Salju Musim Semi.
Chapter 2
Rahasia
Merekapun terus berjalan keluar dari rimbunan pohon itu, cahaya lampu malam perlahatn-lahan menerangi wajah mereka masing-masing. Terlihat jelas sekarang, wajah penasaran mereka di bawah sinar lampu jalanan dan alangkah terkejutnya mereka.
"KAU?!" kata mereka berdua
"Kau gadis aneh itu kan?" Kata Kiba sambil menunjuk-nunjuk Hinata.
Gadis bermantel putih itu hanya membuang muka dan berjalan meninggalkan Kiba sendirian.
"Hei… hei… tunggu aku!" Pria berambut coklat itupun menyusulnya.
"Wah kau benar-benar hebat bisa mengusir hantu tadi, hanya dengan bicara saja kau bisa mengakhiri semuanya. Darimana kau punya kemampuan seperti itu, sejak kapan kau punya…."
"Diam..!" kata Hinata sambil mengentikan langkahnya.
"A-apa? Kenapa?"
"Aku bilang diam!" gadis itupun melihat ke sekitarnya lalu ke arah belakang.
"Ada apa?" Tanya Kiba keheranan.
"Seperti ada yang mengikuti, tapi mungkin cuma perasaanku saja." Hinatapun melanjutkan kembali langkahnya.
"Siapa yang mengikuti kita?"
"Aku tidak tahu, aku harap kau tidak banyak bicara lagi. Itu akan membuatmu menjadi pusat perhatian."
"Pusat perhatian? Apa maksudmu pusat perhatian para gadis? Hahaha"
"Ya, gadis dari dunia lain." Hinata berusaha mengerjai si pria berambut coklat itu.
"A-apa? Baik-baik… baiklah, aku tidak akan banyak bicara lagi."
Hinata hanya tersenyum simpul melihat reaksinya.
Keesokan harinya di SMAN Konoha, kelas 1-G sedang mengikuti pelajaran Matematika. Berbagai macam ekspresi di menit-menit sebelum bel istirahat dibunyikan. Sebagian siswa sudah mengibarkan bendera putih di atas kepala mereka, hanya 35% dari 40 siswa yang masih terkoneksi dengan sang guru dan ilmunya.
TEEEETTTT…TEEEETTT!
Bel istirahatpun berbunyi, guru mata pelajaranpun menutup pertemuannya hari ini dan keluar dari ruangan kelas 1-G. Gadis bermata lavenderpun segera membereskan mejanya.
Kebetulan gadis berambut panjang ini duduk di dekat jendela, dari sana dia dapat melihat dengan jelas suasana di taman sekolah. Karpet putih terhampar diluar menutupi tanah dan juga dedaunan. Matanya menatap semua yang berwarna putih itu, ekspresi murung kini terlihat dari wajahnya.
'Aku benci salju.' gumam Hinata.
"Hei Hinata…" Panggil pria berambut coklat.
Gadis itupun melihat ke arahnya.
"Mengenai kejadian kemarin, aku ingin mengucapkan terimakasih padamu. Terimakasih ya dan ini adalah sebagai ucapan terimakasihku, ambilah." Kata Kiba sambil memberikan bungkusan berwarna merah muda.
"Aku harap kau menyukainya."
"Terimakasih." Jawab Hinata.
Pria berambut coklat itupun mengambil kursi dan duduk di samping Hinata. Saat ini terlihat Hinata membuka bungkusan yang baru dia terima.
"Coklat?" Tanya gadis itu.
"Ya, kau suka?"
Hinatapun mengangguk.
'Aku tak pernah melihatnya tersenyum, apa karena aku tidak pernah memperhatikannya. Hari ini dia terlihat sangat murung, sedari tadi dia melihat ke arah luar. Apa dia sedang memperhatikan salju?' Gumam Kiba.
