Seorang pemuda tengah berjalan seraya memegang kepalanya, ia sedang memikirkan sesuatu hingga pandangannya terlihat kosong.
Setelah keluar dari gedung, ia mengangkat kepalanya, melihat sinar matahari yang sebentar lagi mulai meredup.
Ia lekas menurukan kepalanya lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Ia tidak menyukai sore hari seperti ini.
Sangat membencinya.
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Mystery and Horror. Ada Romance nya sedikit.
Rating : M (Bukan buat Lemon atau Lime, buat Gore nya)
Pair : NARUSASU slight NaruSai and SasuSai (Friendship)
Warning : OC!, sedikit OOC! tapi nggak sampe bikin itu tokoh yang harusnya tegar jadi cengeng kayak anak kecil yang lagi BAB, YAOI, BL, Typo (s), Ada gorenya dikit tapi, Chara Death, NARUSASU!
Dah nggak usah banyak basi basi, Happy Reading...
.
.
.
"Kau tidak apa-apa?" Naruto yang tengah bersandar di bawah pohon di belakang universitas merasa terkejut dengan kehadiran Sai yang tidak ia rasakan sebelumnya.
"Ah-eh aku tidak apa-apa kok. Aku cuma ingin tidur saja." Jawabnya seraya kembali ke posisinya tadi.
"Bukan hari ini..." Sai ikut mendudukan dirinya di samping Naruto, "Tetapi kemarin, kemarin kau jatuh pingsan bukan? Apa kau sakit?" tanyanya lagi.
Naruto memandangnya lekat-lekat lalu menggaruk kepalanya perlahan, "Yah... entah kenapa saat melihat mayat Jii-san aku seperti kepikiran sesuatu yang aneh." Jawabnya jujur. Saat melihat mayat yang terbujur kaku dengan genangan darah itu, entah kenapa Naruto merasa tidak percaya dengan penglihatannya.
Tapi ia bingung, ia tidak percaya dengan apa, tetapi rasanya dadanya sakit sekali dan ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya untuk melampiaskan rasa sakit tak terlihat itu.
"Kau phobia dengan darah?" tanya Sai perlahan.
"Tentu saja tidak, aku sering membantu Kaa-san memotong ikan hasil budidaya sendiri, aku sudah terbiasa dengan darah kok. Itu hanyalah-Ah sudahlah tidak usah di pikirkan, bagaimana kalau kita kekantin dan memakannya disini? Mumpung enak hawanya."
Naruto mengalihkan pembicaraan, bola matanya melirik ke sembarang arah seperti menghindar dari sesuatu, ah menghindari pembicaraan ini.
Mata hitam Sai memincing. Ia menganggukkan kepalanya dan berjalan di samping Naruto untuk menuju ke kantin.
Dia selalu suka topik pembicaraan apapun dan jika memang Naruto tidak suka, apa mungkin ia membuka percakapan tentang mayat itu sendiri?
Ia menghela nafasnya lalu menggelengkan kepalanya.
Ia tidak berhak berfikiran seperti itu.
...
Para pihak kepolisian masih berkeliaran di sekitar universitas, masih menyelidiki kematian Kasaji, sang kepala penjaga Universitas besar ini.
Para dosen kedokteran dan juga dokter yang pernah bertemu dengan Kasaji satu persatu mulai di interogasi.
Tak lupa juga mahasiswa kedokteran tingkat akhir atau dengan gelar yang lebih tinggi.
Penyelidikan itu memakan waktu hampir satu minggu dan selama itu pula para Mahasiswa di larang pulang terlalu sore. Jadi yang mempunyai kelas sore mau tidak mau harus mengambil kelas pagi atau siang jika ingin melanjutkan pendidikannya.
Penyelidikan ini memang memakan banyak waktu karena tidak ada bukti yang mengarah kepada otak pembunuhan tersebut.
"Kita sudahi sampai disini saja, kita lanjutkan besok."
"Hai! Hatake-taichou!" dan para personel kepolisian pun satu persatu mulai mengundurkan diri dari Universitas. Meninggalkan seseorang yang ditunjuk sebagai pemimpin pembunuhan misterius itu yang masih berdiri tegak seraya memandang TKP pembunuhan yang masih diberi garis polisi.
