"Menurutmu, aku ganteng nggak, sih?!"
"Hah?"
Pertanyaan random itu diajukan Eren ketika mata kuliah Bahasa Inggris. Saat itu, si pemuda berkulit sawo matang memilih duduk di deretan pojok. Teman sebangkunya kala itu adalah gadis cantik bertubuh mungil yang paling viral di kelas dan di angkatannya—Historia Reiss. Selain karena dia cantik dan salah satu selebgram yang punya channel mengenai fashion di yutub, ternyata ia adalah putri tunggal keluarga Reiss yang merupakan pemilik perusahaan farmasi terkenal di Jerman. Eren pernah beberapa kali bekerja kelompok dengan Historia, pergi makan siang atau nonton film bersamanya juga. Ada yang menyimpulkan bahwa keduanya hendak melangkah ke jenjang hubungan asmara, namun Eren tidak terpikir sampai sana. Historia adalah gadis yang cukup menyenangkan diajak hang out. Hanya saja, gaya hidupnya yang hedon dan classy membuatnya agak canggung untuk berbaur ke beberapa kalangan dalam pergaulan sehari-hari. karena pada dasarnya Eren adalah pemuda bermuka tembok alias tidak tahu malu, jadi ia menanggapi Historia seperti dia menanggapi teman-temannya yang lain.
"Ke...kenapa tanya begitu?" wajah Historia bersemu.
"Ah? Soalnya Connie bilang aku kayak bocah kampung—keling, urakan dan nggak modis."
"Eren memang kurang peduli sama fashion, sih." Historia mengangguk setuju. "Tapi nggak berarti keling itu jelek. Kulitmu memang sawo matang. Beberapa cewek bahkan menganggap cowok berkulit gelap itu seksi."
"Si muka kuda itu bilang aku punya tampang kayak copet pasar. Masa aku disamain sama copet pasar?!"
Historia membekap mulutnya untuk menahan tawa yang hampir membuncah. Pipi gembul Eren mengembang, bibirnya memberengut kesal. Setelah berhasil meredakan kikikkannya, Historia menarik nafas.
"Mau coba kudandani?" tanya Historia. "Biar cewek atau cowokmu nanti bisa kelepek-kelepek!"
"O,oy! Aku nggak bilang kalau aku ini homo, kan? Sembarangan." Desis Eren.
"Siapa tahu." Historia tersenyum tipis. "Eren sendiri suka gaya yang kayak apa?"
"Pokoknya sesederhana mungkin. Nggak usah yang segala macam dililit ke badan kayak model-model Vogue." Eren melirik papan tulis dan mencatat sekadarnya di binder besar yang dibawanya. "Dan jangan dari brand yang mahal."
Historia mengerenyit. "Susah banget permintaanmu."
"Ayahku bukan pemilik pabrik obat-obatan terbesar di negara ini, sorry." Balas Eren sarkastis.
"Begini saja..." Historia memetik jari, tanda dirinya menemukan ide cemerlang. "Aku bisa membelikanmu satu atau dua set attire dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tapi, ada syaratnya."
"Yang normal-normal saja, oke? Eren Jaeger ini manusia biasa, bukan superhero di Justice League." Eren menyeringai.
"Ajak aku kalau kau mau clubbing lagi."
Eren melongo. "Orang macam kau bisa pergi sendiri, kan? Kenapa minta diajak?"
"Ke klub nggak sama kayak nonton di bioskop, bodoh. Aku butuh teman-teman yang bakal menjagaku."
"Tapi..." Eren nampak bimbang sejenak. "Aku kurang setuju. Teman-temanku cowok semua, lho. Setidaknya kau juga harus ajak satu atau dua cewek lagi. Biar nggak dipandang cewek nggak benar."
"Kan ada Ymir."
Eren menoleh. Ymir yang dimaksud tengah mengerjakan tugas portofolio dari kelas lain di pojokan kelas. Pekerjaannya sangat tenang dan kalem sehingga dosen Bahasa Inggris kala itu mengabaikannya.
"Aku suka lupa kalau Ymir itu perempuan." Eren menggaruk rambut cokelatnya. "Soalnya kalau Jean atau Bertolt mabuk, dia selalu kebagian gotong dan bawa motor mereka. Reiner yang buffy begitu saja suka kesusahan membopong Bertolt."
"Kalian pergi naik motor kopling, kan? Aku mau coba dibonceng motormu, dong. Biar kayak di film-film." Mata Historia nampak berbinar penuh harap.
