"Maaf, tapi aku tidak mungkin menyukaimu. Aku masih normal," kata Uchiha dengan tegas.
"Aku bukan psikopat. Aku melakukan semua ini karena aku sangat mencintaimu."
Naruto tertawa ngeri menatap karya besarnya. "Dengan ini, kau akan selalu berada disisiku... kau adalah milikku satu-satunya... hanya milikku..."
-+- I'll Kill You -+-
Naruto © Masashi Kishimoto
I'll Kill You © Ceprutth DeiDei
Main Pair : Naruto U./Sasuke U.
Genre : Angst/Tragedy
Fiction Rated : ngasal..
Warning : AU, Shounen Ai, OOC, NaruSasuSaku, chara death, dll…
-+-+-+-+-+-+-+-+-+-
I'll Kill You
Part 2 : Psycho
-+-+-+-+-+-+-+-+-+-
"Aku... tidak mau... aku masih... mencintaimu... sangat mencintaimu... Sasuke-kun..."
Langit lagi-lagi tampak mendung. Lebih mendung dari yang sebelumnya. Pakaian serba hitam yang dikenakan pemuda itu basah karena keringatnya yang terus mengucur deras. Tubuhnya gemetaran. Ia duduk berjongkok dan memeluk lututnya erat sambil menatap pemuda lain yang tengah terbaring dilantai kamarnya.
"Hiks... hiks...," Naruto menatapnya pilu. Namun pemuda itu tetap tak bergeming. Ia tetap berbaring disana tanpa bergerak sedikitpun. Mata onyxnya membelalak dan mulutnya menganga lebar seakan menatap Naruto dengan ketakutan. Rambut hitam pekatnya tampak acak-acakan. Kulitnya membiru lebam. Bercak-bercak berwarna merah pekat menghiasi sekujur tubuhnya yang terbujur kaku.
"Sai-kun...," Naruto bangkit dan mengelus pipi dingin pemuda itu. Pemuda itu tetap diam. Naruto tertawa nanar. "Kau tahu, Sai-kun... aku ditinggalkan lagi. aku ditinggalkan oleh orang yang mirip sepertimu...," lanjutnya.
"Padahal hatiku lebih mencintainya daripada kau..."
'TING TONG TING TONG'
Terdengar bunyi bel dari arah pintu apartemen Naruto. Naruto buru-buru mengangkat tubuh pemuda itu dan menyembunyikannya didalam lemari. Kemudian Naruto berjalan ke arah pintu depan apartemennya dan membuka pintu itu perlahan. Matanya mengintip keluar. Didepan pintu apartemennya, berdiri seorang petugas pengantar paket kiriman barang yang sedang membawa secarik surat berwarna krem.
"Ada apa, pak?," tanya Naruto sambil mengusap kedua matanya yang masih berair. Petugas itu kemudian menjawab, "Permisi, ada kiriman paket untuk Tuan Uzumaki Naruto."
"Saya sendiri. Paket apa, pak?," tanya Naruto lagi. Tanpa menjawab, petugas itu langsung menyerahkan secarik surat yang dibawanya kepada Naruto. Naruto menerimanya. "Surat? Dari siapa?"
"Tuan pengirimnya tidak ingin memberitahukan identitasnya. Tapi kata beliau tadi, ia sudah menuliskan namanya didalam surat itu," jawab si pengantar. Dengan cepat Naruto merobek amplop surat itu dan matanya langsung membelalak begitu melihat isi amplop itu.
Petugas itu mendekati Naruto sambil menyodorkan pulpen dan kertas. "Maaf, tolong ini ditandatangani dulu," katanya.
Naruto terdiam. Hatinya semakin shock melihat isi surat itu—atau lebih tepatnya, surat undangan itu. Dimuka suratnya tertulis 'Sasuke Uchiha & Sakura Haruno'. Naruto membuka surat itu dan membacanya dengan seksama. Tubuhnya gemetar.
"Sasuke... Sasuke-kun...," mulut Naruto terus mengucapkan nama Sasuke. Petugas yang berdiri didekatnya menatap Naruto dengan bingung. Tangannya menyentuh lengan Naruto dan menggoyang-goyangkannya pelan. "Maaf, bisa tandatangan dulu?," pintanya. Naruto merebut pulpen yang dibawa petugas itu dengan kasar.
