-SEVENTEEN-

Warning!

Typo bertebaran. Mengandung unsur bahasa yang agak kasar, blak-blakkan, dan tanpa perasaan (?). Boys X Boys. YAOI

Enjoy reading!

Don't forget, after reading Review, Fav, and Follow.

...

"Yak! Apa kau menungguku?" tanya Jihoon yang tiba-tiba saja mendapati Wonwoo duduk di depan teras mereka seraya melamunkan sesuatu. Jihoon beralih duduk di samping pemuda berwajah emo itu, tak memperdulikan rasa lelah pada tubuhnya yang mengharuskannya untuk segera beristirahat.

"Udara malam ini, benar-benar sangat sejuk! Apa Seungkwan sudah tidur?" tanya Jihoon lagi, dan Wonwoo hanya diam mengangguk. Sebenarnya Jihoon dan Wonwoo jarang sekali berbicara meskipun satu rumah dan satu kamar. Yap! Mereka memang berbagi kamar bahkan juga berbagi kasur yang sama tapi, satu kesempatanpun Wonwoo dan Jihoon tak pernah saling berbicara secara pribadi seperti saat ini. Duduk hanya berdua di tengah malam yang benar-benar dingin.

"Apa kau pernah putus asa?" tanya Wonwoo tiba-tiba. Jihoon menoleh dan menatapnya seketika.

"Semua orang pasti pernah putus asa. Wae?" Wonwoo tersenyum kecil yang bahkan nyaris tak terlihat.

"Ani! Aku hanya bertanya saja!"

"Nde! Aku tahu, bagaimana perasaanmu!" seketika Wonwoo langsung menoleh pada Jihoon yang tengah menatap jalan di depan rumah mereka.

"Mwoya?"

"Huft! Aku mengantuk! Besok, aku harus bekerja lagi! Selamat malam, Wonu-ya! Terima kasih sudah menungguku!" Jihoon beranjak dari duduknya dan memasuki rumah mereka.

Wonwoo masih terpaku tak berniat untuk sedikitpun ikut melangkah memasuki rumah mengikuti Jihoon. Wonwoo menunduk memainkan kedua jarinya, meninmbang apa yang harus ia lakukan untuk hidupnya selanjutnya. Apakah masih ada harapan? Atau justru, ia berhenti hingga detik ini saja? Atau? Ia masih memliki pilihan yang lain?

"Yak! Apa kau akan duduk disitu sampai pagi?" Jihoon kembali meneokkan kepalanya lewat pintu kecil rumah mereka membuat Wonwoo terkejut. Wonwoo tersenyum kecil.

"Nde, sebentar lagi aku akan masuk!"

"Cepatlah! Diluar sangatlah dingin meskipun sejuk! Kau bisa sakit nanti!" Jihoon berlalu begitu saja meninggalkan Wonwoo yang semakin bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

"Haruskah aku berhenti sekarang?"

...

KRAK!

"Shit!" Mingyu menghela nafas dan mengumpat dirinya sendiri karena menahan sakit di sekitar kaki kirinya yang tanpa henti mengeluarkan cairan merah kental yang berada di area lututnya hingga membuatnya kesusahan untuk berjalan.

"Kenapa sedari tadi rasanya berjalan saja sulit sekali? Shit! Awas saja jika aku bertemu dengan dokter sialan itu, aku tidak akan membiarkannya lepas!"

Dengan susah payah dan mau tidak mau Mingyu tetap berusaha untuk berjalan dan mengangkat kakinya untuk melangkah. Bibirnya tanpa henti mengutuk dokter sialan yang ia datangi saat jam prakteknya selesai. Ya, sebenarnya ini juga salahnya sendiri. Di saat waktu sudah menunjukkan hampir jam 12 malam dengan gedoran dan paksaan yang ia buat agar dokter pemilik klinik yang ia kunjungi mau membuka pintunya. Hm, tentu saja pintu itu langsung dibuka tapi tidak untuk mengobati luka Mingyu, melainkan untuk mengumpat orang yang berani membuat kericuhan di saat jam istirahat seperti ini.

"Argh~" Mingyu mengerang tak tahan dengan rasa nyeri yang semakin lama menjalar di sekujur tubuhnya. Kedua mata sayunya sesekali memejam untuk menahan rasa perih yang masih dialiri darah segarnya.

"Lepaskan aku!"

Mingyu menghentikan langkahnya saat mendengar teriakan menyedihkan yang entah berasal darimana.

"Tolong! Agh! Aku mohon, jangan—jangan—"

Mingyu mengedarkan pandangannya mencari dimana asal suara itu berasal. Mingyu memincingkan matanya saat ada sebuah bayangan yang muncul dari gang kecil yang gelap dan kumuh. Perlahan, Mingyu melangkahkan kaki pincangnya mendekati gang gelap yang membuat kedua telinganya semakin jelas mendengar suara-suara aneh yang masuk ke dalam telinganya.

"Sudahlah, nikmati saja manis! Aku tahu tempat ini memang tidak nyaman, tapi nikmatilah aku yakin kau akan menyukainya!"

Mingyu menyiapkan kuda-kuda penyerangnya. Ia menyandarkan tubuhnya di balik dinding untuk bersembunyi dan menunggu waktu yang tepat.

"Aku mohon—jebal! Aku—"

"Ahh, aku tahu kau pasti tidak akan mau jika tidak ada imbalan bukan?"

"Ani—jebal—hiks! Lepaskan aku—hiks! Tolong!"

"Kau tak perlu jual mahal dan berpura-pura menangis! Aku sudah sangat tahu jika tubuh sepertimu ini sudah banyak yang menjamahnya. Jadi, katakan berapa hargamu manis?"

PLAK!

Mingyu membulatkan kedua matanya saat mendengar pukulan atau tamparan keras dari orang yang ada di gang itu. Mingyu masih mencoba untuk tetap diam di tempatnya.

"Beraninya kau meludahiku!"

Mingyu tersenyum kecil, ahh dia tahu sekarang kenapa orang itu memukul 'mangsanya'.

"Baiklah Kim Mingyu, saatnya menjadi pahlawan kesiangan!" Mingyu berjalan penuh gaya dan gagah yang bersiap untuk mempergok orang yang berani berbuat tak senonoh itu pada orang yang tidak dikenalnya.

