Teman kencan (Tak Terlupakan) Namikaze Ex-black

Naruto Masashi Kishimoto

Genre Romance

Warning : Out of Character, Another Universal

Naruto and Sakura Fanfiction

Cinta pertama Sakura adalah Sasuke. Tapi jangan salah.. Bayangan yang selalu menghantuinya selama 14 tahun ini malah Namikaze Naruto. Ia yang tak mungkin terlupakan.

Two

Sepasang kaki dibalut high heels berwarna biru tua berjalan menapaki lantai putih disekitarnya yang begitu kontras dengan warna sepatu itu. Pemiliknya, seorang wanita berambut merah muda dengan jubah dokter sesekali membalas sapaan dan senyuman orang yang bersinggungan dengannya. Tertulis jelas pada name tag di dadanya rangkaian huruf yang membentuk nama Sakura Haruno.

Ini adalah tahun keempatnya bekerja sebagai dokter magang di Rumah Sakit Konoha. Tak heran bila beberapa orang disini sangat familiar di wajahnya. Diusianya yang ke dua puluh delapan tahun ia telah berhasil mewujudkan impiannya menjadi seorang dokter. Ya.. walaupun itu masih magang. Tetap saja menjadi dokter adalah impiannya sedari remaja.

"Sudah mau pulang Haruno-san?" sebuah suara menginterupsi langkahnya. Ia menolehkan kepala untuk melihat siapa yang memanggilnya. Sakura tersenyum simpul. Ia putuskan tak melanjutkan langkahnya dan menunggu orang itu menyejajarinya.

"Iya Shizune-san. Aku ada janji malam ini," jawab Sakura saat wanita itu telah berjejer disamping dan melangkah bersamanya sekarang.

"Dengan kekasihmu?" Shizune melemparkan pandangan mengggoda pada Sakura.

Kekasih, eh? Sakura tersenyum miris mendengar kata kekasih. Ia lalu tersenyum garing pada seniornya itu.

"Kekasih dari Hongkong," kata gadis itu sambil tertawa pelan. "Tidak Shizune-san. Aku ada janji dengan mantan kekasihku," Sakura menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya ia tidak cukup percaya diri untuk mengatakannya.

"Mau balikan?" tanya seniornya itu dengan antusias. Sakura dapat melihat ada binar aneh pada mata wanita disampingnya itu.

"Tidak," tukas Sakura cepat. Ia lalu memasukkan kedua tangannya pada kantong besar didepan jubahnya. "Hanya ingin bertemu dan bicara saja dengannya," Sakura mengulum bibirnya dan mengedipkan satu mata pada lawan bicaranya.

"Kenapa tidak kembali bersama saja?"

Kembali bersama?

Pertanyaan itu sebenarnya sering muncul di benak Sakura semenjak putus dari mantan kekasihnya 4 bulan lalu. Tapi hatinya selalu merasa itu adalah keputusan yang sangat tidak bijaksana. Tidak untuk waktu dekat ini. Karena mereka mungkin hanya akan saling menyakiti.

"Tidak," Sakura tahu ini adalah jawaban terbaik. "Kami tidak begitu cocok. Dan lagi hati kami benar-benar tidak memiliki perasaan satu sama lain lagi."

Ingatannya memanggil memori mengapa ia dan lelaki itu berpisah.

Sebenarnya memang tidak pernah ada cinta diantara mereka.

Dan lagi..

Perasaan ya?

Sakura tersenyum pahit dalam diam. Sejujurnya ia tidak pernah serius menjalin hubungan dengan siapapun selama ini. Terakhir ia menjalin hubungan dengan Gaara si rambut merah. Awalnya mereka yakin bahwa yang mereka rasakan adalah saling mencintai. Namun seiring waktu berjalan, nyatanya mereka menyadari bahwa hubungan ini tidak layak untuk disebut hubungan antar kekasih. Hubungan tersebut harus diakhiri karena mereka memang hanya ditakdirkan sebagai teman saja sepertinya. Teman yang baik.

"Suatu hari pasti kau menemukan orang yang tepat Haruno-san," Shizune tersenyum sambil menepuk sebelah bahu Sakura. Membuyarkan lamunan dokter muda tersebut. Ia hanya tersenyum. Senyum yang bahkan tidak bisa sampai pada matanya.


"Apa kabarmu Sakura?" tanya seseorang berambut merah darah dengan tato Ai di dahinya sambil memotong bistik didepannya.

"Baik, kau sendiri,"

"Sangat baik,"

Mereka lalu tertawa bersamaan. Suasananya terlalu aneh.

