Chapter 2 dimulai…
Chapter 1 reviewnya cuma satu… (T.T) Ya maap kalo jelek… saya blum berpengalaman…
Sedikit pemberitahuan, di chapter lalu ada beberapa bagian yang ketikannya salah, hurufnya ilang, dll… mohon maklum….
Tapi, makasih udah membaca…. Saya nggak akan menyerah sampai dapet review banyak!
Fic ini adaptasi dari novel BLITZ dan HANTU yang saya gabungkan jadi satu dan saya rombak semuanya…
D. Gray-man adalah milik Hoshino Katsura-sensei.
Warning: OC! Dan agak OOC! Reiya Sumeragi (OC) adalah milik Reiya Sumeragi-sensei. Haru (OC) adalah milik Helena Tara.
Mohon para reader jangan bunuh saya kalo ada sesuatu yang nggak dikehendaki…
Langsung saja… Selamat menikmati….
Kau tidak menyadari permainannya? Padahal dadu kematian sudah dilemparkan!
Cerita sebelumnya: Bwooossshhh…. Sebuah suara seperti semburan mengejutkan mereka semua
"AAAAAaaaaaahhhhhhh….!" teriakan Lenalee tiba-tiba membelah malam.
Chapter 2: One from Us…
Bereka berlima langsung berlarian kearah Lenalee.
"NEE-SAMAAA….!"Reiya menjerit keras. Di hadapannya tirai api tampak menrai-nari di tengah kegelapan malam. Membalut dan meliuk bagai ular di rambut panjang Lenalee.
"Tidak…" Haru mendesis. Tubuhnya limbung ke belakang dan jatuh terduduk. Terlalu shock untuk menyadari apa yang terjadi.
"AIR! CARI AIR!" Allen berteriak sambil meraih seember air di sebelahnya.
Kanda dan Lavi buru-buru mengambil botol persediaan air mereka.
"AAAAAAAHHHHHH….." jeritan Lenalee makin keras di malam yang sunyi itu.
Rambut adalah mahkota bagi wanita. Itulah kata pepatah lama, dan mugkin memang masih berlaku hingga kini.
Inner beauty lebih penting. Itu juga kata pepatah lama, tapi sepertinya sudah tidak berlaku.
Bau menyengat masih tersisa di sekitar tenda para remaja itu. Rambut dan kuku adalah bagian dari tubuh yang terbuat dari keratin yang jika tersulut api akan mengeluarkan bau yang menyengat.
Api tidak hanya membakar rambut Lenalee, tapi juga bagian kanan wajahnya. Kulitnya melepuh, rusak dan banyak yang terkelupas. Sementara rambutnya terbakar hampir separuh lebih.
Api berhasil dipandamkan dari rambut Lenalee tak lama setelah Allen mengguyurkan seember air di kepalanya. Rupanya saat Tyki datang tadi, Lenalee menghampirinya dan meninggalkan tutup tabung gas dalam keadaan terbuka dan api yang berasal dari lilin di sebelahnya menyembur dan membakar wajah dan rambut panjang Lenalee.
"Aaahh…." Itu teriakan ketiga dari Lenalee. Haru dan Reiya sedang mengoleskan pasta gigi di wajah Lenalee yang tersulut api. Luka bakarnya parah.
"Bentar, nee-sama, bagian situ belum." Reiya memindahkan tangan Lenalee dari wajahnya.
"Perih tahu … sakit…" Lenalee kembali menutup wajahnya.
"Jangan dipegang, nee-san, nanti infeksi…" Haru menarik tangan Lenalee "Wajahmu harus diperban..."
"Aaahhh…" Lenalee menjerit lagi saat Reiya mengoleskan pasta gigi jahanam itu ke wajahnya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena hanya Haru yang tahu apa yang harus dilakukan.
Bulan tiga perempat itu tampak pucat dan redup.
Reiya keluar dari tenda. Di depan tenda cowok-cowok menunggu dengan gelisah.
"Lena gimana?" tanya Allen.
Reiya cuma menggeleng pelan dan menghela nafas. Itu jelas berita buruk.
