HURT
Naruto © Masashi Khisimoto
Rate : T
Pairing : NaruSaku
Fic abal yang sangat gaje, bikin muntah, pusing dan mual dll.
Sebelum membaca fict ini saya saranin sebaiknya terlebih dulu membaca 1 hati 2 cinta. Entah kenapa saya ingin membuat sekuell dari fict 1 hati 2 cinta. Kali ini aku buat multhichapter.
So, Don't like don't read~!
.
Summary: sakura memutuskan untuk berpisah dan bercerai dari naruto setelah tahu bahwa naruto mempunyai istri lain selain dirinya. Hinata yang sangat cantik, muda, dan mampu memberinya keturunan. Perpisahan itu membuat dirinya sakit secara fisik dan rohani begitupun juga yang dirasakan naruto. bagaimana akhir kisah mereka?
.
Happy reading.
.
Chapter 2:
.
.
.
.
Naruto tidak tahu kemana lagi ia harus pergi mencari istrinya. Ini sudah masuk minggu ke dua sejak Sakura menghilang dan tidak ada satu kabar pun tentangnya. Bahkan polisi dan dektektif yang di sewanya pun tidak banyak membantu.
Sungguh Naruto sangat khawatir dengan istrinya itu. Semua ini salahnya.
Andai saja ia tidak mendua, andai saja ia tidak membawa Hinata ke rumah mereka, andai saja bayi mereka tidak keguguran, semua ini tidak akan pernah terjadi. Sakura tidak akan pergi. Ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu dengan Sakura.
"Masih belum ada kabar dari Sakura?" Tanya Shikamaru sambil mendudukkan dirinya disofa kulit berwarna cream depan Naruto duduk yang hanya dibatasi meja kecil. Naruto menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku sudah memasang berita di koran dan di tv, tapi tidak ada hasil sama sekali. Bahkan dektektif yang ku sewa pun belum menemukan hasil," ucapnya frustasi.
Semuanya terdiam.
Di belakang Shikamaru ada Itachi berdiri dengan tangan terlipat di depan dada dengan ekpresi yang sulit di artikan namun Naruto tahu bahwa kakak dari Uchiha Sasuke sahabatnya itu tengah marah padanya.
Hari ini Itachi menelpon, menyuruh Naruto ke apartementnya guna membicarakan kepergian Sakura yang tidak tahu keberadaannya sekarang. Naruto sedikit menghela nafas lega ketika memasuki apartement mewah itu tidak ada Sasuke dan juga Sasori. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana dihadapan kedua pemuda itu, terutama Sasori kakak iparnya. Ia yakin baru saja ia melangkah masuk ia sudah lebih dulu dihajar. Nasib baik ia tadi tidak dihajar oleh Shikamaru dan Itachi.
"Kau tahu Sasori tidak akan melepaskanmu kali ini."
Naruto tersenyum sedih. "Aku pantas menerimanya."
Shikamaru memandang iba pada sahabatnya itu. Ia bisa melihat bagaimana kacaunya pemuda itu dan terus menyalahkan dirinya. Semenjak kepergian Sakura, tak henti-hentinya Naruto mencari keberadaan istrinya bahkan makan dan tidur pun tidak terlalu diperhatikannya.
"Sakura pasti akan ditemukan." Itachi yang sedari tadi hanya terdiam akhirnya membuka suaranya juga. Pemuda yang menjabat sebagai dokter keluarga Haruno itu memandang Naruto prihatin. "Yang penting sekarang kau harus memperhatikan kondisimu. Kalau kau sakit kau tidak akan bisa mencari istrimu."
Benar saja, kondisi Naruto saat itu bisa dibilang seperti mayat hidup. Rambut pirangnya tampak berantakan. Dibawah matanya tampak ada lingkaran hitam pertanda kurang tidur. Tapi semua itu tidak diperdulikannya yang penting sekarang adalah mencari Sakura.
"Aku tidak apa-apa."
.
.
"Rupanya kalian disini."
