Pernikahan Naruto. Agustus 2015.

"Karin, istriku bagaimana? Masih bengkak matanya?"

Begitu sepupunya itu turun dari panggung, Naruto langsung menghujani pertanyaan. Karin menggeleng ringan.

"Sudah tidak lagi, kok."

"Fiuh. Thank God."

Karin menatap adik sepupunya itu dengan sebal. "Kau ini! Baru setahun pacaran, sudah main nikah aja!" katanya sambil mencubit perut Naruto."Kau pikir aku tak tahu kalau dia hamil, huh?" lanjutnya dengan geram.

"A-ah! Ittai!" seru Naruto, masih berusaha menghindar dari cubitan maut Karin.

"Ck! Kau baru setahun pacaran sudah berani menghamilinya dan melangkahiku. What a great little brother."

Naruto hanya mengeluarkan cengiran andalannya saat mendengar omelan Karin yang masih tak terima sudah dilangkahi oleh adiknya sendiri.

*** Find Me

© delphinea

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: alur bolak-balik, reply 97 & 94 inspired, couple-hunting.

AU. Out of Characters.

Find Me.

Chapter Two.

Satu minggu kemudian. Konoha High School.

"Forehead!"

"Sakura!"

"SAKURA!"

Ino menghela napasnya menyadari bahwa Sakura tidak akan bisa bangun dari tidur siangnya dengan cara seperti itu. Gadis itu meletakkan tangannya di atas meja Sakura. Dan mulai bergendang di sana.

"Bangun! Bangun!"

Ino masih terus bergendang di meja Sakura, sampai suara seorang laki-laki mengejutkannya.

"Oi, Pirang! Bisa diam tidak?"

Ino mengerutkan dahinya berkali-kali. Barulah dia sadar bahwa oemuda yang barusan protes itu adalah teman semeja Sakura yang diceritakan gadis itu, Shikmaru, Si Jenius Tukang Tidur yang Menyebalkan.

Detik itu juga, Ino setuju dengan julukan itu.

Alih-alih meminta maaf, Ino malah makin menaikkan volume suaranya. "Oi, Forehead! Ayolaaah! Temani aku ke kantin!" rengeknya.

Merasa terganggu dengan keributan yang dibuat Ino, akhirnya Sakura mengangkat kepalanya dari atas meja. Dia mengucek-ucek matanya sejenak, sebelum akhirnya mulai mengomel.

"Dasar Pig! Sendirian ke kantin kan bisa." Sakura merespon, dengan kepala yang masih di atas meja. Ino menghela napasnya, sebal. Lalu pandangannya, beralih ke Shikamaru yang juga kembali tertidur.

Ino menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin melihat pasangan semeja yang sama-sama terlelap di sekolah. "Ck, dasar sleepy couple!" desisnya, sebelum akhirnya berbalik dan keluar dari kelas itu.

Sakura dan Ino adalah satu paket. Hampir setiap saat, keduanya selalu terlihat menghabiskan waktu bersama. Bahkan saat kelas mereka tak lagi sama, dua orang itu kerap kali mengunjungi satu sama lain.

Tapi tidak dengan hari itu.

Sakura tidak bersekolah. Tanpa keterangan, kata Ten Ten yang adalah sekretaris kelas Sakura.

Ino menduga gadis itu juga sakit. Wajar saja kalau dua orang itu sakit, kemarin mereka baru saja kehujanan setelah pulang dari bioskop.

Ino sendiri, memaksakan dirinya untuk tetap masuk sekolah, mengingat hari ini ada ulangan yang diadakan guru fisikanya, Kakashi Hatake.

Namun setelah jam istirahat, dia akhirnya memutuskan untuk ke UKS. Sayangnya kali ini tidak ada yang menemaninya. Dengan tak bersemangat, dia membuka ruangan itu.

"Kak, minta parasetamol," gumamnya, segera setelah pintu terbuka.

Matanya langsung sayu melihat seisi ruangan yang kosong. Baru saja dia akan membaringkan tubuhnya di salah satu tempat tidur di sana, pintu ruangan UKS kembali terbuka.

"Kau sedang apa di sini?"

Ino menoleh, menemukan Shikamaru menatapnya dengan tatapan yang tak bisa ditebak. Ino balas menatapnya dengan heran.

