1. Sang Pewaris
8 Tahun Kemudian...
"Aku pulang."
"Selamat datang, Papa." Lille menyambut kedatangan Humphrey.
Vlyn yang baru turun dari kamarnya di lantai dua juga menyambut papanya dengan bersemangat. "Papa, bagaimana keputusan kakek?"
Humphrey memandangnya ragu-ragu. "Itulah, Vlyn. Ada yang harus kubicarakan denganmu dan Lille."
"Vlyn, tidak bisakah kau bersabar? Biarkan Papa mandi dan makan dulu sebelum ia berbicara dengan kalian," tegur nyonya Humphrey.
"Um, baiklah, Mama."
Vlyn sedikit waswas melihat sikap papanya. Sepertinya keadaan berjalan tidak seperti yang diinginkannya. Sekilas diliriknya adikmya. Lille dengan cuek mencicipi masakan untuk makan malam nanti. Ah, Lille memang tidak terlalu peduli dengan urusan keluarga, batin Vlyn sedikit jengkel. Dengan resah, Vlyn masuk ke ruang keluarga dan menyetel TV sembari menunggu panggilan makan malam. Namun acara yang ditontonnya sudah tidak masuk ke pikirannya karena telah dipenuhi berbagai macam persoalan lain.
Tiga hari yang lalu, papa Vlyn pergi memenuhi panggilan kakek Vlyn ke rumahnya di kota A. Kakek Vlyn, Walse, adalah seorang milyader yang memiliki jaringan bisnis raksasa di negeri itu. Ia memiliki tiga orang putra. Yang tertua adalah Humphrey yang diserahi tugas memimpin bisnis di kota B. Humphrey memiliki dua anak yaitu Vlyn dan Lille. Putra kedua adalah Leon yang diserahi tugas memimpin bisnis di kota C. Leon hanya memiliki anak tunggal yaitu Clay yang seumuran dengan Vlyn. Putra bungsu Walse adalah Kenny. Kenny adalah seorang gay sehingga ia tidak berkeluarga. Meskipun begitu, di antara ketiga putra Walse, si bungsu inilah yang ter-smart sehingga diserahi tugas memimpin bisnis utama di ibukota segera setelah Walse mengundurkan diri. Setelah bisnis di ibukota ada yang menghandel, Walse memutuskan pindah ke kota A untuk memimpin bisnis di sana sekaligus mengawasi bisnis keseluruhan miliknya. Menyadari usianya yang semakin senja, Walse memanggil ketiga putranya untuk menjelaskan keputusannya mengenai siapa-siapa saja yang akan mewarisi bisnisnya kelak.
Hal inilah yang cukup mengganggu pikiran Vlyn. Sebagai cucu laki-laki sulung dari putra sulung Walse, Vlyn ingin sekali mendapat kepercayaan kakeknya untuk mewarisi bisnis utama di ibukota setelah pamannya, Kenny, pensiun nanti. Keinginan Vlyn tersebut bukan karena ia tamak atau silau akan materi, tetapi lebih karena Vlyn merasa tertantang untuk terjun langsung dan mempertahankan kejayaan bisnis keluarganya, dan tentu saja karena harga diri sebagai cucu laki-laki sulung dari putra sulung keluarga Walse, yang jika dilihat secara garis keturunan adalah yang paling berhak menjadi pewaris utama bisnis keluarga tersebut.
Vlyn adalah seorang anak yang sangat cerdas, kaya akan ide-ide inovatif, dan punya curiousity dan semangat tinggi. Ia bahkan sudah punya segudang ide untuk membuat bisnis tersebut berekspansi sehingga kerajaan bisnis keluarga Walse akan semakin berkembang.
