A BTS Fanfiction.

Pair : Hybrid!Taehyung x GS! Yoongi (Taegi)

Rated : T (bisa berubah sewaktu-waktu)

Warn : paku-paku typo seringkali dijumpai.

Already published in WATTPAD.

Have a nice read!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Air mata langit masih menangis dengan deras. Manik sekelam awan mendung yang menangis itu menatap keluar jendela dengan pandangan menerawang jauh. Dinginnya air conditioner tak dihiraukan biarpun tubuhnya sudah menggigil hebat dan bibir bergetar kuat. Gadis itu seolah tidak ingin peduli terhadap kondisi tubuhnya dan lebih memilih diam dengan keadaan basah kuyup. Seorang dokter akhirnya keluar. Manik birunya yang indah menangkap gadis yang termenung menatap rinai hujan di luar jendela. Dokter tersebut berjalan menghampiri lalu menepuk pundak gadis itu pelan. Yoonji sudah melihat dokter itu sedari tadi melalui pantulan kaca jendela. Ia memperbaiki posisi duduknya kemudian berdiri menghadap sang dokter.

"Bagaimana keadaannya, Dokter Suk?" Tanya Yoonji hati-hati. Entah kenapa jantungnya berdegup keras dan ada perasaan takut menyelimuti hatinya. Yoonji tidak siap menerima kabar buruk.

Dokter itu menghela napas sejenak kemudian mengulas sebuah senyum tipis, "Terima kasih sudah membawanya tepat waktu. Kalau tidak—mungkin kucing itu sudah mati,"

Tanpa ia sadari dirinya menghela napas lega. Tubuhnya melemas seketika dan ia kembali menghempaskan bokongnya pada kursi. Beban di hatinya telah sirna. Senyum tipis terukir di wajah yang selalu menampilkan ekspresi datar. Ia bergumam begitu lirih, "Syukurlah..."

"Keadaannya saat ini masih lemah, tapi bila anda rutin memberinya makan daging—saya menganjurkan daging sapi dan ayam—juga memberi susu, ia pasti akan segera sehat. Kucing itu masih kecil, jadi dia perlu minum susu juga." Jelas sang dokter. Yoonji mengangguk paham. Ia kembali berdiri dan bertanya dengan perasaan hati-hati.

"Apa saya boleh melihatnya dan membawanya pulang...?"

"Tentu. Mari ikut saya," Dokter Suk menuntun Yoonji masuk ke dalam ruangan serba putih di mana seekor kucing mendengkur lelah dengan mata tertutup. Harum lilin aroma terapi juga obat-obatan bercampur menjadi satu, memberikan harum yang berbeda dari kebanyakan aroma yang biasanya terhirup di rumah sakit manusia. Tidak seperti di ruang tunggu yang dingin, di ruangan tempat si kucing selesai diobati lebih terasa hangat dan sejuk. Mungkin karena itulah si kucing belang tidur nyenyak sekali. Sesekali telinga sensitifnya akan bergerak—merasa terusik dengan hentakan-hentakan halus yang semakin mendekat. Namun kucing tersebut seperti tak peduli dan kembali tidur dengan pulas.

Yoonji tersenyum tipis melihat kucing putih tersebut, tangannya sudah hendak membelai kepala berbulu lebat si kucing, tapi seketika terhenti di udara.

Ah, Yoonji lupa tangannya sedingin es karena kena hujan dan juga dinginnya air conditioner. Ia mengembalikan letak tangannya di samping tubuhnya. Manik mata kelamnya masih memandang kucing belang hitam tersebut. Bulunya yang dominan putih itu sungguh terlihat lembut dan seputih salju. Yoonji ingin menyentuh dan memberikan belaian menghangatkan pada kucing mungil itu, tapi ia kembali menahan keinginannya.

"Saya sudah menyiapkan pet cargonya—" Dokter Suk mengambil benda berbentuk persegi panjang berwarna silver agak besar, "Saya sudah menaruh selimut tebal dan alas berbulu agar dia tetap hangat," kemudian si kucing putih diangkat oleh Dokter Suk ke dalam gendongan. Kucing putih tersebut mengeong lirih dan bergerak sebentar karena tidur nyenyaknya terusik. Kelopak matanya terbuka sayu; menampilkan iris sewarna cokelat terang melihat malu-malu.

