Title : Love Summer Desire

Cast : Wu Yifan / Kris, Kim Joon Myun / Suho and Other Cast, KrisHo Pair

Rating : T aja ^.^

Genre : Romance, Drama, yaoi

Length : Chaptered

Warning! : typo(s), EYD berantakan, author abal-abal, de el el… /deep bow/

.

Sebelumnya silakan timpuk Rae Yoo karena updatenya telat (banget) itu dikarenakan Rae Yoo lagi sibuk ngurusin suatu event besar sekolah yang juga jadi bahan ujian praktek. Serta berbagai macam bimbel, ulangan harian, ujian praktek, UAS dan try out yang menghantuiku berhari-hari. MAAF BANGET, dan ini author kasih deh chapter duanya, jangan marah yaa… mumumuu… ;D wink

Enjoy !

/bow with Krisho/

.

.

[Chapter 2]

.

.

Kris tersenyum melihat seorang pemuda mungil dihadapannya ini melebarkan matanya. Nampan yang dia pegang hampir saja terjatuh dan dia berdiri seperti batu. Mulutnya setengah terbuka dan memperlihatkan deretan gigi putih bersihnya.

"Hai" sapa Kris.

Perlahan Suho terbangun dari kegiatan bengongnya. Ya ampun, bengong di depan orang yang baru kau kenal memang tidak menyenangkan. Merontokkan semua image Suho dan membuatnya salah tingkah. Apalagi yang ada di depannya sekarang adalah seorang pemuda dengan kategori tampan, kalau perlu dikhususkan lagi, pemuda berambut dirty blonde ini bisa dikategorikan sangat tampan.

"Tak aku sangka kita betul-betul bertemu lagi" lanjut Kris.

Suho gelagapan "Ah iya, terima kasih waktu itu"

Kris tersenyum kecil "Tidak masalah"

Melihat Kris yang tersenyum, Suho jadi ikut tersenyum. Dan detik itu Kris menyadari kalau senyuman Suho sangat manis. Dengan tubuh yang mungil dan kulit pucatnya itu membuat Kris merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Dia melirik name tag pelayan itu dan melihat dengan jelas nama 'Kim Joon Myeon' disana dengan jelas.

"Kim Joon Myeon"

Kris berkata dalam batinnya. Otaknya seolah bekerja untuk mengingat nama pria manis itu dengan baik. Demi Tuhan, ada apa denganmu sekarang Wu Yi Fan?

"Ah iya, aku sudah berjanji untuk mentraktirmu kopi kan?" ucapan Suho membuat fantasi Kris terhenti.

"Apa?"

"Aku akan membayar kopi ini. Terima kasih telah menolongku waktu itu" ucap Suho seraya membungkukkan badan.

"Ya! Jangan menghabiskan uangmu untuk ini. Ini tidak apa-apa. Aku bisa bayar sendiri" balas Kris berusaha menolak dengan halus. Dia datang ke café ini bukan untuk kopi gratis.

Suho menggeleng "Aku telah berjanji dan aku tidak suka berhutang pada siapapun"

"Oh…" Kris menggaruk tengkuknya "… baiklah"

"Kalau begitu…" baru saja Suho ingin undur diri tapi ucapan Kris menyelanya.

"Boleh aku berkenalan denganmu?" tanya Kris.

Wu Yi Fan memang sudah benar-benar sinting sekarang. Dan kalau Chanyeol ada di sini, pasti si Happy Virus itu akan mentertawakannya tanpa jeda selama seharian penuh. Kris yang seperti balok es batu berjalan ini tiba-tiba mengajak seorang pemuda bertampang angel berkenalan. Ini menggelitik.

"Huh?"

"Aku tidak punya teman selama liburan musim panas ini. Boleh aku mengenalmu?" tanya Kris.

Suho mengernyit baru saja dia hendak menjawab namun suara seruan dari Luhan mengagetkannya, membuatnya berjengit kecil.

"Suho! Apa yang kau lakukan? Tolong aku mengantar pesanan ini!" teriaknya.

