Naruto tidak akan pernah jadi milik saya.

Selalu Masashi Kishimoto.

.


P.S: Ini menjelang pagi ketika saya upload. Baca kalau ada waktu luang saja.


.

"Kamu tahu, apa yang kusuka?"

Sasuke melirik sekilas pada Sakura, yang telah melepaskan pensil mekanik dari genggamannya. Diletakkan dengan tidak manis di atas kertas-kertas berserakan. Ah, gelagat bosan yang kentara.

"Tentu saja itu aku."

Lagi, dia melirik ke arah Sakura. Hanya untuk mendapati bibir gadis itu kini sudah membentuk sebuah garis lurus. Orang-orang menganggap ini adalah tanda bahaya. Tapi Sasuke adalah Sasuke. Dia jelas menikmati ini.

Beberapa detik berlalu, kini terdengar suara cetikan pensil yang terlalu bersemangat. Sasuke memutuskan berbalik dan menatap Sakura dengan lekat. Kepala merah mudanya tertunduk dan dia menulis dengan pensil terlalu ditekan.

Sebentar-sebentar, Sakura akan mengangkat kepalanya. Tapi begitu melihat Sasuke menatapnya, dia kembali menunduk dengan terburu-buru. Jelas, dia sedang cemberut. Membuat Sasuke akhirnya terkekeh pelan.

"Kenapa tertawa?" Sekarang dia melepas lagi pensilnya. Menyerah karena sebenarnya sejak tadi pun dia tidak dapat menulis satu kata dengan benar, hanya bisa mencoret tidak jelas.

Sasuke berdeham sebelum menjawab, "Kamu lucu."

Kerutan kesal di dahi Sakura terlihat berkurang. Digantikan dengan pipinya yang memerah.

"Kamu menyebalkan," cetusnya sambil membuang muka.

"Kenapa?"

Pertanyaan Sasuke kembali memancing rasa kesalnya.

"Kenapa? Tentu saja karena jawabanmu di awal tadi," katanya sambil menyilangkan tangan.

"Dan jangan coba-coba merayuku lagi," lanjutnya.

Sasuke memutuskan untuk diam kali ini. Bukan karena takut, tapi hanya untuk menikmati rasa geli melihat tingkah Sakura. Dan gadis itu rupanya belum puas.

"Kamu tahu, bukan itu sasaran pertanyaanku tadi."

"Jadi, jawabanku salah?" tanyanya main-main.

"Itu dia yang menyebalkan!" Sakura berseru sambil menghentakkan kaki. Kini dia berdiri dan benar-benar menatap Sasuke di mata.

"Apanya?" Tanya Sasuke selagi Sakura mondar-mandir di hadapannya dengan gelisah. Gadis itu kemudian menghempaskan dirinya kembali ke kursi dengan keras.

"Masalahnya," dia berbisik. Perlahan merendahkan tubuhnya sampai menelungkupkan kepala di meja dengan frustasi. Susah payah menelan ludah sebelum akhirnya melanjutkan, "Kamu tidak sepenuhnya salah," dengan suara teredam.

"Menyebalkan," lanjutnya lagi untuk terakhir kalinya.

Sasuke, masih di posisinya semula, hanya dapat tersenyum puas selagi Sakura tak melihat.