan dari lantai, untuk memandang orang-orang dalam ruangan ini yang masih tercengang memandang Ariella.

"Er, yah, nama saya Scorpius Malfoy, dan seperti yang sudah dikatakan oleh sepupu saya, kami hadir di sini untuk menyampaikan ucapan turun berdukacita atas meninggalnya sahabat tercinta kami, Rose Weasley," kata Scorpius, mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengayunkannya di udara, menyulap sebuah rangkaian bunga mawar merah dari udara.

Memandang lebih jauh ke belakang, aku bisa melihat Al memutar bola matanya.

"Mengapa mawar merah? Tidak cocok untuk orang yang sedang berduka," bisik Ariella tajam.

"Rose suka bunga mawar merah," Scorpius balas berbisik.

Ya, aku memang suka bunga mawar merah. Terima kasih sudah mengingatnya, Scorpius.

"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" tanya Ariella, memandang Scorpius dengan curiga.

"Itu karena—"

"Terima kasih atas kedatangan kalian, Nak," kata Grandma Weasley, yang lebih dulu tersadar dari rasa kagetnya. "Kau bisa meletakkan bunga itu dalam jambangan!" Dia mengangguk pada jambangan kosong di atas meja di dekat jendela.

Dengan menggunakan tongkat sihirnya, Scorpius membuat rangkaian bunga mawar itu melayang dan masuk ke dalam jambangan.

"Silakan duduk, Scorpius, Ariella," kata Uncle Harry ramah, menyulap dua kursi berlengan dari udara dan meletakkannya di depan Ariella dan Scorpius.

"Apakah kau anak Draco Malfoy?" tanya Uncle George, setelah Ariella dan Scorpius duduk, dan Al juga Roxy kembali ke sofa. Dia memandang Scorpius dengan penuh perhatian.

"Ya, Sir," jawab Scorpius sopan.

Uncle George menangkat bahu. "Aku tidak ingin membuat lelucon di saat seperti ini, tapi aku tahu Ron pasti tidak akan menyukainya."

"Dia dapat mengatasinya," kata Uncle Bill. "Kita sudah melupakan semua yang terjadi dulu."

Scorpius menolak berkomentar, tapi Ariella berkata, "Kami sangat ingin mengucapkan rasa belasungkawa kami pada Mr dan Mrs Ron Weasley. Jika, anda mengijinkan kami—" Dia sengaja tidak melanjutkan kata-katanya, dan memandang semua orang dengan ingin tahu.

"Kurasa tidak apa-apa, jika kalian ikut ke Godric's Hallow," kata Grandma Weasley, memandang Ariella, lalu memandang semua orang dalam ruangan. "Kurasa Rose—d-ia p-asti ingin teman-temannya m-elihatnya untuk tera-akhir k-alinya."

Grandma menangis di dalam sapu tangannya, sementara aku sekali lagi berusaha dengan sia-sia untuk menyentuhnya.

"Ya, kurasa tidak apa-apa," kata Uncle Harry, sementara yang lain mengangguk setuju.

Ariella melemparkan pandangan 'kau benar mereka memang orang yang mudah sekali percaya' pada Scorpius, dan Scorpius membalasnya dengan menyeringai.

Menahan rasa frustrasi karena tidak bisa menyentuh mereka berdua, aku melayang ke dekat Al untuk menghindari mereka. Namun, Al tiba-tiba berteriak, "Tidak!"

Semua orang memandangnya, tercengang, tapi aku memberikan anggukkan setuju. Aku ingin Al memberitahu semua orang bahwa mereka perlu mencurigai motif orang-orang munafik seperti Scorpius dan Ariella.

"Kau ingin mengatakan sesuatu, Al?" tanya Uncle Harry.

"Ya," jawabku cepat. "Bilang pada mereka bagaimana hubungan kita dengan mereka di sekolah," kataku pada Al, yang tampak agak salah tingkah.