"Lepaskan dia!" seru Mingyu tajam yang membuat pemuda yang sepertinya seumuran dengannya menghentikan cumbuan kepada pemuda yang berada dalam kungkumannya.

"Siapa kau?" tanyanya tak kalah tajam. Mingyu bersiul tenang.

"Aku?" Mingyu beralih menatap pemuda cantik yang sudah bercucuran air mata itu, kedua belah bibirnya membentuk seringainya. "Lepaskan dia! Jika tidak, kau akan benar-benar menyesal setelah ini!"

"Cih! ancamanmu tidak berguna untukku!" Pemuda itu bergerak mendekati Mingyu bersiap untuk melayangkan bogem mentahnya namun dengan sigap Mingyu langsung menghindar.

DUG!

"Ah! Shit!" Mingyu meringis saat luka di kaki betisnya mengenai benturan keras pada tempat sampah yang berada di belakangnya saat ia menghindar.

Menyadari Mingyu yang lolos, pemuda itu tak menyerah untuk terus menyerang Mingyu dan kembali, bersiap untuk melayangkan bogem mentahnya.

BUAGH!

Mingyu membulatkan matanya saat pemuda itu yang belum sempat memukulnya dan ia juga belum menghindar atau ikut menghantamnya, tiba-tiba saja pemuda itu ambruk di depan matanya.

"Eoh, apa yang terjadi?" gumam Mingyu heran. Ia mendekati pemuda yang terkulai lemas itu dan memeriksa denyut nadinya. Tanpa Mingyu sadari, pemuda cantik yang ia tolong sudah mendekatinya dan pemuda yang tiba-tiba terkapar itu.

"Nadinya melemah!" lirihnya. Mingyu mendongak dan menatap pemuda cantik yang belum ia kenali siapa namanya itu.

"Bagaimana kau tahu?" tanya Mingyu heran.

"Di-dia—mengidap salah satu obat narkotika, dia kan pingsan jika kau menimbulkan suara gaduh di dekatnya!" lanjutnya. Mingyu kembali menatapnya penuh tanda tanya.

"Apa kau seorang psikolog?" tanya Mingyu, pemuda itu hanya menggeleng. Mingyu berfikir sejenak. "Ah, apa kau seorang dokter?" tebak Mingu. Pemuda itu menatap wajah tampan Mingyu kemudian mengangguk kecil. Mingyu mendengus lemah. "Hm, tidak ada gunanya kau mendiagnosa orang yang hampir memporkosanya dan menjatuhkan harga dirimu! Lebih baik kau pergi sekarang!" titah Mingyu, ia beranjak berdiri mendahului pemuda itu dengan langkah terpincang.

Pemuda itu menatap punggung Mingyu yang semakin menjauh dari penglihatannya.

"Chakkaman!" serunya membuat Mingyu menghentikan langkahnya dan menoleh. Pemuda itu sedikit berlari mendekati tempat Mingyu berdiri.

"Wae?" tanya Mingyu tak mengerti. Pemdua itu tersenyum cantik yang entah kenapa membuat jantung Mingyu seketika naik-turun tak teraturn.

"Kajja! Aku bisa mengobatimu!" ajaknya berjalan mendahului Mingyu.

"Eh!" Mingyu memekik, ia berfikir sejenak kemudian berlari menyusul pemuda cantik itu.

.

.

.

"Masuklah!" pemuda itu mempersilahkan Mingyu untuk memasuki flat kecilnya. Mingyu mengangguk dan ikut masuk di belakang pemuda itu. "Kau bisa duduk disini! Aku akan mengambil obatnya sebentar!" Mingyu kembali hanya mengangguk dan pemuda itu berlalu dari hadapannya.

Mingyu mengedarkan pandangannya di seluruh flat kecil yang cukup sederhana dan sangat rapi itu. seketika, kedua belah bibirnya melekuk membentuk sebuah senyuman saat melihat foto bingkai yang dipajang di dinding seluruh ruang tamu. Namun, seketika Mingyu memincingkan matanya saat melihat sebuah foto yang di dalamnya terdapat seseorang yang tak asing baginya terlebih itu hanya berdua dan berfoto mesra dimana pemuda cantik itu memeluk sayang pemuda tampan yang berada di sampingnya.

"Choi Seungcheol?" lirih Mingyu mengerutkan dahinya tak mengerti.

"Kenapa kau tidak duduk?" suara pemuda cantik itu membuyarkan lamunan Mingyu terhadap sepasang foto yang terlihat sangat dekat itu. Mingyu membalikkan badannya. "Duduklah, aku akan mengobati lukamu!" titahnya dan Mingyu kembali hanya menurut dan duduk di depan pemuda cantik itu sementara pemuda itu berjongkok dihadapannya.

"Jadi, benar kau seorang dokter?" tanya Mingyu kembali memastikan setelah ia membuka jenas yang Mingyu kenakan dan menekuknya perlahan keatas hanya untuk melihat luka di betis kaki Mingyu agar mendapatkan pengobatan.

"Apakah tampangku memang benar-benar tidak menyakinkan?" tanyanya tersenyum.

"Ani, bukan begitu—aw!" pekik Mingyu mengerang.

"Mianhae-mianhae, lukanya cukup dalam, dan ini harus dijahit! Bagaimana bisa kau menahannya hingga betismu bengkak seperti ini? Jika tidak cepat ditangani, kakimu bisa saja diamputasi!"

"Mwoya? Jinjjayo? Kau sedang bercanda kan?"

"Ani! Aku benar-benar serius. Tapi, untung saja aku menyediakan beberapa obat di flatku agar kakimu tidak terinfeksi. Kau tahan sebentar-nde! Ini benar-benar sangat sakit!"

"Mwoya? Apa yang kau—A-AW! Kau—"

"Tahanlah sedikit!" pemuda itu menekan betis luka pada kaki Mingyu dan kemudian bersiap untuk menyuntiknya.

"Ani-ani-ani!" Mingyu menahan tangan pemuda itu yang hendak menyuntikkan suntikan pada betisnya. "Kau tahu, betis itu ada tulang. Dan, kau tahu? Aku sangat takut dengan benda yang ada di tanganmu!" pemuda itu mendengus dan menurunkan suntikannya.

"Baiklah! Aku tidak akan menyutikmu. Aku akan menggunakan cara lain!"

