Nyaha, ini dia lanjutan dari chapter sebelumnya. Masih betah buat baca fict gaje ini? Geser kursormu lebih ke bawah yak.
Disclaimer: Masashi Kishimoto-big sensei
Pairing: NaruHina
Warning: OOC, lil typo, sorry jika mengganggu. AU, anggap yang paling ganteng di cerita ini adalah Naruto-nii, karena saya nggak nampilin Sasuke, Gaara, maupun Kakashi, or cowok-cowok lain yang punya wajah lebih dari Naruto. Gaje. Garing? Jika kalian tidak suka, terserah kalian. Saran saya, jangan menyakiti hati dan jiwa anda, minna-san yang budiman...
This is my Naruhina's story, enjoy
C'mon Please say "SAH!"
Setelah 59 soal yang dijajal ke Naruto, kepala keluarga Hyuuga itu diam. Menyilangkan kedua tangan di depan dada. Menimbang-nimbang secara seksama.
Dia pengen punya anak cowok. Bener tuh. Menantunya meninggal karena nggak kuat ngeliat putrinya buka baju di malam pertama, seratus! Tapi kenapa yang datang sekarang kecoa pasar berpenampilan bad boys? Dosa apa, Gusti.
Menghela nafas berat, dengan penuh ketenangan dan kejernihan pikiran, Hiashi mengeluarkan senjata ampuhnya. Pertanyaan mematikan.
"Apa kau suka main mercon?"
C'mon Please Say "SAH!"
Chapter 2: Please, buang rokokmu, Tuan
Pelatihan dalam kandang berisi puluhan anggota klan yang harus dijalani Naruto selama tiga bulan, berhasil membuat berat badannya turun 5 gram (yah, yang penting turunlah, dikit kan juga turun tuh.) kalau saja dia tidak di pertemukan dulu dengan calon isterinya, dapat di pastikan Uzumaki bercodet itu kabur dari hukuman. Balik ke dunia hitam yang kumuh di arena pengumpulan dana rakyat (paksa) yang sumpek, makan ramen dengan kebaik-hatian (memaksa lagi sebenernya) si paman penjual yang dengan muka tertekuk menahan tangis, bilang kalau 15 piring porsi jumbo ramennya untuk Naruto, gratis.
Namanya Hinata Hyuuga, karena nggak mungkin pairnya berubah dengan Neji, apalagi Hiashi. Cewek kalem manis yang hobi banget buat memerah di hadapan cowok yang menyatakan 'I laph yuk' padanya. Jalannya anggun kayak putri keraton hingga si Naruto, preman yang mencintai waktu ini, harus ngedumel dalam hati karena butuh waktu tiga setengah jam bagi wanita indigo itu untuk jalan dari kamar ke ruang keluarga.
Waktu itu penampilan si calon isteri serba ungu. Mencirikan banget atas status social yang ia sandang dan seolah teriak gimana sakitnya kesepian itu. Yah, janda yang bahkan belum tersentuh sama sekali oleh mantan suaminya itu harus menanggung beratnya rasa sendiri dalam kamar pengantin yang dulunya didekor cantik hanya untuk 'ritual' malam itu.
Salahkah si mantan suami yang lemah mental wa iman hingga nggak bisa berhenti nosebleed ngeliatin Hinata yang buka baju. Habis deh darahnya. Benar-benar bukan kisah yang patut diceritakan menjelang tidur.
Terus? Hubungannya sama pelatihan mental dan fisik Naruto selama tiga bulan ini apa?
…flashback…
"A-ayah…" suara imut yang pelan itu mengisi kekosongan suara di ruang keluarga, tempat permusyawaratan dan peradilan mengenai hidupnya yang akan datang.
"Iya, Sayang?" Hiashi mendekat, ngasih perhatian ke putrinya yang malang.
"A-aku ingin, a-akad nikahnya s-seperti a-akad nikah Anang-Ashanti…"
Jleger!
Hening, hanya ada suara jam dinding yang berdetak lamban di tambah efek gulungan rumput kering tertiup angin yang tak kalah bikin mata kelilipan debu. Dramatis.
"Ano, siapa tadi, anakku?"
"A-anang Ashanti, Ayah."