Sabaku No Gaara adalah lelaki yang sempurna tanpa cela. Ia anak Walikota Suna, kaya raya, terhormat dan tentu saja—tampan. Siapa yang tidak tergila-gila dengannya? Mungkin hanya orang gila yang ada dalam daftar tersebut. Dan Sakura Haruno, sialnya adalah salah satu dari daftar para orang gila itu. Karena ia tidak tergila-gila pada Gaara.

"Kau nampak lebih gemuk dari yang dulu. Kau lebih bahagia berpisah dariku eh?" kata-kata Sakura ini adalah murni sebuah candaan sebenarnya. Namun melihat Gaara yang hanya terdiam dan tidak menjawab ia merasa bahwa telah melontarkan sesuatu yang salah.

Gaara menyesap wine pada gelasnya. Diikuti helaan napas cukup berat setelahnya.

"Aku akan menikah, Sakura," lelaki bersurai merah darah itu lalu mengutarakan apa yang sedari tadi ada dalam benaknya. Sepertinya ia butuh seteguk cairan melewati kerongkongannya sebelum dapat mengatakan hal itu pada Sakura barusan.

Jujur. Sakura sedikit kaget setelah Gaara mengatakannya. Ia bingung harus bersikap seperti apa disaat seperti ini. Gaara dan ia memang berpisah. Namun tak pernah sedikitpun terbersit dipikirannya bahwa Gaara akan melangkah lebih jauh secepat ini.

Namun mengingat apa saja yang telah ia lalui bersama Gaara sejauh ini bibirnya lalu menyunggingkan sebuah senyuman tulus untuk mantan kekasihnya itu.

"Benarkah? Selamat Gaara."

Sakura dapat melihat pandangan Gaara yang tadinya tampak tegang saat menunggu respon Sakura atas berita yang disampaikannya berangsur lega mendengar ia melontarkan ucapan selamat padanya.

"Aku merasa aku harus mengatakannya padamu Sakura—hal seperti ini." Nada suara itu datar. Tapi Sakura sangat mengerti ada kesungguhan disana.

"Aku tahu," ujar Sakura kembali tersenyum.

Hubungannya dengan Gaara adalah hubungan yang sulit dideskripsikan sebenarnya. Ia tentu saja tidak menganggap Gaara hanya sebagai teman. Kalau disebut sahabat, Gaara bahkan lebih dari itu. Namun menjadi sepasang kekasih? Itu juga bukanlah tempat yang tepat untuk mereka lalui bersama.

"Sejak beberapa tahun ini rasanya aneh bila aku tidak menceritakan semua tentangku padamu," Gaara melanjutkan. "Aku masih terbiasa hidup dengan bayanganmu. Kita mungkin tidak saling mencintai. Tapi kita masih tetap saling membutuhkan." Gaara memandang Sakura dengan sayu. Hati Sakura mencelos. Ia selalu tak sanggup melihat tatapan Gaara yang seperti itu.

"Kau benar Gaara. Namun setelah ini kau harus terbiasa lepas dariku. Lebih tepatnya lepas satu sama lain," Sakura sedikit tercekat harus mengatakan ini. Tapi hal ini perlu dikatakan.

"Aku akan kehilangan orang terbaik dihidupku setelah ini,"

"Kita masih bisa berteman secara biasa Gaara. Kita hanya harus saling membiasakan diri. Kita sudah menjalani perpisahan 4 bulan ini. Dan aku rasa.. kita sudah mulai bisa saling melepaskan ikatan ini perlahan."

Gaara terkekeh pelan. Bagian dalam dirinya menyuarakan bahwa ada sesuatu yang harus segera ia relakan. "Baiklah. Tapi tetap jangan kau tolak teleponku saat malam. Yah.. tidak secara langsung... Kau tahu kan? Mungkin akan aku kurangi. Itu tahap pelepasan kita yang kedua."

Sakura kembali tersenyum.

"Oke. Sekarang ceritakan padaku. Siapa gadis yang bisa merebut perhatian Sabaku No Gaara yang dingin. Kau cukup curang tidak pernah menceritakan padaku padahal empat bulan ini hampir setiap hari kita bertelepon," Sakura memasang ekspresi pura-pura kesal yang membuat Gaara kembali terkekeh.

Sebenarnya kesalnya Sakura tidaklah pura-pura. Ia begitu gemas lantaran Gaara yang tidak menceritakan apapun padanya namun malah sekarang ia terkekeh karena sukses membuatnya mengomel.

"Apa dia cinta pertamamu yang itu?"

Sakura ingat. Seorang gadis pernah datang dikehidupan Gaara sebelum dirinya. Dan gadis itu juga yang selalu membayangi hubungan Gaara dengan Sakura—selain Naruto sebenarnya.