Suara bening Ino menyentakkan Sakura dari bermainnya dengan si kecil Kiseki. Pagi itu ia mengajak Kiseki ke taman untuk menjemurnya di matahari pagi, menggantikan pekerjaan sang ibu. Sakura menggeserkan dirinya sedikit dari bangku ayunan untuk Ino duduk. Ibu muda itu tampak membawa sebuah mapan yang berisi dua gelas susu hangat dan juga kue.
Ino tersenyum dan menyodorkan segelas susu hangat ke arah Sakura. "Minumlah."
Sakura membalas senyum sahabatnya itu dan menerimanya. "Terimakasih."
Ino mengangguk lalu menatap putra kecilnya yang sedang menatapnya. Ino tertawa kecil, ia mengambil bayi yang berumur 3 bulan itu dari gendongan Sakura.
"Yo Kiseki-kun, kau senang bermain sama bibi Sakura?" Tanya sang ibu sambil memangku anak laki-lakinya. Ibu muda itu mencoba mengajaknya berbicara dan tentu saja Kesike menatap ibunya itu bingung karena belum mengerti apa yang dibicarakan sang ibu.
"Dia belum mengerti ucapanmu, Ino," ucap Sakura sambil tertawa kecil. Ino tersenyum dan mencium pipi tembem Kiseki.
"Kau tahu? Aku sangat suka mengajaknya bercengkrama seperti ini walau dia belum mengerti."
"Bisa aku lihat tadi."
Sakura dan Ino tertawa kecil. Mereka menatap si Kesike lagi. Di usia dini wajah bayi itu tampak banyak kemiripan dengan sang ayah. Sesaat kedua orang itu tampak fokus pada si kecil.
''..."
"Kau tidak ingin pulang Saku?" Tanya Ino memulai pembicaraan mereka setelah beberapa saat terdiam. Ino menatap sahabatnya itu yang tampak terdiam mendengar perkataannya. Dan ketika Sakura tak kunjung menjawab ia melanjutkan, "maafkan aku mengatakan ini, tapi kau tidak bisa terus-terusan sembunyi seperti ini. Semua orang pasti mencarimu terutama ibumu."
Tubuh Sakura tampak menegang ketika mendengar ibunya disebut.
"Ibumu pasti khawatir saat ini dan jangan lupa beliau juga punya penyakit jantung, Saku!" Lanjut Ino lagi.
Bodoh. Bagaimana ia bisa melupakan hal ini, melupakan ibunya yang pasti khawatir sekarang. Penyakit jantung ibunya... Astaga apa yang telah ia perbuat. Mendadak hatinya sakit...
"Pulanglah Saku..."
"..."
"Aku tidak bisa..." Ucap Sakura, dengan nada seperti orang melamun. Ia memandang tangan kanannya dengan pandangan kosong tempat dimana cincin pernikahannya disematkan oleh Naruto. "Aku tidak bisa meski aku ingin." Setetes air mata bergulir jatuh membasahi pipi pucat Sakura meski tak sepucat pertama kali datang.
Selanjutnya Ino mendengar sahabatnya itu mulai terisak pelan. Ino mengusap punggung ringkih sahabatnya itu. Ino tahu betul bagaimana perasaan sahabatnya. Alasan Sakura tak mau pulang karena wanita bersurai pink itu belum siap untuk bercerai dengan suaminya bukan karena ia takut bercerai, ia takut bahwa setelah perceraiannya itu sendiri. Bahwa ia tidak bisa hidup tanpa Naruto. Sakura sangat mencintai Naruto dan Naruto pun juga. Dari dulu mereka tahu, Ino, Sasuke, Shikamaru, Itachi dan sahabat yang lainnya juga tahu bahwa mereka berdua saling mencintai. Bahkan orang tua masing-masing pun sangat tahu bahwa anak-anak mereka saling menyukai dan mereka senang. Terutama kakeknya Naruto, orang tua itu sangat senang menjadikan Sakura sebagai menantunya bahkan dianggap cucu paling kesayangan dari pada Naruto sendiri yang notabennya adalah cucu aslinya.
Ino meraih tangan Sakura yang bebas dan mengenggamnya lembut.