"Aku baru tahu, IQ setinggi langit tidak mempengaruhi kepintaran seseorang. Ada orang ke UKS, ya sakitlah. Masa iya aku lapar terus ke UKS," jawabnya, dengan nada sewot khasnya—namun kali ini dengan suara yang lebih lemah. Gadis itu naik ke tempat tidur lalu menenggelamkan tubuhnya di dalam selimut.

Ino berusaha tak memedulikan Shikamaru lagi. Pemuda itu pasti kemari untuk menumpang tidur. Dasar tukang tidur, pikirnya.

Lima menit, gadis itu bergelung di dalam selimutnya, namun belum juga berhasil tidur. Ino mengeluarkan kepalanya dari selimut, mencoba mengambil oksigen sebanyak mungkin.

"Minum ini."

Ino mendongak, menemukan Shikamaru yang mengulurkan tangan berisi dua buah pil dan segelas air putih, tanpa memandang wajah gadis itu. Ada rasa khawatir yang terpancar dari tatapannya, yang tidak disadari Ino sama sekali. Gadis itu mengambil obat dan meminum air dari tangan Shikmaru.

Lalu kembali mencoba memejamkan matanya. Dan benar saja, obat memang manjur untuk memberikan rasa kantuk. Tak sampai semenit, gadis itu sudah terlelap.

Tanpa menyadari, bahwa Shikamaru tengah memandanginya dengan tatapan lembut.

Dua minggu setelahnya.

Sakura memandangi Ino yang sedang lahapnya memakan semangkuk bakso. Sakura menatap piringnya yang hanya berisi dua potong gorengan—itupun tidak dihabiskannya. Selera makannya hari ini benar-benar menurun.

"Ino." panggilnya.

"Hm?" Ino bergumam tanpa mengangkat kepalanya dari mangkuk bakso.

"Ada yang ingin kubicarakan."

Ino mendongak, ekspresinya seperti dia baru teringat akan sesuatu. "Kebetulan—ada yang mau kubicarakan juga," ujarnya, sambil meneguk teh es yang sudah habis setengah itu. Gadis itu menggeser mangkuk yang hanya tersisa kuah bakso, lalu pandangannya mulai terlihat serius.

"Kau duluan saja, Pig."

Ino menggeleng. "Tidak mau. Kau duluan, Forehead!"

"Ayolah—kau saja duluan! Ingat, kau yang paling muda."

"Bukannya seharusnya yang tua yang mengalah?"

"Ih, pokoknya kau duluan!"

Ino tahu bahwa mereka akan berakhir dengan perdebatan panjang, kalau masih terus seperti ini. Jadilah, dia mengalah. "Oke, fine. Tapi no judge, okay?"

"Oke." Sakura mengiyakan.

Ino menghirup napasnya sebelum berbicara."Jadi sebenarnya, aku sudah move on Sasuke."

Sakura mengedipkan matanya sekali—terkejut, tak menyangka dengan apa yang barusan Ino katakan. Namun cepat-cepat gadis itu mengendalikan diri. "What? Kok kita sama?" katanya, menelan ludahnya.

"Kau juga, Forehead?" Ino menatapnya hampir tak percaya.

"Iya!"

"Jadi itu yang ingin kau katakan tadi?"

"Wow. Kebetulan yang keren sekali ya," sahut Sakura, yang diakhiri dengan tawa kecil yang terdengar canggung.

"Kenapa kau bisa move on dari Sasuke?" Sakura bertanya dengan penasaran. Ino, menghela napasnya, memandangi Sakura yang terlihat hopeless.

"Duh, Forehead, pertanyaanmu klise sekali." Ino menghela napas sembari menggeleng menatap sahabatnya prihatin. "Jelas karena aku sudah punya orang yang aku kagumi."

Sakura mengerling penasaran. "Siapa, Pig?"

"Idih, rahasia—nanti kalau aku sudah siap, baru aku cerita, oke?"

"Siap!"

"Eh, tapi resmi ya, kita berdua bukan fans Sasuke lagi."

"Iya, bukan fans-nya," ulang Sakura, dengan penekanan di setiap katanya.

Keesokan harinya.

Suasana kelas 1-2 sedang sepi—hanya terlihat satu orang di sana. Seorang pemuda yang sedang mengutak-atik smartphone-nya dengan wajah bosan.

"Sasuke-kun!"

Pemuda itu mengalihkan pandangannya dari ponsel pintar keluaran terbaru itu. Sasuke, nama pemuda itu, menatap seorang gadis yang baru saja memanggilnya dengan suara lantang. Gadis itu menghampirinya dan duduk di bangku di depannya.