Namun kemampuannya itu tidak membuatnya lantas yakin akan mendapatkan keinginannya. Diam-diam Vlyn menganalisis para 'pesaing' nya. Lille dianggapnya bukan ancaman. Walaupun adiknya itu juga sama cerdas dengan dirinya, tapi Lille masih seorang bocah yang lebih mementingkan kesenangannya sendiri. Mungkin kesadarannya akan tumbuh seiring dengan kedewasaannya, tapi setidaknya hal itu belum muncul untuk sekarang ini. Yang paling mengusik pikiran Vlyn adalah sepupunya, Clay. Sewaktu kecil, mereka belum menunjukkan perbedaan yang mencolok, tapi lama kelamaan perbedaan itu semakin tampak. Di usia yang sebaya, Clay jauh lebih dewasa dalam pemikiran dan tindakannya. Jika Vlyn sangat cerdas, maka Clay boleh dikatakan jenius. Ia mampu menyerap pengetahuan dengan sangat cepat tanpa harus belajar berlebihan, sementara Vlyn memerlukan ketekunan untuk mencapai hasil maksimal. Sudah banyak penghargaan akademik dan non-akademik yang diraih Clay. Di samping itu, secara fisik, mereka berdua juga menunjukkan perbedaan. Clay tumbuh menjadi seorang pemuda yang keren dan sangat tampan. Di lain pihak, Vlyn tetaplah seorang pemuda yang sangat manis dan baby face sehingga penampilannya itu sering dinilai 'kurang meyakinkan' untuk bisa menjadi calon pemimpin bisnis utama keluarga Walse.
Vlyn menghela nafas panjang kala ia teringat pada Clay. Ia sayang pada sepupunya itu. Saat masih kecil, perasaan sayangnya itu belum ditumpangi prasangka apapun. Tapi kini di dalam hatinya terselip sebuah perasaan rivalitas terhadap Clay. Clay bisa saja merenggut impiannya menjadi pewaris bisnis utama sang kakek. Clay dengan segala kemampuannya yang superior dan over archiever.
"Vlyn, makan malam sudah siap!" Teriakan mamanya membuyarkan lamunan Vlyn.
Baiklah, kata Vlyn dalam hati, sebentar lagi aku akan tahu keputusan kakek.
~*~
"Eh?"
Hanya itu yang terucap dari bibir Vlyn ketika mendengar penuturan papanya.
Humphrey memandang putranya dengan prihatin. Ia tahu berita yang disampaikannya barusan sangat mengecewakan Vlyn, tapi ia tak bisa melakukan apa-apa. Setiap kata-kata Walse adalah titah tak terbantah. Dan dalam hati pun sebenarnya Humphrey tidak berkeberatan dengan keputusan Walse untuk mengangkat Clay sebagai pewaris utama, dan bukan Vlyn.
"Tapi itu tidak mungkin! Kakek tidak adil!" Vlyn membantah berapi-api.
"Tenangkan emosimu, Sayang," nyonya Humphrey berusaha membujuk anaknya.
"Kurasa kakek sudah cukup adil, Vlyn. Clay memang akan mewarisi bisnis utama di ibukota, tapi kau juga akan meneruskan bisnis di kota A yang tidak kalah penting. Bahkan sekarang bisnis itu malah ditangani sendiri oleh kakek, jadi kau akan jadi penerus kakek."
Beginilah pembagian versi Walse : Clay mewarisi bisnis di ibukota dan kota C, Vlyn mewarisi bisnis di kota A, Lille mewarisi bisnis di kota B.
Tapi bukan Vlyn namanya jika puas dengan bujukan papanya. Ia terus berargumen. "Tetap saja aku tidak terima! Yang kuinginkan adalah bisnis utama keluarga kita! Apa yang membuat kakek sampai memutuskan demikian?! Clay tidak lebih baik dariku! Tapi baiklah, selama hal tersebut belum disahkan, aku masih mempunyai waktu untuk membuktikan kepada kakek bahwa aku lebih pantas jadi pewaris utama keluarga Walse!"
"Cukup, Vlyn!" Humphrey mulai kehilangan kesabaran menghadapi kekeraskepalaan anaknya. "Terimalah keputusan kakek karena itulah yang terbaik untukmu. Jangan mencoba bertindak macam-macam yang akan mempermalukan dirimu sendiri."
Vlyn bangkit dari duduknya. "Pokoknya aku tidak akan menyerah, Pa! Tidak selama aku masih punya waktu sampai hari pengesahan nanti!"
Selesai berkata demikian, Vlyn berjalan dengan langkah-langkah panjang menuju kamarnya dan mengunci diri di kamar dengan penuh kekesalan.