"Pulanglah Sakura! Selesaikan masalahmu, jangan lari."
.
.
Suara bel berbunyi, Shikamaru dan Naruto saling berpandangn sebelum menatap Itachi yang rupanya sudah beranjak dari tempatnya untuk membukakan pintu untuk sang tamu. Mereka tahu siapa datang dan tidak perlu ditebak lagi.
"Dia ada disini." Terdengan suara Itachi berucap. Setelah itu terdengar suara derap langkah kaki yang cukup terburu-buru.
Naruto bangkit dari duduknya ketika melihat siapa yang masuk. Naruto menundukkan kepalanya sedikit, memberi salam pada kakak iparnya itu.
"Apakabar Sasori-nii?"
"Dasar bajingan!"
'BUGH!'
Selanjutnya yang Naruto rasakan adalah tubuhnya langsung terhempas kebelakang secara tiba-tiba, pipinya terasa panas dan perih bahkan di sudut bibirnya kini mengeluarkan darah.
"Hentikan Sasori-kun! Apa yang kau lakukan?" Jerit Karin saat melihat kekasihnya itu tiba-tiba saja menghantam Naruto dengan keras hingga tubuhnya jatuh tersungkur. Karin segera membantu Naruto untuk bangkit sedangkan yang lain hanya terdiam tanpa melakukan apa-apa. Saat ini mereka tidak bisa membantu Naruto karena itu masalah keluarganya.
"Ayo bangun, Naruto." Karin membantu Naruto berdiri dengan hati-hati. Saat karin akan mengusap darah yang di pipi Naruto, sebuah tangan besar menariknya menjauh.
"Sasori-kun, apa yang..."
'BUGH!' Lagi... Sasori melakukannya lagi. Kali ini lebih kuat dari pertama.
"SASORI-KUN!" Karin menjerit keras saat kekasihnya itu menghantam Naruto lagi. Ia mencoba menghalangi kekasihnya untuk tak menghantam Naruto yang tampak tak melawan sama sekali. Namun tampaknya itu hanya sia-sia, sulit memisahkan Sasori yang gelap mata. aura membunuh jelas sekali disekelilingnya.
"KAU BRENGSEK NAMIKAZE. Kau telah menyakiti adikku. Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika terjadi apa-apa dengannya." Pekik Sasori histeris tanpa berhenti menghantam Naruto.
Pertarungan tak seimbang itu baru terhenti ketika Itachi menyela diantara ke duanya, menarik kerah baju Sasori dan meninju pria itu agar tersadar dari tindakannya yang hampir membunuh Naruto.
Karin segera membantu menghampiri Naruto yang tampak tak sadarkan diri sekarang. Wanita berambut merah itu menangis. Menangis melihat Naruto yang tampak tak berdaya.
"Naruto... Naruto bangun! Bangun Naruto!" Karin menguncang-cuncang badan Naruto keras. Tidak ada pergerakkan, wanita itu langsung meminta Itachi membawa ke kamar untuk segera diperiksa.
.
"Kau sudah keterlaluan, Sasori-kun. Kau hampir saja membunuh anak itu," ucap Karin setelah keluar dari kamar Naruto. Wanita itu menghampiri kekasihnya yang duduk di sofa dengan kepala tertunduk. Ino menaruh mapan yang dibawanya di atas meja yang ternyata adalah baskom yang berisi air hangat.
Dengan pelan Karin menarik tangan kekasihnya yang tampak memar karena menghajar Naruto, membersihkan darah Naruto yang telah mengering lalu membalutnya dengan kain kasa. Sasori hanya diam tak menjawab kekasihnya. Ia memandang tangannya yang kini telah selesai diperban. "Bagimana dengannya?" Tanya Sasori setelah beberapa saat terdiam.
Karin menghela napas pelan. "Dia akan baik-baik saja setelah beberapa hari istirahat. Asal kau tidak menghajarnya lagi seperti tadi."
"Aku tidak akan meminta maaf. Dia pantas mendapatakannya."