"Siapa itu?" nggak salah kan bila seorang ayah hanya bertanya dengan tampang innocent tentang sesuatu yang tidak ia ketahui?
Hinata muterin bola matanya yang bening. Memandang ayahnya dengan tatapan: 'Katro banget sih loe!' yang hanya di bales cengiran tanpa dosa tuan Hiashi. Sampai disini, kita bisa tahu betapa OOC itu berbahaya sekali untuk kesehatan.
Dengan setengah hati, putri sulung keluarga Hyuuga yang rajin memotong kuku tiap minggu itu menjelaskan perihal selebriti-selebriti Indonesia yang baru-baru ini banyak banget yang naik ke pelaminan dengan upacara yang menurut pengamatan janda kembang itu, 'unik'. Efek terlalu banyak nongkrong di depan acara gosip nih janda.
"Pokoknya nanti ada penghulu yang salaman ama- Mas, siapa tadi?" Hinata ngalihin muka ke calon suami keduanya.
"Naruto, Mbak" jawab Naruto malu-malu. Aih, manisnya.
"Ah ya, Mas Naruto. Salaman ama penghulu, terus semuanya bilang 'SAH', gitu keren deh."
…end of flashback…
Bagi Naruto yang secara umum adalah pria normal dengan hormon testosterone yang cukup digunakan untuk menikah, Hinata adalah surga dunia. Gimana nggak? Tuh janda kembang udah cantik, sopan, kaya, bermartabat, lulusan Universitas Harvard, semlohai, mulus, baik hati, murah senyum, bla bla bla yang marry sue. Plus, dia masih virgin! Gadis! PERAWAN!
Meskipun statusnya bilang lain.
Namun, surga dunia-yang didapat secara gratis-malah jadi godam yang mukul dia berkali-kali sampai muncul bulatan mencuat kayak Shincan pasca dijitak Misae. Kok bisa? Ya jelas, karena selain tuh wanita cantik dsb, dia juga alim. Terus apa bahayanya?
Hyuuga alim itu menuntut Naruto supaya bisa melafalkan akad nikah yang ia pengen kayak punyanya Anang-Ashanti dalam bahasa ARAB! Selain itu, dia juga ngasih persyaratan agar Naruto meninggalkan dunia 'preman' pasar dan beralih profesi yang lebih halal. Dan yang paling penting. Naruto harus mau taubat nasuha di bawah bimbingan klan Hyuuga-nya.
Maka dari itulah diadakan pelatihan khusus selama tiga bulan ini. Persiapan mental, iman, fisik, dan juga leadership harus dikantongi rapat-rapat kalau mau jadi suami Hinata.
Oh iya, satu lagi syarat yang harus Naruto penuhi. Syarat mutlak yang datang dari calon mertuanya.
Dia harus bisa MERAKIT MERCON!
Seminggu sekali, Naruto diberi waktu berduaan sama Hinata. Tidak sampai sehari, hanya lima jam dan jadwal pertemuannya pun bisa berubah-ubah sesuai kondisi dan situasi. Lelaki yang mulai terbiasa sama pukulan, tendangan dan sistem rupiah klan Hyuuga itu bernafas lega. Bersyukur banget bisa punya waktu buat pedekate sama calon isterinya yang tinggal di rumah berbeda.
Pertemuan seminggu sekali ini selalu jadi momen yang ditunggu-tunggu ama keduanya. Kesempatan untuk mengenal lebih dekat, mengurai benang tipis yang tentu saja butuh proses lama untuk menyatukannya. Mereka nggak mau menikah begitu saja dengan alasan safety. Naruto: safety dari kejaran makhluk liar yang masih tergabung dalam 'We-love-naruto-kun-4-ever', sekaligus menjalani hukuman. Hinata: jelas safety dari status menyebalkan yang sering jadi objek pelototan sinis ibu-ibu yang merasa suaminya main lirik ke dia.
Keduanya juga pengen nantinya kalau menikah, akan ada aura cinta yang menguar bersamaan dengan guguran bunga-bunga sebagai latar yang mewakili kebahagiaan mereka bisa bersatu dalam ikatan suci atas nama cinta, sambil suap-suapan dan tukar cincin hingga membuat para tamu ber-'ou, so sweet' ke mereka.
Pendek kata, mereka pengen saling jatuh cinta.
