Chapter 2 : Problem
.
.
"Sial!" Umpat Naruto yang menahan sakit dipantatnya. "Sasuke sialan! Setidaknya ayam tiren itu mesti membantuku, bukan meninggalkanku begitu saja. Eh, tapi siapa yang mau dibantu sama mulut racun seperti ayam tiren itu!" Geram Naruto, mengelus pantatnya.
Beruntung saat ini pelajaran sedang berlangsung. Sehingga tidak membuat Naruto menahan malunya. Setelah jatuh dari atas pohon, Naruto segera ke uks dan mengobatinya di sana—hanya dioles salep pereda sakit, dan segera menuju kelas. Dalam perjalanan, Naruto bertemu dengan Kakashi dan bermaksud untuk menjelaskan semua kejadiannya, tidak sepenuhnya hanya bagian tertentu saja.
"Naruto, kau sudah menyelesaikannya?" tanya Kakashi, menyapa Naruto.
Merasa namanya dipanggil, Naruto segera menatap Kakashi—guru paling aneh di sekolahnya. "Err, kalau halaman sudah sensei, tapi kalau gudang belum. Pintunya terkunci, lagi pula saya jatuh dari atas pohon." Naruto berusaha menjelaskannya.
"Jatuh? Dari atas pohon? Apa yang kau lakukan di atas pohon, Naruto?" tanya Kakashi heran. Ia membutuhkan penjelasan dari anak muridnya yang sering terlambat ini.
Naruto mengelus rambutnya ke belakang, agak ragu ia mengatakannya. "Err, saya membantu anak kucing yang gak bisa turun, sensei." Alasan Naruto terdengar kuno, tapi ia berharap Kakashi mempercayainya.
"Ya sudah, nanti sepulang sekolah kau akan mendapatkan tambahan pelajaran, sekaligus ulangan. Nanti ada siswa pilihan sensei yang akan membantu dan mengawasimu sepulang sekolah." Kakashi menepuk pelan bahu Naruto, "Sekarang kau masuk. Besok jangan terlambat lagi pelajaran saya."
Naruto mengangguk. Ia segera undur diri dari hadapan Kakashi. Bergegas menuju kelasnya. Ia tidak ingin terlambat masuk di kelas berikutnya. Ia berusaha menahan sakitnya. Beruntung guru selanjutnya belum datang. Sepertinya hari ini dia tidak mendapatkan nasib baik. Mulai dari telat bangun, terlambat, berantem sama satpam, diuber satpam, ngumpet di kamar mandi, bersihin halaman, sampai jatuh dari pohon, dan terakhir mendapatkan jam tambahan dan ulangan disaat teman-teman yang lain bisa bersantai di rumah. Kalau seperti ini, Naruto akan tua sebelum waktunya. Menyedihkan sekali nasibnya.
Tidak ada yang istimewa setelahnya, selama beberapa pelajaran berlangsung sampai bel pulang berbunyi, Naruto mendapatkan dua kali hukuman di mata pelajaran matematika dan Bahasa Inggris lalu ulangan dadakan yang berakhir Naruto mengisinya dengan kutipan-kutipan yang dia ambil dari kartun yang dia lihat semalam. Intinya hari ini berakhir dengan buruk.
"Ayo Naruto, kita pulang." Ajak Kiba pada Naruto yang terlihat masih terdiam di tempat duduknya.
"Duluan saja, aku masih ada urusan dengan Kakahsi-Sensei." Balas Naruto, membuat Kiba segera pergi dari sana.
Naruto segera beranjak dari kelas, menemui Kakashi, meminta penjelasan dengan nasibnya. Sesampai di ruang guru, sebuah pemandangan yang membuat matanya sakit. Sasuke—orang yang tadi pagi ia temui ada bersama dengan Kakashi. Sial, begitu yang dipikirkan oleh Naruto.
"Sore, Kakashi-Sensei." Sapa Naruto, memberi hormat pada gurunya dan membuat Sasuke menoleh angkuh padanya.
"Ya, Naruto. Jadi hari ini kau akan diajarkan oleh—" belum sempat Kakahsi menyelesaikan ucapannya, Naruto segera menghentikannya dan menolak mentah-mentah apa yang akan Kakashi ucapkan padanya.
"Tidak mau, sensei. Lebih baik saya tidak naik kelas kalau saya diajarkan oleh ayam tiren seperti dia." Tunjuk Naruto pada Sasuke. Tak sudi Naruto berduaan dengan Sasuke. "Tolong carikan siswa lain yang membantu saya, Kakashi sensei. Siapa pun asalkan bukan ayam tiren ini." Naruto memohon sangat pada Kakashi yang membuat gurunya dan Sasuke menatap bingung Naruto.
Sedetik kemudian Kakashi tertawa dan Sasuke mendengus kesal. Kakashi menepuk bahu Naruto.
