Kesalahan yang tidak akan terlupakan
Disclamber : Masashi Kishimoto
Genre : Romanatis
Pair : Sasuhina
"Menikahkah denganku" bisik Sang pria dengan suara beratnya.
Familiar dengan suara pria yang memanggilnya membuat sang gadis mematung di tenpat. Pasalnya ketika mendengar kalimat lamaran dari pria yang sudah sangat dia kenal tentu saja membuatnya sangat terkejut
"I--Itachi-nii?" Gugup sang wanita.
"Bagaimana menurutmu Hinata!" membalik tubuh Hinata dan kemudian tersenyum tulus pada sang wanita yang wajahnya masih terlihat sembab akibat tangisannya dikamar mandi yang lama.
《 PLAN 》
"A-ano etto-.." perkataan Hinata yang gugup atas apa yang dia dengar, tiba- tiba terhenti ketikan Itachi menyela perkataan Hinata.
"Ternyara benar! Apa yang ku lakukan sama sekali tidak romantis," frustasi Itachi yang kembali menatap Hinata dengan tatapan putus asa.
"Maksud Itachi-nii apa?" Heran Hinata yang sama sekali tidak mengerti tentang arah pembicaraan Itachi.
"Aku ingin melamar Konan, tapi entah kenapa aku selalu sulit mengatakannya, jadi kuputuskan untuk berlatih dulu denganmu" Itachi membuka kotak merah yang sedari tadi dia genggam.
Perkataan Itachi membuat Hinata tersentak untuk sesaat, dan kemudian tersadar jika selama ini Itachi memang sudah berpacaran dengan Konan, tapi disaat mendengar kalimat lamaran dari Itachi sejenak Hinata melupakan akan fakta itu dan berharap jika kalimat lamaran itu memang untuknya.
POV
Sebenarnya semenjak insiden 3 tahun yang lalu dimana Hyuga Neji satu-satunya keluarga yang ku miliki tewas dalam sebuah kecelakaan untuk menyelamatkan nyawa Itachi-nii, Neji-niisan sempat berpesan pada Itachi-nii untuk selalu menjaga ku dan menggantikan tugasnya sebagai seorang Kakak, Itachi-nii menerimanya dan dari saat itu dia selalu menganggapku seorang Imotou, baginya aku bukanlah seorang wanita melainkan hanya seorang adik yang harus dia jaga, tapi dengan semua kebaikkannya itu aku malah dengan lancang menyimpang perasaan pada Itachi-nii.
POV END
Itachi yang sedari menunggu jawaban Hinata kembali menatap Hinata dengan seksama, lama memandangi Hinata akhirnya Itachi menyadari akan sesuatu
"Kenapa dengan wajahmu itu, kau habis menangis?" Heran Itachi dengan sedikit khawatir
"I-itu mu-mungkin karena tadi saat aku mandi ma-mataku tidak sengaja terkena sabun," bohong Hinata yang kemudian mengalihkan pandangannya ke kiri, tapi itu semua tidak bertahan lama karena sekarang Hinata menyedari jika Itachi sedang manatap tajam ke arah lehernya, tanpa menunggu lagi Hinata langsung menurunkan handuk yang ia pakai ke lehernya menutupi jejak merah yang masih membekas.
"Apa mungkin Itachi-nii melihatnya," Batin Hinata dengan semakin menutupi daerah lehernya. "Aku harus pergi dari sini." Pikir Hinata dengan semakin khawatir.
"A-aku akan ambilkan minum," Hinata langsung melangkah pergi meninggalkan Itachi, tapi tidak sampai tiga langkah Hinata pergi Itachi menahan tangannya.
"Hinata!" Panggil Itachi kemudian membalik tubuh Hinata menghadapnya.
"Dimana kalung yang ku berikan padamu? Bukankah kau tidak pernah melepasnya." Selidik Itachi.