"Sasuke-kun... kenapa kau... menikahi orang lain... dan bukan aku...?," kata Naruto. Air matanya kembali menetes. Tangan kanannya menggenggam pulpen yang direbutnya tadi dengan erat. "Maaf?," petugas itu berkata lagi.
Tiba-tiba Naruto dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah petugas itu. Warna matanya berubah gelap dan menatap petugas itu dengan tatapan menusuk. Sang petugas bergidik ngeri.
Tangan kiri Naruto dengan cepat pula menangkap leher petugas itu dan mendorongnya ke tembok. Petugas itu tak sempat melawan. Tubuhnya terhimpit antara tembok dan tubuh Naruto. Tangan kiri Naruto terus menekan lehernya hingga membuatnya semakin kesulitan bernapas.
"Uuukh...! Haah... hah...hah..."
Mulutnya menganga lebar, berusaha keras menyedot udara masuk ke paru-parunya. Mata Naruto masih membelalak dan menatapnya dengan tatapan yang baginya begitu menakutkan. "Katakan padaku siapa pengirimnya!," paksa Naruto sambil menodong lehernya dengan ujung pulpen yang digenggam Naruto dengan tangan kanannya.
"Haaah... haah... haaah..."
"JAWAB AKU!!!," bentak Naruto. Air mata mengalir perlahan dipipinya. Mulutnya bergerak-gerak. Tubuhnya gemetar. "Aaaa...aaaa..."
"Cepat katakan!," bentak Naruto lagi. Batang tenggorokannya berupaya keras mengeluarkan suaranya. "Tato.. t-tato Ai... p... pria... rambut mer... rah... bertato... Ai...," katanya dengan terbata.
Naruto semakin mengencangkan cekikan dilehernya. Mata kanannya menutup rapat, menahan rasa sakit dilehernya. "Siapa namanya?," tanya Naruto.
"A... aku...ti... dak.. ta... hu...," jawabnya, membuat Naruto semakin emosi.
"DASAR TIDAK BERGUNA!!!!," bentak Naruto keras-keras. Tangan kanan Naruto dengan cepat berayun ke arah lehernya dan menghantam lehernya dengan keras.
Cairan berwarna merah kental yang disebut darah itu terciprat kemana-mana. Beberapa tetes terciprat ke wajah Naruto. Cekikan Naruto melonggar dan akhirnya terlepas. Tubuhnya jatuh ke lantai dengan darah segar yang terus mengucur keluar dari lehernya. Ujung pulpen yang dihantamkan Naruto tadi menusuk begitu dalam di lehernya.
"Aaaaaaaaaarrghh....," Tiba-tiba Naruto jatuh terduduk. Kedua tangannya yang berlumuran darah memegang erat kepalanya. "Sakiiiiit... UWAAAAGH!!!!"
Naruto terbaring menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerangnya bertubi-tubi. Naruto mencoba menarik badannya mendekati mayat petugas itu. Matanya membulat melihat cairan merah pekat yang menggenang disekitar leher mayat itu. Jantungnya berdetak kencang. Dadanya terasa begitu sesak. Tubuhnya bergetar hebat. Napasnya tersengal-sengal tak beraturan. "UUAAAAARGH!!!!"
Flashback on...
DUAAAK!
"UAAARGH!!!" Sebuah bongkahan kayu yang berat dan cukup besar menghantam kepala pemuda berambut hitam itu sampai-sampai tubuhnya oleng dan ambruk. Payung hitamnya menghantam aspal dengan keras sementara tubuhnya pun juga terhantam aspal dengan keras, membuatnya mengerang pelan menahan sakit. Ia jatuh tertelungkup. Tak sanggup lagi untuk bangkit. Kepalanya terasa begitu pusing. Pandangannya mengabur. Berjuta-juta tetes air menghujani tubuhnya. Genangan air disekitar kepalanya tampak kemerahan karena tercampur oleh darah yang mengucur keluar dari kepalanya.