Dan malam ini, tepat pukul 07.00 waktu setempat, pertemuan pada minggu ke tiga dimulai. Pertemuan kali ini dilangsungkan di sebuah kedai ramen kecil yang sepi dari pengunjung. Naruto telah menduga kalau pihak Hyuuga telah mereservasi tempat ini secara privasi.
Dirinya datang lebih awal, bermaksud diam-diam menikmati rasa khas dari rokok kesukaannya. Lidahnya kangen sama benda kecil berbentuk bulat memanjang yang bisa dibakar dan dihisap itu. Namanya juga mantan preman baru seminggu. Nggak ada rokok, rasanya galau.
Tapi, baru saja dia hampir memantikkan api pada ujung rokoknya, sebuah teriakan merusak segalanya.
"PAMAAA~N" disusul suara langkah kaki terburu-buru masuk ke kedai, berdiri sigap di depan majikan mereka yang mulai menitikkan air mata.
"Hi-Hinata-s-san?" si lelaki tua yang dipanggil 'paman' itu terengah kelelahan plus cemas tak terperi melihat keadaan Nyonya Hinata yang melotot histeris ke arah Naruto yang super duper kaget dan hanya bisa melongo sambil terpaku dengan rokok masih di tangannya.
"D-dia ngerokok lagi, hiks" kata Hinata dengan nada penuh kekecewaan, mirip anak SD yang sedang mengadu pada ibunya karena diejek 'kamseupay' ama temen-temennya.
Mendengar kalimat janda cantik itu, Naruto buru-buru melempar rokok dan pemantiknya. Takut. "Er, ng-nggak kok Hinata-san, s-saya khilaf." Katanya gugup. Kebiasaan merokok memang jadi kebutuhan primer cowok macam dia, apalagi dia preman.
Tapi sejak dia menjalani hukuman menikah dengan putri sulung keluarga Hyuuga, dia dipaksa untuk stop merokok. No smoking istilahnya. Alasannya, lagi-lagi persyaratan yang diajukan oleh Hyuuga Hinata yang memang benci sama rokok. Almarhum suaminya dulu saja nggak merokok, kenapa Naruto yang tercatat sebagai suami baru-nya berani menghisap benda aneh berbau sesak itu?
Nggak level lha yau.
Rokok yang dibuang Naruto barusan segera dipungut oleh si paman. Mau di buang, bukan di makan.
Hinata yang memakai kimono hijau, berlari cepat pada Naruto. Dengan gerakan terburu-buru, dia duduk di atas kedua kakinya yang menekuk ke belakang, di atas tatami tepat di depan Naruto. Kedua tangan gadis itu tergenggam erat, jadi satu di atas pangkuannya sendiri. Tubuhnya berojigi beberapa kali.
"Naruto-san, rokok itu mengandung berbagai zat kimia berbahaya. Nikotin, tar, karbonmonoksida, bahan pembuatan racun tikus, korek api, cat, fernis, bahan pelengkap aspal, bla bla bla..." celoteh Hinata cepat sekali. Ia bicara dengan emosi kebencian pada benda mati itu hingga nggak sengaja semua hal-hal jelek dikatakan mengenai keadaan rokok itu.
Sebagai calon suami yang sudah kesengsem sama Hinata, Naruto cuma bisa terdiam menyimak dengan baik. Sesekali berkerut ketika benda yang ia suka hisap itu ternyata segitu jeleknya buat kesehatan.
"Kumohon, Naruto-san, jangan merokok lagi. Saya tidak mau suami saya nanti mengidap kanker, tumor, serangan jantung, stroke, gangguan saraf, bibir hitam, gigi kuning, bau tak sedap, apalagi impotensi. Saya tidak mau saya ketularan bau aneh rokok itu kalau Naruto-san memeluk saya. Kumohon Naruto-san, pikirkanlah masa depan anak kita nanti" di bagian ini, Naruto cengo. Gila! Jatuh cinta aja baru setengah, udah disuruh mikir cara membuat ana- eh, maksudnya masa depan anak mereka. Hehe.
Kalimatnya lancar banget, diakhiri dengan kedua mata bulan yang berkaca-kaca menatap ke dalam lapisan mata beriris biru safir milik si preman. Innocent.