Yoonji sempat terpana melihat iris cokelat terang sejernih madu milik kucing belang tersebut. Menggumam cantik dalam hati dengan pandangan tak lepas melihat tingkah lucu dan manja si kucing. Setelah Dokter Suk selesai memasukannya dalam pet cargo juga menyelimutinya agar tetap hangat, Dokter hewan itu menutup kandang sementara si kucing lalu memberikannya pada Yoonji.

"Terimakasih Dokter Suk. Maaf merepotkan anda." Badannya membungkuk empat puluh lima derajat; memberi hormat pada yang lebih tua dan mengukir senyum tipis.

"Tidak masalah, itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai dokter. Ah, Yoonji-sshi. Jangan lupa dua minggu sekali datang kemari untuk pemeriksaan dan ini—" satu kantung plastik berwarna hitam diberikan pada Yoonji, "Itu obat, kapas dan perban. Rutin diganti bila perban di tubuhnya sudah basah. Jangan mandikan terlebih dahulu, lukanya masih belum kering."

Yoonji mengangguk patuh mendengarkan setiap instruksi dari Dokter Suk. Merekam dengan jelas segala ucapan sang dokter dan menyimpannya dalam otak memorinya juga menanamkan dalam benaknya agar tak lupa merawat si kucing dengan baik.

Ia mengambil pet cargo tersebut. Mengucapkan terimakasih sekali lagi sembari membungkuk hormat kemudian berjalan keluar menuju tempat resepsionis. Yoonji menghela napas panjang ketika uang tabungan untuk membeli merchendise BT21 secara lengkap habis hanya untuk membiayai pengobatan si kucing putih. Memang berat rasanya di hati Yoonji. Jujur ia sedikit tidak rela mengingat ia sudah susah payah mengumpulkan uang, tapi Yoonji kembali teringat perkataan Ibunya, "Tidak ada yang sia-sia yang kaulakukan jika itu untuk kebaikan," maka Yoonji berusaha menghilangkan batu yang mengganjal di hatinya. Senyum tipis ia berikan pada sang suster kemudian ia berjalan keluar sambil menenteng pet cargo.

.

.

.

.

.

.

.

Ia sampai di rumah pukul delapan malam.

Seragam yang melekat di tubuhnya menjadi lembab, rambut pendek sebahunya sedikit acak-acakan dan terasa lepek.

"Yoonji-ya, jangan lupa makan malam sehabis mandi." Ujar Ibunya memberitahu.

"Ne, eomma!"

.

.

.

.

.

.

.

Setelah ia selesai makan, Yoonji tidak lupa membawa sepiring daging ayam yang sudah tercampur dengan nasi dan juga semangkuk susu hangat ke kamarnya. Di mana ia meletakkan kucing belang hitam itu di sana.

"Hey, Manis. Ayo, makan dulu." Ia meletakkan makanan untuk si kucing di nakas kemudian duduk di tepi kasur memperhatikan si kucing yang bergelung nyaman di atas kasurnya menggunakan selimut tebalnya.

Telinga kucing putih itu bergerak sedikit saat mendengar suara manusia yang mengganggu ketenangannya, kemudian mendengkur keras seolah memberi peringatan pada si manusia bahwa ia masih ingin tidur lalu bergeliat di balik selimut—mencari posisi yang nyaman—dan kembali tidur dengan dengkuran lebih halus.

Min Yoonji mendecak sebal.

Yoonji bukan seorang pecinta binatang. Terkadang ia memang gemas sama kucing atau anjing, tapi ia tidak berniat memiliki salah satunya ataupun salah duanya. Ia bukan tipe cewek yang pandai mengurus hewan sebab itu Yoonji tidak pernah memelihara hewan. Dan juga hewan itu bagi Yoonji mengganggu. Untuk seseorang yang menyukai ketenangan dan kesendirian seperti Min Yoonji, hewan manja adalah sesuatu yang mengganggu.

