R&R ^^ Don't like don't read!

Cast :

-Yesung as namja (Ppalgan : Pengguna kekuatan merah)

-Ryeowook as yeoja (Hayan : Pengguna kekuatan putih)

-Kyuhyun as namja (Pharan : Pengguna kekuatan biru)

-Sungmin as yeoja (masih dirahasiakan)

-Anggota Suju lainnya

-Anggota SNSD

Genre : Romance/Fantasi/Drama

Disclaimer : Ye punya Wook, Wook punya ye, Ye dan Wook saling mempunyai. XD

Warning : Genderswitch, abal, typo, gaje dan menyesatkan. Tapi bergizi dan baik untuk pencernaan. *dilempar* Sebelum baca, disarankan (wajib) liat ava nya author supaya bisa ngebayangi tokoh2 fic. R&R ^^ Don't like don't read!

.

"Aku tau kau ingin dianggap berguna oleh orang sekitar mu. Pikirkan baik-baik, beri tahu aku jawabanmu besok sepulang sekolah di tempat ini. Karna ini juga menyangkut Sekai dan keselamatan manusia sepertimu," Yesung berbalik, memunggungi Ryeowook yang tengah mencerna tawaran fantastis barusan.

Sejenak Ryeowook alihkan pandangannya pada rumput-rumput yang tergeletak tak bernyawa di depannya.

"Rumput bodoh, apa yang harus aku lakukaaannn?"

.

Tubuh mungilnya terduduk manis di depan jendela kamarnya. Tangannya yang sama mungilnya menopang kepalanya yang entah kenapa juga ikut-ikutan berukuran mungil. Mata blink-blinknya menatap sebuah purnama yang betah menggantung di atas background hitam. Menatap betah si bidadari yang suka muncul malam-malam walau pikirannya melayang pada sesuatu yang sejak tadi siang menoel-noel akal warasnya.

"Haahhh," ia menghela nafasnya. Berkali-kali ia memikirkan jalan keluar untuk perkara yang membuat hatinya galau.

Yesung, pria yang katanya adalah Sora si manusia langit meminta bantuannya untuk menyelamatkan Soraguene—tempat makhluk seperti mereka tinggal. Tentu ini aneh baginya! Apa hubungan dirinya dengan para manusia langit yang ia tidak kenal itu. Jika bukan karna getah yang dijanjikan Yesung akan membuat julukan 'Rumput Liar' nya dicabut, tentu ia tidak akan berpikir dua kali untuk menolak.

Dinaikkannya kacamata tebalnya yang sempat melorot. Apa yang harus ia lakukan ia tidak tahu. Ingin membantu atau menolak.

"Aaarghh," ia mengacak rambut panjangnya yang biasanya terkepang. Rasanya kali ini ia ingin sekali menjadi rumput liar yang sering ia cabut, berharap dengan begitu ia akan segera terbebas dari segala masalahnya.

.

.

Klontanggg

"Wookiie BANGUNNN!" suara menggelegar di pagi hari itu sukses mengguncang kediaman mewah Ryeowook. Suara 'merdu' dengan beberapa pukulan panci sebagai instrumen pengiring itu mampu mengusik alam mimpi tak terbatas seorang Ryeowook. Baiklah, karna mengetik nama Ryeowook itu terlalu panjang, maka kita sebut saja ia Wookie.

"Sebentar lagi, eonniee~" tubuhnya merengsek ke dalam selimut, menghindari tarikan kakak sepupunya yang kadang terlalu cerewet bagi orang semalas dirinya.

"Wookie cepat bangun! Kau tahu ini sudah jam berapa?" ucap si eonnie sambil berusaha menarik-narik tubuh Wookie keluar dari persemayamannya.

"Tidak," tubuh Wookie kembali melemas—tidur.

"Ayo bangun Wookie! Kau mau tidur sampai bel sekolah berbunyi, hah?" akhirnya si eonnie berhasil membuat kepala mungil itu menyembul dari balik selimut. Masih dengan mata sayu ia menatap si eonnie penuh jengkel.

"Minnie eonnie kenapa suka sekali mengganggu tidur orang sih?" ucapnya masih setengah sadar, menatap kabur eonnienya yang mungkin tengah dibalut seragam sekolah.

"Sukur dibangunin! Kau tahu sudah jam berapa sekarang?"

"Ga mau tau!" Wookie hendak kembali menyusup kedalam selimut ketika kalimat eonninya menyulap keadaan dalam sekejab. "15 menit lagi bel sekolah berkoar loh... Terserah saja mau tetap hibernasi atau bergerak," ucapan yang terdengar sangat santai itu mampu menggerakkan hati dan tubuh seorang Wookie untuk bertindak sebelum terlambat.