Suho menoleh menatap Luhan "Iya hyung! Maafkan aku"

Si pemilik senyum malaikat ini kini menatap Kris sembari menggigit bibir "Maafkan aku… bukannya aku tak mau mengenalmu"

Kris menatap Suho yang tangannya mengulum ujung kemeja kerjanya "Aku harus bekerja sekarang. Jadi aku tidak bisa berbincang denganmu sekarang. Maaf"

Suho menunduk lalu berbalik berusaha pergi. Sampai dia tidak menyadari dia menjatuhkan sesuatu yang sedari tadi menyembul keluar dari kantung seragam kerjanya.

"Baiklah" Kris berkata lirih seraya dengan kepergian Suho.

Tangannya kemudian memungut seuatu benda berwarna biru muda yang jatuh dari kantung Suho. Dia mengernyit, hendak memanggil Suho lagi namun dia urung melakukannya. Dia tersenyum lalu menyimpan gantungan handphone yang milik Suho yang tidak sengaja jatuh itu.

Perlahan, dia merasa aneh.

Apa apa dengannya?

Ini musim panas yang paling tidak normal baginya. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang saat melihat iris coklat itu. Mata elangnya tak bisa lepas dari sesosok pria mungil yang selalu berterima kasih itu. Dan, dia bisa tersenyum hanya dengan melihat seorang pelayang café dengan tubuh pendek dan kulit yang putih pucat itu.

Ini aneh.

Sangat aneh.

.

.

"Yeoboseyo" Kris duduk di bangku di seoul park setelah dia berkunjung ke café coffe dimana dia bertemu dengan pemuda yang membuatnya tersenyum itu.

"Ya! Kris!" suara Chanyeol muncul. Riang seperti biasanya.

"Apa?" tanya Kris malas. Dia sandarkan punggung lelahnya di kursi panjang yang dia duduki.

"Cih, yang semangat dong jawabnya. Bagaimana harimu tanpaku? Haha? Sendirian?" tanya Chanyeol. Seolah mengejek Kris karena Kris tidak punya pacar. Dasar kurang ajar.

"Kau bukan pacarku. Dan aku baik-baik saja tanpamu. Memangnya aku mau dengan siapa lagi kalau tidak sendirian, dasar bodoh" jawab Kris.

"Hahaha" suara tawa mengejek terdengar di seberang sana, membuat Kris serasa ingin mencelupkan smarthphone miliknya ke dalam kolam air mancur "Sudah kubilang, lebih baik kau cari pacar saja! Apa perlu kucarikan?"

Kris mendengus "Ck. Tak perlu Park… aku tak perlu bantuanmu"

"Ah, jangan bilang, kau sudah punya incaran?" tebak Chanyeol.

Kris tersenyum lalu mengeluarkan sebuah gantungan kunci berwarna biru dengan inisial huruf 'S' di ujungnya. Yang memantulkan sinar matahari, membuatnya menghela nafas panjang dan kembali mengeluarkan seringaian kecil.

"Entahlah yeol, tapi…" Kris menggantung ucapannya.

Sebelum akhirnya dia menatap sebuah café coffe yang letaknya tak jauh dari seoul park itu, terlihat pria manis tadi melayani pelanggan, tampaknya dia tak menyadari ada sesuatu yang menghilang dari sakunya.

"… aku rasa aku menemukan sesuatu yang menarik"

.

.

Sudah sekitar jam 7 malam, ini waktunya Suho pulang. Tapi, saat dia meraih handphone dari saku seragamnya, dia menemukan sesuatu yang aneh.

"Hah? Dimana gantungan handphoneku?" pekiknya.

Suho merogoh kantung dan tidak menemukan apapun, dia menelusuri setiap lantai café dan tidak menemukannya. Sampai di kamar mandi, dapur dan teras depan.

"Apa apa ho?" tanya Sungmin. Salah satu pegawai di sana.

"Hyuung! Gantungan handphoneku hilang" pekiknya. Dia mulai khawatir sekarang.

"Hah? Hilang? Sudah dicari?" tanya Sungmin.

Suho mengangguk "Huwee. Bagaimana ini hyung? Itu dari eommaku, aku takut kehilangan itu!" pekiknya dan mulai menangis.

"Aish, sudah-sudah, jangan menangis, aku akan bantu cari ne?" Sungmin mengelus puncak kepala Suho dan menenangkan anak SMA cengeng ini.

