Haikyuu © Furudate Haruichi-sensei
Story © Nicchan Nima
.
TOGETHER
Pairing : Kageyama Tobio x Hinata Shouyo
Genre : Romance, Fluff (maybe), Friendship
Summary : Kebersamaan keduanya menumbuhkan suatu perasaan yang manis. Tapi tak ada yang mengaku satupun, hanya saling berharap dan berdoa yang sama. Untuk sekarang itu sudah cukup bagi mereka.
Warnings : Sho-ai, Twoshoot, abal-abal, gaje, typoo, aneh, dll
.
Wokeh ini dia yang kedua. Mari-mari silahkan di baca langsung yuk. Langsung ending kok nanti, walaupun kyknya nggantung gitu. Silahkan…. Hehe
.
.
.
Kageyama version
Lebih cepat, lebih tinggi.
Ikuti toss ku jika kalian ingin menang!
Tidak ada siapa-siapa di belakangku, tidak ada yang mau menerima toss dariku…
Sebenarnya hari ini aku masih malu untuk bertemu dengannya, entahlah, aku tidak tahu kenapa kemarin aku megusap kepalanya. Rambutnya sangat lembut, terasa nyaman sekali. Apa yang melintas di otakku saat itu, kemarin malam, aku merasa ingin memeluknya. Hentikan pikiran gilamu! Dia laki-laki, kau tahu.
Namaku Kageyama Tobio, aku tidak akan banyak bercerita mengenai diriku. Aku tidak suka itu. Dan aku sangat tidak suka orang-orang memanggilku Raja Lapangan. Panggilan itu hanya akan mengingatkanku pada kenangan pahitku semasa SMP. Yah walaupun trauma ku hilang total karena seorang bocah pendek bernama Hinata Shouyo. Tubuh kecilnya yang memiliki reflek sangat cepat, bisa mengikuti toss cepat yang kuberikan padanya. Aku kaget, sungguh, aku baru saja menemukan seseorang yang hebat.
"Kageyama, pagi!" sapa suara yang sudah sangat familiar di telingaku.
Bocah pendek itu, dia datang menyapaku dengan sebuah senyum yang menunjukkan tidak terjadi apa-apa kemarin. Apa hanya aku yang berharap? Hei kenapa wajahku memanas, aiish lebih baik aku menjauh dari bocah pendek ini.
Aku tidak membalas sapaannya, dan melanjutkan jalanku menuju kelas. Kulihat dia hanya mengangkat kedua bahunya dan berjalan mengikutiku di belakang. Aku harus menyingkirkan sebentar ingatan tentang kejadian kemarin. Mungkin hanya aku yang berlebihan, Hinata saja dalam keadaan baik. Dia tidak mempertanyakan kenapa aku mengusap kepalanya kemarin. Oke kenapa sekarang aku berharap dia bertanya. Setidaknya aku bisa menjelaskan kalau kemarin aku reflek melakukannya.
Kami berdiri begitu dekat, kenapa aku harus berhenti tiba-tiba tadi. Dia jadi menabrakku dan berdiri sangat dekat denganku kan. Jantungku rasanya aneh, berdetak cepat dengan irama yang mendebarkan. Aku memandang wajahnya yang mungil itu, sungguh saat itu wajahnya begitu manis dan bercahaya. Tentu saja, karena cahaya bulan menyinari tepat ke wajahnya. Jika dilihat dari sudut pandangku, wajahnya indah, sangat indah. Aku terus menatap tepat di kedua matanya, karena aku ingin fokus, pada matanya, bukan pada bibirnya. Hei apa yang kupikirkan? Sungguh aku sudah mulai gila.
Tanpa kusadari aku mengangkat tangan kananku dan kuusapkan pada kepalanya. Aku mengusapnya pelan, dan rasanya penuh perasaan. Dia menunjukkan ekspresi kaget yang manis dan lucu di mataku. Terus kuusap kepalanya, dan aku mulai sadar, ini salah. Kenapa aku mengusap kepalanya, ah dasar kau bodoh, Kageyama. Segera kusingkirkan tangan kananku dengan cepat dan tersenyum padanya sebentar. Terlalu sebentar malah, aku tidak tahu apa Hinata melihat senyumku atau tidak. Aku sedikit panik, kujawab pertanyaannya dengan acuh dan membalikkan badanku memunggunginya. Sungguh wajahku rasanya memanas, kenapa aku merasa sangat malu.
