roleplay: D. Young-bae/L. Seung-hyun
disclaimer: BIGBANG belongs with YG ENTERTAINMENT
warning: OOCness—just for safety, misstypo(s), beberapa prokem Indonesia terselip lol, BL, AU, fluff gagal?
summary: Miris memang, terkadang hidup itu tidak sesuai yang manusia rencanakan; entah itu berbelok ke jalur rahmat ataupun jalur yang salah. — TaeyangSeungri / Baeri ‹2/?›
genre: family / romance
xxx
Tough Single-Parenting
「sore wa… zenzen muri darou?」
xxx
Seungri masih terdiam di balik pintu apartemennya ketika Hayi menarik-narik celana training-nya pelan dan mencoba mengembalikan dirinya ke realita.
Entah kenapa kali ini Seungri merasa Tuhan tengah merencanakan sesuatu dan menyiapkan kejutan yang begitu besar untuknya. Kelewat besar hingga ia sendiri tidak bisa memperkirakan apa yang ia dapatkan nanti.
Tuhan, apa yang tengah Kau rencanakan untuknya?
"Yah? Ayah?"
Ia tersentak pelan sebelum mengerjapkan matanya dan merespon dengan terbata-bata, "Y-ya?"
Ujung bibir Youngbae tertarik pelan, menahan senyumnya agar tidak semakin melebar layaknya topeng pantonim, "Kalau begitu, aku permisi. Pagi."
Seungri membungkukkan tubuhnya rendah, "Terima kasih. Maaf merepotkan."
Ia hanya tersenyum dan membelai kepala Hayi pelan sebelum mulai berlalu dari apartemennya, membawa beberapa kantung yang barusan ia juga berikan padanya dan mulai menghampiri tetangga lainnya.
Hayi pun menutup pintunya dan menarik lengan Seungri pelan, "Bisa kita sarapan sekarang?"
Seungri tersenyum, "Tentu. Ayo." dan menggandeng tangan mungil putrinya itu ke meja makan.
Mungkin bos (dan tetangga) barunya ini tidak buruk juga.
Dia baik, lumayan tampan (sebenarnya dia tidak perlu menyebutkan bagian ini), penampilannya tidak sesuai dengan kebaikan hatinya—tapi ia sendiri tidak masalah akan hal itu, dan cara bicaranya yang halus dan sopan cukup membuat Seungri merasa tertarik padanya.
Sepertinya mereka bisa akrab nantinya.
Semoga.
"Hari ini kita mau kemana Yah?"
Seungri—yang tengah menonton televisi—mulai mengubah posisinya dan melihat ke Hayi yang mulai beralih membaca novel. "Ada tempat yang ingin Hayi kunjungi?"
Hayi terdiam. Jemari lentiknya mulai membatasi halaman novelnya dan menutupnya dengan pelan, mulai berpikir ke mana sebaiknya mereka pergi. "Ng…"
"Ya?"
Ia bergumam pelan, "…kalau ke Jiyong-ahjussi?"
Seungri mengerjapkan matanya, heran, "Hayi serius ingin ke sana?"
Putrinya mengangguk dengan semangat, "Aku ingin bertemu Seunghyun-ahjussi!"
Ah.
Begitu rupanya.
"…Ayah tidak keberatan sih, tapi—sebentar, biar Ayah tanya dulu." Ia segera beranjak dari sofa dan mulai mengambil ponsel di kamarnya, mencoba menghubungi Jiyong dengan sabar—berusaha mengantisipasi apa yang akan ia dengar pertama kali bila panggilannya tersambung.
Seunghyun termasuk orang yang terlalu posesif, menurutnya sih.
'Panda?'
Oh, sudah tersambung.
Ia memulai pembicaraan dengan ringan, "Hyung, boleh kami ke rumahmu? Hayi ingin bertemu dengan Seunghyun-hyung." Jeda sejenak, ia meneruskan dengan nada riang, "Tenang, dia memang suka padanya, tapi dia tetap milikmu, tenang saja."