Tap
Tap
Tap
Seseorang tangah mengendap-endap di belakang sang polisi, wajahnya yang terpiaskan cahaya sore hari terlihat menyeringai.
"Bukankah mahasiswa diharuskan pulang sebelum sore menjelang malam seperti ini Naruto?"
Orang yang di maksud lekas menegakkan badannya seraya berdecak kesal.
"Kau tidak seru Kakashi-sensei, pura-pura lah tidak menyadariku kenapa, aku benar-benar butuh hiburan nih~" rajuk Naruto seraya mendekati Kakashi yang hanya memandangnya datar di balik masker yang selalu setia ia kenakan.
Kakashi adalah guru privat kehukuman yang khusus ayahnya kursuskan saat ia SMA dahulu. Katanya, walaupun kelak ia tidak menjadi seorang polisi seperti Ayahnya, ia harus sedikit tahu tentang hukum. Kakashi juga tangan kanan Minato, jadi mereka cukup akrab.
"Masih buntu?" tanya Naruto tepat di samping Kakashi, mata birunya juga ikut memandang TKP pembunuhan.
Tanpa Kakashi menjawab pun, Naruto tahu jika kasus ini sulit di pecahkan, bahkan oleh kepolisian Konoha yang di kenal paling cakap sekalipun.
Melihat mereka yang bekerja keras untuk pembunuhan satu orang saja sedikit membuatnya kesal.
"Kenapa kalian begitu keras untuk menemukan pembunuh Kasaji Jii-san? Padahal masih banyak kasus pembunuhan lain di Konoha kan? Dan masih banyak juga kasus yang belum kalian tangani. Apa karena Kasaji Jii-san salah satu anggota kepolisian jadi kalian benar-benar serius menanganinya?" Naruto bertanya cepat, mata birunya menyalang kesal pada Kakashi yang masih saja diam dan tak mau menjawab pertanyaannya.
"Kenapa diam? Jadi benar? Kalian mengabaikan kasus misterius itu kan?" terbawa emosi, Naruto mencengkram kerah seragam Kakashi, raut wajahnya terlihat sangat marah, "Bisa saja dia masih menunggu kedatangan seseorang untuk menolongnya dan kalian mengabaikannya karena kasus terjadi telah lama? Kalian melarangku untuk mencarinya dan ini yang aku dapatkan?!"
Ia melepaskannya dengan sedikit mendorong lalu berjalan memunggungi Kakashi, "Aku bersyukur tidak memilih menjadi seorang polisi seperti kalian, brengsek! Kalian tidak akan pernah aku maafkan! Sialann!" dan ia pun berlari.
Tanpa menyadari Kakashi yang tengah memandangnya sendu.
"Dasar bodoh.."
"Hatake-Taichou," sesosok orang mendatangi Kakashi setelah kepergian Naruto, dilihat dari gelagatnya mungkin ia membiarkan mereka berdua berbicara terlebih dahulu baru memutuskan untuk menghampiri Kakashi.
"Aoi-san meminta izin tidak ikut patroli malam ini di sini karena istrinya sakit, apa tidak ada yang lain untuk menggantikannya?" tanyanya sopan.
Kakashi memandangnya, "Untuk hari ini, lakukan sendiri terlebih dahulu, besok aku atur kembali," ia membalikkan badannya, menuju ke mobil kepolisiannya, "Jaga dirimu baik-baik."
"Hai, Taichou!"
*.*.*.*.*.*.*.*.*.*.*.*.*
Gakko Hayate, salah satu anak buah kepercayaan Kakashi ditugaskan untuk menjaga dan berpatroli di sekitar Universitas.
Lelaki berambut hitam pendek itu sedikit mendengar pembicaraan Kakashi dengan seorang mahasiswa yang ia kenal sebagai anak dari Namikaze Minato yang merupakan salah satu orang terpenting di kepolisian.
Kakashi juga menyuruhnya berpatroli di Universitas karena suatu hal.
Kasus yang terjadi tiga bulan yang lalu di universitas ini, yang sampai saat ini masih belum terungkap.
Ia menghela nafasnya, seharusnya kasus lama itu ditinggalkan saja kan? Buat apa di selidiki lagi, membuang waktu saja.
