Title : The Theory Of Everything

Author : sailing2000

Pair :

Choi Seungcheol x Yoon Jeonghan x Hong Jisoo x Wen Junhui x Kwon Soonyoung x Jeon Wonwoo x Lee Jihoon x Lee Seokmin x Kim Mingyu x Xu Minghao x Boo Seungkwan x Chwe Hansol Vernon x Lee Chan and More

Rated : I don't know

Genre : Many drama in this story.

Warning : BL, M-preg, Au,Judul tidak sesuai dengan cerita and Typo everywhere

Summary : Pada akhirnya kita menemukan sebuah teori yang menjelaskan tentang segalanya.

Sebuah cerita yang menjelaskan bagaimana cara kita hidup di dunia ini.

Seperti kisah nyata yang dijadikan sebuah film yang bisa kita lihat.

Mengharapkan keajaiban layaknya di negri dongeng

Hal – Hal yang mengajari kita tentang segalanya

Bagaimana caranya mencintai seseorang dengan tulus

Menahan rasa sakit seolah menganggap itu hanya sebuah luka kecil

Melepaskan seseorang yang berarti untukmu

Sebuah janji yang memiliki makna yang tidak terhingga

Takdir yang bisa kita ubah atau kita patuhi

Dan sebuah rahasia yang tidak pernah kau ketahui

Sebuah teori yang menjelaskan tentang segalanya.

.

.

.

" YOON JEONGHAN! "

Suara teriakan terdengar sampai ke penjuru koridor dengan beberapa pasang mata yang melihat ke arah objek yang dimaksud. Sejak tadi ia terus berlari di sekitar koridor meski di belakangnya terdapat guru Kim yang tengah mengomel sambil membawa penggaris kayu di tangannya.

Tak di pedulikan dengan orang – orang yang sedari tadi tabraknya terus dan hinaan yang beberapa kali ia dengar , kakinya terus membawanya berlari sekencang mungkin. Rambut panjangnya yang menari – nari dan senyuman tipis yang melengkapi wajah bak porselen itu sangat tak cocok dengan julukannya si pembuat onar.

Jeonghan mengatur nafasnya ketika ia sudah berhasil melarikan diri dari guru killer itu. Menyandarkan tubuhnya di pohon besar yang berada di taman belakang sekolah. Ia tersenyum ketika mengingat apa yang ia lakukan tadi. Meski nanti dia akan di hukum, setidaknya dia melakukan hal yang menurutnya sudah benar.

Getaran pada ponselnya membuat Jeonghan mendesah kesal karna acaranya di ganggu. Ia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelfon, tersenyum ketika melihat nama seseorang pada layar ponselnya.

" Aku di tempat biasa, datang lah " Jeonghan langsung menjawab tanpa perlu menunggu pertanyaan dari temannya itu. Sudah biasa mendapat pertanyaan yang sama setiap dia melakukan sesuatu yang menyenangkan.

Tidak butuh waktu lama seorang namja datang dengan gitar yang ia bawa dan dua minuman dingin yang di genggamnnya. Mendudukkan dirinya di samping Jeonghan dan langsung pemuda manis itu menaruh kepalanya di pundak pemuda tampan di sampingnya.

" Kali ini apa yang kau lakukan? " tanya pemuda itu sambil memberikan minuman kaleng pada Jeonghan. Ia menerimanya dengan senyuman manis lalu segera membukanya.

" Aku tidak melakukan apa pun. Aku hanya kau tau seperti biasa " lalu meneguk minuman dingin itu,.

" Kau akan terkena hukuman lagi " Jeonghan mengangguk, " Aku tau itu, kau kan ada. Jadi bisa membantuku kan Joshua? " Jeonghan mengedipkan matanya genit dan di balas dengan usapan lembut pada rambutnya.

" Kau juga sih, kenapa sampai menyebabkan keonaran di laboratorium? Ia pasti sudah mendengar tentang ulahmu tadi. Bukannya semakin menyukaimu malah sebaliknya" Jisoo meminum minumannya setelah berkata itu.

