Love U at Our First Meet
.
JungHona
VHOPE
(Jung Hoseok & Kim Taehyung)
MinYoon as Mr & Mrs Jung
NamJin as Mr & Mrs Kim
JR & Ren NU'EST inside
T
Chaptered
.
WARNING : Fanfic ini sudah kurombak berkali-kali, jadi jika terdapat typo yang 'keterlaluan' mohon dimaklumi saja ne.. *tutup muka*
.
.
.
150216
"Hoseokie, kau sudah mengatakannya pada Taehyungie?"
"Eomma! Berhentilah memanggilku begitu!"
Hoseok menyahut panggilan ibunya dari ruang tengah dengan geram. Jujur saja, sudah sebesar ini ibunya masih menggunakan panggilan masa kecil? Hoseok membencinya. Namun berbekal ketakutan akan amukan sang ibu, kini Hoseok mengimbangi sahutan menjengkelkannya ia pun melangkahkan kaki dengan malas ke ambang pintu kamar dan membukanya.
Terlihat seorang pria dengan tubuh kecilnya sedang duduk santai di sofa ruang tengah sembari menontoh Tv dengan sekantung besar cemilan ditangan "Aku sudah mengatakannya kemarin. Lagipula apa yang eomma lakukan? Sudah hampir sore, bukankah eomma harus memasak untuk keluarga Kim nanti?" komentar Hoseok pada ibunya yang terlihat begitu santai dengan kaus putih yang senada dengan kulit sang ibu dan jeans panjang berwarna old blue.
Terkadang Hoseok tak habis pikir, bahkan umur ibunya ini sudah hampir menginjak kepala empat, tapi ia bahkan lebih pantas jika di katakan sebagai adik Hoseok. Lihat saja penampilan nya, sangat keren dan modis. Tidak seperti Hoseok sekarang yang hanya menggunakan T-shirt putih tipis dan short pants berwana hitam.
Kadang Hoseok akan merapalkan kata tentang 'ngidam' apa neneknya dudu saat mengandung ibunya. Atau terkadang juga Hoseok hanya bisa mengagumi dari hati 'The power of cosmetic' agakanya begitu.
"Aku pulang~"
Sapaan dari pintu depan mengalihkan pandang ibu dan anak itu. Seorang pria dengan setelan jas berwarna hitam dan kemeja biru lautnya itu melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah. Si ibu –Yoongi segera berjalan kearah pria itu –suaminya, Jimin. "Bagaimana? Mereka akan datang?" Jimin tiba-tiba langsung bertanya tentang perihal undangan mereka pada keluarga Kim itu.
Yoongi menggeleng setelah berhasil meraih mantel Jimin "Ani, mereka belum mengabari sejauh ini. Tapi setidaknya Hoseokie sudah memberitahu mereka." Hoseok kembali mendengus geram saat ibunya kembali memanggilnya dengan sebutan 'Hoseokie' dan langsung masuk kedalam kamarnya.
"Kau pikir mereka akan setuju?" tanya Jimin, Yoongi melirik kearahnya dengan tatapan bingung "Hoseok dan Taehyung." lanjut Jimin kemudian "Ku pikir dengan melihat hubungan mereka selama ini, ku rasa akan baik-baik saja" ucap Yoongi "Aku hanya berharap semoga mereka tidak menganggap ini sebagai lelucon seperti saat Hoseok dan Taehyung kecil dulu."
"Semuanya akan baik-baik saja sayang.. yakini dirimu." ucap Jimin mengelus pipi mulus Yoongi, berniat memberi suntikan semanagat pada istrinya.
.
.
"Aishh.. Hyung! Kau bermain curang!"
"Tidak ada yang nama nya curang dalam dunia game! Hahahaha!"
Seokjin menggeleng kepala heran. Di saat ia dan suaminya sedang sibuk bersiap-siap, dua anak ini malah asyik bermain playstation dengan penampilan yang masih terbilang kacau "Astaga kalian berdua! Berhentilah bermain game dan bersiap-siap!" perintah Seokjin emosi, namun tak satupun dari kedua kakak-beradik itu menolehkan sedikit kepala mereka dari layar Tv pada ibu mereka.
"Bersiap-siap untuk apa eom-.. Ah eomma..!"
"Eishh eomma..!"
Seokjin yang sudah terlanjur geram segera mencabut sambungan playstation mereka dengan cepat "Tae, bukankah kemarin kau yang bilang jika orang tua Hoseok mengundang kita ke rumah mereka?" tukas Seokjin. Taehyung menampar dahinya sendiri "Ah! Geure! Eomma gomawo! Aku akan bersiap-siap sekarang!" ujar Taehyung "Kookie-ya, ppali kajja!" ajak Taehyung menarik adiknya. Jungkook mengerjap imut "Ingin kemana?" tanya nya "Astaga, kita harus segera bersiap. Kita akan ke rumah Hoseokie-hyung."
"Jigeum?" ulang Jungkook "Eishh.. ne ne ne." tak lama, Taehyung langsung menarik Jungkook berdiri dan memasukkan anak itu dan dirinya sendiri kekamar masing-masing.
"Mereka sudah siap?" seorang pria dengan tubuh semampai tiba-tiba datang dari arah pintu garasi, Seokjin mendengus kesal "Aku bahkan bersumpah jika mereka belum melepas celana" Jawabnya dengan emosi. Suaminya –Namjoon hanya bisa tertawa dan mengelus pundak istrinya itu. "Kita benar akan naik kereta kesana?" tanya Seokjin memastikan.