Ia melihat jam tangannya, waktu telah menunjukan jam sembilan malam dan lagi-lagi ia menghela nafasnya dan beranjak untuk patroli.
Senter di tangan kananya mulai ia nyalakan, dengan santai ia berjalan dari pos depan hingga ke gedung utama, udara malam yang dingin tidak menyurutkan langkahnya untuk menunaikan tugas.
Gedung utama adalah tempat ruang dosen dan juga administrasi berada, Hayate harus melewati gedung itu untuk sampai ke halaman utama yang menghubungkan ke berbagai fakultas.
Mata hitamnya yang selalu menyorot malas itu memperhatikan baik-baik setiap sudut, mencoba mencari sesuatu yang mencurigakan. Mungkin saja pembunuh itu berencana melakukan pembunuhan lagi dan bersembunyi di suatu tempat.
Hawa segar menerpanya kembali saat ia telah sampai di halaman utama Universitas Hikonoha, angin malam sedikit membuat rileks. Karena ia merasa setiap perjalanannya tadi, ada sesuatu yang terus memperhatikannya.
Merenggangkan badannya sebentar, ia mulai melanjutkan patrolinya, entah gedung mana yang ia masuki, ia tidak melihat namanya.
Srek!
Suara barang yang bergesekan terdengar di telinganya yang memang terlatih untuk peka dengan keadaan sekitar. Dengan cepat ia menyorot sebuah pintu yang ia yakini sebagai sumber suara.
"Siapa disana?!" Teriaknya lantang, "Cepat keluar dan serahkan dirimu dengan tenang!"
Tidak ada jawaban, suara aneh yang sedari tadi ia dengar juga tak ia rasakan kembali.
"Hei cepat keluar! Atau aku akan menembakmu!" Hayate mulai mendekati pintu tadi, senternya tetap menyorot ke arah pintu.
Ia menelan ludahnya gugup, sebentar lagi ia akan berhadapan dengan sesuatu ia curigai sebagai pembunuh, dengan perlahan ia mendekati pintu tersebut..
..dan membukanya.
Sepi, tidak ada seseorang pun di dalam ruangan kelas itu. Untuk memastikannya, ia menyorot ruangan tersebut dengan senter dan menghela nafas lega saat kecurigaannya tidak terbukti.
Ia menutup pintu ruangan tersebut dan membalikkan badannya untuk melanjutkan patrolinya kembali. Namun langkahnya terhenti.
Ada seseorang di belakangnya, tengah memandangnya dengan sorot mata yang dingin.
Ia terdiam membatu, ia tidak menyadari keberadaan sosok itu sama sekali.
Wajah sosok itu tertutupi oleh poninya yang menjuntai panjang, ia tidak berani bergerak sekadar untuk menanyakan identitasnya.
Dengan perlahan sosok itu mengangkat kepalanya, poninya yang menghalangi mulai tersingkap. Hayate pun membelalakan matanya.
"Kau-"
Grep
Tangan sosok itu tanpa Hayate sadari telah mencengkram erat lehernya, kuku-kukunya panjang juga membuat leher Hayate tersobek dan mengeluarkan darah.
Cengkraman sosok itu semakin mengerat, nafas Hayate mulai tersendat-sendat, ia butuh oksigen saat ini agar nyawanya terselamatkan.
"Ohok!" Hayate lekas memegang lehernya seraya mengambil nafas sebanyak-banyaknya , sosok itu telah melepaskan cengkramannya.
Hayate mengedip-ngedipkan kedua matanya, dan sosok itu telah menghilang dari pandangannya. Matanya kembali memincing waspada.
Dia pembunuhnya.
Sosok itu adalah pembunuhnya.
"Kemana kau?! Cepat serahkan diri-"
BRAKK!
Tubuhnya dengan cepat terpelanting ke depan, menabrak dinding dengan keras.
"Uarghh!" lelaki itu berteriak kesakitan, panik melanda dirinya saat organ tubuhnya tak bisa lagi ia gerakkan, benturan keras itu pasti telah melumpuhkan anggota geraknya.
Sosok itu muncul kembali di hadapannya. Walaupun gelap, Hayate tahu itu.
Ia merasakan jika rambutnya di cengkram dengan keras, dan dengan tanpa suara, sosok itu membenturkan kepala Hayate berkali-kali ke tembok.