Suho mengangguk lagi.

Setelah itu, semua pegawai di coffe café membersihkan café seraya mencari gantungan handphone milik Suho itu.

Tapi, setelah lama mencari sampai café bersih, tidak ada gantungan berwarna biru itu.

"Nanti hyung carikan lagi, kau pulang saja ne, sudah malam. Kau masih anak-anak, nanti kau sakit" nasihat Key.

"Ya sudah hyung! Tolong ya, maaf kalau aku merepotkanmu! Aku pulang duluan" Suho mengganti bajunya di ruang ganti lalu pamit pulang. Dia menyandang ransel kecilnya itu dan keluar café dengan murung.

Saat keluar café, Suho begitu terkejut karena sesosok namja dengan tinggi menjulang berbalut mantel warna hijau tua berdiri di depan pintu masuk.

"YA! Kau mengagetkanku" pekik Suho terkejut.

"Ini aku"

Suho mendongak dan mendapati Kris berdiri di depannya "Ah, kau"

"Ada apa dengamu?" tanya Kris heran "Habis menangis?"

Dengan ujung kemejanya, Suho membersihkan sisa air mata yang ada di sudut matanya pelan-pelan. Pikirannya jadi galau lagi malasah gantungan handphone itu.

"Aku kehilangan sesuatu" isaknya.

"Kau sudah pulang kan? Boleh kita jalan sebentar?" Kris bertanya dan tak mengindahkan perkataan Suho padahal sebelumnya Kris yang bertanya kenapa dia menangis.

Suho mendengus "Sebegitu inginkah kau mengenalku? Memangnya kau ini siapa, kau mencurigakan!"

"Aku bukan orang aneh" Kris berjalan dengan Suho di sebelahnya "Aku hanya seorng yang kesepian di musim panas yang katanya menyenangkan ini"

Suho tertawa kecil "Kau sama denganku. Temanku meninggalkanku dengan berlibur di rumah neneknya. Haha"

"Jadi…" Kris merapikan mantelnya "Namamu itu Joon Myun atau Suho?" tanya Kris.

"Aku Kim Joon Myun, tapi orang-orang biasa memanggilku Suho…" jawab Suho. Tapi berikutnya dia merasa ada yang aneh, bukannya dia tidak pernah mengatakan siapa namanya?

"YA! Darimana kau tahu namaku? Kau stalker? Atau spy?" bentak Suho.

Kris mengacungkan dua jarinya di depan muka Suho sambil memasang wajah datar seperti biasanya.

"Alasan pertama, name tagmu tadi bertuliskan Kim Joon Myun dan alasan kedua adalah pelayan berambut merah muda di café tadi memanggilmu Suho"

Mulut kecil Suho menutup "Dasar bodoh" runtuknya pada diri sendiri.

"Ah, mian" cicitnya kecil.

Kris terkekeh "Jadi, aku memanggilmu Suho saja ya? Itu lebih simple daripada Joon Myun"

Suho memanyunkan bibirnya "Terserah"

"Lalu, siapa namamu?" tanya Suho lagi, sambil memasukkan tangannya ke dalam saku.

"Wu Yi Fan" jawab Kris.

"Namamu aneh" balas Suho seraya mengernyit. Dia rasa tidak ada orang Korea bernama seperti itu.

"Kalau aku bisa memilih namaku sendiri ketika lahir pasti namaku bukan Wu Yi Fan" jawab Kris membuat Suho terkekeh pelan.

"Kau orang Cina?" tanya Suho "Namamu terdengar seperti itu"

"Bisa juga. Tapi aku juga keturunan dari kanada" jawab Kris "Jangan panggil aku Wu Yi Fan, panggil saja aku Kris"

"Kris? Namamu jauh beda dengan yang tadi" Suho semakin heran.

"Jangan tanya asalnya darimana karena aku juga tidak tahu, tapi aku lebih suka dipanggil Kris daripada Wu Yi Fan" jawab Kris.

"Krisseu? Namamu susah! Tidak punya yang lebih mudah?" tanya Suho bercanda.