"Hng, wae? Kau tidak menyukainya?" Seokjin menggeleng menjawab pertanyaan Namjoon "Tidak, hanya tumben." Namjoon tersenyum jahil, hingga dimple di kedua pipinya terlihat jelas dimata Seokjin. Namjoon pun lebih mendekat pada Seokjin "Aku hanya ingin mengenang tempat pertama kita bertemu dulu." godanya kemudian.
"Heghh.." Seokjin memutar bola matanya jengah, tapi kemudian juga ikut tersenyum lebar.
"Sudahlah, kita tunggu diteras saja. Terkecuali kedua anak itu, apa ada yang tertinggal?" Seokjin menggeleng dan mengelus telapak tangan suaminya, lalu berjalan beriringan menuju teras.
.
Beep.. Beep..
Taehyung menoleh pada layar ponselnya yang berkedip-kedip beberapa kali. Sebuah kemeja berwarna blue sky ia letakkan kembali pada tempatnya semula di lemari dan berjalan mengambil ponselnya di atas kasur.
'Hoseok-hyungie is calling..'
Taehyung berkedip beberapa kali, ini kali pertama Hoseok menelponnya. Maksudnya.. selama ini hanya Taehyung yang selalu menelpon Hoseok terlebih dulu.. atau Taehyung yang akan mengirim pesan agar Hoseok menelponnya. Tapi kali ini, anak itu menelpon dengan sendirinya.
Apa Taehyung boleh gugup sekarang?
"N-ne.. yobuseo?"
"Kenapa aksenmu kaku begitu?"
Jujur, tangan Taehyung bahkan mulai tak bisa dikendalikan sekarang. Tangannya bergetar "A-ah.. aniyeo, hyungie pasti salah dengar. Ah! Ada apa hyungie?" Taehyung berusaha menutupi kegugupannya. Entah kenapa untuk kali ini perasaannya tidak enak sedari kemarin saat Hoseok mengatakan jika orang tuanya ingin bertemu dengan orang tua Taehyung.
Memang.. setiap liburan, dua keluarga itu akan menghabiskan waktu bersama layaknya sebuah keluarga besar yang dihubungkan oleh Yoongi dan Namjoon. Tapi untuk kali ini kenapa semua terdengar melankolis untuk Taehyung? "Eomma menanyakan tentang kalian. Apa kalian akan kemari atau tidak?" tanya Hoseok dari seberang sana.
Taehyung menyamankan posisi duduknya ditepian kasur, sesekali ia melirik kearah jendela kama nya yang langsung menampakkan halaman depan rumahnya. Di sanalah ia melihat orang tuanya sudah berada "N-ne.. kami akan kesana. Baru saja akan berangkat. Mungkin kami akan sampai agak sore." jelas Taehyung. Hoseok terdengar bergumam pelan di seberang sana.
"Baiklah. Semoga kalian baik-baik saja selama perjalanan. Dan sampai jumpa"
"Ne."
"Akan ku tutup duluan, Jonghyun menelpon."
Taehyung mendengus kecil saat nama Jonghyun disebutkan. Ia tahu jika Jonghyun adalah sahabat sekaligus partner dance Hoseok. Tapi kenapa anak itu selalu ada saat Taehyung hanya ingin berdua dengan si Hoseok itu? "Ne." Taehyung hanya menjawab singkat dan langsung memutuskan sambungan lebih dulu.
Wajahnya menekuk, dan ponselnya ia banting pelan di atas kasur miliknya dan berjalan kembali ke depan lemari. Memakai pakaian seadanya, karena jujur, mood Taehyung sudah berbeda sekarang "Hyung? Sudah siap?" kepala Jungkook menyembul di balik pintu kamar Taehyung. Namja itu mengangguk sekilas dan menyabet tas selempang hitamnya.
.
.
"Hm? Ada apa Hyun-ah?"
"Seok, kenapa aku tidak melihatmu di club hari ini? Semua mencari mu."
Hoseok memainkan kursi belajarnya kekanan dan kiri, terlihat jika wajahnya sedikit merengut "Mian Hyun-ah. Katakan pada semua jika hari ini aku absen." tukas Hoseok "Mwo? Kenapa kau absen? Jangan katakan jika kau sedang cidera." balas Jihyun dari seberang telepon. Hoseok menggeleng pelan dan menghela nafas "Ini lebih menakutkan dari sekedar cidera." ujar Hoseok hiperbolis.
"Mwoya?" Jonghyun bertanya "Eommaku tidak mengizinkanku keluar rumah seharian ini karena Taehyung dan keluarganya akan datang sore ini." jelas Hoseok. Jonghyun terdengar sedang tertawa disana, Hoseok mengernyitkan kedua alisnya "Kenapa kau tertawa?" tanya Hoseok "Karena Taehyung lagi? Kau bisa saja katakan pada eommamu jika kau akan pulang sejam sebelum mereka datang kan?" saran Jonghyun.