.

.

"Permisi sonsaengnim," kepala Wookie menyembul di balik pintu dengan takut-takut. Terkadang menuruti eonnie itu memang tak ada salahnya. Dan kini ia tengah mendapati Sabar sonsaengnim tengah menatapnya sambil tersenyum.

"Mianhae saya terlambat, sonsaengnim," ia bungkukkan badannya sekilas.

"Udah, masuk dulu sanah~ Ada tai ayam spesial limited edition tuu~ Tapi lain kali kau tak boleh terlambat lagi ya," bersyukurnya Wookie karna Sabar sonsaengnim lah yang berada di kelasnya pagi hari ini. Walau bicaranya suka ngelantur, guru yang satu itu memang sabar sesuai dengan namanya. Makanya yang berbicara dengan guru itu pun harus perlu kesabaran ekstra. Wookie saja masih bingung apa hubungannya masuk kelas dengan tai ayam!

Wookie berjalan menuju bangkunya dengan kepala tertunduk. Banyak yang menatapinya dengan tatapan sinis. Inilah yang ia benci tiap kali datang ke sekolah ini. Hampir satu sekolahan menatapinya dengan pandangan menusuk yang selalu membuat hatinya sakit. Ingin protes, tapi ia terlalu tak tegaan untuk memarahi orang. Atau mungkin ia terlalu takut untuk melakukan hal itu? Dasar aneh!

"Baiklah. Semuanya kumpulkan tugas kalian," suara Sabar sonsaengnim memecah keheningan. Semua murid mulai bergumul ke depan untuk mengumpulkan tugas mereka, tak terkecuali dengan Wookie. Predikat juara satu paralelnya itu mengharuskan ia untuk menjadi murid yang selalu setia pada tugas.

"Yoona, Yuri, Udin dan Penyok, mana tugas kalian? Kenapa buku kalian tidak ada di meja ini?" tegur guru berpantat lebar itu setelah memeriksa tumpukan buku di depannya satu persatu, menyadari ada sejumlah anak muridnya yang belum mengumpulkan tugas.

"Anuu sonsae... itu.. tadi tugas kami..." ucap Yoona tergagap.

"Kalian tidak menyelesaikannya?" tuduhan Sabar Sonsaengnim yang seratus persen benar itu mampu membuat salah satu dari mereka memutar otaknya mencari alasan.

"Ini gara-gara Kim Ryeowook, sonsae!" kilah Yuri, membuat si mungil di depan sana menegang sesaat.

'Apa lagi yang akan terjadi kali ini?' batinnya sendu.

"Kim Ryeowook! Dia yang mengambil tugas kami. Dia bilang kalau tugas dari sonsae itu terlalu sulit. Karna kami diajari oleh tentor di tempat kursus, dia dengan seenaknya mengambil tugas-tugas yang telah kami kerjakan," karangan 'bermutu' Yuri barusan berhasil membuat semua mata menuju Wookie yang lagi-lagi hanya bisa tertunduk. Demi apapun ia tak akan pernah berani memaksa perempuan galak seperti Yuri untuk memberikan tugas padanya.

Sabar songsaengnim tersenyum. Ia telah memperhatikan gerak-gerik ketakutan dari Wookie. Bukan, Wookie bukan ketakutan karna tuduhan yang diberikan Yuri terbukti benar, justru ia takut kalau guru tersebut mengetahui akal busuk Yuri and the genk dan menghukum mereka. Ujung-ujungnya pasti dia yang akan disiksa.

"Otakmu pasti lelah mencari akal yang begitu 'kreatif', Yuri-ssi. Tapi sonsae mengenal baik seorang Ryeowook. Kalian berempat berdirilah di koridor selama pelajaran saya berlangsung," ucapan mutlak itu berhasil membuat bulu kuduk Wookie menegang. Mampuslah ia kali ini, pikirnya.

.

.

Byuurr

"Kau taruh dimana OTAK mu itu, Kim Ryeo Wook Ssi?" teriak Yoona sesaat setelah ia mengguyur tubuh mungil Wookie dengan seember air. Taman belakang yang sepi memang tempat yang cocok bagi empat menusia itu untuk menjalankan pekerjaan laknat yang mereka nantikan. Semenjak bel istirahat tadi berbunyi nyaring, keempat manusia itu langsung saja menggeret Wookie ke tempat pembantaian ala mereka.

"Gara-gara kau datang trlambat tugas ku jadi TAK SIAP!" kini Yuri brteriak di depan wajah basah itu, membuatnya tertunduk dalam diam.

"Dan gara-gara kami tak siap tugas..."

"Sabar sonsaengnim..."

"Menghukum kami..."

