BASED ON MASASHI KISHIMOTO'S CHARACTERS
WARNING: AU,TYPOS,OOC,Etc….
Don't LIKE Don't READ!
.
.
.
.
Naruto terus berjalan mondar mandir di ruang tamu rumahnya yang besar. Sesekali dia menatap handphonennya berharap ada panggilan masuk dari Hinata.
Sudah puluhan kali Naruto menelepon wanita indigo itu, tapi tanda telepon tidak aktif yang menjawab. Pesan singkat yang dikirimnya juga tidak mendapat balasan. Begitu juga dengan semua pesan melalui messenger, belum ada satupun tanda bahwa pesannya telah dibaca.
Dimana sekarang wanita itu? Dia takut terjadi sesuatu pada wanita yang telah menemaninya selama setahun terakhir. Apalagi hujan lebat dan angin kencang melanda daerah mereka.
Jika terjadi hal yang ditakutkan oleh Naruto pada wanita kesayangannya. Dia bersumpah tidak akan memaafkan dirinya sampai kapanpun.
"Demi Tuhan..kumohon, semoga dia baik-baik saja." lirih Naruto disela-sela kegiatannya yang terus menerus mondar mandir dari satu sisi ke sisi lain di ruang tamunya.
Bahkan dia tidak menghiraukan lagi kehadiran Sakura yang kini menatapnya dengan pandangan sendu. Sakura tidak menyangka kehadirannya menjadi malapetaka untuk keluarga kecil ini.
Sejujurnya, Sakura tidak mengetahui kalau Naruto telah menikah. Dia sengaja menghilang dari kehidupan Naruto karena dia sadar bahwa Naruto bukan pria yang dia cintai selama ini. Setelah bertemu dengan pria berambut raven saat menjadi dokter di kawasan perang, Sakura baru menyadari bahwa rasa cinta yang dulu dirasanya pada Naruto hanyalah kekaguman.
Kini Sakura diliputi perasaan bersalah pada wanita cantik yang sangat terkejut dengan kedatangannya. Wanita yang dia ketahui bernama Hinata.
Sakura juga tidak mampu menenangkan Naruto dalam keadaan seperti ini. Yang bisa dia lakukan hanya terdiam di sudut sofa dan sesekali mengusap air matanya yang terjatuh.
.
.
.
Naruto terus menjambak surai blondenya. Kekhawatirannya terjadi. Sesekali dia berteriak meluapkan rasa bersalahnya kepada Hinata. Untungnya saat ini, Sakura yang berada di posisi pengemudi. Jika Naruto yang mengemudi, mungkin akan terjadi kecelakaan lainnya.
Sesekali Sakura menoleh ke tempat duduk Naruto. Memastikan pria yang telah dianggapnya sebagai kakak ini tidak melakukan tindakan nekat seperti mengantukkan kepalanya ke dashbor atau kaca mobil.
Telepon dari kepolisian Konoha membuat Naruto panik. Dia berlari menuju garasi hingga tidak sadar masih mengunakan sandal rumah. Kabar yang memberitahu bahwa istrinya mengalami kecelakaan membuat Naruto tidak dapat berpikir jernih lagi.
"Dasar bodoh!Bodoh! Jika saja aku tadi menghentikannya, pasti hal ini tidak terjadi," sesal Naruto.
Sesampainya di rumah sakit, Naruto mendapati istrinya dalam keadaan lemah dan penuh luka. Kepalanya dibalut perban dan wajah Hinata yang biasanya dilingkupi oleh semburat merah kini telah sirna. Beberapa goresan luka juga terdapat di wajah cantiknya.
Naruto semakin tidak berdaya melihat keadaan wanita dihadapannya kini. "Berdoalah pada Kami Sama agar dia mampu melewati masa kritisnya,"ucap dokter dengan rambut perak yang merawat Hinata."Jika hingga tiga hari ke depan kondisi istrimu belum stabil, bisa dipastikan dia akan koma seterusnya. Dan kami tidak dapat melakukan hal apapun lagi selain berharap dengan keajaiban."
Kalimat dari sang dokter menohok jantung Naruto. Tatapannya kosong dan tidak dapat berpikir jernih. Naruto hanya berdiri diam sembari menggenggam erat tangan Hinata yang terbaring lemah dengan beberapa alat di tubuhnya.
Semua ini kesalahannya. Hinata menderita karena ulahnya. Kapan dia bisa memberikan kebahagiaan pada wanita pucat dihadapannya ini. Mengapa disaat hatinya telah mulai menerima Hinata hal ini terjadi. Mengapa takdir sangat pandai memainkan mereka.