Hoseok beranjak dari kursi belajarnya dan membuka pintu kaca besar yang terhubung dengan balkon kamar. Ia berjalan pelan di sana, lalu menyederkan lengannya pada jeruji besi pagar balkon "Seandainya eommaku percaya." ujar Hoseok mendengus "Sayangnya, eommaku sudah terlalu percaya jika aku akan lupa waktu dan pulang larut malam jika sudah pergi berkumpul dengan kalian. Bahkan appaku juga sengaja pulang kerja lebih awal untuk ini"
Jonghyun kembali terdengar tertawa, lebih kencang "Yak Hoseok-ah.. kau yakin hubunganmu dengan Taehyung hanya akan seperti ini selamanya?" tanya Jonghyun "Apa maksud mu." sahut Hoseok "Cih! Aku malas berurusan dengan mu tentang hal ini. Ini urusan mu." jawab Jonghyun. Hoseok baru saja ingin menanyai maksud anak itu lagi, tapi sambungannya sudah terlanjur di putus sepihak oleh Jonghyun.
"Hoseok-ah.. cepat bersiap-siap. Setengah jam lagi keluarga Kim akan sampai." ujar Jimin yang menyembul masuk ke kamar Hoseok namun masih setia berdiri di ambang pintu "Mwo?! Aku baru saja bicara dengan Taehyung sepuluh menit yang lalu." Sahut Hoseok terperangah "Jangan sok kaget begitu, mereka kemari menggunakan kereta." jawab Jimin tertawa renyah.
Hoseok mengacak rambutnya agak frustasi ntah karena apa "Kau tidak suka jika keluarga Kim kamari?" tukas Jimin datar saat menyadari keadaan anak semata wayangnya yang terlihat kurang baik "Bukan begitu abojhi.. hanya saja.. sebenarnya apa yang akan kalian bicarakan? Kenapa aku sampai tidak tahu? Maksud ku, aku curiga jika ini ada kaitannya denganku. Jika tidak kalian tidak akan melarangku ke club dance-ku hari ini." heran Hoseok berjalan mendekat pada ayahnya. Jimin kali ini tidak memperlihatkan senyum bulan sabitnya, wajahnya terlihat tenang namun sarat akan keseriusan "Kita bicarakan ini nanti. Kau bersiap-siap saja."
"Tapi abojhi-.."
Blam!.
Putusan final dari Jimin membuat Hoseok mendecih kecil. Sungguh ia benar-benar penasaran dengan hari ini.
.
.
14.57 p.m KST
"Namjoon!"
Seorang pria dengan mantel coklat tua memutar arah tubuhnya beberapa derajat ke samping. Ia mendengar jika namanya baru saja diteriakkan seseorang. Ya, dia yang sekarang berjalan mendekat kearahnya "Hei pak tua." ejek orang itu pada Namjoon. Namjoon tertawa renyah "Kau sendiri bagaimana? Anakmu bahkan akan menjadi Mahasiswa tapi penampilanmu seperti anak SMA jaman sekarang. Jika seseorang menyukaimu, bagaimana reaksi Jimin nanti nya?"
Orang itu –Yoongi mendecih tak suka lalu mengalihkan pandang pada seorang namja angelic yang lebih tinggi beberapa centi darinya "Kalian pasti lelah, aku sudah memarkir mobilku di dekat sini. Ayo." ajaknya "Mobilmu atau mobil Jimin?" ejek Namjoon dengan penekanan pada kata benda mobil "Pada intinya milik suami juga milik istri, tapi milik istri bukan milik suami" Balas Yoongi tak mau kalah.
"Yoongi-eomma, apa Hoseok-hyungie tidak ikut?" tanya Taehyung menyuara, langkahnya berusaha menyamai langkah cepat Yoongi di depan orang tuanya. Yoongi tersenyum dan mengusap pipi mulus Taehyung hangat "Mianhae Taehyungie.. ada sesuatu yang harus Hoseok lakukan. Tapi percaya pada eomma, saat kita sampai di rumah nanti, Hoseok sudah ada disana."
Taehyung hanya bisa mengulas senyum simpul dan mengangguk mengerti. Yang ia curigai, apa sesuatu itu menyangkut dengan Jonghyun? Karena jujur saja, dengan mood yang kacau begini, kemungkinan tak masuk akal sekali pun bisa Taehyung pikirkan dengan serius.
.
.
Hening
Satu kata yang bisa menggambarkan keadaan ruang keluarga yang dihuni dua manusia itu.
"Abojhi.. apa yang ingin abojhi katakan?" ucap sang anak yang mulai jengah dengan keheningan, karena ia sungguh tak terbiasa dengan suasana hening. Ia lebih terbiasa dengan dentuman keras musik di ruang kedap suara yang akan membuat persendiannya bergerak dengan sendirinya sesuai irama.
Yang lebih tua menghela nafas dan mempersiapkan dirinya "Hoseok-ah.. apa kau memiliki pacar?" ucap sang ayah tiba-tiba, terdengar serius dan menuntut akan jawaban "Apa aku pernah mengenalkan seseorang pada kalian selain Kim Jonghyun?" balas Hoseok berbalik tanya.
"Aku serius Jung Hoseok" Hoseok mendengus, jika sudah begini ayahnya akan benar-benar terlihat mengerikan "Tidak." jawab Hoseok singkat "Lalu bagaimana dengan Taehyung?" Hoseok mendelik bingung "Siapa yang kau tanya abojhi? Manaku tahu apa nak itu punya pacar apa tidak" sungut Hoseok "Sebanyak yang kutahu anak itu hanya membuntutiku selama jam istirahat." Lanjutnya.
