"Naruto-kun, cepat turun. Coba lihat siapa yang datang," panggilan ibunya itu terpaksa membuat Naruto menarik diri dari kasur empuknya. Memang ada siapa di bawah? Seberapa penting orang itu sampai-sampai ibunya terdengar sangat ceria begitu.

Depan langkah sedikit malas, Naruto menuruni tangga kemudian berjalan ke ruang tamu. Kedua matanya membulat sempurna saat melihat siapa yang sedang dipeluk oleh ibunya itu, "Nee-chan? Kenapa kau ada di sini?"

Gadis yang merasa dirinya dipanggil itu kemudian berdiri dan segera memeluk Naruto, "Hei, apa kabar, Naru-chan? Kau bertambah tinggi ya?" ucap gadis itu kemudian menghentikan pelukannya.

"Kenapa tidak memberi tahu kalau kau akan pulang?"

Gadis itu tersenyum, "Kejutan," sahutnya sambil tertawa. "Oh iya, Kaa-chan. Aku lapar," kali ini gadis itu berbalik menghadap sang ibu.

"Kalau begitu, ayo kita ke ruang makan, Karin-chan," sang ibu segera menghampiri putrinya tersebut. "Naruto-kun, ayo," kali ini sang ibu juga mengambit lengan putranya.

"Nee-chan, kau tidak memakai kaca mata?" pandangan Naruto menatap saudara kembarnya itu.

"Aku memakai lensa kontak, bagaimana? Bagus, kan?"

Naruto memperhatikan wajah kakaknya yang sedang tersenyum itu, "Mungkin," sahutnya kemudian.

Karin yang tidak mendapatkan jawaban yang memuaskannya segera menarik sang adik dan menjitak kepalanya, "Apa-apaan itu? Setidaknya kau memujiku, Naruto. Sudah lama kita tidak bertemu, apa kau tidak rindu padaku?"

Naruto segera menjauh dari sang kakak, "Sakit!" ucapnya. Kali ini, kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya. "Lagipula, siapa bilang aku tidak rindu?" dia menatap mata Karin. "Aku sangat merindukanmu, Karin." Setelah mengucapkan hal tersebut, Naruto segera pergi ke ruang makan.

Kushina yang masih berdiri di situ hanya bisa tertawa kecil, "Hihi... tumben sekali ia bersikap seperti itu."

Karin yang sedang tersenyum itu juga memikirkan hal yang sama dengan sang ibu. Sudah hampir tiga tahun ia tidak bertemu dengan ibu dan adiknya. Sejak tiga tahun yang lalu, ia tinggal bersama sang ayah di Suna karena tuntutan pekerjaan ayahnya. Sebenarnya dia bisa saja tinggal bersama ibu dan adiknya di Konoha, hanya saja ia juga merasa kasihan jika ayahnya harus tinggal sendiri di sana. Sekarang, setelah ayahnya ditugaskan kembali ke Konoha, ia akhirnya dapat tinggal kembali bersama ibu dan juga adik kembarnya itu.

"Kaa-chan, sekolahku?"

Kushina segera tersenyum, "Tou-chan sedang mengurusnya. Kau satu sekolah dengan Naruto-kun ya?"

"Hm, baguslah."

.

.

.

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

This Fanfic by Tania Hikarisawa

[Aishiteru, Senpai Chapter 2: There is no Game, Hinata]

AU, OOC, typo(s)—

.

.

.

"Naru-chan," panggilan itu membuat Naruto tersentak. Belum lagi, ada sepasang lengan yang tiba-tiba saja memeluknya dari belakang. Dengan buru-buru, ia segera menutup buku sketsa yang sejak tadi ia pandangi.

"Kau membuatku kaget, Karin!" bentak Naruto seraya memutar kursi belajarnya agar berhadapan dengan sang kakak.

Karin hanya bertolak pinggang, alisnya naik sebelah. "Kau sedang melihat apa? Serius sekali."

Belum sempat Naruto menjawab, tangan Karin sudah menarik buku sketsanya dengan sangat cepat. "Nee-chan!"