"Dan MEMBELA MU!" kini si kembar Udin Penyok secara bergantian dan kompak menyembur Wookie dengan liur yang bermuncratan keluar, menambah kebasahan wajahnya yang hampir membiru.

"Maaf," duka Wookie menahan dingin dan sedih. Bibirnya tengah bergetar menahan air yang mungkin mulai menggerogoti tubuhnya. Bisa saja dia masuk angin kan?

"Kau itu memang pembawa sial ya!"

"Kapan kau akan berguna, RUMPUT LIAR bodoh!"

"Tidak berguna! Kau sendiri yang berjanji memberikan contekan pada kami! Tapi kau malah datang terlambat,"

"Kau itu—"

"Hentikan sampai disitu! Kalian berempat segera masuk ke ruang konseling!" suara tegas barusan berhasil membuat bulu kuduk Yoona and the genk menegak berdiri. Mereka kenal suara ini! Suara ketua kedisiplinan sekolah mereka. Wanita tukang karate yang merangkap sebagai kakak sepupu Wookie. Lee Sungmin, pawang satu-satunya Kim Ryeowook di sekolah ini.

"Tapi sunbae—" Penyok hendak protes kalau saja Sungmin tidak menginterupsinya.

"Tidak ada tapi!" Sungmin diam sejenak sebelum meninjukan telapak tangannya pada tangannya sendiri.

"Atau... Kau mau anggota tubuhmu menjadi persis seperti namamu, Penyok-ssi?" diperdalamnya seringaian liciknya, membuat empat orang itu pontang-panting angkat kaki dari tepat keramat itu.

"Kau tak apa, Wookie?" raut khawatir jelas terpancar di wajah aegyo Sungmin. Ia benar-benar mengkhawatirkan dongsaeng yang kini tersenyum sangat manis kepadanya.

"Gwaenchana, eonnie. Aku sudah biasa kok," Sungmin menghela nafas sejenak.

"Kenapa kau tidak pernah melawan mereka, Wookie? Kau ini baik atau bodoh sih?" Sungmin mendekat, mengambil saputangan pink dari sakunya dan mengelap wajah basah adik manisnya.

"Aku lebih suka yang pertaa, eon,"

"Tapi kau itu terlalu bodoh untuk dibodohi!" Wookie tersenyum, eonnie yang sudah ia anggap sedarah itu memang selalu khawatir berlebihan padanya. Walau mereka bukan saudara kandung, tapi Sungmin bertindak layaknya seorang kakak sempurna di mata Wookie. Itulah salah satu alasan mengapa ia betah bermanja-manja dengan kakak sepupunya itu. Sejenak pikiran Wookie melayang pada sesuatu.

"Kurasa aku akan menerima tawarannya,"

"Eh?"

"Benar! aku harus menerima tawaran orang itu, eon! Siapa tahu perkataannya bisa dibenarkan?"

"Kau bicara apa, Wookie?" Sungmin melihat Wookie bingung. Tatapan matanya sarat akan keheranan atas kalimat tak nyambung Wookie barusan. Alih-alih dijawab, Wookie malah berlari ke kelasnya, meninggalkan Sungmin yang mematung dirubungi lalat menatapi kepergiannya.

.

.

"Tidak! Aku tak boleh terlambat!" bibir mungilnya berkomat-kamit diimbangi langkah tergopoh. Sesekali matanya melirik jam tangan elegan yang melingkar elok di pergelangan tangannya. Ini sudah satu jam berlalu sejak bel pulang sekolah berbunyi, sejak itu pula Wookie berusaha mengumpulkan segenap keyakinannya akan tindakan yang akan ia ambil. Dan baru ia sadari kalau satu jamnya itu sudah melewati waktu yang ditetapkan pemuda ajaib itu untuk mengkonfirmasi keikutsertaannya.

"Hoshh..Hoshh.. Dimana orang itu? Apa aku terlambat? Apa ia sudah pergi?" Wookie menatap sekelilingnya sambil mengatur nafasnya yang masih tersendat-sendat. Sejenak ia tatapi sekelilingnya sebelum mulai bersuara memanggil seseorang yang ia inginkan keberadaannya.

"T-tuan? Apa kau sudah pergi? Halloo? Yuhuuu~ any body home?" suara yang terbuang percuma. Tak ada balasan yang terdengar oleh telinga Wookie. Kenapa begini? Disaat ia sudah memutuskan untuk menerima tawaran orang yang katanya manusia langit itu malah tak mendapati siapapun di tempat perjanjian mereka. Salahnya memang yang berpikir terlalu lama.

"Y-Yesung-ssi? Apa kau sudah pergi?" tanya suara kecewanya. "Sudah," suara yang muncul tiba-tiba itu membuat hati Wookie semakin kecil. Pupus sudah harapannya kali ini.

