Maaf, Update terlalu lama. Sebenarnya sudah selesai tinggal Upload. Tapi karena Lappi-ku error jadi file yang baru aku simpan hilang semua. Sebel aku! Games, Video Youtube, semuanya hilang disapu bersih gara-gara Deep Freeeze! Nggak-nggak lagi, deh aku install tuh aplikasi! Huh..

Ah, langsung masuk ke cerita aja ya.. Dari pada Shieru ngomel-ngomel nggak jelas begini.

Disclamer : Naruto © Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Shonen ai

Pairing : SasuxNaru

Rated : T

Chapter 2 (Bertemu)

Give me more loving than I've ever had

Make me feel better when I'm feeling sad

Tell me I'm special even though I know I'm not

Make me feel good when I hurt so bad

Barely getting mad

I'm so glad I found you

I love being around you

You make it easy

By Plaint White T's

Hari ini adalah hari penerimaan murid baru di St. Konoha, para guru dan anggota osis pun sibuk menyiapkan upacara penerimaan murid baru. Tak lain halnya dengan Naruto, sang ketua osis yang sibuk menyiapkan pidato di upacara nanti.

-At 6 AM-

Seperti pagi sebelumnya, Naruto membuka jendela kamarnya untuk menghirup udara segar di pagi hari. Hari ini adalah hari ini penerimaan murid baru di sekolahnya, jadi dia bangun sepagi mungkin untuk menyiapkan segalanya untuk upacara nanti.

Dan tiba-tiba Naruto terkejut saat melihat jendela kamar rumah tetangganya itu terbuka, padahal sudah bertahun-tahun rumah itu sudah kosong. Dia menghela nafasnya dan mulai berpikir, mungkin ada orang yang menempatinya sekarang. Kemudian Naruto pun mandi dan menyiapkan sarapan pagi, setelah itu dia membangunkan Kakaknya, Deidara. Si kakak yang selalu tidak bisa bangun pagi. Sudah beberapa kali pintu kamar kakaknya ia ketuk, namun kakaknya masih saja tidak membuka pintunya dan akhirnya Naruto pun membuka kamarnya tanpa permisi. Dilihatnya sang kakak masih molor dengan guling yang penuh dengan salivanya. Naruto pun menggeleng bingung, sudah beberapa kali dia menyuruh kakaknya agar bisa bangun pagi. Namun hasilnya tetap saja nihil, Deidara memang tidak bisa disuruh bangun pagi. Lalu ditariknya guling sang kakak, alhasil Deidara pun terbangun dari tidurnya karena dia paling tidak bisa tidur tanpa guling yang penuh salivanya itu.

"Oh, Naruto. Kembalikan gulingku, aku mau tidur lima menit lagi." Gumam Deidara yang masih setengah bangun.

"Aku akan membuang gulingmu, kalau kau tidak bisa bangun pagi!" seru Naruto.

"Iya, aku mengerti. Aku bangun." Ucap sang kakak. Lalu Naruto pun mengembalikan gulingnya, dan pergi meninggalkan sang kakak. Namun setelah Naruto keluar dari kamar kakaknya, Deidara malah memeluk gulingnya kembali dan tidur.

"Deidara sudah bangun?" Tanya Minato, sang ayah.

"Tauk, ah. Capek setiap pagi harus bangunin orang yang kerjanya molor terus." Sungut Naruto. "Aku berangkat dulu. Ohya, rumah sebelah sudah ada yang nempatin ya?"

"Ha? Ayah tidak tahu. Memangnya ada apa?"

"Ah, tidak. Ja, ittekimasu."

"Itterasai."

Lalu Naruto pun berangkat ke sekolahnya, dan di depan pintunya sudah ada Sai yang menunggunya. Mereka pun berangkat ke sekolah bersama-sama.

Tepat jam delapan pagi, upacara penerimaan murid barupun dimulai. Saat Naruto menaiki altar panggung untuk berpidato, semua anak perempuanpun pada berisik membicarakannya. Sehingga Naruto harus mengeraskan suaranya dua kali lipat dari normalnya.

Setelah selesai berpidatopun Naruto mendapatkan tugas untuk mengampu adik kelasnya di kelas 1-F, kelas yang paling bermasalah diantara kelas satu lainnya. Dan juga dengan anggota osis lainnya.

"Naru-chan…" Sahut Sai sambil merangkul pundak Naruto. "Ngomong-ngomong kamu berada di kelas F, ya? Gosipnya, sih itu kelas yang paling bermasalah."

"Sai! Bisakah kau tidak memanggilku seperti itu? Sudah berapa kali aku menyuruhmu memanggil namaku dengan normal." Sungut Naruto.

"Hemm, aku ada di kelas A, nih. Nanti waktu istirahat, kita ke kantin bersama, ya?" kata Sai tak menggubris omongan Naruto.

"Aku capek mendengarkan ocehanmu, sana cepat ke kelasmu. Aku tidak mau terlambat masuk hanya gara-gara mendengar pidato tak jelasmu itu."

"Oke papa.." ucap Sai, lalu ngacir meninggalkan Naruto.

"Sai!!"