"Nak.. apa yang abojhi ingin ka-.."
"Kami pulang~..!"
Jimin dan Hoseok sama-sama keluar dari ruang tengah dan berlari kecil menuju pintu utama di mana 5 orang namja dengan usia berbeda-beda sedang melepaskan sepatu masing-masing "Wahh~ ini pertama kalinya kalian berkunjung selain liburan panjang." sambut Jimin ramah. Jimin meraih pelukan Namjoon dan menepuk punggung sohib istrinya itu pelan, lalu bersalaman dengan Seokjin di samping Yoongi.
Sementara itu, Taehyung bergeming diposisinya. Matanya terus mengarah dan jatuh tepat di retina Hoseok yang berdiri tak jauh dari ayahnya. Keduanya saling menatap tanpa ekspresi, seakan berusaha menafsirkan apa kejadian ini adalah nyata. Dan di sana Jungkook melihat keduanya dan tersenyum imut, sengaja ia menyikut lengan hyungnya dan yang membuat namja dengan senyum kotak itu mengedarkan pandangannya kearah lain.
Jimin menuntun mereka ke ruang keluarga, sedangkan Yoongi sudah pergi sedari tadi ke dapur untuk mengambil beberapa cemilan "Yak.. sekarang uri Kookie sudah menjadi siswa SMP~" goda Hoseok mengusak rambut Jungkook. Jungkook terkekeh dan melakukan Hi-5 dengan Hoseok "Dan sebentar lagi hyung juga akan jadi Mahasiswa~" goda Jungkook balik.
Sekarang Jungkook sudah lebih terbuka pada Hoseok, tidak seperti saat mereka pertama bertemu dulu. Bahkan anak itu dalam beberapa momen akan terlihat sangat bahagia jika berhasil menjahili Hoseok "Jimin-ah, kudengar dari Taehyung jika kau dan Yoongi-hyung meminta kami datang untuk membicarakan sesuatu. Apa begitu penting?" tanya Namjoon yang mengambil tempat duduk dihadapan Jimin, dan begitu pun yang lain. Yoongi duduk bersebelahan dengan Seokjin lalu Taehyung, Jungkook, dan Hoseok.
"Ne, Joon-ah.. sebelumnya aku ingin minta maaf karena.. aku yang ingin bicara tapi malah kau yang jauh-jauh kemari." sahut Yoongi "Andai saja jika Jimin bisa mengambil cuti beberapa hari ke depan, sekarang saja tugasnya pasti sudah menumpuk di kantor. Tidak senyaman kau yang seorang Presiden perusahaan." lanjutnya.
"Sayang.. tenang saja, aku sudah menyerahkannya pada manajerku. Besok saja mungkin aku hanya harus meeting dengan beberapa klien sebentar." sahut Jimin "Yak, yak, yak.. kenapa malah membicarakan perkerjaan sekarang? Yoongi-ya, aku benar-benar penasaran." ujar Seokjin agak mengoyangkan bahu si Nyonya Jung itu yang memang lebih muda darinya.
Jimin menilik anak tunggalnya sekilas, yang masih dengan pandangan mata menuntut penjelasan darinya. Jimin menghela nafas berusaha menenangkan diri "Begini Hyung.. kau ingat dengan pembicaraan kita tentang perjodohan 11 tahun lalu?"
Seakan terkena tembakan telak. Semua orang terkecuali Yoongi dan Jimin mendadak berwajah pucat. Bukan seperti takut atau apa, tapi benar-benar kaget "Perjodohan?" ulang Seokjin "Ne, kita pernah membicarakan ini. Dan kita berdua sepakat jika masalah ini akan kembali kita bicarakan saat anak-anak kita mencapai umur yang pas." angguk Yoongi.
"Perjodohan? Anak? abojhi, eomma, ada apa ini?" Taehyung mulai panik sendiri, berbeda dengan Hoseok yang nampak santai namun tak memungkiri jika ia juga begitu kaget. Seokjin menoleh pada anaknya dengan tatapan teduh, berusaha menenangkan kepanikan anak sulungnya walau hanya sebuah telepati sia-sia "Kau masih mengingat nya Jimin?" kini Namjoon ikut menyuara.
Yoongi menunduk diam. Inilah yang ia takutkan, ia takut jika pembicaraan mereka 11 tahun lalu itu hanya dianggap candaan belaka oleh pasangan Kim itu "Kami hanya ingin mengingatkan apa yang pernah kita ucapkan dulu Hyung.. tidak bermaksud memaksa, karena pada dasarnya yang sedang kita jodohkan itu anak-anak kita." sahut Jimin mantap.
Namjoon menoleh pada Taehyung yang duduk berjauhan darinya, lalu memanggil anak itu untuk duduk diantara ia dan Seokjin. Hal yang sama juga terjadi pada Hoseok, namun namja itu hanya sudi duduk di samping ibunya. Bukan ingin menjauhi Jimin atau apa, Tapi remaja laki-laki berusia 18 tahun duduk ditengah-tengah orang tuanya selain foto keluarga? Bukankah terdengar agak lucu?