"Nggak ada. Kalau kau mau ikut, kau naik mobilnya Reiner. Titik." Jawab Eren ketus. "Naik motor malam-malam itu dingin. Outer tipismu yang lucu itu nggak akan sanggup menahan angin malam."
"Kau bilang outer-ku lucu?" Historia memainkan kancing parka merah marun yang dikenakannya.
"Nggak. Kau yang bilang kalau pakai outer itu karena lucu, kan? Aku sudah dengar 500 kali hari ini."
Historia memberengut. "Aku cuma baru bilang 2 kali."
Eren mengacuhkan perempuan mungil tersebut. Pada kelas Sejarah Seni, kali ini gantian Ymir yang duduk di sebelah Eren karena kebetulan mereka pindah kelas. Historia pindah ke meja depan, berbincang dengan cewek-cewek cantik lain yang tampak sederajat dengannya.
"Woy, Eren. Bantu aku mengarsir gambar sofa dan karpetnya." Ymir menggeser sebuah kertas gambar. Masih portofolio mengenai latar belakang.
"Nggak mau." tolak Eren tanpa basa basi.
"Kutanggung biaya masukmu ke Dionysus sabtu ini. Jean bilang kau tidak ikut karena tidak punya uang, kan?"
Eren menyeringai. Ia mengambil pensil mekanik dari dalam tasnya dan membantu pekerjaan ilegal Ymir semampunya. Mata bulatnya melirik Ymir. Sosok cewek tegap yang bahkan lebih tinggi darinya. Kulit Ymir juga gelap, mirip warna milk chocolate. Kalau tidak salah, orangtuanya masih separuh Timur Tengah atau Afrika Utara. Titik-titik freckles menghiasi pipinya. Karena tidak pernah berdandan, penampilannya sekilas terlihat seperti lelaki. Namun Ymir punya lekukan payudara yang cukup jelas. Sikapnya yang tomboy dan bicaranya yang blak-blakan membuat Eren, Jean dan Reiner terkadang lupa bahwa Ymir juga adalah seorang wanita. Bertolt masih memperlakukannya seperti seorang wanita, hanya karena Bertolt memang tipikal lelaki yang akan bersikap lembut pada semua perempuan.
"Apa lihat-lihat? Mau kujotos matamu?" ancam Ymir.
"Historia bilang dia mau diajak ke Dionysus." Gumam Eren. "Ajak, jangan?"
"Ajak aja. Kemarin Sasha juga minta diajak, tapi Connie nggak ngizinin karena ceweknya cuma aku." Balas Ymir santai.
"Sasha?" Eren mengerenyit.
Sasha Brauss adalah teman sekelas Jean di program studi kedokteran. Sementara Connie Springer adalah teman sekelas Marco di program studi Sastra Perancis—yang juga merupakan pacarnya Sasha. Kadangkala, Connie juga sering bermain dengan gengnya Eren, terlebih ketika ia bertandang ke asrama. Namun frekuensinya tidak sesering itu. Jean dan Reiner pernah menggunjingkan Sasha; tipikal cewek desa yang udik dan berusaha bersikap sopan dan formal demi menutupi sisi kampungannya. Memang terdengar jahat, namun Eren tidak bisa membantah fakta bahwa Sasha memang cewek kampungan; terlepas dari fakta bahwa ia cukup montok dan bisa terbilang manis.
"Aku dengar dari Jean, dia bercerita bahwa cewek udik itu pernah menang lomba minum waktu festival Oktoberfest." Ymir menyeka remah-remah penghapus dari pekerjaannya. "Dia bisa minum 3 tower bir tanpa muntah. Hadiahnya €200."
"Ergh..." Eren mengerenyit.
"Kalau kau mau ajak si Historia, aku juga bisa ajak Sasha. Aku nggak yakin Connie bisa ikut kalau sabtu ini. Setidaknya, cowok-cowok beringas macam kalian nggak akan menerkam Historia kalau dia mabuk, kan?"
"Aku nggak main perempuan." Eren menegaskan ultimatumnya.
"Cowok mabuk bisa melakukan apa saja. Kau tidak ingat, waktu pertama kali kau ikut ke Dionysus, wajahmu bengkak karena dilempar botol sama perempuan meja sebelah yang selangkangannya tiba-tiba kau cium?" Ymir menoleh.