Jeonghan mengusak rambutnya " Ya, biarkan saja. Aku kan membela diriku. Mereka saja yang menyebalkan. Lagian juga tidak masalah, aku melakukan itu karna aku tau aku benar. Aku juga tidak peduli bagaimana dia akan bersikap padaku nanti. " Jisoo melirik ke arah temannya itu. Berfikir bahwa pemikiran pemuda itu sudah tidak waras lagi.

" Dia kan sudah punya pacar " Jeonghan memutar matanya bosan, ia sudah tau dengan fakta itu. Senyuman kecut tersungging di wajahnya.

" Mungkin aku akan menjadi pihak ketiga atau tidak merebutnya dari pacarnya itu " Jisoo menatap malas pada Jeonghan.

" Hey! Itu tindakan yang buruk dan sangat tidak manusiawi! Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu? " Jeonghan tertawa kecil melihat reaksi Jisoo atas pernyataannya tersebut.

" Aku hanya bercanda bodoh, tentu saja aku tidak akan melakukan itu. Aku akan berhenti ketika dia menyuruhku berhenti saat itu. " Jisoo menatap bingung pada Jeonghan.

" Bukannya sejak dulu dia sudah menolakmu? " Jeonghan mengangguk.

" Memang iya, namun aku rasa… dia sedikit tertarik denganku " ucap Jeonghan dengan senyuman bangga.

" Kau terlalu percaya diri " komentar Jisoo.

Jeonghan tertawa dengan ucapan Jisoo. Menertawakan kebodohannya yang masih menunggu pemuda seperti Seungcheol.

" Apa kau mau masuk? " Jeonghan menatap aneh Jisoo yang sudah berdiri dengan gitar di punggungnya.

" Apa kau gila? Pelajaran matematika sangat menyusahkan, dan aku tidak bisa tidur saat pria tua itu sedang mengajar ok? Jadi lebih baik aku disini saja " Jeonghan mengeluarkan earphone miliknya dan mulai menancapkan pada ponselnya.

" Bukannya hukumanmu akan bertambah?"

" Biarkan saja " Jisoo menggelengkan kepalanya melihat sikap temannya itu lalu segera pergi dari tempat itu.

.

.

.

Bel pulang sekolah berbunyi di seluruh penjuru sekolah membuat semua murid bersorak gembira karna mereka mendengar panggilan surga yang mereka nantikan.

Jeonghan yang mendengar suara bel berbunyi segera bangkit dari tempatnya lalu berjalan ke dalam sekolah. Berekspresi datar ketika banyak murid yang melihat ke arahnya dengan tatapan kesal dan benci. Bagaimana bisa preman sekolah itu bersikap biasa setelah sudah membuat keonaran?

Biarkan saja, apa pedulinya? Ia hanya berjalan santai sambil melewati mereka yang tidak berhenti membicarakannya. Lalu segera memasuki kelasnya dan bersamaan dengan keluarnya guru Kim. Jeonghan memutar matanya bosan pasti ia dapat hukuman lagi.

" Temui aku di kantor guru sekarang " Jeonghan mengangguk lalu mengambil ranselnya.

" Kau mau kemana? " tanya Jisoo.

" Biasa. Kau pulang saja dulu " Jeonghan segera keluar dari kelas meninggalkan Jisoo yang menatap cemas padanya.

.

.

.

" Sudah berapa kali kau masuk ke kantor ini hah? " Jeonghan menghitung dan mengacungkan lima jari di hadapan guru Kim. Membuat pria tambun itu semakin marah karna sikap Jeonghan sangat tidak sopan padanya.

" Apa tujuanmu melakukan hal itu? Membuat kekacauan di laboratorium lalu bersikap tidak sopan pada gurumu. Dimana letak sikap seorang murid yang sopan pada gurunya hah? " Jeonghan mengorek telinganya karna terasa sakit mendengar ocehen guru Kim yang sangat tidak penting menurutnya.

