Dedicated for SHIKAINO_FC
ShadowMindFather
Ada satu kisah mengenai fakta dan beban sebagai seorang ayah di sini. Kau akan tahu, meski sedikit tentang apa yang akan mereka lakukan untukmu.
Seorang pria malas pun bisa menjadi contoh yang cocok untuk mengetahui bahwa cinta ayah tak kalah besar dari ibu.
Ia yang dulu seorang putra, kini bertransformasi menjadi ayah.
Kau mau tahu bagaimana ia mewakili kenyataan mengenai ayah? Kau bisa sedikit mengerti setelah membaca kisah ini.
Disclaimer: bukahkah seluruh karakter dalam Naruto milik Masashi Kishimoto?
Genre: Family, Drama, a little Com-Rom.
Main Chara: Ino Yamanaka and Shikamaru Nara
Warning: author amatiran, abal tak terkira, banyak kesalahan dalam penulisan, payah EYD, bergelimpungan typo(s), hanya berharap maklum dari para readers.
Summary: dedicated for SHIKAINO_FC in Shadow Mind Father events – kumpulan fic One-Shoot ShikaIno dalam Event SMF/ ada beberapa fakta tentang ayah yang mungkin tidak dapat dijelaskan secara lisan. Ingin tahu apa saja realita-realita yang ada tenang ayah dan tanggung jawabnya?
Daddy Series: Facts of Father
"Shikamaru, bangun!"
Oke, cerita ini mungkin dibuka dengan sedikit aksi yang enggan dikata mengenakan. Bagaimana tidak, seorang istri begitu garangnya menarik selimut yang dikenakan sang suami untuk menjaga tubuh dari hawa dingin yang mencekam. Tidak hanya sampai di situ, wanita bersurai pirang tersebut bahkan begitu seenaknya menarik lengan pasangan hidupnya hingga kontan terduduk.
Si korban hanya bisa pasrah dengan perlakuan yang diterima, tidak akan membalas sebab nyawanya terlalu berharga untuk hilang begitu saja. Terlalu hiperbola, tapi setidaknya itu yang terpikir oleh Shikamaru sampai memilih untuk menghela napas saja sembari berucap kata terandalnya. "Mendokusai," lafazhnya dengan penuh penekanan tak suka di tiap silabel.
"Bangun!" diktator wanita yang sudah hidup bersamanya lebih dari enam tahun. Semerta-merta, memaksa untuk Shikamaru beranjak dari posisi yang itu-itu saja. Sekali lagi, terulang saat sang suami hanya bisa melafalkan ciri yang sudah mendarah daging dengannya. Seraya mendirikan tubuh, dan disertai sedikit perenggangan badan.
"Yaa, yaa… Ino," bertutur lisan dengan menengadahkan tangan ke hadapan istrinya, tanda meminta untuk Ino menghentikan aksi mencak-mencak di dini hari. Aah, terlalu pagi hanya menurut Shikamaru, karena yang ada saat ini tepat menunjukan jam delapan. Alih-alih memasuki kamar mandi, ayah muda itu lebih memilih keluar dari ruang pribadinya dengan sang istri untuk mendestinasikan langkah ke satu tempat.
Bukan meja makan, tidak juga ruang keluarga, Shikamaru dengan lunglainya meniti pada direksi kamar putra semata wayangnya. Ino tahu, bahwa suaminya itu bermaksud untuk menumpang tidur di kamar pemalas yang lain. Seusai merapikan tempat tidur, ia langsung turut mengikuti jejak pasangan hidupnya menuju kamar anak mereka.
Ia sudah siap dengan umpatan yang telah dimatangkan, tetapi batal terujar saat dilihatnya Shikamaru duduk manis di tepi kasur sembari mengelus rambut kecoklatan putranya. Menyandarkan tubuh di ambang pintu, terus saja indera visualnya menerima pantulan bayang Shikamaru dengan kelakuan manisnya.
Shikamaru baru pulang dari misi di tengah malam tadi, dan ia tidak bisa menahan keterkejutan tatkala Ino bercerita Shaka yang terjatuh dari pohon saat bermain. Ada luka kecil di keningnya, namun tidak akan berimbas buruk untuknya. Hal itu berhasil membuat Shikamaru menampilkan raut-raut cemas yang luar biasa. Oh, ayolah, sudah menjadi suatu realitas yang nyata kalau seorang ayah akan mengkhawatirkan keadaan buah hatinya.