"Naruto, perlu kuberitahu padamu kalau kau ingin melawak maka kau akan menjadi juara saat ini juga. Tetapi kau salah mengira kalau Sasuke yang akan membantumu. Sasuke di sini ingin melaporkan kegiatan osis sebulan yang lalu. Sasuke memang pintar tetapi ada siswa yang lebih pintar darinya." Kakashi masih tertawa, membuat Naruto menunduk malu. Seharusnya tadi ia mendengarkan Kakashi menyelesaikan ucapannya.
Dasar mulut ini! tidak bisa menjaga ucapannya. Begitu yang dipikirkan Naruto sambil menahan dirinya untuk tidak menyerobot ucapan Kakashi lagi.
"Aku juga tidak mau mengajari orang yang kerjanya tukang nguping dan bertingkah seperti hewan." Setelah itu Sasuke segera berpamitan pada Kakashi, dan memberikan tatapan tajam pada Naruto. Tatapan tak suka. Sasuke pasti akan menembakkan api jika dia bisa, atau setidaknya, sinar laser dengan tatapan angkuh itu.
Naruto ingin membalasnya, tetapi dia harus sabar. Tidak mungkin ia menambah rasa malunya berlipat ganda hari ini juga di depan Kakashi. Naruto hanya membalasnya dengan tatapan tajam dan menjulurkan lidah ke arah Sasuke.
"Nah, Shikamaru yang akan menjadi mentormu hari ini. Aku sudah menyuruhnya untuk membantumu. Kemungkinan sekarang dia sudah ada di dalam kelas. Setelah dia mengajarimu maka kau akan ulangan saat itu juga. Kau mengerti?" tanya Kakashi, tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas yang diserahkan oleh Sasuke.
Naruto mengangguk. "Baik. Kalau begitu saya ke kelas dulu."
Setelah itu Naruto pergi dari sana. Ia tutup pintu guru dan ia dikagetkan dengan suara tajam yang menusuk.
"Monyet, kau ingin membuatku malu di dalam sana?" dengan datar Sasuke berbicara sambil melipatkan tangannya di dada.
Belum sempat Naruto membalasnya, Sasuke sudah menatapnya lagi seperti yang dia lakukan di dalam dan menyeret Naruto entah kemana. Di depan ruang uks yang sepi, Sasuke menghempaskan badan Naruto keras ke tembok.
"Apalagi yang kau inginkan ayam tiren? Kau ingin bertengkar denganku? Aku tidak melayani." Naruto segera pergi dari sana, tetapi tertahan oleh tangan Sasuke yang mencengkram lengan Naruto.
Awalnya Naruto tidak ingin melayani perbuatan Sasuke, tetapi ini sudah keterlaluan jika tidak dihentikan. Ia akan pulang terlambat ke rumah walaupun ia memang selalu pulang terlambat, ulangan tidak akan jalan dan Naruto tidak akan mendapatkan nilai di ulangan Fisika.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan, ayam tiren?" tanya Naruto kesal.
"Kau tahu, baru kali ini aku menemukan orang seperti dirimu. Kau tidak takut padaku? Aku bisa membuatmu dikeluarkan dari sekolah ini." ucap Sasuke penuh dengan kuasa. Seolah-olah ia adalah penguasa di negeri ini.
Naruto tersenyum mengejek. "Tidak. Memangnya kau siapa? Keturunan raja? Keturunan penyihir? Aku tidak peduli jika kau ini keturunan ayam jago sekalipun. Kita ini sama-sama menghirup udara yang sama, sama-sama minum air, sama-sama makan nasi, dan sama-sama bersekolah di sini. Lalu masalahmu apa? Ah, jangan-jangan gara-gara aku melihatmu dicampakkan oleh Sakura. Atau lebih tepatnya kau tidak mempunyai hati untuk mencintai seseorang. Menggelikan sekali." Mata Naruto menatap nyalang Sasuke. Naruto paling tidak suka ada seseorang yang membanggakan dirinya. Padahal belum tentu orang itu menghasilkan sesuatu dengan hasil jerih payahnya.
Dalam pandangannya, Sasuke mendengus dan hidungnya benar-benar bekedut, menahan amarahnya agar tidak meledak saat itu juga.
"Kau!"
Naruto menyodorkan pipinya. "Kau ingin memukulku? Silahkan saja. Bukan kah orang sepertimu ingin memukul orang sepertiku?"
Sasuke mengangkat bibirnya dalam cibiran kecil yang tidak dapat Naruto dengar. Hebat.
"Sasuke,tuan-terhormat-yang-paling-tampan-dan-sok-berkuasa apa yang kau inginkan dariku?" tanya Naruto dengan tersenyum kepadanya dan berusaha mengerahkan nada manis saat bertanya pada Sasuke.
Sasuke melunakkan tatapannya dan menyentil dahi Naruto keras, membuat Naruto mengusap bekas sentilan Sasuke.
"Makhluk apa sebenarnya dirimu? Dasar monyet." Sasuke segera pergi dari sana ketika melihat wajah Naruto yang memerah. Kini Sasuke tidak sekesal tadi, malah ia mengacak rambut Naruto, membuat Naruto terheran-heran. Padahal tadi Sasuke hampir mau memukulnya, tetapi sekarang ia malah seperti orang aneh. "Sampai jumpa lagi, monyet pirang." Perkataan Sasuke membuyarkan semua lamunan Naruto.
