Chapter 2~

Title : Love from Akashi Seijuro

Rating : K+

Disclaimer : Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Genre : Romance, Friendship

::Love from Akashi Seijuro::


.

.

.

.

.

Pagi hari yang cerah kembali menyinari keenam pemuda pelangi itu, mulai dari sudut kanan terlihat seorang pemuda bersurai hijau dengan benda aneh miliknya, kemudian seorang cowok shota *maybe* dengan wajah datar serta rambut biru langitnya, disampingnya berdiri seorang model terkenal berwajah tampan serta berambut pirang yang sedang sibuk bertengkar dengan pemuda berkulit tan serta berambut biru gelap. Dibelakangnya terlihat seorang pemuda tinggi bersurai ungu dengan segudang snack-snack miliknya senantiasa berjalan beriringan dengan sang kapten berambut merah itu.

"Maaf aku ada urusan sebentar." Ucap sang kapten datar.

"Akashicchi mau kemana?" Pemuda berambut kuning yang tak lain adalah Kise Ryouta menyudahi pertengkarannya dan berbalik menatap wajah sang kapten.

"Bukan urusan kalian." Glek. Semua terdiam mendengar kata-kata dingin nan absolute seorang Akashi Seijuro.

Baiklah, setelah itu Akashi dengan segera meninggalkan kelima temannya itu. Perlahan ia berjalan seorang diri menyusuri koridor sekolah yang ramai akan siswa-siswi yang baru saja berdatangan. Sesekali Akashi terlihat memutar-mutar gunting merahnya membuat siapa saja yang melihatnya pasti merasa bergidik ngeri melihat gunting yang tajam itu ditangan seorang siswa misterius seperti Akashi. Tetapi tentu saja Akashi tetap cuek dan tetap melangkah menyusuri koridor sekolahnya.

"Ohayou…" Akashi menghentikan langkahnya refleks ketika mendengar suara yang cukup lembut di belakangnya. Dengan segera Akashi memalingkan wajahnya dan menatap wajah orang yang telah berani menyapanya selain para anggota Kiseki no Sedai.

Akashi tak membalas suara itu tetapi ia hanya tersenyum samar, terlalu samar sehingga orang yang berdiri dihadapannya tak dapat melihat senyumannya itu. Kali ini Akashi benar-benar tersenyum bukan menyeringai seperti ia akan mencabik-cabik siapa saja yang berani menatap matanya ataupun membangkangnya. Saat ini sepasang mata heterochrome itu tengah menangkap sepasang bola mata onyx dihadapannya. Bola mata yang indah, wajah yang indah serta postur tubuh yang cukup membuat Akashi menatapnya. Seorang gadis berambut dark purple itulah sosok yang ada dihadapannya saat ini.

"Ohayou." Sang gadis bersurai ungu gelap itu mengulangi sapaannya kepada sang 'Emperor'. Tetapi tetap saja Akashi tak membuka mulutnya sedikitpun dan malah melangkah maju melewati gadis itu.

"Heh? Chotto matte~" Ucap gadis itu saat melihat Akashi berjalan membelakanginya.

'Uh.. aho!' Umpat gadis itu kesal, ya kesal karena terabaikan. Padahal niatnya itu baik karena ia hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada Akashi karena pemuda bersurai merah itu telah menolongnya beberapa waktu yang lalu.

Flash Back

"Kenapa masih berdiri disana?" Aku kembali bersuara saat mendapati sosok pemuda bersurai merah itu masih saja berada dihadapanku.

"Aku tidak suka menggu." Jawabnya singkat tetapi sangat membuatku bingung.

"Diluar tidak lagi hujan, lalu apa yang kau tunggu?" Aku kembali berbicara dengannya. Dingin… ya tatapannya begitu menusuk tetapi aku sangat menyukai sepasang bola mata heterochrome yang dimilikinya. Warna emas dan merah— membuatnya nampak begitu indah.

"KAU!" Terdapat penekanan dari satu kata yang diucapkannya itu. Dan aku yang tak mengerti hanya menatapnya.

"Tak ada yang menyuruhmu menungguku." Jawabku kesal juga sedikit malu.

"Aku tidak suka disuruh-suruh dan ini kemauanku sendiri."

"Aku bisa pulang sendiri."

"Tidak!"

"Aku bukan anak kecil jadi aku bisa pulang sendiri!"

"Walaupun dengan kaki yang tak dapat digerakkan seperti itu?"

Ukhhh, seketika aku terdiam dan tertunduk lemas mendengar kata-kata terakhirnya. Untuk apa aku menyembunyikannya sejak tadi jika pada akhirnya ia berkata demikian. Ya, memang apa yang dikatakannya itu benar 'Kakiku tak dapat digerakkan.' sama sekali saat ini, mengapa? Entahlah hal ini sudah sering sekali terjadi beberapa bulan belakangan ini. Aku hanya diam dan berharap ia pergi secepatnya. Tetapi semua yang kuharapkan tak sesuai kenyataan.