Naruto berusaha mengambil buku sketsanya tapi sayang Karin segera berkelit dan menjauh dari jangkauan Naruto. Ia duduk di atas tempat tidur dengan sprei berwarna jingga di sana. Dengan cepat, ia membalik lembaran kertas tersebut sampai akhirnya tangannya terhenti pada sebuah gambar seorang gadis. Gadis itu tertidur di bawah pohon sakura—begitulah menurut Karin.

"Sini!" dengan cepat Naruto mengambil buku sketsanya.

"Gadis itu siapa? Di mana kau mencari objek gambar seperti itu?" Karin mendekati sang adik sambil merangkul bahu adiknya. Naruto memandang Karin melalui ekor matanya, kenapa kakaknya ini selalu ingin tahu dengan segala urusannya?

Naruto mengalah, dia akan mengatakan segalanya. "Dia Hyuga Hinata—oke, pada awalnya aku tidak tahu siapa dia, hanya mencari objek sembarang di hari kau meninggalkanku ke Suna," Naruto sedikit menekankan kata meninggalkanku dalam kalimatnya.

Karin hanya bisa memasang cengiran di wajahnya, rupanya adiknya masih marah karena hal itu. "Lalu? Kau tahu dari mana nama gadis itu?"

Naruto menghembuskan napasnya, "Dia adik kelasku di sekolah."

"Wah, benarkah? Aku jadi ingin bertemu dengannya, seperti apa sih gadis yang gambarnya terus dipandangi oleh adikku ini?"

"Besok kau bisa menemuinya," Naruto segera menyimpan buku sketsa itu ke dalam lacinya.

"Jadi..." ucap Karin menggantung. "Kau menyukainya, kan?" ucapan Karin tepat sasaran. Wajah adiknya itu sudah memerah sekarang.

"A-apa yang kau katakan?" Naruto mengangkat lengannya guna menutupi sebagian wajahnya. "Kau berkhayal," lanjutnya lalu pergi dari kamarnya. Sedangkan Karin hanya bisa tertawa melihat sikap Naruto tersebut.

.

.

.

Naruto baru saja keluar dari kelasnya saat tiba-tiba saja ia melihat seorang gadis berambut biru tua panjang yang sedang membawa tumpukan kertas. Dengan sedikit berlari, Naruto berusaha mengejar langkah kecil gadis tersebut.

"Hei, Hinata," sapanya.

Sedangkan gadis yang disapa tersebut sedikit tersentak dengan rona merah yang mulai menjalar di wajahnya. "Se-Senpai," balasnya kemudian ia melanjutkan langkahnya, membiarkan Naruto berjalan di sebelahnya.

"Biar aku saja yang membawanya," Naruto segera mengambil tumpukan kertas itu dari tangan Hinata sebelum mendengar protes dari mulut Hinata. Setelah itu, Naruto memperlihatkan cengiran di wajahnya.

Hinata menunduk, "Arigatou," ucapnya lalu mengikuti Naruto berjalan. Cukup lama mereka terdiam sampai akhirnya mereka telah sampai di lantai satu sekolahnya.

"Hei, Hinata. Entah ini perasaanku yang berlebihan atau apa, aku merasa kau sering menghindariku belakangan ini. Apa aku ada berbuat salah padamu?" Naruto menoleh ke arah Hinata, meminta jawaban.

Hinata segera memalingkan wajahnya, "Itu ha-hanya perasaan Naruto-senpai saja," sahutnya kemudian. Padahal kenyataannya Hinata memang sering menghindari Naruto semenjak kejadian beberapa hari yang lalu. Kejadian yang telah membuatnya terikat pada sebuah permainan yang diciptakan oleh gadis itu. Ah! Bahkan sampai sekarang Hinata belum tahu siapa nama gadis tersebut.

Segera setelah sampai di ruang guru, mereka berdua meletakkan kertas-kertas tugas itu di salah satu meja guru yang ada di sana. "Hinata, mau ke kantin bersama?" tawar Naruto.