"Rambutnya masih bisa dirapiin, tapi…" Reiya menghempasakn diri di sebelah Allen. "Luka bakarnya parah. Nee-sama harus dibawa ke RS."
Jeritan Lenalee terdengar lagi dari dalam tenda diselingi suara omelan Haru
Allen, Kanda dan Lavi cuma menghela nafas kecewa.
"Padahal kita belom ada sehari di sini…" keluh Lavi.
"Che…" Kanda ber-che ria.
"Kita harus turun besok!" Allen memutuskan. "Lenalee harus segera diobati."
Kanda mengangguk setuju.
"Capek. Mau bobo…" Reiya bangkit dan masuk ke tenda.
"Gue juga…" Kanda masuk ke tendanya.
"Ikut…" Lavi mengikuti Kanda.
Kini tinggal Allen sendirian di luar. Api unggun mereka mulai padam, Allen merapatkan jaketnya untuk mengusir dingin. Dipandangnya bulan tiga perempat yang bertengger di atas kepalanya.
"Lenalee…" gumamnya.
Matahari belum terbit, namun empat dari enam remaja itu sudah bangun. Allen, Kanda, Lavi, dan Reiya duduk menunggu matahari terbit. Lavi memegang kameranya, bersiap memotret matahari terbit. Kanda mengambil jarak dari teman-temannya dan bermeditasi dengan tenang.
Haru keluar dari tendanya dan menghampiri keempat temannya.
"Lenalee gimana?" tanya Kanda tanpa membuka matanya.
Haru menguap lebar. "Baru aja tidur sejam lalu… Pasta giginya nggak bantu banyak…"
"Sayang ya… padahal gue niatnya menjelajah dan nyari objek foto…" Lavi mengeluh.
"Nee-sama lebih penting." Reiya medorong bahu Lavi.
"Iya, tau…" Lavi melengos.
"Kalian pada udah sarapan belum?" tanya Haru.
"Belum…" Mereka menjawab bersamaan.
"Mau gue bikinin roti bakar apa mie?" Haru menawarkan.
"Mie." Kanda menjawab tanpa bergerak.
"Dua-duanya…" Allen mengangkat tangan.
"Roti cokelat!" Reiya menoleh.
"Aku mie saja, dua bungkus ya…" Lavi mengeluarkan dua jarinya sebagai isyarat.
"Biar gue bikinin minum." Reiya bengkit berdiri. "Dimana pancinya?"
"Di situ…" Haru menunjuk arah sebelah tenda.
"Ya, udah. Kalo gitu kita beres-beres sekalian aja sekarang!" Allen bangkit dari duduknya dan berjalan ke tendanya.
"Oke." Kanda mengikuti Allen disusul Lavi.
Kabut baru menghilang ketika jam menujukkan pukul sebelas siang. Lenalee baru saja bangun dan masih istirahat di dalam tenda sementara Haru merapikan rambutnya.
"Sudah nih…" Haru keluar dari dalam tenda diikuti Lenalee
Semuanya langsung menoleh, Lenalee tampak berbeda dengan potongan rambut cowok. Seluruh wajah bagian kanan termasuk matanya tertutup perban.
Benar-benar berbeda dengan sosok Lenalee yang menemani mereka selama ini.
Dari wajahnya yang kini tampak pucat terpancar rasa lelah, sedih, kesal, semua bercampur aduk.
Tak ada seorangpun yang berniat bicara atau lebih tepatnya tidak tahu harus bicara apa.
Merasa suasananya kurang enak, Haru angkat bicara. "Kita jadi berangkat sekarang?"
"Iya…" Allen menjawab singkat. "Kamu udah siap, Lenalee?"
Lenalee hanya mengangguk sekilas.
Mereka mulai turun gunung. Urutannya tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Hanya saja sekarang Allen memapah Lenalee. Lenalee sebetulnya tidak perlu bantuan, tapi berhubung mata kanannya tertutup perban dia membutuhkan kehati-hatian ekstra, untuk itu Allen yang menjabat di bidang keamanan membantunya.