"Sakura? Ngapain kau di sini?" Sasuke menoleh ke bangku belakang, mencari Ino, subjek yang biasa menjadi tujuan gadis itu kemari.

"Mengantar bekal Naruto—ke mana bocah itu?" jawab Sakura, menuding ke bangku di belakang Sasuke yang tak berpenghuni. Sasuke mengangguk-angguk, melihat sebuah tas berisi bekal—yang mungkin dititipkan Karin pada Sakura.

"Tadi ke perpustakan dengan Hinata."

"Oh," Sakura mengangguk-angguk pelan. Fakta bahwa Naruto sedang bersama dengan Hinata sedikit menjanggal, namun gadis itu cepat-cepat mengabaikannya.

"Eh, iya, Sasuke-kun, ada yang ingin kubicarakan."

Sasuke kembali mengutak-atik ponselnya. "Apa itu?"

"Aku dan Ino officially bukan fans-mu lagi." Sakura berkata penuh penekanan. Gadis itu tersenyum di akhir kalimatnya. Entah kenapa mengaku sudah bukan fans Sasuke memunculkan kebanggan sendiri baginya.

Sasuke mengalihkan pandangan dari ponselnya, lalu menatap Sakura dengan pandangan tak yakin. "Why?" tanyanya singkat.

Sakura tersenyum lagi, "Karena kita sudah suka sama orang lain!" serunya dengan penuh semangat. Gadis itu menatap puas Sasuke yang terlihat tidak terima.

Dan benar saja, wajah gusar Sasuke tidak dapat disembunyikan. Pemuda itu langsung menghujani Sakura dengan berbagai pertanyaan.

"Siapa? Jangan bilang kalian naksir cowok yang sama lagi."

"Idih. Kami sukanya sama cowok yang berbeda!" jawab Sakura, cukup yakin bahwa dirinya dan Ino tidak akan berebutan orang yang sama lagi.

"Kau yakin?"

"One hundred percent!" jawab Sakura dengan anggukan penuh keyakinan. Percakapannya dengan Ino kemarin, membuatnya sadar bahwa sudah seharusnya dia menyukai orang lain—dia tidak bisa terus menerus mengharapkan orang yang tak pernah melihatnya sebagai seorang gadis.

"Sakura, mau jadi pacarku?"

Sakura berkedip, terkejut. "A-apa maksudmu? Bercandanya tidak lucu, Sasuke-kun," kilah gadis itu.

"Aku serius, Sakura." Sasuke menatapnya dengan intens, membuat Sakura gugup dan membuang pandangannya ke berbagai arah.

"Kau benar-benar memintaku jadi pacarmu?" Dan sekarang, suara gadis itu terdengar terbata.

Lama Sasuke tak merespon, membuat Sakura takut-takut kembali menatapnya.

Sasuke menatapnya prihatin, lalu berdecih. "Katanya sudah move on. Baru seperti sudah goyah."

Kepala Sakura memanas. Semua darahnya seperti berkumpul di kepalanya—gadis itu merah besar. "Kuso!" makinya dengan sebal.

Sasuke tersenyum tipis, mau tak mau terhibur juga dengan kelakuan Sakura—yang entah kenapa, menurutnya imut.

PAK!

Sebuah buku mendarat di meja di depan Sakura, membuat dua insan yang sedari tadi mengobrol itu mengalihkan perhatiannya.

"Kenapa kau di sini?" Entah sudah sejak kapan, pemuda itu berdiri di sana. Menatap Sasuke dan Sakura dengan pandangan yang tak bisa ditebak.

Sakura memandangnya risih."Dasar tukang ngerepotin. Itu bekalmu." Gadis itu menunjuk ke sebuah tas kecil berisi kotak makanan. Tanpa meliriknya, Naruto melenggang duduk di kursinya.

"Aku tidak lapar. Makan saja." Pemuda itu sudah mendaratkan kepalanya di meja dan mulai memejamkan matanya.

Mata Sakura langsung berbinar, "Yakin?" tanyanya, meminta kepastian.

"Hm."

"Arigatou, Naruto-yang-tampan!" katanya, sembari mengelus-elus rambut pirang Naruto. Gadis itu lalu berlari kecil keluar dari kelas.

"Bye, Naru, Sasu!" Sakura menoleh lagi, sebelum benar-benar meninggalkan kelas itu—dan menemukan Hinata, yang dirinya tak tahu menahu sudah duduk manis di samping Sasuke. "Bye Hinata!" lanjutnya dengan canggung.