"Er, maksudku, apakah tidak apa-apa membawa mereka ke Godric's Hallow... Er, yeah ada banyak Auror di sana, kan?" Al mengakhiri kalimat dengan lemah.

"Tidak apa-apa, mereka tidak akan keberatan selama kita tidak mengganggu pekerjaan mereka," kata Uncle Harry, memandang Al dengan serius. "Kau tidak membenci Scorpius dan sepupunya, kan, Al?"

"Tidak," jawab Al cepat. "Tentu saja, tidak... Dad mengajarkan kami untuk mengasihi orang lain, kan? Tetapi—"

"Bagus, kalau kau mengingatnya," potong Uncle Harry, lalu memandang Grandpa, Uncle Bill, Charlie, Uncle Percy dan Uncle George. "Kita harus segera melanjutkan diskusi kita tentang upacara pemakaman."

"Dia bisa dimakamkan di pemakaman keluarga Weasley," desah Grandpa.

Sementara para orang dewasa berdiskusi tentang pemakamanku, Al diam-diam meninggalkan sofa dan melangkah menuju Scorpius.

"Aku ingin berbicara denganmu di luar, Malfoy," bisiknya tajam.

Ariella mencoba mencegah Scorpius dengan menggelengkan kepala, tapi Scorpius hanya mengangkat alisnya, berdiri dan berjalan keluar mengikuti Al, sementara aku melayang di belakang mereka.

"Apa maumu, Potter?" tanya Scorpius, saat kami sudah tiba di luar, di sisi kebun yang berumput tebal.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, Malfoy... Apa maumu? Ada di sini dan berpura-pura sedih karena Rose meninggal."

Scorpius menyeringai. "Jangan kasar, Potter! Bagaimana kau tahu aku tidak sedih?"

Al mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Aku mengenalmu, Malfoy... Dan sebaiknya kau segera menyingkir dari sini, karena kami tidak mengharapkan kehadiranmu."

"Kau memang tidak mengharapkan kehadiranku, tapi Rose mengharapkan kehadiranku—"

"Tidak, aku tidak mengharapkan kehadiranmu di sini... Sebaiknya kau pulang, Malfoy!" kataku, mendelik pada Scorpius.

"—Kau tahu apa yang dia katakannya padaku di malam pesta Valentine? Dia memintaku menikah dengannya?"

Aku memandang Scorpius, tak percaya. Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu saat aku sudah meninggal? Apakah dia tidak bisa menyimpannya untuk dirinya sendiri?

Tetapi Al mendengus tak percaya. "Kau pikir aku percaya, Malfoy? Aku mengenal Rose..."

"Kalau kau mengenalnya, kau pasti tahu bahwa dia menyukaiku," Scorpius menyeringai, menampilkan gigi-gigi putihnya yang sempurna. Dan aku membayangkan ada dua taring panjang di sudut bibirnya. Dengan begitu, dia akan sama seperti serigala.

Al tidak berkomentar, tapi balas menyeringai. "Aku tahu kau menginginkan sesuatu, Malfoy."

"Apa?" Scorpius tampak agak bingung dengan perubahan topik.

"Kau dan sepupumu ingin ikut bersama kami ke Godric's Hallow karena kalian menginginkan sesuatu. Aku tidak tahu apa itu, tapi aku akan mengawasi kalian." Al mengakhiri kata-katanya dengan senyuman sinis.

Scorpius tidak berkomentar, jadi Al melangkah kembali menuju rumah. Aku melayang di sisi kiri Scorpius, memandangnya, yang berdiri memandang rumput di depannya. Dia tidak bergerak selama beberapa waktu, dan aku ingin sekali tahu apa yang sedang dipikirkannya.

