Imagine

-bleach©tite kubo-

Pairing: Bya-Ruki

Rate: T

Warning: out of character, Gajeness, etc. tempat yang gak spesifik yang penting Jepang XD #digilas truk.

~Selamat membaca~

#Chapter 1 - Pertemuan#

Meskipun Bulan dan Matahari hidup bertentangan, tapi pada akhirnya mereka akan tetap bertemu untuk memperlihatkan dirinya masing-masing. Dan bumi hanya dapat melihat pertemuan antara mereka berdua.


Kesunyian menghampiri ruang makan di rumah keluarga Rukia pagi itu. Mereka hanya menekuni hidangan yang ada dihadapan mereka, tak ada satupun yang berusaha membuka percakapan di meja makan itu. Masing-masing sibuk dengan pikiran-pikiran dalam otak mereka yang terus berdatangan silih berganti.

.
.

'hm... Baju apa yang harus kukenakan nanti malam ya...' batin Ibu.

'ah... Sepertinya gaun dari g***i yang kemarin ku beli bagus juga' lanjutnya.

'dan tas yang ini..., m... jam yang itu..., sepatu yang..." Pikirnya sibuk dengan barang-barang bermerk miliknya.

.

.

'apa ini yang terbaik?' batin Ayah sambil menyeruput kopinya.

'huft... Selama ini aku merasa tidak menjadi ayah yang baik' lanjutnya.

'meskipun masa depan perusahaanku akan terjamin' sambungnya.

.

.

'apa? tunangan? candaan apa ini? Hahaha' batin Rukia.

'hebat..., demi kepuasan mereka aku yang dikorbankan' lanjutnya.

'tch... Perfect' .

.

.

Tiba-tiba Ayah membuka suaranya, memulai pembicaraan.

.

.

"Rukia, sebaiknya nanti malam kau memakai kimono" kata Ayah.

"ah... Ya, kau pasti cocok memakainya" sambung Ibu.

"terserah" jawab Rukia acuh yang disambut helaan nafas Ayah.

"bagaimana kalau kita sama-sama memakai kimono, Rukia sayang?" Kata Ibu yang kontan membuat Rukia sakit hati.

"kau lebih baik memakai bikini" jawab Rukia acuh.

"hm... nanti kuchiki-san lebih memilih Ibu daripada kamu sayang..." Goda Ibu yang membuat Rukia ingin mengeluarkan isi dalam perutnya.

'kapan kalian bisa akur' batin Ayah.

.

.

Waktu yang dijanjikan telah tiba. Rukia beserta keluarganyapun berangkat dari rumah sebelum waktunya. Ayah Rukia tak ingin kalau tuan Kuchiki yang menunggu mereka. Tempat yang dipilihpun merupakan restoran tradisional jepang yang sudah memiliki nama, hingga tidak begitu sulit untuk menemukannya.

.

.

Malam ini Rukia mengenakan kimono berwarna hitam berpadu dengan motif bunga peony merah dengan obi berwana kuning gading dan tali pengikat berwarna emas. Rambutnya yang dipita kebelakang membiarkan rambut bagian bawahnya menjuntai sedikit serta hiasan rambut sederhana dengan warna senada dengan matanya bertengger di sebelah kiri kepalanya.

.

.

Sedangkan 'Ibu' Rukia mengenakan gaun terusan berwarna merah tanpa lengan dan berleher rendah hingga menampakkan sedikit belahan dadanya. Tak lupa ia mengenakan kalung bermata rubi merah yang senada dengan warna bajunya hingga ia terkesan cukup sexy untuk wanita seusianya, serta pernak-pernik yang membuatnya tampak 'wah'.

.

.

Ayah lebih memilih setelan jas lengkap serta sepatu pantopelnya.

.

.

# di Restoran.

.

.

Setiba di tempat janji temu, Rukia dan keluarganya disambut oleh pelayan yang mengantarkan mereka ke ruang VIP yang telah dipesan sebelumnya. Ruangan yang bisa melihat keindahan taman yang diterangi oleh cahaya lampu yang terkesan klasik, serta meja rendah berukuran yang cukup besar untuk menempatkan berbagai hidangan disana. Bantal-bantal duduk yang menawarkan kenyamanan saat diduduki, serta furniturepelengkap yang terbuat dari kayu-kayu berkualitas. Tak lupa juga disana tertempel lukisan-lukisan alam yang membuat ruangan bernuansa tenang.

.

.

Lima belas menit kemudian, orang yang ditunggu-tunggupun datang. Ayah Rukia mempersilahkan tamunya untuk duduk.

.

.

"maaf aku terlambat, Ukitake-san" kata kuchiki memulai percakapan.

Sedangkan Rukia terus memandang ke arah taman.

"ah, tak apa kuchiki-san. Kami juga baru datang" kata Ukitake ramah.