"Bye, Sakura."

Hinata membalas dengan senyum kecil di wajahnya.

Suasana kelas itu kembali hening. Tak ada percakapan di antara mereka bertiga, sampai ketika Hinata menawari teman-temannya itu bekal.

"Sasuke, mau cicip bekalku?"

Sasuke menoleh, lalu tersenyum tidak enak. "Aku udah kenyang, thanks," tolaknya halus. Hinata mengangguk, lalu beralih ke pemuda yang duduk di belakang Sasuke.

"Naruto, mau bekalku?" tawarnya.

Naruto mengangkat kepalanya dari meja, lalu mengangguk. "Boleh. Aku lapar sekali." Lalu pemuda itu mulai menyantap bekal Hinata.

Respon positif Naruto membuat Sasuke heran. "Kalau kau lapar kenapa bekalmu kau berikan ke Sakura?" tanya Sasuke tanpa menoleh.

"Supaya dia cepat pergi dari sini," jawab Naruto di sela-sela kunyahannya. Benar saja, pemuda itu benar-benar tampak kelaparan.

Sasuke menoleh ke belakang, lalu bertanya dengan tatapan menyelidik. "Kau ada masalah dengan Sakura?"

"Tidak ada," jawab Naruto singkat. Sasuke mengangguk-angguk tanda mengerti, lalu kembali mengutak-atik ponselnya.

"Ah, iya. Sakura told me something funny," ujar Sasuke tanpa menoleh ke Naruto. Pemuda itu memandangi ponselnya dengan senyum kecil.

"Apa?"

"Katanya dia sudah move on dariku."

Aktivitas mengunyah Naruto otomatis berhenti. Pemuda itu termangu dalam diam.

Keesokan harinya.

Yamanaka Ino meletakkan—hampir membanting—mangkuk berisi bakso dan segeles es teh di meja. Gadis itu menghela napas menatap orang-orang yang berlalu lalang di kantin.

Salahkan Sakura, yang waktu itu melewatkan jam fisika yang membuatnya tak mengerti apa-apa. Sekarang gadis itu harus menghadapi ulangan remedial di jam istirahat yang seharusnya diisi dengan mengobrol dengan Ino.

Kalau bukan karena perutnya yang sudah bergendang protes minta makan, Ino tak akan sudi makan sendirian di kantin. Like a loser.

"Tumben sendiri."

Kelopak mata Ino membesar, melihat sosok yang dengan seenaknya duduk di depannya. Shikamaru. Pemuda itu menyantap sepiring siomay dan segelas air putih. Ino menatapnya heran.

"Sakura remedial Fisika."

Akhirnya, Ino ikut duduk. Setidaknya, dia tidak harus duduk sendirian di tengah keramaian.

"Tumben kau ke kantin," ujar Ino lagi.

"Lagi pengen," jawab Shikamaru singkat.

Dari pertemuan pertamanya dengan Shikamaru, Ino bisa menyimpulkan pemuda itu bukanlah orang yang suka makan di kantin. Dia lebih memilih tidur di kelas dibanding makan pada saat jam istirahat. Dia lebih memilih suasana kelas yang sepi dibanding duduk di keramaian kantin.

Namun gadis itu hanya mengendikkan bahunya tak peduli.

Keesokan harinya lagi.

Ino memanjangkan lehernya, mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin. Tangannya penuh dengan mangkuk bakso dan gelas es teh.

"Shika!" serunya, memanggil pemuda yang baru saja akan duduk di meja paling pojok. Gadis itu lekas menghampirinya.

"Sakura susulan lagi?" tanya Shikamaru, segera setelah Ino duduk di hadapannya.

Ino menghela napas, sembari menggeleng-geleng prihatin. "Re-me-di-al." katanya penuh penekanan. "Itu otaknya cuman dijadiin pajangan atau gimana sih?" keluhnya sebal sembari menuangkan sambal ke mangkuknya.

Shikamaru menatapnya takjub. "Yakin otak mu nggak kayak gitu?"

Ino hampir saja menimpuk lawan bicaranya dengan botol sambal. Namun sekali lagi dia harus menelan keinginannya itu karena seragam sekolah mereka berwarna putih.

Shikamaru meminum air putihnya, lalu memerhatikan Ino dalam diam. Gadis itu dengan lahapnya menyantap bakso tanpa memedulikan betapa panasnya kuah baksonya.