"Apa yang kau lakukan?"

"Apa kau masih mau membantah perkataanku?" Pemuda bersurai merah itu menatapku lebih dingin. Sambil membantuku berdiri perlahan pemuda itu mulai menggendongku dan meletakkan tubuhku dipunggungnya tentu saja secara paksa, lagi pula siapa juga yang mau digendok oleh lelaki yang tak dikenal seperti ini. Oh tidak, sebenarnya aku cukup mengenal pemuda bersurai merah itu karena ia cukup terkenal dikalangan para siswi. Akashi Seijuro yang tak lain adalah kaptan club basket sekolah kami dan ia adalah pemimpin generasi keajaiban itu, ya itulah sosok pemuda bersurai merah yang saat ini bersamaku.

"Turunkan aku…..~" Teriakan panjang kini menggema diruang kelas itu. Aku benar-benar tak menduga ia melakukan hal ini. Terlihat baik memang karena ia menolongku tetapi cukup menyeramkan pula bagiku karena ditolong oleh seorang cowok dingin serta misterius dan tentu saja yang paling penting aku merasa tak enak hati padanya.

"Kau takut?" Akhirnya ia membuka mulutnya setelah mengacuhkanku cukup lama dan saat ini kami tengah berada di jalan yang sepi karena hari sudah cukup malam.

"Iya, padamu!" Jawabku singkat dan— ia menghentikan langkanya. 'Apakah ia akan menjatuhkanku dan meninggalkanku sendirian disini?' Fikirku sedikit berburuk sangka.

"Kau aneh."

'Apaaa? Aneh?' Batinku. Hei hei yang aneh itu kan dirimu kenapa kau malah mengataiku aneh apa kau tidak sadar dengan sikapmu yang dingin itu.

Tak lama setelah itu ia kembali melangkah maju dan tentu saja ia masih terus menggendongku. Walaupun tak enak hati tetapi aku juga cukup senang karena ia mau menolongku yang sama sekali tak dikenalnya ini. Sepanjang perjalanan kami hanya diam dan hembusan anginlah yang mendominasi suasana saat ini.

'Sampai kapan ia akan menggendongku?'

"Sampai kau memberi tau dimana rumahmu sehingga aku bisa mengantarmu pulang."

'Apa? Mengapa ia bisa mengetahui isi fikiranku?'

"Dimana?" Kali ini ia kembali bertanya.

"Apa tidak apa-apa?" Bukannya menjawab aku malah balik bertanya dan kufikir ini wajar.

"Cepat jawab." Perintahnya absolute.

"Uh…" Aku terdiam sesaat mencoba mendinginkan fikiranku. "Dari jalan ini kau belok kanan saja kemudian ikuti jalan tersebut, ketika ada toko bunga kau belok kiri dan disanalah rumahku. Tidak dekat tetapi tidak jauh juga sih."

"Souka."

Kami kembali terdiam karena tak ada topic yang harus dibicarakan lagi pula sebentar lagi kami sampai di rumahku. Setelah berbelok dari toko bunga ini aku akan segera berpisah darinya. Dan ketika aku terdiam aku memikirkan tentang sosok pemuda bersurai merah ini. Entah mengapa walaupun sikapnya yang dingin tetapi orang ini terasa begitu hangat.

"Sebentar lagi sampai." Aku sedikit berteriak gembira.

"Oh.." Tetapi orang itu hanya ber-oh ria, menyebalkan!

"Apa kakimu sudah dapat digerakkan?" Tanyanya setelah kami sampai di depan sebuah rumah bertuliskan 'Shiroi.'

"Sudah walaupun masih sedikit kaku." Aku mulai berjalan memasuki rumah yang tak lain adalah rumah keluargaku itu "Arigatou~" Aku sedikit membungkukkan tubuhku saat berterimakasih padanya.

"Ya." Lagi-lagi hanya jawaban singkat yang ia berikan.

"Hati-hati ya~" Pemuda bersurai merah itu tak membalas kata-kata terakhirku tetapi aku yakin ia pasti mendengarnya. Awalnya aku ingin menawarkannya masuk dan istirahat sejenak di rumahku tetapi orang seperti itu tidak mungkin mau menerima tawaran tersebut. Ya… kubiarkan saja seperti itu~

.

.

.

"Terlalu misterius." Aku kembali berjalan memasuki ruang kelasku ketika sosok pemuda berambut merah itu telah tak nampak lagi.

_Kiseki no Sedai_

"Hari ini tidak menyenangkan." Keluh Aomine.

"Kau kurang beruntung hari ini." Ejek midorima.

