Disclaimer : Mashashi Kisimoto.

This is my first Story. Maaf kalau pendek. akan di Update secepatnya. :D

BLACK OPS

Chapter 1 : Ambush.

15 mei 2015.

Delapan mobil SUV berjalan beriringan dalam sebuah konvoi kecil di jalanan sepi antar kota. Di kanan-kiri mereka pohon-pohon besar yang berbaris mengiringi perjalanan mereka. Di dalam mobil SUV yang berada di barisan ketiga dari depan, terlihat seorang pria berjanggut tipis berambut panjang sampai tengkuk berusia pertengahan dua puluh tahun yang memakai pakaian kuning tahanan di balut rompi kevlar. Ia duduk diapit dua orang berpakaian taktis bersenjata lengkap yang selalu memasang tatapan siaga. Di depan dan belakangnya pun terdapat masng-masing dua orang berpakaian taktis pula. Pria itu duduk diam dengan wajah malas sambil sesekali melirik orang-orang yang mengawalnya.

Tiba-tiba sebuah helikopter terbang rendah di atas konvoi tersebut. Mereka belum menyadari keanehan apapun sampai seorang di dalam helikopter tersebut mengeluarkan sebelah badannya sambil menenteng sebuah peluncur roket.

"PENYERGAPAN !" seru sang komandan di mobil paling depan.

'DUARR !'

Tak lama kemudian sebuah roket di tembakkan dan langsung menghantam mobil di barisan paling belakang dan menghancurkannya seketika. Puing mobil itu beterbangan dan bangkainya masuk ke dalam hutan setelah berguling beberapa kali.

Tujuh mobil yang tersisa pun melanjutkan perjalanan mereka dengan tergesa. Sampai kemudian sebuah roket lagi meluncur dan menghancurkan mobil keenam.

'DUARR !'

"lindungi tahanan !" perintah sang komandan. Beberapa anggota pasukan tersebut pun mengeluarkan sebagian badan mereka dan mulai menembaki helikopter tersebut. Namun helikopter itu bisa menghindarinya dengan mudah. Disusul sebuah roket lagi yang menghancurkan mobil ke lima. Mereka menghabisi konvoi itu satu persatu. Kini hanya tersisa empat buah mobil termasuk mobil yang mengawal si pemuda tahanan tadi.

'DUARR !' mobil keempat pun dihantam roket kembali. Kini hanya tersisa tiga buah mobil.

"komandan kita terdesak !" kata seorang pasukan yang duduk di samping sang komandan. Sang komandan kemudian mengambil alat komunikasinya.

"di sini konvoi pengawalan tahanan VIP. Kirimkan bantuan sekarang juga, kami ter-"

'DUARR !' tiba-tiba mobil yang ditumpangi sang komandan ditembak roket dan terguling seketika. Disusul dua mobil di belakangnya. Helikopter itu merendahkan ketinggian terbangnya. Dan keluar lima orang yang mengenakan topeng badut bersenjata yang turun dengan tali. Mereka langsung berjalan ke arah puing mobil ketiga lalu membuka pintunya. Beberapa saat kemudian si tahanan yang tak sadarkan diri di tarik keluar dengan beberapa luka di tubuhnya.

Dari mobil paling depan yang terguling sang komandan yang masih sadar dengan luka di kepalanya meringis kesakitan. Ia melihat lima orang membawa seseorang yang harusnya ia kawal. Mereka membawanya menuju helikopter dan helikopter tersebut pun terbang pergi. Sang komandan akhirnya jatuh tak sadarkan diri.

'TOK TOK TOK.'

Suara pintu di ketuk cepat mengagetkan Melody.

"masuk." Katanya. Lalu seorang perempuan muda berambut sebahu muncul sambil membawa sebuah tablet kemudian menyerahkannya pada Melody.

"apa ini ?" tanya Melody sambil menerima tablet tersebut.

"konvoi pengawalan kemarin di sergap. Semua anggotanya tewas kecuali komandan mereka." Kata perempuan berambut sebahu tadi. Melody masih melihat pada tabletnya.

"siapa yang mereka kawal ?"

"Reindhart Arka. Anak dari Reindhart Rakean ketua kelompok mafia terbesar di Indonesia saat ini. Reindhart family syndicate." Melody mendongak menatap lawan bicaranya.

"bagaimana dia bisa di tangkap ?"

"dia terlibat perkelahian di sebuah bar, lalu diamankan oleh petugas sekitar. Identitasnya diketahui lalu ia direncanakan akan di pindahkan ke penjara berkeamanan tinggi. Tapi sepertinya informasi pemindahannya bocor." Jelasnya.

"baiklah. Kinal, buat tim kecil untuk mencari informasi tentang keberadaan Reindhart Arka dan siapa orang-orang yang menculiknya." Perintah Melody. Perempuan yang di panggil Kinal itu mengangguk, ia memberi hormat lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Di dalam ruangan itu terlihat sekelompok gadis tengah berbincang ringan. Mereka mengenakan pakaian serupa yaitu tanktop hitam dan celana panjang bermotif loreng hitam. Beberapa menit kemudian seorang perempuan berambut sebahu memasuki ruangan, Kinal. Ia datang sambil membawa sebuah map berwarna merah.