Perjalanan sudah cukup jauh ketika Kanda tiba-tiba berhenti.
"Ada apa, Nda?" Haru berjalan menjajari langkah Kanda.
"Ada persimpangan jalan…." Kanda menoleh kepada teman-temannya.
"Haaa?" yang lain langsung kaget.
"Kok bisa?" Reiya melongok melalui bahu Kanda.
"Lho… kemarin rasanya gak ada persimpangan gini…" Lavi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya… gue setuju sama Lavi…" Allen mengangguk-angguk.
Kanda mengelurkan kompas digitalnya. "Brengsek! Di saat begini malah mati!" Kanda mengumpat sambil membanting kompasnya ke tanah.
"BaKanda! Jangan dibanting! Ntar rusak!" Allen memarahi Kanda
"Truz gimana nasib kita? Kalo salah jalan sama aja tersesat dan gak bisa balik ke vila!" Haru setengah berteriak dengan suara melengking.
Sesaat keenam remaja SMA Black Order itu terdiam satu sama lain. Namun dalam hati masing-masing mencerna omongan Haru.
"Kalian ini pada kenapa sih?" Lenalee berusaha mencairkan suasana tegang. "Cepet putusin, jalannya ke mana?"
"Lagi mikir tauk!" Lavi akhirnya menjawab.
"Che…" Kanda mulai ber-che ria.
"Kayaknya mending ke kanan deh…" Allen mencoba mengusulkan.
"Kemarin jalan yang kita lewati hutannya nggak terlalu lebat. Kayaknya gak mungkin kalo ke kanan, pohonnya rapat banget dan terlalu gelap." ujar Kanda
Mereka semua memandangi jalan ke kanan.
"Ke kiri." Kanda akhirnya memutuskan.
Hari sudah semakin siang. Matahari sudah mencapai puncaknya sejak tiga jam yang lalu.
Kanda berjalan dengan mimik wajah was-was.
Rasanya jalan ini tidak mereka lewati kemarin.
Kelompok pendaki gunung itu berjalan dengan hati-hati. Tanah yang mereka pijak sekarang tidak rata dan penuh batu. Mereka berjalan dalam diam. Namun dalam hati mereka masing-masing berpikir. Kalau benar ini jalan pulang, kenapa rasanya mereka tidak lewat jalan ini kemarin?
"Kok ada suara air kayak air tejun? Perasaan jalan kemarin gak ada suara kayak gini kan?" Allen bertanya dengan wajah kuatir.
Semuanya langsung berhenti. Mereka diam dan mendengarkan. Suara air bergemuruh itu terdengar dekat sekali.
"Benar kan… ada suara air terjun!" Allen memandang sekeliling dengan tatapan curiga.
"Lho? Berarti kita tersesat?" Haru bergidik ngeri. "Jangan main-main, Kanda!"
"Siapa yang main-main, Baka! Gue juga nggak tahu!" Kanda membela diri.
"Trus gimana?" Haru terlihat cemas.
"Serius, Nda. Berarti kita salah jalan!" suara Allen meninggi.
"Jangan bercanda! Lenalee harus buru-buru dibawa ke rumah sakit!" Lavi memandang Kanda dengan tatapan menyalahkan.
"Gue nggak main-main!" Kanda berbalik. "Masa gue setega itu!"
"Trus kenapa lo bawa kita kesini?" Reiya bertanya dengan nada menuduh
"Gue juga nggak tahu kalo ada persimpangan jalan! Gue milih ke kiri karena menurut pengelihatan gue itulah jalannya! Gimana kalo lo yang ada di posisi gue, hah? Di paksa milih jalan dalam beberapa detik yang bahkan gue nggak tahu mana yang bener!" Kanda yang mulai naik pitam menumpahkan emosinya pada kelima temannya dengan bicara dalam satu tarikan nafas.
Keenam remaja itu kini tenggelam dalam keheningan. Yang terdengar hanyalah suara nafas berat Kanda yang sedang berusaha mengatur emosinya. Tapi tak urung kata-kata Kanda masuk ke dalam sanubari mereka.
