Masih dengan disclaimer yang sama : 'Shingeki no Kyojin' by Hajime Isayama
"AAAGGHHHH...!"
'Suara itu, Armin! Armin ada di dekat sini! Tapi dimana dia?'
"ARMIN! KAU DIMANA?"
Eren berteriak, mengedarkan pandanganya. Kini ia berada di tengah lapangan. Sudah 15 menit ia menjelajah seluruh sekolah yang kini mulai gelap. Dan sekarang ia mendengar suara Armin! Ya, teriakannya! Itu teriakan Armin!
"ARMIN! JAWAB AKU! KAU DIMANA?"
Eren kembali bersuara. Kali ini suaranya lebih lantang, menuntut jawaban dari saudarnya itu.
Hening.
"ARMIN! KAU DIMANA? ARMIINNN..!"
Hening.
Eren tak bisa memperkirakan dari mana suara itu berasal. Ia dikelilingi bangunan besar dengan berbagai ruangan mengisinya. Sungguh, ia benar-benar tidak dapat menduga dari mana suara Armin.
'Armin, jawab pertanyaanku. Kau dimana? Apa yang terjadi padamu? Kumohon Armin, jawablah'
XXXX
"Er... eenn... Eren..."
'Itu Armin! Itu suara Armin!'
Setelah 5 menit hening kini Armin kembali bersuara dan Eren tau persis dari mana asal suara itu. Lab biologi! Tepat dibelakangnya!
Bergegas Eren menuju Lab biologi. Ia mematung didepan pintu yang tertutup rapat. Eren ingin segera membukanya, namun ketakutannya kini lebih besar dari rasa penasarannya.
"Armin? Kau didalam bukan?"
Eren mulai bersuara, memastikan yang dicari berada di dalam.
Hening.
'Apa mungkin aku tadi salah dengar?'
Hening.
"Er... eenn... To... loong..."
Itu benar! Suara Armin! Suara menyedihkan milik seorang Alert!
Tanpa basa-basi Eren langsung menggeser pintu itu kemudian masuk. Dicarinya saklar lampu untuk menerangi ruangan itu dan didapatnya. Namun sayang, lampu tak mau menyala. Akhirnya Eren membiarkan pintu terbuka lebar, membiarkan cahaya lampu yang menerangi lorong masuk.
"Armin? Kau dimana?" Eren mulai mencari.
"Er... eenn..."
"ARMIN!"
Eren berlari menuju sumber suara. Dan ternyata benar! Armin ada disana!
"ARMIN! APA YANG TERJADI?!"
Eren terpana. Dihadapannya, Armin, penuh dengan luka. Terlihat banyak sekali bekas pukulan benda tumpul di tubuhnya. Darah mengucur dengan deras dari keningnya, membuat beberapa surai pirang itu kini menjadi merah menyala.
Eren duduk bersimpuh, mengangkat Armin dan memangkunya. Melihat Armin seperti itu benar-benar menyakitkan. Zamrudnya menatap dalam Sapphire itu.
"Er... eenn..."
Armin juga menatapnya. Sungguh. Mata indah itu kini benar-benar menyiratkan luka dan kesedihan hingga Eren nyaris tak berani memandangnya.
Armin menggerakan tangannya, menunjuk sesuatu yang tertutup bayangan hitam lemari besar disampingnya. Eren memutar kepalanya mengikuti ke arah mana tangan Armin itu. Ia tidak bisa melihatnya dengan jelas.
"Di... sa... na..."
Armin berucap pelan. Membuat Eren semakin penasaran. Perlahan diturunkannya Armin dari pangkuannya dan bergegas menuju 'sesuatu' yang ditunjuk Armin tadi.
Mata Eren terbelalak. Sesosok tubuh kaku tak bernyawa tergeletak disana. Cairan merah mengitarinya. Tubuh itu...
"MIKASAAAA!"
XXXX
Entah sudah berapa lama Eren terdiam. Sepatah katapun tak keluar dari bibirnya. Saat ia masih terpaku menatap tubuh kaku Mikasa, Rivaille muncul dari balik pintu. Menyeringai dengan aneh ke arah Eren, membuat bulu kuduknya merinding.
