Balik lagi di Hello How Are You? Chapter 2! Updatenya lama? Mau tau kenapa?

Oke, author gak punya ide! Bukan ide yang gimana ya... saya cuma gak ada ide lucu! Sekali ada ide lucu, rasanya lebih cocok kalo dipake buat fic sebelah... jadi author berusaha mencari ide lucu yang pas buat fic ini. Itu sebabnya updatenya lama...#gituuuuu...

Oke, pokoknya,

Selamat membaca!

Character : Gray F.

Disclaimer : Hiro Mashima

Genre : Friendship

Warning : Kayaknya gak ada humornya deh... aduh maaf!

Pagi hari yang cerah di Magnolia.

Gray, pemilik rumah beratap segitiga, terbuat dari kayu yang dua perempat bagiannya sudah dimakan rayap, keluar dari rumahnya. Cahaya matahari pagi yang menyinari langsung ke wajahnya membuatnya menghalangi cahaya itu dengan telapak tangannya. Hari ini, Gray tersenyum sumringah menatap langit.

Gray menatap sebuah catatan yang ia buat semalam.

Flash Back

Gray yang frustasi dengan kejadian bak keajaiban yang menimpa dirinya itu dari tadi tidak henti-hentinya menjambak rambut hitamnya.

"Pertama aku harus membuat diriku dilihat oleh mereka. Dalam artian, setidaknya aku harus mengobrol dengan mereka meski hanya basa basi." Gray diam sejenak. Setelah berpikir sejenak, ia mengambil sebuah kertas dan pena.

"Supaya gampang, aku harus membuat tingkatan orang-orang yang mau aku kembalikan ingatannya." Gumam Gray.

"Pertama, yang pasti orang-orang dari guild. Aku juga gak boleh sembarangan memilih orang. Aku harus... memilih orang-orang yang bisa diandalkan!" Gray pun menulis beberapa nama di catatannya.

"Dengan ini, pasti gampang!"

End Flash Back

Gray pun berjalan menuju guild yang sedang dalam proses renovasi itu.

"Eh, ada Gray... keadaanmu sudah membaik?" Tanya Mira yang sedang membawa nampan.

"Eh, iya. Cuma luka lecet saja yang masih terasa." Jawab Gray sambil mengumbar senyum tipis. "Mira itu orang yang bisa diandalkan, kan?" Batin Gray.

"Mira. Apa kau sama sekali tidak mengenalku?" Tanya Gray dengan wajah serius. Mendengar pertanyaan Gray, Mira jadi ikut-ikutan serius.

"Tidak tuh." Jawab Mira.

"Kalau begitu... apa kau merasa pernah melihatku?" Tanya Gray lagi. Ia sangat berharap mendapatkan jawaban 'iya' dari Mira.

Mira berpikir sejenak. Ia melihat langit, lalu melihat tanah. Wajahnya sungguh tampak kebingungan.

"Ah ya! Aku rasa aku pernah melihatmu!" Jawab Mira.

"Dimana?!" Tanya Gray antusias.

"Tapi kurasa... bukan kau... soalnya orang yang kulihat mirip kau itu sudah tewas karena kecelakaan. Ya denger-denger sih karena diseruduk kerbau!" Kata Mira sambil memperlihatkan senyum mirisnya.

"Hah?" Gray menaikkan sebelah alisnya. "Masa aku mati diseruduk kerbau? Ketemu kerbau aja belum pernah! Mira! Apa kau bisa melihat masa depan?" Batin Gray.

"Dengar Mira. Namaku Gray Fullbuster. Aku adalah anggota dari Fairy Tail, karena meteor 2 hari yang lalu, kalian semua jadi hilang ingatan. Dan hanya aku satu-satunya yang masih normal." Jelas Gray dengan wajah serius.

Mendengar kata-kata Gray tentu Mira bingung plus gak percaya. Wajah Mira yang semula bingung dan kaget itu berubah menjadi ceria. Ia tersenyum lebar menatap Gray.

"Gray-san, kau sungguh lucu... "

Hello How Are You?

"Ternyata Mira itu orangnya gak gampang percaya sama orang lain! Cih! Ternyata ini sifat aslimu ya!" Gerutu Gray sambil berjalan mengelilingi tanah yang luas itu.

"Hei! Kau pendatang baru ya? Bisa tolong bantu aku di sini?" Teriak Elfman dari kejauhan.

"Pendatang baru? Aku ini sudah lama tau!" Kata Gray yang sudah emosi tingkat tinggi. "Kakak sama adik gak ada bedanya!" Gumam Gray.

"Kenapa kau marah-marah? Badan sebesar itu juga kak Elf jago melukis dan merangkai kata-kata romantis lho... " Kata Lisanna yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Gray. Gray tersentak kaget.

"Lisanna?" Gumamnya.

"Hn? Apa? Apa kau mengatakan sesuatu?" Tanya Lisanna dengan wajah polosnya. Gray menggeleng masih menatap Lisanna.

Lisanna masih menatap Gray. Tak lama, Lisanna menutup mulutnya yang membuka karena menyadari sesuatu. Ia pun langsung berbalik membelakangi Gray.

"A-apa ini cinta pada pandangan pertama?!" Teriaknya.

Gray menaikkan sebelah alisnya. "Apa-apaan dia...?" Batin Gray.

"Oi! Kau anak muda yang di sana! Mau bantu tidak?" Teriak Elfman memanggil Gray sekali lagi.