Mau tak mau, dia harus berterima kasih pada Sakura yang remedial, dia jadi punya kesempatan memerhatikan Ino sedekat ini.

Di sisi lain, Sakura.

"Sasuke-kun! Please, ajarkan aku bab ini!" Suara rengekan seorang gadis menghiasi kelas 1-2 yang sudah sepi. Bel pulang sudah berbunyi sedari tadi, namun masih ada lima murid yang di sana.

Lima menit yang lalu, Sakura baru saja keluar dari ruangan guru—sekali lagi dengan wajah murung seperti kemarin. Guru Fisikanya, Kakashi, memberitahu bahwa dia harus remedial lagi. Maka dari itu, dia di sini, meminta tolong Sasuke untuk mengajarinya.

"Kau yakin sudah move on dari Sasuke? Atau ini cuman akal-akalanmu untuk mendekati Sasuke lagi?"

Naruto, seperti biasa, bertanya dengan judes. Pemuda itu baru saja bangun dari tidur siangnya, setelah mendengar rengekan melengking Sakura.

"Kau kira aku sebodoh apa—mengorbankan imejku hanya untuk Sasuke?" decaknya sebal.

"Imej? Jauh sebelum kau remedial dua kali, imej gadis cantik berotak kosong sudah ada, Sakura."

Baru saja Sakura akan melemparkan pensilnya ke arah Kiba, sosok yang sedari tadi diam, Sasuke berdiri dari tempat duduknya. Pemuda itu menatap Sakura dengan rasa bersalah.

"Gomen, Sakura. Aku tidak bisa, aku harus menemui Karin."

Kelopak mata Sakura membesar, tak terima. "Tidak mau tahu. Pokoknya ajarin aku! "

"Minta ajar Hinata saja, kemarin kan Hinata dapat Sembilan puluh," usul Naruto. Pemuda itu berkali-kali memutar bola matanya melihat tingkah childish sahabatnya itu.

Hinata, sosok yang disebut Naruto, menoleh dan menatap Sakura.

"Boleh. Kebetulan aku cukup menguasai materi itu."

Tatapan Sakura berubah menjadi canggung. Dia bukannya tidak suka dengan Hinata, hanya saja dia tak terbiasa dengan sikap anggun gadis itu. Tapi bagaimana dia akan menolak jika Hinata sendiri yang menawarinya?

"Oke, aku belajar sama Hinata-chan saja," ujarnya, lalu duduk di bangku Sasuke. "Pergi kau—urus Karin sana!" usirnya kasar pada Sasuke. Alih-alih segera beranjak, Sasuke masih berdiri di depan Naruto.

"Kunci, Dobe," pintanya tanpa ragu, membuat Naruto mengangkat alisnya tinggi-tinggi.

"Kunci apa?"

"Kunci mobil."

"What—jadi aku pulang dengan apa?" protes Naruto tak terima.

"Sama Sakura."

Naruto menatap Sasuke tak percaya. Karin—sepupunya itu pasti yang menyuruh Sasuke melakukan ini.

"Dasar—tidak modal sekali, kencan pakai mobil orang," omel Naruto. Walau dengan setengah hati, tetap saja pemuda itu memberikan kunci mobilnya pada Sasuke.

"Thanks, bye!"

"Aku pulang juga, ya!" pamit Kiba.

Jadilah, suasana kelas kembali sepi. Naruto memandangi dua gadis di depannya yang sedang belajar. Tak lama kemudian, pemuda itu kembali memejamkan mata.

"Naruto-kun."

"Naruto-kun."

Naruto mengerjap-erjapkan matanya beberapa kali, sebelum akhirnya bisa melihat sosok gadis yang tengah membangunkannya, Hinata.

"Di mana Sakura?" tanyanya segera, setelah menyadari hanya mereka berdua berada di kelas.

"Di toilet. Sakura pesan untuk bertemu di parkiran saja."

"Oh, oke." Naruto beranjak bangun, setelah merenggangkan tulangnya yang terasa pegal. Diliriknya jam tangannya, dan benar saja, tiga jam sudah dihabiskannya untuk tidur di sana.

Naruto berjalan keluar, mendahului Hinata. Gadis itu mengekori Naruto dengan gugup.

Koridor sekolah sudah sangat sepi saat dua insan itu berjalan dalam diam. Naruto memandangi sekitarnya, menyadari tidak ada lagi anak-anak yang sedang bermain basket atau menunggu jemputan.

"Naruto-kun."

Naruto menoleh pada Hinata, menemukan gadis itu yang sedang berdiri sambil menunduk dalam.