Seungri hampir tertawa ketika mendengar dengusan kesal Seunghyun dan gerutuan 'Sialan kau.' dan suara Jiyong yang tertawa kecil dan berusaha menenangkannya dari ponselnya.
Jiyong meresponnya dengan santai, 'Boleh saja. Dan hei, bukan itu yang kupermasalahkan, tapi—argh, Hyunnie, kalau kau lakukan itu lagi aku tidak mau melakukannya lagi denganmu. Maaf, barusan pembicaraan kita sampai dimana?'
Dan tawa garing lah yang keluar dari Seungri.
Melakukannya?
Ha.
Main dokter-dokteran?
Aish.
"Lupakan," Terkadang Seungri sendiri berpikir kenapa sampai sekarang hubungan pertemanan mereka masih bisa bertahan walaupun hubungan kedua hyung-nya bisa dibilang tidak normal. "Bagaimana kalau pukul satu?"
'Boleh saja. Sampai bertemu tiga jam lagi—Hyung!'
Seungri memutar bola matanya, sudah kelewat bosan dengan nada suara Jiyong yang mulai meninggi akibat perlakuan Hyung yang satunya—yang entah, dia tidak pernah mau tahu, "Oke, pastikan kalian sudah selesai bermain dokter-dokterannya, aku masih ingin memiliki anak yang polos."
'Ah, sialan kau Panda—wakh!'
Dan panggilan terputus—lebih tepatnya diputuskan oleh Seungri.
"Dokter-dokteran?"
Dengan refleks ia berbalik dan menatap Hayi—yang tengah berada di depan pintu kamarnya—dengan panik.
Gawat.
Hayi menatapnya dengan pandangan heran sekaligus penasaran—yang sangat jelas terlihat di iris matanya. Seungri berusaha mengendalikan dirinya agar tidak panik dan mulai mencari-cari alasan apa yang pas supaya putri tersayangnya tidak menanyakannya lebih jauh.
"So—soalnya Seunghyun-ahjussi sedikit kekanak-kanakan, jadi kadang dia mengajak Jiyong-ahjussi bermain dengannya. Aneh kan?" Mungkin setelah ini dia harus meminta maaf kepada Seunghyun akan citranya yang rusak karena perkataannya. Ah, ia bisa pikirkan itu nanti. "Yah, Seunghyun-ahjussi memang aneh sih."
Putrinya mengangguk polos, "Oh, begitu ya." Seungri segera mengiyakannya dengan anggukan cepat. "Ayah, nanti boleh tidak aku mengajak Seunghyun-ahjussi bermain dokter-dokteran juga?"
Seungri menggelengkan kepalanya cepat dan mencoba menakut-nakuti Hayi agar tidak mempertanyakannya lebih jauh, "Tidaktidaktidak, bahaya bila bermain dokter-dokteran dengan Seunghyun-ahjussi, bisa-bisa nanti Hayi disuntik betulan dan masuk rumah sakit dan disuntik yang lebih sakit lagi dan dan—"
"Kalau begitu aku tidak mau."
Ia segera menghela napas lega, "—baguslah kalau Hayi paham. Nah, tiga jam lagi kita kesana. Jangan lupa siap-siap, oke?"
Hayi mengangguk sebelum kembali ke ruang tengah dan asyik dengan novel yang barusan ia baca, meninggalkan Seungri yang menjatuhkan dirinya di lantai dan menghela napas panjang sembari menepuk dadanya pelan, lega karena putrinya tidak bertanya macam-macam lagi.
Mungkin sebaiknya lain kali ia harus memilih kata yang seimplisit mungkin agar Hayi tidak salah sangka dan menanyakannya dengan wajah polos dan suara imutnya itu.
Dia lemah dengan suara imut.
Atau bahasa kerennya, voice fetish.
Ketakutan Seungri akan kunjungannya ke rumah Jiyong hanya satu: mempergoki mereka tengah bermain 'dokter-dokteran'.