"Yah... Sayang sekali. Padahal aku memutuskan untuk pergi membantu mu," Wookie menggerakkan kakinya, memutar badannya dengan gerakkan lambat. Ia baru saja akan beranjak ketika matanya dihadang oleh sebuah dada bidang yang memblokir jalannya.

"Benarkah?" sautan suara itu berhasil mendongakkan kepala Wookie, melihat si pemilik suara yang ia tunggu kemunculannya. Hatinya berlonjak girang ketika mengetahui Yesung berdiri di depannya—menatapnya datar.

"Kau belum pergi?"

"Apa aku bisa berbicara pada mu jika aku sudah pergi?" sebuah perempatan muncul di kening Yesung, menandakan ia tengah jengah dengan tingkah sok polos gadis si depannya.

"Kalau begitu, apa boleh aku meminta tiga permintaanku sekarng?" gadis mungil itu memasang cengiran lebar di wajahnya.

"Apa yang kau mau?" Wookie berpikir, memutar bola matanya kesana kemari, mencari-cari 3 buah permintaan yang akan menjadikan hidupnya lebih berguna. Tiba-tiba dengan semangat nasionalisme, ia angkat jari telunjuknya—menunjukkan kalau ia akan mengutarakan permintaannya yang pertama.

"Yang pertama, aku mau lebih berguna bagi teman-temanku!" kini jari tengah ikut berdiri bersama dengan jari telunjuk. "Yang kedua, aku ingin... Aku ingin masakanku di puji umma," ujarnya malu dengan kepala yang tertunduk.

"Eh? Masak?" Wookie semakin menundukkan kepalanya malu.

"Masakkanku tak pernah jadi. 9 dari 10 masakkan ku hancur tak bersisa dan satunya meninggal dalam keadaan tragis dan mengenaskan. Padahal semua masakkan itu kubuat untuk umma dan berharap ia menyukainya," ujar suaranya yang penuh dengan kedramatisan. Kasihan sekali masakan-masakan itu. Semoga arwah mereka diterima di sisi Yang Maha Kuasa. Amin.

"Kau ini gadis aneh! Lalu apa yang ketiga?"

"Minnie eonnie!"

"Eh?"

"Aku mau mencarikan jodoh untuk Minnie eonnie!" Yesung melotot, tak menduga permintaan yang ketiga lebih aneh lagi dari permintaan sebelumnya.

"Maaf, kalau hal seperti itu bukan urusanku! Itu tugasnya para Cuppid yang menjodoh-jodohkan orang. Manusia langit tidak tahu apa-apa mengenai itu," tolakan Yesung yang mentah-mentah itu mampu membuat urat protes Wookie merambat keluar.

"Kau kan bisa menghubungi salah satu dari cuppid itu dan meminta tolong pada mereka!"

"Bagaimana caranya, bodoh? Kau jangan bercanda!"

"Helloo! Ini zaman uda canggih boo~ kau bisa menelfon mereka, atau mengirimi mereka email. Apa dunia kalian masih menggunakan burung sebagai perantara pesan?" makian Wookie barusan sukses membuat mulut Yesung ternganga lebar. Kalau boleh jujur ia tak mengerti sama sekali dengan apa yang gadis itu bicarakan.

"Terserah kau mau berkata apa. Yang jelas permintaan ketiga tidak dapat terpenuhi!" Wookie berjengit, alisnya bertaut protes pada Yesung yang balas melotot padanya.

"Kau bilang akan mengabulkan 3 permintaanku, kok permintaan begitu saja tak bisa terpenuhi? Apa jangan-jangan..." Wookie mengerlingkan matanya, menatap Yesung jahil penuh dengan senyum laknat dari bibir mungilnya, membuat Yesung merasa dipojokkan oleh senyum yang serasa menikam tubuhnya hingga tersudut ke pojokan paling kelam.

"Jangan-jangan apa?" grogi Yesung mati-matian berusaha ditutupinya, satu butir keringat seperti jagung meleleh meluncur dari dahi ke pipi kanannya.

"Jangan-jangan kau tidak pandai menggunakan kekuatanmu?"

"MWO?" pekik Yesung kuat. "Mana mungkin seorang pangeran tidak pandai menggunakan kekuatannya, nona!" sambungnya demikian.

"Lalu kenapa kau menolak permintaan ketiga?"

"Itu karna.. umm... karna..." Yesung memutar bola matanya, berusaha mencari alasan yang bisa dimasukkan ke kepala gadis di depannya bulat-bulat.

"Binggo! Kau ini payah sekali! Rupanya kau itu juga sama seperti Rumput Lia—"

"Baik! Akan kuturuti permintaan mu!" Wookie terdiam, tangan kanannya bersedekap di dada, sedang yang kiri membetulkan letak kacamatanya, melirik Yesung sekilas dengan tatapan tak yakin yang penuh dengan sandiwara.