Naruto menghentakkan kakinya dan berteriak. "Dasar ayam tiren sok berkuasa!"
Tidak ada gunanya. Sasuke menghiraukannya bahkan Naruto hanya mendapatkan lambaian tangan dari Sasuke. Dalam pikirannya Sasuke ingin mengungkapkan balasannya keras-keras. Tetapi Sasuke hanya menggeleng sambil memastikan menutup mulutnya dan terus berjalan.
Merasa Sasuke telah pergi dari hadapannya. Naruto segera berlari menuju kelas, ia mendorong pintu hingga terbuka dan pintu kemudian terbanting dengan suara benturan keras ketika Naruto menutupnya. Shikamaru segera mengangkat kepalanya dan menguap.
"Maaf, aku terlambat. Ada urusan yang mendadak." Naruto melangkah ke arah Shikamaru sambil meminta maaf.
"Sudah kumaafkan. Sekarang kau buka bukumu dan tanyakan yang kau tidak mengerti."
Naruto segera membuka bukunya, dan melihat rumus-rumus yang langsung membuat kepalanya tidak bisa menampunya. Naruto bingung ia harus mulai darimana, tetapi kalau tidak bisa dimulai maka mereka berdua akan berada di sekolah sampai malam. Itu mengerikan.
"Mana yang kau tidak mengerti?" tanya Shikamaru mulai mendekati Naruto. Ia mengambil buku catatan Naruto dan membanya sejenak.
"Semuanya," jawabku, Shikamaru segera menetapku sambil menghela napas.
"Ini akan menjadi hari yang melelahkan." Ucapnya sambil menguap malas. "Baik kalau begitu, kita mulai dari sini." Ajak Shikamaru, Naruto hanya mengangguk.
Shikamaru kemudian menbahas apa yang ada dicatatan Naruto, sesekali Naruto bertanya dan dengan mudah Shikamaru menjawabnya. Tidak salah jika Shikamaru selalu mendapatkan peringkat teratas. Ia memang orang yang jenius. Naruto segera mengerti yang dijelaskan oleh Shikamaru. Setelah tiga puluh menit berlalu. Naruto segera mengerjakan soal fisika dan Shikamaru mengawasinya. Butuh waktu satu jam dua puluh menit untuk menyelesaikan tujuh soal yang diberikan oleh Kakashi. Naruto berterima kasih pada Shikamaru yang telah membantunya. Naruto segera pulang, dan mengucapkan rasa terima kasih sekali lagi pada Shikamaru.
Naruto bisa tersenyum bahagia karena ia yakin kalau nilai ulangan fisikanya bagus. Ia segera keluar dari sekolah walaupun ia harus berdebat dengan satpam gila Kabuto yang menaruh dendam padanya.
"Hey monyet, kau baru pulang?" suara ini sangat Naruto kenal, ia melihat Sasuke berada di dalam mobil sambil tersenyum mengejek.
"Iya, kenapa? Kau sedang menungguku? Ha? Dasar ayam tiren." Ucap Naruto tanpa menyaringnya terlebih dulu.
Sasuke tersenyum sinis. "Menunggumu? Yang benar saja. Memangnya kau siapa?" Balas Sasuke sambil mengendarai pelan mobilnya, menyamakan dengan langkah Naruto.
"Aku ini Naruto! Jadi sekarang maumu apa?" Naruto menghentikan langkahnya, begitu pula dengan mobil Sasuke.
"Hanya ingin mengejekmu sebelum aku pulang. Dasar monyet!" Setelah itu Sasuke menancap gas mobilnya, meninggalkan Naruto yang mengeluarkan sumpah serapah.
Di dalam mobilnya Sasuke hanya tersenyum melihatnya Naruto dari spionnya.
"Naruto..." Hanya itu yang Sasuke ucapkan penuh dengan arti.
Sedangkan Naruto mengumpat sampai ia tak sanggup lagi. Naruto segera pulang, sesampai di rumah ia mendapati Kushina sedang menyiapkan makan malam. Hari ini adalah hari yang benar-benar melelahkan. Perjumpaan dengan Sasuke sepertinya membuat hidup Naruto menjadi bolak-balik tanpa arah. Entah masalah apa yang akan terjadi jika Naruto bertemu lagi dengan Sasuke. Mungkin mereka akan berdebat lagi seperti tadi. Naruto tidak terima saat Sasuke mengejeknya dengan sebutan monyet karena ia hanya menguping pembicaraan dari atas pohon. Itu kan tidak sengaja, andai saja ia tidak terlambat maka ia tidak akan pernah berurusan dengan Sasuke—orang yang paling malas Naruto ladeni. Sasuke adalah masalah yang harus diselesaikan.
TBC
[Jakarta, 26/04/2015, 19:39]
Terima kasih untuk responnya :)