Eren membuang muka, memilih menelusupkan pipi gembulnya ke dalam lipatan siku. Ia ingat, namun terlalu malu untuk mengakuinya. "Nggak ingat."
"Itu dia. Nggak banyak orang yang cukup tangguh untuk mengurus orang mabuk." Tutur Ymir. "Kerjaanmu sudah selesai?"
Eren menggeser kertas yang tadi disodorkan Ymir padanya.
"Yes." Gadis itu menyeringai puas. "See you at saturday, bitch."
Janji Eren untuk membawa Historia minum-minum di klub bernama Dionysus ditukar dengan aneka macam pakaian yang terdiri dari skinny jeans biru gelap, overall jeans biru terang sobek-sobek, celana chino krem cerah, kemeja polos lengan pendek model crop top berwarna peach, kaos lengan panjang garis-garis berwarna hijau dan kelabu, sebuah turtleneck shirt berwarna hijau tentara dan sehelai jaket kulit warna cokelat terang. Tak lupa juga sepasang sneakers tinggi berwarna putih serta sepasang ankle boots sederhana berwarna merah tembaga. Eren tidak berani menaksir harga setiap potong pakaian dan sepatu yang diberikan Historia, dilihat dari lambang merknya saja sudah bikin ngeri. Sayangnya, dari 3 celana yang diberikan Historia, hanya celana overall jeans yang muat dikenakannya. Sepatunya sedikit kebesaran, namun bajunya pas. Eren memang mungkin terlihat ramping, namun bokongnya cukup sekal. Ia tidak sekali-dua kali harus pergi bersama ibunya atau Mikasa untuk beli celana jeans karena malu menanyakan apakah ada ukuran yang lebih besar untuknya kepada pegawai toko.
Karena semua itu gratis, Eren memilih menyimpan semua celana yang tidak muat tersebut. ada kemungkinan dia bakal kurusan nantinya, kan? Atau mungkin bisa ia berikan kepada Marco nantinya.
"Mau pergi kapan? Kalau bentar lagi mau jalan aku ganti baju, nih." Tutur Jean seraya menoyor kepala Eren yang tengah asyik melahap sereal dengan susu. Pemuda berkulit sawo matang itu melotot murka, namun ia tidak melakukan apa-apa untuk membalas perbuatan Jean.
"Tungguin Bertolt dulu." tutur Reiner. "Bocah itu belum pulang latihan."
"Latihan apa?" Connie yang kala itu bertandang ke asrama menyahut.
"Orkestra. Minggu depan dia ada penampilan di konservatorium." Reiner mengambil sebatang rokok dari bungkusan yang ada dikantongnya. "Eren, pinjam korek."
Eren merogoh saku celananya dan memberikan Reiner sebuah korek gas. Dua puluh menit setelahnya, Connie pamit pergi untuk menjemput Sasha. Cowok botak itu bilang ia akan bertemu dengan mereka di Dionysus nantinya. Ymir meminjam motor Eren untuk membawa Historia kabur dari supir pribadinya. Sementara Eren dan Jean masih berbalut kaos oblong lusuh, celana pendek longgar dan tampang kumal.
"Hoi, aku dengar katanya Historia ikut." Jean menarik kursi yang semula diduduki Connie dan mendaratkan panggulnya di sana. Reiner masih asyik merokok dan Eren kembali menuang kepingan sereal di genangan susu dalam mangkoknya.
"Hmm." Keduanya bergumam secara bersamaan.
"Dia cantik, ya. Jadi ingin kupepet nanti." Jean menyeringai.
"Enak saja. Aku duluan yang bakal pepet si cantik itu, sampah." Sembur Reiner.
"Dasar cowok-cowok bajingan." Timpal Eren tanpa dosa.
"Sembarangan. Justru kau yang paling bajingan diantara kita!" nada suara Jean naik karena tersinggung. "Kau membawa gadis baik-baik untuk clubbing? Mau merusak anak perawan ningrat?! Kurang bajingan apa kelakuanmu?!"
"Jaga bicaramu, kuda lumping!" Eren menghardik kesal. "Dia minta diajak. Aku sudah berusaha nolak, tetapi dia mau belikan aku baju kalau aku ajak dia."
Reiner menyemburkan tawa sinis. "Dasar cowok murahan."
"Pokoknya kalau kalian mau macam-macam, jangan bawa-bawa aku." Eren menandaskan serealnya.
Diluar dugaan, malam itu Dionysus ramainya luar biasa.