"Nde! Aku setuju!" Mingyu menghela nafas lega.

"Benarkah kau setuju?"

"Wae? Asal tidak disuntik itu tidak masalah!"

"Kau tidak menyesal?" ulang pemuda itu. Mingyu menatapnya curiga.

"Ti-tidak!" gugup Mingyu.

"Baiklah! Aku akan bersiap untuk mengamputasi kakimu! Sekarang juga!" pemuda itu beranjak dari hadapannya.

"Baiklah! Eh! Apa kau bilang? Yak!" Mingyu hendak mengejar pemuda itu namun sayang saat selangkah ia melangkah kakinya benar-benar terasa berat dan membuatnya jatuh seketika.

"Shit!" umpat Mingyu mengerang dengan rasa sakit yang semakin menjadi itu.

"Gwenchana?" tanya pemuda itu kembali saat mendengar suara gaduh yang Mingyu buat. Pemuda cantik itu dengan segera menuntun Mingyu untuk kembali duduk di tempatnya. "Kau tidak apa-apa?"

"Ah! Sakit sekali rasanya!" Mingyu mengeluh sementara pemuda itu menarik nafasnya perlahan, berfikir sejenak apa kiranya yang harus ia lakukan untuk mengobati pemuda yang telah menolongnya itu.

"Em, oya—siapa namamu?" tanya pemuda itu tiba-tiba. Seketika Mingyu menoleh dan menatap pemuda cantik itu.

"Kim-Kim Mingyu!" tanpa Mingyu sadari pemuda cantik itu perlahan kembali meraih suntikan yang sempat ia letakkan di dekat kaki Mingyu.

"Apa yang terjadi hingga kau terluka seperti ini? Apa karena kau tadi menolongku?" tanyanya.

"Ani! Sebelum aku menolongmu, kakiku memang sudah terluka!"

"Jinjja? Bagaimana bisa?" perlahan pemuda cantik itu mulai menyentuh jarum suntik ke betis Mingyu yang pasti Mingyu tidak menyadarinya dengan perlakuan pemuda itu secara perlahan.

"Ceritanya cukup panjang. Mian, aku tidak bisa menceritakannya padamu, Aw! Kenapa rasanya sakit sekali? Apa kau tidak memiliki obat penghilang rasa sakit?"

"Obat penghilang rasa sakit?" pemuda itu berfikir sejenak. "Ada, tapi sepertinya tidak akan berpengaruh untukmu!" pemuda cantik itu menarik nafas lega yang akhirnya berhasil menyuntik betis yang dipenuhi luka dalam itu. "Selesai! Apa kau merasakan sakit?"

"Kenapa kau masih bertanya? Tentu saja sangat sakit!"

"Syukurlah! Itu berarti syaraf kakimu masih berfungsi! Aku baru saja menyuntik anti infeksi pada betismu! Sekarang, tinggal memperbannya!" pemuda cantik itu meraih kotak P3K dan meraih perban dan plester disana.

"Mwoya? Kau? Kau baru saja menyuntikku?"

"Nde, kau tidak tuli kan? Aku harap pendengaranmu tidak mengalami gangguan!" Mingyu menarik nafasnya gusar dan hanya diam menatap bagaimana pemuda cantik itu memerban betis kakinya dengan telaten.

"Siapa namamu?" tanya Mingyu. Pemuda itu tak mendongak namun tetap fokus pada perban ditangannya yang ia lilitkan pada betis Mingyu.

"Jeonghan! Yoon Jeonghan!"

...

Wonwoo menggeliat pelan di atas ranjang tidurnya. Kedua matanya membuka sempurna saat ia merasakan silaunya matahari di hari baru itu. Wonwoo mengucek kedua matanya, kemudia ia mengedarkan pandangannya kesekitar kamar sepetaknya mencari sosok kecil mungil yang biasanya memang sudah tidak ada pada saat ia mulai bangun dari tidurnya.

Wonwoo berjalan keluar kamar dan melihat jam dinding di ruang tengah yang menunjukkan pukul 07.00 pagi. Pertanda jika Seungkwan sudah pergi kesekolah setengah jam yang lalu.

"Kau sudah bangun?" Wonwoo terkejut saat tiba-tiba ada suara Jihoon yang biasanya sudah tidak menunjukkan batang hidungnya di jam yang menurut pemuda mungil itu sudah sangat siang. Terlebih, apa yang sedang Jihoon lakukan? Memasak? Sulit dipercaya.

"Kau—tidak pergi?"

"Nde, hanya ke studio itupun pukul 08.30 nanti. Kau mau ikut?"

"Mwoya?" tanya Wonwoo, yah sebenarnya dia mendengar dan tahu apa maksud Jihoon hanya saja dia ingin memastikan jika pemuda mungil itu benar-benar mengajaknya. Pasalnya, sudah hampir setahun mereka tinggal bersama sekalipun Jihoon dan Wonwoo tidak pernah pergi berdua bersama. Jangan pergi bersama berbicara berdua saja sangat jarang.

"Mungkin saja kau bosan dirumah dan ingin menghirup udara segar! Itupun jika kau mau!" Wonwoo berfikir sejenak.

"Hm, lihat saja nanti!" Jihoon membalas dengan anggukan.

"Aku sudah menyiapkan makanan! Cha, kita makan sekarang!" ajak Jihoon. Wonwoo hanya menurut dan duduk di kursi meja makan di depan Jihoon.

"Rasanya mungkin sedikit aneh!" Wonwoo menyicipi sedikit masakan Jihoon, seketika ia bergumam pertanda jika ia mengagumi masakan Jihoon.

"Ani! Ini cukup enak!"

"Jinjja? Syukurlah jika kau senang!"

Hening. Tidak ada pembicaraan selama mereka sarapan pagi hingga Wonwoo yang merasa kenyang dan merapikan alat makannya.

"Apa Seungkwan sudah makan?" tanya Wonwoo. Ya, sebenarnya diantara Seungcheol, Jihoon dan Seungkwan, hanya Seungkwan-lah yang selalu Wonwoo pedulikan.

"Belum, tapi aku sudah memberikannya tambahan uang agar dia bisa membeli makanan diluar. Hm, bersiaplah sekarang jika kau mau ikut denganku!" Jihoon beranjak dari duduknya meninggalkan Wonwoo seorang diri.