" Kau kuhukum membersihkan seluruh lantai koridor sekarang " Jeonghan terkejut mendengar pernyataan pria di depannya. Lantai koridor? Itu artinya dari lantai atas sampai bawah kan? Biasanya hanya menyuruh menyapu halaman sekolah atau membersihkan toilet, kenapa harus membersihkan seluruh lantai? Gosh!

" Kenapa? Keberatan? Itu pantas untuk murid tidak sopan dan tidak berguna sepertimu " Ia hanya bisa mengepalkan tangannya ketika mendengar perkataan pria yang menjadi gurunya itu.

" Sekarang keluar! " Jeonghan mendesah kesal lalu pergi dari ruangan itu. Ini menyebalkan! Ia menjadi kambing hitam atas perbuatan mereka. Tapi kenapa semua orang tidak melihatnya? Kenapa malah menyalahkannya?

Jeonghan berjalan ke arah gudang sekolah untuk mengambil peralatan kebersihan lalu mulai membersihkan lantai koridor tersebut. Peluh membasahi tubuhnya, dan juga ia belum sempat sarapan saat bel istirahat tadi. Jeonghan melepas blazer sekolahnya dan tersisa hanya kemeja putih yang memperlihatkan tubuh rampingnya.

Jeonghan mendongak ketika melihat segerombolan siswa berjalan ke arahnya. Ia bergeser ke kanan memberi mereka tempat untuk berjalan. Jeonghan tersenyum manis ketika melihat seorang pemuda tampan yang sedang berbicara dengan seorang perempuan di sampingnya.

" Hai Choi Seungcheol! " sapanya ramah.

Merasa namanya di sebut, pemuda tersebut menoleh kearah Jeonghan dan memberikan tatapan datar bercampur benci padanya

" Jangan bersikap seolah kau mengenalku Yoon Jeonghan " Jeonghan yang mendengar itu tersenyum manis karna namanya di sebut oleh Seungcheol.

" Wah, kau tau namaku! Terima kasih " Jeonghan masih setia dengan senyuman di wajahnya, tidak peduli bagaimana keadaan hatinya saat ini. Seungcheol memandang benci pada namja di depannya.

" Dasar tidak berguna. Sudah membuat keonaran dan sekarang kau bersikap tidak tau malu seperti ini? Menjijikan " jawab Seungcheol ketus. Teman – temannya hanya menatap remeh pada Jeongahan dan sebagian tertawa mengejek padanya.

" Kau tau sekali apa yang sudah terjadi denganku. Romantisnya. Kenapa kita tidak berpacaran saja? " Jeonghan menggosokkan kedua tangannya. Bersikap menggemaskan pada Seungcheol, namun tatapan kebencian yang ia dapatkan.

" Hey Yoon Jeonghan, kenapa kau tidak tau malu sih? Seungcheol sudah memiliki kekasih seorang perempuan yang cantik dan memiliki banyak prestasi. Tidak sepertimu seorang gay yang menjijikan dan pembuat onar! " yang lainnya setuju dengan ucapan temannya itu.

Jeonghan menatap datar pada namja yang berbicara padanya " Aku tidak bertanya padamu bodoh " siwa yang tadi mengejek Jeonghan hanya menatap kesal padanya.

" Dia benar kau memang tidak tau malu dan sangat menjijikan karna kau gay. Tidak berprestasi dan hanya bisa membuat keonaran. Kenapa kau tidak mati saja? " Jeonghan berpikir sebentar lalu tersenyum.

" Jika aku mati, nanti kau merindukanku " tawa keluar dari mulut mereka mendengar pernyataan Jeonghan yang tentu saja tidak mungkin terjadi.

" Teruslah bermimpi, dasar gay! " Seungcheol berjalan melewati Jeonghan dan di ikuti oleh teman – temannya. Jeonghan melambaikan tangannya.

" Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Lihat saja nanti. " gumam Jeonghan menatap punggung tegap itu pergi.

" Butuh bantuan? " Jeonghan menoleh ke arah kanan dan tersenyum ketika melihat Jisoo dengan senyuman tampan di wajahnya.

.

.

.

