Fyuh. Semakin ke sini, semakin panjang saja. Semoga menghibur! :) Omong-omong, "man of the hour"—sebaiknya diterjemahkan jadi apa ya?

Bab 2 Mimpi Buruk

Struktur ruangan itu telah runtuh, sangat kotor dan hanya diterangi oleh api di perapian. Seseorang duduk di kursi berlengan di depan perapian, sedangkan seseorang lain berlutut di sampingnya. Laki-laki yang berlutut mengenakan jubah hitam yang menyelimuti seluruh jati dirinya. Hanya tangannya yang tampak. Sembilan jemarinya gemetaran. Semua yang membaca Daily Prophet pasti tahu orang ini Peter Pettigrew.

Peter Pettigrew, juga dinamai sebagai Wormtail atas dasar wujud Animagus-nya (seekor tikus) oleh sahabat-sahabat lamanya, sempat dicekal Kementrian, kemudian entah bagaimana berhasil meloloskan diri begitu persidangan Black tuntas. Jikapun ada yang tahu bagaimana dia melakukannya, mereka merahasiakannya. Usaha Auror memburunya sia-sia. Mencari seekor tikus dengan hanya empat jari di kaki depan kiri sama saja dengan mencari jarum di tumpukan jerami.

Suara lemah penuh teror Pettigrew mengisi kesunyian. "Yang Mulia, masih ada sedikit jika Anda masih lapar."

Individu yang duduk di kursi membuka mulut. Namun suara yang dikeluarkannya bukan seperti milik manusia. Melainkan berupa lengkingan, dingin membekukan. "Tidak sekarang," desisnya. "Bawa aku mendekat, Wormtail."

Wormtail melakukan apa yang disuruhkan kepadanya: menggeser kursi lebih dekat ke perapian, lalu kembali berlutut.

"Dimana Nagini?" lelaki itu melengking, jengkel.

"Saya—saya tidak yakin, Yang Mulia," jawab Wormtail, gugup. "Saya rasa, dia pergi menjelajahi tempat ini. Bolehkah saya bertanya, berapa lama kita tinggal di sini?"

"Aku belum memutuskan," kata suara bernada tinggi itu. "Kita harus menunggu sampai Piala Dunia Quidditch usai. Setiap penyihir di Kemetrian Sihir terkutuk itu pasti mengamati pergerakan tidak biasa, teliti mengecek segala sesuatunya. Pasti begitu."

"Yang Mulia, haruskah Anda menggunakan Harry Potter?" Wormtail takut-takut bertanya. "Sekarang dia dilindungi dengan ketat di Hogwarts oleh si anjing dan si serigala itu sebagaimana walinya. Siapa saja mungkin akan lebih mudah…"

"Lebih mudah, memang, tetapi aku punya alasan tersendiri," lengkingan itu berkata tegas. "Kita harus menggunakan Harry Potter. Aku punya rencana yang pasti berhasil apapun bentuk perlindungan yang si tolol, Dumbledore, buat untuk anak itu. Ditambah sedikit keberanian darimu, Wormtail, semuanya akan berjalan mulus. Apa itu terlalu sulit bagi pengecut sepertimu?"

"Yang Mulia!" pekik Wormtail, panik. "Saya—saya yang membawakan Bertha Jorkins kepada Anda! Dia sangat berguna! Dia punya informasi—"

"—ya, dia memang berguna, tapi kau cuma beruntung. Jangan bohong di hadapanku. Kau tahu apa yang akan kulakukan pada mereka yang suka berbohong. Informasi darinya sangat berharga, itu benar. Kau akan dapat hadiah, Wormtail. Ada sebuah tugas yang harus kaulakukan, tugas yang pengikutku yang lain akan dengan suka hati melaksanakannya, tapi aku tak bisa mengatakannya sekarang. Kalau waktunya tiba, kau akan sama berharganya dengan Bertha Jorkins."

Pettigrew gemetar ketakutan. "Anda… Anda akan membunuh saya?" dia bertanya dengan suara serak.

"Kenapa aku harus membunuhmu?" suara melengking itu melempar balik pertanyaan, licik. "Bertha dibunuh karena dia memang perlu dibunuh. Kita tidak ingin dia kembali ke Kementrian dan membeberkan apa yang baru dia saksikan, bukan? Atau aku yang harus mati dan kau diburu oleh Kementrian Sihir? Kita tidak bisa semata-mata memodifikasi ingatannya. Mantra Pengubah Memori gampang dipatahkan, yang justru akan merepotkan kita."

Hening. Pemilik suara melengking itu pasti tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri, karena Pettigrew pun tak berkata apa-apa. Dia menunggu tuannya lagi yang bicara. "Sabarlah, Wormtail," kata lengkingan itu lagi. "Begitu pengikut setiaku sampai di Hogwarts, Harry Potter akan jadi milikku. Itulah yang akan terjadi." Terdengar desisan pelan. "Kurasa aku mendengar Nagini," katanya, lalu dia turut mengeluarkan desisan.