Wonwoo masih berada di tempatnya tak berniat untuk beranjak sedikitpun. Ia menarik nafasnya, bimbang antara ikut pergi bersama Jihoon, atau memilih untuk berdiam diri dirumah. Wonwoo mendengus.

"Baiklah! Tidak ada salahnya juga ikut Jihoon pergi kali ini!" putus Wonwoo beranjak hendak mempersiapkan dirinya.

.

.

.

"Apa yang kau lakukan di studio jam segini?" tanya Wonwoo memecahkan keheningan diantaranya dan Jihoon saat keduanya hanya duduk diam berdampingan diatas bus yang mereka tumpangi.

"Apa saja, yang bisa membuatku tenang!"

"Tenang?"

"Nde, kau perlu motivasi atau apapun itu agar bisa membuat dirimu sendiri tenang untuk menghadapi setiap masalah yang akan menunggu nanti!" Wonwoo hanya mengangguk paham. Berbeda dengan Jihoon berbeda pula dengannya. Jihoon dan Seungcheol memang selalu menghabiskan waktu mereka hanya untuk mencari uang, uang, dan uang. Sementara Wonwoo? Hanya berdiam diri dirumah tanpa melakukan apapun.

"Ekhem!" Jihoon berdehem, pasti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. "Tidak selamanya manusia akan mengalami keterpurukan Won! Dunia ini memang kejam, dan kau juga harus merasakannya!"

Wonwoo tersentak dengan ucapan Jihoon yang tiba-tiba itu. seketika, ia menatap Jihoon yang kini tengah memejamkan kedua matanya, tertidur.

Wonwoo menunduk, kini ia semakin bimbang antara menuruti kata hatinya atau orang lain. Tunggu? Kata hati? Bahkan ia tidak tahu apa yang hatinya itu mau. Sama sekali tidak! Tapi, Wonwoo juga harus mengambil keputusan. Ia sudah menghabiskan waktu hampir satu tahun untuk menjadi mayat hidup selama ini. Jadi, apa dia juga harus meneruskan menjadi mayat hidup? Atau di memilih untuk jalan lain?

"Seungcheol hyung sering mengatakan padaku untuk tetap hidup dan tidak terus terpuruk dalam masa lalu. Tapi, kenapa aku seperti merasa ada yang ganjal?" batin Wonwoo kembali hanyut dalam pikirannya sendiri.

"Hah! Hanya memejamkan mata sebentar saja sudah membuatku tenang! Aku benar-benar lelah!" Jihoon merentangkan tangannya dengan sesekali menguap. Ia menatap Wonwoo. "Cha! Kita turun sekarang. Kita sudah sampai!" dan Wonwoo hanya mengangguk mengikuti Jihoon yang beranjak berdiri.

"Kamsahamnida!" salam Jihoon membungkukkan badannya 90° pada bus yang mengantarnya yang kemudian berlalu meninggalkannya.

"Kau pernah kesini?" tanya Jihoon. Wonwoo hanya mengangguk.

"Dulu, aku sering melewatinya!"

"Ahh—" Jihoon mengangguk paham. Keduanya berjalan menuju studio dimana tempat separuh dari sebagian pekerjaan Jihoon. Wonwoo hanya diam begitu pula dengan Jihoon.

Namun, entah apa yang membuat Jihoon tiba-tiba saja menghentikan langkahnya dan berdecak kesal membuat Wonwoo juga ikut menghentikan langkahnya.

"Dia lagi—dia lagi!" geram Jihoon benar-benar terlihat kesal. Wonwoo menatapnya heran kemudia ia beralih menoleh pada pemuda tampan bersurai hitam yang tengah melambaikan tangan pada Jihoon dengan tubuhnya yang bersandar di mobil mewahnya.

Jihoon mendengus menyiapkan berbagai sumpah-serapah bahkan umpatan yang siap ia layangkan kepada pemuda bermata sipit yang hampir sepekan ini menghambat pekerjaannya.

"Annyeong Kwon Jihoon..." sapanya ramah dan penuh senyum yang ia buat semanis mungkin. Jihoon berdecak sebal.

"Aku rasa kau butuh perawatan THT dan Syaraf, Kwon! Berkali-kali aku katakan padamu! MARGAKU, BUKAN KWON!" bentak Jihoon, amarahnya sudah diambang batas. Sementara pemuda bermata sipit itu hanya terkekeh melihat Jihoon sudah seperti singa betina yang melindungi anaknya dari bahaya apa saja.

"Hey, babe! Jangan galak seperti itu! kau membuatku semakin menyukaimu!" pemuda itu merengkuh pinggang ramping Jihoon yang membuat Wonwoo langsung tersingkir karena pemuda itu yang mengambil tempatnya berdiri di samping Jihoon.

Jihoon berontak dan melepaskan rengkuhan tangan pemuda itu dengan kasar.

"Aku sudah katakan padamu, jangan menggangguku Hoshi!" Jihoon kembali membentak dan pergi begitu saja meninggalkan pemuda itu dan juga Wonwoo. Pemuda yang Jihoon panggil dengan Hoshi itu tersenyum kecil melihat perlakuan Jihoon padanya. Hingga tanpa sadar jika Wonwoo menatapnya heran.

"Wae?" tanya pemuda itu yang akhirnya sadar jika ia tengah diperhatikan. Wonwoo menggeleng cepat. "Kau siapanya Jihoon-ie?"

"Aku temannya!" jawab Wonwoo singkat. "Permisi!" pamit Wonwoo berlalu menyusul Jihoon yang sudah ditelan studionya.

Hoshi berfikir sejenak.

"Aku, seperti pernah melihatnya! Wajahnya sangat tidak asing! Tapi—siapa dia?" pikir Hoshi berperang pada dirinya sendiri. "Ah, sudahlah! Mungkin hanya kebetulan!" ujarnya yang akhirnya memutuskan untuk memasuki mobil mewahnya dan pergi meninggalkan studio Jihoon.

.

.

.

"Jihoon?" panggil Wonwoo memastikan. Ini baru pertama kalinya ia memasuki studio tempat Jihoon bekerja jadi ia juga tidak tahu pasti dimana pemuda mungil itu berada. Ia sempat bertanya pada salah satu office boy dimana ruang Jihoon dan disinilah ia sekarang dengan ragu mengetuk pintu dan membukanya perlahan, memanggil nama Jihoon takut-takut jika ia salah ruang.