Lolongan kesakitan Hayate tidak di hiraukan, sosok itu masih terus membenturkan kepala Hayate seakan-akan sedang membenturkan sebuah bola.
"Hentikannn!" pinta pria itu sekali lagi, darah mulai merembes dan membasahi wajah dan juga bajunya, "Aku mohon henti-Argghhhh!"
Tangan sosok itu menyentuh mata kanannya, lalu dengan cepat memasukkan kelima jarinya memasuki rongga mata tersebut dan menarik paksa bola mata Hayate. Ia telah kehilangan mata kananya dalam sekejap.
"Uargghhhh!" rasa sakit itu benar-benar menyiksanya hingga membuatnya mati rasa, tubuhnya bergetar ketakutan, ingin sekali ia segera pergi dari sini dan meminta pertolongan.
Hayate tidak menyadari jika pistol di dekat saku kirinya telah menghilang dan berpindah tangan kepada sosok tersebut. Sosok itu melepaskan cengkramannya dan mendorong kepala itu ke tembok dengan sebuah pistol, tepat di mata kirinya.
Tubuhnya telah melemas karena kehilangan banyak darah.
Sebuah senter yang masih menyala melayang ke arah dirinya dan menubruk keras kepala Hayate yang terluka, lalu mendarat sedikit jauh dari mereka berdua.
Sinar senter itu menyorot mereka berdua, menyorot sesosok orang yang tengah menodongkan sebuah pistol kepada petugas kepolisian.
Hayate masih bisa melihat wajah tersangka walaupun pandangannya tertutupi oleh darah dan juga moncong pistol. Samar sekali.
...dan ia seakan kenal dengan sosok itu. Familiar sekali.
"Aku tidak suka..." sosok itu mulai berbicara, suaranya lirih sekali, Hayate yang tengah sekarat pun hanya sedikit menangkap suaranya.
Moncong pistol itu di tekan semakin dalam.
"...kalian mengabaikannya dan membuatnya sedih."
DORRR!
Tubuh Hayate pun telah tergeletak tak berdaya, ia meninggal dengan sekejap.
Sosok itu melempar sembarangan pistol milik Hayate lalu menghilang dengan cepat.
#.#.#.#.#.#.#
Bunyi guyuran air dari dalam suara ruangan mendadak berhenti bersamaan dengan terbuka pintu ruangan tersebut.
Sesosok pria berambut putih keluar dari ruangan yang ternyata kamar mandi tersebut seraya menggosok rambutnya yang basah.
Langkah kakinya membawa kepada gantungan baju kepolisiannya, ia sedang mencari note yang biasa ia bawa kemana-mana dan setelah merogoh saku-saku baju dan celananya, akhirnya ia bisa menemukan benda tersebut.
Ia mengambil note berukuran sedang tersebut dan bersamaan dengan saat ia menarik, secarik kertas juga ikut terjatuh dan tergeletak di dekat kakinya.
Dengan dahi berkerut ia mengambil kertas tersebut lalu membacanya.
Mata hitam sayunya pun terbelalak kaget membaca pesan tersebut.
Ia meremas kertas tersebut lalu membuangnya sembarangan.
"Mungkin hanya orang iseng," gumamnya lalu dengan segera memakai baju dan yang lainnya.
Sudah biasa, anggota kepolisian seperti dia mendapat surat teror atau ancaman seperti itu. Dan biasanya saja ia selalu tenang mendapatkan pesan seperti itu.
Tetapi entah kenapa kali ini terasa berbeda. Firasatnya mengatakan jika hal ini bukan gertakan saja.
Lelaki itu menghela nafasnya lalu membaringkan badannya di kasur.
Mungkin hanya perasaannya saja.
Mungkin...
#*#*#*#*#*#*#*#
Sosok pemuda tengah berjalan dengan membawa kantung plastik. Wajahnya terlihat murung, kadang terlihat sedih juga kadang terlihat marah.
Ia menghentikan langkahnya saat telah sampai ke tempat tujuan, bibirnya menyeringai senang.
Dengan perlahan ia memasuki sebuah apartement bertingkat dan memasukinya dengan santai. Tapakan kakinya terdengar di lorong apartement yang mulai sepi karena hari telah malam.