"mohon perhatiannya semua." Ucapnya. Semua orang di ruangan itupun menghentikan aktifitasnya dan memasang atensi penuh padanya.

"kalian dikumpulkan di sini untuk membentuk sebuah tim. Apa semua sudah hadir ?" Kinal membuka map yang di bawanya.

"Sendy." Ucap Kinal. Lalu seorang perempuan berambut panjang mengangkat tangannya.

"Dhike." Lanjutnya. Seorang perempuan berambut sebahu dengan mata setajam pisau mengangkat tangannya.

"Frieska." Seorang perempuan berambut panjang yang duduk tepat di depan Kinal mengangkat tangannya.

"Ghaida." Anggota terakhir pun di panggil. Seorang perempuan berambut pendek yang mengenakan kacamata mengangkat tangannya.

"baiklah, tim ini akan di pimpin oleh saya. Tugas tim ini adalah untuk menyelidiki keberadaan Reindhart Arka. Selengkapnya sudah saya siapkan di personal advisor kalian masing-masing. Baiklah, bubar !" setelahnya, mereka berdiri dari bangkunya masing-masing dan pergi meninggalkan ruangan.

'TOK TOK TOK'

Sekali lagi ketukan di pintu mengagetkannya yang sedang memasang perhatian penuh pada layar komputer. Melody menghela napas, lalu mempersilahkan orang di luar masuk.

"masuk."

Pintu di buka dan seorang perempuan jangkung berambut panjang masuk.

"ada apa, Shania ?"

"permisi Kapten. Ini laporan dari aktifitas terbaru kelompok Garis Merah." Kata Shania. Melody menerima sebuah tablet dari Shania. Melody membaca laporan dalam tablet tersebut dengan serius selama beberapa menit lalu menyerahkannya kembali pada Shania.

"kerja bagus. Terus awasi pergerakan mereka. Jika ada yang berbahaya segera laporkan pada saya."

"siap Kapten."

"baiklah, kamu boleh pergi."

Setelah itu, Shania pergi meninggalkan ruangan itu.

Kelompok yang terdiri dari lima orang gadis itu terlihat keluar dari ruangan yang sama dengan yang mereka gunakan kemarin. Kinal berjalan memimpin formasi mereka menuju ruangan Melody.

"permisi Kapten." Kata Kinal sembari memasuki ruangan beserta keempat rekan yang di pilihnya.

Melody melihat mereka satu-persatu. "jadi ini tim pilhan kamu ?" Kinal mengangguk.

"baiklah, misi kalian sederhana. Namun cukup sulit." Melody beranjak dari kursinya. "kalian akan berangkat untuk menyelidiki keberadaan Reindhart Arka. Menurut sumber informasi saya dapat dia sempat terlihat di sebuah gedung bekas pabrik kota itu. Cari dan temukan dia, selidiki kelompok yang membawanya dan apa tujuan mereka. Kalian harus membawanya hidup-hidup. Nyawanya terlalu penting untuk mati sekarang."

Semua anggota tim itu nampak mengangguk paham. Melody kembali duduk di kursinya.

"bubar !" tegas Melody.

"siap !"

Setelah itu mereka berlima keluar dar ruangannya. Kinal kembali memimpin formasi berjalan mereka.

"seperti biasa, dia Cuma memberikan aahan sebentar." Ucap Frieska.

"kembali ke kamar kalian masing-masing untuk bersiap. Kita bertemu di ruang persiapan satu jam lagi." Perintah Kinal. Mereka pun berpencar di persimpangan koridor untuk menuju kamar mereka masing-masing seperti yang diperintahkan Kinal.

"kak Kinal, ada misi ?" tanya Shania setelah meliihat Kinal yang keluar dari kamarnya sembari membawa tas ransel besar.

"hm ?" Kinal menoleh. "iya. di luar kota."

Kinal mengunci pintu kamarnya kemudian berjalan mendahului Shania. Shania mengikutinya.

"misi apa ?" tanya Shania.

"rahasia. Anggota baru tidak boleh tahu." Kinal tersenyum.

"hei. Aku kan juga bagian dari organisasi ini." Shania mendelik.

"nanti kamu juga tahu sendiri. Tapi untuk saat ini aku sibuk."

"ayolah kak, aku Cuma ingin tahu tujuan misinya." Pinta Shania. Kinal menatap gadis jangkung itu sejenak lalu menghela napas.

"tingkahmu seperi mata-mata yang sedang mencari informasi. Tanya saja sana sama Kapten !" Kinal pun mempercepat laju langkahnya. Shania behenti di tempatnya sambil melihat punggung Kinal yang mulai menjauh dengan tatapan kesal.

"heh ! nanti pasti aku juga akan dilibatkan dalam misi ini." gumam Shania.

To Be Continued...