"Kevin Li juga bisa. Namaku yang lain" jawab Kris "Tapi aku tidak terlalu suka nama itu"

Suho bengong "Namamu ada berapa sih? Banyak sekali"

"Hanya 3. Kurasa itu tidak terlalu banyak"

Suho mendengus "Wu Yi Fan, Kris dan Kevin Li, itu jauh berbeda" ucap Suho.

"Bagaimana denganmu? Kim Joon Myun dan Suho itu juga jauh berbeda" balas Kris.

Suho mendecak "Panggil aku Suho saja sudah cukup. Jangan tanya yang lain"

"Kalau begitu kau panggil saja aku Kris dan jangan tanya nama yang lain padaku"

Suho mengerucutkan bibirnya "Baru berkenalan sudah seperti ini. Manusia Cina ini aneh"

"Aku tahu aku aneh ho, jangan coba-coba kau berfikiran seperti itu di otakmu" ucap Kris sambil memandang lurus ke arah jalanan.

"Kau bisa membaca pikiran orang?" pekik Suho.

"Menurutmu?"

"Sungguh? Aish, aku harus hati-hati denganmu"

Kris tertawa, lebih keras. Tak dia sangka, manusia bermata coklat di depannya ini begitu mudah dibohongi dan sangat polos. Imut sekali.

"Aku bercanda! Kau kira aku serius?" tanya Kris di sela-sela tawanya.

Suho menjitak kepala Kris "Bodoh! Kau mengagetkanku"

Langkahnya berhenti kemudian memandang wajah Suho membuat orang yang dipandang memasang wajah memerah. Suho sebisa mungkin tidak memerahkan wajahnya, namun, tatapan Kris selalu bisa membuatnya seperti ini. Ini aneh, dia baru mengenal pria Kanada-Cina ini beberapa menit yang lalu. Dan sekarang dia bisa membuat wajahnya memerah seperti ini. Dasar tidak sopan!

"Jadi… kenapa kau menangis?" tanya Kris.

"Aku sudah mengatakannya tadi, aku kehilangan sesuatu" ucap Suho. Matanya berair untuk kedua kalinya, sifat cengengnya kini keluar lagi. Memalukan memang, namun Suho tidak bisa menahan untuk yang satu ini. Barang yang dia hilangkan sungguh berarti di matanya dan dia sangat menyesal telah kehilangan ini.

"Kehilangan? Apa?" tanya Kris.

"Gantungan handphone!" jawab Suho.

"Itu hanya gantungan handphone" balas Kris enteng.

Tangan mungil Suho memukul pelan dada bidang Kris "Itu bukan gantungan biasa. Itu peninggalan eommaku"

Kris terkejut lalu mendadak mukanya berubah keruh "Pasti menyenangkan punya eomma" ucapnya lirih hampir tidak terdengar.

Suho mendongak "Tapi eommaku sudah meninggal 3 tahun lalu. Jadi itu benda peninggalannya untukku. Itu sangat berharga."

Kris merogoh kantung mantelnya "Kalau yang kau maksud ini, berhentilah menangis"

Suho terkejut melihat Kris memegang sebuah gantungan handphone biru muda miliknya. Matanya membulat dan dia hendak merampas gantungan itu.

"YA! Kenapa bisa ada di kamu? Dimana kau temukan ini?" tanya Suho.

Kris menjauhkan tangannya, membuat Suho tak bisa meraih gantungannya "Ini terjatuh waktu kau melayani kopiku tadi"

"Kenapa kau tidak berikan padaku?" gerutu Suho.

"Kau langsung meninggalkanku tadi, dan tidak menghiraukanku tadi" cibir Kris.

"Kembalikan Kris!" rengek Suho.

Kris menyimpan kembali gantungan handphone itu "Tidak mau"

Suho menarik lengan Kris "Ya! Kembalikan! Jebaalll"

"Aku tidak suka sesuatu yang gratis. Aku punya syarat untukmu" ucap Kris.

Suho mengerucutkan bibirnya "Kriiiss! Aish menyebalkan!"

Kekehan kecil keluar dari mulut Kris "Kemarikan handphonemu!"

"Untuk apa?" tanya Suho heran lalu mengeluarkan sebuah handphone berwarna putih dari sakunya.