Ino telah mengatakan, goresan di kepala sang miniatur tak akan menghambat perkembangan apa-apa putra mereka. Shaka akan tetap segenius sang ayah, dan lebih tampan dari pada orang tua prianya –setidaknya itu yang dipercaya Ino. Shikamaru sendiri, susah setengah mati ia untuk meyakini apa yang diujarkan sang istri.
Ino mendekat, kali ini maksudnya untuk membuat si bocah terbangun. Menyertakan diri untuk duduk di tepi kasur, "Shaka, bangun!" perintahnya dengan nada jauh lebih halus dari pada saat membuat sang suami terjaga. Tidak ada reaksi terusik dari subjek yang ditujukan, tak pelak membuat Ino mengulang titahnya.
"Sha…" tepat ketika desibel suaranya agak ditinggikan, Shikamaru menghentikan verbalisasi Ino dengan menepuk pundaknya sembari menggeleng pelan – arti, tidak mengizinkan si ibu untuk menggangu lelap raja kecilnya. Berdengus ringan, namun Ino takkan membangkang apa yang diminta suaminya. Mengusap pelan perban kecil di kening sebelah kiri Shaka, "kau mandilah, setelah itu bangunkan ia." Kompensasi dari orang yang melahirkan putranya, Ino lantas bergerak meninggalkan kedua ayah dan anak itu.
Bukankah memang begitu faktanya, bahwa seorang ayah akan menjaga sang anak saat terjaga maupun dalam keadaan lelap – kendati sekalipun si penggangu adalah ibunya sendiri. Yaa, semua ayah di muka bumi ini tentu akan melindungi bocah mereka dari usikan kecil apapun. Mereka ikhlas tatkala kau membangunkannya dengan begitu kasar, tapi jangan harap hal itu akan terjadi untuk buah hatinya.
Mengerjakan apa yang diujarkan Ino, Shikamaru lalu kembali guna membangunkan salah satu pusat kehidupannya – Shaka Nara. Mendudukan tubuh putranya dalam pangkuan, dan menggerak-gerakan tubuh ringkih tersebut. Terganggu, sedikit demi sedikit iris aquamarine itu menampakan sinarnya. Tersenyum begitu mendapati refleksi bayangan sang ayah di retina, "tou-chan!"
"Bangun, pemalas. Hari ini kita berdua akan menjadi sasaran ceramah ibumu."
"Berarti, tou-chan tidak ada misi?" senangnya ia, pasal mendengar bukan hanya dirinya yang akan menjadi korban ocehan panjang Nara Ino – kaachan sekaligus istri tercinta. Ini hari yang baik, di mana dua orang dengan nama yang hampir identik akan dimarahi bersama-sama karena tingkah yang tak ubah – pemalas dan tukang tidur.
"Mandi sana!" Shikamaru menurunkan badan mungil itu dari pangkuannya, mengamati ia dalam bentuk yang lebih mini tersebut berlari menuju kamar mandi. " Tou-chan tunggu di teras, yaa? Kita main shogi!" demikian imbuh kalimat ayah muda itu, yang lalu disusul dengan tapakan kaki keluar dari ruangan rusa kecilnya.
Menunggu beberapa menit, tak lama orang yang dinanti menampakan diri. Langsung mengambil posisi berhadapan dengan ayahnya dan meja berisikan papan shogi beserta komponen lain. Alih-alih memainkan catur jepang tersebut, yang dilakukan manusia sedarah daging itu hanya bungkam beberapa saat. Mata Shaka mendelik tak biasa, diikuti pula helaan napas yang berbeda.
Shikamaru tahu, ada satu buah pemikiran yang ingin dicetuskan si miniaturnya dan Ino."Saat malam tadi, aku memikirkan beberapa hal penting," itulah kalimat pembuka yang terlontar dari si kecil Shaka. Jangan kaget dengan kemampuannya berbahasa yang tampak tidak seperti anak berusia enam tahun, ia bisa karena putra seorang tuan Nara.
"Jadi?"
"Aku ingin menanyakan beberapa hal sebagai lelaki dewasa."
"Calon lelaki dewasa," koreksi ayahnya, sambil memperbaiki arah duduk agar lebih nyaman untuk berdepanan langsung dengan sang putra.