Sejujurnya, aku sudah mengingat segalanya, juga tentang perasaanku padanya. Aku memang menyukainya, dan ingin ada di sisinya selamanya. Tetapi, aku tahu itu tidak mungkin terjadi. Ada terlalu banyak perbedaan di antara kami, perbedaan yang tidak bisa menyatukan kami, yang kalau dipaksakan akan menciptakan kesedihan bagi semua orang. Jadi, kami masing-masing mengerti bahwa tidak mengatakan apa-apa adalah cara terbaik untuk mengingkari perasaan itu. Kukira kematianku adalah cara terbaik untuk menghindari semuanya.

"Maafkan aku, Red," bisik Scorpius pelan pada rumput di depannya.

"Tidak," bisikku pelan, airmataku mengalir deras di pipi. "Ini bukan salahmu... Ini adalah pilihanku."

"Aku senang kau sudah mengingat semuanya, Red Rose," kata suara Scorpius, dan dia tiba-tiba saja muncul di depanku, seperti orang yang baru saja ber-Apparate.

Mengerjap, aku memandang Scorpius yang masih berdiri memandang rumput di depannya, dan Scorpius yang sekarang sedang berdiri di depanku. Bau memuakkan, seperti campuran antara bau anyir darah, daging mentah, belerang dan wewangian yang ada di tubuh orang yang sudah mati, tercium di udara. Sebenarnya, aku tidak sedang bernafas, tapi entah bagaimana bau memuakkan ini seperti tercium oleh hidungku dan terus ke syaraf-syaraf otak membuatku mual.

"Kematian," kataku, menahan diri untuk tidak muntah.

Kematian yang lebih tampan dan lebih mengerikan dari Scorpius yang sebenarnya, tersenyum mengerikan. "Oh, kau mengenalku, Red?" Dia menyeringai, melirik Scorpius yang masih berdiri, tanpa menyadari apa yang terjadi. "Jujur saja, aku suka penampilanku... Beberapa waktu yang lalu, aku harus muncul di depan seorang kakek dengan wujud nenek-nenek. Sangat merepotkan! Belum lagi, tongkat penopang dan—"

"Apa maumu?" selaku dengan suara bergetar.

Kematian menyeringai lagi. "Membawamu bersamaku... Kau kan sudah ingat bagaimana kau meninggal, dan orang yang meninggal bunuh diri adalah milikku. Jiwa seorang pembunuh adalah milikku dan tempatnya adalah di kerajaanku."

Memejamkan mata, aku mengulang kisah malam sebelumnya, di mana aku membaca sebuah perkamen di tanganku. Malam itu aku merasa sangat sedih dan merana. Lalu, aku mengayunkan tongkat sihir pada diriku sendiri dan hilang. Aku tidak mengingat apa-apa lagi sampai aku muncul di dunia abu-abu.

"Siap berangkat, Red?" tanya Kematian, mengulurkan tangannya padaku.

Aku ragu; aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tempatku memang bukan di dunia manusia. Aku sudah mati, dan tempatku memang bersama Kematian karena telah membunuh. Tapi, aku tidak mau. Aku tidak mau menderita di perapian raksasa itu.

Tangan Kematian menyentuh lenganku.

Aku tidak mau ikut bersamamu... Tidak mau!

Aku merasakan seperti ada udara dingin keluar dari dadaku dan menjalar ke seluruh tubuhku. Dan Kematian, yang masih memegang tanganku, segera melepaskasnya, lalu menjerit keras.

Aku membuka mata, dan sangat terkejut saat memandang jari-jari Kematian yang membeku sampai ke pergelengan tangannya. Dia memandangku dengan tajam dan mengeluarkan makian kasar, yang baru pertama kali kudengar.

"Es," katanya, mengibaskan tangannya, dan pergelangan tangannya kembali seperti semula.

Aku masih memandangnya, sepenuhnya tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.

"Tentu saja, itu adalah cara terbaik untuk mengalahkan api," kata Kematian, lalu tertawa mengerikan. "Begitulah yang terjadi kalau berurusan dengan penyihir... Tetapi, api pasti akan bisa mencairkan es."

