Ia punya sebuah mimpi.
Di mana pasir putih menjadi pijakannya. Di saat gelombang air asin datang menyerbu jemari kaki. Terasa dingin menyegarkan. Membuat siapa saja yang merasakannya ingin segera berenang seharian penuh. Burung-burung terbang bebas di atas kepala. Sebagian hanya berkicau merdu di balik pohon kelapa yang berbaris rapih.
Ia melihat lautan. Yang birunya menyaingi kaki langit. Bergerak naik turun, membuat gelombang tinggi. Bergulung sejenak lalu memecah saat mencapai tepi pantai. Dirinya tak akan lupa, bagaimana suara air ombak yang terus bergerak.
Saat itu, ia menutup mata sejenak. Merasakan sejuk angin meniup helaian rambut hitamnya. Menghirup dalam aroma laut yang tajam. Kedua mata kembali terbuka pelan. Pandangannya tak terbatas. Hanya menyipit saat menatap mentari yang menyilaukan dari balik awan menggulung megah.
Sinarnya terbiaskan. Membuat lapisan cahaya di langit tertinggi. Yang kilauan gemerlapnya sedap dipandang. Terefleksi pada air menggenangi. Diikuti setitik bayangan sayap nomad terkuat terbang menjauhi jangkauan. Menjadi titik kecil dan menghilang dari pengelihatan.
Namun indahnya mentari tersaingi sepasang kelabu bercercah biru pada selaput mata. Yang berdiri dengan berbagai luka di tubuh. Mengawasi ombak datang silih berganti. Menunggu matahari terbenam, tergantikan oleh rembulan. Diikuti ribuan bintang di langit malam. Yang jatuh ke bumi lalu menjadi meteorit berharga.
Ia bertahan dari kerasnya hidup juga hantaman mematikan. Yang mengurangi jumlah setiap umat di muka bumi.
Yang berhasil bertahan tanpa adanya harapan berlebih.
Pria itu bernapas berat saat cecair darah menetes dari ujung jemari. Tulang hidungnya patah. Kulit kening sobek, juga terkena tembak pada betis kiri. Namun ia tetap mencoba untuk berdiri tegap. Rasa sakit pada tubuh terkamuflase wajah bosan. Jika orang biasa melihat, mereka akan menuduh pria itu baik-baik saja.
Ia tak pernah berekspresi. Namun matanya yang mengilat menunjukkan kekaguman. Pria itu merasakan gejolak yang timbul dalam dada. Jiwanya ikut bergemuruh bagai ombak menghantam kaki. Entah itu yang dinamakan rasa senang, semangat, atau mungkin cinta. Ia hanya bingung harus membuat mimik wajah seperti apa.
Ia lepas jubah hijau penuh darah. Melemparnya hingga terbang jauh terbawa angin lalu jatuh pada laut biru. Air merambat pada serat-serat kain. Jubah itu basah. Air laut memerah darah. Perlahan ia langkahkan kedua kaki. Gelombang air yang semula setinggi mata kaki kini telah mencapai lutut.
Pria itu menatap lurus. Ia merasa sesak. Bumi yang ditempatinya seolah hampa udara. Tungkainya selemas ubur laut. Lunglai karena menahan sakit. Dirinya menahan rintihan. Yang terasa perih saat air garam menyentuh titik luka di tubuh. Namun ia terus berjalan. Melawan arus ombak yang melarang pergi, seolah menyuruhnya untuk kembali, menikmati kehidupan yang telah ia capai.
Namun apa gunanya? Tak ada lagi yang bisa diajak untuk berbagi cerita, atau hidup bersama. Ia sendirian. Dirinya hanyalah seorang mantan prajurit yang kini tinggal sebatang kara.
Pria itu menutup mata. Menenggelamkan tubuhnya di sana.
Tak perlu mengecap air itu untuk tahu rasanya yang asin dan menyegarkan ketika di tenggorokan. Si Wajah Datar tahu tempat itu. Yang indah dan menenangkan.
Ia ada di sana, sendirian. Di tempat ajaib dambaan setiap umat penuh harapan.
Tempat di mana tak ada dinding pencakar langit. Pasukan Pengintai tak lagi melindungi. Raksasa yang menakuti telah musnah. Mereka tak akan lagi bersembunyi.
Titel Prajurit Terkuat yang dulu memberatkan punggungnya kini telah dilepas.
Ia bebas.
Perjuangannya telah selesai.
