AN : Thanks for the reviews... saya sangat senang lho ada yang baca. Oke, ini dia chapter 2. Kemarin ada yang PM saya, tanya kok mirip sama cerita saya yang "Love Addict"-nya Prince of Tennis? Ya memang mirip sih general ideanya, tapi tetep beda kok. Mungkin ada satu-dua adegan yang mirip, tapi saya usahakan 90% berbeda soalnya konflik yang ada juga akan berbeda. Cerita berdasar dengan setting tempat dan karakter. Oke, cukup deh omongan yang muter-muter ini. Silahkan membaca!
Spiral
Chapter 2
Warning : Typo
Italic for thinking
"Hei, aku mau di bawa kemana?" Itachi menoleh ke arah Deidara yang melotot. Mata birunya mengkilat penuh kemurkaan. Sepertinya Deidara masih marah dengan "penculikan" ini. Seharuskan dia senang, bisa menikmati hari dengan seorang Uchiha Itachi yang super jenius, ganteng dan kaya ini kan? Tapi kok malah cemberut begitu?
"Kan sudah kubilang kau mau kujadikan pacar." Itachi menjawab. Dia tersenyum geli ketika Deidara memicingkan matanya.
"Nggak nyambung tahu! Aku tanya aku mau di bawa ke mana. Kamu mau di bawa ke mana "pacar" mu ini, un?"
"Oh, jadi sekarang kamu mau jadi pacarku? Katanya tidak sudi?" Itachi tertawa pelan ketika Deidara cemberut seperti anak kecil yang tidak kebagian mainan. Entah mengapa, Itachi suka sekali dengan ekpresi Deidara yang sedang marah ini. Cantik banget deh dengan mata biru cerah yang mengkilat dan semburat merah di wajah cantiknya.
"Mau bagaimana lagi. Aku tidak punya pilihan. Aku ini hanya berkunjung ke Konoha dari Iwa karena sedang liburan. Eh, malah disambar sama cowok mesum kayak kamu trus di bawa kabur pakai mobil. Aku sudah nggak tahu ini di mana, bodoh! Kalau aku minta turun, gimana aku mau pulang?"
"Yah, padahal aku sudah seneng banget kamu mau, kok alasannya itu sih?" Itachi pura-pura kecewa.
"Urusai! Aku nggak peduli. Sekarang aku mau di bawa ke mana? Kencan?"
"Nggak. Mau aku kenalkan ke ibuku." Seketika mata Deidara membesar tak percaya. Dirinya yang belum pernah punya pacar sebelumnya, sekali menjadi "pacar" seseorang langsung mau dikenalin sama ibu?
Glek!
"Apa?"
"Iya, mau ku kenalkan ke ibu ku. Nanti kalau beliau puas aku sudah punya pacar, kita kan bisa putus." Itachi menjawab tenang, seakan-akan sedang ditanyai sesuatu yang gampang.
"Kenapa tidak bilang dari tadi? Bertemu ibu itu merupakan level selanjutnya dalam membina hubungan. Kan harus persiapan. Gimana nanti kalau ibu kamu tanya macam-macam?"
"Ya tinggal jawab lah. Kalau ibu tanya perkembangan hubunganku denganmu seperti kapan bertemu dan semacamnya, biar aku yang jawab. Kalau ibu tanya tentang kamu, kamu yang jawab. Gitu aja kok repot."
"Kamu ini santai banget ya? Gimana kalau ibu kamu nggak percaya?"
"Ya kamu harus akting yang bagus dong!"
"Dasar seenaknya sendiri! Ini nggak ngratis, tahu!"
"Lho nggak gratis? Katamu kamu bukan cewek murahan yang bisa dibayar?" goda Itachi. Laki-laki berambut hitam itu tertawa pelan ketika semburat merah kembali muncul di wajah putih Deidara.
"Memang, tapi untuk saat ini lupakan hal itu!"