"Sai-kun..." Pemuda berambut kuning itu tersenyum. Dijatuhkannya balok kayu yang digenggamnya tadi. Tangannya menarik jaket hitam yang menempel ditubuh pemuda bernama Sai itu dan membalikkan tubuh Sai dengan paksa. Mata onyx Sai yang tampak sayu menatap wajah Naruto yang tersenyum. "Apa... yang... kau lakukan...?," katanya terbata sambil menahan rasa sakit dikepalanya yang semakin menjadi-jadi.
"Kau hanya milikku, Sai-kun..." Naruto menyeringai, membuat Sai menelan ludah. Tangan kiri Naruto menyusup masuk ke dalam saku celana miliknya sendiri dan keluar dengan membawa sejenis benda tajam. Jempol tangan Naruto menekan tombol kecil pada benda itu dan benda itu menampakkan ujung tajamnya yang mengkilap. Sai menatap Naruto ketakutan. Kedua tangan Naruto menggenggam pisau itu erat dan mengangkatnya tinggi-tinggi seakan bersiap untuk menancapkan ujung tajam itu pada tubuh Sai yang sudah tak berdaya. "Milikku... kau milikku..."
"JANGAANN!!!!," teriak Sai sekeras-kerasnya. Namun Naruto sama sekali tak memperdulikannya. Tangan Naruto dengan cepat berayun kebawah dan ujung pisau itu menancap tepat dijantung Sai. Darah segar terciprat keluar. Naruto menyeringai. "UAAAGH!!!!," Cairan merah pekat itu terus mengalir keluar dari mulut Sai yang nampak membiru.
Gelap. Tidak—yang ada dimatanya sekarang hanyalah bayangan wajah Naruto yang sedang tersenyum puas. Suasana hitam dan merah pekat menghiasi pandangan matanya. Sudah tidak kuat lagi. Sedetik kemudian, kesadarannya telah menghilang.
"Sai-kun... kau tak pernah memiliki Ino... kau tak punya siapa-siapa... hanya aku yang boleh memilikimu...," bisik Naruto lirih didekat telinga Sai. Kemudian bibir Naruto mengecup lembut bibir pemuda yang tergeletak lemah bersimbah darah itu.
Dengan terburu-buru, Naruto menyeret Sai menjauh dari tempat kejadian. Hingga sampailah ia didepan pintu apartemen pribadinya. Sepi. Tak ada siapa-siapa disana selain mereka berdua—tepatnya Naruto dan Sai yang sudah tak bernyawa. Terang saja, karena saat itu sudah lewat dari jam 10 malam. Naruto membopong tubuh Sai masuk ke dalam apartemennya. Kemudian menyembunyikan mayat Sai di dalam lemari kosong yang ada diapartemennya.
Naruto masih terus terjaga sampai lewat dari tengah malam. Matanya tertuju pada langit yang nampak dari jendela kamarnya. "Kenapa selalu aku... kenapa selalu begini...?"
Flashback off...
"Da... darah...," mulut Naruto menggumamkan kata-kata itu berulang kali. "A...aku..."
Alis Naruto berkerut. Kedua tangannya yang menopang tubuhnya mencoba untuk bangkit. Kedua kaki Naruto berhasil bangkit dan mulai berjalan maju walau tertatih-tatih. Ia berjalan ke arah sebuah lemari. Begitu sampai didepan lemari itu, tangan Naruto membuka pintu lemari itu lebar-lebar. Terlihat mayat Sai yang barusaja ia sembunyikan dalam lemari itu tadi. Naruto meringkuk dan merengkuh Sai, tangannya seakan-akan mencari-cari sesuatu dibalik punggung Sai yang dingin.
"Rambut merah bertato Ai... Sasuke... pernikahan itu... akan kubunuh! Akan kubunuh semuanya!"
Naruto menyeringai.
***
"Huuuuufff........"
Asap-asap berwarna putih abu-abu mengepul keluar dari mulutnya. Sementara puntung rokok yang sudah disedot habis itu dilemparkannya ke tanah dan dia injak dengan salah satu kakinya. "Aaah... langitnya gelap sekali. Aku harus cepat pulang sebelum hujan," katanya seraya membuka pintu mobil bercat merahnya yang tak beratap. Mungkin akibat satu kekurangan pada mobil modisnya yang mewah itulah ia harus sesegera mungkin pulang ke rumahnya.