Dia melangkah ke arahku, namun tidak sampai menyentuhku, karena hawa dingin yang masih terasa dalam tubuhku, keluar melalui kulitku, ke udara di sekitarku. Kematian mundur dan Scorpius menggigil kedinginan.

"Mengapa tiba-tiba jadi dingin?" Scorpius menggigil, mengusap lengannya, lalu berjalan masuk ke arah rumah.

Sel-sel otakku berpikir cepat: Kematian tidak bisa menyentuhku, karena udara dingin telah keluar dari tubuhku. Itu berarti aku tidak bisa ikut bersamanya ke neraka. Mengapa? Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan jiwaku? Apakah itu berarti aku bisa kembali ke tubuhku dan hidup lagi? Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku akan memanfaatkan keadaan ini. Kurasa sekarang aku menyesal telah melakukan bunuh diri itu, aku berharap diberi kesempatan kedua.

"Kembalilah ke neraka, Kematian," perintahku tegas. "Kukira sekarang belum saatnya bagiku untuk ikut bersamamu."

Kematian mengeluarkan tawa yang tak enak didengar. "Aku pergi sekarang, tapi aku akan kembali... Kau milikku dan kau akan tetap ikut bersamaku. Sekedar informasi bagimu, aku biasanya selalu mendapatkan apa yang kuinginkan."

"Tidak kali ini, Kematian," kataku. "Aku akan segera kembali ke tubuhku dan hidup kembali. Setelah itu, aku akan berusaha bersikap baik agar aku tidak ditempatkan bersamamu."

Sambil terus tertawa, Kematian menghilang bagai kabut yang terkena sinar mentari. Setelah suasana kembali hening dan bau memuakkan itu hilang, aku menjatuhkan diriku di rumput—tidak benar-benar menyentuh rumput tentu saja, tapi beberapa inci di atas rumput. Tenaga dalam diriku seperti telah dikuras habis, aku merasa sangat lemah, dan kakiku seperti tidak kuat menopang tubuhku. Pertemuan dengan Kematian membuatku menyadari bahwa Kematian pasti akan tetap mencari cara untuk membawaku bersamanya. Yang harus kulakukan adalah secepatnya kembali ke tubuhku.

Setelah mengumpulkan kekuatan, aku melayang kembali ke rumah. Tetapi tidak ada seorangpun di ruang keluarga ataupun di dapur. Melalui Pintu dapur yang terbuka, aku bisa melihat sekumpulan orang yang sedang mengelilingi sebuah meja besar di halaman belakang yang menghadap ke kebun buah.

Melayang menghampiri mereka, aku melihat bahwa mereka sedang makan siang. Beraneka makanan lezat terhidang di meja; ada ayam goreng, salad sayur, sandwich, kentang goreng, daging asap, dan segala makanan yang biasa dihidangkan Grandma saat makan siang.

Aku melayang di belakang Scorpius dan memandang semua orang dengan perasaan rindu yang besar. Andai saja aku masih hidup, kami semua pasti akan berkumpul seperti ini, membicarakan apa yang akan James, Fred, Louis dan Roxy lakukan setelah musim panas dan mereka tidak kembali lagi ke Hogwarts; kami pasti akan merayakan kelulusan mereka dengan berlibur bersama ke luar negeri atau sekedar berpiknik bersama.

"Kita semua harus makan," kata Grandma dengan suara keras, secara khusus memandang Al yang tidak menyentuh makan siangnya, tapi terus memandang Scorpius yang duduk di depannya dengan curiga. "Kalau kita juga kelaparan dan lemah, siapa yang akan menghibur Ron, Hermione dan Hugo."