"Benarkah?" ucapnya dingin, mncobai Yesung yang mulai terlihat kesal.

"Iya! Kenapa orang dengan tampang bloon seperti mu selalu cerewet?"

"Tampang ku ga bloon ya, oneng! Enak sekali muncungmu itu berkata!" Yesung menghela nafas perlahan, tak ada niatan membalas makian yang baru saja terlontar untuknya. Sejenak ia pandangi tubuh Wookie dari atas sampai bawah, membuat yang ditatap berdecak risih.

"Kenapa menatapi ku seperti itu? Dasar mesum!"

"Ck, kau itu ya.. Benar-benar cerewet! Aku sedang melihat penampilan mu tahu!" alis Wookie bertaut bingung. "Buat apa?" ucapnya heran, berhasil membuat Yesung menepuk jidatnya sendiri.

"Ya Tuhan.. Apa kau tak pernah berkaca dengan penampilan mu?" sejenak Wookie mengalihkan tatapannya menilai tubuhnya.

"Ada yang salah?"

"Astaga! Kau tak punya kaca? Penampilan mu itu benar-benar mengerikan! Kaca mata tebal, rambut terkepang dua, rok 10 cm dibawah lutut, baju seragam kedodoran. Tak bisakah kau berpenampilan lebih waras?" Wookie mendengus, melempar pandangan tak suka pada Yesung.

"Apa membantu mu mengharuskanku merubah penampilan ku? Kurasa itu tak perlu!" ucapnya sarkastis. Yesung menggelengkan kepalanya perlahan, menyesalkan perilaku Wookie yang dianggapnya terlalu frontal.

"Kau ini di depan teman-teman mu selalu tertunduk patuh ya? Mengapa kepala mu begitu berdiri tegak saat berhadapan dengan ku? Nona ini naif sekali," cibir Yesung menghindari tatapan Wookie yang kini mengintimidasinya.

"Sudah, berhenti menatapi ku seperti itu. Lebih baik kau rentangkan tanganmu sekarang!"

"Eh? Kau mau apa?" Wookie mundur beberapa langkah, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Membuat pose layaknya seorang perawan tua yang ingin melindungi bagian tubuhnya dari paman-paman mesum yang siap menyantapnya.

"Aku tak tertarik dengan ukuran kecil, bodoh! Sudah cepat rentangkan!" Wookie menggerutu tak senang. Walau dalam hati ia mengutuk habis-habisan seorang Sora bernama Yesung, tangannya tetap terbuka lebar ke samping, menuruti apa yang Yesung instruksikan padanya.

Yesung menatap Wookie fokus, tangannya kini terarah pada tubuh mungil gadis itu. Matanya yang terpejam serta kening yang berkerut menandakan ia tengah berkonsentrasi terhadap sesuatu yang tengah ia lapalkan dalam bibir eloknya. Dalam sekejap, cahaya merah berkumpul di tangannya dan kini berpindah menyelimuti Wookie yang tengah takjub dengan pemandangan di sekelilingnya.

Tringg

Rambut ikal panjang yang tergerai, seragam yang tak lagi kedodoran serta rok yang terlihat lebih mini 15 cm di atas lutut kini tampil di balik gumpalan cahaya merah yang perlahan memudar. Gadis mungil yang berubah total itu mampu menyedot perhatian Yesung untuk sejenak, membuat yang diperhatikan hanya berdiri linglung di tempatnya, belum mengetahui perubahan sebesar apa yang terjadi pada dirinya.

Angin berhembus perlahan, membuat rok mini Wookie berkibar pelan. Hawa dingin serta merta merambat daerah paha mulusnya, membuatnya bergidik sesaat sebelum matanya menangkap rok yang kini tengah terpotong beberapa centi itu.

"AAAA... Kenapa rokku jadi begini? YA! APA YANG KAU LAKUKAN TERHADAP ROKKU, HAH?" Wookie berteriak heboh. Matanya kini bergerak liar melihat penampilannya. Tangannya sibuk meraba rambutnya yang entah sejak kapan tergerai indah dengan efek kilau yang menyilaukan mata. Ia tatap tak senang seseorang yang tengah berjalan mendekatinya. Langkahnya ikut mundur ketika Yesung semakin menghimpitnya, membuatnya tak bisa mundur lagi karna terpojok oleh batang pohon yang telah lama bersemayam di taman itu. Jantungnya tak bisa berhenti berdendang kala Yesung mengulurkan tangan ke arahnya. Dengan gerakkan slow motion ia tutup matanya bersamaan dengan tangan Yesung yang kini meraih gagang kacamatanya.