"Dasar cewek nggak konsisten"
"Biarin! Ini juga salah kamu. Aku itu seharunya cari buku untuk ngerjain tugasku tahu, bukan jadi pacar bohongan yang di bawa entah kemana. Kamu harus ngerjain tugasku!" Deidara melipat tangannya di depan dadanya. 'Dasar cowok menyebalkan'
"Ya ya ya, aku ini jenius, jadi tenang saja."
"Sombong banget!" ejek Deidara. Deidara memandang kesal wajah ganteng di hadapannya. Memang sih, dari tampang Itachi, memang sudah kelihatan kalau laki-laki muda ini memang pintar. Deidara merasa aneh kenapa sepupunya Sasori itu tidak pernah cerita kalau dia punya teman seperti Itachi. Sasori bahkan tidak pernah cerita tentang teman-temannya. Kalau ditanya paling cuma jawab "Punya kok." Begitu tanpa ada penjelasan lain.
"Sudah itu aja?"
"Ya."
"Bener?" Itachi tersenyum. Deidara memutar bola matanya dan menggerutu tentang cowok aneh yang nyebelin sebelum menjawab.
"Ya."
"Baguslah. Hm.. untung tadi kamu nggak beneran minta turun. Padahal kalau takut nyasar kan bisa telepon minta tolong Sasori buat jemput kamu. Dia kan hapal jalan dari Konoha University ke rumahku walau jaraknya 150 kilometer. Beruntung banget ya aku..." Itachi menghela napas lega. Deidara membeku ketika mendengar ucapan Itachi.
'Kok bisa nggak kepikiran? Deidara bodoh!'
"Itachi-sama dan Deidara-sama kayak pacaran beneran ya. Cocok!" Kojou tertawa kecil. Dari tadi dirinya sangat menikmati interaksi antara dua mahasiswa itu. Tidak biasanya dia bertemu dengan perempuan yang mampu menghadapi karisma Itachi. Biasanya, cewek langsung pingsan, jadi penurut dan sebagainya jika bertemu dengan Itachi. Hebat banget nih cewek bisa mukul dan berargumen dengan Itachi. Itachi juga terlihat lebih "hidup". Tidak serius, tidak rileks tapi hidup layaknya pemuda-pemudi seumurannya yang bisa bercanda dan tertawa.
"KAMI NGGAK COCOK!" Deidara berteriak kesal. Mukanya semakin memerah ketika Itachi dan Kojou malah tertawa.
-Kediaman Uchiha-
"Ini rumahmu?" Deidara bertanya. Mata birunya memandang rumah tradisional Jepang yang sangat besar itu dengan kagum. Deidara mengira rumah Itachi itu bernuansa modern dilihat dari mobil sedan yang dipakai. Deidara sangat suka dengan benda-benda seni dan antik, jadi tidak heran kalau dia mengagumi karya-karya tradisional dari pada modern yang menurutnya terlalu kaku tanpa filosofi.
"Iya. Ayo masuk!" Itachi mengambil tasnya dan tas Deidara sambil berjalan. Deidara mengikutinya dari belakang. Matanya masih memandang kagum halaman luas yang memiliki gazebo besar dan beberapa patung di sana.
"Rumahmu masih di wilayah Konoha?"
"Hmmm, nggak juga sih. Di perbatasan Konoha dan Iwagakure lebih tepatnya." Itachi menjelaskan. Mata hitamnya melirik rumah besar yang terlihat sepi itu. 'Tumben rumah nggak ada orang...'
"ITACHI!" Itachi tersenyum ketika mendengar suara teriakan khas Sang Nyonya Besar itu. Walau terkadang ibunya itu merepotan dengan ceramah-ceramah beliau, Itachi sangat sayang dengan ibunya yang telah berusaha membesarkan dirinya dan Sasuke hampir seorang diri mengingat ayahnya Fugaku harus mengurus perusahaan keluarga mereka yang memiliki banyak cabang.
"Aw... akhirnya kamu pulang juga. Sudah empat tahun nggak pulang-pulang, mau jadi Bang Toyib apa?" Mikoto berkata sambil memeluk putra sulungnya.