Tes..
Dan kini air mata penuh sesal berjatuhan dari iris safirnya. Sebanyak apapun air mata itu tumpah tidak akan bisa mengembalikan Hinata dalam keadaan seperti sedia kala. Yang bisa Naruto lakukan hanya berdoa dan meminta keajaiban pada Kami Sama, agar wanita cantik yang terbaring tak berdaya ini dapat melewati masa kritisnya.
.
.
.
Dimana aku sekarang? Dan siapa wanita itu?
Aku memandang penuh tanya pada wanita paruh baya yang duduk di bangku taman tidak jauh dariku,"Dimana kita berada?"
"Kau ada di tempat yang aman,Nak. Mendekatlah."
Aku terdiam tak bergerak. Kakiku susah digerakkan, bahkan saat otakku memberi perintah untuk bergerak. Kakiku seakan terikat kuat di tanah tempatku berpijak.
Aku menggelengkan kepala kuat-kuat,"Tidak bisa, aku tidak bisa."
Wanita paruh baya yang duduk dengan anggunnya di kursi taman itu hanya tersenyum lembut menatapku. "Berarti belum saatnya kita berkumpul, sayang. Pulanglah ke tempatmu yang semestinya. Ibu akan menunggu saat kita bertemu kembali. Dan satu hal lagi. Kau sangat cantik Hinata. Gadis kecil ibu telah tumbuh begitu cantik dan anggun."
Setelah itu wanita paruh baya yang memanggilku Hinata lenyap. Ditelan sinar yang menyakitkan mataku. Hinata? Siapa itu? Apakah itu namaku? Oh Tuhan, siapa gerangan wanita tadi? Aku seperti mengenal sosoknya, hanya saja aku tidak mampu mengingatnya. Apa yang terjadi denganku?
Dan yang lebih buruknya dimana aku berada sekarang. Tempat apa ini? Semuanya terasa asing. Bahkan diriku sendiri juga asing. Aku tidak mengerti apa yang terjadi sekarang. Tuhan, jika wanita itu bilang tempatku pulang bukan disini, lalu kemana aku harus melangkah?
Aku menangis. Aku tidak tau jalan pulang. Seperti ini rasanya tersesat. Tersesat di tempat asing disaat kau merasakan dirimu sendiri juga asing. Aku sendirian kini. Siapa saja kumohon,tolong aku!
"Hinata-"
Samar-samar aku mendengar suara seseorang. Hinata katanya? Bukankah wanita cantik tadi juga memanggilku Hinata.
"Hey aku disini!"teriakku yang sayangnya suara tidak dapat keluar seperti yang kuharapkan.
"Hinata! Apa kau mendengarku?"
"Ya! Aku mendengarmu! Aku disini!"teriakku lagi meskipun suaraku tidak mampu keluar.
"Hinata! Kumohon demi hidupku bangunlah! Jangan coba-coba meninggalkanku sendiri!"
Deg…
Suara ini, sangat familiar. Tapi dimana aku pernah mendengarnya?
"Hinata! Aku mencintaimu, kau harus tau itu. Aku sangat mencintaimu."
Sring…
Cahaya. Aku dapat melihatnya. Ada jalan menuju pintu itu. Semoga saja kakiku tidak kaku seperti tadi. Dengan sekuat tenaga aku berjalan menuju asal cahaya. Berharap tempat pulangku berada di balik pintu itu. Tertatih namun aku tetap berusaha, karena wanita cantik yang kutemui tadi mengatakan bahwa tempatku bukan disini. Sekarang aku harus kembali ke tempatku yang semestinya.
"Hinata! Kau kembali! Terima kasih,Kami Sama…" pria yang berada disampingku menangis penuh syukur disaat aku membuka mata.
Aku masih berusaha memfokuskan pandangan untuk melihat lebih jelas sosok pria di sampingku. Kabur. Yang terlihat dari netraku yang masih samar,pria ini memiliki surai blonde dan berkulit tan. Sangat familiar. Tapi aku tidak tau dimana pernah bertemu dengannya.
"Enngghhh" rintihku begitu menyadari ada ribuan jarum menusuk kepalaku.
Dokter dan para perawat memaksa pria bersurai blonde itu keluar. Meskipun pria itu menolak, namun penolakannya luluh begitu dokter menyatakan aku telah melewati masa kritis.
Kurasakan perawat rumah sakit dengan cekatan membuka alat-alat yang menopang kehidupanku selama beberapa hari ini. Dan semuanya menggelap disaat dokter menyuntikkan cairan ke tubuhku.
.
.