Lalu Naruto pun segera masuk ke kelas F, kelas yang paling berisik hingga terdengar di koridor sekolah. Namun saat Naruto mulai membuka dan masuk ke kelas itu, tiba-tiba kelas menjadi hening dan sepi. Murid perempuanpun pada berbisik-bisik membicarakan Naruto. Dan saat Naruto memperkenal dirinya di depan kelas, para murid perempuanpun pada terpesona mendengar suaranya. Tak terkecuali murid laki-laki, ada yang senang dengan Naruto dan ada juga yang mengobrol dengan teman sebangkunya.

"Naruto senpai, boleh minta nomer teleponnya?" Tanya salah satu anak perempuan di kelasnya.

"Maaf, aku tidak punya telepon. Jika ada sesuatu yang ditanyakan, kalian bisa tanyakan langsung padaku." Kata Naruto sambil menyunggingkan senyumnya, membuat semua murid perempuan mimisan dibuatnya. "Baiklah, aku akan memangil nama kalian satu persatu. Kiba?"

"Ya."

"Hinata?"

"Ah, iya." Jawabnya gugup.

"Sakura?"

"Hadir."

"Sasuke? Sasuke?" panggil Naruto. Namun orang yang dipanggilpun tak kunjung menjawab. "Sasuke?"

"Sasuke! Kau dipanggil, tuh!" panggil Neji.

"Hnn.. Ya." Ucap Sasuke lalu matanya terbelalak melihat Naruto.

"Ada, ya. Ino?"

"Hadir."

Tiba-tiba Sasuke pun berdiri dari kursinya hingga membuat murid-murid sekelasnya cengok melihatnya.

"Eh, a-apa ada yang ditanyakan Sasuke-kun?" Tanya Naruto bingung melihat Sasuke tiba-tiba berdiri dari kursinya.
"Tidak ada." Seru Sasuke, lalu kembali duduk di kursinya.

Lalu Naruto pun melanjutkan perkenalannya dan setelah itu dia memberikan pengarahan dan aturan di sekolahnya.

Istirahatpun tiba, Naruto pun pergi ke kantin bersama Sai. Padahal Naruto masih punya banyak tugas yang harus ia selesaikan hari ini, namun Sai memaksanya agar menemaninya ke kantin dan makan bersama.

Saat mereka berjalan berdua ke kantin, tiba-tiba semua murid kelas satu melihat mereka dengan tatapan yang aneh. Dan tersenyum melihat mereka, ada juga yang berbisik-bisik tentang mereka. Ternyata sebutannya sebagai Papa mama di sekolah itu telah menyebar luas di kalangan anak kelas satu.

"Sai! Pasti kamu yang menyebarkan sebutan bodoh itu?" sungut Naruto kesal mendengar bisikkan anak-anak kelas satu di belakangnya.

"Haha, maaf Naru-chan. Tadi aku tidak sengaja keceplosan saat mengampu di kelasku. Hehe.." kata Sai tanpa dosa.

"Memangnya apa yang kau bicarakan di kelasmu? Kau ini merepotkan saja! Maka dari itu aku tidak bisa melepas dan membiarkanmu sendirian." Sungutnya kembali.

"Hmm, aku juga tidak suka sendirian, kok. Aku lebih suka bersamamu." Sahut Sai.

"Hah.." hela nafas Naruto mendengar hal itu dari Sai.

"Hehe." Senyum Sai tanpa dosa.

Setelah itu mereka pun makan bersama di kantin.

***

Hari pun mulai menjelang sore, murid-murid di sekolah pun sudah pulang ke rumahnya. Tidak untuk Naruto, dia harus menyelesaikan tugasnya di sekolah hingga selesai juga sore ini. Akhirnya dia kembali pulang ke rumahnya, sesampainya di rumahnya dia langsung ke kamarnya. Karena pada saat jam seperti ini, tidak ada seorangpun yang berada di rumah. Karena ayah dan kakaknya masih bekerja, mereka pulang setiap jam makan malam dimulai. Dan hanya ada Naruto dan kucingnya, Pluto. Baru juga Naruto meletakkan tasnya di meja, dan tiba-tiba ada sebuah suara di luar kamarnya. Ada seseorang yang mengetuk kaca jendela kamarnya. Naruto pikir ada pencuri yang mencoba masuk ke dalam kamarnya. Naruto pun mengambil tongkat pemukul di kamarnya lalu dengan perlahan membuka jendela kamarnya. Tiba-tiba matanya membelalak saat melihat ada seseorang berpakaian biru tua mencoba memanjat pagar pembatas kamarnya. Dan lebih terkejutnya lagi orang itu adalah anak kelas satu di kelas yang diampunya tadi siang.

"Sas…Sasuke?! Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Naruto heran. Lalu Sasuke pun meloncat ke jendela kamar Naruto dan jatuh tepat di tubuh Naruto hingga mereka jatuh ke lantai. "Ittei.." gumamnya kesakitan.

"Hnn.."

"A-apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau bisa tahu rumahku?" cerocos Naruto.

"Hnn.. Kau tidak ingat aku?" Tanya Sasuke yang seraya berdiri dari tubuh Naruto.