"Hm?"

"Aku ingin mengatakan sesuatu."

"Ada apa?" tanya Naruto, memerhatikan lantai yang sedang dipandangi Hinata—tidak ada yang salah. Pemuda itu menatap gadis di depannya heran.

"Sebenarnya aku menyukaimu."

Naruto mengangkat alisnya, cukup terkejut dengan pengakuan Hinata. Tak disangkanya, gadis anggun nan pendiam seperti Hinata bisa menyukai orang sepertinya.

"Really?" tanya pemuda itu, berusaha bersikap santai. Bukan pertama kalinya ada soerang gadis yang menyatakan cinta seperti ini—dia sudah belajar cara menghadapinya.

"Iya. Aku menyukaimu dari SMP."

"Really?" Fakta ini semakin membuat Naruto tertarik. Setaunya, dia tak pernah bertemu dengan Hinata, sebelum hari pertamanya di SMA.

"Iya, kita ketemu di acara nikahannya Kakak Kiba."

Naruto ingat, dia pernah menghadiri pernikahan Kakak Kiba. Tapi dia tak ingat dengan Hinata. "Ah—tapi aku tidak—"

"Tidak apa Naruto-kun, aku nggak butuh apa-apa kok. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku," potong Hinata dengan cepat. Gadis itu kemudian berjalan cepat mendahului Naruto, yang menatapnya bingung.

"Kenapa?" tanya Naruto setengah berseru.

Hinata menghentikan langkah cepatnya, lalu menoleh.

"Aku pernah baca di buku, satu-satunya cara untuk mengakhiri cinta dalam diam, adalah dengan cara mengungkapnya."

Lama Naruto termangu mendengar kata-kata Hinata.

"Sebenarnya aku suka sama kamu…"

Selama hampir tiga jam belajar bersama Hinata, membuat Sakura hapal dengan suara lembut gadis itu. Bagaikan refleks, Sakura langsung menghentikan langkahnya. Sebenarnya dia tak berniat menguping, anggap saja tidak sengaja terdengar.

"Really?"

Selama bertahun-tahun berteman dengan Naruto, membuat Sakura langsung tahu pemilik suara tak asing itu. Gadis itu menelan ludahnya pahit-pahit. Entah kenapa dadanya terasa begitu sesak.

Sakura memilih jalan yang berlawanan dengan Naruto dan Hinata. Koridor yang tak disangka-sangka membawanya ke parkiran belakang sekolah.

Dengan cepat, dimasukinya mobilnya. Gadis itu mencoba mengatur napasnya dengan susah payah.

Kata-kata Hinata kembali terngiang di telinga gadis itu.

"Sebenarnya aku suka kamu."

Sakura juga tahu fakta bahwa Hinata menyukai Naruto—salahkan truth or dare di rumah Kiba. Gadis itu diam-diam membenarkannya dalam hati, mengingat kembali sikap Hinata pada Naruto.

Tapi entah kenapa, semua fakta itu membuatnya gundah gulana.

Sakura membelokkan mobilnya ke lobby—dimana Naruto dan Hinata sudah menunggu.

Tiiit. Tiiit.

Sakura mengklakson dua kali, memanggil dua insan yang sedang asik mengobrol itu.

Harus menyaksikan acara pamit-pamitan Naruto dan Hinata, membuat Sakura sekali lagi harus mengurut pelipisnya yang semakin penat.

Dengan cepat, Sakura keluar dari kursi kemudi.

"Kau saja yang menyetir, aku pusing."

Tiga jam belajar nonstop dengan Hinata, lalu ditambah menyaksikan acara tembak menembak Naruto Hinata—membuatnya tidur pulas di mobil.

Hubungan Sakura dan Ayahnya tidak begitu dekat. Entah sejak kapan, Sakura jadi sering dipukuli Ayahnya sendiri. Itu menyebabkan Sakura takut berhadapan dengan Ayahnya.

Pertama kali Ayahnya memukulinya adalah saat Ayahnya mabuk—saat itu, Ayahnya menuding Sakura sebagai penyebab kematian istrinya.

Awalnya, Sakura mengira bahwa Ayahnya hanya melampiaskan rasa emosinya yang terpendam selama ini. Wajar saja, Ibunya meninggal saat sedang melahirkannya. Ayahnya pasti begitu merasa kehilangan.

Pukulan-pukulan itu tak pernah berhenti sampai Ayahnya pergi dari rumah. Ayahnya pergi saat dia menginjak tahun terakhir di SMP.