"Urusaiiii!"

"Ano minna apakah Akashicchi kembali menghilang?" Tanya Kise, membuat teman-temannya mencari-cari sosok sang kapten.

"Biarkan saja sesukanya."

"Entahlah aku tak melihat Akashi-kun."

"Mungkin Akashichin sedang jalan-jalan."

"Yasudahlah toh sebentar lagi kita selesai mengerjakan tugas ini dan sekalian saja kita mencari Akashicchi." Kise tersenyum riang dan disambut anggukan oleh teman-temannya.

Di tempat lain terlihat seorang pemuda bersurai merah tengah memejamkan matanya disebuah ruangan yang didominasi olah warna putih itu. Sesekali pemuda tersebut membuka matanya dan mendapati seorang wanita tengah duduk di depan meja kerjanya.

"Istirahatlah Akashi-kun." Ucap wanita itu sambil terus melakukan pekerjaannya.

Akashi hanya terdiam tak membalas perkataan wanita itu. Ia kembali memejamkan matanya karena kepalanya yang terasa pusing sejak pelajaran kedua dimulai. Entah kenapa kepalanya terasa sesakit ini, mungkin karena ia terlalu lelah berlatih serta melatih teman-temannya di club basket.

'Tch, kepalaku sakit sekali.' Keluh Akashi yang terlihat tengah memegangi kepalanya.

"Sumimasen." Terdengar suara seseorang dari balik pintu ruangan tersebut.

"Ya masuk saja." Wanita itu mempersilakan seseorang diluar sana untuk masuk. "Oh Kirei-chan." Ucap wanita tersebut ketika mendapati sesosok siswi tengah memasuki ruangan itu.

Akashi yang sedang merasakan sakit tentu saja mengacuhkan orang tersebut terlebih lagi ia sama sekali tak mengenal siswi itu. Ia hanya berbaring di sebuah ranjang dan terus memegangi kepalanya yang terasa pusing sambil berharap rasa sakit itu hilang serta ia dapat memejamkan matanya untuk sesaat.

"Maaf sensei kedatanganku menggangu, tetapi aku hanya ingin menyampaikan pesan dari kepala sekolah bahwa ia menunggu anda untuk membicarakan sesuatu di ruangannya bersama Hiro-sensei serta Maki-sensei." Siswi yang dipanggil 'Kirei-chan' itu berbicara apa adanya.

"Baiklah tetapi aku sedang ada pasien," Wanita itu berfikir sejenak. "….nah bagaimana kalau kau menggantikanku sebentar untuk menjaganya?"

"Demo, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Kirei.

"Hanya menemaninya disini kok." Jawab wanita itu sambil melemparkan seulas senyuman.

"Baiklah….~ hanya sebentar ya."

"Iya. Dan sepertinya ia sedang tertidur atau mencoba untuk tidur." Wanita itu melirik sebuah ranjang yang tertutup tirai putih sebelum ia beranjak pergi dari ruangannya.

Ruangan itu terlihat sepi karena Kirei hanya duduk diam di samping meja kerja sang sensei. Sementara itu Akashi yang entah tertidur atau tidak hanya diam seribu bahasa sambil terus menahan rasa sakit tentunya. Lama-kelamaan Kirei merasa bosan dan mulai memainkan game di ponselnya untuk menghilangkan kebosanan itu. Dari raut wajahnya ia nampak pernasaran dengan sosok yang ada dibalik tirai putih tersebut.

'Sepertinya ia tertidur.' Batin Kirei saat melirik tirai putih itu dari tempatnya berada.

Sementara itu Akashi yang berada dibalik tirai tersebut sama sekali tak tertidur dan malah harus menahan rasa sakit yang lebih dari sebelumnya. 'Ukhh…' Rintihnya tak bersuara. Sesaat setelah itu Akashi mencoba bangkit dari ranjangnya seolah berfikir jika ia duduk sebentar mungkin akan mengurangi rasa sakitnya, tetapi kali ini dugaannya salah~

"Akhh…itta-i." Rintih Akashi yang sekarang tak dapat lagi menyembunyikan suaranya.

"Eh?" Kirei yang mendengar suara itu segera meletakkan ponselnya diatas meja dan berjalan menghampiri sosok dibalik tirai tersebut yang tak lain adalah Akashi Seijuro yang ia kenal.

"Ukhh—kepalaku." Akashi masih terus memegangi kepalanya bahkan sesekali menarik rambutnya sendiri.

"Anata…." Kirei memandangi sosok Akashi sejenak sebelum ia memperdekat jarak antara dirinya dan Akashi untuk sekedar melihat keadaan Akashi yang terus merintih karena rasa sakit itu.

"Ukh..kkhh—"

.

.

.

.

.


Gomen ini sangat absurd dan ooc =="