Ia sih sebenarnya tidak ambil pusing soal tindakan mereka—itu rumah mereka, mereka bisa melakukan apa pun yang mereka suka dan dia tidak perduli, hanya saja sekarang ia tengah membawa Hayi, putri satu-satunya dan ia masih ingin memiliki anak yang polos.
Susahnya memiliki dua hyung yang melewati batas—but it's not like he's disgusted by it or what, he just thought that both of them were too much.
No one will do that every single time.
Well, you-know-what.
How they did that anyway?
Tidak ingin berpikiran lebih jauh lagi, Seungri segera menekan bel beberapa kali, berharap Jiyong membuka pintunya dengan penampilan normal, tanpa warna merah di sekitar lehernya atau pun bibirnya yang membengkak.
"Oh, kau rupanya."
Dan yang ia temukan di sana ialah Seunghyun dengan senyum idiotnya dan (syukurnya) berpenampilan normal.
"Halo Hyung, sudah selesai bermainnya?" Seungri menanyakannya dengan senyum penuh arti terlukis di wajahnya, dengan tangan menggandeng putrinya—yang tengah membawa kantung plastik berisi lasagna yang sudah ia hangatkan tadi pagi.
Seunghyun membalas senyumnya dengan arti yang sama, "Tentu saja, dan halo Hayi-ah, apa kabar?"
Dan respon Hayi adalah bersembunyi di balik punggung Seungri, menghindari sapaan Seunghyun dengan wajah memerah.
…umurmu berapa sih, batin Seungri heran. "Oke, ngomong-ngomong, tadi pagi aku memasak lasagna, kalau tidak keberatan silahkan diterima." Ia angkat bicara dengan menunjuk jemari putih Hayi yang tengah membawa kantung plastik. "Ayo Hayi, berikan pada ahjussi."
Perlahan, Hayi keluar dari balik punggung Seungri dan memberikan kantung plastik itu pada Seunghyun dengan wajah tertunduk, dengan semburat merah pekat menjalar di seluruh permukaan pipi putihnya. "I-ini."
Pria yang tiga tahun lebih tua darinya itu menerimanya dengan senyum hangat, "Terima kasih."
Hayi hanya mengangguk kecil.
Seunghyun segera mempersilahkan mereka masuk sembari mengantar mereka ke ruang tamu dan meletakkan pemberian Seungri di dapur dan menyiapkan minuman untuk tamunya. Seungri mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, tetap bersih seperti terakhir ia kemari, dengan beberapa perabotan baru menghiasi rumah mereka.
…sepertinya Seunghyun terlalu memanjakan Jiyong.
Ah ya.
"Sana, katanya Hayi ingin bertemu dengan Seunghyun-ahjussi?" Ia menatap putrinya—yang duduk dengan kaku di sofa—dengan heran. Sejak kapan ia jadi sepemalu ini? "Ayo, biar Ayah antar. Kebetulan Ahjussi ada di dapur."
Hayi hanya mengangguk dan mengikuti Seungri dengan langkah kaku. Ia tersenyum kecil, dan menepuk kepalanya pelan agar ia tenang sebelum mengantar Hayi ke dapur dan meninggalkannya bersama Seunghyun, dan melangkah menuju ke kamar Jiyong yang sedari tadi belum menampakkan sebatang hidungnya semenjak kedatangannya.
Perlahan, Seungri mengetuk pintunya dengan kebingungan tersuara jelas di nada bicaranya, "Hyung? Boleh aku masuk?" Tak ada respon, Seungri menautkan alisnya heran, tidak biasanya Jiyong tidak merespon panggilannya walaupun sekantuk apa pun dia. "Hyung?"
Masih tidak ada respon—dan dengan suksesnya membuat Seungri penasaran setengah mati.
Separah itukah Seunghyun?
Ia bisa merasakan bulu kuduknya yang tiba-tiba meremang.
Sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, pintu terbuka dengan sosok Jiyong yang tengah menguap dan menatapnya dengan bingung—dengan rambut tidurnya yang masih belum ia bereskan. Normal. Penampilan yang sangat normal untuk orang yang barusan saja terbangun dari tidurnya.
…haruskah ia bersyukur karena tidak menemukan hal aneh pada Hyung tersayangnya ini?
"Ri? Kau kenapa? Wajahmu aneh sekali—" sebelum Seungri sempat menjawab, Jiyong menggeleng pelan, "—tapi biasanya memang aneh sih."
Ia tarik ucapannya barusan.
Seungri menghela napas pelan, "Serius, Hyung, perkataanmu barusan benar-benar sesuatu." Jiyong hanya tertawa. "Ngomong-ngomong, aku membawakanmu lasagna. Sudah ditaruh Seunghyun-hyung di dapur."
Ekspresi Jiyong mencerah, "Serius?"
Ia mengangguk kecil.
Senyumnya mulai merekah—dan Seungri bisa tebak bila hyung-nya tengah berada dalam happiness stats, "Oke, biarkan aku mandi dulu."
"Oke."
Sementara Seungri tengah menunggu Jiyong selesai dengan kegiatan 'bersiap-siap'-nya, ia mengobservasi Hayi yang mulai rileks dan bermain dengan Seunghyun, dengan senyum manisnya yang mulai terhias di wajahnya.
Aih, manisnya. Aku tidak menyangka sosok yang tengah tersenyum itu orang yang biasanya menarik pipiku.
Permainan mereka tidak terlalu heboh, hanya bermain tangan tepuk dan beberapa permainan lain yang tidak menggunakan alat, tapi ekspresi Hayi yang jarang sekali ia lihat membuat Seungri sedikit tertegun akan perubahan putrinya yang drastis ketika ia berada di hadapan Seunghyun.
Ia merasa disisihkan.
"Pasti berat, mengurus anak sendirian."
Dan ia menemukan sumber suara itu tengah berada di sampingnya, dengan rambut yang belum kering dan pakaian santai namun tetap terlihat fashionable.
Seungri menggeleng kecil, "Tidak juga." Ia bisa merasakan Jiyong tengah membelai punggungnya pelan dan ia hanya membiarkannya. "Lagipula aku tidak sendirian, kan ada kau Hyung."
Jiyong merespon dengan tenang, "Aku sama sekali tidak membantumu, kau sendiri yang membantu dirimu sendiri."
Ia tertawa pelan, "Mana mungkin." dan kembali mengfokuskan pengamatannya ke Hayi yang sekarang tengah digendong oleh Seunghyun. "Is that even possible?"
"It is."
Tawanya pun menghilang dari wajahnya.
Pria yang dua tahun lebih tua darinya itu menepuk kepalanya pelan, "Jujur saja, setelah kau bercerai dari Dara, kupikir kau akan menangis dan berlari ke arahku, meminta pertolongan atau semacamnya," ia terdiam sejenak untuk melihat ekspresi dongsaeng-nya yang masih belum berubah dan kembali melanjutkan perkataannya, "Tapi kau tidak, kau sadar bila kau sudah bukan bocah lagi, yang lari dari masalah dan menyalahkan orang lain sebagai penyebabnya, tetapi seorang ayah yang memiliki putri sebagai tanggung jawab dan mau tidak mau kau harus menanggungnya."
Seungri hanya terdiam.
"Dan jujur saja, aku iri padamu."
Iris matanya melebar, dan menatap Jiyong dengan bingung.
Jiyong tersenyum, bukan senyum seringai atau senyum melecehkan yang sering ia pakai untuk mengerjainya, tapi senyum—senyum polos dan iris cokelat mahoni yang seperti tersirat makna 'aku serius', dan jujur saja, baru kali ini Seungri melihat Jiyong tersenyum dengan sangat polosnya seperti malaikat yang tersasar di bumi.