Tapi aku tidak akan lupa keindahan sesaat yang kulihat tadi.
Aku seperti melihat malaikat kecil dengan senyuman bagai matahari yang selama ini selalu menjagaku dan bersamaku..
Kembali kami berlatih voli seperti biasa. Aku merasa iritasi dan tidak suka melihat Hinata berdekatan dengan si megane Tsukishima itu. Tidak tahu kenapa, aku merasa sangat frustasi melihat mereka. Dan seperti biasa aku akan menarik Hinata menjauh darinya. Sudah jadi kebiasaanku, mungkin. Kami selalu berlatih berdua, Hinata selalu memintaku untuk memberinya toss. Aku berdebar, karena aku bisa menggunakan teknik toss terbaikku dan aku yakin Hinata bisa melakukan spike. Dan aku berdebar juga karena melihat ekspresi Hinata yang begitu senang jika aku memberinya toss.
"Oi, kita latihan lebih cepat kali ini. Jika kau tidak bisa memukul tossku dan jatuh, aku tidak akan menolongmu. Jika gagal, kita akan ulangi terus!" teriakku padanya dengan memasang wajah ketusku. Aku tidak bermaksud memasang wajah seperti ini, hanya ini ekspresi yang biasa kulakukan. Aku tidak bisa bicara lembut, tidak terbiasa maksudku.
Kulihat Hinata hanya menganggukkan kepalanya semangat dan menampakkan senyum bahagia. Itu sudah sering kulihat, kebiasaannya yang entah kenapa sudah kuhafal di luar kepala. Aku melemparkan tossku dengan kecepatan seperti biasanya, dan dia berhasil melakukan spike. Perlahan-lahan aku akan menambah kecepatan tossku. Lihat apa dia bisa memukulnya atau tidak. Sudah 5 kali Hinata berhasil memukul, dan aku merasa diriku selalu terpesona saat melihatnya melompat. Dia seperti terbang, layaknya burung yang bebas. Dialah perwujudan dari klub voli SMA Karasuno –sang gagak- yang terbang tinggi.
Tapi bagiku, dia malaikat kecilku.
Percobaan keenam kali ini, aku akan melempar toss dengan kecepatan tinggi. Kulempar bola voli ini secepat yang kubisa, kulihat dia berlari dan melompat sangat tinggi, ah terlambat, dia tidak mencapai tossku dan sepertinya akan jatuh. Dengan tidak sadar aku berlari kearahnya dan…
BRUGH
Suara jatuh yang sangat keras, kepalaku terasa sakit tapi tidak terlalu. Kedua tanganku seperti memeluk sesuatu dengan erat. Ah apa tadi yang kulakukan? Aku berlari kearah si bocah pendek, seketika semua ingatanku bersamanya muncul dalam otakku seperti sebuah film yang berputar. Aku mengingat semuanya, mengingat semua kejadian yang selalu kualami bersama dengannya. Semua orang segera datang menghampiriku dan mengelilingiku, ugh apa sebenarnya yang terjadi?
"Kageyama-kun, kau tidak apa-apa? Apa Hinata baik-baik saja? Apa yang kalian lakukan tadi?" tanya Sugawara-san bertubi diiringi dengan tatapan khawatir.
Aku mulai sepenuhnya sadar, dan mengedipkan kedua mataku. Tubuhku terasa hangat, aku seperti memeluk seseorang. Kulihat apa yang kupeluk ini. Astaga! Bocah pendek! Hinata sedang menatapku dengan lekat dan menunjukkan ekspresi khawatir. Aku segera melepas pelukanku dan mendudukkan diriku diikuti dengan Hinata. Aku ingat, bodohnya kau Kageyama. Kenapa kau harus menolongnya segala sih, Hinata kan sudah terbiasa jatuh. Ah tapi tadi lompatannya terlalu tinggi, dan dia menutup matanya. Bagaimana jika dia jatuh terlalu keras dan terluka? Entah kenapa aku lebih khawatir akan hal itu.