Pertanyaan Itachi bembuat Hinata sedikit lega, karena mengetahui jika Itachi sepertinya tidak melihat jejak merah di lehernya, tapi saat menyadari pertanyaan Itachi mengenai kalung permberiannya dengan cepat Hinata langsung meraba lehernya dan benar tidak ada kalung yang menghiasi lehernya.
, sh ,
Kediaman Uciha.
Memandang tidak suka pada kalung berliontin H yang sekarang ada di tangannya membuat Sasuke benar-benar ingin menghancurkannya sekarang juga, tapi niatannya terheti ketika mengingat masih ada hal yang lebih penting untuk di lakukan.
Meletakkan kalung berliontin H sembarang mejanya, kemudian Sasuke mengambil benda yang sedari tadi dia bawa sampai dikamarnya, membuka perlahan benda tersebut dengan menyeringai saat menatap benda yang ada di tangannya dengan bangga. Berdiam untuk sesaat Sasuke teringat akan sesuatu.
Sasuke mengambil ponsel pintar yang ada di sampingnya dan mulai menekan beberapa nomer untuk dihubungi.
"Kerja kalian bagus, akan ku transper sisanya," kata Sasuke ketika panggilannya sudah terhubung dengan lawan bicaranya.
《 KEESOKAN HARINYA 》
"Kaa-san! Apa Sasuke masih ada di kamar?" Tanya Itachi dengan terlihat buru-buru saat tidak sengaja melihat Mikoto di ruang tamu sedang menelpon.
"Sasuke-kun sudah berangkat sekolah, memangnya ada apa?"
"Semalam aku menyuruhnya mengerjakan beberapa dikumen kantor, tapi sampai sekarang dia belum memberikannya padaku." Jelas Itachi.
"Mungkin ada dikamarnya, perlu bantuan mencarinya?"
"Tidak! Kaasan lanjukan saja telponya, Aku akan memeriksanya sendiri." Setelah mengatakan itu Itachi langsung menuju kamar Sasuke.
"Hahhh! Dimana Sasuke meletakkan dokumen itu," Frustasi Itachi yang belum menemukan dokumen yang dia cari.
Lelah mencari Itachi memutuskan untuk istirahat sejenak duduk di kasur Sasuke, dengan terus memperhatikan sekitar untuk mencari dokumen yang ia butuhkan, tapi belum sempat menemukan hal ia cari sekarang mata Itachi tertuju pada sesuatu yang berkilau di maja Sasuke.
"Apa itu?" Penasatan Itachi dengan melangkah mendekat pada benda yang dilihatnya ada di meja Sasuke.
"Bukankah ini kalung yang ku berikan pada Hinata! Kenapa ada di sini?" Gumam Itachi dengan masih menatap kalung berliontin H yang sudah ditanganya.
Konoha High School
"Hinata-chan!" panggil Ino untuk kesekian kalinya karena dari tadi ketika Ino mendekatingan Hinata selalu mencoba menghindarinya
"Ada apa dengan mu Hinata? Dari tadi kau selalu mengindari ku," tanya Ino dengan sedikit khawatir
"Go-gomen," satu kata yang membuat Hinata tidak dapat menahan air matanya lagi dan kemudian memeluk Ino dengan erat.
"Gomen Ino hisk! A-aku telah me-membuat kesalahan hisk tadi mala--" tidak sempat Hinata menlanjutkan kalimatnya Ino memotongnya terlebih dahulu
"Sudah lah Hinata kau tidak salah, membujuk Sasuke-kun untuk meminum obat itu memang sulit, lagi pula tadi malam aku juga tidak bisa datang kesana karena di jalan tiba-tiba macet. Dan juga mengenai Sakura dia terlihat baik-baik saja sekarang jadi jangan khawatir" sambung Ino dengan membalas pelukan Hinata
Mengetahui Ino yang tidak menyadari tentang kesalahan yang terjadi antara dia dan Sasuke membuat Hinata semakin memantapkan niatnya dengan berpura-bura tidak ada yang terjadi antara dia dan Sasuke
"Kuharap Sasuke-san tidak akan mengingat kejadian kemarin, lagi pula malam itu Sasuke-san sedang mabuk berat" batin Hinata menyakinkan diri sendiri
"Hinata-chan" panggil Ino dengan menyadarkan Hinata dari lamunannya
"kenapa kau memakai syal? Apa kau sakit" cemas Ino yang melihat keadaan Hinata terlihat lesu
"Ano i-iya " dengan sedikit mengangguk Hinata bohong, sebenarnya alasan Hinata memakai syal karena dia tidak ingin siapapun melihat lehernya untuk sekarang ini.