"Aku iri dengan keteguhanmu dalam menghadapi semuanya. Aku serius, dengan umurmu—yang dulu—masih 26 tahun, aku tidak menyangka kau bisa seteguh itu di tahun pertama perceraianmu." Jiyong menambahkan ucapannya yang barusan terpotong oleh tatapan Seungri. "Padahal dulu sebelum kau menikah dan sesudahnya sepertinya sifatmu sama saja, kekanakan dan… clingy?"
Seungri masih belum menjawab.
Sebuah tepukan di punggung Seungri mengakhiri perkataannya.
"Yah, berjuanglah. Aku tahu kau bisa melakukannya."
Ia hanya mengangguk.
Jiyong kembali tersenyum sebelum menyusul Seunghyun yang mulai mengangkat Hayi dan berputar-putar seperti roller, mencoba untuk andil dalam permainan mereka.
Perlahan ujung bibir Seungri tertarik ke atas, tersenyum ketika merasa beban yang tertumpu di pundaknya perlahan menghilang setelah mendengar apa yang sudah Jiyong katakan barusan. Memang, single-parent itu berat dan ia akui itu, tapi karena Hayi lah ia bertahan. Karena Hayi. Hayi.
Hayi. Hayi. Hayi. Dan Hayi.
Karena ia sayang padanya dan tidak ingin putrinya berakhir dengan terjerumus dalam hal yang tidak ia inginkan. Tidak, dan tidak akan pernah.
Walaupun ia sadar dengan batas kemampuannya, ia berusaha, ia berusaha agar semuanya berjalan sesuai yang seharusnya; rekreasi dengan keluarga, makan malam bersama keluarga, dan semua hal yang berhubungan dengan 'keluarga (utuh)'. Ia berusaha, dan tidak pernah berpikir untuk menyerah hingga saat ini.
Dalam hatinya, ia benar-benar bersyukur memiliki Hyung semacam Jiyong dan Seunghyun, yang setia menemaninya ketika ia tengah berada di dalam posisi yang sulit dan tidak pernah meninggalkan dirinya dalam situasi seburuk apa pun, dan juga berusaha membantunya dalam berbagai cara (yang terkadang ia sendiri pun tidak pernah memperkirakannya).
Terima kasih.
Mungkin lain kali ia harus mengatakan itu pada mereka.
Mungkin.
Yang jelas tidak sekarang.
He's waiting for the best timing.
"Maaf sudah merepotkan."
Jiyong hanya tertawa dan membelai Hayi—yang setengah mengantuk dan memeluk pinggang Seungri dengan sesekali menguap—dan merespon dengan ringan, "Tidak apa-apa, kami juga free kok."
Seunghyun mengangguk, "Lagipula sudah lama aku tidak bermain dengan Hayi."
Tapi kau sering bermain dengan Jiyong-hyung—tapi ia memutuskan untuk tidak mengatakannya atau bisa-bisa dirinya dalam bahaya. "Oke, sampai jumpa di tempat kerja."
"Hati-hati."
Seungri mengangguk sebelum melepas tangan Hayi dari pinggangnya dan menyuruhnya masuk—yang hanya Hayi respon dengan masuk ke mobil dan memasang sabuk pengamannya sebelum mulai memejamkan matanya, lelah karena terlalu banyak bermain. Ia menutup pintu mobilnya dan berbalik sembari angkat bicara, "Oh ya, hyung," tiba-tiba ia teringat dengan tetangga (bos) barunya. "Ternyata Youngbae-ssi pindah ke sebelah apartemenku."
Hyung yang dua tahun lebih tua darinya itu merespon dengan menautkan kedua alisnya heran, "Jinjja?"
Ia mengangguk, "Jeong mal, aku juga kaget."
Seunghyun angkat bicara, "Ji, bukannya Youngbae itu teman satu sekolahmu sewaktu SMA?"
Ia mengerjapkan matanya sesaat, tunggu, masa sih?
Lalu kenapa respon Jiyong kemarin terlalu biasa?