"Sini! Berikan saja"

Suho menyerahkannya dan Kris langsung menyahut handphone itu, mengutak atikanya sebentar sebelum akhirnya terdengar nada panggilan di handphone Kris sendiri tapi Kris tidak menjawabnya.

"Nih!" Kris menyerakhan kembali handphone itu kepada tuannya.

"Apa yang kau lakukan tadi?" tanya Suho.

"Aku meminta nomormu dan menyimpan nomorku pada kontakmu. Itu saja" jawab Kris sambil menunjuk handphone Suho.

Suho membuka kontaknya dan menemukan kontak baru bernama 'Kris Wu' disana.

"Ya! Kembalikan gantungan kunciku Wu!" kesal Suho.

"Aku akan meneleponmu kalau aku mau mengembalikan ini. Aku masih punya banyak permintaan yang bisa kau penuhi untukku ho"

"Seenaknya! Memangnya aku ini apa? Budakmu? Krisss" rengek Suho kesal "Palli! Kembalikan!"

Kris menyentil dahi Suho yang tertutup poni "Menyenangkan bisa mengenalmu. Kurasa kita bisa bertemu lagi nanti. Aku akan menghubungimu" ucap Kris, sebelum akhirnya meninggalkan Suho dengan kekehan pelan "Aku pulang dulu ya!"

Suho membatu sebentar.

"Mati kau Wu Yi Fan! Tunggu aku! Akan kuhajar kau!" Suho berteriak dan berlari lalu meloncat dan memukuli bahu pemuda yag sangat tinggi itu.

Kris tertawa, pukulan Suho sama sekali tidak terasa sakit di tubuhnya. Yang ada dia malah menjadi semakin keras tertawa.

"Kau mau mengikutiku pulang ha?" tanya Kris "Aku tidak akan mengembalikan ini meskipun kau mengikutiku sampai ke rumah"

"Siapa bilang? Aku juga mau pulang! Cih, memangnya bis umum ini milikmu saja?"

Kris naik ke dalam bus dan Suho menyusulnya. Keduanya duduk di bangku paling belakang. Suho di sebelah pojok kanan dan Kris di pojok kiri.

Mereka tidak bicara satu sama lain. Suho yang terus menggerutu dan memandang jendela sedangkan Kris yang tersenyum-senyum memandang ke jendela juga dan sesekali melirik Suho.

Saat beberapa menit kemudian, Kris melirik Suho lagi dan tak melepaskan pandangannya begitu melihat Suho terkantuk-kantuk disana.

"Masih jam 7 sudah begitu. Apa dia kelelahan ya? Dari pagi dia bekerja disana!" batin Kris.

Matanya membulat dan dia reflek menggeserkan tubuhnya cepat kesamping Suho. Menangkap badan kurus itu saat dia tertidur dan menjatuhkan kepalanya di bahu Kris.

"Ya! Kau tidur?" tanya Kris pelan.

"…"

Suho tak menjawab dan Kris bisa memastikan kalau Suho tertidur. Dia tersenyum pelan lalu membelai rambut hitam kemerahan milik pria yang baru dia kenal ini.

"Jangan seperti ini. Kau membuatku jadi ingin melindungimu" desah Kris.

Tidak. Perasaan ini lagi, perasaan yang membingungkan saat dia melihat wajah Suho. Kris tidak akan menyangkal kalau Chanyeol mengatainya sudah tidak waras. Bagaimana bisa dia merasakan sesuatu yang aneh pada perasaannya katika dia melihat Suho yang bahkan baru tadi dia resmi berkenalan.

Tiba-tiba, perkataan cahnyeol terngiang di kepalanya.

'Love at the first sign'

Cinta pada pandangan pertama? Ah tidak tidak, siapa juga yang percaya hal konyol itu? Masih segar di ingatan Kris saat Chanyeol bercerita tentang bagaimana Chanyeol bisa berpacaran dengan Baekhyun. Katanya Chanyeol jatuh cinta pada Baekhyun saat dia pertama kali melihatnya jogging sambil membawa anjing miliknya.

Chanyeol mendekati pemuda mungil itu (saat itu Chanyeol sedang jogging juga dan membawa anjing sama seperti Baekhyun) mereka berkenalan dan kemudian sering bertemu, seminggu kemudian, mereka jadian.