Namjoon mengelus pundak putra sulungnya dengan hangat, mencoba menenangkan perasaan anaknya, begitu pula dengan Seokjin yang ikut mengelus punggung tangan Taehyung "Tae.. abojhi ingin bertanya. Apa kau.. menyukai Hoseok? Maksudku, apa kau mencintainya?" ucap Namjoon sarat akan rasa ingin tahu tentang perasaan anaknya.
Taehyung hanya diam menunduk. Ia sudah tak berani menatap wajah Hoseok dengan lantang seperti biasanya. Bahkan kegugupannya semakin terlihat saat anak itu mulai menggigit bibir bawahnya "A-ah.. eum.. Ak-aku-"
"Aku permisi sebentar."
Semua pasang mata tertuju pada Hoseok yang melenggang pergi keluar dari rumah menuju halaman belakang "Hoseok! Neo eodiya? Yak! Jung Hoseok!" Seokjin langsung beralih dari duduknya dan menenangkan Yoongi yang menatap punggung anaknya yang menjauh dengan tajam "Yoongi-ah.. tenanglah. Aku yakin Hoseok masih terkejut saat ini. Biarkan dia sendiri, dia mungkin ingin menafsirkan kejadian hari ini sendiri."
Jungkook melirik ke pintu kaca besar di belakangnya, Hoseok terlihat diam di pinggiran kolam sambil sesekali memainkan kakinya di dalam air. Kemudian Jungkook melihat hyungnya yang masih menunduk lemah di sampingnya, ia menggerakkan tangannya meraih ujung sweater cream yang dipakai Taehyung.
Taehyung agak melirik pergelangan tangan Jungkook dari balik bajunya, lalu menatap anak itu. Jungkook sama-sekali tak berbicara, hanya menggerakkan kepalanya ke samping. Taehyung benci ini, saat adiknya sudah bermain kode begini. Namun Jungkook kembali menggerakkan kepalanya ke halaman belakang dengan memajukan sedikit dagunya beberapa kali.
Baiklah, untuk kode ini Taehyung sangat paham. Mata dengan bulu mata lentik itu ia alihkan ke halaman belakang yang menemukan sosok Hoseok di sana, duduk diam di pinggir kolam. Ada sedikit perasaan campur aduk dihatinya, ada rasa takut, senang, terkejut, dan gugup. Tapi Taehyung tak tahu untuk apa dan kenapa semua perasaan itu.
"Eomma, abojhi, Yoongi-ahjuma, Jimin-ahjussi.. aku permisi sebentar." tapi biarpun dengan perasaan gelisah itu, nalar Taehyung tetap memaksa tubuhnya untuk beranjak pergi.
.
Entah sudah helaan nafas keberapa kali yang Hoseok buang percuma di udara dingin sore yang semakin menggelap. Perjodohan? 11 tahun lalu? Baiklah, ia sadar benar jika pertama kali ia bertemu dengan Taehyung terjadi 11 tahun lalu. Tapi tentang apa saja yang terjadi, orang mana yang akan ingat?
Pcik.. pcik,,
Bunyi percikan kecil air agak terdengar ditelinga Hoseok bersamaan dengan masuknya sepasang kaki jenjang seseorang di sampingnya ke dalam kolam. Itu Taehyung, menatap lurus pada pagar beton putih di seberang kolam. Hoseok tak berani berbunyi, atau memang tidak ingin "Hyung.." Hoseok menolehkan kepalanya pada Taehyung yang barusan memanggilnya, namun anak itu sama-sekali tidak mengalihkan pandang dari dinding.
"Hyung menyukai seseorang?" gamblang. Taehyung menanyakannya dengan lantang dan lancar "A-apa maksud mu Tae?" degup jantung Hoseok tiba-tiba terasa memompa lebih cepat, ia tidak dituduh, tapi kenapa rasa nya seperti dituduh –Hoseok tidak suka-. Taehyung tersenyum dan memainkan kedua kakinya yang ia celupkan sebatas lutut di dalam air kolam "Kau memakai nya? Kalung yang ku beri kemarin." tanya Taehyung.
Hoseok mengangguk ragu, ujung jari telunjuk kanannya ia arahkan keleher dan menarik sesuatu keluar. Sebuah kalung dengan hiasan stainless steel kecil berbentuk feather yang diberikan Taehyung kemarin. Taehyung terkikik melihatnya, Hoseok terlihat begitu polos dan nampak curiga, lalu Taehyung juga meraih suatu benda yang melingkar dilehernya.
Benda itu keluar dari persembunyiannya di balik kerah sweater Taehyung. Sebuah kalung yang hampir sama dengan milik Hoseok, namun milik Taehyung berwarna layaknya perunggu, bukan perak seperti Hoseok "Hyung, aku sengaja membelinya. Bukan karena dance-mu. Tapi karena kita." Taehyung mulai berucap, mengindahkan tatapan menuntut penjelasan dari Hoseok.
Taehyung menggeser sedikit pantatnya merapat pada Hoseok, sungguh hanya sedikit, karena ia tahu jika Hoseok sedang ingin jauh darinya saat ini "Kau mungkin tdak ingat apa yang terjadi sebelas tahun lalu. Tapi aku ingat, hyungie." ujarnya mengulas senyum lembut. Dialihkan wajahnya yang semula menatap Hoseok dan lebih memilih membuang napas sedikit sembari mengitung burung yang lewat di langit jingga sore.