Seperti teringat, Jiyong menepuk tangannya dan bersuara 'ah' pelan, dan segera menjawab pertanyaan Seunghyun dengan cepat, "Oh ya, aku hampir saja lupa. Aku pangling dengan gaya rambutnya sekarang."
"Dia orangnya seperti apa Hyung?"
Sebentar, untuk apa ia menanyakannya?
Jiyong hanya melipat tangannya di depan dadanya dan tersenyum penuh arti—yang sialnya, Seungri ingat senyum itu hanya akan muncul bila sesuatu yang menyebalkan akan terjadi padanya. "Kau lihat saja nanti."
Seungri merengek, "Hyung!"
Ia tidak memperdulikan rengekan dongsaeng-nya dan hanya mengibaskan tangannya, seolah-olah mengusirnya dari sini, "Cepat atau lambat kau pasti tahu. Nah, pulang sana, kasihan Hayi."
Pria itu hanya mencibir kesal dan berucap "Kalau begitu aku permisi." sebelum masuk ke dalam mobilnya dan mulai mengendarainya, menjauhi rumah Jiyong dan Seunghyun dengan lambaikan tangan mereka sebagai pengantar kepergiannya.
Ia hanya menghela napas.
Mungkin setelah sampai di apartemen mereka, ia harus segera mencari cara agar bisa memproses apa maksud dari Jiyong barusan, atau ia harus menenangkan diri dan mencoba mengusir bayang-bayang Youngbae dari pikirannya—tunggu, barusan dia bilang apa?
Argh.
Lupakan.
He's not swing that way.
Tidak. Tidaktidaktidak. Tidak akan. Tidak akan pernah!
Setelah ia memarkirkan mobilnya di basement dengan selamat, Seungri segera membangunkan Hayi—yang sudah berpertualang ke dunianya sendiri—dan segera keluar dari mobilnya, dengan beberapa kantuk pun ikut melayang keluar dari bibir tipisnya.
"Hayi, bangun, kita sudah sampai." Ia mulai menguap lebar. "Nanti kalau sudah sampai rumah Hayi bisa tidur lagi, oke? Nah, ayo bangun."
Perlahan, Hayi mengerjapkan kelopak matanya dan menguap sejenak sebelum melepas sabuk pengamannya dan beranjak dari bangkunya, keluar dari mobil dengan langkah yang sedikit limbung. Seungri segera mengunci mobilnya sebelum menggenggam tangan putrinya dan melangkah menuju lift, dan menekan tombol lantai apartemennya sebelum menekan tombol bersimbol [› ‹] dan menghela napas.
Ah, dia benar-benar merindukan ranjang empuknya.
"Yah."
Ia meresponnya singkat, "Ya?"
Jemari lentiknya menunjuk ke depan—Seungri baru sadar bila mereka telah sampai—dan bertanya dengan mata nyaris terpejam, "Bukannya itu Youngbae-ahjussi?"
Eh?
Seungri menggosok kedua kelopak matanya dan mulai mengfokuskan pandangannya—dan juga mulai keluar dari lift dan berjalan ke apartemennya. Samar-samar, ia bisa melihat kepala bermodel dual-shaved plus mohawk tengah berada di depan apartemennya dengan—tunggu, pemilik apartemen?
"Ah, Seunghyun-ssi, kebetulan sekali!" Park Jaesung, pemilik apartemen itu menyapanya dengan matanya yang sipit dan senyum yang tetap cerah walaupun matahari sudah berganti posisi dengan bulan. "Kau baru pulang?"
Ia mengangguk kecil, "Ne. Ngomong-ngomong, ada apa?"
Jaesung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan mulai menjawabnya dengan sedikit ragu, "Jadi—begini, Seunghyun-ssi, kau tahu bila apartemen ini sudah lama tidak digunakan kan?" tanyanya sembari menunjuk apartemen di belakangnya dengan ibu jarinya.
Seungri mengangguk pelan, "Dan?"