"Yaa, begitulah."
Shaka mencondongkan wajah dan tubuhnya agak ke depan, direksi matanya tak ayal terus tertuju pada si ayah. Menyipitkan netra, seakan mematangkan pikiran untuk melisankan ide yang tertanam lekat di otak geniusnya. "Aku akan bertanya sesuatu yang penting, "tuturnya lagi, semakin menyulutkan mimik keseriusan di mukanya. Shikamaru hanya menanggapi dengan mengangkat kedua bahunya bersamaan, tapi tetap tak diacuhkannya tiap lisan yang terlontar dari si anak.
Braak…!
Belum sempat Shaka mengutarakan tanya, Ino datang membuka pintu geser teras dengan kerasnya. Tak ayal, kedua atensi Nara itu tertuju pada direksinya. Membawa dua gelas yang masing-masing berisikan susu dan kopi, ia lalu menaruh benda tak bernyawa itu di dekat Shika dan Shaka. "Minum susumu!" semaunya ia memerintah, dan orang yang disuruh tak langsung menerima.
"Kaa-chan tahu, dengan memberikanku susu seperti itu, aku nampak seperti bukan calon lelaki dewasa lagi?" hampir terbahak Shikamaru tatkala indera audiotorinya menerima informasi lisan anaknya. Hanya mampu menghela napas pendek dan sedikit gelengan pelan, sama sekali tak dalam ranah estimasinya bahwa Shaka akan bisa berkata demikian.
Fakta ketiga dari seorang ayah, mereka selalu mengagumi apapun yang dapat dilakukan si anak saat itu di luar prediksinya. Seakan menjadi sebuah kejutan berharga bagi mereka, orang tua pria tidak mau tertinggal setiap moment penting sang bocah – entah saat kau mengucapkan kata pertama, tumbuh gigi susu pemula, berjalan dengan seringnya terjatuh, atau bahkan pertanyaan konyol seperti tadi.
"Ooh, terlalu cepat dua puluh tahun untuk kau berkata seperti itu, Shaka." Pasca bertutur demikian, ibu muda itu seenaknya melenggang pergi, "habiskan susumu, lelaki dewasa!" masih sempat Ino mengucapkan perintahnya. Shaka menghela napas pendek, diminumnya cairan berwarna putih itu sedikit demi sedikit. Setengah gelas lantas tandas, ia taruh kembali objek tersebut di dekatnya.
"Bisa kita lanjutkan pembicaraan kita yang sempat tertunda?" ia kembali memasang kuda-kuda selayaknya pria yang jauh di atas usianya. Ancang-ancang pun dilakukan oleh Shikamaru, tuan Nara itu sebisa mungkin menyembunyikan tawa. Mengangguk pelan, mengangkatkan tangan kanan bertujuan mempersilahkan.
"Aku tidak ingin punya adik. Awas saja, kalau tou-chan dan kaa-chan punya anak lagi!" itu bukan pertanyaan. Rasanya, tidak perlu memiliki intelegensi di atas rata-rata untuk mengkategorikan ucapan tersebut berupa usaha pencegahan semata. Anak itu, lagaknya saja seperti manusia tua, tapi tetap kadar pengertiannya tak lebih dari orang seusianya.
"Eeh, maaf, itu bukan pertanyaan." Untuk kesekian kali, Shikamaru harus membenarkan perkataan anak yang saat ini masih semata wayang baginya.
"Lantas?"
"Itu ultimatum."
"Begitukah?"
"Iya."
"Apa itu utlimitum?"
"Ultimatum."
"Iya, seperti itu maksudku."
Bocah! Bicara saja tidak benar, namun gayanya terlalu tinggi. Jangan berpikir seorang Shaka Nara akan berucap dengan intonasi lucu selayaknya anak berumur enam tahun, ia berkata seolah memiliki tingkatan usia yang sama dengan ayahnya. Deruan napas Shikamaru nampak berat, sungguh salah satu biang merepotkan dalam hidupnya adalah si anak sendiri.
Tapi, bukankah seorang ayah merupakan guru terbaik untuk buah hatinya? Setidaknya itu realita selanjutnya yang akan dicontohkan oleh manusia pemalas itu tentunya. Ia tersenyum lebih dahulu, tatkala matanya terdireksi dan melihat rona penasaran Shaka. Anak itu benar-benar kompilasi ia dan istrinya, sungguh-sungguh kombinasi yang mewakili keduanya – pemalas, cerdas, tukang tidur, energik, banyak tanya, dan sedikit menyebalkan.