Semua orang mengangguk. Al menunduk memandang ayam goreng di depannya, sementara aku memandangnya dengan sedih. Al pasti merasa sangat kehilangan aku. Aku adalah sahabat terbaiknya, dan dia lebih dekat denganku daripada dengan sepupu-sepupu kami yang lain. Tetapi, walaupun aku tidak akan bisa kembali ke tubuhku, aku tahu Al akan bisa mengatasinya. Dia akan segera menemukan cara untuk terus menjalani hidupnya, meskipun aku tidak ada. Tetapi, aku khawatir, karena Al sangat pandai menyembunyikan perasaannya. Dia sangat pandai bertampang gembira, meskipun hatinya sedang sedih. Dan dia sangat pandai menyimpan rahasia dengan ekspresi wajah datar. Meskipun, jika berurusan Scorpius ekspresi wajahnya langsung bisa ditebak. Yah, Scorpius memang membangkitkan rasa marah orang yang memandangnya.

Sementara itu, dia dan Ariella duduk berdekatan, tampak tidak begitu menikmati hidangan makan siang. Mereka makan hanya untuk menghindari pandangan curiga semua orang.

"Menurutmu kita sedang apa?" tanya Ariella pada Scorpius dalam bisikan agar tidak didengar oleh Louis yang duduk di sisi lain Scorpius.

"Piknik di kebun," jawab Scorpius, dan keduanya berusaha menahan tawa dengan menutup mulut dengan lap.

"Ayolah, apakah kalian tidak pernah makan siang di kebun?" tanyaku tak percaya. "Semua orang makan siang di kebun. Yah, kecuali keluarga kalian, mungkin."

"Mereka sangat ribut," komentar Ariella, memandang berkeliling pada semua orang di meja, yang saling berbicara dengan orang di samping mereka.

"Jangan mengharapkan suasana tenang di tempat seperti ini, Ariella," kata Scorpius. "Masih bagus kita tidak bertemu dengan setengah raksasa dan Darah-Lumpur, meskipun ada manusia serigala." Dia memandang Teddy dengan menghina.

Tak percaya, aku memandang Scorpius. Bagaimana dia bisa berkata seperti itu? Bukankah Teddy adalah sepupu kedua dari pihak ayahnya?

"Scorpius, kurasa kau keterlaluan," kataku, memandang Scorpius dengan tajam dan berusaha keras untuk mengeluarkan aura dingin dalam tubuhku. Aku ingin sekali membuat rambutnya membeku.

Namun, tidak terjadi apa-apa. Rambutnya tetap berwarna perak dan tak ada tetesan es. Aku memandang tanganku dan bertanya-tanya mengapa tidak terjadi apa-apa, padahal aku baru saja membuat tangan Kematian membeku.

"Kita harus memanggil Mr Toddington untuk memimpin upacara pemakaman, dan kita harus mengundang Mentri Sihir," kata Uncle Percy dengan keras, membuat semua orang memandangnya.

"Menurutku pemakan yang sederhana saja sudah cukup," kata Grandpa halus.

"Tidak mungkin sederhana, Dad," bantah Uncle Percy. "Ron Auror terkenal, Hermione juga orang yang diperhitungkan di Depertemen Pengaturan Hukum Sihir. Semua orang pasti ingin datang untuk menyampaikan ucapan turut berdukacita."

"Andai saja tidak ada pengumuman kematian itu, masyarakat sihir tidak akan tahu apa yang terjadi," kata Aunt Angelina.

"Ya, pengumuman kematian itulah yang menyebabkan kehebohan ini," kata Aunt Audrey setuju.

"Tetapi tetap saja, orang-orang akan tetap mengetahui apa yang terjadi. Berita seperti ini tidak bisa disembunyikan," kata Uncle Percy lagi. "Omong-omong, akulah yang mengumumkan kematian Rose di Daily Prophet."

Semua orang memandangnya.

"Mengapa kau melakukannya?" tanya Aunt Audrey tak percaya.

"Aku mencurigai kematian Rose," jawab Uncle Percy, memandang Uncle Harry, Uncle Bill, Uncle George dan Grandpa bergantian. "Ada sesuatu yang aneh di sini. Rose baik-baik saja sehari setelah kembali dari Hogwarts, tapi malam harinya dia bunuh diri. Menurutku, ada sesuatu yang aneh di sini. Apakah ada seseorang yang meng-Imperius-nya dan menyuruhnya bunuh diri?"