Ingin rasanya Hinata mengiyakan tawaran tersebut tapi ada sesuatu hal yang menahannya. Gadis itu! Hinata takut jika nanti mereka bertemu dengan gadis itu, Hinata tidak mau melihat kedekatan gadis itu dengan Naruto. Dia tidak mau sakit hati lagi, rasanya sakit sekali melihat laki-laki yang kita cintai dekat dengan gadis lain.

Hinata meremas kedua tangannya, "Ma-maaf, lain kali saja ya Senpai," Hinata berusaha tersenyum. "Aku harus ke perpustakaan," Hinata berusaha mencari alasan yang masuk akal.

Naruto mendesah, "Kalau begitu ya sudah. Aku pergi," ucap Naruto sambil melambai sekilas ke arah Hinata. Setelah Naruto cukup jauh, Hinata menghembuskan napasnya. Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding yang ada di belakangnya. Tiba-tiba saja dia menyesal karena sudah menolak ajakan Naruto tersebut.

"Kenapa kau menolaknya?" Hinata segera meneggakkan tubuhnya ketika mendengar suara itu. Tiba-tiba saja di hadapannya sudah berdiri gadis berambut merah itu. "Kalau aku jadi kau, aku pasti akan menerimanya, Hinata," lanjut gadis itu kemudian pergi meninggalkan Hinata.

Mata Hinata dapat melihat gadis itu yang berlari kemudian segera merangkul lengan Naruto. Dapat dilihatnya Naruto yang sedikit terkejut tapi setelah itu lelaki berambut pirang itu tersenyum sembari menyentil dahi gadis itu. Hinata terpaku menatap pemandangan itu. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih. Hinata menggeleng, bahkan ia tidak ingin mengakui bahwa mereka berdua terlihat serasi.

Tidak mau berlama-lama di situ, Hinata segera menaiki tangga ke lantai dua menuju kelasnya.

.

.

.

"Hinata, kau mau pulang? Mau kuantar?" langkah Hinata terhenti tepat di depan pintu kelasnya. Entah mengapa, akhir-akhir ini Naruto selalu mencarinya.

"Se-Senpai."

Naruto masih menunggu jawaban Hinata, "Bagaimana, mau kuantar?"

Kali ini Hinata tidak akan menolak ajakan Naruto. Sambil tersenyum, Hinata pun mengangguk. Dengan beberapa buku yang berada di pelukannya, Hinata pun berjalan beriringan dengan Naruto di sepanjang koridor sekolahnya.

Sebenarnya Hinata ingin sekali menanyakan sesuatu kepada Naruto. Hinata ingin tahu mengenai gadis itu, apa gadis itu sangat dekat dengan Naruto? Alhasil, selama beberapa menit belakangan, Hinata terus memperhatikan Naruto diam-diam. Saat pandangan mereka bertemu, Hinata akan memalingkan wajahnya ke arah lain.

Naruto memperhatikan sikap Hinata dengan wajah ingin tahu, "Apa ada hal yang ingin kau bicarakan, Hinata?"

Sekarang ia benar-benar tertangkap, "Hmm..." gumam Hinata tidak jelas. Ada berbagai macam pertanyaan yang sebenarnya sekarang sedang berputar-putar di kepala Hinata. Tapi tak ada satu pun yang berhasil diucapkannya.

"Ada apa, Hinata?" Hinata menggeleng, dia mengangkat wajahnya dan mematri senyuman di wajahnya. Naruto yang melihat senyuman Hinata hanya menghela napas. "Kau itu ada-ada saja."

Kali ini, mereka sudah berhasil keluar dari gerbang sekolah. Dan tujuan selanjutnya adalah rumah Hinata. Naruto berjalan dengan kedua tangannya yang masuk ke dalam saku celananya. Sebenarnya ada hal yang ingin ia bicarakan kepada Hinata saat ini tapi dia merasa tidak percaya diri.

"Hinata, apa sekarang kau ada dekat dengan laki-laki?" Naruto bertanya pelan-pelan sambil memperhatikan perubahan mimik wajah Hinata.