Beberapa saat kemudian, seekor ular raksasa sepanjang hampir dua belas kaki memasuki ruangan, mendesis balik kepada lelaki bersuara melengking itu, yang balas mendesis lagi. Mereka berdua terlihat saling memahami satu sama lain. Seolah-olah si laki-laki bisa berbahasa ular. Pettigrew tidak bergerak. Jelas pemandangan si ular dan sang lelaki bercengkrama itu membuatnya tegang… yah, lebih tegang dari yang tadi-tadi.

"Menurut Nagini, ada seorang Muggle tua berdiri di ruang sebelah, mendengarkan pembicaraan kita," lelaki bersuara melengking itu berkata, selagi ularnya menggelung diri di karpet dekat kursi.

LARILAH! Jangan sampai dia menemukanmu!

Pettigrew melompat berdiri dan bergerak ke pintu dan mendorongnya terbuka, menampakkan seorang lelaki tua dengan tongkat berjalan, mendelik tegang ke arah Pettigrew. Kaki lelaki itu jelas tidak bisa digunakan untuk berjalan normal, maka tidak mungkin dia bisa lari. Pettigrew mencengkeram lengan lelaki itu dan menyeretnya masuk sehingga mereka berdua menghadapi punggung kursi.

"Seberapa banyak yang kaudengar, Muggle?" suara melengking itu bertanya.

"Kau memanggilku dengan apa?" lelaki tua itu balas bertanya dengan berani.

"Muggle, artinya kau bukan penyihir, jadi itu tidak penting," jawab suara melengking itu, tenang.

"Bicaramu ngawur," kata lelaki itu, tegas. "Aku mendengar cukup banyak untuk dilaporkan ke polisi. Kau membunuh seseorang dan berencana membunuh lagi! Kalau keluargaku tahu aku mati, mereka akan melapor juga ke polisi untuk mencariku."

"Kau tidak punya keluarga, Frank Bryce," sosok yang bersembunyi itu berkata. "Kau tinggal di sini. Seharusnya kau tahu untuk tidak berbohong kepada Lord Voldemort, Muggle. Putar kursiku, Wormtail, jadi aku bisa melihat siapa Muggle yang berani menantangku."

TIDAK! Larilah selagi kau bisa! Dia akan membunuhmu!

Pettigrew merintih, tapi melakukan seperti yang disuruh. Perlahan, dia memutar kursi sampai kursi itu menghadapi si lelaki tua, yang sekonyong-konyong menjatuhkan tongkat berjalannya dan menjerit. Voldemort mengangkat tongkat sihirnya, membidikkannya ke lelaki itu. Kata-kata digumamkan, diikuti secercah cahaya hijau meledak dari ujung tongkat sihir itu. Jeritannya langsung terhenti. Frank Bryce terpuruk ke lantai.

JANGAN! KUMOHON, JANGAN!

Mati.

Di kamarnya, di Hogwarts, Harry Potter akhirnya terbangun dari mimpi buruknya, tersengal-sengal, basah keringat dan bekas luka berbentuk sambaran kilatnya membara. Butuh beberapa saat baginya menyadari seseorang menahan tubuhnya. Dia membuka mata dan melihat sosok samar Sirius dan Remus. Dia memandang walinya dengan badan gemetaran. Ini tidak terjadi. Ini tidak mungkin terjadi.

Sirius dan Remus melepaskan pemuda itu. "Kau berteriak dalam tidurmu, Harry," kata Sirius, cemas. "Kami mencoba membangunkanmu sejak lima menit lalu. Kau mau menceritakan kepada kami apa mimpimu?"

Harry memejamkan mata, setetes air mata melelehi pipinya. Bagaimana dia harus mengatakannya pada mereka? Kenapa aku harus menolak? "Tentang—tentang Voldemort," kata Harry, suara dan tubuhnya sama-sama bergetar. "dan Pettigrew. Voldemort membunuh perempuan bernama Bertha Jorkins setelah dia mengorek informasi darinya. Dia baru saja membunuh Muggle bernama Frank Bryce. Dia mengirim seseorang ke sini untuk menculikku—"

Sirius langsung merengkuh Harry ke pelukan, sementara Remus berlari meninggalkan kamar. "Tidak apa-apa, Prongslet," katanya, lembut, seraya mengayun Harry pelan-pelan agar dia tenang. "Itu hanya mimpi—"

"—tapi bekas lukaku sakit," potong Harry. Sakitnya sudah memudar, tapi masih tetap sakit. Sudah bertahun-tahun bekas lukanya tidak sesakit ini. "Bekas lukaku pernah sakit waktu Voldemort ada di Hogwarts, waktu aku kelas satu. Aku tahu dia tidak di sini, tapi kenapa bekas lukaku sakit sekali?"