Pria—yangs Seungri tebak—berumur sekitar 47 tahun itu menghela napas, "Seharusnya apartemen ini tetap berfungsi sebagaimana mestinya karena setiap bulan tempat ini tetap dirawat, tapi… ada malfungsi."
Ia menautkan alisnya, "Malfungsi?"
"Sekeringnya tidak berfungsi, dan otomatis mengganggu seluruh sistem di ruangan ini. Setidaknya butuh satu minggu untuk membereskannya." Jaesung menghela napas. "Aish, padahal dia baru dua hari di sini…"
Ia merespon dengan anggukan kecil, mulai paham dengan situasi yang tengah mereka berdua alami.
Youngbae angkat bicara dengan nada ragu terselip di perkataannya, "Park-ssi, aku bisa memakai lilin—"
Jaesung menggeleng cepat, "Tidak, tidak semudah itu Youngbae-ssi. Seluruh sistem di apartemenmu lumpuh; saya paham bila Anda pasti setidaknya punya pekerjaan yang di bawa ke rumah dan sangat tidak mungkin Anda mengerjakannya dengan situasi seperti ini." Tapi perlahan, ia mulai berpikir keras, mulai tidak menyadari keberadaan Seungri dan Hayi yang mulai tertidur di dalam benaman pelukan ayahnya. "Tapi di musim semi seperti sekarang, banyak orang berdatangan mencari apartemen dan sukses membuat apartemenku penuh. Bagaimana?"
Dengan susah payah, Seungri mencoba melihat reaksinya; Youngbae; yang hanya terdiam dengan mulai ikut berpikir. Jujur saja, ia kasihan dengan bos barunya, tapi kantuk yang menyerangnya lebih kuat dan terbenam di otaknya, memaksanya agar segera keluar dari situasi ini dan masuk ke apartemennya (yang sedari tadi sudah berada di hadapannya), bermesraan dengan ranjang kesayangannya dan menikmati liburannya besok.
Sudah tidak tahan lagi dengan kantuk yang mulai mencekik urat sadarnya dan merengek ingin segera diistirahatkan, Seungri pun pamit kepada mereka berdua dengan susah payah menyeret kakinya, "Kalau begitu kami permisi." dan membuka pintu apartemennya.
Sampai tangan sedikit keriput itu meraih tangannya yang tengah memegang ganggang pintu.
"Seunghyun-ssi?"
Perasaan Seungri mulai tidak enak.
"Y, ya?"
Ia menengadahkan kepalanya dan menemukan senyum Jaesung terlihat lebih cerah dari biasanya.
Jaesung pun meraih tangan Youngbae dan Seungri, memegang kedua tangannya secara bersamaan, dan tersenyum, "Mohon bantuannya."
…tunggu, apa?
Seungri mengerjapkan matanya lagi. Mohon bantuannya. Mohon bantuannya. Mohon—apa maksudnya? "…ng, maaf, maksud Jaesung-ssi—"
Senyumnya merekah, lebih besar daripada kue yang mengembang, "Aku percaya padamu, dan tolong sementara biarkan dia tinggal di apartemenmu. Apartemenmu 4LDK kan?"
Pria paruh baya itu terpaku pada saat itu juga.
"…aku—"
Tanpa menunggu Seungri merespon perkataannya, Jaesung pun menatap Youngbae—yang sedari tadi tidak memiliki kesempatan untuk berbicara—dan kembali berbicara, "Untuk masalah barang-barang, kau tidak usah memindahkannya lagi. Kau sudah menatanya kan? Tenang, tenang saja, barang-barangmu aman, tidak usah khawatir. Bagaimana?"
Youngbae pun menatap Seungri dengan rasa enggan tersirat di iris gelapnya. Ia meneguk ludahnya paksa, tidak tega dengan tatapan tetangga barunya yang mulai memelas. "Uh—sepertinya tidak usah, aku punya kenalan yang tinggal tidak terlalu jauh dari sini, jadi—"
Seungri mengeratkan tangannya—dan sukses membuat ucapan Youngbae terhenti dan menatapnya dengan heran. "—tidak apa, hanya satu minggu kan?"