"Wah…wah…wah…" mereka semua menoleh ke asal suara itu. Tyki Mikk sedang berjalan ke arah mereka. "Apa sikap orang kota selalu begini? Bertengkar dengan teman sendiri…"
Mereka semua menatap Tyki.
"Apa gerangan yang terjadi dengan wajah dan rambutmu, nona?" Tyki memandang Lenalee.
Lenalee hanya diam dan menatap Tyki tajam.
Tyki yang menyadari tatapan itu langsung berkata. "Baik kalau kau tidak mau cerita, sepertinya kehadiranku tidak diinginkan…" Tyki berjalan mundur sambil mengangkat tangannya. "Aku akan pergi…"
Tyki melenggang pergi. Tapi kemudian dia berbalik dan berkata. "Hati-hatilah, jangan bertengkar, nanti bisa-bisa kalian saling menyerang dan membunuh…"
Lenalee mendesis pelan, tapi masih bisa didengar kelima temannya. "Orang desa sialan…"
Tak ada lagi diantara mereka yang berbicara.
"Oi, mecha moya!" Kanda memecah keheningan. Reiya tersentak kaget. "Lo bisa nggak bikin kompas cadangan?"
Reiya menunjukkan ekspresi berpikir. Akhirnya dia mengangguk.
"Kita akan mencari air terjun itu!" Kanda memutuskan tindakan selanjutnya
Yang lain lansung kaget.
"Kita nggak bisa tunda lagi kepulangan kita!" Haru protes.
"Gue gimana?" Lenalee juga protes.
Kanda menghela nafas. "Kita kesana untuk mengisi perbekalan air dan menginap semalam lagi. Gue mau kita semua bicara dengan kepala dingin!"
"Gue setuju sama, Kanda." Allen mengangguk. "Kita semua harus bicara dengan kepala dingin."
Sekali lagi mereka semua melanjutkan perjalanan dalam keheningan.
Bunyi gemuruh air itu memang berasal dari sebuah air terjun. Air terjun itu tingginya tidak seberapa. Hanya sekitar sepuluh meter. Tebing-tebingnya curam dan terjal, dengan semak-semak liar dan beberapa pohon menghiasinya, menampakkan keindahan alam yang alami. Benar-benar belum terjamah.
Malam kedua di gunung Makeru terasa hambar. Karena pertengkaran mereka tadi siang kini mereka duduk berjauhan sambil mengelilingi api unggun. Tidak ada yang berniat bicara. Yang terdengar hanyalah suara percikan api dan suara besi yang saling bergesekan saat Reiya menggosok-gosokkan magnet ke sebuah paku untuk membuat kompas.
Allen meminum kopinya dalam diam.
Lavi memetik gitarnya dengan sangat pelan. Dentingan gitarnya hampir tidak terdengar.
Lenalee sudah tertidur.
Haru sibuk merangkai bunga-bunga liar yang ditemukannya menjadi sebuah mahkota.
Kanda duduk diam sambil melipat tangannya ke dada. Matanya terpejam dan dahinya berkerut, seperti sedang merenungkan sesuatu.
Sungguh malam tersuram sepanjang sejarah pendakian tim D. Gray-Man.
Malam semakin larut. Haru ikut masuk ke dalam tenda. Kini mereka semua tinggal berempat mengelilingi api unggun.
"Hihihihi…" tiba-tiba terdengar suara tawa dari dalam tenda perempuan. Suara itu aneh dan melengking.
Kanda membuka matanya.
Allen berhenti menyesap kopinya.
Reiya bahkan berhenti merakit kompasnya dan menoleh kearah tenda.
Allen melambai pada Lavi sambil meletakkan jarinya di bibir. Menyuruh cowok bermata hijau itu berhenti memetik gitarnnya.
Lavi meletakkan gitarnya dan ikut memasang telinga.
"Hihihihi…" suara tawa melengking itu terdengar lagi.
"Hihihihi…" terdengar suara tawa yang lain. Suaranya kalem. Suara Haru!
Mereka berempat saling pandang. Tawa melengking bukan suara Lenalee maupun Haru. Suara Lenalee terdengar dewasa dan Haru kalem. Tapi suara tawa itu melengking seperti tercekik.