Rivaille berjalan mendekati Armin, yang kini benar-benar tidak berdaya. Ditariknya kerah baju Armin yang kini telah berubah warna menjadi merah sempurna lalu diangkatnya, membuat Armin menggantung di udara.
"Kau ingin tau apa yang kulakukan padanya?" wajahnya kembali datar.
Hening.
Antara takut dan marah, Eren memandang senpainya. Dilihatnya pula Armin yang mengerang karena tercekik kerah bajunya sendiri, tak menapak di lantai. Rivaille memang pendek, namun jangan salah dengan kekuatannya. Ada rumor yang mengatakan bahwa sewaktu kecil, sang senpai telah membunuh beberapa orang dewasa. Ia tidak ditahan karena dianggap sebagai perlindungan diri dan kini ia tinggal sendirian. Eren ingin sekali menolong Armin, namun kedua kakinya menolak bekerjasama dengannya.
"Senpai, tolong lepaskan Armin..." Eren gemetar.
"Kau memintaku melepaskannya?"
"Ya. Tolong senpai, lepaskan Armin..." Eren masih bergetar. Dilihatnya Armin yang makin lama makin mengerang hebat.
"Baiklah."
Rivaille mengendurkan genggamannya pada kerah Armin, menurunkannya sehingga ia dapat menapak. Namun sejurus kemudian, Rivaille melepaskannya begitu saja sehingga Armin justru jatuh tersungkur di lantai.
"SENPAI! APA YANG KAU LAKUKAN PADA ARMIN?" Eren menggeram.
"Kau memintaku untuk melepaskannya. Dan aku melakukan apa yang kau pinta. Apa aku salah?" Rivaille menjawab masih dengan ekspresi khasnya, datar.
Eren masih berdiri membelakangi Mikasa yang sudah tak bernyawa. Kini ia memprioritaskan keselamatan saudara pirangnya itu. Armin masih hidup, namun entah sampai berapa lama. Melihat darah sebanyak itu, waktu Armin tak akan lama lagi.
"Senpai, tolong biarkan aku membawa Armin ke rumah sakit." Eren memohon.
"Kau ingin membawa bocah ini kerumah sakit? Apa kau yakin? Kurasa dia pasti akan meninggal dalam perjalanan. Kau tau itu kan?"
Eren terdiam. Memang benar apa kata senpainya itu, Armin tak mungkin kuat lagi. Namun itu bukan berarti dia hanya diam saja melihat saudaranya sekarat seperti itu.
"Baiklah kalau itu maumu. Ini."
Rivaille mengangkat Armin lalu melemparkannya kearah Eren. Eren tercengang, tubuh Armin menabraknya hingga ia jatuh dan nyaris menimpa Mikasa. Sekali lagi Armin mengeluarkan darah dari mulutnya diatas seragam putih Eren, membuat kemejanya kini sama merahnya dengan milik Armin dan Mikasa.
Eren menatap marah pada Rivaille yang justru memandangnya dengan tatapan datar. Aura membunuh menguar dari dalam tubuh Eren, menebarkan ancaman pada senpainya. Namun Rivaille tak goyah, ia justru kembali menunjukan seringai anehnya.
"Akan kutunjukan padamu apa yang kulakukan pada mereka nanti. Aku harap kau bersiap, bocah."
Rivaille berucap sambil berlalu. Ditinggalnya 'trio Yeager' itu sendirian di kegelapan malam, dengan cairan merah mengelilingi mereka. Dengan ini Eren secara resmi mendeklarasikan dendamnya pada Rivaille, sosok yang benar-benar ingin ia hancurkan.
'Akan kubalas perbuatanmu ini! Akan kubuat pertemuan kita selanjutnya sebagai hari terakhir kau bernafas!'
XXXX
Hujan mengguyur deras. Pemuda bersurai cokelat itu tetap teguh berdiri disana. Didepan dua pusara kelabu. Menatapnya dengan kosong. Tak bergeming sedikitpun. Diam dalam dinginnya udara. Hanya itu.