Hebat kan?

Awalnya Kris tidak percaya hal itu tapi kemudian dia mulai percaya saat mengalaminya sendiri.

Eits.. tunggu tunggu!

Itu berarti dia jatuh cinta dengan Suho dong? Aish, molla!

Kris masih sibuk menatap Suho yang tertidur di bahunya, dia lalu membangunkan pria itu agar dia tak kelewatan rumahnya.

"Suho…"

"Suho-ya…"

Suho melenguh, tapi tak berniat bangun.

"Kim Joon Myun… Bangun!" Kris mendekatkan hidungnya pada wajah Suho, lalu menggesekkan hidung mancungnya itu pada hidung Suho sebentar.

Dan itu sukses membuat Suho melenguh tidak nyaman dan sampai akhirnya terbangun.

"Eungg! Apa yang kau lakukan?" tanya Suho heran.

"Kau tertidur! Dimana rumahmu? Kau tidak terlewat kan?" tanya Kris sambil merapikan rambut Suho.

Tangan mungil Suho kini mengucek-ucek matanya, dan wajahnya memandang jendela "Satu halte lagi aku turun. Terima kasih sudah membangunkanku Kris"

Kris tersenyum "Tidak masalah. Habisnya kau kelihatan lelah. Tidak salah kalau kau tertidur"

Suho merasakan pipinya memerah "Kris. ini musim panas kan?" tanya Suho mengalihkan pembicaraan mereka.

Kris mengernyit lalu mengangguk "Iya, kau benar"

"Hanya perasaanku atau memang tubuhku jadi memanas ya?" tanya Suho lagi sambil memegang pipinya sendiri.

"Kurasa hanya aku yang merasakan ini" ujar Kris "Aku juga merasa panas"

Suho menoleh memandang Kris "Kau juga?"

Kris mengangguk lalu balas melihat Suho yang menggunakan jaket biru dan kemeja putih tulang. Rambutnya sedikit berantakan dan pipinya memerah.

"Sejak aku bertemu denganmu"

Blush!

Tidak! Tidak!

Ucapan Kris berhasil mejelaskan semuanya.

Suho merasakan pipinya bersemu karena namja dengan tinggi diatas 185 cm ini mengatakan hal barusan. Tak berani hantinya menyangkal, kalau Suho memerah juga karena Kris.

.

.

Suho melempar tasnya ke sofa lalu mengambil air putih di kulkas. Ini baru hari kedua musim panas dan dia sekarang sudah dipertemukan dengan seorang namja yang bisa membuat hatinya berdegup seperti balapan kuda.

Suho meraih foto eomma dan appanya di dekat TV lalu duduk di sofa sambil mendesah pelan.

"Eomma appa… aku memulai pekerjaan musim panasku hari ini" ucapnya pada foto itu. Seolah dia berbicara pada eomma dan appanya.

"Aku bertemu dengan seorang namja, dan kami berkenalan" ucap Suho lagi "Dia aneh eomma, appa"

Suho menghela nafas panjang.

"Namanya Wu Yi Fan atau Kris" lanjutnya "Tapi…"

"Kenapa dia membuatku tidak bisa mengendalikan detak jantungku sendiri ya?" tanyanya polos "Aku takut eomma, appa. Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya"

Suho meletakkan foto itu kembali sambil tersenyum "Kalau eomma dan appa tahu jawabnnya, beritahu aku ya. Lewat mimpi juga tidak apa-apa. Junma bahagia kalau eomma dan appa mau mampir ke mimpi Junma. Selamat malam, eomma, appa"

Suho mengecup singkat foto itu lalu membetulkan letak bingkainya dengan benar sebelum akhirnya dia masuk ke dalam kamar. Dia merapihkan tasnya lalu berniat mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.

.

.

"Selamat malam, tuan muda Kris" ucap Sekertaris Lee.

"Ah ne" jawab Kris singkat. Dia melepas matelnya lalu mendudukkan dirinya di sofa empuk di depan TV. Sebelum itu, Kris mengambil sebotol soft drink di kulkas.

"Apa tuan sudah makan malam?" tanya Sekertaris Lee.