.
Wanita berwajah pucat dengan surai indigo meringis menahan sakit di kepalanya. Setelah tersadar dari koma, Hinata dipindahkan ke bangsal rumah sakit namun masih di dalam perawatan khusus.
Kini dihadapannya ada tiga orang dewasa. Seorang lelaki yang seumuran dengannya, dan sepasang paruh baya yang dia yakini sebagai pasangan suami istri—atau orang tua dari lelaki yang menatap sedih ke arahnya.
'Siapa mereka' batinnya. Apa mereka orang yang menolongku?
Gadis itu menatap intens pria yang seumuran dengannya. Dari kepala hingga ujung kaki, dan begitu berulang-ulang. Tapi tidak ada satu memori pun tentang pria dihadapannya yang keluar. Lalu dia menatap sepasang suami istri dihadapannya, dimana sang istri menunjukkan wajah penuh kekhawatiran dan tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Kami sama. Dan tak lupa pula dengan air matanya yang terus menerus mengalir melihat menantu kesayangannya telah sadar. Sedangkan pria paruh baya yang kini masih merangkul dan berusaha menenangkannya hanya bisa tersenyum bahagia, walau sorot matanya masih memiliki kekhawatiran melihat Hinata.
"Ma..Maaf, kalian siapa? A..pa kalian mengenalku?" tanya Hinata lemah dengan ekspresi bingung. Jujur, ketiga orang dewasa di depannya tidak satu pun yang dikenalnya. Bahkan dia tidak pernah mengingat mereka pernah bertemu atau berpapasan dimana. Namun, dia merasakan sesuatu yang hangat di hatinya melihat ketiga sosok itu.
Wanita paruh baya dengan rambut merah panjang melepaskan rangkulan suaminya dan berjalan ke sisi Hinata. "Istirahatlah sayang. Jangan mengingat hal yang belum bisa kau ingat. Tapi untuk sekedar kau ketahui, aku adalah Mama mu. Ibu dari suamimu."
Wanita paruh baya yang mengaku sebagai ibu mertua itu, membelai rambut Hinata yang masih terbalut perban. Dan mengelus pipi gembilnya yang pucat. Ucapan syukur pada Kami Sama masih terus bergumam dari bibirnya. Sedangkan pria yang seumuran dengan Hinata yang dia yakini sebagai suaminya, hanya memandangnya dengan sorot mata penuh kesedihan. Jika dikatakan wanita disisinya ini dia adalah ibu mertuanya, maka pria dua puluh tahunan di hadapannya adalah suaminya. Suami yang dia lupakan.
Hinata berusaha menggali informasi lebih dari neuron kepalanya. Namun yang didapatkannya hanya rasa sakit yang menusuk. Sepertinya saraf memori Hinata belum memberi izin untuk memberikan informasi yang sangat ingin dia ketahui.
Melihat Hinata meringis kesakitan, Naruto yang sedari tadi hanya memandang getir kearah Hinata langsung berubah ekspresi menjadi cemas. Dia merangkul tubuh lemah Hinata, dan berusaha menenangkannya.
"Jangan diingat, jika kau belum mampu" itu bisiknya berulang ulang dan terus membelai rambut indigo milik Hinata.
Yaahh..suara pria ini sangat familiar, batin Hinata.
TBC
Terima kasih yang udah mau nyempati baca fic ini **ojigi45derajat
Buat yang FAV FOLLOW n REVIEW juga aku ucapin makasih banyak..
Balas Review selagi sempat,,
GUEST n Anita Hyuga: Tenang aja, Hinata gak bakalan mati. Cukup sekali saja aq membunuh karakter Hinata di fic T_T. Dan untuk orang ketiga aq belum bisa bikin, belom dapat feel untuk masuki orang ketiga di fic ini. Mungkin untuk fic tau chapter selanjutnya bisa dipertimbangkan. *ini fic chap pertama aku tolong dimaklumi ya… T_T
Rinne Ten: Aduuuhhh..gimana nih. Aku udah buat Hinatanya amnesia. Aku belum bisa bikin fic dengan kharakter buta atau lumpuh. Mungkin untuk fic selanjutnya bakal dicoba. Trims Rinne-san sarannya :*
Riku: Nanti Naruto Pov nya ada, di chapter2 selanjutnya mungkin…
Hinata Lovers: Ihhh..kamu tau aja dehh. Tebakanmu benar 100%.
And buat semua yang review lanjut, ini lanjutannya. Smoga kalian suka. Maaf banget jika ceritanya monoton dan abal-abal…
SEE U ALL in Next Chap :* :* :*