Glekh! Naruto nelen ludah. Imut banget nih cewek, batinnya. Ini pertama kalinya dia melihat calon isterinya yang berkesan 'onegai' dengan full of innocent. Dulu sih pas dia ketahuan merokok, Hinata langsung kabur tanpa salam. Tapi, sekarang, ekspresinya ini lho, wajah ini lho, mata ini lho, pengen banget dia miliki. Naruto jatuh termehek-mehek sudah.
Kalau kata gombalers sih: apa sih yang nggak buat kamu, Sayang?
Begitupun Naruto, dengan kemantapan hati dia mengangguk di depan Hinata. "Anything for you, beibeh." Katanya yang terdengar seperti : eniting por yuk, bebeh.
Mencoba melupakan bahasa inggris Naruto yang jauh dari kebenaran, Hinata tersenyum manis. "Arigato gozaimashita, Naruto-san."
Dua sejoli yang baru mulai pedekate itu akhirnya melanjutkan obrolan. Sama seperti muda mudi yang sedang terbakar api asmara, topik apapun yang mereka pilih, selalu diiringi derai tawa bahagia meskipun agak kepaksa. Semua hal diomongin, seperti hobi, makanan kesukaan, lagu favorit, riwayat pendidikan, biodata, umur, jenis kelamin, sampai penyakit masa lalu. Malah kayak CV lamaran kerja yak?
Putri sulung Hyuuga bilang, dulu dia punya penyakit panu. Tapi setelah memakai pengobatan di klinik Tong Fang dan menjalani 2 kali pengobatan, panunya tidak pernah kembali lagi. Terimakasih Tong Fang.
Giliran Naruto: "Dulu saya sering masuk angin, saya hampir menyerah dan bunuh diri akibat susahnya mengeluarkan gas dari pantat saya. Tapi, setelah saya menjalani 4 kali pengobatan di klinik Tong Fang, saya sembuh. Saya jadi pengendali elemen angin terakhir. Tapi semua berubah saat Negara api menyerang. Terimakasih Tong Fang."
Keduannya lalu menghadap kamera, dengan senyum termanis, mereka bilang: "Terimakasih Tong Fang."
Oke, lupakan.
Layaknya cerita picisan khas cinderella's story, pertemuan lima jam itu pun harus terputus. Tepat saat jam meneriakkan pukul 12 malam, rombongan penjemput hadir.
"Hinata-san, mari pulang." Paman tua tadi membungkuk di depan Hinata yang di balas dengan anggukan ramah si janda kembang.
Perlahan, wanita molek itu bangkit. Kakinya yang berbalut tabi, menyentuh geta hitam yang dari tadi menjadi saksi bisu pertemuan kedua calon pengantin itu. Suara langkah yang beradu dengan lantai kedai, perlahan menjauh. Membawa tubuh Hinata berjarak memanjang dari jangkauan tangan Naruto.
Kalau fict ini 100% romance, akan ada adegan dimana kepala si calon isteri menoleh, matanya mengerling dengan aksen blink-blink genit nun penuh harapan akan Naruto yang langsung berdiri, berlari kearah si wanita. Memeluknya dari belakang, dan dengan bisikan, dia akan berkata: I love you.
Hanya imagine saja kok. Hehehehe.
Ituh, Naruto masih betah duduk sendirian meski rombongan penjemput sudah pergi bersama objek jemputan.
Si blonde ex-preman pasar (hampir jadi) itu menghela nafas. Melepas perasaan berat yang perlahan menggerus dirinya. Kedua tangan memeluk tubuhnya sendiri. Ada hawa asing yang meremangkan perasaan yang bisa membuat matanya terpejam galau. Mendesir halus, merambati dari kaki hingga punggung yang dilapisi kimono longgar berlambang Hyuuga. Lembut, tak minta didatangkan ataupun tidak dipaksa menjauh.
Setapak kecil perasaan itu mendekat dengan kaki telanjang halus, dan…
"Meow…" imut. Imuuuuuut banget.