Beruntung, mereka masih mendapatkan 1 table berkat salah seorang bagian penerimaan tamu cukup hafal dengan tampang Reiner dan Jean (yang hampir setiap sebulan dua kali ke tempat ini). Sasha nampak tak nyaman, ia meremas lengan Conny dan berbisik mengenai hal-hal yang tidak dia sukai mengenai ini dan itu. Sementara Historia justru sebaliknya. Ia begitu bebinar-binar. Sesekali kepalanya bergoyang-goyang gembira mengikuti alunan musik.
"Itu crop shirt yang kukasih, ya?" tanya Historia senang sambil memainkan lengan kemeja Eren.
"Uhm." Eren mengangguk. "Thanks."
"Idemu mengombinasikannya dengan chino gantung dan sneaker tinggi oke juga, sih." Historia mengomentari. "Harusnya kau pakai aksesoris biar terlihat lebih menarik. Kalung, gelang atau jam tangan, gitu?"
Eren mendecih, lebih memilih tidak menggubris Historia. Kerumunan pengunjung membuat mereka kesulitan mencapai meja yang sudah mereka pesan. Gadis mungil nampak tertarik dengan sesuatu. Mata birunya menatap lekat hingga akhirnya Ymir menegur.
"Kenapa?" tanyanya. "Kenapa kau menatap Eren terus?"
"Ah, ung..." Historia menggeleng-geleng. "Nggak, sih. Perasaanmu saja."
Sementara objek tatapannya tengah merogoh-rogoh kantong, nampak mencari korek karena sebatang rokok sudah terlanjut bertengger di ujung bibirnya. Ia mendecak kesal dan menadahkan tangannya kepada Reiner.
"Korek." katanya dengan nada memerintah.
"Nggak ada. Korekmu lupa kubawa. Masih di asrama." Balas Reiner santai.
Eren mendecih kesal. Ia melirik Jean yang sudah duluan menyesap nikmat rokoknya. "Muka kuda, korek!"
Dengan santainya Jean melempar korek gas miliknya ke arah Eren. Karena tidak sigap, korek itu tidak tertangkap tangannya. Pemantik mungil itu jatuh ke lantai, dan tangan Eren yang tidak sempat menjangkaunya terhempas dan memukul wajah seseorang.
"AWW!"
Eren menoleh, mendapati seorang pria mungil tersentak memegangi keningnya.
"Mir leid! [sorry]." Eren terhenyak. "Are you okay, boy?"
Tangan besar itu turun, menampakkan Eren wajah pria sipit dengan raut wajah kecut. Maniknya yang berwarna keabuan berkilat kesal hingga membuat punggung Eren menegang. Ada bekas memar kemerahan di keningnya akibat pukulan tak sengaja Eren.
"Who are you calling boy, stupid brat?" suara tenor yang terdengar muram dan gelap itu bertanya dengan nada sarkasme.
Eren hanya termenung. Tatapannya kosong terpaku pada paras si pria mungil itu. Lelaki itu jelas-jelas lebih tua darinya, bisa jadi 5 atau 10 tahun bedanya. Rambutnya hitam lurus tebal dengan model undercut yang justru menambah kesan seksi pada dirinya. Mata sipitnya intens dan mengintimidasi.
"Mir leid, herr...[sorry, sir]." Eren berucap lagi, dengan nada yang lebih memelas. "Aku tidak sengaja."
"Ketidaksengajaanmu bisa membuat orang lain celaka." Kecamnya sambil berlalu.
Ia berjalan ke meja yang bersebrangan dengan tujuan Eren lalu menghempaskan dirinya dengan kesal ke sofa. Seorang perempuan berkacamata merangkulnya dan memberikannya sebotol bir. Lelaki itu menyesap bir hitam dengan sedotan. Ia lalu menyeka bibirnya dengan tisu dan melipat sehelai tisu lain untuk menjadi tatakan botol birnya yang berembun.
"Om-om seram." Ujar Sasha gamblang. "Untung kau tidak dihajar."
"Dia...minum bir pakai sedotan." Eren terperangah. Dalam benaknya, ia yakin bahwa lelaki itu pasti peminum ulung. Cara minum seperti itu tidak bisa sembarangan ditiru begitu saja. Kalau kata Jean, minum bir pakai sedotan itu dianggap rare skill karena rasa kuatya bakal langsung menohok tenggorokkan dan pangkal lambung.