Langkahnya berhenti di sebuah kamar, ia memencet bel kamar tersebut berkali-kali.
Tak berlangsung lama, pintu tersebut terbuka dan memperlihatkan sosok lelaki berambut hitam dengan iris senada dengan rambutnya, tengah mengenakan kaos berwarna krem dan juga celana panjang berwarna hitam.
"Maaf mengganggu tidurmu, bolehkan aku menginap malam ini saja?" tanya sang tamu ramah. Sosok berambut hitam itu menganggukkan kepalanya lalu mempersilahkan sang tamu untuk memasuki kamarnya.
Sosok itu menutup pintunya lalu melangkah menuju kasurnya, dan menghela nafas melihat sang tamu sudah duduk dengan seenaknya sendiri di atas kasurnya.
"Ada apa?" tanyanya malas.
Sang tamu pun hanya tersenyum aneh.
"Aku hanya melarikan diri. Tempatmu adalah yang paling aman bagiku." Jawab sosok itu.
"Maksudmu?"
Sang tamu lekas tertawa jenaka, "Nanti juga kau tahu, besok aku adalah kuliah pagi jadi aku harus segera tidur. Aku pinjam kamar mandimu ya? Oh dan juga sofamu. Kau bisa tidur duluan, oyasumi~" ujarnya lalu melangkah menuju ke kamar mandi, dengan masih membawa kantung plastik di tangannya.
Sosok itu baru menyadari jika ia masih membawa kantung tersebut saat akan melepas bajunya.
"Kenapa masih aku bawa saja sih." Keluhnya lalu menggantungkan kantung plastik tersebut ke gantungan baju lalu ia melanjutkan kegiatan mandinya.
Hari ini ia benar-benar merasa kesal dan juga... puas. Maka dari itu, senyum tidak lekas menghilang dari wajahnya.
#..#.#..#.#..#.#..#
Kelas di pulangkan pagi. Lagi.
Sai mengehela nafas resah. Lagi.
Saat ia datang bersama Naruto tadi, mereka sudah di gemparkan dengan sebuah berita pembunuhan. Lagi.
Sialnya, tempat pembunuhannya tepat di depan ruang kelasnya, jadi otomatis ia tidak bisa memasuki kelasnya karena garis legendaris itu telah membatasi dirinya dengan mayat sang korban, ralat, kelasnya.
"Ah Sai..." Sai membalikkan badannya saat mendengar namanya di panggil, "Aku ada pertemuan soal lomba fotografi beberapa minggu lagi, kalau mau pulang atau jalan bareng tunggu aku di depan gedung utama ya, Jaa Naa.."
Setelah itu, Naruto lekas meninggalkan Sai dengan terburu-buru, berkali-kali pemuda pirang itu menabrak orang lain di depannya seperti di kejar sesuatu.
Sai tersenyum pelan. Di kejar waktu mungkin jawaban yang tepat.
Sebentar lagi Naruto dan beberapa teman di kelasnya akan mengikuti lomba fotografer. Kalau Sai tidak salah dengar, Naruto dan teman-temannya akan membawa Konoha diantara 4 kota besar, seperti Iwa, Mizu, Suna, dan Kumo.
Mahasiswa kesenian fotografi semester kelima itu benar-benar berniat memenangkan perlombaan itu hingga berlatih mati-matian. Masalah di Universitas ini tidak membuatnya pantang semangat.
Tetapi mungkin ada satu hal yang membuat pemuda pirang itu sampai menginap di apartementnya kemarin malam, dan hingga pagi datang Naruto sama sekali tidak mau menceritakan masalahnya.
Mereka memang terlihat dekat, tetapi Naruto juga tidak akan dengan gamblang menceritakan semua masalahnya kepada dirinya yang hanya baru di kenalnya selama 3 bulan kan?
Dengan kepala menunduk, ia melangkah menjauhi gedung fakultasnya, tangannya menggenggam selempangan tasnya dengan erat menahan gejolak emosi yang akhir-akhir ini tidak terdefinisikan olehnya.
Kemarin malam, saat Naruto menginap di apartementnya, jujur saja ia merasa sangat sulit sekali memejamkan mata walaupun Naruto sendiri telah tertidur pulas di sofa, jantungnya terasa akan keluar sangking cepat degupnya.