"Ultimatum itu…"
"Tunggu!" sela Shaka, tepat saat ayahnya ingin menjawab pertanyaan yang ia lontarkan tadi. Menghentikan tutur sang orang tua lelaki, namun perhatiannya terus mengarah pada si ibu yang rupanya sudah bekerja mencabuti rumput liar di halaman rumah. "Coba lihat!" pintanya dengan jari telunjuk terarah pada Ino. Shikamaru menyahuti dengan anggukan, direksi matanya pun tertuju pada Nara yang lain.
"Jangan salah menariknya, yaa?! Nanti tanaman bunga kesayangan kaa-chan yang tercabut," katanya dengan desibel tinggi, berupaya membuat ibunya benar-benar mendengar sarannya.
"Biarkan saja, Shaka!" Shikamaru ikut bersuara, intonasinya pun turut tak kalah menjulang dari sang bocah.
"Tidak bisa, tou-chan. Kalau dia salah mencabut bunga kesayangannya, bisa-bisa kita yang akan jadi korban."
"Benarkah?"
"Yaa, seperti itulah adanya. Dia tipe ibu yang dengan mudah melimpahkan kesalahan pada anak dan suami!"
Spontan Ino menghentikan aktivitasnya, berdiri seraya mengacak pinggang dan memberikan tatapan membunuh pada dua anak-ayah itu. Menunjuk ke arah keduanya, lalu berpindah pada posisi di mana ia berada – kode dari menyuruh Shika dan Shaka yang menyelesaikan kerjaannya. Ini satu pelajaran penting, bahwa jangan sesekali membicarakan hal negatif seseorang tepat di dekatnya dan dengan suara yang melingking pula.
Mau tak mau, seusai Ino meninggalkan tempatnya, Shika dan Shaka beranjak untuk menuntaskan tugas yang mereka hambat sendiri. "Tou-chan, sih!" bisa saja anak itu berkelit, ia dengan gumam kecilnya terus-menurus menyalahkan. Padahal, apa salahnya Shikamaru? Ia hanya orang yang turut menjadi pelampiasan tak terduga dan tidak berdosa.
Aah, satu lagi kenyataan tentang seorang ayah, mereka akan ikut mempertanggung jawabkan kesalahan yang diperbuat oleh anaknya. Meski mereka tidak tahu menahu, walau mereka sasaran yang hanya ikut-ikutan, kendati sekalipun cuma melakoni peran tambahan yang tidak penting. Tak percaya? Tengoklah top strategist Konoha!
"Jadi, apa itu…" adanya penurunan volume suara menjadi senyap oleh Shaka, mengindikasikan ia tak tahu untuk melanjutkan apa dalam kalimatnya.
"Ultimatum?" Shaka mengangguk yakin, dengan kedua tangan kecilnya terus mencabuti rumput-rumput liar.
"Permintaan tak terbatalkan yang menjadi bagian dari cara diplomatik terhadap negara lain, dan biasa diikuti dengan perang, jika tak dipenuhi." Shikamaru menjelaskan secara harfiah untuk putranya yang ingin mengetahui segala. Maklumlah, periode masa kanak memang saat-saat mau banyak tahunya.
"Waah, tinggi sekali!"
"Tapi untuk kasusmu, perang yang dimaksud adalah kau yang mau kabur dari rumah."
"Tepat!" verbalisasi mantap dari Shaka dengan jari telunjuk terdireksi pada ayah di sampingnya. Betul-betul menunjukan bahwa itu yang memang akan terjadi bila sampai ia memiliki saudara. Ternyata, kata ultimatum memang tidak berlebihan dalam permasalahan ini. Sebenarnya, Shikamaru sama sekali tidak percaya dengan ancaman lari dari kediaman tersebut. Hanya saja…
"Mendokusai."
"Tou-chan marah?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Tou-chan pun pernah mengatakannya pada mendiang kakekmu." Ooh, terjawab sudah satu kenyataan kenapa Shikamaru tidak memiliki saudara. Yaah, pantas saja ia takkan marah apabila prilaku itu dulu ia garap untuk menghindarkan diri dari permasalahan yang datang karena mempunyai adik. Tapi, bagaimana dengan cita-citanya yang memiliki dua anak? Mungkin, sudah berevolusi karena telah memiliki satu yang seperti Shaka – usaha meminimalisir hal merepotkan harus dilakukan.