"Meow, meow, meow…" yang terjadi selanjutnya adalah mata biru Naruto terbelalak dan di lanjutkan dengan amat sangat cepat oleh teriakan yang berbunyi:
"GYAAA, kucing! Tolong~"
Tergopoh-gopoh, Naruto berdiri. Menyingkirkan sensasi di 'sentuh' oleh perasaan berwujud tiga kucing manis bermata bulat, hidung pesek, dan seolah tak mengenal kata lain selain "Meow" degan penuh ke-innocent-nitas.
Pemilik kedai yang sekaligus majikan tiga hewan unyu itu datang. Kedua tangannya diselipkan di celah longgar lengan kimono coklat tuannya. Pria berwajah tenang itu membungkuk, sebelum akhirnya meminta maaf atas gangguan binatang kesayangannya.
Naruto hanya bisa diam. Dia memang preman, eh, ex-preman. Tapi bukan berarti dia tidak punya kelemahan. Cowok 25 tahun itu, yang bercodet mirip kumis kucing di pipi itu, TAKUT sama KUCING!
Oh my God!
Oke, selingannya cukup. Naruto bisa kembali jadi 'normal' saat ketiga makhluk berbahasa 'meow' itu pergi. Tapi, musibah datang lagi. Lengan kanan si pemilik kedai perlahan bergerak ke kanan, membawa satu kertas putih kecil panjang yang lalu di ulurkan kepada Naruto.
"Bon-nya, Naruto-sama."
"Cih." Decaknya sembari mengambil dompet dengan gaya arogan. Dia yakin, kalau untuk bayar makanan dia masih bisa. Apalagi dia cowok, tugas nraktir kan wajib ke kaumnya. Dia juga yakin di dompetnya masih ada beberapa lembar uang 'besar' hasil mengemis secara paksa di pasar dua minggu lalu.
"Gue harus bayar berapa?" Naruto masih ngacak-ngacak tuh dompet. Tidak ada jawaban, yang ada kertas bon itu semakin terulur, memberi akses ke cowok itu untuk melihatnya sendiri.
"Oh, 40 juta….gamp…HEH? 40 JUTA!?" Panik, Naruto semakin semangat ngacak-ngacak dompetnya yang ternyata hanya berisi dua lembar uang dua ribuan. Mukanya yang semula ceria, berubah pusat pasi. Seingatnya, di dompet masih ada dua or tiga juta-?-tapi kok…?
"Naruto-sama?" si pemilik kedai semakin memojokkan posisi Naruto yang memang sudah terpojok.
"Eh, K-kenapa s-se-semahal itu?" penyakit gagap yang menjadi trademake Hinata dicontek Naruto nih. Huuu~
"Ini sudah termasuk biaya reservasi, keamanan, kenyamanan, dan kelezatan makanan impor yang anda pesan tadi."
"He?" Naruto kaget, nggak nyangka perutnya bisa menampung makanan impor tanpa mules-mules, "M-makanan i-imp-por?"
"Ya, Naruto-sama. Tadi anda dan calon isteri anda memesan paket duluxe yang isinya saffron tuna dari Swedia, Caviar bakar dari Paris, susu keledai putih dari New Zealand, teh gingseng dari Korea, nasi herbal dari Thailand, dan yang paling mahal adalah keju jawa alias ketela dari Indonesia, Naruto-sama."
Saffron tuna? Yang bentuknya kayak bubur ayam kuning itu?
Kaviar bakar? Bah! Wujudnya sueduikit banget, kayak biji delima itu?
Susu keledai putih? walah, tadi Naruto salah baca jadi susu putih saja.
Teh gingseng? Yang rasanya aneh itu? Mana sedikit pula.
Nasi herbal? Yang rasanya kayak mint bakar itu? Huek!
Keju jawa? Ketela? Yang bentuknya seperti kayu gelondong tapi kecil yang kenyal saat dimakan?
Emaaaak~ tolongin gue!
Saat itu, Naruto pengen banget punya keahlian pingsan kayak Hinata-anime. Mudah. Cepat. Praktis. Gratis pulak!
Nyata, ia hanya seorang Naruto, preman pasar yang (diragukan) beruntung dapat menikah dengan janda cantik yang masih perawan. Ia hanya bisa pasrah saat pemilik kedai dengan bangganya memberi kelonggaran pembayaran Naruto. Bukan dengan duit, tapi kerja rodi di kedai ramen ini selama…er, ya sampai Naruto bisa melunasi bon-nya itu.