"Sudahlah." Bertolt menarik lengan Eren agar bergabung dengan yang lain. "Ayo."
Ketika tiba di meja, Jean langsung memposisikan dirinya untuk duduk di pojok dan menepuk-nepuk sofa untuk mengisyaratkan Historia agar duduk di sebelahnya. Namun gadis pirang itu tidak peka akan kode yang dilancarkan Jean. Ymir sengaja menubruk Connie agar cowok botak itu terhimpit diantara dirinya dan Bertolt. Sasha duduk di sebelah Ymir, lalu Reiner di pojok lainnya. Eren sengaja mendorong Reiner untuk mendapat sepetak tempat duduk dan keduanya tertawa konyol.
"Yah, penuh." Historia memilin ujung rambutnya. "Apa aku minta bangku lagi, ya?"
"Sini, sini!" Reiner dengan sigap menepuk pahanya. "Aku mau memangkumu, kok."
"Eww. Aku lebih baik duduk di meja daripada harus dipangku seekor badak sepertimu." Ymir mencibir.
Eren bangkit dan memberikan Historia tempat duduknya. Ia memanggil seorang pramusaji untuk membawakan dua bangku tambahan untuknya dan untuk Bertolt yang memang terlalu jangkung untuk duduk di tengah kerumunan. Gadis pirang itu duduk di dekat Reiner dan si pria pirang kekar itu menjelaskan beberapa macam jenis minuman yang sekiranya aman untuk diminum pemula seperti Historia. Connie, Ymir dan Jean masih saling berdebat soal pilihan wine gratis yang ditawarkan pihak bar sebagai complimentary. Bertolt tidak pernah merubah pesanannya—sazerac, sejenis cocktail yang rasanya mencekik tenggorokan. Tidak pernah ada yang paham dengan selera makan Bertolt—si jangkung itu cenderung menyukai sesuatu yang kebanyakan orang tidak suka. Jauh di sebrang kerumunan, pria yang tadi ditabrak Eren masih mendengarkan teman-temannya bicara. Ia minum berkali-kali. Seorang perempuan lacur dengan sengaja duduk di pangkuannya dan menawarkan satu nampan berisi aneka macam shotglass, tetapi si pria berambut undercut itu menolak. Respon si perempuan itu malah justru mengundang gelak tawa teman-teman di mejanya.
"Aku mau Corona 2 botol." Sasha menyerukan pesanannya. "Kau mau juga, Eren?"
"Ah?" Eren menoleh. "Corona? Boleh. Satu saja dulu."
Ymir kembali mengulang pesanan teman-temannya kepada si pramusaji sebelum ia pergi. Awalnya mereka semua mengobrol masing-masing. Reiner masih menggoda Historia. Connie pindah tempat duduk agar bisa lebih dekat dengan Sasha, dan Ymir menunjukkan pada Jean drama serial terbaru yang sama-sama mereka ikuti. Eren kembali menyelipkan sebatang rokok di bibirnya dan Jean kali ini memberikannya korek tanpa diminta.
"Bagaimana hubunganmu dengan si Annie itu?" tanya Eren gamang kepada Bertolt yang sibuk sendiri dengan ponselnya.
"Ya, begitu." Jawabnya ala kadarnya.
"Begitu apanya? Kau tidak lagi mau tidur dengannya?" tanya Eren penasaran.
"Aku hanya takut, dia memandang hubungan kami seperti itu saja." Bertolt membalas muram. "Aku ingin punya pacar yang bisa diajak nonton bioskop atau traveling, bukan cuma sebatas penghangat ranjang."
"Hoh." Eren menghela asap. Ia nampak tidak tertarik melanjutkan obrolan dengan Bertolt.
"Hey!" Jean berseru. "Bagaimana kalau kita main truth or dare?"
Semua mata tertuju pada Jean. Si cowok berambut cokelat muda itu menyeringai senang. "Urutannya sesuai arah jarum jam. Undiannya ditentukan oleh putaran botol. Siapa yang ditunjuk oleh si pemutar harus melakukan truth atau dare."
"Seru juga." Ymir menyeringai. "I'm in."
"Me as well." Reiner menaruh kedua sikunya di meja.
Ketika minuman-minuman mereka datang, Jean meminta satu botol kosong pada pramusaji sebagai alat bermain. Rupanya, Reiner memesan satu botol Jack Daniel's untuk diminum beramai-ramai. Historia diberi kesempatan memutar botol pertama kali. Mulut botol itu teracung pada Bertolt. Si gadis itu terpaku, nampak tak mengerti dengan apa yang harus ia lakukan.