"Ada apa diluar, apa ada sesuatu yang menarik?" Tanya Kiba dan gadis itupun menggeleng. "Waktu aku masih SD, aku sangat senang jika musim dingin tiba. Karena aku bisa bermain salju dengan teman-temanku. Aku sangat suka dengan musim dingin, musim dingin itu seperti sihir. Dalam satu malam dia bisa mengubah semuanya menjadi warna putih. Apa kau juga menyukai musim dingin?"
"Tidak."
"Benarkah?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena aku benci salju, aku benci musim dingin. Benda putih tak berguna itu hanya bisa merebut kebahgiaanku saja."
Kiba tertegun mendengar jawaban Hinata.
'Dia tidak suka salju, apa itu lelucon? Mana mungkin ada orang yang benci dengan salju, tapi nampaknya dia sangat serius mengatakannya.' Gumam Pria bermata coklat.
"Maaf, tadi perkataanku kasar ya?" Hinata merasa tidak enak dengan ucapannya tadi.
"Ah, tidak apa-apa ko. Aku mengerti, mungkin sebagian orang di dunia ini tidak menyukai salju."
"A-anu, mengenai kejadian kemarin tolong kau rahasiakan. Aku tak mau membuatnya semakin terlihat rumit." Ujar Hitanta
"Terlihat rumit?"
"Ya, dikelas ini tak ada yang tahu kempuanku. Aku takut jika ada orang lagi yang mengetahui hal ini semuanya akan semakin menganggapku aneh."
"Maaf ya jika kau berkata seperti itu gara-gara ocehanku kemarin."
"Tidak, itu tidak masalah ko."
"Oh, begituya. Tapi aku rasa kau salah, kau itu tidak aneh hanya sedikit berbeda. Dulu aku juga menganggap bahwa diriku ini berbeda, bisa dibilang aku juga mempunyai rahasia seperti yang kau miliki. Tapi aku tidak mau hanya gara-gara aku berbeda menyebabkanku sulit mendapatkan teman."
Hinata membulatkan matanya.
"Kau tahu kemampuan telekinesi?"
Hinata menggeleng.
"Telekinesis adalah kemampuan seseorang untuk dapat menggerakan beda dengan menggunakan pikiran. Saat aku marah, semua benda disekelilingku ikut bergetar, semakin besar emosiku maka semakin besar getaranya dan hampir saja aku melukai kakakku."
"Begitu?"
"Ya. Sebenarnya Hidup ini tidaklah serumit yang kau bayangkan, Hinata. Hidup ini sangat simpel." Kibapun tersenyum.
"Buktikan!"
"Buktikan?"
"Buktikan padaku kau punya kemampuan seperti itu!" Pinta Hinata, dia sedikit tidak percaya dengan kemampuan yang dimiliki teman satu kelasnya.
Kibapun melihat keadaan sekitar, nampaknya kelas sedang kosong. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk menunjukannya.
"Baiklah." Kiba kembali tersenyum. "Boleh aku pinjam bungkusan yang tadi?"
Hinatapun memberikannya, lalu Kiba mengeluarkan salah satu coklat itu dan membuka bungkusnya.
"Aku akan menunjukan padamu jika kau bersedia memakan coklat ini." Ujar Kiba.
"Baiklah."
Si pria berambut coklat langsung meletakan coklat itu di meja dengan bungkus tadi sebagai alasnya. Diapun mulai berkonsentrasi pada coklat itu. Percaya atau tidak coklat itu mulai bergetar lalu sedikit demi sedikit terangkat dan melayang hingga akhirnya mendekati mulut Hinata.
"Buka mulutmu!"
Hinatapun membuka mulutnya dan perlahan-lahan coklat itu masuk kemulutnya.
Kiba hanya bisa tersenyum melihat gadis bermata lavender ini mulai mengunyah coklatnya. Tapi tiba-tiba pipi gadis itu memerah, dia terlihat sedikit salah tingkah.
"Kau kenapa?"