Jaesung menghela napas lega dan senyumnya pun kembali, "Kalau begitu mohon bantuannya. Selamat malam." dan mulai berpamitan kepada mereka berdua (Hayi sudah terlelap) sebelum mulai berjalan ke lift dan menghilang dari pengamatan mereka berdua, meninggalkan mereka dengan euforia ambigu di sana.
"Kurasa… uh, mohon bantuannya, Seungri-ssi."
Ia hanya mengangguk kaku dan segera mempersilahkan Youngbae masuk ke apartemennya sebelum menyuruhnya menunggu di ruang tamu dan menyeret Hayi—yang memeluknya terlalu erat hingga membuatnya sulit berjalan—ke kamarnya. Setelah memastikan smeuanya sudah beres, ia keluar dari kamar Hayi dan kembali ke ruang tamu, dengan ekspresi kaku terlihat jelas di wajahnya.
Dia benar-benar mengatakannya.
Dia.
Dengan refleks.
Serius, dia ini kenapa sih?
"Uh, ayo, kutunjukkan di mana ruanganmu."
Youngbae hanya mengangguk dan mulai mengikuti langkah Seungri sembari melihat ke sekeliling. Apartemennya lumayan lengkap; satu set counter dapur, meja makan untuk empat orang, rak buku yang terpasang di dinding namun rapi, ruang keluarga yang nyaman dengan televisi 42', dan juga pemilihan warna cat dinding yang terlihat kontras dengan warna semua perabotan.
Ia hanya bisa berdecak kagum.
Mereka pun terhenti. Seungri pun membuka pintunya dan mempersilahkan Youngbae masuk sembari angkat bicara, "Uh, maaf kalau berantakan, ruangan ini sudah lama tidak dipakai."
Youngbae menggeleng pelan, "Tidak, tidak apa-apa, malah aku yang harus minta maaf karena tiba-tiba mengganggu."
"Aku sama sekali tidak keberatan." Seungri memaksakan dirinya untuk tersenyum. Aish, dia benar-benar ingin tidur. "Kalau begitu, aku permisi." Sebelum Seungri menutup pintu dan kembali ke kamarnya, Youngbae mencegahnya. Ia menautkan alisnya heran, "Ada yang bisa kubantu?"
"Kamarmu… dimana?" Tautan alisnya semakin tajam. Youngbae segera menambahkan—agar Seungri tidak salah paham, "Uh, maksudku, kalau ada apa-apa."
Dengan otomatis, jari telunjuk Seungri menunjuk ke ruangan persis di sebelah kamar (baru) Youngbae, "Di sana. Ketuk saja kalau ada apa-apa." Responnya sembari tersenyum.
"Ah, oke."
"Baiklah, selamat malam." Ia pun kembali tersenyum sebelum menutup pintu dan mulai berjalan ke kamarnya dengan langkah gontai. Dia benar-benar lelah, yang ia butuhkan sekarang hanyalah tidur dan bermesraan dengan ranjang kesayangannya.
Serius, dia lelah, tapi—tapi kenapa jantungnya berdebar begitu kencang hingga membuatnya sesak napas dan kantuknya menghilang secara mendadak?
Mungkin nanti pagi ia harus pergi ke kantor Jaesung, ng, harus, dan melaporkan padanya bila yang malfungsi bukan hanya apartemen Youngbae, tetapi tubuhnya juga.
Dan penyebabnya ialah bos barunya itu.
Dia.
Ah, sebaiknya dia tidur saja.
Whatever what it calls, never thought all of this was over.
So, to the next chapter!
a/n.
uh, saya gabisa berkomentar banyak. terima kasih yang sudah me-review (sudah saya balas lewat PM), dan para silent reader yang sudah membaca ffic ini. dan juga bila berkenan doakan saya lulus ya. amin. u/\u
btw Park Jaesung itu PSY.
Adieu!
2013 © Miharu Koyama
All right reseved.