Musik terus berbunyi dari sebuah ruangan kelas tari yang berada di dalam sekolah. Murid lainnya sudah pulang karna memang jam sekolah telah usai beberapa menit yang lalu. Namun tidak dengan satu orang yang masih terus meliukkan badannya.

Meski ia memiliki badan mungil tidak membuatnya memiliki semangat yang cepat padam. Jihoon nama pemuda itu, peluh terus membanjiri tubuhnya yang sejak tadi tidak berhenti untuk bergerak mengikuti irama. Sampai sepasang lengan memeluknya dari belakang.

" YAK! LEE SEOKMIN! " secara brutal Jihoon memukul tangan pemuda bernama Lee Seokmin itu, membuatnya meringis sakit karna terus di pukul oleh pemuda mungil di depannya.

" Ampun hyung! Jangan memukulku! " Seokmin sebisa mungkin menghadang tangan – tangan mungil Jihoon dari tubuhnya, namun apalah daya kekuatan singa betina lebih besar ketimbang sang raja hutan sekalipun.

" Sedang apa kau disini? " Jihoon menghentikan pukulannya lalu berjalan ke tas berwarna merah miliknya. Mengambil botol minum dan meneguknya sampai habis.

Seokmin mengusap badannya yang habis menjadi korban kekerasan dari Jihoon. Bibirnya menggerutu sejak dari tadi, dia kan bermaksud baik kenapa malah mendapatkan pukulan? Menyebalkan…

" Hyung selalu meninggalkan ini di loker " Seokmin memberi bungkusan kecil pada Jihoon. Mata sipit itu membola lucu, dia merutuki kecerobohannya dalam menyimpan barang. Pasti selalu lupa, dan kali ini ia pasti mendapat semburan dari Seokmin.

" Jika terjadi sesuatu padamu bagaimana hyung? Jika misalnya aku tidak ada bagaimana hyung? Jangan ceroboh lagi hyung! Kau itu sangat lemah dan mudah lelah! "

See?

Benarkan kata Jihoon?

Jihoon menutup mulut Seokmin dengan tangan mungilnya lalu tersenyum manis " Gomawo "

" Lain kali jangan lupa "

" Iya "

" Jangan ceroboh lagi "

" Iya "

" Di masukkan saja ke dalam tas "

" Iya "

" Awas hyung jika kau sampai lupa lagi "

" Araseo Lee Seokmin, aku tidak akan lupa. Ayo pulang, aku ingin mandi. Badanku lengket " mau tak mau Seokmin menghentikan ocehannya dan menuruti si mungil. Ia pun memegang pundak Jihoon dan langsung di beri tatapan menusuk dari pemuda yang memilik marga sama dengannya.

" Ayo pulang " berpura – pura tidak tahu, lalu menyeret Jihoon dari ruang tari itu.

Saat berada di koridor mereka tak sengaja berpas – pasan dengan dua orang. Jihoon menatap sendu pemuda di depannya sementara Seokmin menatap datar keduanya. Lalu menyeringai ketika melihat reaksi pemuda di depannya.

" Tertangkap basah huh? "

Tatapan terkejut itu berubah menjadi dingin, ia langsung berjalan melalui keduanya yang belum beranjak. Menarik seseorang yang sejak tadi hanya bisa diam melihat ketiga pemuda itu bertemu.

Jihoon menghembuskan nafasnya pelan, berharap tak ada yang mendengarnya lalu segera Seokmin menarik Jihoon pergi dari tempat itu. Sementara Jihoon hanya pasrah kemana pemuda itu membawanya.

Tanpa menyadari seseorang yang sejak tadi sudah pergi menghentikan langkahnya lalu berbalik sebentar,menatap sendu punggung kecil itu. Tubuh mungil yang selalu menjadi tempat ia bersandar. Hal yang tak akan pernah bisa dia rasakan lagi.

" Ada apa Soonyoungie? " Soonyoung, pemuda yang sedari tadi menatap punggung Jihoon merubah ekspresinya menjadi datar lagi. Tak ada kegembiraan lagi disana, hanya kekosongan yang tersisa.

" Tidak apa – apa Raina noona, ayo pergi "

.

.

.