"Hahh dimana ya, kenapa tidak ada?" Mengalihkan pembicaraan Ino memutar matanya dengan malas.
"A-apa yang kau cari Ino-chan?" tanya Hinata dengan sedikit penasaran
"Kamera yang ku sembunyikan di kamar nomer 9 di bar itu, ketika aku kesana pagi-pagi kameranya sudah tidak ada" jawab Ino seadanya
"Ka-kamera?" Kaget Hinata dengan langsung menatap Ino
"Iya bukankah aku sudah mengatakannya padamu Hinata, jika aku sudah menyembunyikan kamera itu sebagai barang bukti jika Sasuke-kun tidak mau mertanggung jawab"
Mendengar penuturan Ino membuat Hinata tersentak untuk beberapa detik " tapi ketika aku terbangun dan pergi dari kamar itu, aku sama sekali tidak melihat akan keberadaan kamera itu?" Yakin Hinata yang terus berpikir mengingat kedaan kamar di bar itu
"Hinata-chan! Sepertinya kau benar- benar sakit" panggil Ino untuk kedua kalinya karena Hinata yang terus- menerus melamun.
"Pergilah ke UKS Hinata, kau harus lebih beristirahat"
"Yaampun! Ada urusan yang harus ku selesaikan, aku pergi dulu ya. Jaa" dengan melambaikan tangannya Ino
Meninggalkan Hinata sedirian di taman dekat lapangan bola
Melihat kepergian Ino yang mulai menjauh tiba-tiba Hinata kembali di kejutkan ketika membaca sebuah pesan singkat dengan nomer yang tidak di ketahuinya.
"Datanglah ke atap, jika kau tidak mau menyesal"
Membaca pesan singkat di ponsenya sedikit membuat Hinata merasa khawatir. Dengan memantapkan nyalinya Hinata mulai berjalan menuju atap sekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan dirinya saat ini
Skip time
"Siapa sebenarnya yang mengirim pesan itu," gumam Hinata ketika sudah berada tepat di depan pintu atap
Dengan sedikit ragu Hinata membuka pintu di depannya dan ketika pintu di depannya benar-benar terbuka hanya sebuah tempat duduk yang tersedia tanpa adanya tanda- tanda kehidupan di dalamnya, perlahan Hinata maju untuk mendekati tempat duduk yang ada dedepannya
"Ternyata kau datang!" mendengar suara baritone dari seorang pria di belakangnya seketika membuat Hinata menghentikan langkahnya, dan membeku ditempat.
"Sa--Sasuke-san" gumam Hinata dengan membulatkan matanya terkejut.
Dengan langkah lebarnya Sasuke berjalan mendekati Hinata dan secara refleks pula membuat Hinata ikut mundur menciptakan jarak diantara mereka.
"Kenapa mundur? Kau takut padaku" tanya Sasuke dengan nyeringai
Mendengar perkataan Sasuke membuat wajah Hinata semakin bertambah pucat, terus berjalan mundur, tapi langkah Hinata tiba-tiba terhenti ketika punggungnya sudah menabrak dinding.
"A-apa yang k-kau inginkan Sa-Sasuke-san" kata Hinata saat tubuhnya sudah tidak bisa bergerak.
Melihat Sasuke yang semakin mendekat padanya dan bahkan sudah berani mengurungnya diantara dinding membuat Hinata hanya bisa menunduk dan memejamkan matanya dengan erat.