"Ini tidak seperti aku terus mengingatnya sejak pertama kali aku mengatakannya tapi.. aku kembali teringat kata itu 3 tahun lalu. Aku sangat ingat bagaimana polosnya aku sebelum memperkenalkan diri malah mengatakan jika aku menyukaimu, bagaimana kita bermain rumah-rumahan, dan bagaimana kau menolakku saat aku mengatakan jika aku menyukaimu saat itu."
Taehyung tersenyum getir. Mengingat masa lalu yang satu ini memang selalu membuatnya tersenyum –biasanya. Tapi kenyataan jika Hoseok mungkin menolaknya kembali saat inilah yang Taehyung takutkan "Aku tidak tahu kenapa aku selalu gelisah menunggu masa liburan untuk berlibur bersamamu dan keluarga kita, dan merasa seperti aku orang paling bahagia di dunia saat aku berhasil masuk ke sekolah yang sama denganmu." Taehyung tertawa renyah.
"Dan kau tahu hyungie? Saat aku-.."
"Taehyung-ah."
"Ne?."
"Kau mencintai ku?."
"Ahh~ aku ketahuan.".
Taehyung menggerakkan asal kedua kakinya di dalam kolam, berekpresi jika ia sedang kesal. Namun lain lagi dengan Hoseok yang terlihat geram menahan emosi "Aku sedang bertanya serius pada mu Kim Taehyung." jelas sekali jika nada bicara Hoseok terdengar sangat tegas dan menuntut, itu cukup membuat Taehyung meremang.
Taehyung menaikkan kedua kakinya lalu duduk bersila menghadap Hoseok yang masih setia menatapnya tajam penuh pertanyaan "Aku tidak pernah berbohong pada hyungie, saranghae, jeongmallo." sekali lagi, Taehyung berbicara dengan gamblang "Tidak pernah? Kau bahkan berbohong tentang ka-.."
Chu~
"-lung ini.."
Hoseok menutup bibirnya, sedangkan Taehyung sudah membelakangi namja itu. Jangan biarkan Hoseok melihat wajah merahmu Tae! Sebenarnya ini tidak seperti Taehyung mencium Hoseok tepat dibibir. Ini bahkan tidak bisa di katakan sebuah ciuman. Kenapa? Karena Taehyung hanya mengecup singkat sudut bibir Hoseok, itu saja. Jadi masalah first kiss? Tidak ada yang kehilangan itu disini.
"A-a-aku.. a-a-aku b-bersungguh-sungguh kau tahu?! A-aku tidak peduli jika kau menyukai si J-j-jo.. eishh! A-aku tidak peduli jika kau menyukai si Jonghyun itu. Y-yang kutahu, t-tentang perjodohan ini a-aku menerimanya. T-tinggal kau saja."
Huhuhu.. lihat bagaimana gugupnya anak itu? Sungguh menggemaskan.
Srakk..
"Kalian berdua, ayo masuk. Di luar sangat dingin, makanlah cemilan sementara aku akan membuat makan malam dengan Yoongi." itu Seokjin, matanya mendelik heran pada keadaan dua anak itu. Sempit terbesit pikiran bermaca-macam dipikirannya, tapi setelah Taehyung langsung menyambar masuk ke dalam rumah, saat itulah Yoongi memanggilnya untuk segera ke dapur.
.
.
Hari mulai menjelang malam. Dan kini Hoseok berdiri bersender pada pinggir pagar rumahnya. Menatap malas pada segerombolan orang di hadapannya –orang tuanya, ahjusi dan ahjuma Kim, Jungkook, dan si 'calon tunangan' nya itu –mungkin. Ayahnya memutuskan untuk mengantar keluarga Kim ke stasiun kereta.
"Kenapa kalian tidak menginap saja? Lagipula besok hari libur kan?" itu Yoongi yang bersikukuh menahan tamunya "Mian Yoongi-ah. Tapi aku hanya merasa akan tidak enak jika kami menginap dengan keadaan.. mereka yang canggung begini." balas Seokjin menekan pada kalimat 'mereka'. Yoongi menghela napas lesu, baiklah ia akan memaklumi itu.
"Baiklah, lima belas menit lagi kereta kalian akan sampai. Aku pergi sebentar ne?." Jimin berpamitan dengan istri dan anak nya. Yoongi hanya bergumam 'hati-hati dijalan' sedangkan Hoseok mengangguk singkat.
"Tae." Hoseok menyuara pelan dan tegas, Taehyung yang akan masuk ke mobil terhenti dan menoleh pada Hoseok yang berjalan mendekat padanya "Soal yang tadi sore.." Hoseok menggaruk tengkuknya sedangkan Taehyung malah meneguk salivanya kasar. Yang terputar di otak Taehyung hanya kejadian –hampir ciuman itu.
"Aku hanya ingin bilang kalau aku tidak menyukai Jonghyun. Demi apa, kemana pikiranmu?" ucap Hoseok jengah "Hyung! Cepat masuk! Udara di luar mulai masuk ke mobil!" Taehyung tersentak dengan bentakan Jungkook dari dalam mobil. Lekas Taehyung masuk tanpa menatap Hoseok lagi.
Dan saat mobil sudah berjalan menjauh, Taehyung baru mengingat sesuatu, tentang apa yang ia ucapkan tadi sore sampai Hoseok bicara seperti itu. Dengan cepat ia buka kaca hitam pintu mobil milik keluarga Jung itu, dan menyembulkan kepalanya keluar "AKU MEMBENCIMU HOSEOK-HYUNG..!" teriakan Taehyung yang kencang membuat Yoongi agak tersentak dan tertawa saat wajahnya ia alihkan pada putranya yang malah melambaikan tangan dengan jahil.