I've got a secret,
It's on the tip of my tongue,
It's on the back of my lungs,
And I'm gonna keep it.
I know something you don't know...
Handphone blackberry miliknya bergetar sambil menyenandungkan salah satu lagu bergenre deathcore milik Bring Me The Horizon yang terdengar agak liar. Tangan kirinya segera mengeluarkan handphone itu daridalam saku celana jeans biru gelapnya dan menjawab panggilan telepon di handphone-nya yang masih berdering itu.
"Moshi-moshi...ada apa, Kaa-san? ... tidak, aku ingin menginap di rumah selinganku saja malam ini.... aku tak bisa pulang kerumah sekarang, tolong Kaa-san coba mengerti! ... aku juga mau mampir ke tempat Sasuke... ya, sekalian bantu-bantu dirumah Sasuke... Kaa-san tahu sendiri kan kalau jaraknya lebih dekat dari rumah kecil itu daripada dari mansion Kaa-san! ... baiklah, besok aku pulang. Jaa..."
Ia memutuskan hubungan teleponnya begitu saja. Wajahnya kini tampak sedikit sebal. "Huh! Dasar Okaa-san cerewet," gerutunya. Ia menyalakan mesin mobihnya, memindahkan gigi, dan mulai mengegas mobilnya. Dan mobil merah itu pun melaju ditengah jalanan raya yang terlihat sepi sore itu.
***
Rintik-rintik air mulai berjatuhan dari langit, membasahi permukaan bumi yang sudah sejak tiga hari ini tertutup awan mendung. Anak-anak yang ada disekitar sana menyambutnya dengan gembira sambil bermain-main air sedangkan orang tua-orang tua yang mengawasi anak-anak itu tampak kewalahan membujuk anaknya agar tidak hujan-hujanan. Ada beberapa orang yang terpaksa berteduh diemper-emper toko atau gedung lain yang ada disana agar tidak kebasahan. Dan setidaknya, beruntunglah orang-orang yang sejak awal sudah membawa payung karena mereka tidak perlu lagi berteduh di pinggir jalan menunggu hujan mereda. Ya, suasana yang sudah biasa ditemui kalau hujan barusaja turun. Tapi sepertinya itu tidak berarti bagi pria berambut merah yang tengah mengemudikan mobil merahnya itu dengan kecepatan tinggi sambil terus mengumpat dengan wajah kesal.
"Itai! Kenapa hujannya bisa sederas ini?!," gumamnya. Rambut merah pendeknya yang basah kuyub terkena air hujan serasa melekat di kulit kepala serta dahinya. Dan hal itu juga terjadi pada baju yang dikenakannya.
Mobil itu melesat dengan kencang diatas jalan aspal yang basah dan licin oleh air. Sesekali ban mobil itu menginjak genangan air dan membuat air yang tergenang disana terciprat kemana-mana. Bahkan sampai ada seorang gadis yang membentaknya karena menyemprotkan air dari genangan itu sembarangan sampai baju yang dikenakan gadis itu jadi basah. Tapi ia tak peduli. Ia harus cepat sampai rumah sebelum seluruh tubuhnya benar-benar kebasahan.
Tak berapa lama, mobil itu mulai memasuki kawasan perumahan kecil. Perumahan itu masih baru, rumah yang bertengger didalam kawasan perumahan itu baru 4-5 saja. Karena itulah, orang masih bisa dengan mudah menemukan alamat rumah orang yang tinggal di kawasan perumahan kecil itu.
Pria pengemudi mobil merah itu terbelalak begitu melihat ada seseorang tak dikenal tengah berdiri didepan pagar rumahnya. Orang itu berpakaian serba hitam, memakai jaket tertutup yang juga berwarna hitam. Wajah orang itu nyaris tak bisa dikenalinya karena wajah orang itu tertutupi kerudung jaket hitam yang dipakainya.
"Siapa itu?," tanyanya pada diri sendiri. Ia mengemudikan mobilnya perlahan mendekati rumahnya, namun tiba-tiba orang misterius itu berjalan mendekati mobil dan berdiri tepat didepan mobil merah itu.
"Hei, menyingkir, bodoh! Aku mau lewat!," bentak pria di dalam mobil itu geram. Tapi orang itu tak bergeming. Masih terus mematung diposisinya yang tidak tepat itu. "Kubilang minggir, bodoh!!!"