Naruto pengen banget nangis guling-guling. Meratapi nasib jelek yang menimpanya kini. Mencoba menghibur diri, dia merenung. Setidaknya dia akan sibuk dengan pekerjaan barunya. Setidaknya dia akan bisa dapat kerja halal dan meninggalkan profesinya sebagai preman pasar. Yak! Syarat kerja halal sudah di tangan.
Jauh dari jangkauan penginderaanya, paman yang selalu mengiringi Hinata, mendekati nyonya-nya tersebut.
"Hinata-sama, misi berhasil."
_##Say "SAH!"##_
Bersambung ke cahpter 3...
Nyaha, makin gaje aja nih cerita. Bersediakah kalian meninggalkan kesan dan pesan kalian dalam bentuk review? #puppy eyes no jutsu. Meooww
C'mon Say Thanks:
Guest: makasih yah, ini sudah di apdeth, review again yak.
Moku-chan: hehehe, makasih be ge te ya, Plis ripyu lg yaaa
dt 4345: oke jreeeeng. Hehehe
Ritard-san: waw, ikutan IFA caranya gimana yak? Hehehe#katro. Ntar saya jadi penambah polling deh. Makasih ya, Naruto emang beda, hehehe...
Nick name: sankyuu beraaaaat. Nyaha!
Moyahime: hehe, makasih benget.
Ichal: wokeeeh, trimakasih yo. Ini chapter berikutnya menunggu reviewmu.
Fuu yuki: Hinata janda, mantan suaminya? Siapa yah? Hahaha, saya serahkan pada pembaca deh. Nyaa, just call me 'fui' is enough. :D saya belum pantes nyandang 'senpai'.
Hikari-san: ditunggu review darimu lagiiii.
Tazkiya-san: hehehe, memperhalus bahasa preman nih critanya. Mercon adalah jiwa Hiashi. Duar! Huooooh
Blue sapphire-san: wuooh, kalo ada yang mau ngejadiin ftv, harus nggak lupa honorer ke saya #timpuked. Hahahaha. Terima kasih ya
NH Fanz: Hinata masih suci kok. Calm down gan. Hehehe. Btw, MAHO itu apa?
Poer: oke err, mas atau mbak nih-bro. Hehehe
Namikaze resta: hehe, makasih ya udah mau ketawa #lho? Hehe, lanjut review yah.
Yamashita-san: oke, siap sedia grak pokoknya. Yang penting kamu review lagi. Hahaha. :D
Amekxi-chan: iya, kasian. Tuh Naru-nii masih di klinik, bentol-bentol # . Re-re-pyuh lage #bleeding
Om si: nyaha, akhirnya anda review cerita saya juga. Makasih ya Om.
Nara kazuki: hahaha, bersiaplah membuat CV lamaran kepada beliau untuk meminang Neji. Hahay
Soraya-san: yosh, terima kasih ya, review lagi boleh, tertawa lagi, sangat boleh.
Ls: waw, review-mu paling panjang. Arigato yah, udah dua kali kamu nunjukin rasa sayang kamu ke aku. kalo Naruto-nii pengecut, kamu apa hayo? Hihi, NHL pecundang yah? Harga diriku dipertanyakan? Mau ngelamar aku nih ceritanya? Aih, kamu gitu yah. Hahaha.
Ennaka: lebih sweatdroped lagi kalo sampe zetsu yang jadi hakim. Hahaha, okee makasih banyak.
Ristia-san: okeeeeeh, :D
ILA-san: aih, saya jadi terharu. Saya orangnya cuek, tapi makasih banget atas semangat yang ILA-san sampaikan ke aku. Arigato gozaimashita. :D. Ohya, ripyu ditunggu lagi nih. Hehe
Uzumina-san: mau diapet? Hahay, ngakak juga baca reviewmu. :D repiew lagi yang banyak oke?
Anne-san: wo-wo-wo-wo keeeeh...
Demikooo: kyaaa, asap? Hahaha, siap sedia grak!
Apakah masih mau dilanjut atau dibuang saja jauh-jauh nih cerita? Saya tunggu konfirmasi anda lewat review. Segala bentuk. Teguran, sapaan, cacian, kritikan, bahkan flame, saya terima dengan senang hati.
Salam
Aiko fusui