Gray pun dengan malas datang ke tempat Elfman yang sedang memotong kayu dengan gergaji. "Tolong bawa kayu ini ke sana ya." Kata Elfman sambil menunjuk ke suatu tempat. "Hei. Kenapa tidak kau saja yang mengangkat kayu-kayu besar ini, sedangkan aku yang memotongnya?" Tanya Gray dengan wajah malas. "Oh, betul juga. Melihat tubuhku lebih besar dari tubuhmu! Hahahaha!" Elfman pun mengangkat kayu-kayu itu sambil tertawa lebar.

Gray pun mulai menggergaji kayu-kayu itu. Di suatu tempat, seorang wanita berambut biru, sebut saja Juvia, sedang memperhatikan Gray dari kejauhan. "Sepertinya kejadian seperti ini sudah pernah kualami. Jangan-jangan di suatu tempat di sekitarku... ada Juvia yang lagi mengintip lagi..." Gumam Gray sambil menengok ke sekitar.

Tidak mendapati adanya gadis berambut biru di sekitarnya, ia pun melanjutkan aktivitasnya kembali.

"Pangeranku... " Terdengar suara yang sangat familiar di telinga Gray.

"Ah... Juvia ya... " Gumam Gray.

Juvia yang berdiri di belakang Gray langsung tersentak kaget. "Pangeran tau namaku?! Astaga! Kita memang berjodoh!" Kata Juvia antusias.

"Bukan begitu... kita memang pernah ketemu sebelumnya. Bukan! Bukan! Bahkan kita sudah saling mengenal!" Kata Gray sambil memijit batang hidungnya.

"Waah! Senangnya mendengar itu dari pangeran! Tapi ngomong-ngomong... kita kan belum perah mengobrol sebelumnya. Aku pun tidak pernah memberi tau namaku. Kita hanya pernah bertemu sekali. Saat aku menyelamatkanmu saat kau tenggelam. Lalu aku meletakkanmu di pinggir pantai. Lalu setelah itu aku melihat ada seorang wanita cantik berambut blonde yang menemukanmu. Dan saat itu kau terbangun!" Kata Juvia bercerita seolah-olah dia adalah peran utama dari cerita... ya, sebuah cerita yang author lupa apa judulnya.

"Aduh ini orang hilang ingatan malah merasa dirinya adalah mermaid yang menukar rambutnya dengan kaki!" Batin Gray sambil memijit pelipisnya. "Namaku Gray." Katanya.

Juvia mematung. Kagum dengan wajah Gray, yang menurutnya adalah pangeran yang telah ia selamatkan. Juvia pun tersenyum menjijikan ke arah Gray. Gray yang merasa canggung pun melanjutkan kembali aktivitasnya.

"Memang semua orang di sini hilang ingatannya. Kelebihan apa yang aku punya sehingga aku tidak terkena dampak dari meteor itu!?" Batin Gray berpikir keras.

"Kalau begitu. Aku harus menemui orang-orang yang tidak hadir dalam pesta kemarin!"

Tiba-tiba Gray beranjak pergi dari tempat itu. Elfman yang melihat dari kejauhan tentu bingung dengan anak muda yang tiba-tiba pergi tanpa pamit. "Mungkin ia banyak pikiran... " Pikir Elfman.

"Siapa... siapa ya..." Gumam Gray terus mencari orang yang mungkin tidak hadir dalam pesta itu.

"Kana? Tidak. Wendy? Bukan! Bukan! Kalau begitu dari guild lain... " Gumam Gray. Ia pun berhenti berjalan sejenak.

"Lyon?" Terlintas nama teman lamanya di kepalanya. Tapi ia tidak tau kata-kata ngaco apa yang akan di dengarnya saat ia bertemu dengan Lyon. Jadi Gray mengurungkan niatnya untuk menemui Lyon yang tempatnya cukup jauh itu.

Dari pagi sampai malam Gray terus berusaha mencari orang yang setidaknya pernah melihatnya. Tapi memang mustahil, meteor itu sudah mengambil ingatan teman-temannya.

"Apa aku harus memulai hidup baru?" Pikir Gray.

Saat Gray tengah dalam perjalanan pulang, ia mendengar langkah kaki seseoang di depannya. Gray mengangkat kepalanya. Ia tidak peduli dengan siapa yang ada di depannya. Tapi entah kenapa, ia mengangkat kepalanya seolah-olah ingin tau siapa yang ada di hadapannya.

Seorang wanita. Itulah yang ada di depan Gray saat ini. Seorang wanita yang sangat familiar untuknya. Wanita itu melihat Gray dengan wajah datar.

Wajahnya seperti teman lama yang sangat mengenalnya. Sebelum meteor itu dan menghilangkan ingatan mereka.

"Erza... " Gumam Gray. Gray yakin kalau tatapan Erza itu mengatakan kalau dia mengenalnya. Tidak seperti tatapan orang-orang tadi yang seperti baru melihatnya.

"Apa dia... mengingatku?"

To Be Continued

Waaah! Maap kalo lama update! Udah lama updatenya, dikit pula isinya! Aduh maap!

Abisnya gak ada ide sih! udah gitu author bentar lagi mau semesteran! Jadi makin gak ada waktu buat mikirin alurnya! Apalagi nulis!

Jadi, semoga chapter kali ini memuaskan hati para readers yang sudah lama menunggu! Soalnya bakal lama lagi updatenya :D

Akhir kata,

Jangan lupa review! :D