Sirius terdiam, tetap memeluk anak walinya. Harry tidak menyukai keheningan itu. Sirius seperti selalu punya jawaban untuk segala sesuatu, sekalipun jawabannya hanya "mari kita tanyakan ke Moony". Bagi Harry, kedua pengasuhnya selalu punya jawaban. Harry membenamkan wajah ke dada ayah walinya dan mengeratkan pelukannya. Dia mendengar Remus kembali bersama seseorang.

"Sirius?" tanya Remus, lirih.

"Bekas lukanya sakit," kata Sirius, melihat Remus dari bahunya. Matanya memohon dalam diam kepada manusia serigala itu untuk meredam kecemasannya. "Tolong katakan padaku ini tidak seperti yang kupikirkan."

Sebuah tangan mendarat lembut di bahu Harry, membuatnya menengadah dan menemukan Profesor Dumbledore di sana, memandangnya penuh simpati. Mata mereka bertemu untuk beberapa saat. Tak ada kata-kata selagi mereka saling pandang. Ketika Dumbledore mengalihkan perhatian, Harry kembali membenamkan diri di dada Sirius, ingin melupakan semua yang baru disaksikannya.

"Dumbledore?" panggil Remus. "Tadi itu bukan sekedar mimpi buruk, kan?"

"Saat ini, masih sulit untuk dipastikan," jawab Profesor Dumbledore. Nada riang tidak menyertai. "Aku tahu hal terakhir yang kau inginkan adalah menceritakan kepadaku apa yang barusan kausaksikan, Harry, tapi seandainya itu benar, kami harus tahu. Bisakah kau melakukannya untuk kami?"

Menceritakan ulang mimpi buruknya jelas bukan hal yang paling Harry inginkan, tapi bisakah dia menolak bujukan itu? Harry menarik diri dari pelukan ayah walinya, mendongak dan memandang Profesor Dumbledore dan mengangguk, lalu mulai memaparkan kesaksiannya. Remus mengambilkan kursi untuk Dumbledore dan dirinya sendiri, sedangkan Sirius duduk di tempat tidur, menghadap Harry. Baik Sirius maupun Remus sama-sama siap jika sewaktu-waktu Harry mengalami kesulitan, tapi rupanya tidak perlu.

Usai bercerita kepada ketiga penyihir itu seingatnya, Profesor Dumbledore berterima kasih kepada Harry dan memaksanya kembali tidur. Tentunya itu lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Harry masih terguncang dan akhirnya mendarat di sofa ruang rekreasi bersama Remus, yang mengaku tidak mengantuk sama sekali dan menyuruh Sirius kembali tidur.

Karena Harry mendadak mengantuk lagi begitu dia sampai ke sofa, Remus menyelimutinya dan menyuruhnya berbaring, berbantalkan pangkuan Remus. Di tengah menonton api yang hampir padam di perapian, Remus tak menyadari ketika Harry akhirnya terlelap. Satu yang dia tahu: Albus Dumbledore yakin mimpi Harry bukanlah mimpi buruk semata.

xxx

Kasak-kusuk pelan mengentaskan Harry dari tidurnya. Suara yang pertama terdengar seperti sirius, sedangkan yang kedua mirip sekali dengan suara Mrs Weasley. Belum ingin bangun, Harry mengerang dan berguling, menarik selimutnya ke kepala, menyebabkan seseorang di dekatnya tertawa. Kepalanya berbantalkan sesuatu yang kokoh, tetapi tidak keras, yang aneh baginya. Bantalnya biasanya lembut sekali.

Punggungnya diusap lembut, membuatnya semakin terbangun. Harry mengerang protes lagi, menggulung diri di bawah selimut. Untuk banyak alasan, dia mengantuk sekali seolah-olah tidak tidur semalaman. Kemudian Harry teringat mimpi buruknya, meskipun tidak sejelas semalam. Pokoknya tentang Voldemort dan Pettigrew. Hanya itu yang sanggup Harry ingat sekarang.

"Ayo, Harry," bujuk Remus. "Sudah waktunya bangun. Kau tidak mau sarapan?"

Harry menarik selimut dari kepalanya dan memandang sosok kabur Remus dengan mata mengantuk, lalu memejam lagi. "Ngantuk," gumamnya, seraya merapatkan selimut di sekitar tubuhnya. Biasanya, rayuan dengan makanan berhasil untuk Sirius. Tapi Harry bukan orang yang doyan makan banyak; efek samping dari tahun-tahun yang dia habiskan bersama keluarga Dursley, yang selalu membuat Sirius mengernyit. Menurut Sirius, Hedwig (burung hantu Harry) makan lebih banyak daripada Harry.