"E-eh?" wajah Hinata benar-benar memerah sekarang. Dekat dengan laki-laki? Tanpa sadar, Hinata menghentikan langkahnya dan membuat Naruto berhenti juga. Peganggannya semakin mengerat di buku yang ia bawa. "Ke-kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"

Naruto mengganti posisi tangannya dengan meletakkannya di belakang kepala. "Hanya bertanya saja," sahut Naruto kemudian melanjutkan langkahnya ketika ia melihat Hinata sudah berjalan kembali. "Sebenarnya sekarang aku sedang menyukai seseorang, Hinata."

Ucapan Naruto tersebut membuat mata Hinata membulat, dengan cepat ia menundukkan wajahnya. Tangan Hinata bergetar, Hinata benar-benar tidak ingin mendengar perkataan seperti ini keluar dari mulut lelaki yang ia sukai. Apa dia memang sudah benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk memiliki hati laki-laki yang ada di sebelahnya ini?

Naruto masih diam menunggu tanggapan Hinata, matanya terus memperhatikan Hinata dengan saksama. Tapi beberapa detik kemudian, mata Naruto membesar. Dengan cepat ia segera menarik Hinata ke dalam pelukannya. "Hei, kalau naik sepeda jangan di sini!" bentak Naruto kemudian.

Sedangkan Hinata hanya diam membeku. Saat ini, dia benar-benar dekat dengan Naruto. Wajahnya semakin memerah ketika dia sadar bahwa ia bisa mendengar detak jantung Naruto dalam jarak seperti ini. "Se-Senpai," gumam Hinata.

Naruto sendiri masih memandang seorang pemuda yang baru melewati mereka menggunakan sepeda dengan kecepatan tinggi. Ia memasang wajah kesalnya. Dasar! Apa ia tidak tahu ini tempat bagi pejalan kaki, bukannya untuk pengguna sepeda. "Hinata, kau tidak apa-apa?" Naruto sedikit mengendurkan pelukannya. Saat itulah baru ia sadar akan posisinya dengan Hinata.

Dengan cepat, Hinata menjauhkan dirinya dari Naruto. "Aku ti-tidak apa-apa," sahut Hinata gugup. Ia memalingkan wajahnya guna menyembunyikan rona kemerahan di pipinya.

Naruto sendiri hanya tersenyum kikuk, "Hehe... maaf ya, aku tidak sengaja," ucap Naruto dengan sedikit rona merah di wajahnya. "Kita jalan sekarang eerrr... bagaimana?" Naruto berusaha mencairkan suasana yang mendadak berubah canggung seperti ini. Sepertinya sikapnya yang barusan sudah berlebihan. "Hinata?"

Hinata tersentak dan segera menoleh ke arah Naruto. "I-iya," sahut Hinata dan mereka pun melanjutkan perjalanan mereka masih dengan suasana yang tidak nyaman seperti tadi. Sesekali, mereka akan mencuri-curi pandang satu sama lain. Atau kalau tanpa sengaja tatapan mereka bertemu, mereka segera menoleh ke arah berlawan. Terus seperti itu.

.

.

.

Pagi ini, Hinata berjalan dengan langkah yang sedikit cepat di koridor sekolahnya. Seharusnya ia datang lebih pagi hari ini karena ada jadwal piket tapi malangnya nasib Hinata dia lupa akan hal itu. Dan baru mengingatnya beberapa menit yang lalu. Alhasil, sekarang ia harus berlari di sepanjang koridor sekolahnya.

Karena terlalu terburu-buru, Hinata tanpa sengaja menabrak seseorang dari belakang. Dengan cepat Hinata segera membungkuk, meminta maaf. "Maafkan a-aku."

"Kau itu Hinata, kan?" suara itu berhasil membuat Hinata menegakkan tubuhnya. Kenapa dia harus bertemu dengan gadis ini? Gadis berambut merah itu tersenyum, "Sebaiknya kalau jalan hati-hati ya," lanjutnya.

"Ba-baik, maaf karena sudah menabrakmu," balas Hinata tulus.

Tiba-tiba saja gadis itu mengulurkan tangannya ke arah Hinata, "Kita belum berkenalan kan?" tanyanya. "Perkenalkan, namaku Uzumaki Karin."