Tak peduli air yang membasahi pakaiannya, membuat surainya jatuh. Iris indahnya kini tak secerah dulu lagi. Masih terdiam. Kedua saudaranya sudah pergi. Armin dan Mikasa telah meninggalkannya sendiri. Telah terlebih dahulu melihat dunia baru.
"Ternyata benar kau disini. Ayo pulang Eren, orangtuamu mencemaskanmu."
Suara itu, Jean. Eren dan teman 'kudanya' ini memang cukup dekat. Mereka memang sering bertengkar, namun justru itulah yang membuat mereka menjadi akrab. Bila Armin dan Mikasa tidak ada, Jean selalu hadir untuk menemani Eren.
"Kau basah, Eren. Lebih baik pakai ini sebelum kau sakit. Orangtuamu memintaku untuk mencarimu. Dan menurutku, inilah tempat yang paling tepat. Sepertinya dugaanku tidak salah ya?"
Jean memberikan sebuah payung pada Eren sambil tersenyum, mencoba menghangatkan suasana.
"Terimakasih Jean."
Eren membalas senyum Jean. Diambilnya payung itu dari genggaman Jean lalu dibukanya. Ia kembali menatap dua pusara itu dalam-dalam. Jean hanya bisa diam. Ia tau betul bagaimana perasaan seseorang yang baru saja kehilangan sosok yang paling berharga dalam hidupnya.
Eren teringat kejadian hari itu. Sungguh, ia benar-benar tidak percaya akan hal itu. Ia pusing, terjatuh di depan salah satu pusara kelabu itu. Ia benar-benar tidak menyangka seorang yang ia hormati justru menjadi penyebab keberadaannya di depan dua pusara ini sekarang.
"Eren, kau tak apa?" Jean panik. Eren hanya menggelengkan kepala.
"Kita pulang, Eren."
XXXX
Sudah sebulan sejak insiden itu. Dan sudah selama itu pula Eren belum bertemu dengan musuhnya. Suasana KBM di Shina High School telah kembali normal. Benar-benar normal hingga rasanya kejadian itu hanyalah mimpi. Mimpi buruk yang entah mengapa menjadi nyata.
Eren masih tak percaya mengapa Rivaille senpai tak ditahan. Menurut informasi yang ia dapat, tak ada bukti yang mendukung untuk menjerat Rivaille sebagai tersangka. Selain itu, Rivaille berdalih bahwa itu adalah sebuah kecelakaan. Walaupun alasan itu cukup aneh, namun itu juga adalah satu-satunya alasan yang paling logis untuk kematian dua remaja di sekolah. Apalagi pihak sekolah tidak bertanggungjawab karena insiden itu sudah diluar waktu pembelajaran.
'Cih. Si muka datar itu memang benar-benar licik! Lihat saja, aku akan mengalahkanmu dalam permainan kotormu sendiri, brengsek!'
XXXX
"Sampai jumpa, Eren!" Jean melambaikan tangan pada Eren yang dibalas dengan senyum.
Mereka berpisah di sebuah pertigaan. Eren berjalan sendiri menuju rumahnya. Hari telah gelap dan Eren masih belum tiba dirumahnya. Jarak dari pertigaan itu kerumahnya masih cukup jauh. Ia teringat telah dengan sukarela menolong Miss Petra merapikan lab kimia bersama Jean sehingga mereka harus pulang di jam seperti ini. Melihat guru kecil itu merapikan lab kimia sendirian membuat hati Eren tergerak untuk membantu. Yah, walau hal kecil tapi setidaknya itu menolong orang lain. Dan Eren sama sekali tidak keberatan dengan itu.
Eren berjalan di trotoar. Penerangan disana memang minim, tak heran keadaan jalan ini cukup sepi dimalam hari. Mimiknya menunjukan mode waspada, takut-takut ada pencuri atau penjahat lain yang datang menerjangnya.
Benar saja. Belum 5 detik ia memasang mode waspada, ia sudah dibekap dengan saputangan dari belakang oleh seseorang! Eren meronta. Namun entah mengapa perlahan pandangannya mulai kabur dan konsentrasinya memudar. Eren pingsan.