"Siapa itu Bang Toyib?" Itachi bertanya sambil memeluk erat sang Bunda.
"Oh nggak tahu tuh. Denger lagu tentang Bang Toyib dari adikmu. Katanya sedang research lagu-lagu lebai dari luar negeri." Mikoto mengangkat bahunya. Ditatapnya putra sulung keluarga Uchiha itu dengan tatapan lembut. Deidara yang dari tadi berada di belakang Itachi, mengintip dari bahu bidang penerus keluarga Uchiha itu. Sontak mata Mikoto beralih menatapnya.
"Ahh! Ini pasti pacarnya Itachi! Selamat datang!" Mikoto langsung mendorong Itachi dari hadapannya dan memeluk erat Deidara yang tidak bisa berkata apa-apa karena kaget.
"Cantiknya.. wah rambutmu pirang, ini asli kan? Matamu juga biru... ahhh... cantik ya seperti langit. Waduh tubuhmu juga ramping, pipimu tembem... cantik..." puji Mikoto sambil mencubit kedua pipi Deidara. Deidara meringis menahan sakit. Dilihatnya Itachi mencoba menahan tawanya.
'Kasihan banget sih nih cewek...' pikirnya.
"Bunda, udah udah... kasihan Dei-chan tuh. Pipinya merah." Deidara langsung memandang tajam Itachi ketika mendengar namanya disingkat dan ditambah dengan –chan.
"Ayo Dei-chan, hampir waktunya makan siang. Bantu bibi siapin meja ya..." Mikoto menyeret Deidara yang masih syok dengan ibu Itachi yang sangat berbeda dengan anak sulungnya itu. Itachi memandang sang Bunda dan Deidara dengan senang. Entah mengapa dia sangat senang ibunya terlihat gembira ketika menyambut Deidara. Seperti memberi restu kepada mereka saja.
'Wah kok jadi merasa ngenalin pacar beneran ke Bunda sih?'
Menggelengkan kepalanya, Itachi berjalan menuju kamar tamu untuk meletakkan tas Deidara sebelum ke kamarnya.
-Lunch-
Itachi meraih mangkuk berisi penuh nasi dengan tenang. Tangannya dengan santai mengambil sumpit dan lauk pauk yang sudah disediakan oleh sang Bunda.
"Sudah, berhenti menatap Deidara seperti itu, Sasuke. Seperti tidak pernah lihat cewek cantik saja." Ucap Itachi. Sasuke, sang adik yang telah pulang dari latihan kendonya, langsung memerah. Deidara hampir tersedak ketika mendengar itu.
"Aku sudah pernah lihat cewek cantik tahu. Pacarku cantik." Kata siswa kelas satu SMA Konoha itu kesal. Itachi tertawa kecil mendengarnya.
"Trus kenapa memandang Deidara seperti itu? Sampai-sampai nasi dan lauk belum tersentuh. Biasanya kan kamu selalu mendahului kalau makan, ada tamu atau tidak nggak peduli." Itachi bertanya. Sasuke mendengus kesal dan mulai makan. Memang, ketika sang adiknya yang berusia hampir 16 tahun itu pulang dan melihat Deidara sedang menata piring dan mangkuk di meja makan, perilakunya menjadi aneh.
"Kakak nama lengkapnya siapa?" Tanya Sasuke sopan. Deidara, yang sedang duduk di samping Itachi, menoleh dan tersenyum.
"Uzumaki Deidara." Kontan Sasuke tersedak. Pantas dia merasa ada yang familiar dengan pacar kakaknya itu. Rambut pirang, mata biru.
"Kenapa, Sasuke-kun?"
"U-Uzumaki? Kakak punya... hubungan apa dengan Naruto?" Sasuke bertanya. 'Semoga hanya kebetulan sama nama belakang. Aku nggak mau mejadi saudara dengan dobe itu!'
"Naruto? Oh Uzumaki Naruto anaknya Paman Minato ya? Aku sepupunya." Jawab Deidara, tersenyum. Kontan hal itu membuat Sasuke ngeri. 'se..pu..pu'
"Memang Sasuke-kun kenal ya dengan Naruto-kun?" Deidara bertanya.