"Well, sayang. Truth or dare untuk Bert?" tanya Jean.
"Apa, ya?" Historia merenung. "Bagaimana kalau dare?"
Bertolt mereguk liur. "...oke..."
"Kau...umm..." ia melirik teman-temannya. "Gendong Connie seakan-akan kalian adalah pengantin baru."
Bertolt dengan senang hati menuruti tantangan Historia. Tidak sulit, bahkan mereka berdua bersedia berpose gembira ala pengantin baru dan dengan sukses diabadikan dalam akun instageram Jean dan Ymir. Permainan bodoh yang tidak Eren nikmati. Ia hanya menghela rokoknya dengan hampa. Matanya lagi-lagi mencari kemana si sosok mungil yang tadi ia tak sengaja pukul.
Ia tampak agak oriental. Kecil tapi ramping.
Jutek dan dignified.
Ia benar-benar sosok yang paling dicari Eren dalam kriteria pasangan hidup. Bahkan ia melupakan fakta bahwa sosok idamannya ini adalah laki-laki.
Eren kembali mengalihkan atensi pada teman-temannya, sembari memantik rokok kedua. Jean menjalani tantangan dari Sasha untuk menjilat ketiak Reiner. Wajah jijik Jean menjadi komedi ironi malam hari yang sukses membuat Ymir merintih sakit perut karena terlalu senang tertawa. Tiba giliran Ymir, dan mulut botol kembali menunjuk pada Bertolt.
"Aku lagi?" keluhnya.
"Nah, my dear Bertie..." Ymir menyesap minumannya. "Truth, ok?"
Bertolt mengangguk.
Tawa heboh menyembur dari mulut Jean, Eren, Connie dan Reiner. Bertolt menyeringai tipis untuk menutupi rasa keki yang menyentil harga dirinya. Ymir memang sangat vulgar jika menyangkut obrolan tentang seks.
"Uhm..." Bertolt merenung sejenak. "Tadi pagi. Saat mandi."
"Siapa yang jadi bahanmu? Pasti si Annie-Annie yang kemarin, ya?!" sindir Reiner.
"Sshh!" Bertolt melotot ngeri. "A..apa hal seperti itu harus dibicarakan? Memang apa pentingnya, coba?"
"Namanya juga truth." Ymir tertawa puas. Ia meneguk birnya dengan kalap hingga habis.
Jenuh, Eren bangkit dari kursinya dan mematikan rokok. Ia berujar hendak ke toilet. Dionysus jika sedang ramai pasti terasa sesak. Perjalanannya ke toilet lelaki saja penuh rintangan. Ada seorang lelaki paruh baya yang sengaja menghampirinya, namun Eren menolaknya dengan kasar. Dia juga terpaksa memotong diantara dua orang gadis yang asyik berjoget. Antrian toiletnya cukup penuh. Ada sepasang lelaki dan perempuan yang berciuman penuh nafsu di dekap pintu toilet perempuan. Namun Eren peduli setan, ia dengan gusar menunggu gilirannya untuk bisa masuk toilet laki-laki yang juga tak kalah penuh.
Lalu dia disana. Nampak rapuh dan letih. Ia berjarak dua orang di depan Eren. Dagunya bergerak pelan, ia nampak tengah mengunyah sesuatu. Bocah berambut cokelat itu menatap lekat gerak-gerik pria yang sedari tadi dipandanginya. Kira-kira siapa ya namanya? John? Alphonse? Ezekiel? Umurnya berapa? Apa pekerjaannya? Apakah dia punya pacar? Atau apakah dia straight, gay atau bahkan biseks? Kenapa ia bisa terlihat begitu menggoda meski ia dan Eren sama-sama lelaki? Eren yakin 100% bahwa ia adalah lelaki normal, meski belum punya ketertarikan asmara dengan wanita sampai saat ini. namun pria mungil tak dikenal ini memberinya geletar baru, dan menggoyahkan jati diri Eren.
Apa tidak apa-apa kalau membelokkan orientasi seksual hanya demi satu orang saja?
"Hoy, bocah! Mau sampai kapan kau berdiri disana?"
