ACE
Kim Junmyeon
Zhang Yixing
Other
Romance, crime, friendship
Yaoi, typo (s)
This is Sulay
© idea D'Xp ft luce
.
.
.
Kyungsoo keluar kamar dengan terburu buru, jam menunjukkan pukul 8 lewat. Dia terlambat dan akan semakin terlambar jika yang mengantarnya adalah Jongin.
Jangankan bangun, berpindah tempat tidur saja tidak. Semalaman Jongin tidur di sofa ruang tamu.
Ketika di tanya dia menjawab-'aku tidak kuat jalan ke kamar, mataku tidak mau terbuka, kaki ku sakit, perutku lapar, tenagaku habis, tubuhku lemas.'-atau mungkin mengigau.
Kyungsoo meringis, apa ini karena tendangannya tempo hari? Dia fikir tidak, kaki Jongin itu kaki kuda. Lari jutaan mill dia mampu.
Sekalipun lawannya segerombolan kuda balap Kyungsoo yakin Jongin tetaplah menjadi pemenangnya. Jadi, tendangan lembeknya-kata Jongin- tidak akan berpengaruh.
Inilah Kyungsoo dan segala keyakinannya.
Jadi, opsi pertama Kyungsoo adalah segera mungkin keluar mansion. Menemukan seseorang yang bisa mengantarnya.
.
.
Jongdae berdiri di samping mobil menunggu kedatangan Kyungsoo. Dia bertugas mengantarnya hari ini. Itu pesan dari Junmyeon dan Jongin sebelum tumbang di sofa semalam.
Ketika pintu terbuka, menampakkan Kyungsoo yang berlari tergesa. Ketika mereka bertukar pandang Jongdae menampilkan senyum terbaiknya.
Di perjalanan Kyungsoo lalui dengan diam, dia memang dekat dengan seluruh hyungnya dan Jongdae selalu bersikap baik serta ramah kepadanya.
Namun Kyungsoo merasa jika hyungnya ini memiliki sisi gelap dalam hatinya yang tidak bisa dibuka.
Pernah suatu ketika, Kyungsoo bertanya kepada Junmyeon tentang Jongdae. Namun, hanya dibalas dengan tatapan sendu dan gelengan lemah.
Semenjak itu Kyungsoo tidak pernah membahasnya lagi.
"Aku akan menjemput nanti" ucap Jongdae begitu sampai di depan kampus.
"O-i iya, hyung. Aku pamit" jawab Kyungsoo berniat keluar dari mobil.
"Kyungsoo." panggil Jongdae.
"Ya hyung"tanya Kyungsoo berbalik menatap Jongdae.
"Belajar yang rajin ya" kekeh Jongdae mengacak rambut Kyungsoo.
"Tentu hyung." cengir Kyungsoo beranjak keluar dari mobil dan berlari.
Dia benar benar terlambat.
Jika saja, Kyungsoo berada lebih lama di dalam mobil. Kyungsoo akan tau betapa gelap hati hyung keduanya.
Mungkin, dia akan melihat Jongdae yang terdiam menyandarkan kepalanya di setir kemudi.
Karena setiap kali Jongdae menatap adik kecilnya, dia akan selalu teringat dengan seseorang.
Berharap dapat bertemu dengannya.
Maka Jongdae membiarkan air mata mengalir di wajahnya dan berucap pelan kepada udara kosong.
'Aku merindukanmu, sangat'
Tapi Kyungsoo tidak melihatnya.
.
.
.
Junmyeon dan Jongin menunggu kedatangan Jongdae didalam mobil. Mereka sengaja menghindari Kyungsoo dan segala sensornya pagi ini.
Jongin masih sibuk menguap lalu mencoba memejamkan mata, tidurnya masih kurang. Hingga bunyi klakson membuatnya kaget.
"Sialan kau hyung!" umpat Jongin begitu Jongdae masuk ke dalam mobil.
"Ayo berangkat hyung"balas Jongdae acuh.
"Kyungsoo tidak bertanya apapun?"tanya Junmyeon.
"Dia pasti sibuk memikirkan keterlambatannya" balas Jongin.
"Jongin benar, dia diam selama perjalanan" jawab Jongdae.
"Pulang ingatkan aku untuk membeli sesuatu, dia akan mengamuk jika sadar kita pergi keluar." ucap Junmyeon.
Dan ketiganya terkekeh pelan membayangkan ekspresi marah Kyungsoo dan senjata andalan-makanan.
Pernah, mereka bertiga bertengkar dan pulang larut malam, meninggalkan Kyungsoo sendirian di rumah.
Ketika pulang mereka bertiga disuguhi makanan penuh semeja makan yang mutlak harus dihabiskan.
Ting!
Suara ponsel Jongdae membuat ketiganya terdiam sejenak, fokus.