" Kau mau kemana hah? Dasar anak tidak berguna! " teriak seorang pria tua pada anaknya.

Seungkwan menutup pintu rumahnya kasar lalu berlari cepat dari halaman rumahnya. Memanjat pagar rumah tidak menghiraukan teriakan para maid yang menyuruhnya turun.

Seungkwan tidak peduli. Ia malas di rumah, mendengar ocehan ayahnya dan selalu di bandingkan dengan kedua kakaknya membuatnya muak. Lebih baik ia pergi saja, membiarkan rintikan hujan berjatuhan di sekitarnya. Matanya melihat sebuah kedai yang berada di sebrang jalan. Tidak perlu berfikir dua kali ia langsung berjalan ke kedai tersebut dan menenangkan pikirannya disana. Memesan tteokbokki dengan porsi jumbo adalah pilihan terbaik saat ini.

Seungkwan menunggu sambil mendengarkan musik menggunakan earphone yang tersambung dengan ponsel. Mencari lagu yang pas dengan sesuai hatinya saat ini. Saat sedang sibuk dengan ponselnya, bahunya di tepuk pelan oleh seseorang.

" Hansol? Kenapa kau disini? " tanya Seungkwan.

" Hanya sedang mencari makanan. Kau sedang apa disini? "

Seungkwan memutar matanya bosan. " Kau tau kan di rumahku sedang terjadi perang ketiga? " pemuda blasteran itu tersenyum mendengarnya.

" Besok siapa yang membawa berita? " tanya Hansol.

" Pacarmu " jawab Seungkwan sambil memainkan ponselnya tidak menyadari wajah temannya yang berubah menjadi merah.

" Dia bukan pacarku Seungkwan " Seungkwan menatap Hansol dengan senyuman remeh di wajahnya.

" Dasar pasangan aneh! " pemuda itu hanya bisa menahan kesal dengan ledekan Seungkwan.

" Tenggorokanku sakit sekali " Seungkwan memegang lehernya pelan.

" Memangnya kenapa? " tanya Hansol.

" Hey, kau tau kan tadi aku menjadi penyiar radio dari pagi sampai sore. Tenggorokanku sakit karna banyak membacakan informasi yang harus di beritahu oleh kalian semua. Belum lagi membacakan cerita cinta yang membosankan. " jawab Seungkwan panjang dan Vernon yang mendengarnya hanya bisa tersenyum kecil, merasa lucu dan kasihan disaat bersamaan.

" Ini lah resiko menjadi penyiar radio sekolah. Kau harus tahan dengan hal seperti itu Seungkwan. Apa kau sudah membuka pendaftaran baru? " Seungkwan mengangguk tersenyum manis. Ia menerima pesanan yang ia pesan tadi. Sementara Hansol hanya memesan minuman biasa.

" Sudah, dan banyak yang mendaftar. Lumayan ada yang bisa menggantikanku dan Seokmin. " jawabnya senang. Ia menyantap tteokbokki dengan nikmat tanpa menawarkan Hansol. Hey, ia sedang badmood dan lapar. Tentu saja dia tidak akan membaginya meski Hansol itu temannya. Perutnya saat ini lebih penting bung!

" Hm… kenapa kau senang jika ada yang menggantikanmu? Bukannya menjadi penyiar radio adalah hal yang kau suka? " tanya Hansol.

" Gara – gara guru bodoh itu. Test dan tugasku semakin banyak. Aku tidak bisa menjadi penyiar radio setiap hari kan? Seokmin juga tidak bisa membantu karna dia juga sama sibuknya dengan kita. Apalagi Chanie, ia banyak ketinggalan pelajaran, jadi harus absen dulu menjadi penyiar radio. Ini menyebalkan. " Seungkwan menjawab dengan nada frustrasi.

Hansol mengangguk, benar juga yang di katakan temannya itu. Semakin hari waktu mereka bermin tersita karna sibuk belajar untuk test dan mengerjakan tugas yang menumpuk setiap harinya.

" Tapi bukannya bagus? Kita semakin pintar kan? Belajar itu membuatmu semakin pintar Boo. " Seungkwan menatap datar temannya itu.