Bila Sakura Haruno dibayangi oleh perasaannya pada Namikaze Naruto sepanjang hidupnya, Gaara dibayangi oleh Matsuri. Cinta pertamanya.

"Tidak," Gaara yang telah berhenti terkekeh segera menampik pertanyaan Sakura. "Ini seseorang yang lain. Aku sudah memutuskan melupakan cintaku itu."

"Kenapa?"

"Saudaraku akan menikahinya tidak lama lagi," jawab Gaara diakhiri dengan menghela napas panjang.

Sakura membulatkan matanya. Ia benar-benar tak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat ini. "Bagaimana bisa? Maksudmu Kankuro?" suaranya mendadak berangsur menjadi pelan saat mengatakan 'Kankuro'.

"Ya," Gaara tersenyum tipis. Ia sesap sekali lagi minumannya.

"Oke. Aku tidak akan menanyakan alasannya kali ini," Sakura tahu. Gaara mungkin masih terluka atas kejadian itu. Ia tak ingin mengorek lebih dalam luka mantan kekasihnya itu. "Takdir tidak pernah dapat kita sangka Gaara."

"Kau benar. Seperti putusnya kita kemarin," Gaara mengangkat bahunya dan memasang ekspresi yang dapat Sakura artikan adalah 'biasa saja' saat ia mengatakannya.

"Aku rasa kita memang sangat cocok menjadi pasangan teman saja. Bukan kekasih."

Mereka lalu kembali tertawa bersama.


Naruto berjalan tergesa melewati lorong-lorong didepannya. Sepanjang yang ia lihat dari tadi kanan dan kirinya masih sama. Hanya jejeran kamar berpintu dengan nomor-nomor yang berurutan.

"Kau dimana teme?" ia langsung membuka mulutnya begitu ponsel yang ia pegang telah tersambung.

"Di restoran lantai 5," jawab suara dari dalam telepon.

"Ck.. kenapa tidak bilang dari tadi," Naruto mendecakkan lidahnya. Ia kesal. Sedari tadi ia bingung mencari cari restoran tempat Sasuke berada.

"Aku sudah bilang,"

"Tidak, dattebayoo," sanggah Naruto cepat.

"Ck..kau yang lupa dobe. Jangan menyalahkanku."

Sasuke memijit pelipisnya. Ia bukanlah pelupa. Dan sudah sangat jelas. Kalau Uchiha yang elit pikun di usia yang bahkan belum 30 tahun, maka ia pastikan dunia telah terjungkir saat ini.

Ia ingat dengan jelas telah memberi tahu sahabat bodohnya dimana ia berada. Oh.. Uchiha Sasuke.. harusnya ia tahu bahwa Naruto itu kadang bisa kumat bodohnya. Apalagi saat mencari lokasi seperti saat ini. Naruto Namikaze adalah 'jenis' orang yang sering tersesat dengan gelar cumlaude di dahinya.

Kalau Sasuke bilang, bodohnya Naruto saat ini sebenarnya sudah berbeda dengan bodoh saat ia remaja dulu. Bodohnya kali ini adalah 'bodoh kambuhan'.

Oh ayolah. Naruto Namikaze sekarang adalah Direktur Eksekutif Namikaze Grup yang terkenal itu. Ia sudah berhasil membawa kemajuan berarti bagi perusahaan ayahnya itu semenjak menjabat 5 tahun lalu. Bahkan Sasuke pun dibuat takjub oleh keberhasilan pemuda itu. Bagaimana mungkin ia akan terus selamanya menyebut sahabatnya itu bodoh.

Namun tidak dapat dielakkan, kadang ada beberapa hal tidak terduga yang terjadi membuat bodoh Naruto tiba-tiba muncul. Makanya Sasuke menyebutnya 'bodoh kambuhan'. Seperti saat ini. Kalau Sasuke adalah wartawan koran, maka ia akan memberi judul artikelnya 'Direktur Eksekutif Namikaze Grup Tersesat di Hotel Bintang 7 Saat Mencari Sahabat Tersayangnya'.

Namun itu takkan pernah terjadi karena Uchiha Sasuke adalah Direktur Eksekutif Uchiha Corporation. Bukan wartawan koran.

"Sial. Mengapa hotel ini begitu besar," umpat Naruto dalam hati. Ia telah memutuskan sambungan teleponnya dengan Sasuke beberapa saat yang lalu. Adu mulut dengan Sasuke bukan pilihan yang tepat saat ini.