Selama beberapa detik Hinata memandangi tangan tersebut sampai akhirnya ia menyambut tangan gadis tersebut. "I-Iya," Hinata rasa ia tidak perlu mengucapkan namanya, lagipula gadis bernama Karin sudah mengetahui namanya.

Masih dengan menggenggam tangan Hinata, Karin menatap Hinata, "Ada yang mau aku katakan. Hari ini aku akan menyatakan perasaanku kepada Naruto. Sebaiknya kau bersiap-siap Hinata," Karin melepas pegangan tangannya. "Jika kau tidak ingin kalah, sebaiknya kau menyatakan perasaanmu lebih dulu padanya atau kau akan kalah," lanjut Karin sambil menyeringai kemudian meninggalkan Hinata dan masuk ke dalam kelasnya.

Sedang Hinata masih berdiri mematung di sana. Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba seperti ini? Hinata bahkan tidak pernah memikirkan bahwa ia akan kalah dalam permainan ini dengan secepat ini. Paling tidak, beri Hinata waktu lebih banyak lagi. Dia masih belum bisa mengatakan perasaannya saat ini terutama setelah kejadian beberapa hari yang lalu saat Naruto tiba-tiba mengatakan bahwa ia sedang tertarik dengan seorang gadis saat ini.

Dengan langkah pelan, akhirnya ia masuk ke dalam kelasnya. Bukannya mengambil sapu atau penghapus papan untuk segera melaksanakan tugas piketnya, Hinata lebih memilih duduk di bangkunya dengan kepala yang ia tumpukan di atas lipatan kedua tangannya. Pandangannya menerawang, entah apa yang sedang dipikirkan gadis bersurai biru tua itu sekarang.

"A-apa aku bisa melakukannya?"

.

.

.

"Hinata, tunggu!" suara itu membuat Hinata terpaksa berhenti di depan lokernya. Dengan menarik napas kemudian menghembuskannya, Hinata berbalik dengan senyum yang menghiasi wajahnya.

"Ada apa, Karin-san?" tanya Hinata berusaha bersikap biasa.

Gadis bernama Karin itu tersenyum menghampiri Hinata, "Kau mau tahu sesuatu?" wajah gembira Karin itu membuat hati Hinata menjadi kecut. "Aku diterima," lanjut Karin tersenyum ceria. "Maaf, ya. Dengan ini, kau kalah dalam permainan kita. Apa kau marah kepadaku?"

Hinata berusaha menyembunyikan kesedihannya, "Tentu sa-saja tidak. Naruto-senpai sendiri kan yang bersedia menerimamu, kenapa a-aku harus marah," sahut Hinata. "Dan selamat ya, Karin-san."

Setelah itu, Karin segera memeluk Hinata. "Terima kasih ya," balas Karin. "Oh ya, aku pergi dulu ya. Sampai jumpa," ucap Karin setelah melepas pelukannya dan segera pergi meninggalkan Hinata yang mematung di sana.

Hinata sendiri masih diam berdiri tanpa suara di sana. Kedua tangannya saling menggenggam di depan dada. "Ka-kau kuat, Hinata," ucapnya berulang-ulang pada dirinya sendiri. Tapi, sekeras apapun Hinata berusaha untuk menyemangati dirinya sendiri, air matanya tetap saja turun membasahi wajahnya.

Dia tidak bisa terus berada di sini, dia harus pergi ke suatu tempat agar perasaannya lebih tenang. Akhirnya, setelah menghapus air matanya, Hinata segera pergi dari ruang loker tersebut. Tapi, sayangnya langkah Hinata terpaksa berhenti tepat di depan pintu gerbang sekolahnya. Di sana berdiri seorang pemuda yang sudah sejak lama ia cintai.

Pemuda yang bersandar pada salah satu pohon itu sepertinya tidak menyadari keberadaan Hinata. Memanfaatkan kesempatan ini, Hinata pun segera mempercepat langkahnya. "Hinata!" tapi sepertinya langkah Hinata kurang cepat. Buktinya sekarang pemuda itu sudah berhasil meraih salah satu lengan Hinata.