"Wonu? Masuklah!" Wonwoo menarik nafas lega saat ruang yang ditemuinya ternyata benar, ruang milik Jihoon. "Mianhae, aku meninggalkanmu begitu saja! Aku selalu kesal jika melihatnya di depan mataku! Jeongmall mianhae!"

"Ani! Gwenchanayo! Aku mengerti, tapi siapa dia?" tanya Wonwoo yang entah kenapa membuat Jihoon terkejut dengan pertanyaannya itu. Melihat Jihoon yang tidak merespon, Wonwoo menundukkan kepalanya.

"Mianhae, aku tidak bermaksud ikut campur. Aku—"

"Aniyo! Kita sudah tinggal di rumah yang sama selama satu tahu. Saat itulah kita menjadi keluarga bukan? Kita memang sekamar, dan kita juga tidak pernah dekat sama sekali! Tapi, kita bisa memulainya hari ini! Kita bisa berteman dan menjadi satu keluarga bukan? Kita bisa berbagi segalanya, bersama Seungkwan dan juga Seungcheol hyung juga dirimu, Won!"

"Nde! Gomawo! Aku sekarang sadar, Tuhan memberikanku pengganti keluargaku!" Jihoon tersenyum.

"Syukurlah! Kau sudah sadar, dan aku juga sudak sadar! Cepatlah pulang Cheol hyung! Kau akan bisa lihat kita bisa menjadi teman! Dan, juga kita berempat bisa menjadi keluarga!"

"Jadi, siapa dia? Hingga mengganti nama margamu?" tanya Wonwoo lagi. Jihoon tersenyum kecut.

"Sebenarnya aku tidak menceritakannya pada siapa-siapa dan kau orang pertama yang mengetahuinya. Tapi, kau jangan katakan pada siapa-siapa nde? Ini rahasia kita berdua!" Wonwoo mengangguk paham. Jihoon berdehem, bersiap untuk memulai ceritanya. "Dua minggu yang lalu, saat aku bekerja di cafe tepatnya saat cafe tempat aku bekerja sudah memasuki jam tutup, sekitar jam 10 malam sepertinya. Ia datang dengan keadaan mabuk tapi juga ada memar dilukanya! Aku merasa iba dan menolongnya!"

"Kau menolong orang yang mabuk?"

"Ani! Maksudku—aku tidak tahu dia mabuk atau tidak, tapi dia seperti kau tahu orang yang kehilangan akal bukan? Belum lagi dia mengigau mengatakan 'tolong aku-tolong aku' dengan seluruh tubuhnya yang memar! Membuatku terpaksa untuk menolongnya!"

"Lalu?"

"Awalnya biasa saja, tidak ada apa-apa tapi aku tidak menyangka setelah kejadian itu—tiga hari kemudian dia datang ke studio-ku. Ya, dia datang kemari! Aku tidak tahu dia tahu darimana jika jam segini aku dimana dan sedang apa! Dan sejak saat itu dia selalu menemuiku dan menggangguku! Dan, aku sangat benci pengganggu!"

"Mungkin dia hanya berterima kasih!"

"Hey, Won! Jika dia hanya berterima kasih tidak masalah, mungkin dia hanya akan sekali datang untuk mengucapkannya tapi apa yang dia lakukan? Dia menemuiku bahkan tanpa mengucapkan terima kasih. Dan, semakin hari dia semakin gila!"

"Lalu, kau tahu darimana tentang namanya?"

"Dia yang memberitahukannya tentu saja! Aish! Sudahlah, jangan membahasnya kau membuat mood ku semakin buruk!"

"Jinjja? Tapi, kenapa wajahmu memerah seperti itu?"

"Mwoya?" Jihoon membulatkan kedua matanya, sementara Wonwoo terkekeh senang karena berhasil menggoda Jihoon yang memang kedua pipinya berubah menjadi semu merah itu.

...

"Apa kau yakin, dia belum keluar?" tanya Minghao yang usdah malas dan bosan menemani Hansol yang berniat untuk mengembalikan sebuah buku "Sejarah Korea" kepada seorang pemuda seumuran dengan Hansol yang tak sengaja ia temui kemarin.

"Nde, hyung! Kelasnya akan keluar pukul 11.00! Jadi, kita hanya perlu menunggunya 6 menit lagi!" Minghao berdecak kesal.

"Darimana kau tahu? Kau sudah seperti mengenalnya cukup lama!" Hansol mendengus.

"Huft! Apa kau lupa siapa kita hyung? Soonyoung hyung saja bisa menemukan pemuda mungil itu dalam waktu 1 hari, biodatanya dan seluruh kehidupannya!"

"Dan, kau?"

"Aku? Kau meremehkanku! Aku hanya cukup 2 hari!" cengir Hansol bangga yang langsung mendapat jitakan keras di kepalanya dari Minghao.

"Anak bodoh!"

"Yak! Itu sakit hyung!" Hansol mengelus kepalanya yang sudah ternoda akibat jitakan dari Minghao itu. "Ah, dia sudah keluar hyung!" seru Hansol girang. Minghao gelagapan, bagaimanapun juga ia penasaran dengan orang yang sempat memukul kepala Hansol lima hari yang lalu karena mengira jika Hansol adalah seorang maling. Hey, mana ada maling setampan dirinya bukan?

"Mana? Dia yang mana bodoh? Kau tidak buta kan? Ada banyak siswa disini!" ujar Minghao yang juga menelisik keseluruh banyak siswa yang keluar secara bersamaan. Minghao kembali mendengus, entah kenapa dia menyesal memutuskan untuk ikut menemani pemuda yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu. Minghao menyembunyikan wajahnya saat Hansol melambaikan tangan yang entah pada siapa belum lagi Hansol juga berjingkrak senang seolah ia tengah bertemu dengan pujaan hatinya.

"Boo Seungkwan!" panggil Hansol. Minghao menatapnya heran, kemudian ia kembali mendengus. Anak ini sudah sama seperti hyungnya.

Hansol kembali melambaikan tangannya dengan tampang yang sulit diartikan pada pemuda berpipi cubby yang sadar namanya diserukan oleh Hansol dan kemudian menghampirinya.

"Nuguya? Kau tadi memanggilku?" tanyanya memastikan. Hansol mengangguk antusias.