"Dia ada di seoul siang ini" ucap Jongdae.
"Apa yang akan kau lakukan hyung?" tanya Jongin.
"Kita akan menemuinya." jawab Junmyeon singkat.
"Kau percaya dengannya, hyung?" tanya Jongdae ragu.
"Perkataannya bisa di percaya, tergantung seberapa tebal dompet kalian." balas Junmyeon.
.
.
.
Kris memijat pelipisnya pelan, semalam dia tidak tidur dan ini sudah pagi. Ini karena kekasih manisnya.
Lebih tepat tunangannya, karena ketika pemuda manis itu mengatakan 'Aku bisa pergi sendiri!' Kris membentaknya dengan keras.
Hal itu membuat tunangannya dalam mode ngambek tidak mau bicara dan pergi meninggalkan ruangan.
Namun, yang membuat Kris mengeram tertahan ketika tangan kanannya di Kanada menelfon. Terjadi keanehan berupa perbedaan transaksi dan itu membuat kolega terbaiknya dari Miami menginginkan pertemuan langsung dengannya.
Kris yakin ini berdampak buruk. Dia tidak yakin dapat membatalkan perjalanan tunangannya ke Seoul.
Membayangkan saja membuatnya tiba tiba rindu dengan sosok manis itu, maka Kris beranjak keluar dari ruangan.
Namun, hal yang ditemui membuat Kris menyergit geram.
Beberapa anak buahnya dengan kedua tangan terikat dan tersumpal kain di mulut masing masing, wajah Kris mengeras.
Langkahnya di percepat menuju ruangan si ujung lorong.
Dia tau siapa yang berani melakukan hal nekat ini.
"ZHANG YIXING!" teriak Kris penuh amarah.
Ingatkan Kris untuk menghukum kekasihnya dengan berat.
Tapi, tentu setelah dia menyelesaikan masalah di markas Kanada. Kelihatannya butuh waktu tidak sebentar untuk kekacauan ini. Kekasihnya benar benar membuat gemas.
.
.
.
Yixing terkikik pelan di dalam mobil yang membawanya menyusuri jalanan Seoul, dia yakin kekasih naganya sedang mengamuk saat ini.
Terbukti dengan puluhan panggilan memenuhi ponselnya. Oh, kekasih naganya itu sangat lucu juga menyeramkan kala marah.
Tapi, setelah ingat kemarahannya semalam Yixing memberengut sebal.
Dia sengaja mengacaukan transaksi di Kanada untuk bisa mengalihkan perhatian dengan begitu dia bisa menyusup keluar mansion.
Balas dendam katanya.
Tapi tidak apa, Kris tidak akan bisa datang ke Seoul hari ini. Yixing tanpa sadar tertawa senang. Mungkin baru beberapa hari kemudian atau seminggu kemudian baru bisa datang.
Yixing benar benar pengacau yang baik. Dan dia bangga. Meski dia tau jika hukuman Wu Yifan-nya pasti sudah menunggu.
Ukh! Memikirkannya membuat Yixing mengigit bibir. Kelihatannya Yixing harus memutar otaknya lagi untuk hukuman yang satu itu.
.
.
Jongin masi menatap sangsi dengan lelaki di depannya. Tidak yakin, apa benar lelaki yang biasa di panggil Jhope ini benar benar dapat di percaya.
Mereka melakukan pertemuan di depan bangunan bekas gedung yang sudah tidak terawat.
Junmyeon melemparkan amplop tebal begitu sampai di depan Jhope yang langsung di tangkap dengan baik.
"Woah!" pekik Jhope begitu tau lembaran won di dalamnya.
"Beritahu kami apapun yang kau ketahui tentang Wu" ucap Junmyeon.
"Perlu aku katakan terlebih dahulu bahwa, aku tidak memiliki tuan. Aku hanya bekerja pada lembaran ini" tegas Jhope mengangkat amplop di tangan kanannya.
"Hah? Kau mau mengatakan bahwa itu kurang?" gerutu Jongin
"Hahaha, aku tidak menyesal bicara dengan kalian Kim" kekeh Jhope.
"Baiklah, bagian mana yang kalian ingin dengar?" tanya Jhope
"Semuanya" ucap Junmyeon singkat.
"Baiklah, wu yifan atau kris wu penguasa kanada dan china, bergerak di bagian persenjataan. Dia pilar dari mafia wu tapi sebenarnya ada yang juga berhak atas kekuasaan wu, adik dari wu yifan. Tidak ada yg tau dimana dia sekarang. Namun mereka terlibat perebutan kekuasaan. Adiknya berambisi untuk menghancurkan yifan." ujar Jhope.
"Semoga kalian tidak masuk lingkaran konflik mereka." tambah Jhope.
"Kau mau bilang jika yang mengacau wilayah kami adalah dia? Untuk sekedar memancing?" tanya Jongin penasaran.