.
.
"WHAT?!"
"Yak!"
Hoseok menarik paksa Jonghyun untuk kembali duduk. Suara riuh kantin di jam makan siang bahkan tak bisa mengalahkan gemuruh suara Jonghyun "Kau? Kau dan anak itu? Kalian di tunangkan?" Jonghyun menatap sahabatnya itu dengan wajah yang terlalu dibuat-buat, Hoseok bernafas jengah "Ini baru rencana, dengar? Karena pada dasar nya semua persetujuan ada pada ku sekarang."
"Bagaimana dengan anak itu?" Hoseok mendengus sebal "Dia punya nama okay? Dan namanya Kim Taehyung." karena Jihyun terus menyebut 'anak itu' untuk menggambarkan Taehyung "Ah mian. Jika keputusannya ada padamu, lalu bagaimana dengan Taehyung? Bukankah rasanya dia tidak diberi hak pilih?" Balas Jihyun kembali mengaduk mie-nya yang mulai dingin "Tidak, anak itu bahkan menerima nya."
Brushh!
Na'as sekali suapan mie pertama Jonghyun yang kembali keluar setelah berada sedetik dimulutnya "Ada apa dengan mu?!" sungut Hoseok heran sambil membuka tutup botol minuman –membantu Jonghyun yang tersedak mie "Jadi semuanya tinggal tergantung padaku. Jika iya, maka pertunangan kami akan dilakukan beberapa hari setelah itu, jika tidak.." Hoseok bernapas lesu "Aku juga tidak tahu bagaimana menolak nya."
"Uhuk! Uhuk! Kau.. kenapa tidak menerima saja? Lumayan kan? Taehyung anak yang manis." asumsi Jihyun, Hoseok mendelik jengah "Eishh jangan samakan aku denganmu. Aku bukan orang yang mengencani seseorang hanya karena dia good-looking."
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Kau tidak bisa menolak, juga ragu untuk menerima." ucap Jonghyun malas dan kemudian bergumam tentang mie dinginnya "Saranku, lebih baik kau pilih hal yang meragukan daripada kau melakukan hal yang sudah kau tahu tidak bisa." lanjutnya menepuk pundak sahabatnya yang tengah gusar itu.
"Lagipula, hey! Ini hanya sebuah pertunangan, ini tidak begitu serius dibandingkan pernikahan. Jika setelah pertunangan kau masih belum menyukai Taehyung, tinggal batalkan saja. Mereka yang sudah menikah saja bisa bercerai saat salah satu dari mereka tidak merasakan apa-apa lagi." ucap Jihyun final, lalu pergi lebih dulu dari Hoseok.
Dan omong-omong, Hoseok tidak melihat si sulung Kim itu sedari tadi.
.
"Yak."
"Gomawo Minki-ya.."
-Minki hanya tersenyum kecil, lalu menarik kursinya mendekat ke meja di belakangnya –meja Taehyung. Minki baru saja menyerahkan sekotak bento instan pada Taehyung, alibinya remaja Kim itu sedang malas untuk menggerakkan kaki kemana pun. Dan Minki bukanlah sahabat yang kejam, mau tidak mau ia malah membeli dua bento instan untuknya dan Taehyung.
"Tumben sekali kau tidak ingin berkeliaran mengikuti sunbae itu. Apa kakimu semacam terkilir atau semacam nya." ledek Minki, Taehyung yang sedang membuka plastik sumpitnya mendengus "Tidak, aku sedang tidak berani melihatnya~" rajuk Taehyung "Aigoo~ kiyeowo~ kau tidak berani melihatnya apa karena perjodohan itu atau.." Minki memicingkan mata, namun senyum manisnya berubah mengerikan dimata Taehyung.
"Karena ciuman itu?"
"Minki-ya! Aku sudah katakan itu bukan ciuman! Yang kucium itu ujung bibirnya.."
Ya, namja dengan name-tag Choi Minki itu tahu seluk-beluk cerita tentang perjodohan Taehyung, karena anak itu menceritakannya sendiri "Hngg~ aku takut ia menolaknya lagi kali ini~" rajuk Taehyung sekali lagi, bahkan anak itu mulai menggigiti ujung sumpit kayunya dengan tatapan bagai anak anjing yang terlantar.
"Kalian bukan anak kecil lagi Tae.. kalau pun dia menolakmu lagi kali ini, setidaknya dia sudah berfikir dengan matang.."
"Jin-"
"Mungkin."
"-ja.."
Taehyung mendecih kesal "Kau sama sekali tidak membuat moodku naik setengah persen p-hmph!" Minki yang sudah jengah langsung memasukkan satu tomat utuh ke dalam mulut Taehyung.
"Sudahlah makan saja, berisik!"
.
.
Keadaan parkiran sekolah mulai sepi. Hanya terdapat beberapa anak yang mungkin sedang menerima kelas tambahan atau semacamnya. Tapi salah satu dari alasan mereka masih menetap di sekolah itu bukanlah alasan bagi pemuda ini. Ia terus menyandarkan diri disamping motor sport berwarna silver-green kesayangannya.