"Kau Boo Seungkwan?" Hansol balik bertanya. Seungkwan mengangguk heran. "Kau tidak ingat aku?" Hansol menunjuk dirinya sendiri. Seungkwan berfikir sejenak.

"Ah, aku ingat! Kau namja yang panjang tangan itu kan?" tebak Seungkwan polos.

"Eh!" Hansol bungkam sementara Minghao tertawa keras. "Apa kau hanya ingat panjang tangannya?" tanya Hansol cemberut. Seungkwan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena canggung.

"Mian, aku hanya bercanda! Ada apa? Bukankah aku sudah minta maaf waktu itu?" tanya Seungkwan merasa bersalah.

"Ani! Tentu saja aku sudah memaafkanmu, aku hanya akan mengembalikan barang bukti saja!"

"Mwoya?" Seungkwan membulatkan kedua matanya saat Hansol memberikan buku tebal itu pada Seungkwan.

"Ini! Bukankah, buku itu sangat penting? Buku itu adalah ilmu bukan? Tidak baik kau membuangnya sembarangan apalagi kau gunakan untuk memukul si panjang tangan!" goda Hansol. Seungkwan tersipu malu dan menerima buku tebal yang kira-kira berhalam lebih dari 462 itu.

"Gomawo!"

"Ah, ya! Aku Chwe Hansol! Dan ini hyungku, The8!" Hansol memperkenalkan dirinya. Seungkwan mengangguk seraya tersenyum sementara ia menyapa dan membungkukkan badannya sopan pada Minghao.

"Annyeong!" sapa Seungkwan sopan.

"Nde, annyeong!" balas Minghao singkat.

"Kalau begitu kami pergi dulu-nde! Sampai juga Seungkwan! Kita harus bertemu lain waktu, okey!" pamit Hansol berlalu memasuki mobilnya bersama Minghao. Seungkwan hanya mengangguk tanpa membalas ucapan Hansol.

Seungkwan menatap mobil yang dilajukan Minghao itu semakin jauh dan semakin menghilang dari padangannya. Seungkwan menarik nafas, tangannya beralih membuka buku yang bercover "History of Korean". Seketika Seungkwan memincingkan kedua matanya tak mengerti.

"Younggie Cafe. Friday, Nov 25th – 05.00pm. Don't late!"

"Apa-apaan ini?" gumam Seungkwan mencoba untuk tidak peduli.

.

.

.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Minghao tak mengerti.

"Eoh? Waeyo hyung?" tanya Hansol tak mengerti.

"Kau memberitahunya dengan nama aslimu? Kau—"

"Calm down, hyung! Hajiman, aku tidak memberitahu nama aslimu kan?"

"Tapi—bagaimana jika Soonyoung hyung tahu?"

"Soonyoung hyung, tidak akan tahu jika kau tidak memberitahunya! Lagi pula, aku percaya pada Seungkwan! Aku akan mengenalnya lebih dalam!"

"Anak bodoh!" umpat Minghao yang tak Hansol pedulikan.

"Berhenti mengumpatku hyung! Tak tahukan, kau? Ponselmu sedari tadi berbunyi!" himbau Hansol.

"Ankatlah, bodoh! Kau tidak tahu aku sedang menyetir?" titah Minghao tajam. Hansol mendengus dan meraih ponsel Minghao yang berada diatas dasbor mobil.

"Siapa?" tanya Minghao saat tahu jika Hansol tidak juga mengangkat panggilan dari nama yang yang tertera di layar ponsel Minghao.

"Soonyoung hyung!" Minghao mengangguk, dan Hansol membalas panggilan dari seberang.

"Nde, hyung?"

"..."

"Minghao hyung sedang bersamaku, ada apa hyung?"

"..."

"Mwoya?"

"..."

"Arra, hyung! Kami akan segera kesana!" Hansol menutup sambungan teleponnya dengan seseorang diseberang sana.

"Ada apa?" tanya Minghao tanpa mengalihkan pandangannya dengan jalan raya yang mobil mereka lalui.

"Soonyoung hyung—berhasil menangkap Choi Seungcheol!"

"Jinjja?" Minghao memelankan laju mobilnya, seketika ia menjadi diam begitu pula dengan Hansol.

"Matilah kita!" gumam Hansol gusar.

...

BYUR!

Seungcheol membuka paksa kedua matanya karena aliran air yang begitu deras mengguyur seluruh tubuhnya yang lemas, memar dan terikat.

"Apa tidurmu nyeyak tuan Choi?" pemuda bermata sipit yang tak lain pelaku yang mengguyur tubuh Seungcheol berjongkok dihadapan Seungcheol dan menatap remeh padanya. "Kenapa begitu sulit mencari bedebah sepertimu, hm? Apa kau pikir tinggal dirumah kecil bersama dengan tiga orang asing yang kau biayai kehidupan mereka dan menyamar menjadi tukang parkir adalah keputusan yang paling baik menurutmu tuan Choi? Hingga kau bisa lari dariku? Haha! Kau memang sangat cerdik! Tapi, jangan lupakan aku yang masih hidup berkat dirimu ini! aku sungguh sangat berhutang padamu!"

"A-aku su-sudah tidak a-ada hubungan lagi pa-padamu Kwon! A-apa mau-mu?" lirih Seungcheol yang bahkan hampir kehilangan pita suaranya. Pemuda itu tersenyum simpul.

"Tidak lain dan tidak bukan! Aku hanya ingin kau mengatakan dimana surat waris keluarga Jeon? Aku tahu, hanya kau yang tahu! Ah, tidak masalah jika kau tidak memberitahu dimana surat itu, bagaimana jika anak mereka? Bukankah dia masih hidup? Anak pertama mereka? Nde, tentu saja! Justru, anak pertama sangat menguntungkan bagiku bukan? Hm, bagaimana jika nanti kita bagi hasil?"

Tanpa berfikir lagi, Seungcheol meludahi wajah pemuda bermata sipit yang ada di depannya.

"Kau—beraninya kau—"

BUAGH!

Tanpa perasaan lagi, pemuda itu memukul Seungcheol dengan tangan kosong dan membuat pemuda ringkih itu jatuh bersama dengan kursi yang menjadi tiang pengikatnya. Pemuda iblis itu mendekat dan menyeringai padanya.