Kalau memang itu karena gelaja sakit jantung, maaf saja ia tidak mau mati terlalu muda. Masih banyak masa depan yang ingin diraihnya. Tetapi tetap saja dia merasa takut.
"Cepat berikan uangmu!"
"Ja-Jangan senpai, saya benar-benar membutuhkan uang i-"
"Halah! Kau dengan seenaknya lewat di hadapanku tanpa permisi, minta di hajar atau berikan uangmu itu!?"
Sai yang akan melewati lorong menuju tangga itu lekas menyembunyikan dirinya di balik dinding, jantungnya lagi-lagi berdegup kencang, takut ketahuan oleh berandalan kampus ini.
"Jangan sen-"
Ia mendengar kakak kelasnya itu meninju mulut seseorang yang sepertinya satu tingkatan dengannya, anak itu masih saja mempertahankan uangnya walaupun wajahnya telah babak belur. Uang itu terlalu berharga dari pada nyawanya, anak itu benar-benar membutuhkan uang itu dan seenaknya berandalan itu mengambilnya?
Sai berdecak kesal lalu dengan cepat ia mendorong kakak kelasya itu sebelum meninju sang mahasiswa dan lekas menyeret mahasiswa itu untuk lari menghindari sang kakak kelas.
"Woi berhenti!" sang kakak kelas berambut coklat pendek tersebut mengambil sebilah kayu yang kebetulan *Sengaja di taruh sama Author kwkwk* berada di sana dan berlari mengejar mereka berdua.
Pria itu lekas mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang.
"Cepat hadang mereka berdua di depan kebun pertanian dan seret mereka masuk ke kesana!" perintahnya cepat.
Ia melanjutkan larinya dan menyeringai saat kedua mangsanya itu terpojok dan di geret paksa masuk ke dalam ruangan luas berisi berbagai tanaman, tempat itu cukup sepi karena mahasiswa pertanian pun mungkin sedang tidak ada jadwal untuk lapangan. Tempat yang sangat pas untuk eksekusi.
Lelaki itu pun menyeringai senang.
"Wah... wah..." lelaki itu berjalan mendekati Sai dan juga anak yang ia selamatkan lalu mengcungkan kayunya, "Apa kau benar-benar ingin mendapat predikat target favorit bagi kami huh? Seharusnya kau tidak ikut campur saat aku menghabisinya.." ujarnya keras.
Sai memincingkan matanya, "Mana mungkin aku kabur jika melihat seseorang di hajar hanya karena uang?" balasnya tak kalah keras.
"Sok pahlawan! Kau akan menerima akibat dari sok pahlawanmu itu!" ujar lelaki berambut hitam yang diikat ke atas seperti nanas seraya berjalan ke arah Sai di ikuti kedua temannya yang lain untuk menghajar Sai dan sang mahasiwa tersebut.
Pembullyan seperti ini sudah biasa di salah satu Universitas terkenal di Konoha tersebut, sudah berkali-kali geng perusak itu dihukum namun sama sekali tidak membuat mereka jera.
Para mahasiswa yang mempergoki aksi pembullyan pun tidak berani menolong atau melapor karena tidak ingin menjadi target pembullyan juga.
Berkali-kali Sai berkelit dari pukulan beruntun mereka bertiga, sedangkan seseorang yang tengah di selamatkannya hanya duduk meringkuk karena kesakitan.
Sai yang menyadari hal itu segera mencari cela untuk kabur dan setelah menemukannya ia segera memandang mahasiswa itu. Dari lirikan mata ia mengisyaratkan mahasiswa itu segera kabur.
Mahasiswa itu menggelengkan kepalanya, menolak kabur tanpa Sai bersamanya, dia tidak bisa keluar sendirian tanpa penyelamatnya kan?
Pemuda berambut hitam itu berdecak kesal lalu berteriak kencang, "Cepat pergi!" mahasiswa itu tersentak lalu memutuskan lari dari cela-cela yang dibuat Sai.
Ketiga pembully yang mengetahui hal itu semakin kesal lalu memukul Sai hingga sudut bibirnya berdarah.
"Kau memang brengsek!"