" Ya! Bagus untukmu karna kau pintar. Dan aku benci belajar, tidak ada gunanya jika kau tidak mengerti pelajaran yang di jelaskan. Mereka semua sudah tua, mengajar saja tidak becus. Bagaimana bisa kau mengerti dengan apa yang mereka bicarakan? Menyebalkan " ucapnya kesal.

Hansol hanya tertawa mendengar ucapan Seungkwan. Sudah menebak jawaban temannya itu yang sangat membenci belajar, memang sih terkadang belajar dengan penjelasan yang dijelaslan kurang detail sama saja seperti menonton berita cuaca yang membosankan. Tapi mau bagaimana lagi? Belajar adalah satu – satunya cara agar bisa masuk ke fakultas ternama saat ini.

Keduanya memutuskan pulang karna hujan sudah berhenti. Sebenarnya Seungkwan tidak ingin pulang dan masih mau menetap di sini, hanya saja karna besok sekolah dan Hansol memberinya berbagai macam ancaman kecil akhirnya ia terpaksa menuruti ajakan temannya itu.

Seungkwan menaiki pohon yang berada di belakang rumahnya di bantu dengan Hansol. Ia mendudukan dirinya di perbatasan dinding itu. Ia tidak takut meski dinding itu sangat tinggi. Hansol terlihat seperti semut dimatanya.

" Bagaimana hubunganmu dengan Seokmin? " Hansol menatap aneh pada Seungkwan.

" Maksudmu? "

" Aku mendengar kemarin Seokmin bertengkar dengan ibunya kemarin, dan mereka membicarakanmu. Aku tidak mendengar terlalu banyak karna ia sedang menelfon di luar. Aku rasa kalian ada masalah " Seungkwan memasukkan tangannya pada saku jaket karna hawa hujan yang semakin dingin.

Hansol hanya diam mendengar ucapan pemuda itu. Seokmin tidak pernah memberitahunya tentang hal itu. Dan ia akui ia memiliki hubungan sedikit tidak baik pada ibu Seokmin.

" Mungkin hanya masalah kecil " jawab Hansol pelan.

" Kalian harus membicarakannya " Hansol mengangguk mendengar nasihat Seungkwan.

" Aku masuk dulu " pamit Seungkwan meninggalkan Hansol yang termenung dengan ucapannya.

" Membicarakannya ya? "

.

.

.

" Tuan Muda, sebentar lagi anda akan sampai di Korea. " seorang pemuda berambut pirang menatap pada pelayan yang sudah bekerja dengannya sejak kecil.

" Ahjussi jangan memanggilku tuan muda, cukup panggil Minghao saja araseo? " ucap Minghao dengan wajahnya yang merengut lucu.

" Saya hanya menjalankan tugas saya saja tuan muda " senyuman yang masih terlihat meski kumis putih menutupi mulut pria tua itu.

" Tapi lain kali panggil aku dengan Minghao saja ya " pelayan itu mengangguk lalu mengundurkan diri dari tuan mudanya.

Minghao tersenyum memandang jendela pesawat yang ia naiki. Ia sangat merindukan kedua orang tuanya itu. Beruntung ia di izinkan untuk bersekolah di Korea Selatan. Menghabiskan waktu bersama orang tuanya dan juga mendapatkan teman baru adalah hal yang paling menyenangkan yang ia inginkan.

Sebenarnya di China ia sudah mendapatkan banyak teman, hanya saja ia bosan disana karna tidak bisa bermain dengan bebas karna peraturan dari neneknya yang sangat tegas. Ia tau neneknya itu menyayanginya, tapi ia ingin bebas. Melakukan kegiatan yang menyenangkan dengan teman sebaya, ia juga merindukan orang tuanya yang menetap disini karna harus mengurus perusahaan mereka. Maka dari itu, ia berusaha mendapat izin dari neneknya untuk tinggal bersama orang tuanya. Dan berjanji jika sudah lulus akan kembali lagi ke kampung halamannya.