Karin terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa. "Aku tahu. Tapi tidak seharusnya kau memukulnya seperti tadi. Ia sudah cukup di pusingkan dengan kepergian Sakura dan sekarang kau malah menghajarnya. Yang kau perbuat tadi tidak membantu apa-apa, justru semakin memperumitnya."
Sasori terdiam tak menjawab kekasihnya. Kekasihnya benar, seharusnya tadi ia tidak menghajar Naruto seperti itu. Tapi ia tidak bisa menahan dirinya sendiri ketika mengetahui adiknya itu kabur karena Naruto yang menduakannya. Ia gelap mata, ia sangat emosi, semuanya terjadi begitu saja ketika ia melihat Naruto. Ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menghajar pemuda tersebut. Sasori tidak bisa memaafkan jika ada yang menyakiti adik kesayangannya.
Melihat Sasori hanya diam, Karin mengelus punggung kekasihnya itu dan tersenyum. "Sebaiknya kau menemui Naruto sekarang. Kejadian tadi membuatnya semakin bersalah."
"Hn."
.
.
.
.
Hinata memperhatikan ibu mertuanya yang sedang bermain dengan Koumi di taman. Ah~ tidak, dia bukan menantunya, Sakura lah menantu sesungguhnya. Tidak sepantasnya ia menyebut Khusina ibu mertuanya walau dirinya sudah menikah dengan Naruto. Dari awal Hinata sadar tak ada ruang untuk dirinya dikeluarga ini, ia hanya orang asing yang masuk begitu saja, menghancurkan hubungan keluarga yang awalnya harmonis. Tapi salah kah dia berharap? Ia juga ingin merasakan bagaimana diterima, mempunyai keluarga secara utuh bersama suami dan juga anaknya serta kakek dan juga neneknya.
Sejak kecil ia tidak tahu apa artinya keluarga. Ia hanya anak yatim piatu yang dulu tinggal di panti asuhan. Hingga ia beranjak dewasa dan cukup untuk mencari uang sendiri, Hinata memutuskan keluar dari panti asuhan yang membesarkan dirinya dan menyewa sebuah flat kecil di kota Konoha dekat tempat kerjanya. Dan kebetulan ditempatnya bekerja adalah perusahaan yang Naruto pimpin.
Semua berlalu begitu cepat, awalnya status mereka adalah anak buah dan bos dan kini berganti menjadi suami-istri. Hinata tahu bahwa Naruto telah menikah namun ia tidak bisa menghentikan perasaannya sendiri. Ketika Naruto membalas perasaannya, mengajaknya menikah, Hinata mengiyakan ajakan itu setelah membuang harga dirinya jauh-jauh. Ia tidak bisa kehilangan Naruto. Walau ia tahu dirinya hanya tempat pelarian buat Naruto.
Bersama Naruto ia merasakan sebuah keluarga sesungguhnya. Ia sangat senang ketika melihat Naruto tampak bahagia ketika ia memberitahu bahwa ia tengah mengandung anaknya sekarang, anak yang diimpikannya sejak dulu. Ia telah mendengar dari Naruto bahwa istrinya itu mandul dan tidak bisa hamil, tapi pemuda itu tidak bisa meninggalkan istrinya karena sangat mencintainya.
Bodohkah dia. Ia tahu bahwa dirinya hanya tempat pelarian sang pemuda. Tapi ia sendiri terlalu mencintai Naruto untuk melepaskannya. Ia kerap dilanda kecemburuan pada Sakura karena apapun yang terjadi, wanita itu adalah istri sah Naruto sedangkan dirinya hanya istri simpanan. Meski pun Naruto selalu datang padanya, ia pasti akan kembali ke rumah istrinya.
Puncaknya malam itu, ketika memasuki musim dingin, Naruto mengatakan bahwa ia tidak bisa lagi membohongi Sakura. Pemuda itu kerap dihantui perasaan bersalah jika menatap wajah istrinya yang menyambut kepulangannya tanpa curiga sedikit pun. Meski pun ia pulang agak malam istrinya tidak pernah mencurigainya kerena wanita itu percaya pada sang suami.