"Tidak, jika yang kau tanyakan siapa dibalik kekacauan kemarin. Jawabannya adalah zhang yixing tunangan dari wu yifan. Dia sudah lama menginginkan wilayah di Korea selatan. Tapi ada yang mengatakan seseorang sengaja menyuruhnya kemari." jelas Jhope.
"Dia pengatur strategi yang baik dan dia ada di korea saat ini, saranku jika bertemu dengannya kalian harus hati hati. Buat dia melawan kalian dalam jarak dekat."
ucap Jhope serius.
"Kenapa?"balas Jongin.
"Oh? Tentu saja aku tidak mau kantong uangku mati"kekeh Jhope
"Jujur, aku ingin memakan daging manusia saat ini."sarkas Jongin yang di balas tawa Jhope.
"Baiklah, sepertinya aku harus pergi. Tugas keduaku menunggu. Dan aku fikir kalian akan segera bertemu."Jhope tersenyum.
"Ah ya, satu lagi. Aku ingatkan bahwa aku hanya bekerja pada lembaran uang." ucap Jhope.
Jongin benar benar ingin mencekik orang satu ini. Tapi Junmyeon merasa jika ada yang aneh disini.
Tugas kedua, segera bertemu.
Ketika tatapan mata Junmyeon bertemu dengan Jhope, dia seperti mengisyaratkan pandangan ke atas sebelum dia memasuki gedung tak terpakai berlantai 2.
Atas, artinya atap dek bangunan gedung. Jangan jangan?! Oh, shit!
Tap!
Seorang lelaki dengan senyuman manis berdiri di atap dek bangunan.
Menatap penuh minat pada kedua Kim yang berdiri di bawah.
Letak gedung dengan atap dek yang tidak terlalu tinggi memudahkannya untuk menyapa langsung ke bawah.
"Hai kim, sudah dengar ceritaku dari jhope."ucapnya dengan dialek lucu.
Ucapkan selamat datang kepada Zhang Yixing, tunangan dari Kris Wu. Tidak ada yang tau pemikirannya ketika hari pertama di Korea langsung memutuskan untuk bertemu dengan Keluarga Kim.
Sementara Jongdae melebarkan kedua matanya. Dia bersembunyi tidak jauh dari mereka berdiri, mendengarkan percakapan dari penyadap suara yang dia pasang pada saku jas milik Jongin.
"Sialan."umpat Jongin sadar terjebak.
"Hehee jangan marah kim. Bukan hanya kau yang bisa membayar jhope." Yixing terkekeh pelan.
"Apa maumu brengsek?!"balas Jongin
"Umm, biar kutebak. Kau pasti kim jongin" ucapnya menunjuk Jongin ragu.
"Dan kau kim junmyeon, ah! aku suka senyummu!"tambah Yixing dengan nada ceria.
"Senang bertemu dengan kalian, sayang aku belum bertemu dengan 2 orang lagi"ucap Yixing.
"Aku benar benar ingin membunuhmu!" geram Jongin.
"Sudah kuduga reaksimu seperti ini kim jongin." ujar Yixing terkekeh.
Junmyeon menatap tajam kepada Yixing, segala kemungkinan berputar di otaknya. Yixing yang menyewa Jhope,Yixing yang menduga reaksi Jongin. Itu artinya ada banyak yang Yixing ketahui tentang mereka.
Maka dari itu Junmyeon menahan pergerakan tangan Jongin yang berniat mengeluarkan senjata api dari sakunya.
"Jongin tahan!" Junmyeon memperingati Jongin.
"Shit, turun dan lawan aku sekarang!" desis Jongin.
"Maaf kim, aku tidak mau salah menginjak ranjau." balas Yixing menyeringai.
Pernyataan Yixing barusan mau tidak mau membuat ketiganya mengumpat dalam hati, dan Jongdae mau tidak mau harus berfikir keras bagaimana dapat mengeluarkan hyung dan dongsaengnya dari jebakan Yixing.
"Kau tidak kaget kan?" tambah Yixing mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.
Jongin melebarkan kedua matanya, kala melihat Yixing memainkan granat di tangannya. Namun, selanjutnya berubah cepat dengan ekspresi datar.
Jongin siap dengan segala kemungkinan terburuk.
"Hitung hitung perkenalan, dan kita impas kim." ucap Yixing menatap kedua Kim sebelum melemparkan granat ke arah mereka.
Dor!
Duaarr!
TBC
A/n: Hai, apa kabar?
Terimakasih banyak sebelumnya, dan saya akan berusaha lebih baik lagi. See you next chap guys~
Sudah membaca HeartBreaker milik D'Xp hari ini? Saya kembali sarankan untuk membacanya jika belum.
Review please~
Luce,
9 November 2016