"A-anu, sebenarnya dari tadi ada yang memperhatikan kita." Jawab gadis itu.
"Benarkah, mana-mana?" Kiba mulai panik, dia sangat takut jika ada orang yang memergokinya melakukan telekinesis.
"Dia ada di depan kita."
"Apa, tapi aku tidak lihat siapa-siapa."
"Tentu saja. Aku malu sekali, dia sedang tertawa sekarang."
Kiba mulai ketakutan.
"Jangan menakutiku!"
"Tidak, aku tidak menakutimu. Memang itu yang aku lihat, pria botak itu dari tadi memperhatikan kita. Apa kau mau melihatnya?"
"Ti-tidak, aku tidak mau."
Memang benar apa yang dikatakan oleh Hinata, penunggu kelas itu dari tadi menguping pembicaraan mereka. Apa boleh buat, Hinata pikir dia itu hanya hantu dan hantu tidak akan menyebar gosip pada manusia kan?
"Terserah sajalah, yang penting asal jangan manusia yang menguping." Ujar Kiba.
BRAAAKKK!
Suara pintu dibuka dengan sangat kasar. Kiba dan Hinata sangat kaget dibuatnya. Ternyata ada sepasang kekasih yang berniat untuk masuk ke kelas.
'Aku kaget sekali, apa mereka sedang mengamuk?' Gumam Hinata.
"Oi Kiba, ternyata kau disini ya?" Tanya Sai berbasa-basi masuk ke kelas sambil menggandeng tangan pacarnya, Sakura.
"Memangnya ada perlu apa? Tumben sekali kau berkata seperti itu." Kata Kiba.
"Haha, Tidak." Sai dan Sakurapun berjalan menghapirinya. Sai terlihat tersenyum, tapi Sakura dia memasang wajah datar.
'Sai tersenyum?' Gumam Hinata lagi.
"Kalian ini sedang pacaran ya?" Sai mencoba untuk meledek Kiba.
"Apa yang kau katakana? Bukannya kalian berdua yang sedang pacaran?" Kiba menanggapi dengan serius.
"A-anu, apa kalian mau coklat?" Tanya Hinata.
"Coklat? Boleh juga." Saipun mengambil satu dari bungkusa itu.
"Sayang, apa kau juga mau?" Tanya Sai pada Sakura.
"Tidak, terimakasih." Jawab Sakura dengan ketus.
"Kau ini, coklat itu bisa untuk memperbaiki suasana hati. Cobalah!" Sai mencoba membujuknya, tapi Sakura malah melangkah pergi meninggalkan pacarnya.
"Kalian berdua tidak apa-apakan?" Tanya Kiba.
Sai tersenyum lagi.
"Tidak, kami baik-baik saja. Hanya sedang terjadi kesalah pahaman kecil."
"Begitu ya."
"Ya. Sebaiknya aku harus menemaninya. Hinata, terimakasih coklatnya ya."
"Iya." Jawab Hinata. Gadis bermata lavender itu sedikit tertegun dengan tingkah mereka berdua dan Hinata terus saja memandangi Sai.
"Dasar orang pacaran." Gerutu Kiba.
"Apa kau tidak melihat sesuatu yang aneh?" balik bertanya Hinata.
"Aneh apanya, orang pacaran bertengkar itu wajar kan?"
"Tidak, maksudku ini bukan pertengkaran biasa. ini pertengkaran yang sangat hebat."
"Darimana kau tahu?"
"Dari aura mereka. Mungkin secara fisik kau melihat Sakuralah yang sedang marah, tapi yang sebenarnya Sai yang sedang marah besar."
"Benarkah?"
"Ya, warna aura Sai adalah hijau meski sebagian kecil ada beberapa warna lain. Tapi warna hijau itu gelap, lebih gelap dari Sakura."
"Tapi dia tadi tersenyum, kan?"