Dengan was-was mereka berjalan mendekati tenda. Dari lampu emergency yang menyala di dalam tenda mereka bisa melihat bayang-banyang orang yang ada di dalam tenda.
Dari dalam tenda tampak dua sosok saling duduk berhadapan. Kedua sosok itu sepertinya sedang bercanda, mereka tertawa-tawa. Dua sosok itu berambut panjang.
Empat orang anggota tim pencinta alam itu menyadari sesuatu yang tidak beres. Rambut Haru memang panjang walaupun tidak sepanjang Reiya, tapi rambut Lenalee terbakar dan jadi pendek sekali, dan lagi Lenalee sudah tidur sejak tadi.
Mereka saling pandang. Memastikan bahwa jumlah mereka disini ada empat orang. Berarti di tenda itu ada Haru, dan yang dihadapannya… ORANG LAIN!
Meskipun tidak berbicara, mereka saling mengerti bicara dengan pandangan mata.
"Hihihihi…" Suara itu terdengar lagi.
Ekspresi Reiya benar-benar tidak bisa ditebak. Campuran dari heran dan takut yang berlebihan.
Tidak hanya Reiya, Lavi, Kanda, dan Allen-pun berekspresi hampir sama.
Kanda memberanikan diri maju lebih dulu. Allen mengikuti di belakangnya.
SRAK! Kanda mengulurkan tangannya, dan menyibak pintu tenda.
Di dalam tenda hanya ada Lenalee dan Haru. Tidak ada yang aneh. Lenalee masih tertidur lelap. Haru duduk membelakangi mereka. Tidak ada orang lain di tenda itu.
Haru berbalik dan memandang teman-temannya.
"Haru…eh… gue pikir...tadi…lo…" Reiya tergagap-gagap.
Haru tersenyum. Senyumnya hambar dan kering.
Sesaat mereka semua tenggelam dalam keheningan.
Haru masih terus tersenyum, kemudian dia bangkit dari duduknya, dia berjalan pelan maju kearah keempat temannya itu.
Keempat remaja itu merasakan ada yang aneh dengan pemilik mata hitam itu.
Dia tertawa kejam kemudian mendesis "Maot sadayana... "
Keempat temannya berjalan mundur. Ada yang tidak beres dengan gadis di depan mereka ini.
Tiba-tiba wajahnya berubah. Matanya kehilangan sinarnya. Begitu beku dan dingin. Wajahnya berubah beringas dan kejam, dia tertawa-tawa dengan aneh kemudian maju dan MENERJANG REIYA!
Bersambung…
Kenapa Haru menerjang Reiya?
Siapa pemilik sebenarya suara tawa melengking mengerikan tadi?
Kenapa Haru berbicara dalam bahasa asing yang aneh?
Jawabannya ada di chapter 3!
Akhirnya update… Saya terlalu cepat ya… hehehe… Yang ini bisa cepat soalnya sudah dari sebulan lalu saya buat kerangkanya…Review please…
Balesan review:
Reiya Sumeragi: Hahaha… Kan emang Reiya selalu bawa barang2 mencurigakan… Di modernization aja Reiya punya gundam voodoo. Emang aneh kalo Tyki jadi tukang kayu… Tapi itu satu-satunya peran yang tersisa… Iya, akan diusahakan update teratur…
Author: Saya capek nulis ini… Sensei-sama sms jam setengah satu pagi…
Reiya (Author): Gomene-gomene…
Waktu bikin fic ini saya kadang terbujuk untuk menambahkan sedikit humor, saya sering nulis humor-humor tapi pada akhirya saya hapus karena sadar bahwa ini fic horror, kenapa saya terbujuk? Karena tokoh Reiya adalah tokoh yang bikin rusuh di Black Order! *dikemplang Reiya*
Reiya (OC): Author ga waras!
Author: Maap deh… Btw, Chapter berikutnya rating sadisnya akan naik sampai 50%. Saya sampai mual waktu ngetik kerangkanya. Silahkan ditunggu…