Dia hidup sendirian di rumahnya, namun herannya Ayah yang tak diketahui keberadannya itu selalu mengiriminya uang.

Namun beberapa minggu ini, Ayahnya sering kembali ke rumah. Dalam keadaan mabuk.

Sakura kembali dihujani dengan rasa takut, kembali dihujani dengan pukulan dan hujatan yang berujung dia harus membolos sekolah agar tak ketahuan teman-temannya.

Setiap malam, Sakura dihujani dengan pertanyaan—apakah Ayahnya akan pulang hari ini?

Malam itu, Ayahnya pulang. Tepat saat Sakura menghabiskan makan malamnya, Ayahnya berdiri di depan pintu rumah. Saking terkejut dan takutnya, gadis itu sampai menjatuhkan piringnya ke lantai.

PRANG!

Sakura berlari menaiki tangga, sekujur tubuhnya bergetar.

"Sakura!" seru Ayahnya, yang saat itu juga langsung ikut mengejarnya.

Sakura menelan ludahnya, saat merasakan tangannya berhasil diraih oleh Ayahnya. Dia segera memejamkan matanya rapat-rapat, menyiapkan diri akan pukulan yang menghujam badannya.

Namun malam itu, pukulan itu tak kunjung datang juga.

Sakura, takut-takut membuka matanya, menatap Ayahnya yang duduk bersujud di depannya. Pria itu menangis tanpa suara. Lama, Sakura memerhatikan Ayahnya—dia sendiri bingung harus melakukan apa.

"Maafkan Ayah, Sakura. Maafkan Ayah." Akhirnya pria tua itu bersuara.

Sakura mengedipkan matanya berkali-kali, masih tak percaya dengan keadaan yang dialaminya saat ini. Ini kali pertama gadis itu mendengar ayahnya meminta maaf.

"Ayah janji tidak akan pukul kamu lagi."

Sakura termangu saat Ayahnya mendongak dan merentangkan tangannya—menawarkan pelukan.

"Kamu satu-satunya harta Ayah, Sayang."

Sakura menyeret tubuhnya mendekati Ayahnya dan memeluk tubuh pria tua itu. Dia menangis di sana, menyadari tubuh Ayahnya yang semakin kurus.

Malam itu, isak tangis haru mewarnai rumah kediaman keluarga Haruno.

Rumah itu kembali hidup. Suara tawa bersahut-sahutan terdengar, televisi menyala menampilkan acara hiburan, makanan dan minuman dihidangkan di depan televisi.

Sakura berbaring di paha sang Ayah, memandangi Ayahnya dari sudut bawah.

"Ayah ganteng lho kalau dilihat dari bawah!" klaim Sakura, diakhiri tawanya yang renyah. Gadis itu menjulurkan tangannya ke meja dan mengambil segenggam popcorn.

Ayahnya merespon dengan tawa lebar. "Kamu kalau liat Ayah pas muda pasti klepek-klepek."

Sakura menyuapi popcorn yang barusan diambilnya pada Ayahnya. "Yakin? Standarku tinggi lho, Yah!"

Tiba-tiba saja, Ayahnya menatapnya dengan tatapan jahil.

"Kamu pasti udah punya pacar, ya?" tebak Ayahnya.

"Ayah meragukan kecantikan Sakura, ya? Banyak yang suka sama Sakura, tapi Sakura tolak semua!" katanya dengan nada sombong yang dibuat-buat.

Ayahnya tergelak lagi melihat tingkah percaya diri anak gadisnya itu.

"Kamu besok sekolah?"

"Iya dong." Sakura mengangguk-angguk antusias.

"Bolos, yuk!" ajak Ayahnya, kembali dengan senyuman jahil di wajahnya. Sakura mengerutkan dahinya tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. "Hah? Beneran?"

"Iya, bolos. Kamu mau kemana? Ayah temenin." Sekarang, tawaran ayahnya terdengar menyakinkan. Sakura melonjak senang dan memeluk Ayahnya dengan erat.

"Kamu sudah pernah minum alkohol?" Ayahnya bertanya lagi.

"Belum," jawab Sakura jujur.

"Mau Ayah ajarin minum?" tawar Ayahnya.

"Beneran?"

"Iya. Tapi beli bir dulu di minimarket," perintah Ayahnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.

"Siap, Bos!"

Sakura tersenyum menerima uang itu dan melenggang pergi dengan girang.