Jonghyun –sahabatnya itu sudah lebih dulu pergi meninggalkan sekolah setelah Hoseok mengusirnya pergi.
Flashback
"Hey Tuan Jung! Menunggu istrimu kah?"
"Diam kau!"
"Pikirkan apa yang kukatakan tadi siang. Aku ini, sebagai sahabatmu ingin kau bahagia, kawan."
"Baiklah! Baiklah! aku akan mempertimbangkannya."
"Nah~ begitu! Jadi sekarang, apa aku perlu menemanimu menunggu Nyonya muda Jung?"
"Aku akan memukul kepalamu jika kau tidak pergi sekarang juga!"
Flashback end
Hoseok tidak tahu harus berpikir bagaimana. Ia YAKIN jika hatinya tidak memilih Taehyung untuk tinggal, tapi entah kenapa Hoseok juga tak ingin melepas anak itu jauh darinya. Pikiran Hoseok semakin liar bercabang, kenapa, siapa, dan bagaimana. Ketukan ujung kunci motor yang ia pegang semakin kuat mengetuk body motornya.
"Sunbae!"
Hoseok terjengit kuat hingga kunci motor digenggamannya jatuh. Orang di hadapannya tertawa lalu membungkuk mengambilkan kunci motor Hoseok yang tergeletak di lantai parkiran "Tae.. hyung.." cicit Hoseok saat melihat sosok itu berdiri.
Minki kembali menegakkan tubuhnya dan mengulurkan tangan memberi kunci motor itu kembali pada Tuannya "Sunbae, chongsohamnida. Tapi hari ini aku ada kegiatan ekskul. Jadi Taehyung tidak bisa pulang denganku." ucap Minki cemberut "Kau adalah orang yang kutahu sangat dekat dengan Taehyung. Bisa kau antar dia pulang? Aku sudah menelpon Seokjin-ahjuma jika dia akan pulang denganmu." lanjutnya dengan senyuman ringan.
"Minki-ya.."
"Mwo?!"
"Ah sunbae tidak bisa ya? Bagaimana ini, aku tidak bisa membiarkan Taehyung sendiri sementara aku sedang ekskul."
Minki mengerucutkan bibirnya. Hoseok nampak masih shock, sedangkan Taehyung terlihat takut-takut di balik tubuh mungil sahabat yang sama tinggi sepertinya. "Hyu-Hyung.. pulang saja. Aku akan naik bis saja.." cicit Taehyung tersenyum takut-takut.
"Kau pikir ini jam berapa? Jika kau pulang naik bis, kau harus menunggu 30 menit, Taehyung!" sungut Minki menggoyang kedua bahu Taehyung "Baiklah, Taehyung.. kau ikut aku." Hoseok menginterupsi "Dan kau.."
"Choi Minki imnida."
"Ah ya, Minki-ssi, kau bisa pergi ke ekskulmu sekarang." lanjut Hoseok mempersilahkan Minki. Mata anak itu bersinar senang "Baiklah kalau begitu! Hoseok-sunbae! Aku titip uri Taehyung padamu ne? Bye!" dengan begitu, Minki pergi menjauh dan berlari kencang meninggalkan dua insan yang terdiam kaku di area parkiran.
"Neo.. hmm.. kajja." Hoseok menaiki motornya lalu menyalakan mesin motor yang sedikit berbunyi nyaring menggema di dalam gedung parkiran. Taehyung berjalan agak takut-takut, lalu duduk di belakang Hoseok "Ini, pakai ini." Hoseok menyodorkan sebuah helm yang biasa ia gunakan pada Taehyung "Bagaimana dengan mu?"
Hoseok memasang helm itu dikepala Taehyung sambil berdecak "Jika kau kenapa-napa maka aku yang akan di omeli Seokjin-eomma." Taehyung menatap Hoseok yang masih sibuk memasangkan helm ke kepalanya. Ada perasaan bahagia yang benar-benar menggebu di dalam hatinya. Bahkan tangannya sudah bergetar menahan diri agar tidak memeluk pemuda yang 2 tahun lebih tua darinya itu tiba-tiba.
Tuk!.
"Jangan pandangi aku begitu." Hoseok menutup kaca helm itu agak cepat, seketika perasaan bahagia itu menguap tak tersisa saat ia mendengar dan melihat wajah datar Hoseok padanya. Hatinya terasa ngilu begitu saja "Pegangan yang kuat." perintah Hoseok yang mulai memacu gas motornya. Namun Taehyung hanya menggenggam kedua sisi jaket Hoseok di bagian pinggang. Hoseok menggeleng jengah lalu melajukan motornya meninggalkan area sekolah.
.
.
TBC
Bagaimana? Ada yang masih menunggu dan sudi baca hingga akhir ini?
my Hopie Hopie : Iya.. tidak apa-apa.. dan panggil aku Hona saja
Kahoriken : Hidung author-mu tajam like as always ne..
widhy96 : As Ur wish~
violanindya93 : Mungkin dia tsundere? Hehehehe.. *trtawa jahat*
07 : jangan banyak berharap.. tapi disini memang harapanmu menjadi nyata~
Untuk mungkin review lain yang tidak kujawab di sini.. aku minta maaf. Entah kenapa.. review yang kudapat masing-masing berbeda antara kotak review dan email-ku. Jadi mohon maaf sekali lagi nee..