"Bisa kau lihat, jika sejak awal aku tertarik padamu?" pemuda itu menarik nafasnya lelah. "Aku sangat tertarik dengan kemampuanmu itu tuan Choi. Terutama bagaimana kemampuanmu untuk berkhianat. Ah, bukan kau tapi keluargamu! Kau sama menyedihkannya dengan keluarga Jeon keparat itu! menyusahkan!"

Dan lagi, untuk kedua kalinya Seungcheol meludahi pemuda itu.

"Kau ingin mati, hm? Aku sudah cukup sabar dengan kelakuanmu sedari membawamu kemari! kau sudah sudah bosan hidup? baiklah, dengan senang hati akan aku berikan!" baru saja pemuda itu hendak melayangkan bogemnya pada Seugncheol namun kembali ia hentikan saat mendengar derap kaki yang mendekati mereka.

"Hyung?" panggil kedua pemuda yang tiba-tiba datang dan langsung menghampiri orang yang mereka panggil hyung itu.

"Baguslah jika kalian sudah datang! Lanjutkan pekerjaan ini! singkirkan dia! Buat dia sekarat sekalipun dan kemudian buang dia di tengah jalan! Aku—sudah tidak peduli!" untuk terakhir kalinya pemuda itu mendekati Seungcheol. "Kau ingin mati? Maka nikmati saja detik-detik kematianmu!" dan berlalu pergi begitu saja.

.

.

.

Darah, nafas, dan setiap hantaman yang mereka berikan pada Seungcheol seolah tak bisa lagi Seungcheol rasakan. Seungcheol memejamkan kedua matanya, menangis. Mengingat bagaimana senyum kedua orang tuanya bahkan adik perempuannya.

Seungcheol terkulai lemas tak berdaya. Bahkan dia tak bisa lagi merasakan detak jantungnya. Apa dia sekarang ada di surga? Apa dia memang sudah mati?

"Cukup! Ini sudah cukup baginya!" Minghao, pemuda yang ikut menghajar Seungcheol habis-habisan bersama Hansol yang tanpa perasaan kemanusiaan sedikitpun hanya karena menuruti hyung sekaligus bos mereka, Kwon Soonyoung atau orang-orang mengenalnya dengan nama Kwon Hoshi. Minghao mendekati Seungcheol yang sudah terkapar tak berdaya itu. "Ada pesan terakhir?" tanyanya menyeringai. "Ah, aku paham!" Minghao mengangguk mengerti dan kemudian ia merogoh mantel yang Seungcheol kenakan, mencari dimana benda persegi itu berada. Dapat, dan dengan mudah Minghao membuka pola privasi phone yang pasti sebelumnya tidak ia ketahui.

"Kita lihat siapa orang yang paling penting dalam hidupmu saat ini!" Minghao mengotak-atik benda persegi itu pada aplikasi kotak pesan ada banyak nama disana tapi hanya satu dimana terlihat dengan bahasa yang sangat kekeluargaan sekali. "Lee jihoon? Jihoon-ie? Sepertinya dia orang yang juga tinggal bersamamu kan?" kemudian Minghao mendial kontak pemuda yang bernama Lee Jihoon itu.

"A-and-andwae..." lirih Seungcheol berusaha mencegah tapi, apa daya yang ia bisa? Ia tidak bisa berbuat apa-apa.

"Terlambat!" sinis Minghao saat ia dengar nada sambung dari sebrang.

"Cheol hyung?"

"Lee Jihoon?" Minghao yang berbicara.

"Nuguseyo?" Minghao menyeringai. "Aku rasa akan lebih baik jika kau yang bicara sendiri, Choi Seungcheol!" Minghao mengarahkan ponsel Seungcheol kepada mulut Seungcheol sendiri.

"Seungcheol hyung?"

"Ji-Ji-Jihoo-nie..."

"Hyung, apa kau baik-baik saja?"

"Ji-Ji-Jihoo—"

Pip! Minghao memutuskan sambungan itu.

"Pesan terakhir yang sangat berkesan! Kajja, kita selesaikan tugas terakhir kita!"

"Nde! Kajja, hyung!"

...

"Hyung, apa kau baik-baik saja?"

"Ji-Ji-Jihoo—"

"Hyung? Yeobosseo? Hyung? Seunghceol hyung!" seru Jihoon yang tak juga mendaat jawaban dari seberang seketika perasaannya berubah menjadi tidak enak. Wonwoo menatapnya khawatir.

"Ada apa?"

"Aku tidak tahu, tapi—firasatku tidak enak! Pasti ada sesuatu yang terjadi pada Seungcheol hyung!" Jihoon yang cemas dan Wonwoo yang entah kenapa berdecak malas.

"Bukankah Seungcheol hyung memang selalu seperti itu?" Jihoon membulatkan kedua matanya tak percaya.

"Apa katamu, Won?"

"Dia selalu saja bersikap munafik!" Jihoon mengepalkan kedua tangannya.

"Aku tidak memintamu untuk ikut mencemaskan Seungcheol hyung, aku juga tidak memintamu untuk ikut mencari keberadaan Seungcheol setelah ini. tapi—tidakkah kau bisa menjaga ucapanmu?"

"Apa yang harus aku jaga? Bukankah kau tahu? Banyak rahasia yang disimpan olehnya! Dan, dia tidak membiarkan kita untuk mengetahuinya sedikitpun!"

"Itu karena dia memiliki alasan!"

"Nde, dan apa alasannya? Apa kau tahu?" Wonwoo menatap tajam Jihoon yang membalasnya dengan tatapan sinis dan jijik.

"Kau memang brengsek Jeon Wonwoo!" kedua tangan Jihoon terkepal. "Aku kira kau memang sudah berubah. Tidak! Kau memang tidak akan pernah bisa berubah! Manusia tanpa perasaan!" umpat Jihoon, ia pergi meninggalkan Wonwoo seorang diri di dalam ruang studio kerjanya.

Wonwoo termenung. Entah kenapa air matanya menetes begitu saja. Bodoh! Apa yang baru saja ia ucapkan? Bodoh! Kau memang tidak punya perasaan Jeon!

.

.

.

Jihoon berlari gusar seraya memegang ponselnya. Setelah ia keluar dari studio, dengan cepat ia aktifkan GPS untuk mengetahui dimana Seungcheol berada selagi ponsel Seungcheol masih dalam keadaan aktif.