"Hey, kucing manja—" panggil Yoonji dengan nada tak selembut tadi.

"—kalau kau ingin cepat sembuh, ayo makan dulu. Agar setelah sembuh kau bisa pulang keinduk mu. Ayo, cepat, kucing manja," jari telunjuknya memainkan telinga mungil si kucing dengan menyentilnya pelan. Membuat si kucing menggerakan kepalanya gelisah kemudian mengeong protes dengan suara pelan.

"Meoow…!"

Kaki-kaki kecilnya menendang-nendang kecil berusaha mengenyahkan jari nakal si manusia, namun manusia tersebut tak kunjung berhenti mengganggunya.

"Ayo, kucing manja. Makan dulu. Jangan tidur terus!"

Dengan sangat terpaksa si kucing belang membuka matanya perlahan—sesekali mengatup lagi sebab rasa kantuk benar-benar sulit dilawan—lalu kakinya menangkap jari telunjuk si manusia yang ingin menyentil telinganya lagi dan menggigit-gigiti jari Yoonji keras.

"Aw! Aduh, aduh, geli! Hey!" Yoonji tertawa. Ada rasa geli dan sakit saat gigi-gigi runcing si kucing menggigit jarinya. Sesekali dijilatnya, mengecap rasa di jari telunjuknya kemudian kembali digigit.

"Ayo, makan dulu kucing manja." Yoonji sedikit merundukkan kepalanya dan mengusalkannya pada kepala berbulu lebat.

"Makan dulu, oke? Nanti tidur lagi."

"Meoow~~"

Ia mengangkat tubuh kurus si kucing ke pangkuannya lalu membantu si kucing makan dengan menaruh sebagian makanan di telapak tangannya.

"Aduh, geli kucing manja. Kau suka, hm? Makan yang banyak supaya gendut dan sehat, oke?"

"Meeoow!" seruan si kucing seolah mengiyakan nasihatnya—membuatnya mengukir senyum tipis kemudian memberikan kecupan di pucuk kepala si kucing.

.

.

.

.

.

.

.

Ini baru hari ketiga semenjak kucing putih itu terluka parah dan diobati, tapi tingkahnya yang pecicilan seolah menandakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi karena si kucing terlihat begitu sehat dan lincah.

Jujur saja, Yoonji memang senang melihat hewan belang itu sudah sehat. Bahkan kucing tersebut suka berlari kesana-kemari mengitari rumahnya. Menjelajah dengan mata berbinar dan eongan senang lalu melompat-lompat di sofa dan mengasah kuku-kuku tajammya di meja kayu di ruang tamu.

Tapi, bila ke-hiperaktivan si kucing membuat si gadis Min terganggu ketenangannya—salah-salah bisa ia buang ke jalanan si kucing itu. Jujur saja—Yoonji ingin agar kucing belang itu memberikan sedikit ruang ketenangan di minggu paginya.

Bagaimana Yoonji tidak kesal?

Kucing belang itu di pagi buta sudah mengeong keras membangunkannya seraya menggunakan kaki-kaki mungilnya mencakar-cakar pelan wajah si gadis Min yang tengah tertidur lelap. Kadang ia menggunakan kepalanya untuk membangunkan Yoonji dengan menggusakkannya pada leher dan wajah Yoonji.

"Unghh... Apa sih...?" Lenguh Yoonji terganggu saat merasakan benda berbulu menggelitik wajah dan lehernya. Ia merubah posisinya menjadi membelakangi si kucing dan kembali tertidur lelap.

"Meeow! Meeoow! Meeeoww!"

"Bangun! Bangun! Bangun!"

Si kucing belang kembali mengeong keras. Ekspresinya terlihat merengut tak suka melihat Tuannya kembali tidur.

Maka, kucing belang itu melompat ke atas tubuh Yoonji yang tidur menyamping, kemudian kembali mengganggunya menggunakan cara yang sama. Hanya saja kali ini si kucing belang sudah sedikit lebih pintar untuk membuat Tuannya terbangun, yaitu dengan memberikan gigitan kecil dan jilatan pada telinga si gadis Min.

