Disclaimer: Ini adalah karya fan fiction menggunakan karakter dari dunia My Hero Academia, yang dipopulerkan oleh Horikoshi Kōhei.
Peringatan: Ini merupakan versi Indonesia dari fanfic yang berjudul sama
Tahun ketiga SMP tidak bisa berakhir lebih cepat dari yang ia harapkan. Pada saat itu baru memasuki awal musim semi atau dengan kata lain awal dari semester ganjil. Seorang gadis muda dengan rambut panjang berwarna baby blue dengan mengenakan seragam sekolah SMP Meiran sedang dalam perjalanan ke sekolah ketika ada peristiwa villain penjambret yang telah terpojok menggunakan quirk gigantifasinya.
Ada beberapa Hero yang dia kenali di TKP tersebut. Desutegoro, Backdraft dan juga Kamui, tetapi pertempuran antara Kamui dan villain tersebut terganggu oleh Hero pendatang baru dengan nama Mount Lady yang juga memiliki gigantifikasi sebagai quirknya. Itu adalah kehidupan sehari-hari yang normal dan hampir tidak ada yang membuatnya heran. Tidak ada yang menarik perhatiannya, kecuali seorang anak lelaki yang memiliki rambut keriting berwarna hijau dan mengenakan seragam gakuran. Dia terlihat seperti mencatat sesuatu di note-nya tentang para Hero. Pada masa itu, Hero dipandang sebagai idola yang disukai oleh orang-orang. Tapi penggemar seperti anak laki-laki itu adalah jenis yang tergolong langka. Dia dapat dianggap sebagai menyeramkan atau luar biasa karena ia dapat menganalisis Hero yang dia temui dan mencatat quirk yang dimiliki mereka atau bahkan kelemahan mereka.
Jika dikatakan bahwa harinya berjalan dengan normal adalah sebuah kesalahan besar. Hari itu dimulai dengan para Hero yang dapat dengan baik menangkap penjahat, menjadi Hero yang tak berdaya dan hanya dapat melihat keadaan di TKP dikarenakan adanya Sludge villain. Waktu itu dia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Dia sedang tidak berencana berjalan-jalan bersama teman-temannya. Dia hanya berhenti sebentar untuk belanja beberapa kebutuhan rumah dan dalam sekejap mata sebuah ledakan terdengar olehnya. Saat dia menghampiri TKP, dia menjadi salah satu dari banyak orang yang menyaksikan villain itu menyandera seorang bocah SMP.
Hari itu menjadi semakin aneh lagi. Anak lelaki yang dia lihat pagi itu berlari dengan kecepatan penuh ke arah villain. Melihat hal tersebut, tubuhnya bergerak dengan sendirinya sebelum otaknya dapat berpikir. Dia menghindari para Hero yang berdiri berjaga dan mengabaikan peringatan mereka. Dia bahkan tidak tahu mengapa dia lari mengejar anak itu. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Anak laki-laki tersebut terus berlari ke arah villain yang tampaknya mengambil temannya sebagai sandera. Anak laki-laki itu melempar ranselnya ke arah penjahat dan mencoba menyelamatkan temannya dengan tangan kosong.
"Itu karena kamu terlihat seperti meminta pertolongan..." Kalimat itu mematahkan gadis kecil itu dari lamunannya dan membangkitkan keinginannya untuk menyelamatkan bocah tersebut dari bahaya. Dia menggunakan quirknya. Quirk yang tidak pernah dia pakai sejak dia masuk sekolah menengah.
Dari telapak tangannya keluar seekor naga kecil, dan naga itu menyemburkan udara dingin yang dapat membekukan si villain. Tetapi quirk yang dimiliki sang sandera bisa membantu villain itu menangkal quirk milik gadis kecil tersebut. Villain itu mengayunkan lengannya ke arahnya dan anak laki-laki itu, jeritan para Hero bisa terdengar. Anak laki-laki itu mencoba untuk melindunginya dari jangkauan penjahat... tetapi penjahat tidak pernah dapat melukai mereka. Karena All Might telah datang untuk menyelamatkan mereka semua.
"Meskipun aku tadi menasehatimu, tapi aku belum mencontohkan apapun padamu. Pro selalu mempertaruhkan nyawa mereka." Dia mengambil lengan sang sandera dan mengayunkan lengannya yang lain. "Detroit Smash."
Dengan satu ayunan lengannya, penjahat itu berceceran di seluruh tempat dan hujan pun turun dari langit. Si gadis kecil tersebut kehilangan kesadaran setelah itu.