"Kageyama, kau terluka? Kenapa kau menolongku? Kau baik-baik saja kan?" tanya Hinata bertubi padaku, lihat! wajahnya sungguh khawatir denganku. Aku melihat tubuhnya dengan teliti, tidak ada luka berat, hanya goresan-goresan kecil dan syukurlah dia terlihat baik-baik saja.
Hati kecilku merasa tindakan yang kulakukan tadi sudah tepat, walaupun aku mungkin akan dianggap sangat bodoh. Kujawab pertanyaannya dengan gelengan pelan, dan tersenyum sekilas. Dia menghela napas lega dan semua orang yang mengelilingiku juga bernapas lega. Mereka mulai meninggalkan kami berdua, dan melanjutkan aktivitas mereka masing-masing. Aku kembali menatap bocah pendek yang sedang meringsut ketakutan di depanku ini. Hei kenapa dengannya? Bukannya berterima kasih padaku malah ketakutan begini.
"Kenapa kau? Apa kau terluka?" tanyaku padanya.
Hinata menggeleng pelan sambil menundukkan wajahnya, "Maafkan aku. Karena aku tidak bisa memukul toss mu dan malah jatuh. Dan kau malah menangkapku. Seharusnya kau biarkan aku jatuh saja, Kageyama. Aku kan sudah terbiasa jatuh." ucapnya pelan.
"Dasar Hinata bodoh! Aku hanya reflek menangkapmu, bagaimana kalau jatuhmu tadi menyebabkan kau terluka? Kau tidak akan bisa main voli untuk beberap hari, mungkin. Dan aku tidak mau itu terjadi, tidak akan ada yang bisa memukul tossku yang cepat selain kau. Dasar bodoh!" makiku padanya dengan sedikit bentakan. Aku tidak bermaksud membentaknya, sungguh.
Kulihat dia sudah tidak ketakutan lagi dan malah tersenyum padaku. Memperlihatkan senyumnya yang manis dan cerah itu padaku, lagi. Matanya membentuk seperti garis pelangi dan pipinya bersemu merah. Dia mengucapkan terima kasih dengan senyum itu. Hoi jantungku tidak stabil lagi. Dan kurasa wajahku benar-benar memanas dan memerah kali ini. Kupalingkan wajahku darinya, sedikit mengatur detak jantungku dan kembali untuk latihan. Dia, malaikat kecilku sepertinya sangat senang dengan makianku tadi.
"Kageyama, nanti sepulang latihan aku akan membelikanmu sesuatu! Untuk beterima kasih!" teriaknya padaku sambil melompat-lompat kecil dan tersenyum lagi.
Lihat? Tingkahnya sangat lucu di mataku. Aku hanya menjawabnya dengan gumaman. Penjagaku, malaikat kecilku, kuharap aku akan selalu bersamanya. Berjuang bersamanya dan berjuang dengan tim. Tapi aku sangat berharap, untuk bersama dengan malaikat kecilku ini selamanya.
FIN
.
.
Selesaaaiiii. Silahkan diberi komentar, silahkan. Next berusaha bikin ff kagehina lagi atau mungkin pair lain. Di anime voli ini, OTP ku selain Kagehina ada TsukishimaxYamaguchi, KuroxKenma, Papa Daichi x Mama Suga (ini cocok bgt), trus Asanoya. Tapi agak susah bikin ff mereka, belom bsa mendalami karakter mereka. Hehe, jadi aku akan terus usaha.
Sekarang lagi proses bikin ff akafuri many chapters! Dijamin bakalan greget! Ditunggu saja minna, aku harap banyak yg suka ff ini dan ff ku mendatang. Semoga semakin impruv saya dalam membuatnya. Mohon diri dan terima kasih!