Berapa banyak tetes keringat ia keluarkan? Berapa banyak luka di tubuhnya? Berapa banyak nyawa yang tewas di bawah tanggung jawabnya?
Ia lelah. Tak hanya fisik, namun juga mentalnya.
Tubuhnya mengikuti kemana pun air mengalir. Berputar dan menabrak ombak lain dengan keras. Gelembung keluar dari hidungnya yang mencoba bernapas. Ia menelan banyak air secara tak sengaja. Paru-paru terasa kosong. Mulai mengempis saat sudah tak berfungsi lagi.
Namun tak ada yang bisa melihat jika pria itu mengeluarkan setetes air mata.
Frustasi. Ia merasa ingin marah, menangisi semua kekecewaannya. Berteriak sekencang mungkin bila perlu. Hingga semua orang di muka bumi mendengar lirihannya. Yang ditahan selama bertahun-tahun. Namun ia terlalu kaku untuk mengungkapkannya. Mengeluarkan semua emosi yang terpendam.
Hidup adalah pilihan. Namun apa gunanya hidup damai jika tak ada seorang pun selain dia? Karena di sana, ia sendiri. Kehampaan menyelimuti.
Gelombang air membawanya ke tengah laut.
Ia, Levi Ackerman, tenggelam ke dalam dasar lautan biru.
*
Levi, pria pendek perkasa, terbangun dari tidur.
Memegangi kepala, ia mencoba mengingat.
Mimpi?
Sebuah fragmen yang pernah menjadi harapannya muncul di kala ia beristirahat. Layaknya kisah nyata. Levi merasa terhanyut dalam mimpinya. Walau ia tahu, di sana dirinya menghadapi kesendirian. Tak ada siapa pun yang akan menemaninya untuk terus hidup, atau sekedar bercengkrama sejenak.
Impian yang dulu mereka inginkan, sekarang hanyalah sebatas harapan fana. Semangat yang kian menyusut membuat tak ada lagi yang mendukung mereka. Para penduduk dipaksa tunduk kepada pemerintah, menyembah Sang Raja, dan membenci Pasukan Pengintai. Polisi Militer membuat warga percaya jika prajurit yang pergi keluar dinding bermaksud mengurangi jumlah umat manusia dan bersekutu dengan para raksasa.
Levi memijat kening. Menghilangkan pusing yang menyergap.
Melirik ke sekitar, ia berada di tempat yang tak asing.
Kamar Isabel.
Semuanya masih terlihat sama ketika terakhir kali ia meninggalkan rumah. Berbagai coretan burung di dinding. Levi ingat semua gambar tangan asal itu. Ia pernah ikut menggambar di sana. Menghiasi dinding dengan berbagai unggas yang terbang di langit. Ilusi seorang gadis berwajah ceria berkata dengan girang : "Kakak, aku ingin terbang seperti burung-burung itu!"
Dadanya mencelos.
Kini ia tinggal sendiri. Tak ada lagi Farlan, temannya sedari dulu, selalu memberinya berbagai nasihat pelajaran hidup. Tak ada lagi Isabel, gadis yang akan ia bela. Jika preman jalanan memotong rambut dan membuat wajahnya lebam. Levi akan langsung membalas.
Isabel kehilangan rambut, mereka kehilangan setiap kuku jari di tangannya.
Mencoba bangkit, Levi menggeram rendah. Merasakan sakit di sekujur tubuh. Disingkap selimut yang melindunginya dari hawa dingin, lalu mendudukkan diri di tepi ranjang. Pria itu mengerutkan kening. Ia hanya mengenakan celana yang terakhir dipakai. Tubuhnya lilitkan oleh banyak perban yang bahkan masih terdapat bercak darah di beberapa bagian.
Sudah berapa lama ia terbaring di sana? Siapa juga yang merawatnya? Berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran. Hingga ia mendengar suara pintu terbuka.
"Kau sudah sadar."
Mata Levi melirik pemilik suara lembut. Ditatapnya seorang wanita dengan kantong kecil juga baskom berisikan air hangat. Setiap bagian dari wajahnya tertangkap jelas. Ia mengenakan baju putih dan rok merah tua selutut dengan rambut yang dibiarkan tergerai panjang.
"Aku sempat khawatir jika kau tidak akan bangun."
"Siapa kau?" Levi bertanya, penuh intimidasi dalam nadanya.
Wanita itu melangkah masuk. Menyimpan kantong juga baskom air di meja samping ranjang.