~*~
Humphrey memandangi kepergian anaknya ke kamar sambil mengurut dada. Begitulah Vlyn jika sudah punya kemauan. Ia bisa jadi sangat keras kepala dan membabi buta. Tapi itu justru membuat Humphrey makin sayang padanya. Meskipun sering dibuat pusing dengan sifat Vlyn itu, namun diam-diam Humphrey salut pada semangatnya. Ada banyak anak muda yang tidak memiliki semangat dan mudah putus asa, sementara yang lainnya memilih cuek dan tidak peduli. Makanya Humphrey menganggap sifat itu sebagai nilai plus bagi Vlyn, asal anak itu masih bisa mengendalikan semangatnya yang meluap-luap.
Humphrey ragu, apa Vlyn akan bisa bersikap tenang dan kepala dingin dalam menghadapi kenyataan itu. Ia bisa memahami perasaan, keinginan, dan harga diri Vlyn. Tapi di lain pihak, ia pun menyadari bahwa keponakannya, Clay, lebih pantas menjadi pewaris utama keluarga Walse. Entah kenapa Vlyn justru tumbuh menjadi remaja yang tergolong 'kelewat manis' untuk jenis kelaminnya. Walse juga mengedepankan hal tersebut sebagai pertimbangan untuk memilih Clay. Vlyn yang berperawakan langsing dan girly akan mengurangi wibawa pewaris utama keluarga mereka, begitu Walse beralasan. Dan lagi-lagi, Humphrey harus membenarkan kata-kata ayahnya.
Kini Humphrey hanya bisa berharap agar Vlyn tidak melakukan tindakan-tindakan ekstrem yang bisa mengacaukan situasi di keluarga Walse. Dia juga berharap masalah itu tidak sampai merusak hubungan Vlyn dan Clay yang tadinya sangat dekat. Itulah yang menjadi kekhawatiran utama Humphrey untuk saat ini.
~*~
"Lille, kemarilah, ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Vlyn memanggil adiknya dari balik pintu kamar. Lille masuk dengan enggan. Ia tahu kakaknya masih akan mengurusi masalah warisan, dan itu tidak menarik minat Lille.
"Dengar, Lille, aku tahu kau sekarang sudah cukup dewasa untuk dapat memberikan pendapat secara objektif," Vlyn memulai dengan sikap serius. "Katakan dengan jujur, menurut pandanganmu, siapa yang lebih pantas menjadi pewaris utama keluarga Walse, aku atau Clay?"
"Kak Clay," jawab Lille singkat, tapi cukup untuk membuat Vlyn jengkel setengah mati.
"Lille, aku serius! Masa kau lebih mendukung orang lain daripada kakakmu sendiri?!" Bentak Vlyn penasaran.
"Lho, tadi kakak berkata aku boleh memberikan pendapat secara objektif," Lille ngotot tak mau kalah.
Vlyn bertambah kesal, "Baik, baiklah kalau begitu! Ternyata kalian semua sama saja. Tapi aku tidak mau kalah! Aku akan berjuang melawan Clay meskipun tanpa dukungan siapa pun!"
"Kakak membenci kak Clay?" Tanya Lille heran.
"Tentu saja! Dia adalah musuhku!"
"Tapi selama ini kakak kan sayang sekali padanya? Bahkan kakak selalu menunggu-nunggu tibanya hari libur untuk dapat bertemu kak Clay," kata Lille polos.
Vlyn tertegun mendengar perkataan adiknya. Memang benar, selama ini ia selalu excited menunggu liburan tiba. Ia dan Clay tinggal di kota yang berbeda sehingga hanya bisa bertemu saat liburan. Mereka biasa menghabiskan masa liburan bersama di cottage atau di villa-villa kepunyaan keluarga Walse atau di tempat-tempat lain, liburan di manapun selalu berkesan jika ada Clay. Tapi sekarang...
"Itu dulu!" Bantah Vlyn tegas. "Sekarang Clay adalah rivalku! Akan kubuktikan kalau aku juga bisa bersaing dengannya! Dan akulah yang akan menang!"
Lille tidak menanggapi, ia hanya memandang kakaknya dengan ragu-ragu.