"ya, kami juga baru datang" sambung Ibu seraya tersenyum.

"Rukia, perkenalkan teman Ayah. Kuchiki Byakuya-san" lanjut Ayah memperkenalkan tamunya.

.

.

Kuchiki Byakuya, seorang pria tampan bermata abu-abu gelap dengan postur tubuh tinggi tegap serta rambut lurus dan halus sepanjang bahu yang dapat membuat iri para kaum hawa akan keindahan rambutnya. Selain itu ia pemilik dan pemimpin perusahaan ternama dan menduduki peringkat ketiga orang terkaya se-Jepang.

.

.

Begitu Rukia menoleh untuk melihat teman Ayahnya.

.

.

'DEG' jantung Byakuya berdegup kencang.

.

.

"salam kenal Kuchiki-san, namaku Ukitake Rukia" ucap Rukia memperkenalkan diri.

.

.

Sedangkan Byakuya tetap diam dalam keterkejutannya dan tetap memandang Rukia.

.

.

"emm... Kuchiki-san?" Tegur Rukia yang merasa tak enak dipandangi Byakuya.

"ah... Ya, salam kenal" jawab Byakuya sadar dari keterkejutannya.

.

.

Merekapun akhirnya menikmati sajian dari pihak restoran sambil berbincang-bincang tentang tujuan pertemuan mereka malam itu.

Setelah selesai menyantap hidangan yang tersaji tadi, Ukitakepun mempersilahkan Byakuya dan Rukia berbincang-bincang berdua di taman.

Disana tak banyak yang mereka bicarakan, malah lebih sering mereka berjalan dalam keheningan.


Seminggu telah berlalu sejak pertemuan pertama antara Kuchiki Byakuya dan Ukitake Rukia, tapi tak ada tanda-tanda bahwa hubungan mereka akan berlanjut. Masing-masing dari mereka tetap melanjutkan aktifitas keseharian mereka.

.

.

"huaaahhmmmm... Aku bosan..." Ucap Renji seraya menguap.

"bosan Kepalamu!" Kata Ichigo sambil menjitak kepala Renji.

"SAKIT TAU, DASAR JERUK" teriak Renji mengelus kepalanya yang sakit tadi.

"atau ku panggil jeruk makan jeruk ya?" sambung Renji disertai tawanya yang lebar yang kontan membuat wajah Ichigo bersemu merah.

"k-kau..." geram Ichigo menahan rasa malunya.

"hei hei, kalian berdua. Sudah jangan bertengkar" lerai seorang wanita berambut merah jagung. Inoue Orihime.

"aku bosan menunggu Rukia, Inoue" ucap Renji malas.

"hm, tak ada salahnya menunggu sebentar lagi" ucap pria berkacamata yang selalu tampak serius. Ishida Uryu.

.

.

Tak berapa lama kemudian Rukiapun datang dengan terengah-engah karena habis berlari.

.

.

"hahh hahh hahh... Maaf aku terlambat. Tadi di jalan macet" jelas Rukia terengah-engah.

"SANKSI..." teriak Ichigo, Renji dan Ishida bersamaan kecuali Inoue yang mengucapkannya sambil tersenyum.

"Hiiiiiiii..." Kata Rukia dengan wajah horor.

.

.

Rukiapun dengan berat hati menerima sanksi yang diberikan teman-temannya, yaitu makan siang gratis di tempat yang disepakati mereka dan dengan indahnya menguras isi dalam dompet Rukia saat itu. Setelah itu mereka ber-lima melanjutkan latihan hingga sore hari.

.

.

Rukia dan teman-temannya membentuk sebuah band indie bernama Indigo yang beranggotakan lima orang yaitu, Kurosaki Ichigo sebagai vokalis, Ishida Uryu sebagai bassis, Abarai Renji sebagai drummer, Inoue Orihime sebagai keyboardis, dan Ukitake Rukia sebagai gitaris. Sebenarnya mereka band multi talent karena seluruh anggota menguasai berbagai alat musik dan dapat bernyanyi dengan baik, tapi karena pada suatu kesempatan saat mereka akan mengikuti sebuah lomba, pihak sponsor mewajibkan mereka untuk memilih posisi yang mereka tempati agar dapat berpartisipasi dalam lomba tersebut. Hingga saat ini posisi tersebut entah kenapa menjadi permanen karena mereka nyaman dengan keadaan tersebut.

.

.

"hei teman-teman, ayo kita pergi ke café Sunset" ajak Inoue.

"ah, chad-kan kerja disana" ingat Ichigo.

"ok ok, lagian aku juga lapar" kata Rukia.

"baiklah... Ayo pergi..." ucap Renji semangat.

.

.