Orang misterius itu mengangkat wajahnya. Sebuah seringai terlihat diwajahnya yang ternodai bercak-bercak darah yang telah mengering. Rambut kuningnya mendesak keluar. Mata birunya menatap tajam ke arah pengemudi mobil itu.
"Pria berambut merah dan bertato Ai di dahi...," Kerudung jaket hitamnya terlepas. Seluruh bagian dari kepalanya kini terlihat jelas. "...ternyata memang kau orangnya, Gaara-kun!"
Mata hijau Gaara yang biasanya tampak dingin tiba-tiba membelalak lebar melihat sosok didepan mobilnya itu. "Aaaah—KAU, KAN...!?"
"Sudah bisa mengenaliku...?" Naruto—yang ternyata orang misterius itu—menyeringai lagi. Gaara menatapnya dengan sedikit enggan.
'TIIIIN TIIIN TIIIIN...!' Gaara membunyikan klakson mobilnya keras-keras. Naruto sama sekali tak gentar mendapat gertakan dari Gaara, ia bahkan malah tertawa. Membuat bulu kuduk Gaara mulai merinding. Bukan air hujan lagi yang ditakutkan Gaara, itu sudah tak penting. Yang ditakutkannya adalah sosok pria berambut kuning yang ada dihadapannya itu yang tengah menatapnya tajam sambil terus tertawa dengan nada yang terdengar begitu menakutkan ditelinganya.
"Hihihi," tawa Naruto seakan menggerogoti keberanian Gaara yang semakin menciut. "Percuma kau mengklaksonku tiga kali. Aku takkan membiarkanmu lewat. Toh, nyatanya aku juga bukan hantu terowongan Casablanca," lanjutnya.
Gaara menelan ludah. "Mau apa kau ke sini?!," tanya Gaara dengan nada gemetar yang berusaha dibuatnya sedikit terdengar kasar setidaknya ditelinga Naruto. Tapi percuma saja, tubuhnya yang gemetaran sudah bisa membuat Naruto tahu kalau lelaki didepannya itu sudah ketakutan.
"Aku? Mau apa aku susah-susah datang kesini?" Kaki kanan Naruto menginjak bagian depan mobil Gaara dan melompat naik ke atasnya. Gaara tersentak kaget. Jaraknya dengan Naruto semakin dekat. "Tentu saja untuk membunuhmu, senpaiku tersayang..."
Kedua mata hijau Gaara melebar. Naruto dengan cepat melompat ke arahnya dan menindih badannya. Gaara tak sempat mengelak. Tubuhnya terperangkap antara jok mobilnya dengan tubuh Naruto yang masih menindihnya. Tangan kanan Naruto mengambil sejenis benda seperti pisau lipat berwarna hitam dari saku jaketnya. Namun benda itu tampak asing dimata Gaara, setidaknya sampai Naruto menekan tombol yang ada dikotak itu. Ujung tajam dan runcing itu muncul keluar secara tiba-tiba, menggesek pipi halusnya hingga timbul bekas sayatan kecil disana. Darah segar milik Gaara mengalir perlahan dari pipinya, kemudian jatuh ke dagu dan menetes.
Takut. Hanya itu yang bisa dirasakan Gaara sekarang. Hatinya merinding. Ia sudah tak bisa lagi mengelak dari serangan Naruto dan kabur dari sini. Yang bisa dilakukannya adalah menyerahkan nyawanya pada pria gila dihadapannya ini.
Naruto tertawa. Ujung pisau yang runcing itu diacung-acungkannya ke arah leher Gaara yang putih mulus.
"Selamat tinggal, Gaara-kun..."
"UUAAAAAAAAARRRGGHH!!!!!"
***
"Sasuke-kun, bagaimana kalau yang ini?," tanya Sakura penuh senyum sambil berjalan keluar dari kamar pas. Sasuke menoleh ke arah calon istrinya itu. Gadis manis itu tampak begitu anggun dengan wedding dress warna putih yang dikenakannya. Sasuke sekilas tampak terpana, namun ia kemudian menghela napasnya. "Tidak. Yang lain saja."