"Biarkan dia tidur, Moony," kata Sirius dari depan perapian. "Tidak semua orang bangun pagi-pagi buta sepertimu dan setelah semalam, dia berhak bangun kesiangan."

"Semalam?" tanya suara Mrs Weasley cepat. "Apa yang terjadi semalam?"

Sirius mendesah. Dia tahu Harry mungkin tidak ingin semua orang tahu apa yang terjadi, tapi tidak mungkin Mrs Weasley tidak terpancing. Barangkali, dia sama protektifnya kepada Harry seperti kedua Marauder. "Cuma mimpi buruk, Molly," katanya sambil lalu, nyengir. "Harry baik. Di usia tuanya, Remus lupa kalau remaja butuh tidur."

"Usia tua!" pekik Remus, lalu memandang perapian dan tersenyum. "Kami harus undur diri, Molly. Kami tak sabar menemuimu sekeluarga di Piala Dunia." Dia menyaksikan Mrs Weasley menahan senyum dan menghilang dengan pop. Remus lalu mengalihkan perhatiannya ke Sirius, sembari menyelip dari kepala Harry dan berdiri. "Mr Moony memperingatkan Mr Padfoot, kalau dia tengah melangkah ke zona berbahaya. Bukan Mr Moony yang duduk melamun tak berguna selama dua belas tahun."

Mata Sirius memicing dan dia berdiri. "Mr Padfoot mengingatkan Mr Moony, bahwa selagi dia berkelana ke sepenjuru Prancis, Mr Padfoot berlatih agar bisa mengalahkan siapapun yang berani menantangnya," dia membalas. "Apa kau menantang, Mr Moony?"

Remus maju selangkah. "Oh, aku menantang, Mr Padfoot," katanya, tegas. "Tongkat sihir?"

"Baiklah," kata Sirius, maju selangkah dan mencabut tongkat sihirnya dan memutar-mutarnya dengan jari. "Kalau aku menang, Harry boleh tidur selama dia mau hari ini dan setiap hari sepanjang musim panas."

"Andai kau menang, Padfoot, dan itu terlalu berandai-andai," Remus mengoreksi. "Kalau aku menang, kau harus bicara tentang itu dengan Harry. Setuju?"

Sirius cemberut. Itu adalah hal terakhir yang ingin Sirius lakukan dan Remus tahu itu. Hanya remus yang menganggap itu percakapan, setidaknya itu pendapat Sirius. "Wah, itu kejam, Moony," katanya, "tapi aku setuju."

Tanpa kata, Sirius dan Remus meninggalkan ruang untuk berduel. Tahu betul dia tak akan bisa tidur lagi, Harry menyingkapkan selimut dan beranjak ke kamarnya untuk berganti baju. Dia belajar cepat untuk tahu ada masa-masa dimana Sirius dan Remus harus menikmati kembali masa muda mereka tanpanya, demi menyadari betapa ada banyak hal yang telah berubah. Itu sebabnya Harry selalu menanyai pengasuhnya apakah mereka bahagia, tanpa harus memikirkannya.

Usai berganti pakaian dan membersihkan diri, Harry meninggalkan 'Markas Marauder'—sebagaimana Sirius menamakannya—dan menyusuri selasar sampai dia menemukan jendela dimana dia bisa menonton para pengasuhnya. Keduanya di tengah halaman, berduel dan tertawa. Harry tersenyum pada pemandangan itu. Senang melihat mereka tampak rileks seperti orang-orang biasa.

"Apa yang kaupikirkan, Harry?" suara riang Profesor Dumbledore bertanya dari belakangnya.

Harry berputar dan melihat Dumbledore tersenyum kepadanya, dan mengedikkan bahu seraya kembali memandangi pengasuhnya. "Mereka bahagia," katanya, lirih. "Kalau tidak ada aku, mereka akan bahagia terus seperti ini."

Dumbledore melangkah mendekat ke sisi kiri Harry. "Mungkin," katanya, sambil termenung. "Pernahkah kau berpikir kalau kau adalah alasan mereka bahagia? Remus Lupin adalah seorang yang susah didekati dan senantiasa waspada sebelum kau memasuki kehidupannya untuk kedua kalinya. Dalam beberapa minggu saja, dinding yang dia bangun untuk mengurung dirinya itu runtuh. Kau yang menyebabkannya, Harry. Dia membutuhkanmu, seperti kau membutuhkannya." Dumbledore terdiam beberapa saat, lalu melanjutkan. "Sirius Black, di lain pihak, selalu bertingkah mengikuti perasaannya. Dia memburu Peter, meloloskan diri dari Azkaban dan menyelamatkanmu dari pamanmu. Sirius yang aku tahu sekarang tampak lebih mawas diri karena dirimu. Dia berpikir sebelum bertindak karena dia harus mempertaruhkan seseorang selain dirinya. Semua yang dia lakukan sekarang akan mempengaruhimu, karena dia bertanggung jawab atasmu."