Merekapun pergi ke café Sunset untuk menikmati menu-menu yang ada di sana. Chad bertugas meracik minuman di café Sunset. Di café tersebut, pelanggan dapat disuguhi pemandangan sunset di kota, yang memang menjadi ciri khasnya. Yah, dan sesuai dengan namanya. Sunset.

.

.

"aku pulang..." Ucap Rukia.

"selamat datang Nona" ucap seorang pelayan.

"sebaiknya Nona segera ke ruang tamu, disana Tuan dan Nyonya menunggu anda" lanjut pelayan tadi mencoba menahan Rukia yang menuju ke kamarnya.

"hm... Baiklah, terima kasih Tensai-san" ucap Rukia seraya tersenyum.

.

.

Rukiapun segera menuju ruang tamu. Disana ia melihat Ayah dan Ibu sedang berbincang dengan seorang pria yang membelakangi Rukia.

.

.

"hm, gesture itu sepertinya kukenal" batin Rukia.

"Ayah, apa ayah memanggilku?" tanya Rukia yang berjalan mendekat.

"ah ya, duduklah disini sebentar" jawab Ayah menepuk kursi di sebelahnya dan diikuti oleh Rukia.

.

.

Ternyata pria yang tadi membelakangi Rukia adalah Kuchiki Byakuya. Kuchiki Byakuyapun langsung memandang Rukia dengan wajah tanpa ekspresinya dan membuat Rukia merasa tak nyaman dengan keadaan tersebut. Ayah dan Ibupun merasa tak nyaman dengan keadaan yang tercipta antara Byakuya dan Rukia.

.

.

"em..., Rukia sayang. Apa kau sudah makan?" Tanya Ibu memecah keheningan.

"belum..., Bu" Jawab Rukia dengan sedikit jeda saat memanggil 'Bu'.

"ah... Lebih baik kita makan malam bersama, benarkan Ayah?" Tanya Ibu yang langsung mendapat persetujuan dari Ayah.

"maaf Nyonya, sebaiknya aku undur diri" tolak Byakuya halus.

.

.

"yup, bagus. Pergi saja kau sana, tampan. Kau membuatku gerah" batin Rukia.

.

.

"makan saja disini Kuchiki-san, jangan sungkan. Sebentar lagipun kita akan menjadi keluarga" ucap Ayah bahagia.

.

.

"hah? Keluarga? Sebentar lagi?" batin Rukia.

"bukannya dibatalkan?" lanjut Rukia membatin, mengingat tak adanya komunikasi antar mereka berdua seminggu ini.

.

.

"Ayah, maksudnya apa?" tanya Rukia bingung.

"kedatangan Kuchiki-san kesini untuk menerima pertunangan kalian" jawab Ayah senang.

"ya..., dan dua bulan lagi kalian akan melangsungkan pernikahan" lanjut Ibu menimpali perkataan Ayah dan tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.

.

.

Mendengar hal itu Rukia hanya bisa terdiam, menahan emosi yang ingin diluapkannya saat itu juga karena saat ini ia berada di hadapan tamu orangtuanya, atau lebih tepat disebut tunangannya.

.

.

"dan Kuchiki-san, jangan memanggilku Nyonya ya, tapi Ibu. I... B... U" ucap Ibu memaksa.

"ah, sebaiknya mulai saat ini kita memanggil Kuchiki-san dengan Byakuya saja. Oke?" lanjut Ibu yang tak menghiraukan keadaan disekelilingnya.

.

.

Mau tak mau Byakuya menyetujui permintaan Ibu, karena bagaimanapun ia akan menjadi bagian dari keluarga ini. Sedangkan Rukia, tiba-tiba saja ia merasa pusing dan mual mendengar hal-hal mengagetkan yang terus datang bertubi-tubi dalam waktu yang bersamaan.

.

.

Akhirnya merekapun makan malam bersama. Tak sepatah katapun yang keluar dari mulut Rukia meskipun perbincangan antara orangtuanya bersama Byakuya tetap berlanjut. Rasa pusing dan mual yang tadi menghampiri Rukia kini datang lagi hingga ia tak bisa menghabiskan makan malamnya.

.

.

"Rukia, ada apa? Kau terlihat pucat" tanya Ayah yang menyadari keadaan Rukia.

"kepalaku sakit, A...yah" jawab Rukia yang langsung pingsan saat itu juga.

.

.

Sontak seisi ruangan merasa kaget dan Byakuya dengan sigapnya menangkap tubuh Rukia yang hampir jatuh ke lantai. Iapun menggendong Rukia dan meminta izin dari Ayah untuk membawanya ke kamar.

.

.