Satu hal yang diinginkan Hinata adalah agar pemuda bernama Namikaze Naruto itu tidak tahu mengenai kondisinya saat ini. Dengan cepat, Hinata segera membalik tubuhnya menghadap kakak kelasnya itu. "Ada apa, Senpai?" pertanyaan Hinata itu diiringi dengan sebuah senyuman. Walau sebenarnya kalau diperhatikan secara saksama, senyuman itu terlihat sangat terpaksa.

Tentu saja, Naruto menyadari hal ini. Seketika itu juga mimik wajah Naruto berubah khawatir. "Hinata, apa tadi kau menangis?" mata Naruto dapat melihat jejak air mata di wajah Hinata yang belum terhapus.

Dengan gugup, Hinata segera menarik tangannya dari genggaman Naruto, "Ti-tidak, aku tidak menangis," sahutnya sambil memalingkan wajahnya dari Naruto.

Naruto menyipitkan wajahnya, dia tidak percaya dengan semua ucapan Hinata barusan. Mata Naruto tidak dapat dibohongi dengan semudah itu. Secepat Hinata berbalik badan, secepat itu pula tangan Naruto berhasil menyambar tangan Hinata. "Kali ini, kau ikut denganku," tanpa meminta persetujuan Hinata, Naruto segera menarik Hinata pelan meninggalkan sekolah mereka.

"Ki-kita mau kemana?" tanya Hinata di tengah jalan.

Naruto menoleh ke belakang dengan senyuman di wajahnya, "Ke tempat yang menyenangkan," sahut Naruto dengan masih menarik Hinata agar mengikutinya.

Setelah mencapai tempat yang dimaksud Naruto, mereka berdua berhenti berjalan. Berhenti tepat di depan sebuah taman yang ada di sana. Hinata tertegun ketika melihat pemandangan di depannya. Memang benar, bulan ini adalah bulan di pertengahan musim semi dan mungkin hal inilah yang membuat pemandangan di depan wajah Hinata terlihat semakin indah. Deretan pohon sakura dengan mahkotanya yang berguguran di tiup angin.

Naruto pun segera mengajak Hinata duduk di salah satu bangku yang ada di sana. "Jadi, apa kau ingin membicarakan masalahmu?" tanya Naruto tiba-tiba.

Hinata masih diam membisu, pandangan Hinata hanya menatap kedua tangannya yang saling menggenggam. Tidak mungkin dia mengatakan masalah yang sedang ia hadapi kepada Naruto. Walaupun sejak dulu, Hinata memang sering mengungkapkan masalah pribadinya kepada Naruto tapi sekarang kondisinya berbeda. Karena masalah yang Hinata hadapi sekarang berhubungan langsung dengan Naruto.

Dan akhirnya Hinata pun menggeleng pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Naruto. Naruto hanya menghembuskan napasnya. "Baiklah, tapi lain kali kau harus menceritakannya padaku, Hinata," balas Naruto yang disambut oleh anggukan Hinata.

Dan detik itu juga, Naruto berusaha mengubah topik pembicaraan mereka. Dia tidak ingin membuat gadis yang ada di sebelahnya ini semakin bersedih. "Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" Naruto pun segera menarik tangan Hinata seperti tadi.

Setelah berjalan-jalan beberapa menit di sekitar taman itu, akhirnya Hinata merasa sedikit baikan. Tapi tetap saja ia merasa tidak enak ketika bersama dengan Naruto. Bagaimana pun sekarang Naruto itu milik Karin dan itu membuat Hinata berasa bersalah. Seharusnya ia tidak bersama dengan Naruto sekarang. Kebaikan Naruto ini hanya akan membuat Hinata semakin mengharapkan sesuatu hal yang tidak mungkin, itulah yang sedang dipikirkan Hinata.

Hinata pun segera melepas pegangan tangan Naruto dan hal itu membuat Naruto berbalik. "Maaf, Senpai. Se-sebaiknya aku pulang sekarang," ucap Hinata berusaha menatap Naruto.