Sebenarnya memang beberapa saat lalu ia berkali kali menyasar karena lupa arah. Tempat ia berdiri sekarang kanan kiri masihlah kamar hotel. Bagaimanapun juga dari tadi ia berputar hanya kamar-kamar yang menyapa pengelihatannya.

Matanya berbinar lega saat mendapati diujung lorong ada pintu lift terbuka. Ia segera berlari masuk kedalam lift dan menekan tujuan ke lantai 5.

"Yossshhhaaaa," ia berteriak kencang dalam lift. Beruntunglah ia hanya sendiri di dalam kubikal itu. Orang lain pasti akan menganggapnya aneh—walaupun dia memang aneh—bila mendengar teriakan bahagianya. Ia melonggarkan ikatan dasi di lehernya. Peluh bercucuran dari tubuhnya karena terus berputar-putar sejak tadi.

Tingg...

Naruto melangkahkan kakinya keluar dari lift. Ia melihat beberapa restoran berjejer disana. Tangannya mengambil kembali ponselnya untuk menghubungi Sasuke Teme 'Tersayangnya'.

"Teme aku sudah di lantai 5. Apa nama restoran tempatmu sekarang?"

Sesaat kemudian Naruto memberi gestur mengangguk sambil pandangannya menyapu sekitar. Ponsel hitam itu telah kembali ia masukkan ke sakunya saat melihat restoran yang dimaksud Sasuke. Perutnya telah berbunyi sejak tadi. Ia tersenyum girang. Ia butuh makan yang banyak sekarang.


Bercerita dengan Gaara selalu menimbulkan efek ketagihan pada Sakura. Ia senang bercerita pada lelaki dingin itu apa-apa yang ia alami di rumah sakit, kesehariannya dan banyak hal lain. Mungkin ini karena efek telah bersama selama 4 tahun belakangan ini.

Lagi pula benar. 4 tahun bukan waktu yang mudah untuk berpisah begitu saja. Masih ada efek saling ketergantungan antara mereka berdua walaupun cinta Sakura selama ini masih tetap untuk seseorang dengan senyum secerah mentari di masa lalunya.

"Jadi, kapan kau akan mengenalkan pacar barumu itu padaku Gaara-kun," Sakura menekankan kata 'kun' pada akhir kalimatnya.

Gaara hanya mendengus pelan. Ia tahu. Saat Sakura benar-benar kesal, memanggilnya dengan suffix 'kun' adalah salah satu ciri khasnya.

"Tunangan," ia mengoreksi kata-kata gadis merah jambu di depannya.

"Oke oke. Tunangan," Sakura memutar bola matanya bosan. Ia lalu memasukkan satu suap bistik ke mulutnya.

Namun sejurus kemudian, saat makanan yang ia kunyah telah masuk dengan sempurna pada kerongkongannya, matanya menyipit tajam.

"Heyy. Kau bahkan tidak mengundangku ke acara pertunanganmu namun kau ingin ia kusebut begitu," Sakura cemberut kali ini.

"Hmm... sebenarnya aku belum melamarnya secra resmi sih," Gaara melipat kedua tangannya di depan dada. "Ini masih antara aku dan dia saja. Rencananya bulan depan kami baru akan melangsungkan pertunangan secara resmi,"

Sakura dapat melihat wajah Gaara nampak begitu bahagia saat menceritakannya. Ia tahu, mantan kekasihnya saat ini sedang kasmaran. Ia sudah sangat cukup mengenalnya untuk dapat membaca segala jenis ekspresinya.

"Kadang kau itu begitu dingin Gaara. Dan tidak peka. Bagaimana bisa ia menyukai orang sepertimu?" Sakura melemparkan tatapan mengejek pada Gaara.

Namun sekali lagi. Apa yang ia lontarkan kali ini salah.

Senjata makan tuan.

Gaara tesenyum miring tak kalah sinisnya. "Tanyakan saja pada dirimu sendiri. Bukankah dulu kita berpacaran?"

Mereka kembali tertawa bersama.

Sakura dan Gaara bukanlah pasangan romantis pada saat mereka bersama. Apa yang membuat mereka bersama selama ini sebenarnya adalah rasa saling ingin menang satu sama lain. Adu argumen, saling ejek dan saling bersaing adalah bagaimana gambaran masa lalu mereka yang nyata. Namun sifat yang sama-sama tak pernah ingin mengalah dan tentu saja saling mebutuhkan itulah yang membuat mereka bersama.

Dering ponsel yang memunculkan 'Love is Calling' pada layar menginterupsi pembicaraan antara dua orang yang pernah menjadi pasangan tersebut.