Ketika dia sadar, bocah itu dan dia dimarahi habis-habisan oleh para Hero di tempat kejadian dan bocah yang disandera itu mendapat pujian.
"Kalian terlalu sembrono. Kalian tidak perlu menempatkan diri kalian dalam bahaya." teriak Desutegoro.
"Jika kamu tidak hanya diam-diam menatap kejahatan yang terjadi maka kita tidak akan lari sendiri, kamu tahu." Jawaban gadis itu mengejutkan para Hero.
"Apa yang kamu katakan? Kami sedang menunggu Hero yang mempunyai quirk kompatibel untuk menyelamatkan bocah itu." kata Kamui.
"Sampai kapan kalian akan berdiri dan menunggu? Sampai penjahat mengambil alih tubuh sang sandera?" Suara tenang gadis itu membekukan orang-orang di sekitarnya. Untungnya, tidak ada wartawan di dekat sana. Anak laki-laki berambut hijau itu menarik lengan bajunya untuk mencegahnya melangkah lebih jauh.
"Ini bukan tempatmu untuk ikut campur, kamu tahu." Desutegoro berkata dengan ekspresi tajam.
"yah, benar apa katamu. Bukankah itu pekerjaanmu? Untuk mencampuri urusan seseorang dan mempertaruhkan hidupmu?" Pertanyaan dan ekspresinya membekukan para Hero serta dua anak sekolah menengah di tempat itu.
"Tapi ... bukan tugasku untuk mengatakan itu padamu." Dia berdiri dan berbalik dari mereka. "Aku pergi dulu kalau begitu. Terima kasih, oh, para Hero." Para Hero masih membeku mendengar suaranya, kata-kata itu tertulis sebagai penghargaan tetapi disuarakan dengan begitu banyak ejekan dan mereka tidak dapat memberikan jawaban untuk itu.
Dia sudah menduganya. Dia benar-benar telah menduganya. Tapi dia tidak menduga akan dikurung di rumah. Ketika tiba di rumah, dia telah mengantisipasi jika ayahnya akan sangat marah dan akan mulai memarahinya. Dan ... dia benar, tapi dia tidak mengira akan dikurung di kamar tidurnya selama sebulan. Oke, dia membahayakan hidupnya, tetapi dia tetap hidup dan bernapas bukan.
"Kamu harus merenungkan betapa berbahayanya tindakanmu." Sang ayah berkata.
"Tapi pa, aku tidak bisa mengendalikan tindakanku kali ini. Aku bersumpah tubuhku bereaksi lebih cepat daripada otakku." Dia mencoba untuk beralasan pada ayahnya.
"Kalau begitu kau harus belajar menggunakan otakmu dulu ketika kamu merenungkan tindakanmu hari ini. Pergi gosok gigimu dan segera tidur." Jawaban ayahnya yang tegas membuatnya cemberut. Dengan langkah yang berat, dia naik ke kamarnya.
Ayahnya mengatakan bahwa dia dihukum tetapi dia tidak mengatakan bahwa dia tidak dapat menggunakan teleponnya. Telepon berdering tiga kali sebelum orang yang ditelepon mengangkatnya.
"Halo, ini adalah Hatsume Residence."
"Halo, Obaa-san. Apakah Mei ada?" Dia dengan tanpa basa-basi bertanya pada orang di seberang telepon.
"Ara, Ryu-chan. Ya, Mei ada di kamarnya menyebabkan semua jenis kebisingan seperti biasa dan meninggalkan teleponnya di meja makan." Dia menertawakan Mei yang rupanya adalah putrinya.
"Tunggu sebentar oke? Aku akan memberikan ponselnya padanya."
Tidak lama setelah itu, setelah suara ledakan dan banyak suara lainnya. Suara teman tersayangnya bisa didengar.
"Halo Ryu, ada apa?"
"Taruh saja teleponmu pada speakerphone seperti biasa dan lakukan apa yang kau sedang kau lakukan oke." Ryu berbaring di tempat tidurnya dan membuat dirinya nyaman.
"Apa kamu dalam masalah? Kamu sudah tidak memintaku melakukan itu sejak lama." Suara gemerisik di seberang telepon bisa didengar, yang berarti bahwa Mei mengabulkan permintaannya.
"Yah ya, dan aku berencana memberitahumu semua detailnya, jadi dengarkan baik-baik ..."
Tak perlu ditebak lagi, mereka berdua mengobrol sampai Ryu tertidur karena kelelahan.