Eren menoleh, ia mengalah pada seorang pria berambut merah dan membiarkan pria itu memotong antrian urinarium. Sosok incaran Eren memilih berjalan ke wastafel, mencuci wajahnya. Ia kemudian mencabut beberapa lembar tisu dan mengusap kulit wajahnya. Saat itu, akal sehalnya seketika tumpul. Eren Jaeger mengikuti nalurinya untuk berdiri di belakang pria mungil itu dan membentengi ruang gerak pria itu dalam kungkuhannya.
"Jauh-jauh, bocah. Kau membuatku klaustrofobia." Gumam lelaki itu tanpa menoleh sama sekali. Ia menatap mata Eren dari pantulan cermin. Tidak tampak sedikitpun gentar terpatri di wajahnya yang muram.
"Jahat. Padahal aku hanya ingin kenalan." Eren memberengut. Wajah merajuk Eren anehnya malah berhasil melunakkan ekspresi pria ramping bermodel rambut undercut tersebut.
"Iya, iya."
Ketika pundak mungil itu berbalik, Eren mencengkramnya sekuat yang ia bisa dan tanpa pikir lagi dilahapnya bibir tipis lelaki itu. Sensasinya benar-benar membuat dada Eren bergemuruh semangat. Bibir tipis itu luar biasa halus, lembut, hangat, dan ada manis dan geletar pahit khas bir. Ia menelusup masuk dan memainkan segumpal lateks berperisa semangka yang masih berada di dalam mulutnya. Merasa bahwa lawan ciumannya bahkan tidak memberontak, Eren memberikan bombardir lebih lanjut. Ia memagut, menggigit, mengecap dan menghisap sepuas birahinya. Namun pada detik selanjutnya, lelaki itu menjambak belakang kepalanya dan nyaris tanpa usaha mulai mengambil kendali. Eren mengejang sejenak ketika ia merasa pinggiran lidahnya digigit. Bibir tipis itu meraup mulutnya dengan ganas, namun gerakannya yang berirama membuat Eren mampu mengimbanginya. Ujung lidah pria bersurai legam itu menyapu bibir atasnya, menyesap bibir atasnya, memberikan bunyi basah terkecap yang memompa hasrat.
Ketika jarak mereka semakin terentang, Eren limbung. Lututnya lemas dan ia berpegangan pada pinggir wastafel untuk mencegah dirinya tumbang.
Ia mabuk.
Ciuman lelaki itu benar-benar membuatnya mabuk kepayang.
PLAKK!
Lalu Eren kembali ke bumi. Sebelah wajahnya terasa kebas. Ia yakin bahwa pria itu menamparnya. Cukup keras, namun nampaknya bukan tenaga penuh. Pria itu kembali pada raut wajahnya yang masam. Ia kembali mencabut beberapa helai tisu untuk menyeka bibirnya.
Eren terdiam. Kepalanya tertunduk. Ia merasa saliva mengalir dari sudut bibirnya. Entah karena sakit bekas tamparan, atau karena nikmatnya sesi ciuman tadi.
"...Mir leid..." gumam Eren. Ia merasa pandangannya berkabut. Suaranya bergetar karena menahan malu. "...Mir leid, Herr."
"Kau terlalu cepat 10 tahun untuk memojokkanku, bocah." Jemari kokoh memagut dagunya dan menaikkan wajahnya. "Lain kali, gunakan sopan santunmu."
Lelaki itu menempelkan selembar kartu di bibir Eren, lalu keluar dari toilet begitu saja. Eren memegangi kartu itu dan memandangnya tanpa arti. Setelah beberapa detik, ia baru sadar bahwa kartu itu adalah business card.
LEVI ACKERMAN
Talent and Culture Asst. Manager at ScoutLegion.,Ltd
Mobile: +49 3012974880
Email: ackermanlevi sclg . com
"Herr Levi..." Gumam Eren sambil mencium lembut kartu nama tersebut. "Es war schön, Sie getroffen zu haben [senang bertemu denganmu]."
Chapter 2 done!
Yak, karena mengambil setting AU Jerman jaman now, jadi saya mencantumkan beberapa bahasa Jerman. Mohon maaf kalo belepotan, saya cuma modal nanya-nanya teman-teman sastra jerman. Chapter ini lumayan susah di update karena author ngetiknya dalam satu part sekaligus yang harus diedit ulang demi kenyamanan pembaca. Anyway, makasih readers yang masih setia nungguin ya. jangan lupa reviewnyaaa. tetap nantikan chapter selanjutnya yaa!