"Kenapa kau tutupi hasil karya seniku" bisik Sasuke dengan suara beratnya dan kemudian melonggarkan syal yang dipakai Hinata
Mendengar bisikan Sasuke sontak membuat mata Hinata terbelalak, dengan gerakan cepat Hinata langsung menahan syalnya yang hampir dilepas Sasuke
"A-apa maksud Sa-sasuke-san?" Tanya Hinata yang berpura-pura tidak mengerti
"Cih! kau pura-pura lupa?" Seringai Sasuke dan kemudian melanjutkan kembali kalimatnya
"Bahkan kau lah yang merencanakan semua ini, mulai dari minuman sanpai kamar kita" sambung Sasuke yang mulai terlihat serius
Mendengar perkataan Sasuke semakin membuat Hinata tersentak dan membisu
"Sebanarnya apa yang kau inginkan uang, atau kekuasan " bisik Sasuke dengan wajahnya yang sangat dekat, bahkan sekarang Hinata dapat marasakan hembusan nafas Sasuke yang mengenai kulit wajahnya
"Go-Gomen Sa-Sasuke-san Ka-kau salah paham, malam i-itu murni sebuah ke-kesalahan, ka-kau bisa berpura-pura jika tidak jika ada yang terjadi di malam i-itu, dan aku juga ti-tidak akan memintamu untuk bertanggung jawab," jawab Hinata yang tanpa sadar sudah mengeluarkan air mata karena sudah terlalu takut
Melihat Hinata yang menangis membuat Sasuke mundur memberikan jarak antara dia dan Hinata dan perlahan membuka kurungannya dari Hinata
"Pergi!" Printah Sasuke dengan mengalihkan pandangannya dari Hinata.
Merasakan Sasuke yang benar-benar sudah melepaskannya tanpa menunggu waktu lama Hinata dengan sedikit berlari pergi meninggalkan Sasuke
Bugh!
Satu hantaman keras berhasil Sasuke layangkan pada sebuah dinding datar di depannya
"Cih! Berpura-pura tidak terjadi apapun" frustasi Sasuke dan menarik nafas sekilas Sasuke kembali melanjutkan kalimatnya
"Bahkan tidak ada permohonan dan permintaan pertanggung jawaban" gumam Sasuke dan kemudian menyeringai
"Baikah! kita tunggu sampai satu bulan kedepan akan kupastikan kau-" potong Sasuke dengan mengeluarkan seringannya.
PLAN
Tiga minggu setelah pertemuannya dengan Sasuke di atap membuat Hinata benar-benar menjaga jarak dengan Sasuke, dimulai untuk tidak sendirin ketika berada di sekolah, dengan begitu Hinata yakin jika Sasuke tidak mungkin lagi menemuinya
"Hinata kau terlihat pucat akhir-akhir ini apa kau sakit" khawatir Ino yang meliat Hinata pucat
"Iya Hinata bahkan beberapa hari ini kau terlihat mual, apa masuk anginmu masih belum sembuh" Sambung Sakura tak kalah khawatir
"Aku baik-baik, sudahlah kita harus sekera ganti baju sebelum terlambat mengikuti pelajaran Guy-sensai" dengan menarik tangan Ino dan Sakura, mereka keluar dari dalam kelas
"Apa kalian sudah siap untuk melemaskah otot kalian" triak Guy sensei dengan semangat berapi
Sedangkan semua siswa yang mendengar hanya menjawab "Ha'i" dengan biasa kecuali satu orang yaitu Rokerlee yang juga menjawab dengan semangat yang berapi-api
"Baiklah kita mulai dengan berlari mengililingi lapangan bagi yang laki- laki 50 putaran dan yang perempun 25 AYO KITA MULAIIII" triak Guy sensei yang kemudian langsung berlari meninggalkan semua muridnya yang memasang wajah kesal
Hah! Hah!