Suara lenguhan kecil yang lolos dari Tuannya diam-diam membuat si kucing belang menyeringai senang. Apalagi menurut kucing belang itu suara lenguhan dari bibir Tuannya terdengar begitu indah. Kedua alisnya yang saling bertemu dan bibirnya yang tanpa ia sadari mengerucut sebal merupakan pemandangan yang menggemaskan, maka si kucing belang tak ada niat sedikitpun menghentikan kejahilannya pada telinga sensitif Tuannya. Sesekali mendengkur halus dan mengeong pelan; seolah membisikkan "Bangun, Tuan! Bangun!"

"Uunhh... Apa sih, kucing manja?!"

Mau tak mau Yoonji membuka matanya yang sayu. Ia langsung mendudukan dirinya dan menyingkirkan kucing belang tersebut dari kepalanya.

"Aissh! Kucing nakal! Jangan menjilati telingaku, bodoh. Kau mengganggu tidurku. Ini masih jam—" kepalanya menoleh ke jam digital di nakas lalu memekik kaget sebab angka baru menunjukan jam empat pagi.

"Astaga! Bedebah! Ini baru jam empat pagi! Apa maumu kucing nakal?!" seru Yoonji kesal setengah mati. Mata sipitnya menatap tajam si kucing belang yang duduk di selimutnya sambil memandangnya tanpa ada rasa bersalah sekali di raut wajahnya.

"Meow?" Bahkan ia mengeong sambil sedikit memiringkan kepalanya, seolah-olah kejahilannya bukanlah apa-apa.

"Minggir! Enyahlah, kucing nakal. Jangan tidur di kasurku!" usir Yoonji galak. Tidak tanggung-tanggung, kakinya menyepak telak tubuh kurus si kucing sampai terlempar ke bawah. Membuat si kucing mengaduh kesakitan.

"Meeooowww!"

Tapi Yoonji mana peduli. Biarpun kakinya pincang sekalipun Yoonji mana peduli. Tidurnya diganggu dan tidak ada yang lebih menjengkelkan bagi Yoonji selain orang—lebih tepatnya sesuatu—mengusik ketenangannya. Dipeluknya guling itu dengan erat lalu membalikan badannya dan mencoba kembali untuk kembali ke bunga tidurnya.

Sayang beribu sayang, si kucing belang tak membiarkan sang Tuan kembali bergelung nyaman. Maka, dengan kaki agak sakit dan pincang, si kucing melompat ke sisi tempat tidur. Tapi dengan keadaan kakinya yang pincang tadi membuat kaki depannya hanya bisa tergapai sisi tempat tidur dan kaki belakangnya menjuntai ke bawah.

"Meow~!" kaki belakangnya ia coba gerakan, namun rasa sakit yang menjalar membuatnya tak kuasa berusaha lebih jauh. Dalam hati si kucing belang membatin sedih separuh kesal,

"Tega sekali kau, Tuan! Pahaku sakit sekali, Tuan! Tuan! Tuan! Bantu aku!"

"Meoww~~~"

"Meeoow!"

"Meooowww!"

"Me—"

"Aargh! Fuck! Berhentilah merengek manja!" seru Yoonji kesal setengah mati. Melihat si kucing belang susah payah memanjat membuat Yoonji menarik kasar si kucing lalu membawanya ke dalam selimut dan mendekapnya erat.

"Diam dan tidurlah, kucing manja. Ini hari minggu dan jangan menggangguku!" Ujar Yoonji memeringati dengan nada penuh ancaman. Kelopak matanya masih terpejam namun raut sangarnya saat berbicara terlihat menggemaskan di mata si kucing belang.

"Meow..." Lantas kucing belang itu mengeong pelan sebagai jawaban lalu mengusalkan kepalanya ke leher si manusia. Saat sudah mendapatkan tempat yang nyaman untuk tidur, kucing belang itu memejamkan matanya dan mendengkur halus.

"Selamat tidur, Tuanku yang galak dan sadis, tapi sangat manis."

.

.

.

.

.

.

.

A/n : feelsnya kurang kerasa ya? :( hati hati paku-paku typo bertebaran.