Harry mengembuskan napas panjang dan berbalik, membiarkan punggungnya menghadap halaman. "Itu maksudku," katanya, frustrasi. "Dia harus memikirkan aku. Aku—aku cuma ingin mereka bahagia." Pandangannya jatuh ke lantai, selagi dia mengusap lehernya dengan gugup. "Mereka tidak seharusnya mengkhawatirkan aku karena mimpi buruk… aku… aku hanya merasa aku memanfaatkan keberadaan mereka," papar Harry. "Mereka menempuh banyak hal demi aku—"

"Begitukah?" tanya Profesor Dumbledore. "Harry, mereka melakukan apa yang setiap orangtua lakukan. Merawatmu. Paman dan bibimu salah mengasuhmu dan aku, penyesalanku mendalam. Itu bukan cara membesarkan seorang anak yang benar. Melainkan, seperti yang orangtua asuhmu lakukan. Butuh waktu untuk membiasakan diri, Harry. Sudahkah kau bicara dengan Sirius dan Remus tentang ini?"

Harry mengangguk. "Mereka mengira aku gila," jawabnya, pelan.

Profesor Dumbledore tertawa. "Aku meragukan itu," katanya, riang. "Mereka mungkin tidak mengerti kalau yang kaurasakan saat ini normal-normal saja bagi anak yang memahami apa yang kaualami. Kau tumbuh besar dengan meyakini bahwa keberadaanmu tidak penting. Jadi, sah-sah saja kalau kau mengutamakan perasaan Sirius dan Remus. Biar saja mereka menjadi dewasa, Harry. Biarkan mereka mengusung tanggung jawab. Biarkan dirimu menikmati usiamu… dengan batasan, tentu saja. Aku yakinkan, para pengajar pasti bisa hidup damai tanpa kenakalan ayah walimu, tapi sedikit candaan tidaklah buruk."

"Akan kuberitahu Sirius," kata Harry. Dia tahu Dumbledore benar tentang masa kecilnya. Tapi bagaimana mungkin dia bisa hidup normal seperti layaknya pemuda empat belas tahun kalau hidupnya yang sekaranglah yang normal? Memang inilah dia.

Mendekati jam makan siang, Sirius muncul dengan riang diikuti Remus yang merengut menemukan Harry di perpustakaan. Harry tidak perlu bertanya siapa yang menang. Dia cuma mendengarkan Sirius menyerocos tentang Piala Dunia Quidditch yang akan mereka hadiri besok. Ternyata, Sirius mendapat kursi premium dari Kementrian atas upaya meminta maaf karena telah memenjarakannya selama dua belas tahun. Sirius menerima tiga tiket dan bertanya siapa saja yang akan duduk di sekitar mereka. Ternyata, mereka akan duduk bersama keluarga Weasley, keluarga Malfoy dan beberapa orang dari negara lain.

Di pertandingan besok, Bulgaria akan melawan Irlandia. Dan menurut Sirius, Bulgaria punya Seeker hebat bernama Viktor Krum. Memahami nada yang Sirius gunakan, Harry tahu apa yang Sirius coba sampaikan: Harry bisa belajar banyak dari Krum untuk pertandingan Quidditch-nya di masa mendatang. Semua pemain di kedua tim akan bermain di atas Firebolt seperti milik Harry (yang adalah hadiah Natal dari Sirius). Jadi, Harry yakin permainannya bakal bertempo cepat.

xxx

Keesokan harinya, mereka berangkat subuh-subuh, berpakaian seperti Muggle karena akan menggunakan Portkey—salah satu alat transportasi yang cenderung membuat Harry mual karena tarikan magis di balik pusarnya. Meskipun masih subuh, mata Harry terbuka lebar. Dia terlalu bersemangat untuk tidur cukup semalam dan yakin dia bakal membayarnya nanti. Siapa sih yang bisa tidur di malam sebelum Piala Dunia Quidditch?

Mereka tiba persis di batas terluar sekumpulan tenda dan melemparkan Portkey mereka ke sebuah kotak besar tempat Portkey-Portkey lainnya disimpan. Dengan tangan Sirius dan Remus di bahunya, Harry membiarkan mereka menggiringnya kemanapun arah yang harus mereka tempuh. Tak satupun bicara, membuat Harry semakin tegang saja. Keduanya hanya diam seperti itu kalau sedang dalam mode protektif. Rasanya hampir seperti mereka siap sewaktu-waktu menghadapi apapun bahaya menghadang dan membawa Harry pergi dari sana—konyol sekali. Siapa yang akan menyerangnya di tempat yang dipenuhi orang sebanyak ini?