"Hey.. ia menelepon,"

"Aku tahu," Gaara lalu mengambil ponselnya. "Aku tinggal sebentar Sakura,"

"Oke," Sakura mengedipkan sebelah matanya pada Gaara yang disusul senyum manis laki-laki itu.


Naruto melangkah masuk kedalam restoran. Di depan ia telah ditunjukkan oleh pelayan dimana direksi tempat Sasuke berada. Tidak begitu jauh dari pintu depan sebenarnya.

Ia menolak saat pegawai tersebut menawarkan mengantarnya ke meja Sasuke. Ia ingin menyapa kawan lamanya tersebut dengan cara yang 'tidak biasa' kali ini. Sudah hampir setahun ia tidak bertemu dengan Teme tersayangnya itu. Jadi, sedikit bermain-main dan membuatnya kesal tidak apa kan? Sah-sah saja kan?

Naruto tersenyum evil menyiapkan rencananya. Tak lama kemudian ia melancarkan serangannya.

"Oii.. TEME.." suara menggelegar itu sukses membuat sang pemilik surai raven, si empunya nama—Teme alias Sasuke langsung tahu siapa yang memanggilnya saat ini.

"Ck dobe sial," desis Sasuke. Ia menoleh dan lalu menemukan kepala kuning 'sial' yang telah berjarak beberapa meter darinya berjalan pelan kearahnya sambil memasang cengiran rubah khasnya

Dan tentu saja. Jangan lupa. Bukan hanya ia yang sukses menoleh kali ini. Semua mata didalam restoran otomatis tertuju pada padanya dan si kuning itu saking kerasnya teriakan itu. Rahangnya mengeras. Harusnya Sasuke tahu. Sahabat baka-nya itu tidak akan mungkin membuatnya tenang di pertemuan pertama mereka setelah satu tahun ini. Ia diam-diam menyesali keputusannya mengajak Naruto bertemu ditempat ramai begini.

Ck. Benar-benar dobel sial bagi Uchiha Sasuke.

Sementara itu tak jauh dari tempat mereka berada, seseorang dengan surai merah muda sebahu langsung terhenyak mendengar sebutan itu.

'Teme?' ucapnya dalam hati.

Bahunya menegang. Sudah lama sekali ia tak mendengar panggilan itu.

Dan benar saja. Saat ia menoleh, netranya menemukan si kuning yang selama ini selalu menghantuinya.

Ia segera beranjak dari duduknya dan memberanikan diri mendekati lelaki itu yang berdiri membelakanginya.

"Naruto," katanya pelan sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. Nyaris berbisik.

Dan sukses membuat lelaki itu membalikkan badannya.

To be Continue...

Author's Note:

Yoshhhh. Hai semua. Apa kabar? Saya kembali lagi dengan Chapter 2 seri Teman Kencan.

Saya ucapkan terimakasih sebesar-besarnya untuk para pembaca dan terlebih yang memberikan review untuk cerita tidak jelas saya ini.

Untuk chap ini maaf yaaa lebih banyak GaaSakunya dari pada Narusaku-nya. Chap ini sebenarnya menjelaskan bagaimana kisah cinta Sakura sebelum bertemu lagi dengan Naruto.

Sebagai seorang wanita karir yang sudah berusia 28 tahun walaupun ga pernah ketemu Naruto ia masih tetap menjalani hubungan percintaan. Ini normal sebenarnya. Haha.. karena pada kenyataan kita ga mungkin terus menunggu satu orang selamanya. Iya kannnn. *ini sebenernya yang lagi curhat authornya deh* wkwkwk.

Untuk review yang masuk akan saya balas disini saja yaa..

grooty : makasih pujiannya. Saya harap bisa menghibur XD

Uzumaki007 : Oke. Tetap lanjut kok :D

Uchiharuno239 : makasih yaa syantik. Kamu selalu nyemangatin aku disetiap fic yang aku buat *bighug* btw ini memang MC kok. Tapi entahlah. Aku masih ragu ntar ini bakal panjang atau nggak sih. Hehe.

Stable. Wind. Roll : Hai wind... ini sudah lanjut XD. Kalau penasaran tetap nantikan updet selanjutnya ya. Wkwkkwkw.

Guest : Hai guest salam kenal. Terimkasih sudah mau tunggu kelanjutannya. Untuk pair SH... Sayaaaang banget. Aku ga janji mereka bakalan ga ada. Karena fic ini butuh bantuan pair itu untuk berjalan kedepannnnya nanti *spoiler minggu depan* XD

Yoshh. Sekian dulu dari saya. Semoga bacaan ini dapat menghibur dan saya tunggu reviewnya..

Jaaa

Namikaze Ex-Black

Sidoarjo, 20 September 2018