Naruto juga menatap Hinata, sebenarnya sejak tadi ada hal yang ingin dibicarakan oleh Naruto kepada Hinata. Dan setelah mendengar perkataan gadis itu barusan, sebaiknya Naruto mengatakannya sekarang sebelum gadis itu pergi. "Baiklah, tapi kau harus mendengarkanku dulu, Hinata."

Tatapan Naruto itu membuat Hinata tertegun, ini pertama kalinya ia menatap mata Naruto yang seperti itu. Naruto pun dengan pelan mendekati Hinata sedangkan Hinata hanya bisa diam di tempat. Sebenarnya Hinata sangat ingin melangkah mundur, tapi tatapan Naruto seperti menahan dirinya agar tidak bergerak.

Kedua tangan Naruto sekarang hinggap di kedua bahu Hinata. "Hinata, mungkin ini terlalu tiba-tiba menurutmu. Tapi aku bersungguh-sungguh mengatakan ini," Naruto terdiam sebentar. Ia menutup matanya berusaha mengumpulkan keberanian sampai akhirnya ia membuka matanya kembali, "Aku mencintaimu, Hinata."

Mata Hinata melebar ketika mendengarnya, kedua tangan Hinata terjatuh di kedua sisi tubuhnya. Apa ia tidak salah dengar? Naruto mengatakan bahwa ia mencintai dirinya. Ada kebahagiaan yang tiba-tiba menyelimuti Hinata. Tapi sejurus kemudian Hinata segera sadar akan kenyataan yang sedang dihadapinya sekarang. "Kau bohong," ucap Hinata kemudian mundur beberapa langkah.

"Eh?" Naruto hanya dapat terkejut dengan tanggapan Hinata. Belum lagi, ia melihat air mata Hinata turun membasahi wajahnya. Ada rasa bersalah yang merasuki Naruto. Apa perkataannya membuat Hinata tersakiti? Dengan pelan Naruto berusaha mendekati Hinata lagi. "Kenapa kau bicara seperti itu? Aku bersungguh-sungguh, Hinata. Apa kau tidak mempercayaiku?"

Hinata menggelengkan kepalanya dengan cukup keras. "Selama ini, a-aku pikir Naruto-senpai adalah orang yang baik tapi ter-ternyata kau jahat," ucapan Hinata itu tak ayal membuat Naruto semakin kebingungan. Ada apa ini?

"Apa maksudmu, Hinata?"

Mulut Hinata bergetar karena tangisannya, "Bukannya kau sudah memiliki kekasih? Kenapa sekarang kau mengatakan bahwa kau mencintaiku?" ucap Hinata jelas dengan nada sedikit keras. Naruto tersentak mendengar nada bicara Hinata. "Lalu Karin-san bagaimana?" lanjut Hinata.

Dan setelah mendengar pertanyaan Hinata yang terakhir itu, Naruto semakin bingung. Kenapa Hinata membawa-bawa nama kakak kembarnya itu. "Me-memang ada apa dengan Karin?"

Hinata menatap Naruto tajam, "Dia itu pacarmu kan, Senpai? Apa kau tega menyakitinya?" ucap Hinata dengan nada yang lebih tinggi dari tadi. Tiba-tiba saja, Hinata merasakan emosinya sedikit meluap-luap.

Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali ketika mendengar ucapan Hinata barusan. Hinata memandang Naruto, Hinata yakin setelah ini Naruto pasti akan meminta maaf karena perbuatannya telah ketahuan oleh dirinya. Tapi perkiraan Hinata salah, pemuda di depannya ini sekarang malah tertawa.

Salah satu lengan Naruto berusaha menutupi mulutnya agar tawanya tidak terdengar terlalu keras. Melihat Hinata yang kebingungan, Naruto berusaha menghentikan tawanya. "Kau lucu sekali, Hinata," ucap Naruto berikutnya.

"Ke-kenapa Senpai malah tertawa?"

Setelah menghentikan tawanya, Naruto segera mendekati Hinata. Dengan pelan ditariknya Hinata dan menenggelamkannya dalam pelukan. "Kau salah paham, Hinata," ucap Naruto lembut. "Karin itu kakakku," lanjut Naruto.