"Oh, Uzumaki Naruto yang itu. Dia itu rivalnya Sasuke sejak TK. Kamu kok nggak bilang kalau sepupunya Naruto? Bukannya kamu sepupunya Deidara ya?" Itachi menjawab sekaligus bertanya menggantikan Sasuke yang masih dalam keadaan shock.
"Aku hanya sepupu jauh Sasori-danna, un. Kalau Naruto, aku memang sepupu dekat. Kakak Paman Minato itu ayahku. Sedangkan ibu Sasori-danna itu, kakaknya ibuku. Tapi walau aku dan Sasori-danna sepupu jauh, kami lebih dekat daripada aku dan Naruto. Mungkin karena kami lebih sering ketemu. Kalau Naruto, cuma kadang-kadang saja aku berkunjung ke rumahnya." Jelas Deidara panjang lebar.
"Oh ya, Deidara-chan kuliah di mana?" Mikoto ikut nimbrung. Takut ketinggalan info tentang pacar putranya yang langsung dia sukai.
"Saya kuliah di Iwa University, bibi. Satu tahun lagi lulus."
"Wah, hanya beda setahun dengan Itachi dong. Itachi sudah hampir lulus, satu bulan lagi wisuda. Kok jauh banget ke Konoha mengunjungi sepupu Dei-chan ya, Sasori-kun dan Naruto-kun?"
"Sebenarnya, saya ke Konoha karena akan ada kompetisi melukis yang akan diadakan di Konoha University. Mumpung saya lagi libur, saya ikut. Pengennya sih sekaligus mengunjungi sepupu-sepupu saya. Tapi masalahnya rumah Sasori-kun jauh banget. Naruto kan sekitar sini, sedangkan Sasori-kun di sekitar Konoha University. Mungkin karena sekarang saya di sini, saya bisa berkunjung ke rumahnya Naruto-kun"
"Dei-chan jurusan apa?"
"Seni, bibi. Saya suka sekali dengan seni. Saya pengen jadi pelukis, pemahat dan lain-lain."
"Wah, cewek cantik kok jadi pemahat. Pelukis saja...Nanti bisa melukis foto pernikahan kalian sendiri." Mikoto tertawa kecil. Deidara langsung tersedak sekali lagi ketika mendengarnya. Diraihnya gelas yang diberikan Itachi, yang dengan hebatnya mampu menahan tawa. Bundanya memang seperti itu. Suka bicara ngawur kalau sudah suka sama orang. Tapi kalau terlalu suka, bisa-bisa besok pagi dinikahin beneran.
"Iwa University itu bukannya rival dari Konoha University?" Sasuke yang sudah bebas dari shocknya ikut bicara. Yah, sepertinya dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa dengan takdir ini. 'Menjadi saudara Naruto... pengen nangis rasanya'
"Iya ya, baru terpikir Bunda... ah, kalian ini seperti Romeo dan Juliet saja ya..." Mikoto menyahut diiringi tawa nervous Deidara. Deidara melirik Itachi yang dari tadi tidak memberi komentar apapun atau bahkan menolongnya. Ekspresi Itachi yang hanya senyum-senyum membuat perempuan pirang itu ingin sekali meninju wajah tampannya.
"Dei-chan, besok ada harus ke Konoha University nggak?"
"Tidak ada, bibi."
"Nginep sini ya?" Pinta Mikoto yang telah mengatupkan kedua tangannya dan memasang wajah memelas.
"Eh?"
"Ini sudah hampir sore. Nginep sini saja. Bibi masih punya baju-baju bibi waktu masih muda. Pasti pas deh dengan ukuran kamu. Nanti malam, bibi kenalin sama suami bibi." Mikoto berusaha membujuk. Deidara dan Itachi berhenti makan. Wajah Deidara memucat. Diliriknya Itachi yang sekarang berwajah was-was.
"Kok ketemu Ayah segala?" Itachi bertanya. Rencananya kan hanya ketemu sama Bundanya saja. Kalau sampai Ayahnya bisa susah ini urusannya.