"Namaku, [Name," jawabnya. "Aku sudah mendengar tentangmu, hampir semuanya. Kau Levi, 'kan? Kapten Prajurit Terkuat dari Pasukan Pengintai."
Levi mendengus, malas mengungkit masa lalu. "Itu hanya pangkat tak berguna saat Pasukan Pengintai masih berjaya. Sekarang yang tersisa hanyalah Levi, orang biasa dari Kota Bawah Tanah."
"Aku mengerti. Ayahku juga seorang prajurit. Namun ia tewas saat misi penyelamatan Distrik Trost. Pangkat yang ia capai semasa hidup tidak dibawa mati. Semua itu hanya kenangan masa lalu." [Name, wanita itu, sudah berdiri di hadapannya. "Um, maaf jika ini lancang, tapi, aku harus mengganti perbanmu, jadi..."
Bola mata Levi menatap tajam. "Kau yang merawatku?"
"Seperti yang kau lihat."
"Berapa lama aku pingsan?"
"Satu minggu. Wajar saja, luka di tubuhmu sangat parah." [Name] melirik perban di tubuh Levi. "Jadi apa aku boleh?"
"Silakan."
[Name] mengangguk, ikut duduk di tepi ranjang, sebelah kanan Levi. Dibukanya perban pada lengan. Memutar-mutar pelan hingga bekas jahitan tampak menonjol. Luka yang mungkin akan membekas dan sulit hilang. Namun Levi tak masalah. Ia sudah terbiasa dengan luka; yang membekas pada tubuh, atau menggores hati.
Setelah semua perban terlepas, [Name] mengambil lap basah pada baskom kecil. Diusap perlahan pada tubuh yang terluka. Mengilangkan bercak darah pada lengannya, lalu berpindah pada dada dan punggung secara bergantian. Usapan lembut membuat Levi merasa nyaman dengan sentuhan tak langsungnya.
Levi melirik ke arah [Name]. Wanita itu dengan telaten memasangkan perban baru.
Merasa diperhatikan, [Name] menarik kepala. Membalas tatapan yang diberikan padanya. Levi mengunci mata itu. Menangkap refleksi dirinya yang menatap kian dalam. Ia melihat sepasang mata penuh hasrat terpendam. Yang terbias oleh cahaya redup api obor penerangan.
Secepat [Name] menatap, secepat itu juga ia menarik diri. Dadanya berdegup tak menentu.
"Walau aku merawatmu, tahu siapa dirimu," wanita itu bangkit dari ranjang. Mulai merapihkan perban bekas, lap, baskom air dengan tergesa-gesa. "Aku tak tahu kenapa kau ada di sini, di rumahku."
Sebelah alis Levi tertarik ke atas. "Rumahmu?"
"Ya, rumahku. Aku tinggal di sini sejak dua tahun yang lalu setelah rumah ini ditinggalkan oleh pemilik yang lama," jawabnya, masih tak berani melihat mata Levi.
Pria itu menatap punggung wanita di depannya. "Aku hanya ingin pulang ke rumahku."
Bingung, [Name] berbalik. "Apa?"
"Aku pemilik tempat ini beberapa tahun sebelum kau kemari."
Hasrat pada mata [Name] meredup. Tergantikan oleh tatapan kebingungan dengan alis yang bertaut. Namun tak lama kemudian, [Name] mulai mengerti. Pria sehebat Levi tak mungkin sembarangan masuk ke rumah orang jika tak mempunyai tujuan yang jelas.
"Kenapa kau menolongku?"
"Entahlah. Mungkin balas budi atas jasa kalian selama menjadi prajurit?" [Name] mengangkat bahu. "Sekarang aku mengerti. Ini juga rumahmu. Kau boleh tinggal di sini jika mau. Kalau nanti ada yang kau butuhkan, panggil saja aku." Ia tersenyum, berjalan menjauh ke arah pintu. "Istirahatlah. Aku harus membeli bahan makanan di toko, tak jauh dari sini."
Pintu ditutup. Levi kembali berwajah lebih datar. Menyamakan dengan suasana keheningan yang menyelimuti.
Levi berbaring, mencoba menutup mata. Berusaha tidur namun dirasa sulit. Selama apapun mencoba memejamkan mata, ia tak kunjung pergi ke negeri angan-angan yang menurutnya tidak buruk. Levi tak lelah. Bukan tidur yang dibutuh. Bukan juga yang ia mau.
Levi hanya ingin melihat mata itu lagi.