Pria berambut oranye berbadan gemuk dengan cepat melayangkan tinjuannya kembali pada wajah Sai sebelum suara pintu kebun dari besi yang terbuka mengalihkan perhatian mereka.
Suara mahasiswa-mahasiswa dari luar membuat mereka bertiga menghentikan perbuatannya lalu menunjuk Sai kesal, "Awas saja kau mengadukan pada siapapun, akan kubuat kau babak belur lebih dari ini!" makinya lalu segera berlari keluar dari perkebunan yang ditutupi oleh semacam terpal itu.
Sai masih berdiam diri disana seraya menghapus jejak darah di sudut bibirnya. Ia memutuskan untuk berdiri dan mengobati dirinya di UKS, baru beberapa langkah ia memutuskan untuk berhenti saat melihat sosok familiar tengah berdiri menghalangi jalan keluar.
"Aku ingat baru beberapa hari yang lalu kau juga di hajar oleh mereka.." orang itu membuka tas ranselnya lalu mengeluarkan kotak kecil berwarna putih.
"Kalau kau mengobatinya di UKS, para petugas yang berjaga disana pun akan tahu dan menanyaimu macam-macam. Kau tidak boleh mengatakan hal ini pada dosen kan?" orang itu menyuruh Sai untuk duduk sedangkan dirinya meneteskan obat merah pada kapas, dengan perlahan kapas tersebut ia tutulkan pada sudut bibir Sai yang terluka.
Sai memandang sang kakak kelas yang dalam diam mengobati wajahnya yang hampir saja penuh dengan lebam. Wajah senpainya saat mengobati seperti ini terlihat berbeda dari biasanya, terlihat lebih lembut dan ramah.
Setelah menaruh plester luka pada sudut bibir Sai, Sasuke segera mengemasi otak obatnya lalu memasukkanya pada tas birunya.
"Ayo segera pergi dari sini, mahasiswa pertanian akan menuju kemari." Ujarnya lalu berjalan meninggalkan Sai. Sai sendiri pun segera berdiri lalu berlari kecil untuk mengimbangi langkahnya dengan Sasuke.
"Sasuke-san, kau sepertinya tahu sekali tentang geng itu. Apa sudah biasa kau mengobati para korban mereka?" tanya Sai kemudian.
Sasuke menganggukkan kepalanya, "Lebih baik segera aku obati dari pada mereka melapor atau kepergok dengan luka dan mendapat perlakuan lebih buruk lagi."
"Bukannya lebih baik melapor? Para korban bully juga pasti merasa aman kan?"
Sasuke pun hanya diam.
Mereka telah berjalan dalam keheningan hingga pada halaman depan gedung utama.
"Sai..." Sasuke pun membuka suaranya, "Apapun yang terjadi, jangan bermain-main dengan mereka. Kau harus menghindar dari mereka apapun yang terjadi."
Sasuke menghentikan langkahnya. Wajahnya terlihat sangat serius saat membicarakan geng berandal tersebut.
Sai melihat Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya lalu memandang dirinya.
"Bagaimana dengan Naruto? Ku dengar ia akan mengikuti lomba beberapa hari lagi." Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Naruto-senpai benar-benar serius dengan lomba itu dan berlatih sepanjang hari, kasus pembunuhan berturut-turut di Universitas ini tidak menghentikan niatnya untuk berlatih bersama teman-temannya."
Senyum tipis Sasuke tidak luput dari perhatian Sai. Pemuda berambut hitam pendek itu bisa merasakan betapa perhatiannya sosok Sasuke kepada Naruto walaupun hubungan persahabatan mereka merenggang.
Sai benar-benar ingin tahu bagaimana dekatnya mereka di masa lalu, diam-diam ia selalu bertanya pada setiap orang yang telah menghuni Universitas ini lebih lama tentang hubungan mereka berdua. Mereka selalu menceritakannya dengan semangat namun tiba-tiba saja mereka berhenti lalu memandang apapun itu dengan sendu, membuatnya tidak tahu apa yang membuat mereka berdua seperti itu.
"Sasuke-san..." panggilnya pelan.
Sasuke membalas panggilan Sai dengan 'Hn' khasnya.