"Kalau ngenalin pacar itu ya jangan hanya sama Bunda doang. Sama Ayahmu juga. Itu baru namanya anak baik." Mikoto menceramahi putra sulungnya.
Itachi dan Deidara saling pandang. Kalau Deidara sampai dikenalin ke ayahnya, akan susah putusnya. Ayahnya tidak suka dengan hubungan instant atau pacaran yang hanya untuk "have fun" atau "fooling around". Kalau mau pacaran, ya sungguh-sungguh. Kenali pasangan dengan baik, mengerti dan mencintai dengan tulus. Ketika umur sudah mencukupi plus punya pekerjaan, langsung nikah. Tapi nggak mungkin juga mencoba menghalangi niat Bundanya itu.
"Oke, bibi siapin kamarnya ya. Itachi, Sasuke kalau sudah selesai, cuci piringnya." Mikoto tersenyum senang sebelum meninggalkan kedua putranya.
"Nggak bisa ditolak ya?" Deidara bertanya, memelas.
"Nggak" Kedua Uchiha bersaudara itu menjawab bersamaan.
-Sehabis makan siang-
Deidara duduk di gazebo dekat taman hijau kediaman Uchiha. Mata birunya memperhatikan dua bersaudara Uchiha yang sedang beradu di lapangan tak jauh dari gazebo. Deidara melihat dengan kagum ketika Itachi dan Sasuke mengeluarkan keahlian masing-masing. Keduanya sedang beradu dalam bidang martial art. Dari mulai karate, judo dan lain-lain, diperagakan oleh kedua laki-laki muda berambut hitam ini.
Dedara dapat melihat kalau Itachi sengaja mengalah kepada adiknya. Sepertinya dia hanya mengeluarkan sekitar 20% kemampuannya saja. Walaupun mengalah dalam bidang mengeluarkan kemampuan, Itachi tidak memperlihatkannya. Toh dia masih menang dari adiknya hanya dengan mengeluarkan kemampuan segitu. Yang menarik selain kemampuan mereka dalam martial art adalah mata keduanya yang berubah merah. Awalnya Deidara mengira mereka berdua kerasukan roh penunggu kediaman Uchiha. Maklum, rumah besar ini kan sangat tradisional dan sudah berumur ratusan tahun dari kakek buyut Uchiha terdahulu, siapa tahu ada setannya. Namun, tampaknya mereka masih waras-waras saja.
Deidara mengambil dua botol air minum di dekatnya begitu Itachi mengambil pedang bambu dan melemparkan satu ke adiknya. Sasuke yang masih ngos-ngosan karena kalah dalam judo, segera berdiri.
"Oi, kalian berdua, minum dulu!" Deidara memanggil sambil melempar botol plastik ke arah mereka. Itchi dengan sigap menangkap keduanya dan memberikan satu ke Sasuke.
Deidara segera mengambil buku sketsanya begitu dua pemuda itu siap beradu Kendo. Sedikit demi sekidit, gambar dua orang sedang beradu pedang bambu mulai nampak di kertas putih polosnya. Taman hijau di belakang mereka pun tak luput dari goresan pensil Deidara, menambah indah gambar di kertas itu. Deidara tersenyum sendiri saat menggambar dua kakak-beradik itu. Dari cara mereka berinteraksi, Itachi dan Sasuke terlihat sangat dekat.
"Gambarmu bagus. Anak seni ya?" Deidara hampir menjatuhkan buku dan pensilnya ketika suara seorang laki-laki terdengar dari belakangnya. Suara yang dalam, serak dan nada yang monoton itu seakan-akan memberi tahu Deidara siapa yang ada di belakangnya. Dengan perasaan takut, Deidara mencoba tersenyum dan berputar. Di belakangnya berdiri seorang laki-laki tinggi memakai hakama hitam memandang Deidara dengan wajah tanpa ekspresi.
'Ayah Itachi'
TBC
AN : Ini dia... semoga suka ya... please review!