Di tengah perjalanan, Harry melihat orang-orang berhenti beraktivitas untuk menonton apapun yang Harry dan kedua orangtua asuhnya lakukan, lalu berkasak-kusuk satu sama lain. Sekali waktu, Harry mendengar mereka menggumam, "Sirius Black!" atau "lihat! Itu Harry Potter!" yang membuat Harry menggeram kesal. Kenapa semua orang harus kasar seperti itu? Harry merasakan genggaman Sirius mengencang, dan seketika tahu itu pula yang dirasakan Sirius sekarang.

Mereka sampai di tepi hutan, di puncak bukit, dan menemukan sekelompok orang berambut merah mengerubuti api yang baru saja menyala di depan sepasang tenda kecil nan usang. Harry nyengir lebar. Dia bisa membedakan mana Mrs Weasley dan mana si kembar—Fred dan George, yang dua tahun lebih tua darinya. Tidak ada tanda-tanda sobat karibnya, Ron dan Hermione, atau Weasley termuda, Ginny.

Remus mencondongkan badan dan berbisik, "Ingat apa yang kita sepakati, Harry. Aku tahu kita bisa mempercayai Weasley sekeluarga, tapi ada terlalu banyak orang lain yang bisa menguping. Kalau ada yang tahu dimana Anak yang Bertahan Hidup tinggal sekarang dan apa yang dilakukannya, mereka mungkin minta perlakuan yang sama untuk anak-anak mereka."

Harry memberi anggukan sebagai respon. Dia tahu, ada sejumlah situasi spesial yang mengizinkannya tinggal di Hogwarts musim panas ini. Dia juga tahu siapa yang harus diberitahu situasi-situasi spesial itu. Apapun alasan Dumbledore meminta bantuan Sirius dan Remus, Harry tidak akan membocorkannya. Dia harus membuktikan kalau dia bisa dipercaya.

Fred dan George adalah yang pertama menyadari kehadiran mereka. "Hei, Harry!" seru Fred, seraya buru-buru berdiri bersama kembarannya. "Hei, Profesor Lupin!" Keduanya lalu memandang Sirius dengan gugup, seolah-olah tidak tahu harus berkata apa… herannya.

Harry kaget mendengar Fred dan George masih menyapa Remus dengan 'Profesor Lupin'. Tidakkah mereka tahu kalau Remus sudah mengundurkan diri dari Hogwarts? Menyadari raut penasaran si kembar ke arah Sirius, Harry memutuskan menjadi mediator. Hal terakhir yang dia inginkan adalah adanya ketegangan di antara keluarganya dan keluarga Weasley. "Fred, George, kalian belum pernah bertemu ayah waliku, kan," kata Harry, ceria. "Sirius Black."

Sirius mengangguk kepada keduanya, lalu mengerling Mr Weasley yang lalu berdiri dan bergabung dengan anak-anaknya. Mr Weasley sedikit lebih tinggi dari Sirius dan memiliki rambut semerah istri dan anak-anaknya: ciri Weasley yang sangat khas, membuatnya gampang ditemukan di tengah keramaian. "Arthur," sapa Sirius dengan senyuman. "Kelihatannya ada anak-anakmu yang tidak kelihatan."

Arthur balas tersenyum. "Ron, Hermione dan Ginny sedang mengambil air," katanya, riang. "Mereka akan kembali sebentar lagi. Jadi, apa kalian akan bermalam di sini atau pulang setelah pertandingan?"

Remus mendorong pelan Harry agar bergabung dengan Fred dan George. "Bagaimana kalau kalian bertiga mencari sisa anggota keluarga kalian?" usulnya. "Kuberi waktu sepuluh menit sebelum kami menyusul."

Tahu sebaiknya tidak memprotes, Harry mengangguk, lalu pergi bersama si kembar. Begitu mereka di luar jangkauan telinga orangtua, George melangkah mendahului Harry, mencegah jalurnya. "Baiklah, saudara angkat," katanya dengan raut curiga. "Kami ingin tahu semua detil tentang Sirius Black. Jangan lewatkan satupun."

Harry langsung tegang. Apa yang ingin mereka ketahui? Apa mereka pikir Sirius akan sama buruknya dengan keluarga Dursley? Apa mereka benar-benar berpikir kalau Sirius akan menyakitinya? "Ng—apa maksudmu?" tanya Harry. "Aku suka Sirius dan Remus. Sirius ayah waliku dan Remus sudah seperti paman bagiku… paman yang hebat. Mereka tidak mungkin—"

"Whoa, Harry," potong Fred, seraya meluncur ke sisi George. "Bukan itu maksud kami. Kami berdua tahu Profesor Lupin tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu. Dan dari yang Ron ceritakan pada kami, Mr Black sama protektifnya atau bahkan lebih parah. Kami cuma ingin tahu. Dia, kan, dipenjara di Azkaban selama dua belas tahun. Bagaimana caranya mempertahankan kewarasan dari para Dementor di sana?"