"Kacamatamu ini merusak pemandangan!" Yesung terkikik geli melihat tingkah Wookie yang menurutnya berlebihan. Ayolah! Dia bukan ingin berbuat yang macam-macam dengan gadis ini.

"Ekspresimu itu berlebihan tau! Seperti hendak diperkosa saja!" Wookie mati-matian menahan malunya. Walaupun penglihatannya tengah buram saat ini, ia yakin kalau pemuda yang sedang memegang kacamatanya itu tengah tersenyum laknat penuh kemenangan.

"Ya! Kembaikan kacamata ku!" ucapnya menggapai-gapai arah yang salah.

"Kau tak perlu lagi menggunakan alat kuno ini!"

"Bagaimana aku bisa melihat, bodoh?" Yesung lagi-lagi hanya tersenyum remeh. "Percuma dong ada Yesung si tampan disini!" narsisnya sambil kembali memusatkan perhatian pada cahaya merah di tangannya.

"Tampan, TAMPUNGAN JAMBAN!" bersamaan dengan lenyapnya makian Wookie, sebuah sinar merah melingkupi kedua mata mungil itu sesaat.

Wookie membuka matanya, mengerjapkannya sesaat sebelum ia kembali mengerjapkannya dengan kuat. Aneh! Dari tadi ia mencari titik terang pada matanya, tapi tak kunjung jumpa. Biasanya juga ia bisa melihat walau kabur tanpa kacamata, setidaknya ia tahu kalau di sekelilingnya ada cahaya.

Tapi sekarang? Jangankan setitik cahaya, yang bisa ia dapati saat ini hanyalah ruang hampa penuh kegelapan tanpa batas.

"Hei! Apa yang kau lakukan pada mataku? Kenapa aku tida bisa melihat?" protes Wookie sambil menggerakkan tangannya asal, seolah ingin menangkap Yesung dan mencabik-cabiknya saat itu juga.

"Err.. itu.." Yesung menggaruk tengkuknya. Tak ia sangka kekuatannya kali ini melenceng dan mengakibatkan Wookie menjadi 'rabun' seutuhnya.

"Mungkin aku salah mantra," sambungnya penuh ragu.

"MWOO? YESUNG-SSI! CEPAT KEMBALIKAN MATAKU!"

.

.

Esoknya, Wookie memasuki sekolahnya dengan langkah anggun. Penampilan baru gadis yang biasanya cupu itu kini mampu menyedot paksa semua perhatian orang-orang yang tengah ramai di koridor. Semua pasang mata tengah menatapi sosok yang biasanya dijuluki 'rumput liar' itu tak percaya. Beberapa diantaranya berbisik-bisik, membuka gosip panas di pagi hari dengan teman sejawat mereka.

Wookie menatapi sekelilingnya risih. Ia alihkan pandangannya pada sesosok yang tengah melayang acuh disampingnya. Sosok yang hanya bisa dilihat olehnya.

"Kenapa mereka menatapi ku?" bisiknya dengan gerakan bibir yang hampir tak terlihat. Yesung bersedekap, mengendikkan bahunya sekilas sebelum kembali terbang dengan sikap acuhnya.

Pagi ini adalah awal hari yang cukup menyenagkan bagi Wookie. Tadi pagi ia sudah berhasil membuat umma dan Minnie-eonnienya—yang tinggal serumah dengannya— terperangah kaget dengan penampilan barunya. Belum lagi mulut mereka yang ternganga lebar karna masakan Wookie yang kali ini terlihat waras dan memiliki 'rasa'. Sungguh kejadian tadi pagi mampu membuat Wookie terkikik geli sesaat. Ternyata manusia langit disebelahnya ini mampu membuktikan kata-katanya. Dan sekarang, gilirannya menunjukkan kebolehannya kepada teman-temannya. Setidaknya ia ingin menjadi sedikit lebih berguna di kelasnya.

~0~(YeWook)~0~

Sepasang sayap biru dengan pendaran cahaya perlahan menghilang bersamaan dengan turunnya sesosok jakung itu di balkon rumah Wookie. Mata onyxnya yang tajam menerawang ke arah pintu yang dilapisi gorden tipis berwarna putih. Dibukanya pintu tanpa jerjak itu dan beranjak masuk kedalamnya. Kamar yang begitu luas dengan design minimalis yang terlihat lebih elegan dengan dominasi warna putih itu mampu membuat matanya berbinar dalam takjub. Tak salah jika ibundanya memilih gadis ini sebagai seorang Hayan. Ternyata sesuai dengan namanya, gadis ini begitu menggilai warna putih.