"Walaupun begitu, itu tidak ada hubungannya dengan pengumuman kematian itu," bantah Aunt Audrey lagi.

"Apakah kau tidak mengerti?" tanya Uncle Percy, memandang istrinya tak percaya. "Aku hanya ingin membuat hal ini diketahui masyarakat sihir agar semua orang membantu kita mencari kebenarannya, termasuk para Auror dan pegawai Kementrian Sihir. Lihat, dengan adanya ketidakpastian ini, semua orang merasa bingung dan ingin tahu apa yang terjadi, termasuk orang yang telah meng-Imperius Rose, kalau memang ada."

"Tetapi, aku tidak yakin kutukan Imperius-lah membuat Rose bunuh diri... Semalam setelah Ron mengirim Patrunos padaku, aku segera mengecek tubuh Rose dan tidak menemukan tanda-tanga kutukan Imperius."

"Apakah ada tanda-tanda kutukan Imperius? Waktu itu dia kan sudah meninggal," Aunt Fleur menambahkan dengan lemah.

"Walaupun dia hanya sekedar tubuh, kami, Auror, bisa mengetahu sihir apa yang digunakan," kata Uncle Harry datar. "Tetapi, aku telah menyuruh Auror Penyelidik untuk memeriksanya lagi."

"Jadi—jadi benar apa yang dikatakan George bahwa Rose—Rose meng-Avada-Kedavra dirinya sendiri?" tanya Grandma dengan suara tercekat.

Uncle Harry mengangguk.

Aku meng-Avada-Kedavra diriku sendiri? Tetapi, aku kan belum pernah menggunakan kutukan itu? Seharusnya aku tidak mati dipercobaan pertama, iya kan?

"Semula aku berpikir dia cuma pingsan," Uncle Harry menjelaskan. "Maksudku Kutukan Tak Termaafkan seperti itu tidak bisa digunakan secara sembarangan, kita harus benar-benar memaksudkannya, dan remaja seperti Rose tidak bisa menggunakannya begitu saja. Namun, aku tidak menemukan nadinya, dia tidak bernafas, saat itulah aku tahu bahwa kutukan itu berhasil digunakan. Rose pasti benar-benar ingin mati, dan itu bukan karena pengaruh kutukan Imperius menurutku. Itu pasti adalah sesuatu yang membuatnya sangat sedih dan membuatnya benar-benar ingin pergi dari dunia ini."

Isak tangis terdengar lagi di sekitar meja.

"Sudahlah, kita tidak usah membahas hal itu," kata Grandpa tegas. "Kita semua harus tegar, Ron, Hermione dan Hugo membutuhkan kita."

Beberapa saat semua hening, dan orang dewasa mulai mengubah topik pembicaraan. Meja kembali ramai oleh suara-suara orang berbicara tentang hal lain, kecuali kematianku dan aku.

"Kita harus segera menemukan surat itu," bisik Scorpius pada Ariella. "Aku merasakan firasat buruk."

"Ya," Ariella setuju. "Semua orang curiga memang ada sesuatu dan, Scorpius, kau harus berhati-hati, bisa-bisa mereka mencurigaimu."

"Untuk saat ini aku aman," desah Scorpius. "Aman, selama para Auror belum menemukan surat itu."

"Apakah kau yakin akan menemukan surat itu, padahal para Auror tidak menemukannya?"

"Aku tahu apa yang harus kucari, sementara mereka tidak..."

Aku mendengarkan pembicaraan itu dengan bingung. Aku tidak yakin isi surat Scorpius bisa membuatku depresi berat, bahkan sampai bunuh diri. Tidak mungkin, ah! Kalau saja aku ingat isi surat itu...

Sincerely,

Rose Weasley

PS: Masih banyak hal yang menjadi misteri bagiku.


Review, please!

See you in A2DT chapter 3!

RR :D