Harry mengangkat bahu. Dia tidak yakin dialah orang yang pantas membicarakan masa lalu Sirius seperti ini. "Sirius jarang membicarakannya," katanya, jujur. Memangnya siapa yang mau? "Sirius menyenangkan sekali. Berkali-kali dia membujukku mengerjai Snape—"

"Apa?" Fred terbelalak.

"Mengerjai?" tanya George, lalu nyengir dan mengerling kembarannya. "Hari ini bisa jadi hari yang menarik, Forge. Petunjuk dari satu-satunya orang yang berhasil melarikan diri dari Azkaban bisa jadi sangat berharga."

Fred mengembalikan cengirannya. "Setuju," katanya, lalu menoleh kepada Harry, tersenyum cerah. "Kau sudah sangat membantu, Harry."

"Harry!"

Harry melihat Ron, Hermione dan Ginny di balik Fred dan George, masing-masing membawa ceret dan beberapa cangkir air. Dia menahan desah lega. Dia tahu si kembar bermaksud baik, tapi dia tidak suka disudutkan dan diinterogasi, terutama kalau pertanyaannya tidak semestinya dia jawab. Dia tidak ingin berbohong, tapi dia tak punya banyak pilihan.

"Kau datang!" kata Ron, senang, sambil mencoba berjalan tanpa menumpahkan air. "Kau tak akan percaya siapa saja yang kami temui. Apa apinya sudah menyala?"

"Setelah Dad selesai mengagumi korek api," jawab George, lalu menerawang jauh ke lokasi kemah mereka. "Yuk. Profesor Lupin akan mencari kita kalau kita tidak cepat kembali."

"Profesor Lupin di sini?" tanya Hermione, bersemangat. "Mungkin kita bisa minta catatan untuk kelas."

Harry gelisah. "Ng—kupikir kalian tahu," mulainya, gugup. "Remus mundur setelah semua tahu tentang sisi lain dirinya. Dia sudah bukan guru lagi."

Hermione menatap Harry, terbelalak. Jelas dia belum dengar kabar ini. "Dia apa?" tanyanya, syok. "Harry, dia guru terhebat yang pernah kita punya! Bagaimana bisa dia mengundurkan diri? Siapa peduli kalau dia manusia serigala. Toh dia tidak akan menyakiti kita semua!"

Harry mengucek mata di balik kacamatanya sambil meniti kembali perjalanan ke kemah keluarga Weasley. Ini bakal menarik. Hermione adalah Kelahiran Muggle, sehingga dia tidak dibesarkan penyihir. Remus pernah menjelaskan banyak ketika Harry menyingkap jati dirinya. Kebanyakan orang melihat manusia serigala semata-mata sebagai makhluk sihir kegelapan yang lebih akan membunuhmu daripada mengamatimu. Remus itu cinta damai. Dia tak akan menyakiti siapapun.

Bertambah tiga lagi orang berambut merah ketika mereka sampai di tenda. Percy, yang dua tahun lebih tua dari Fred dan George, baru saja lulus dari Hogwarts, tampaknya lebih berotak daripada kelima adiknya. Dia pernah menjadi Prefect dan Ketua Murid, yang membuat malu adik-adiknya. Mereka menganggap Percy terlalu mengekang dirinya sendiri.

Yang berdiri di kiri Percy adalah seorang berambut merah yang perawakannya seperti si kembar: pendek dan gemuk, tidak seperti Percy dan Ron yang tinggi dan ceking. Wajahnya dipenuhi bintik-bintik yang bisa saja dikira bekas sengatan matahari. Lengannya berotot, salah satunya memiliki bekas terbakar yang agak berkilauan. Si rambut merah yang berdiri di sampingnya lagi lebih tinggi dengan rambut panjang dikuncir ekor kuda. Telinganya dintindik dengan gigi taring dan terlihat seolah baru saja pulang dari menonton konser rock; di luar sangkaan Harry tentang anak-anak keluarga Weasley.

"Kalian kembali!" seru Mr Weasley, lalu mengisyaratkan pada Harry untuk mendekat. Mr Weasley meletakkan tangan di bahu Harry dan menghadapkannya ke tiga pemuda berambut merah itu. "Harry, aku yakin kau belum pernah bertemu Charlie," dia memposisikan Harry di hadapan si rambut merah yang di tengah, "putra keduaku dan Bill, putra sulungku. Charlie bekerja di Rumania dan Bill di Mesir."

"Senang berkenalan dengan kalian," kata Harry, sopan. "Ron bercerita tentang kalian berdua sepanjang waktu."

Bill dan Charlie tersenyum. "Begitukah?" tanya Bill, terkejut. "Kami juga dengar banyak hal tentangmu. Sebenarnya, Ron cuma tidak bisa tutup mulut. Kurasa aku tahu lebih banyak tentangmu daripada dirimu sendiri."