"Uuuh... padahal cari yang sebagus ini itu susah tahu!," omel Sakura sambil mengerucutkan bibir mungilnya dan menatap Sasuke sebal.
Sasuke mengernyitkan alisnya. "Wajahmu jelek kalau seperti itu, Sakura," katanya sambil menatap Sakura jengah.
Sakura mendengus sebal mendengar perkataan Sasuke barusan. Ia langsung masuk ke dalam kamar pas. Sasuke terkikik.
"Jangan lama-lama, wedding dress itu harus kau pakai untuk acara penting besok," lanjut Sasuke dengan volume yang sedikit dia perkeras.
There's blood on my hands like the blood in you
Somethings can't be treaded
So don't make me,
Don't make me be myself around you...
Handphone milik Sasuke berdering. Sasuke mengambilnya daridalam saku celana dan menatap layarnya sebentar. Ada panggilan dari Gaara. "Cih. Orang sial ini..."
Sasuke menjawab telepon dari sahabat akrabnya itu.
"Moshi-moshi..."
Tak ada suara balasan dari seberang sana.
"Halo....?"
Tetap tak ada suara yang terdengar.
"Hnn......"
Masih tampak sunyi di seberang sana.
"Tuuut...tuuut..tuuut..."
Huh, orang gila itu. Ini sudah yang ketiga kalinya dia menelponku hari ini. Tapi dia belum berkata apa-apa, tiba-tiba langsung memutusnya. Kau kena penyakit kurang kerjaan jenis apalagi, hah?, gumam Sasuke dalam hati dengan geram.
There's blood on my hands like the blood in you
Somethings can't be treaded
So don't make me,
Don't make me be myself around you...
Handphone milik Sasuke lagi-lagi berdering. "Cih. Awas saja kalau dari makhluk itu lagi," katanya sambil melirik handphonenya malas. Betapa kagetnya ia begitu melihat siapa yang menelponnya. Dengan terburu-buru, ia langsung menjawab panggilan itu.
"Moshi-moshi...?"
"Sasu-chan..."
"Ya. Kaa-san Gaara, ada apa sebenarnya? Suaramu terdengar aneh ditelepon."
"Se...sebaiknya kau... kemari segera..."
"Hah? Kemana? Rumah Kaa-san yang besar itu? Memangnya ada apa?"
"Bu..kan... tapi ke rumah... rumah Gaara... yang dekat dengan rumahmu... aku... ada disana sekarang..."
"Baiklah. Aku segera kesana. Tapi, sebenarnya apa yang terjadi disana?"
"Cepat kemari... kutunggu...Jaa—Tuuut... tuut..."
"Sial! Diputus!," geram Sasuke sambil buru-buru menyimpan kembali handphonenya di saku celana. "Sakura, aku pergi duluan! Ada urusan penting! Kau nanti pulang sendiri, ya!," kata Sasuke pamit pada Sakura yang masih sibuk memilih-milih gaun sambil buru-buru pergi dari butik itu.
"Heh?" Sakura mengernyitkan alisnya bingung. Tapi belum sempat ia meminta penjelasan lanjut, Sasuke sudah menghilang dari hadapannya. "Haaah... baiklah."
***
'CIIIIITT!!' Mobil BMW hitam milik Sasuke berhenti didekat kerumunan orang-orang disekitar rumah Gaara. Ia segera turun dari mobilnya dan mencari ibu Gaara yang tadi menelponnya. Dan wanita paruh baya itu didapatinya tengah menangis tersedu-sedu didekapan Matsuri yang juga sedang menangis hebat.
"Ada apa sebenarnya, Kaa-san, Matsuri?," tanya Sasuke begitu berada didekat mereka berdua. Ibu Gaara menoleh dan langsung memeluk Sasuke erat. Tangisannya meledak. Matsuri menundukkan kepalanya. Tubuhnya gemetar. Air matanya juga terus menetes ke tanah.
"Hei, ada apa sebenarnya?! Katakan padaku!," bentak Sasuke yang sudah sangat penasaran. Tangan kekar Sasuke mencoba melepaskan pelukan ibu Gaara yang masih menangis. Matsuri mendongak dan menatap Sasuke dengan mata sembab. "Sa... Sasuke... kun... Gaara-kun... Gaara-kun sudah..."