Sebenarnya Hinata sudah memberi penawaran pada Naruto, Naruto bisa mengambil anaknya hidup bahagia bersama Sakura sedangkan dirinya akan menghilang dari kehidupan pria itu, melupakan semuanya seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi Naruto menolak gagasan itu secara mentah-mentah. Pria itu menyanyangi Hinata juga menyanyangi Sakura. Ia tidak bisa kehilangan siapa-siapa.
Dengan modal kenekatan, keduanya akhirnya memutuskan untuk memberi tahu Sakura malam itu. Semua berlalu begitu cepat... Ia bisa melihat bagaimana mata emeral di depannya itu tengah kesakitan sekarang. Sebagai sesama perempuan yang mencintai pria yang sama, Hinata tahu bagaimana perasaan Sakura.
Puncaknya pagi itu Sakura menemuinya, memutuskan untuk menyerahkan Naruto padanya. Tentu saja Hinata menolak. Ia tahu Naruto akan tersakiti jika Sakura meninggalkannya dan ia tidak ingin melihat itu. Ia menyanyangi Naruto. Tapi Sakura yang sudah berbulat tekad untuk menceraikan Naruto akhirnya pergi begitu saja tanpa menngucapkan apa-apa pada Naruto hanya meninggalkan sebuah surat. Kini kepergian wanita itu membawa dampak untuk semuanya khususnya Naruto.
"Kau tidak apa-apa?"
Suara Khusina menyentakkan Hinata dari lamunanya. Ia mengerjap kaget ketika melihat ibu Naruto sudah berada di sampingnya duduk. Rupanya Hinata terlalu larut dalam pemikirannya sehingga tidak menyadari bahwa Khusina sudah berada disampingnya.
"Ne..."
Khusina menatap Hinata sejenak, lalu memandang ke depan lagi, memandang Koumi yang bermain di taman. Ibu satu anak itu sangat suka dengan kehadiran cucunya itu tidak seperti kehadiran Hinata sang ibu. Mungkin karena Koumi sama sekali tak berdosa, atau mungkin karena dalam darah anak itu mengalir darah anaknya yang sama dengan dirinya sehingga ia tidak bisa membenci anak itu. Keduanya terdiam beberapa saat.
"..."
"Aku tidak akan bisa menerimamu sebagai menantuku meski kau sudah menikah dengan anakku."
Hinata tersenyum sedih, ia tahu bahwa Khusina akan mengatakan hal itu dan ia tidak berharap apa-apa. Ia tahu posisinya.
"Kami sangat menyanyangi Sakura..." Khusina menatap Hinata sendu. "Sangat menyanyanginya. Keluarga ini sangat menyanyanginya. Jadi kami tidak akan pernah membiarkan Sakura bercerai dengan Naruto. Jadi aku mohon padamu..." Khusina mengenggam kedua tangan Hinata yang bebas. Hinata terdiam, menatap tangan yang menggenggamnya itu tanpa mengatakan apa pun. Jauh dilubuk hatinya ada firasat buruk yang berkecamuk ketika Khusina akan melanjutkan perkataannya.
"Lepaskan Naruto! Pergi jauh dari kehidupannya!"
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N: Hallooooooooo...
Akhirnya bisa juga update chap 2 fict ini hehehe. Maaf untuk keterlambatan update fict ini karena aku sendiri belum ada ide untuk mengetik chap 2nya dan baru ada idenya sekarang, gomennn.
Bagaimana dengan chap 2nya? mengecewakan? tambah hancur? hehehehe. Sebenarnya tadi takut-takut mau update karena gak yakin, tapi melihat banyak yang nunggu(emang ada yang nunggu?), ya sudahlah. :D. Moga-moga aja ada yang baca, hehehe.
fict ini mungkin hanya 5 chapter, kalau gak ada perubahan. Mudah-mudahan aja chap selanjutnya gak lama updatenya, aminn.
So, minta reviewnya senpai agar aku tahu apa fict ini layak lanjut apa enggak, hehehe
See U...
Salam Hangat Cherry
.
.