Dilangkahkannya kakinya menuju meja kecil di samping ranjang. Matanya menangkap sebauh figura kecil berisikan banyangan 2 orang manusia yang tercetak rapi di dalamnya. Yang satu mengenakan gaun putih dan satunya mengenakan gaun pink. Kalau dilihat-lihat kedua gadis manis di dalam sana memiliki kemiripan.

"Jadi dialah Hayan? Apa orang seperti ini dapat mengendalikan kekuatan putih yang dimaksud umma?" ujarnya bertanya pada dirinya sendiri. Asik memperhatikan isi ruangan mewah yang sedang diinjaknya sehingga tak menyadari seseorang berjalan mendekat dan meraih kenop pintu.

Cklek

"Wookie, aku ingin bicara pada—mu," suara Sungmin tercekat. Matanya terpaku menatap sesosok pria tinggi yang tengah memegang figura di tangannya, menatapnya datar tanpa ekspresi tertentu.

"Siapa kau?" ujarnya penuh was-was. Tubuhnya kini mengambil ancang-ancang. Siap untuk mengkarate lelaki di depan sana jika berbuat sesuatu yang mencurigakan.

Sikap Sungmin semakin was-was ketika dilihatnya orang itu berbalik sepenuhnya menghadapnya, menatapnya intens sambil merekahkan sebuah senyum yang sempat membuat Sungmin takjub sesaat.

"Pangeran Sora dari Soraguene, Cho Kyuhyun imnida,"

~0~(YeWook)~0~

"Yesung, kau lihat tadi bagaimana ekspresi teman-teman saat aku berhasil mengajari mereka? Mereka senang sekali!" pekik Wookie girang. Guratan kebahagiaan sejak tadi tak pernah lekang dari wajah manisnya. Sekarang mereka tengah berjalan menuju rumah Wookie. Satu harian ini Yesung telah mengabulkan kedua permintaan Wookie. Semua berjalan sukses walau terjadi kesalahan teknis berulang kali.

"Kau juga lihat bagaimana keterkejutan umma dan Minnie-eonnie ketika memakan sarapan buatan ku?" kini tubuhnya meloncat tinggi, tak perduli dengan wajah berkerut Yesung. Seharian ini mati-matian ia menguras habis tenaganya demi mengabulkan permintaan Wookie. Tak apalah, toh ini demi tugas dan keselamatan kerajaannya kan?

"Terserah mu! Yang penting sehabis ini kau harus ikut ke Soraguene!" ucap Yesung ketus. Ia terlalu lelah dan ingin segera beristirahat.

"Hei!"

"Apa?" Yesung menolehkan kepalanya ke arah Wookie, menatapnya ketus.

"Bolehkah aku mencoba itu?" ucap Wookie dengan nada pelan sembari menunjuk punggung Yesung.

"Maksudmu?"

"Err.. itu... Terbang?" ia tatap Yesung dengan tatapan seolah sedang bertanya. Ia ingin sekali terbang. Melihat Yesung yang selalu melayang bebas di langit dengan sayap yang berpendar ajaib membuatnya ingin merasakan terpaan udara di wajahnya.

Yesung mengernyit heran. Ia tatapi Wookie yang sudah melempar tatapan penuh harap padanya. Sejenak ia mendengus kesal.

"Cih, merepotkan!"

.

.

"Huaaa! Ini mengasyikaaannn! Yuuhuuuu~"

"Apa yang kau lakukan, bocah? Jangan berteriak! Kupingku bisa tuli!" Wookie tak memperdulikan bentakkan Yesung. Sekarang ia tengah duduk diatas punggung Yesung yang kini telah mengangkat kaki dari tanah. Mereka terbang.

Akhirnya dengan sedikit rayuan—paksaan— milik Wookie, dengan sangat berat hati Yesung harus menuruuti keinginan gadis mungil itu. Membawa beban tubuh yang tak seberapa itu kemudian menggendongnya terbang ke angkasa luas. Wookie sendiri sedari tadi tak pernah menutup mulut tukang kicaunya. Tangannya ia rentangkan lebar-lebar, meraup semua udara yang dapat ia rasakan menyapa lembut tubuh mungilnya.

Sayap merah berpendarnya perlahan menghilang ketika kaki tegapnya menyentuh sebuah balkon rumah. Pendaratan yang terlalu sempurna itu membuat Wookie tersadar sesaat, hendak protes ketika merasakan tubuhnya tak lagi melayang. Sayangnya protes yang hendak ia keluarkan itu harus ia telan bulat-bulat, melihat jendela kamarnya sudah ada di depan mata.

Ia langkahkan kakinya perlahan, turun dari punggung Yesung dan menatap pemuda itu penuh ceria.