"Itu hanya senyum palsu, Sai adalah tipe orang yang selalu bisa menutupi perasaan sebenarnya."
'Aura, dengan melihat aura mereka saja dia bisa membaca apa yang baru saja terjadi meski tidak spesifik apa masalahnya. Dia benr-benar memiliki kekuatan supranatural.' Gumam Kiba.
"Memangnya warna aura Sakura apa?" Tanya Kiba.
"Sebagian besar berwarna merah."
"Lalu aku?"
"Warnamu kuning, kau tipe orang yang mempunyai semangat tinggi, keyakinan yang kuat tapi sepertinya kau tidak mudah percaya pada orang lain."
"Wahahaha…Kau hebat sekali bisa menebak karakterku. Jangan-jangan kau secara diam-diam sudah memperhatikanku ya?"
"Jangan GR kau!"
"Hahahaha hanya bercanda saja."
"Tapi kenapa kau bisa dengan mudah percaya padaku dengan menceritakan rahasiamu?"
"Itu karena….. karena aku yakin bahwa kita mempunyai sisi yang sama. Kita mempunyai sebuh rahasia yang berposisi sama, jika terbongkar maka orang akan menganggapmu aneh."
Tak lama kemudian bel tanda istirahat berakhirpun berbunyi, murid-muridpun masuk ke kelas dan pelajaranpun kembali dimulai.
Pelajaranpun berakhir, semua murid beranjak pulang. Saat ini Hinata sedang berada di ruangan loker, dia mulai mengganti sepatunya dan sejenak berdiam diri menatap isi lokernya.
'Hari ini ada yang memberi coklat padaku, aku senang. Coklatnya manis, dan dia banyak bicara..' Gumam Hinata sambil memandangi sebuah foto anak laki-laki berambut pirang yang merangkul seorang anak perempuan.
Gadis ini berniat untuk memakan coklat itu lagi, diapun mulai membuka tasnya. Tapi sayang sepertinya coklat itu tertinggal di kelas.
"Yah,,, terpaksa aku harus kembali ke kelas." Dengan sedikit berlari Hinata kembali ke kelasnya
Tapi saat dia membuka pintu kelas, ternyata masih ada Sakura di sana. Gadis bermata lavender itupun masuk ke kelas dan mengambil bungkusan merah muda yang dia letakan di bawah meja.
"Ada yang tertinggal ya?" Tanya Sakura sambul tersenyum.
"Iya, aku meninggalkan sesuatu." Jawab Hinata, kembali dia tertegun melihat Sakura.
'Warnanya semakin gelap, haruskah aku memastikannya? Bagaimana jika dia tidak mau bicara?' gumam Hinata.
"Tapi aku tidak mau hanya gara-gara aku berbeda menyebabkanku sulit mendapatkan teman"
Kembali dia teringat pada kata-kata yang diucapkan Kiba.
'Baiklah, aku akan mencobanya.' Gumam Hinata lagi, diapun mulai melangkahkan kakinya menghampiri Sakura.
"Apa kau sedang ada masalah dengan Sai?" Tanya Hinata.
"Tidak, kami baik-baik saja."
"Kau berbohong."
"Baiklah-baik. Kami tadi hanya sedikit bertengkar, tapi masalah kami saat ini sudah selesai." Sakurapun tersenyum.
"Jika sudah selesai, kenapa kau tidak pulang?"
Sakura terdiam sejenak.
"Tapi aku benar-benar tidak apa-apa, sungguh." Sakura kembali berbohong.
"Jangan berbohong padaku, semua yang ada pada dirimu mengatakan hal yang sebaliknya. Bahkan aku lihat masalahmu bertambah panjang."
Kali ini Sakura tidak menjawab apapun, kepalanya tertunduk. Isak tangis gadis itu mulai terdengar. Tak disangka Sakurapun bangkit dan bediri dengan kepala yang masih menunduk.
"Jangan ikut campur urusanku!"
-TBC-