Jihoon berlari tanpa memperdulikan jika ia banyak menabrak orang yang ia lewati. Ia sudah tidak punya waktu lagi.

Ck! Jihoon berdecak frustasi. Kenapa GPS-nya tidak berfungsi?

"Shit!" umpat Jihoon, ia berhenti sejenak dan melihat dengan rinci dimana panah biru itu berhenti bergerak. Jihoon membulatkan kedua matanya saat tahu dimana hyung-nya itu berada.

"Seungcheol hyung tunggu aku. Aku akan menyelamatkanmu!"

Jihoon kembali berlari, tak peduli jika saat ia menyebarang jalan banyak mobil atau motor atau kendaraan lain yang akan menabraknya kemudian mengumpatnya dengan berbagai ucapan sumpah-serapah yang tak patut di dengar itu.

Jihoon menetralkan nafasnya. Kedua lututnya lemas saat melihat sebuah tubuh yang terkapar tak berdaya di tengah jalan sepi. Jihoon menangis, menjatuhkan seluruh air matanya. Ia mendekati tubuh yang sangat mengenaskan itu.

"Cheol-hiks-hyung! Seungcheol hyung!" Jihoon menggoyangkan tubuh Seunghceol yang jantungnya sudah berdetak lemah itu. Jihoon kembali meraih ponselnya dan mendial nomor ambulance.

"Aku mohon! Hiks! Jebal! Cepatlah kesini! Hyungku mengalami kecelakaan! Aku mohon! CEPATLAH KEMARI SEKARANG—hiks!" Jihoon meletakkan ponselnya begitu saja dan memeluk tubuh Seungcheol yang berlumuran darah dan luka serta memar di seluruh bagian tubuhnya.

"Seungcheol hyuuuung! Jebal! Jangan tinggalkan aku! Hiks—"

.

.

.

Jihoon memangku dagunya dan duduk di depan ruang operasi yang sudah berjalan hampir 30 menit itu. Mata sayunya yang membengkak karena terlalu banyak menangis. Seluruh bajunya yang berlumuran darah. Belah bibir kecilnya selalu bergumam "Ini adalah mimpi! Ini hanya mimpi!". Air matanya kembali mengalir tanpa isakan.

"Kau harus bertahan hyung! Harus!" Jihoon memejamkan kedua matanya.

Pintu operasi terbuka, menampilkan sosok pemuda kurus dengan memakai jubah berwarna biru muda menghampiri Jihoon.

"Bagaimana keadaan hyungku?" tanya Jihoon cemas.

"Apa dia seorang mata-mata?" tanyanya.

"Mwoya?" Jihoon membulatkan kedua matanya.

"Ada sesuatu yang menyumbat pembuluh darahnya! Dan, ia harus di operasi saat ini juga, jika tidak—pasien tidak bisa terselamatkan!"

Pemuda yang Jihoon ketahui dokter itu langsung berlalu pergi begitu saja. Jihoon kembali terduduk lemas. Air matanya kembali jatuh begitu saja.

"Hyung-ie..." lirih Jihoon tak percaya.

TBC

"Aku yang akan mengambil alih operasi pasien. Dimana dokter Yoon?"

...

"Bagaimana bisa, kau enak-enak pergi dengan namja asing sementara Seungcheol berjuang seorang diri di dalam ruang itu? dimana nalurimu sebagai seorang dokter? Kau anggap apa pertemanannya sejak kecil selama ini, ha?"

...

"Hyungku kritis, aku takut dia akan meninggalkanku!"

...

"Kau bisa membeli tubuhku seharga biaya pengobatan hyungku hingga ia benar-benar sembuh! Aku mohon, aku akan melakukan apapun, agar dia selamat!"

...

"Mianhae!"

...

Annyeong readerdeul?

Huft, hehe senengnya bisa update. Mian, kalau lanjutannya kurang puas. Hm, mau di next gak nih (:p). Ahh, aku bener-bener gak sabar buat nunggu Seventeen comeback. Kenapa gak diumumin yak tanggal berapa, cepetan dong ya Seventeen comeback... udah sampek butuh belaian nihh, belaian pada oppa (digampar reader)

Em, aku mau jawab review di Chap 1 nih...

egatoti: hehe, iya ini udah dilanjut. Haha, gitu ya maunya entar kalau sama Mingyu spesial dong ya, kita lihat saja nanti ntar Wonwoo jadi dual diri apa gak, thx

oonnnssss: iyap ini udah dilanjut, makasih yak

zahra9697: iya ini udah dilanjut, makasih yak.

melanisaturlina: oh, okey siip tunggu aja momentnya SoonHoon. Mungkin, ada saran SoonHoon ntar ada moment yang kaya gimana gitu? Thx ya

itsmevv: makasih ya udah suka sama ceritanya, nde! Ini udah dilanjut.

eL Zoldyck: iya ini udah di next. Hehe, sabar ya baru beberapa yang udah ketemu. Tunggu di next chapter buat pair yang lain. Apa lagi meanie juga belum keluar, thx ya

Guest: iya ini udah aku update, makasih udah mau nunggu. Iya kau usahain tepat waktu seminggu sekali kalau aku ada waktu luang mungkin bisa lebih cepet karena aku kelas 12 (;))

guest: jinjja? Hehe, semoga kamu menikmati ini cerita ya, thx

wanUKISS: nde, ini udah dilanjut makasih udah nunggu! Nde, fighting! kamsahamnida!

Sunshinewoo: nde udah dilajut ini. hehe, Wonwoo belum jual diri kok cuman mau rencana aja. Terus dilarang sama Seunghceol gak rela kan, Wonu yang manis gitu jual diri ke orang lain, kkk. Thx yak..

DevilPrince: ah, iya ini udah dilanjut. Umur Wonwoo sama Mingyu? Entah aku masih bingung mungkin aku jadiin sebaya atau sesuai real kalau gak ya tuaan Mingyu, makasih yan sarannya. Haha, maunya jug BT aku lanjutin tapi lupa ceritanya gimana, kokoya emang suka lupa kalau updatenya lama-lama, kkk. Thx ya...

Makasih, yang udah review dan udah follow juga fav ff ini.

See you in next chap ya..

Annyeong...

Bye, bye

Kokoya Banana.