"Trimakasih atas tumpangannya, Yesung-ssi," ia kembangkan senyumnya yang terkesan seperti pemanis buatan. Yesung mendengus, melihat senyum yang dibuat-buat itu membuatnya kesal sendiri.

"Senyummu menggelikan! Sudah cepat kemasi barangmu! Semakin cepat akan semakin bagus!" Wookie menghentikan senyum palsunya, membuat tatapan tak suka pada pemuda di depannya.

"Kau belum mengabulkan permintaanku yang ketiga!" sungutnya mengerucutkan bibir.

"Haah, sudah kubilang itu mustahil! Sudahlah, lebih baik cepat masuk dan berkemas! Para Sora di Soraguene telah menunggu mu," akhirnya dengan berat hati Wookie terpaksa berbalik dan melangkah masuk ke dalam kamarnya. Sungguh kali ini ia ingin menghantam Yesung yang dengan seenak jidat membatalkan permintaannya yang ketiga. Padahal melihat Minnie-eonnie nya bersanding dengan lelaki tampan merupakan salah satu dari sekian banyak angan-angan anehnya.

Dilangkahkannya kakinya mendekat pada jendela panjang kamarnya, ia dorong perlahan jendela putih itu hingga keduanya terbuka lebar, menerbangkan sedikit gorden yang tersenggol angin sepoi.

Mata karamel yang begitu indah kini membulat seperti piring. Apa yang disuguhkan di depan matanya begitu menterkejutkan batinnya. Sedangkan sepasang manusia yang tengah duduk manis saling bercengkrama disana menolehkan pandangannya sesaat sebelum si wanita melemparkan senyumnya pada Wookie.

"Kaliann?"

BerSUMBANG

Anyeonghaseoo yeorobunnn *dilempar make Shindong* Mian saya apdetnya lelet banget. Author lagi galau mikiri hasil ujian blok yang sukses terlewati dengan hancur =="

Jadi, gimana dengan chapter ini? Diripiu yak ^^ Mian banyak typo.

Lya cloudsparkyu : *ikutan nabokin kepala Yesung* Ini uda apdet XD. Makasi review nya ching~ Jangan lupa riview lagi yak ^^

xeiina kim : Ini uda lanjut XD #gataumaubalasapalagi#plak Makasi review nya ching~ Jangan lupa riview lagi yak ^^

Lee HyoJoon : Tauk tu si Siwon! Nyelingkuhin istri orang! #digampar. Mian ga bisa apdet cepet ^^'. Makasi review nya ching~ Jangan lupa riview lagi yak ^^

uthyRyeosomnia : ==" Ni anak main terjang2 aja! #ngelus pantat Yesung#plak Err.. Adiludin itu sebenernya guru Biologi saya. Kmarin saya kesel karna dikacangi pas mau nanya, tapi ternyata dia uda berbaik hati memberikan nilai 98 di ujian Bio author :D *gananya woy!* Oke de, ini uda apdet! Makasi review nya ching~ Jangan lupa riview lagi yak ^^

Kim jong cha : Ini uda apdet XDMakasi review nya ching~ Jangan lupa riview lagi yak ^^

LeeSungHye040497 : Yaampun ndut! Biasa aja kalee~ ehe, ga janji de buat squel yang satu itu *gampar* Makasi review nya ching~ Jangan lupa riview lagi yak ^^

YeMiharuginzz dan Axyusung : Ini uda dilanjut XD Makasi review nya ching~ Jangan lupa riview lagi yak ^^

THreeAngels K.R.Y : Ehe, si Ecung sok panas (?) disini XD Makasi review nya ching~ Jangan lupa riview lagi yak ^^

viiaRyeosom: Gomawo ^^ ini uda dilanjut XD Makasi review nya ching~ Jangan lupa riview lagi yak ^^

ryeocloud : Si Ecung itu emang sukanya berkentut(?) ria XD Makasi review nya ching~ Jangan lupa riview lagi yak ^^

Kartika : Ini uda apdet XD Makasi review nya ching~ Jangan lupa riview lagi yak ^^

Kim Ahiko-chan : Eh, nae saeng muncul #plak. Ehe, ini uda diapdet XD Semangat buat UN nya yak! Baca ff banyak2! *diterjang* Makasi review nya ching~ Jangan lupa riview lagi yak ^^

RyeoCi69 : Ini uda diapdet XD Makasi review nya ching~ Jangan lupa riview lagi yak ^^

Makasi buat yang uda baca serta meninggalkan jejak ^^ author selalu menunggu riview kalian semua. Jangan lupa riview lagi ya ^^

Buat silent reader *kalo ada* makasi juga uda baca fic gaje saya ^^ Kalo sempat riview ya ^^

Gomawo minna~ ^^

Saranghaeyo~

REVIEW PLEASE! ^^