Harry tidak tahu harus berkomentar apa. Dia tahu Bill cuma bercanda, tapi mengesalkan memang, karena sejak dia memasuki dunia sihir, semua orang sepertinya tahu banyak hal tentang hidupnya daripada dirinya. Remus dan Sirius membantunya mengenal orangtuanya dan masa-masa yang mereka habiskan. Tapi tetap saja. Kenapa semua orang mengira hidupnya adalah urusan mereka?

Hal berikutnya yang dia tahu, Sirius meraih dan menariknya menjauh dari keluarga Weasley. Butuh beberapa saat bagi Harry untuk menyadari ada sosok-sosok baru datang menemui Mr Weasley. Yang memimpin mereka adalah yang paling mencolok, dengan jubah Quidditch kuning strip hitam. Hidungnya seperti habis dihantam Bludger, setidaknya sekali. Rambutnya pirang pendek, matanya biru.

"Halo, Arthur!" kata lelaki itu dengan senyuman. "Hari yang luar biasa! Cuacanya cerah dan orang-orang yang datang… tidak bisa dipercaya."

"Ludo!" kata Arthur, senang. "Sosok di setiap waktu!" dia menebar pandangan ke anak-anaknya. "Anak-anak, Ludo Bagman sudah membantu mendapatkan tiket untuk kita." Dia mengembalikan pandangannya ke Bagman. "Putraku: Percy, Charlie, Bill, George, Fred dan Ron; putriku: Ginny; teman-teman Ron: Hermione Granger dan Harry Potter. Yang menemani Harry adalah orangtua asuhnya: Remus Lupin dan Sirius Black."

Bagman membeliak ketika nama Harry disebutkan, lalu cepat-cepat mengintip bekas luka di dahinya. Dia lalu memandang Sirius dan Remus, yang balas memandangnya seolah menantang kalau dia berani menatap anak asuh mereka lebih lama lagi. "Sirius Black," kata Bagman, gelisah. "Kisahmu hampir selegendaris anak asuhmu. Bagaimana kau bisa kabur dari Azkaban?"

Sirius merangkul pundak Harry. Harry sudah mendengar kisah utuhnya, bahwa sirius menggunakan wujud Animagus-nya untuk melarikan diri. Sepertinya, Dementor tidak berpengaruh sama sekali jika seseorang tinggal di wujud hewannya. "Kalau kau tahu, Bagman, semua orang juga akan tahu," kata Sirius, tenang. "Kurasa, kita tidak ingin semua mengetahui rahasia kecil itu, kan?"

"Sudah, sudah, Sirius," Remus memperingatkan. "Aku yakin Ludo tidak bermaksud apa-apa."

"Memang tidak," ujar Bagman cepat, lalu mengembalikan atensinya kepada Mr Weasley. "Ramai sekali di tendamu, Arthur. Kami akan berjumpa lagi denganmu nanti. Selamat tinggal." Bagman pergi secepat dia bisa tanpa menimbulkan kesan dia melarikan diri.

Beberapa saat kemudian, seorang penyihir muncul di dekat api mereka dengan bunyi tak. Lelaki itu berpakaian remi dengan dasi, memiliki rambut hitam pendek dan lurus, dan kumis tipis seperti sabut sikat gigi. Sirius mengencangkan pegangannya pada Harry, seraya menggeram diam-diam kepada lelaki itu. Harry hanya menonton lelaki itu melotot ke arah Sirius, seraya berjalan melewati mereka, seolah terburu-buru.

"Sirius," Remus memperingatkannya lagi. "Ingat dia berada di pihak kita. Apapun yang Crouch lakukan kepadamu dulu sudah berlalu. Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan."

"Ee… apa yang dia lakukan?" tanya Percy, ragu-ragu.

"Dia menjebloskanku ke Azkaban tanpa persidangan," kata Sirius, kesal. "Baginya, aku tidak penting. Jadi, hak-hakku pun tidak penting."

Remus meletakkan tangan di bahu sahabatnya, sekali lagi menawarkan diri sebagai suara rasionalitas. "Tapi kau terbukti tidak bersalah, Sirius," katanya, tenang. "Hari ini tidak sebaiknya kau tenggelam di kesalahan masa lalu. Biarlah anak-anak bersenang-senang. Piala Dunia tidak diadakan setiap hari."

Sirius mendesah, frustrasi. Tentu saja Remus benar. Melepaskan Harry dari rangkulannya, Sirius menghadapkan Harry kepadanya. "Maafkan aku, kiddo," katanya, sepenuh hati. "Luka lama memang susah disembuhkan."

Harry mengangguk, seraya memeluk Sirius. Kalau ada yang paham tentang luka lama, mereka adalah Harry dan Remus. Mungkin itulah sebabnya ketiganya cepat sekali akrab. Mereka saling mengerti satu sama lain, lebih dari siapapun. "Tak apa," kata Harry, pelan. "Aku mengerti."