Naruto dan Sasuke berbaring di teras minimarket dengan sekaleng minuman isotonik di kelopak mata masing-masing. Napas mereka terengah-engah. Bayangkan saja, mereka baru bermain basket. Lalu ditambah tantangan Sasuke untuk lomba lari dari lapangan basket sampai minimarket ini.

"Aku menang. Jadi aku bisa menginap di rumahmu, ya." Sasuke berkata, di sela-sela napasnya yang masih berburu.

Naruto mendecih. "Terserah! Yang jelas, Karin tidak akan mengizinkanmu," jawab Naruto tak peduli. Dia bukannya tak suka Sasuke menginap di rumahnya. Namun Karin pasti mengomelinya Sasuke pulang.

"Tenang saja, Karin itu—"

"Sasuke-kun! Naruto!"

Perkataan Sasuke terpotong oleh suara renyah dari seorang gadis—suara yang sudah amat dikenal mereka. Sakura.

"Ada apa Sakura?" tanya Sasuke tanpa niat duduk sedikit pun.

"Aku beli bir," jawab Sakura sembari menunjukkan kantong plastik berisi kaleng bir sambil tersenyum lebar.

Naruto langsung bangkit dari baringnya. Pemuda itu menatap Sakura tak percaya.

"Bir?"

"Iya, Ayahku mau mengajariku minum."

Sakura menyadari bahwa pandangan Naruto berubah saat mendengar 'Ayah' dari mulutnya. Pemuda itu mengernyitkan dahinya meminta penjelasan. Namun gadis itu mengabaikannya.

"Kau serius?" Sasuke bertanya, masih belum yakin.

"Iya. Mau ikut?"

Sasuke dan Naruto saling bertukar pandangan beberapa detik.

"Sure!"

Sakura mendorong pagar besi rumahnya yang menimbulkan derit melengking. Gadis itu menyilakan dua tamunya masuk terlebih dahulu, sementara dirinya menutup pintu pagar.

"Sakura."

"Hmm?"

"Kalau misalnya kita mabuk gimana?" Sasuke melemparkan pertanyaannya, tanpa menoleh ke Sakura yang di berjalan di belakangnya.

Bersenandung ringan, Naruto membuka kenop pintu rumah Sakura dan masuk sambil mengayun-ayukan kantong plastik berisi bir. Pemuda itu langsung mencari ke seluruh penjuru ruangan—sosok ayah Sakura.

Kantong plastik yang tadi diayun-ayunkannya itu, kini jatuh menabrak lantai seiring dengan berkaleng-kaleng bir yang menggelinding tak tentu arah. Kelopak mata Naruto melebar.

Naruto seakan kehilangan tempat berpijaknya, pemuda itu jatuh berlutut di ruang tengah. Selanjutnya semua yang disaksikannya berjalan cepat—seperti mimpi.

Berbeda dengan dirinya yang terpaku di sana, Sasuke, langsung berlari ke sosok yang tergeletak itu. Pemuda itu meletakkan jari telunjuknya di bawah hidung pria tua itu takut-takut, lalu menggenggam tangan pria itu untuk merasakan denyut nadinya.

Sasuke mendongak, menatapnya dengan tatapan sayu. Lalu menggeleng lemah.

"Ya sudah, besok bolos!" Naruto mendengar seruan penuh semangat Sakura beserta langkah kakinya yang ringan. Lalu sesaat setelah langkah kaki itu berhenti, dilihatnya Sakura berlari dengan gusar.

Yang Naruto lihat hanyalah senyum yang sedari tadi tersungging di wajah gadis itu kini memudar.

"Yah—Ayah kenapa?"

Sakura berkali-kali mengguncangkan tubuh Ayahnya yang terkulai tak berdaya. Gadis itu menoleh ke Sasuke yang duduk di belakangnya.

"Apa yang kau lakukan? Cepat panggil ambulans, Sasuke!"

Sasuke tak menanggapinya, pemuda itu memandangi Sakura dengan tatapan sayu.

Sakura masih terus mengguncang-guncangnya tubuh ayahnya, saat Sasuke akhirnya menarik bahu gadis itu mejauhi ayahnya dan memeluknya erat. Gadis itu meronta, berusaha melepaskan tangan yang melingkar di bahunya dengan gerakan lemah.

Malam itu, Naruto menyaksikan kejadian itu tatapan kosong. Betapa cepatnya senyuman gadis itu berubah menjadi banjir air mata.

To Be Continued