"Heei… jangan bicara terus! Kerjakan baik-baik. Awas saja, kalau ada tanaman bungaku yang tercabut!" bait perbait suara Ino terdengar dari dalam rumah, tak pelak disambut dengan ucapan mengiyakan belaka dari duo Shika-Shaka. Tangan-tangan kecil Shaka bekerja, begitu pula dengan otak kecilnya. Lantas, ia mengambil ancang-ancang untuk melayangkan tanya selanjutnya.
"Aku ingin tahu."
"Tou-chan harap, kali ini benar-benar pertanyaan."
"Kenapa tou-chan mau menikahi wanita merepotkan seperti kaa-chan?" momentum ini, Shikamaru tak kontan menjawab tanya yang ditujukan untuknya. Ia menatap nanar pada Shaka, tersenyum tipis tatkala ingat pertanyaan yang sama pernah ia lontarkan pada almarhum ayahnya. Bedanya, Shaka mungkin jauh lebih cepat ingin tahu, sedangkan saat itu ia sudah menjadi seorang chunin. Heh, bukankah buah tidak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya? Pepatah kuno kini terbukti benar.
"Tou-chan mencintainya." Tidak sama dengan jawaban yang dituturkan Shikaku dulu, Shikamaru memberikan klarifikasi yang mungkin jauh lebih epic – cinta.
"Cinta? Kok, bisa?"
"Ini rahasia. Jangan beritahu siapapun, oke?!"
Baiklah, ini kenyataan seterusnya. Seorang ayah, akan membocorkan hal yang ia sembunyikan dari siapa saja kepada anak mereka. Sesuatu yang tidak pernah mau mereka katakan pada teman, saudara, maupun pasangan hidup sekalipun. Ayah akan memberitahumu apapun yang ingin kau tahu, sekalipun kau tidak memaksa untuk paham.
"Ibumu memiliki mata yang indah."
"Cuma itu?"
Shikamaru tersenyum tipis, ia menghentikan sejenak pergerakan tangannya yang bekerja. Menatap lurus pada Shaka, " itu memaksa tou-chan untuk tidak dapat mengacuhkannya." Jawaban yang manis, bukan? Entah Shaka dibuat mengerti atau sebaliknya, tapi yang ada bocah cilik itu hanya tersenyum tipis dan menenggelamkan iris aquamarine yang didapat dari ibunya.
"Shika, Shaka, aku ke rumah sakit dahulu. Sakura kemarin meminta bantuanku untuk membereskan pekerjaan di sana," pamit sang nyonya, ia juga mendekati kedua lelaki tersayangnya untuk memberikan kecupan singkat di kening mereka. Setelah mendapatkan ucapan untuk berhati-hati, ibu muda itu lantas bergegas menuju tempat yang sudah ia katakan.
"Aku juga mau pergi main. Sucia-chan, Hiasha-kun, Chouzu-kun, dan yang lain pasti sudah menungguku," Shaka berujar, sembari mendirikan tubuh dan menepuk-nepuk bagian bokongnya. Ia melakukan sedikit perenggangan dengan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Mengambil kuda-kuda untuk berlari, "dah, tou-chan!" demikian kata terakhirnya sebelum melanglang buana.
Shikamaru menghela napas, ia berdiri pada posisi yang itu-itu saja. Pandangannya terus menerima Shaka yang sedikit demi sedikit merentang jarak darinya. Tersenyum tipis, "hati-hati, nak. Jangan jatuh lagi!" pesan yang tak tersampaikan langsung pada orang yang dimaksudkan. Ia khawatir, tentu saja. Namun, sama seperti ayahnya dulu, untuk percaya bahwa si bocah pemalas yang lain akan baik-baik saja meski telah terbanting sesering apapun.