"Apakah aku boleh membantu kalian berdua untuk bersama kembali?" tanyanya. Sasuke membelalakan matanya sekejap, lalu memejamkannya.
"Itu tidak mungkin Sai... Hubungan kami sudah terlalu rusak dan tidak akan pernah bisa di perbaiki kembali," ujarnya lirih lalu membuka kedua matanya.
"Aku pergi dahulu, ada hal yang harus aku lakukan," ujar Sasuke lalu berjalan berlainan arah, ia berjalan dengan sedikit berlari namun tiba-tiba saja ia berhenti dan membalikkan badannya, "Terima kasih Sai, kau memang baik." Dan ia pun melanjutkan langkahnya kembali.
Sai menganggukkan kepalanya lalu juga akan melanjutkan langkahnya saat sebuah suara memanggil dirinya.
"Sai! Tunggu aku!"
Sai membalikkan badannya, pandangannya sedikit melebar.
Ia masih bisa melihat Sasuke yang berjalan membelakanginya, dan juga Naruto yang tengah berlari ke arahnya.
Mereka berdua akan bertemu.
Ia menghela nafas kecewa saat Naruto masih saja lari tanpa memperdulikan Sasuke yang berjalan bersimpangan dengannya.
Apa hubungan mereka serenggang itu hingga tidak ingin bertegur sapa sekali saja?
Naruto sampai di tempat berdiri bersamaan dengan Sasuke yang berbelok. Sai yakin senpai berambut hitam itu merasa sakit saat di abaikan begitu saja oleh Naruto, dan hal itu membuatnya kesal.
"Kau telah menungguku lama ya? Maaf ya, tadi aku sudah cepat-cepat ingin per-"
"Naruto."
Naruto menaikkan sebelah alisnya mendengar perubahan suara Sai, "Ada apa?"
"Apa sulitnya untuk berbaikan dengannya? Dia sangat peduli padamu, dan kau mengabaikannya begitu saja?" tukas Sai tajam. Ia tidak tahu jika Naruto termasuk tipe pendedam seperti itu.
"Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti," balas Naruto bingung, ia tidak tahu kemana arah pembicaraan Sai. Memangnya ia bermusuhan dengan siapa coba?
Sai berdecak pelan lalu membalikkan badannya, "Aku mau mampir ke perpustakan kota, sendirian." Ujarnya lalu berjalan cepat meninggalkan Naruto.
"Hei!" Naruto memandang Sai tak mengerti, ia ingat betul jika sebelumnya ia tidak mempunyai masalah dengan Sai.
Ia menelan ludahnya dengan susah payah.
Jangan bilang Sai tahu jika ia sedikit bermasalah dengan seseorang dan membuatnya memutuskan untuk menginap di apartement Sai untuk menghindari orang itu.
Ini benar-benar tidak beres.
To Be Continue
Buat yang protes karena NaruSasu nya nggak nampak sama sekali, itu memang sengaja aku bikin seperti itu, bisa jadi demi plot ceritanya, mereka tidak akan nampak sama sekali dan baru nampak di akhir chapter.
Sementara aku lihatin NaruSai sama SasuSai (Friendship) aja dulu, tapi ini beneran fic NaruSasu. Kenapa nggak di tampakkan? Karena ini fic genre misteri, jadi biar kalian nebak-nebak ini dan itu sambil nahan kesabaran hehehehe
Buat rated M nya, bukan buat lemon (Walaupun nanti ada adegan yang kayak gitu, tapi selintas aja)
Buat typo atau kesalahan saya, mohon di koreksi, di koreksi sambil nge flame juga nggak apa-apa. Tenang saja saya nggak akan terpuruk kok, di hina itu salah satu cobaan dalam berkarya hehehe
Maaf nggak bisa bales review kalian satu-satu, tetapi yang pasti aku SANGAT BERTERIMA KASIH sama kalian yang sudah mau meluangkan waktu buat baca fic ini dan meng review nya.
Special Thanks for : winderkNS, SaphireOnyx Namiuchimaki, vlogriachan, dnya, dekdes, deade rosita, Lhanddvhianyynarusasu, Sinush, Oranyellow-chan, sekikaoru, Asuji Posya, CrowCakes, LKCTJ94, ItaKyuu1023, Uchiha NaruSasu, Yuuki N.S.