"Tentu saja aku ingat! Kaukan murid baru di sekolah St. Konoha."

"Hnn, ternyata kau sama sekali tak mengingatku." Ucap Sasuke lemas dan lalu menyodorkan sebuah foto masa kecilnya pada Naruto. "Lihat ini, mungkin kau ingat setelah melihat foto itu."

'Hemm.. Sepertinya aku pernah melihat foto itu. Dimana ya?' batin Naruto. Lalu karena penasaran Naruto pun mencari album fotonya saat masih kecil di rak lemari buku. Dan ditemukannya sebuah album foto yang lumayan usang, dan dibukanya foto-foto yang ada di sana. Kembali mata Naruto terbelalak kaget saat melihat ada sebuah foto yang mirip di album fotonya. Di setiap foto pasti dituliskan nama, tanggal dan kejadian di pojok kanan foto agar saat membuka album foto itu mereka tahu siapa yang ada dalam foto itu. "Ah, Kau Uchiha Sasuke? Anak dari Paman Fugaku dan Bibi Mikoto?" Tanya Naruto.

"Hnn." Jawabnya.

"Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Bagaimana kabar beliau? Lalu kau di sini sendirian?"

"Hnn.. Mereka baik-baik saja di Tokyo."

"Kenapa kau sekolah di sini? Bukannya banyak sekolah yang bagus di Tokyo?"

"Suka-suka aku, dong. Mau sekolah di sini ataupun di Tokyo. Tak ada urusannya denganmu, dobe!" Sungutnya.

"Apaan, sih? Akukan tanya baik-baik, kenapa jawabmu sewot begitu teme?"

"Jangan panggil aku seperti itu! Aku.." sebelum Sasuke menyelesaikan omongannya, tiba-tiba suara perutnya berbunyi membuat Naruto tertawa geli. "Apaan, sih? Jangan tertawa!" gertak Sasuke.

"Iya-iya. Kau belum makan, ya? Kau makan di sini saja, soalnya aku juga mau memasak makan malam."

"Hnn.."

Lalu mereka pun pergi ke dapur, Sasuke pun duduk di kursi sambil menggendong Pluto, kucing Naruto. Sedangkan Naruto menyiapkan makan malam di dapur.

"Namanya Pluto, lucukan? Aku memungutnya dua bulan yang lalu di bawah jembatan." Sahut Naruto.

"Hnn, jadi kucing pungutan, ya? Ngomong-ngomong Paman Minato mana?" tanya Sasuke.

"Ah, ayah dan kakak sedang bekerja, paling sebentar lagi juga pulang." Jawab Naruto.

Dan beberapa saat kemudianpun orang yang dibicarakan sudah muncul di hadapan mereka. Minato dan Deidara pun sangat kaget melihat Sasuke yang duduk santai di rumahnya. Mereka kira Sasuke adalah pacar Naruto, karena tak ada orang lain yang datang ke rumah ini kecuali Sai. Bayangan mereka pun buyar saat Naruto menjelaskan bahwa Sasuke itu adalah anak dari Paman Fugaku dan Bibi Mikoto.

***

-At 9 PM-

Setelah selesai makan malam bersama, Sasuke pun masih asyik bermain game bersama Deidara hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Lalu Sasuke dan Naruto pun kembali ke kamarnya.

"Hei, dobe berikan aku nomer teleponmu!" sungut Sasuke menyuruh Naruto memberikan nomer teleponnya.

"Hah, kau ambil saja di rak meja itu." Ucap Naruto sambil mengganti seragamnya dengan baju tidur.

"Hnn, ternyata kau punya nomer telepon, ya? Kenapa tadi siang mesti bohong?" tanya Sasuke kembali.

"Tidak ada. Aku hanya tidak mau dibuat susah saja." Serunya.

"Hnn, aku miscall nomermu, ya?"

"Ya, terserah."

"Ja, Oyasumi." Ucap Sasuke sebelum dirinya pergi dari kamar Naruto dan meloncat kembali ke kamarnya. Naruto pun kaget kenapa Sasuke sudah tidak ada di kamarnya.

"Dasar! Oyasumi teme." Setelah itu Naruto mengambil teleponnya, dibukanya satu miscall dari nomer tak dikenalnya, tentu saja itu nomer Sasuke. Naruto pun segera menyimpannya di phonebook teleponnya. Dan tiba-tiba teleponnya berbunyi, tanda ada sebuah sms masuk ke teleponnya. Isi sms : Ja, Oyasumi dobe. Naruto pun hanya tersenyum membaca sms dari Sasuke itu, padahal Sasuke sudah mengucapkannya tadi. "Baka!" gumamnya.

To be Continued…

Huhuhu… Akhirnya nyampei juga di Chapter 2 ini..

Soalnya saking sebelnya aku hampir mau jungkir balik-balik jungkir karena dataku hilang semua… dan aku harus mengulang chapter 2 ini. TT^TT *meratapi nasib*

Ya sudahlah, lupakan saja..

Ditunggu reviewnya, ya… =^o^=a

Sampai jumpa di chapter selanjutnya…