"Belum. Tapi tidak masalah, aku tidak berselera makan. Sekertaris Lee saja yang makan" jawab Kris.

Sekertaris Lee tersenyum "Tuan terlihat senang. Ada apa?" tanyanya.

Kris menggigit bibir. Haruskah dia tanyakan ini pada sekertaris ayahnya ini? tapi, dia tergoda untuk mengatakannya.

"Pak Lee…" panggil Kris sambil melihat Sekertaris Lee yang berdiri di samping sofa bersebrangan dengannya.

"Ya tuan?" tanyanya balik.

"Apa Pak Lee percaya dengan 'cinta pandangan pertama'?" tanya Kris penasaran seraya bertopang dagu.

Sekertaris Lee berkerut kening "Kenapa tuan bertanya seperti itu? Tidak biasanya?"

"Ah, susah untuk dijelaskan. Apa Pak Lee tahu itu?" tanya Kris.

Sekertaris Lee tersenyum pada Kris "Saya mengetahuinya karena saya pernah merasakannya tuan muda"

Mata Kris melebar "Jinjja?"

Sekertaris Lee mengangguk "Pada cinta pertama saya, seorang adik kelas saya waktu SMP kelas 3"

Kris mengangguk-angguk "Bagaimana rasanya?"

"Yaah, waktu pertama kali bertemu, seperti jantung berdetak cepat tanpa bisa dikendalikan, selalu gugup dan muka memerah setiap bertemu dengannya. Kira-kira seperti itu" jawab Sekertaris Lee "Itu sudah lama tuan muda"

"Ahh… begitu ya? Terima kasih!"

Sekertaris Lee tersenyum "Apa tuan muda sedang jatuh cinta?"

Kris membulatkan matanya "Mwo?"

"Kelihatannya iya"

Kris menggeleng "Aku masih ragu kalau harus menyebutnya jatuh cinta!"

"Memangnya tuan muda tidak pernah jatuh cinta sebelumnya?" tanya Sekertaris Lee ingin tahu "Saya yakin tuan muda sedang menyukai seseorang sekarang"

"Aku pernah menyukai seseorang sebelumnya, guru wali kelasku waktu SMP. Tapi, sekarang berbeda rasanya. Bayangkan saja baru beberapa menit setelah pertama kali bertemu dengannya aku langsung tidak bisa mengenalikan detak jantungku!"

"Itu berarti tuan sedang jatuh cinta. Seperti yang tuan bilang sebelumnya, jatuh cinta pada pandangan pertama"

Kris mematung "Kurasa itu terlalu cepat disebut jatuh cinta"

Sekertaris Lee tertawa kecil "Itu terserah tuan mau menganggapnya apa"

Kris berdiri "Aku akan mandi dulu. Selamat malam"

Sekertaris Lee mengangguk "Iya. selamat malam"

.

.

Kris menghidupkan shower dan membasuh seluruh tubuhnya.

"Jatuh cinta? Dengan si pendek itu?" pikir Kris.

"Ya tuhan Wu Yi Fan, kau benar-benar sudah gila" lanjutnya dalam hati.

.

.

Suho menenggelamkan tubuhnya di dalam bathtube berisi air hangat.

"Kris? Manusia cina yang aneh. Menyebalkan!" dengus Suho.

Suara kecipakan terdengar halus. Berasal dari gerakan kaki Suho. Tapi kini wajahnya memanas karena membayangkan wajah Kris yang tertawa kecil tadi.

Suho memejamkan matanya dan semakin meneggelamkan tubuhnya sebatas dagu.

"Ya! Kim Joon Myun! Ada apa denganmu sebenarnya?"

.

.

.

TBC

.

.

Uyeah! *apaan sih \(-,-)/

Gimana-gimana? Ini aku kerjain karena aku habis lihat banyak banget Krisho moment di internet. Ya ampun! Sumpah demi apapun! Mereka aku lihat so sweet banget yaah? :3 *oke abaikan, ini bukan tempat berfangirling Rae Yoo… -_-

Terima kasih bagi yang sudah mereview dan membaca. Author sangat sangat berterima kasih karenanya. #nangis bombay

Akhir kata, salam cium (?) muah muah… :*

/bow/

.

.

Sung Rae Yoo \(^o^)/