Hembusan nafas Hinata yang semakin memburu menahan rasa lelahnya ketika sudah berhasil berlari 5 putaran
"Kau baik-baik saja Hinata-chan?" Tanya Kiba dengan khawatir ketika melihat wajah Hinata semakin pucat
"Ti-tidak aku bai-" belum sempat Hinata menyelesaikan kalimatnya sekarang penglihatan Hinata sudah tergantikan dengan kegelapan, ketika tidak bisa mengendalikan tubuhnya lagi, Hinata membiarkan tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Brukk!
"Hinata!" Kaget Kiba dan kemudian menahan tubuh Hinata agar tidak mengenai tanah
"Sasuke jika kau datang kesini berniat untuk bolos, sebaikkan cari tempat lain" Ungkap seorang wanita berambut keunguan yang sekarang sedang merapikan beberapa obat di rak.
Tidak memperdulikan perkataan Konan, Sasuke lebih memilih menutup tirai disampingnya menjaga jarak agar tidak ada yang menggangunya.
"Konan Sensei!" Panggil Kiba tiba-tiba yang sekarang sedang mengangkat Hinata yang pingsan dengan Sakura dan Ino yang juga mengikuti darinya belakang
"Hinata-chan ada apa dengannya?" Tanya Konan khawatir
"Dia tiba-tiba pingsan Sensei" jelas Kiba
Setelah memeriksa Hinata sekilas membuat Konan terdian dan menatap Hinata dengan terkejut tapi semua itu tidak bertahan lama karena sekang Konan kembali mengeluarkan senyuman lembutnya
"Apa Hinata-chan baik-baik saja?" tanya Ino antusias
"Hinata-chan baik-baik saja, sebaiknya kalian kembali mengikuti pelajaran kalian" sambung Konan dengan menutup pintu setelah mengantarkan kepergian Kiba, Sakura, dan Ino
"Ko-konan Sensei!" Gumam Hinata yang baru tersadar dari pingsannya
"Jangan memanggilku seperti itu disaat hanya ada kita di sini kau bisa memanggilku seperti biasanya" mendekati Hinata yang baru sadar konan mengambil sesuatu di laci kerjanya
"Konan-Neechan!" Panggil Hinata kembali dengan berusaha duduk di bantu Konan
"Ya panggilan itu lah yang ku suka, dimana kau memanggilku seakan-akan kau memanggil kakamu," Sambung Konan dengan menatap Hinata sedih
"Kau sudah menganggapku kakamu tapi kenapa kau merahasian sesuatu yang besar padaku Hinata," tanya Konan dengan menatap Hinata tidak percaya, sedangkan Hinata yang mendengar perkataan Konan hanya diam karena tidak tau arah pembicaraan konan
"Siapa yang melakukannya Hinata?" Tanya konan kembali dengan wajah yang mulai serius
"A-apa maksud Konan-nee aku ti-tidak mengerti?" Pertanyaan Konan dibalas pertanyaan oleh Hinata yang masih tidak mengerti
"Kau hamil Hinata," frustasi Konan dengan menyentuh pundak Hinata
Mendengar penuturan Konan tentu saja membuat Hinata terkejut dan terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun
"Entahlah mungkin pemeriksaan ku yang salah tapi maukah kau membuatku percaya jika semua ini tidak benar Hinata" memberikan tes peak dia tangan Hinata, Konan membantu Hinata ke kamar mandi
"Kuharap semuanya tidak benar" resah Konan yang mondar madir di depan pintuk kamar mandi
Srekkk!
Suara gesekan pintu kamar mandi membuyarkan semua pemikiran di kepala Konan
"Konan-nee apa arti dari dua garis merah di sini? Tanya Hinata yang dengan memberikan kembali tes peak nya pada Konan.
TBC
Mohon maaf jika ada ketidak sengajaan typo bertebaran
Arigatou yang sudah nyempatin membaca
Vote dan komentar kalian semangat menulisku
17-09-2018
See You Next Chapter
Klik