Begitu tiba di kamar Rukia, Byakuya melihat ruangan itu dipenuhi pernak-pernik hewan kelinci berbulu putih. Disana terdapat boneka kelinci besar bertuliskan 'CHAPPY' di dadanya. Lebih dari itu, kamar Rukia seperti kamar lainnya. Adanya tempat tidur empuk beralaskan seprai renda, meja belajar, rak buku yang terisi penuh dengan berbagai koleksi bacaan, jendela besar dengan gorden renda rumbai bermotif, lemari pakaian, serta barang-barang pelengkap ruangan lainnya.

.

.

Dengan segera Byakuya meletakkan Rukia di tempat tidurnya dan menarik selimut untuk menghangatkan tubuh Rukia. Dirasainya kening Rukia dengan tangannya.

.

.

"demam" gumam Byakuya.

.

.

Byakuyapun segera memberitahu Ukitake bahwa Rukia demam, dan meminta pelayan membawakannya air es untuk mengompres Rukia. Semalaman Byakuya menemani Rukia yang pingsan dan berusaha menurunkan panas tubuh Rukia dengan sering mengganti kompresnya, serta mengelap keringat yang membasahi tubuh Rukia hingga demam tersebut turun.

.

.

Ketika Rukia membuka mata keesokan paginya, didapatinya kursi belajar serta sebuah baskom kecil berisikan air dan saputangan berada tepat di samping tempat tidur dan buffet dikamarnya.

.

.

Rukia tak ingat apa yang terjadi padanya. Yang ia ingat hanya saat makan malam ia merasa pusing dan mual, serta Ayah yang bertanya padanya. Setelah itu ia tak ingat apa-apa lagi.

.

.

TBC...

.

.

a/n: hallo minna, akhirnya chapter 1 selesai juga... #bangga#. Mungkin banyak readers yang bingung dan sakit mata melihat chapter sebelimnya. Itu semua dikarenakan kurangnya pemahaman saya dalam mengedit di ffn ini. Dalam dokumen saya sih sudah bagus jaraknya, tapi setelah saya publish ternyata oh ternyata... Buat saya sakit mata. Jadi maafkan kesalahan saya ini... #bungkukbadan#.

.

Selain itu, adanya perbedaan tampilan dalam handphone dan komputer juga membuat saya jadi bingung karena saya mengetik fict ini menggunakan handphone. #ngeles# #lemah lesu#.

.

Yup, saatnya saya membalas review dari readers sekalian ya... ^^ #semangat kembali#.

.

Imygie-chan:

Yah... Itulah kekurangan dari saya... Maklum, pendatang baru jd agak kagok juga sama tampilan d ffn... #ngeles#. M... Penjelasannya memang agak kurang, tapi akan Q usahakan lebih baik di chapter ini. Kalau masalah panjangnya cerita... M... Kayaknya tergantung dari ide yang datang deh #plak XD#, jadi maaf ya... Kalau gak sesuai harapan... #bungkuk badan#

Makasih udah meriview... ^_^

.

Zero BiE:

Aih... Nee-chan akhirnya... Akhirnya... Hahahahahaha... Sebenarnya Q udah lama mau buat fict, tapi berbagai kendala menghadang Q jdny yah... Begitulah... #plak XD#

Yup yup, itu perusahaannya Byakuya Coz Q gak bisa mikirin KuchikI yang lain selain Byakuya #peluk2 Byakuya- di bankai XD#. Ichi x hitsu? M... Q usahain deh, tapi Q belum tau di chapter mana hahahaha :D.

Iya ne... Jd agak aneh waktu Q baca ulang, coz kesalahan waktu Q publish... D dokumen aslinya itu dialog udah Q kasi tanda masuk sesi baru, tapi d publish tandanya ilang... Hadeh...

Iya iya, gie ada masukin di fandom bleach jg tuch, Q udah baca kok... . Trus... Makasih udah review ya nee-chan... ^_^.

.

Chibi Dan:

Iya, Q juga kaget liat Rukia marah... Hahahaha... ^_^a tapi demi kelangsungan fictnya gak apa-apa lah... Hehehehe... :D

Ini udah apdet... RnR lagi ya... #giliran maksa#

Makasih udah Review... ^_^

.

PAMILA DE CASTRO:

wah... Saya juga merasa banyak ketidak jelasan di chapter sebelumnya Karena kesalahan saya mempublishnya, saya juga sempat sakit mata melihat jaraknya XD. Tapi semoga di chapter ini PAMILA-san sudah agak jelas membacanya.

Terima kasih sudah meriview ya... ^_^.

.

Ah, saya juga menerima review dalam bahasa Inggris, hitung-hitung belajar juga... Dan saya akan berusaha untuk mengartikannya :D

Untuk yang sudah sudi meriview fict saya ini, saya ucapkan banyak terima kasih. Semoga dengan tata bahasa yang saya gunakan tidak mengurangi kita berkomunikasi.

.

Regards,

Yukishirozakura

.

RnR please... XD