Ia yang dahulu cuek, kini jadi sangat pemerhati. Pemuda yang dulunya tidak mau tahu, sekarang berubah menjadi sangat peduli. Rupa-rupanya, status seorang ayah bisa merubah kepribadian siapa saja, yaa?!
o
O
o
Semburat warna jingga telah nampak, serumpun awan menggelap sudah mulai ingin mendominasi, matahari kini beranjak membenamkan diri di peraduan pada ufuk barat – tanda hari telah petang. Keluarga Nara masih kurang seorang, sang ibu pun sudah sedia untuk melangkah keluar menjemput si putra. Langkahnya akan berhasil membuana, apabila tidak dicegah oleh suaminya.
"Kau siapkan makan malam, aku yang akan menjemput Shaka!" nyonya Nara mengangguk ketika tutur tersebut ia dengar. "Ia pasti di rumah keluarga Akimichi," klarifikasi istrinya, memberikan penerangan mengenai di mana letak tepat putra mereka berada. Shikamaru mengangguk, lalu mendekati wanita tersayanguntuk memberikan ciuman ringan di bibirnya.
"Kami mungkin akan tiba terlambat. Aku ingin mengajak Shaka ke suatu tempat." Ino memberikan pergerakan kepala naik-turun, tanpa bertanya lebih lanjut, ia biarkan suaminya melanglang untuk membawa anaknya pulang. Melambaikan tangan kepada suaminya yang tidak memberikan perhatian lagi padanya, Ino lalu tersenyum dan berharap keduanya tidak datang tepat saat jam makan malam.
Langkah Shikamaru meniti, tak urung selain pada direksi kediaman keluarga Akimichi. Sesampainya ia di sana langsung disambut Ayame, istri dari sahabatnya. Sempat berbincang sebentar dengan Chouji dan menyapa Chouzu, ia lalu menemukan miniatur semata wayangnya tertidur di sofa ruang keluarga. Dasar tukang tidur! Tidak bisa sebentar bertemu tempat nyaman untuk terlelap, alhasil sudah bepergian ke dunia tak nyata.
"Kau langsung pulang, Shikamaru?" tanya Chouji saat Shikamaru sudah menggendong tubuh kecil Shaka di punggungnya. "Tidak, aku mau ke suatu tempat," ujarnya dengan senyum tipis mengawang di bibirnya. Chouji mengangguk pelan, "hati-hati!" pesannya sambil mengelus pipi mungil Shaka yang masih sibuk dengan aktivitas bermimpinya.
Setapak demi setapak, langkah Shikamaru terayun menuju satu tempat yang sudah ia rencanakan. Lamat-lamat, perjalanannya tiba di pemakaman veteran perang dunia ninja keempat. Sekarang, ia sudah berada tepat di depan pusara sang ayah. Tersenyum dalam bungkam, sudut bibirnya teruncing di keheningan. Sebentar, ia melirik pada Shaka yang terus saja belum terjaga dan menjatuhkan kepala di pundak kanannya.
Kembali menghadapkan netra pada nisan di depannya, sebelum berbincang sepihak, diperbaikinya dulu tatanan gendong yang dirasanya kurang pas. Shaka agak bergeliat, kedua telapak kecilnya ia pekerjakan untuk mengusap-usap mukanya. Akan tetapi, jangan berpikir itu akan menggangu sesi sleeping handsome si pemalas Nara yang lain.
"Yah, apa kau tahu? Cucumu menanyakan pertanyaan yang sama sepertiku dulu?" mulai di mana wacana terjalin hanya dari satu orang. Shikamaru tahu, ia sangat mengerti kalau tidak akan ada yang menyahuti perkataannya. Hanya saja, hal ini ia rasa perlu ia laporkan pada ayahnya – si kakek dari Shaka Nara. Shikamaru menghela napas ringan, "ia juga memberikan ultimatum sepertiku dulu."
Ia mengenang sesuatu yang membuatnya menjadi putra Shikaku semata wayang. Bukan karena Shikaku dan Yoshino yang tidak bisa memberikannya saudara, hanya saja ia sendiri yang tidak menginginkannya. Memang berbeda dari anak-anak lain yang senantiasa bahagia saat mempunya adik, Shika maupun Shaka memiliki filosofi logis yang jauh berbeda.
"Kita sama, yah. Karena dia, aku jadi benar-benar mengerti saat berada dalam posisimu."
Semilir angin malam mulai merasuk tubuh, hawa dingin meningkat dari suhu sebelumnya. Hembusan elemen tanpa wujud itu nampaknya tak menyurutkan keinginan ia untuk tetap tinggal, berdiri di sana kendati bulan sudah mulai memasuki peraduan. Dirasanya, ia tidak perlu buru-buru pulang sebab telah memberikan alasan pada nyonya yang menantinya di rumah.