Pesawat yang ia naiki sudah sampai di Incheon Airport, Minghao keluar dengan di dampingi pelayannya. Matanya menatap ke arah kerumunan orang yang sedang memegang papan bertuliskan nama – nama orang.

" Tuan Muda, mari ikut saya. Mobilnya sudah menunggu. " Minghao merengut di balik kacamata hitam yang ia kenakan membuat pria tua itu hanya tersenyum kecil. Lupa dengan pesan yang tadi di sampaikan Minghao.

" Biar saya ulang, Minghao mari ikut ahjussi. Mobilnya sudah menunggu " Minghao tertawa mendengar ucapan pelayannya yang terkesan cangguh dan berantakan. Ia mengangguk lalu mengikuti pria itu dari belakang.

" Ahjussi, apa mama ada di rumah? " tanya Minghao.

" Ada Tuan- ah maksud saya Minghao. Nyonya sedang menunggu anda. " Minghao mengangguk.

" Kalo baba? " tanya Minghao lagi.

" Beliau sedang menghadiri rapat, jadi hanya Nyonya saja yang ada di rumah. " Minghao merengut sebal mendengar jawaban pelayannya. Ayahnya selalu saja sibuk, awas saja nanti ia akan mengerjai ayahnya setelah pulang. Aura iblis mulai bersemayam di tubuhnya dan tawa kecil mulai keluar kala otaknya mendapat sebuah ide yang bagus.

.

.

" Mama! " teriak Minghao kencang lalu memeluk tubuh wanita yang menjadi ibunya.

" Aigo, Minghao-ah. Kau semakin manis " Minghao merengut kesal, sudah berapa kali sih dia dibuat kesal hari ini? Ia ini laki - laki, kenapa selalu di sebut manis? Tidak neneknya, temannya, bahkan orang tuanya juga menyebutnya manis? Dia ini tampan, bukan manis!

" Aku tampan mama " ucap Minghao kesal.

Tawa kecil keluar dari bibir ibunya. " Baiklah, anak mama yang tampan " Minghao mengangguk lucu dan di balas usapan hangat pada kepalanya.

" Apa kau lapar? " Minghao menggeleng.

" Aku sudah makan di pesawat tadi, aku mau tidur saja mama " ucap Minghao dan di balas anggukkan oleh ibunya.

" Baiklah, biar mama suruh maid membawakan barang – barangmu ya " ucap Ibunya dan di balas gelengan kepala lagi oleh Minghao.

" Tidak perlu, biar aku saja. Oh ya, nenek memberikan ini pada mama dan baba. Aku ke atas dulu ya " ucap Minghao sambil memberikan bungkusan pada ibunya lalu mulai menaiki tangga sambil membawa kopernya. Meski ia memiliki badan kurus, tapi tenaganya ini kuat. Jangan melihat seseorang dari luarnya saja.

Minghao membuka pintu kamarnya dan matanya berbinar ketika melihat betapa luas ruangan di depannya ini. Dan ornamen – ornamen China yang melengkapi ruangan itu. Minghao berlari ke jendela besar yang ada di kamarnya. Ia memiliki balkon sendiri, ia sangat senang karna di China dulu mereka hanya memiliki satu balkon yang terhubung ke seluruh ruangan. Neneknya masih menyukai hal yang tradisional tentang China ketika sudah memasuki masa modern.

Matanya memandang ke depan, melihat ke arah seorang pemuda yang sedang membaca novel. Minghao terpaku karna melihat rupanya yang begitu tampan, seperti pangeran di negri dongeng saja.

" Hai kau yang disana! " teriak Minghao. Ia masih belum mengerti bahasa Korea, jadi ia menggunakan bahasa yang di tunjuk Minghao melirik ke arahnya dan menatap bingung dirinya. Minghao merengut sedih, ia lupa kalau ia tinggal di Korea sekarang. Pasti pemuda itu tidak mengerti bahasanya.

Minghao berfikir sebentar, mengingat kosakata Korea yang pernah ia pelajari sewaktu di kampung halamannya itu. " Aku Xu Minghao! Sekarang aku menjadi tetanggamu! Namamu siapa? " dengan aksen yang masih khas dan pengucapan yang masih sedikit canggung. Minghao memberikan senyuman ramahnya pada tetangganya di sebrang sana.