Sasuke dengan cepat menyambar kedua lengan Matsuri dan mencengkeramnya dengan erat. Matsuri meringis. "Katakan padaku dimana Gaara sekarang!"
Jari telunjuk Matsuri menunjuk ke arah sesuatu dibalik kerumunan itu. Sasuke langsung menoleh ke arah kerumunan itu. Tanpa pikir panjang lagi, ia segera berlari menerobos kerumunan itu.
Orang yang terakhir, gumam Sasuke. Tangannya menyambar bahu orang didepannya dan melempar orang itu agar menjauh dari hadapannya. Sesuatu dibalik kerumunan itu pun terlihat oleh kedua mata onyx tajamnya.
Kedua kaki Sasuke terhenti seketika. Matanya membelalak. Tubuhnya tiba-tiba terasa kaku begitu menatap mayat yang ada dihadapannya—mayat sahabat kecilnya, Gaara.
Tubuh Gaara terbujur kaku dengan posisi duduk di jok kemudi mobil kesayangannya. Seluruh tubuhnya berlumuran darah yang sudah mengering. Cairan merah pekat itu juga terciprat kemana-mana, mengotori mobil merah Gaara. Seluruh anggota tubuhnya tak lagi lengkap. Bagian leher keatas sudah terlepas dari tubuhnya, berpindah tempat dalam genggaman tangan kanannya yang dipenuhi darahnya sendiri. Kedua mata Gaara membelalak. Mulutnya terbuka lebar. Darah-darah juga merembes keluar dari lidahnya yang menjulur keluar. Dipipi kiri Gaara, terdapat bekas sayatan aneh yang membentuk tulisan 'Aishiteru'.
Gaara. Mati digorok dengan mengenaskan di dalam mobilnya, Jumat Sore, 13 November 2009.
"Siapa yang melakukan ini?!"
***
Angin sepoi-sepoi di senja itu mengayunkan rambut hitam mencuat milik pemuda yang tengah berjongkok didekat pusara makam sahabatnya itu dengan lembut. Suasana disana sudah sepi. Hampir seluruh pelayat sudah pergi dari area pemakaman tersebut. Keluarga dari mendiang juga telah hilang dari tempat itu. Hanya tinggal pemuda itu yang masih berada disana, ditemani kekasihnya yang juga turut merasakan duka dalam atas kematian orang terdekatnya itu.
"Hei, Gaara, aku janji aku akan membalaskan dendam kematianmu." Sasuke menyentuh batu nisan makam Gaara sambil mengumbar janji. Raut wajahnya menampakkan emosinya yang masih meluap-luap. Matanya menatap pusara itu dengan tatapan tajam. "Ya. Aku pasti akan membunuh orang itu. Kau tenang saja."
"Tapi..." Sasuke menoleh ke arah sosok yang masih setia menantinya dibelakangnya. Kemudian ia menatap kembali batu nisan itu. "Tunggu sampai aku menikah dengan Sakura."
Sebuah tangan putih yang mungil menepuk bahu Sasuke lembut. Sasuke menoleh ke belakang. Dilihatnya Sakura yang sedang tersenyum diantara air mata yang masih membasahi pipinya yang merona merah. "Sasuke-kun, ayo kita pulang! Hari sudah sore," kata Sakura seraya meraih tangan Sasuke dan membantunya berdiri.
"Hn."
Kedua insan tersebut kemudian berlalu dan menghilang dari tempat keramat itu. Meninggalkan Gaara yang tertidur untuk selamanya menanti saat Sasuke membalaskan dendam kematiannya dari dalam peti matinya.
- TO BE CONTINUED -
Untuk semua yaoi dan shounen ai lover, saya minta maaf yang sebesar2nya karena sudah membuat fic yang seperti ini. Maaf! Tapi kalau sudah terlanjur benci, juga tak apa. Juga terimakasih buat seorang reviewer yang sudah menasehati saya agar tidak menimbulkan perang dunia pair gara-gara fic ini. Maka dari itu, saya benar-benar minta maaf! *bungkuk 120 derajat*
Untuk G n K yang udah menyemangati dan membela fic saya, makasih banyak!! Makasih!! *meluk2, ditendang*
Review!!! =3