"Kita hanya punya satu perbedaan, yah." Shikamaru membiarkan keadaan hening mendominasi untuk sesaat. Dipejamkannya kedua matanya, dan menghirup udara segar yang mampu dipasoknya untuk paru-paru. Dibukanya indera visualnya, dan sayang, pemandangan yang diterimanya sama sekali tidak ada perbedaan.
Tersenyum tipis, "bedanya, aku akan jauh lebih lama menemani putraku dari pada kau bersamaku." Demikian pesan yang ia sampaikan, ucapan seolah janji untuk terus menemani Shaka jauh lebih panjang dari saat Shikaku bersamanya. "Aku akan melihatnya meminang seorang gadis, dan turut menimang anaknya kelak," tuturnya menambahkan.
Yaa, menang bukan rahasia, bahwa tidak ada seorang ayah di muka bumi ini mau meninggalkan buah hatinya. Mereka akan melakukan apa saja agar dapat bersama anaknya, melakukan hal terbaik untuk setidaknya bisa terus bersama darah dagingnya. Bagi seorang ayah, tidak ada yang lebih berharga dari putra-putri mereka. Bahkan ada yang bilang, saat seorang anak lahir, makhluk yang paling merasa hebat adalah para ayah.
Mungkin, seorang ayah akan meninggalkanmu. Tapi, doa dan harapan untuk melebihinya akan selalu menyertaimu. Ia bersama setiap titian langkah mungilmu, dia menghapus sederet air mata yang jatuh di pipimu. Ia tersenyum dan dengan rasa sanjung mengatakan, bahwa kau anak kebanggaan mereka. Melihatmu dari kejauhan dan tersenyum, walau kau tak dapat melakukan hal serupa padanya.
"Aku dan Shaka pulang, yah." Pamit Shikamaru, membalikan tubuh dan langsung dilanjutkan dengan langkah yang merentang dari tempatnya semula. Shaka masih terpulas juga, ia sama sekali tidak mengetahui bahwa ia memiliki ayah yang teramat sangat istimewa – kendati demikian, sikap pemalas dan tukang tidur tak mungkin bisa dilenyapkan. Ia menuju ke rumah, di mana ada seorang ibu dan istri tengah menunggunya.
Cerita ini hanya sebagian kecil tentang realita seorang ayah, inti dari semua ini hanyalah satu. Tidak peduli kau seorang putra ataupun putri, ingatlah satu hal. Bahwa…
Ayahmu akan memberikanmu cinta sebanyak yang ia bisa, dia akan menemanimu selama yang ia mampu, dan ia akan mengasihkan seluruh hidupnya untukmu.
Jadi, apakah kau punya alasan untuk tidak mengucapkan terima kasih pada ayahmu?
FIN
A/N:
Oke, ini fic kedua saya untuk event ShadowMind Father. Juga, begitu senang karena banyak partisipan yang ikut. Dan saya harap, semua ShikaIno Shipper mau meramaikan event ini. Bagi yang berminat, bisa langsung tanyakan kepada saya atau para admin-admin SHIKAINO_FC yang lain. Maaf bila fic ini acak-kadut, saya sudah setengah hidup memikirkan cerita sesuai tema.*tanya penting: ini sudah benar-benar masuk dalam tema?
Dan saya membuat fic ini dalam satu kompilasi berjudul Daddy Series, karena saya rasa akan lebih mudah bagi saya untuk mengkategorisasikannya saja. Di mana, kumpulan fic di sini saya khususkan untuk events SMF. Jadi, ini masuk dalam chap dua, dan di pertama ada fic Daddy Vest. Dan fic ini bisa saja dianggap sebagai sekuel dari fic pertama. Hehehee…!
Saya sadar, saya dan fic ini tentu memiliki banyak kekurangan. Jadi, mohon bantuannya untuk mengoreksi kesalahan saya. No creatures perfect!
Bagaimana menurut kalian tentang fic ini? Saya ingin tahu pendapat teman-teman, jadi tolong berikan tanggapannya via review, yaa?!
So, review pleaseee…!
The last, long live and happily ever-after ShikaIno!
"your Shadow always in my Mind."
Salam
Pixie(yank)-chan.