Pemuda itu hanya menatap bingung Minghao lalu segera bangkit dan menutup jendela besar yang menjadi pembatas balkon dan ruang tidurnya. Membuat Minghao menunduk dan memanyunkan bibirnya sedih karna tidak mendapat jawaban apapun. Sepertinya ia perlu belajar lebih giat lagi, pemuda itu pasti tidak mengerti apa yang ia ucapkan.

" Namaku Wen Junhui! " Minghao mendongak ke atas karna mendengar teriakan seseorang. Ia memberikan senyumannya ketika tau siapa yang berteriak tadi. Pemuda tampan tadi bernama Junhui, ia memberikan senyuman terbaiknya pada pemuda bernama Junhui tersebut, namun ia tidak mendapatkan balasan dan hanya pintu tertutup yang ia lihat. Meninggalkan Minghao yang masih tersenyum manis disana.

" Dia sangat tampan. Sepertinya aku akan mempunyai teman baru. " gumam Minghao lalu menutup jendela besar. Bersamaan pula dengan ketukan pintu dari luar.

" Masuk saja, tidak di kunci kok " ucap Minghao yang sedang membereskan barangnya.

" Minghao, kau akan bersekolah minggu depan. Sekolah yang sama dengan sepupumu itu. Selama seminggu ini kau harus belajar bahasa korea. Mama sudah mendapat guru yang akan mengajarmu. Dan besok hari pertamamu belajar korea. " Minghao mengangguk patuh. Ia tidak sabar bertemu dengan sepupu bodohnya, Kim Mingyu.

" Baiklah mama. Jam berapa? " tanya Minghao.

" Jam 9 pagi. Jangan telat bangun, mama tau kalau selama di China kau selalu telat bangun ke sekolah. " Minghao hanya menggaruk tengkuknya dan menyengir mendengar ucapan ibunya.

" Baiklah, setelah selesai beres – beres langsung tidur ya " Minghao mengangguk lucu dan di balas usapan sayang dari ibunya.

" Anak pintar "

Selepas ibunya pergi, Minghao kembali membereskan pakaiannya dan menaruh figure foto dirinya dan neneknya. Ia jadi merindukan neneknya, biasanya neneknya akan menyanyikan lagu sebelum ia tertidur. Kekanakan? Biarkan saja, meski kita semakin bertumbuh dewasa pasti ada sisi anak kecil yang tertinggal dalam diri kita kan?

Minghao menghempaskan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Menatap ke arah jendela besar di hadapannya. Pikirannya mengingat kejadian tadi saat ia berkenalan dengan pemuda tampan itu. Ia menyukai mata pemuda itu, meski tadi ia menatapnya datar entah kenapa Minghao menyukainya. Matanya tertutup ketika kantuk mulai menyerang, berdoa semoga besok menjadi hari yang baik baginya.

" Wen Junhui ya? "

.

.

.

Seorang pemuda tinggi sedang menatap datar pada gundukkan tanah di depannya. Ekspresinya yang selalu datar membuat semua orang tidak memahami bagaimana perasaan pemuda itu, tidak bisa menebak jalan pikirannya.

Hanya payung hitam yang menemaninya saat ini. Ia berdiri disana sampai hujan berhenti, tidak peduli jika kakinya yang sudah lelah karna terus berdiri berjam – jam. Ia tidak mempedulikan itu. Matanya hanya menatap datar pada gundukan tanah itu.

Tidak ada tangisan kesedihan pada wajahnya karna air matanya sudah habis, tawa yang selalu keluar dari bibirnya tak pernah terdengar lagi sampai sekarang. Hanya tatapan datar yang selalu bertengger di wajahnya. Ia mulai lelah dengan semua ini.

Ia menaruh setangkai bunga mawar di sana lalu menghembuskan nafasnya pelan. Lalu berjalan pergi dari tempat itu.

" Maafkan aku "

tbc