"Eh?" Hinata merasakan Naruto yang perlahan melepas pelukannya. Dia memandang wajah Naruto yang sepertinya masih ingin tertawa itu. Hinata masih bingung dengan semui ini. "Kalian kakak adik? Tapi kenapa kalian berada di kelas yang sama?"

"Kami kembar. Karena kami tidak identik, mungkin itulah yang menyebabkan kami tidak terlalu mirip. Tapi Hinata, kalau kau perhatikan baik-baik, bentuk wajah kami sama," ucapan Naruto itu membuat pikiran Hinata melayang. Setelah dipikir-pikir, bentuk wajah mereka memang mirip.

"Ta-tapi marga kalian berbeda," Hinata masih belum mempercayai ucapan Naruto sepenuhnya.

Naruto terkikik geli, "Dia menggunakan marga ibu kami," sahut Naruto. "Marga ibuku itu Uzumaki," terang Naruto. "Sekarang kau sudah percaya padaku?"

Tatapan Hinata meredup, ia merasa bersalah pada Naruto karena sudah mengatakan yang bukan-bukan barusan. "Maafkan perkataanku tadi, Senpai," Hinata menunduk.

Naruto mengangkat kepala Hinata perlahan, "Sekarang kau harus menjawab pertanyaanku, Hinata. Apa kau mau menjadi pacarku?" Naruto menatap mata Hinata dalam-dalam.

Wajah Hinata yang sejak tadi sudah memerah sekarang semakin bertambah merah. Setelah semua rasa sakit yang Hinata alami selama ini, akhirnya sekarang ia merasakan rasa bahagia yang sangat besar di dalam dirinya. "Iya," sahut Hinata dan setelah itu Hinata dapat merasakan bibir Naruto menekan lembut bibirnya.

"Arigatou, Hinata," Naruto segera membawa Hinata ke dalam dekapannya. Naruto dapat merasakan Hinata yang mengangguk di dalam pelukannya. "Oh ya, memang apa yang dikatakan Karin kepadamu? Sampai kau percaya kalau dia itu pacarku?"

Hinata semakin mengeratkan pelukannya pada Naruto. Dia benar-benar merasa menjadi orang yang paling bodoh sedunia ketika mempercayai ucapan Karin begitu saja. "Jangan dibicarakan, a-aku malu," sahut Hinata.

Naruto hanya tertawa, "Tapi lain kali kau harus menceritakannya padaku."

Oke, berkat permainan iseng-iseng Karin itu, paling tidak sekarang dua sejoli ini sudah bisa mengutarakan perasaannya masing-masing. Karin, kau sudah bekerja keras.

.

.

.

.

.

.

~The End~

AAAA... Tidak! Sepertinya semakin aneh aja ni endingnya. Pengennya sih buat biar di bagian akhir NaruHina nya romantis gitu... tapi, tapi malah kayak gini jadinya :( Semoga aja tidak terlalu mengecewakan readers semua ya :) oh iya, udah kejawab kan, siapa gadis yg di chapter awal itu. Dia adalah Karin yang berperan sbg kakak kembar Naruto hohoho... Emang jail bgt tu orang *ditendang Karin*

Oke, sekarang saya mau ngucapin terima kasih bagi yang sudah mau membaca dan mereview fic ini. Dan juga buat yang sudah mem-fave dan mem-follow, terima kasih banyak ya :D *peluk satu2* satu pesan, buat para silent readers, bertobatlah kalian *ditendang lagi*

Terima kasih banyak buat:

Riu Makamoto (ini udah diterusin lho~ semoga suka ya :D), Yourin Yo, kirei- neko, Chappy Siegrain Fernandes 09, Manguni (maaf ya kalo rada2 ngebingungin, abis kadang2 saya emang asal pilih diksi gitu aja hehe... dan lupa sama cerita di atasnya hehe.. semoga chapter ini gak buat bingung ya :D), namikaze abe-san, hanazonorin444. (buat yg login, cek PM ya :D)

Cukup segitu aja deh dannnn sampai jumpa di fic saya yang lain ya~ dadada...