.
.
.
MOONLIGHT
.
.
.
Pair: Haehyuk
Rate: T
Warning: BL/Fantasi/Romance/Angst
.
.
.
.
Iblis.
Mahkhluk malam paling gelap yang berasal dari neraka. Penguasa kegelapan. Penguasa neraka. Mereka adalah yang paling dilaknat keberadaanya. Mereka mewakili segala kebengisan dan kejahatan yang ada didinia ini.
Kekuatan mereka yang mengerikan membuat mereka sangat berbahaya. Tak ada yang pernah tahu seberapa jauh kekuatan mereka. Tak ada yang pernah tahu batas kekuatan mereka. Tak seorang pun.
Mereka terlalu kuat.
Dikatakan jika hanya akan ada satu iblis disetiap jaman. Hanya akan ada satu kegelapan dalam satu dekade kehidupan. Menjadi satu-satunya mimpi terburuk dalam jelang waktu yang sangat lama.
Alasanya sederhana, saat satu iblis harus memanggil satu jiwa maka hidupnyalah yang harus ia korbankan. Eksistensinyalah yang harus membayar lunas satu jiwa penerusnya.
Namun itu hanyalah cerita yang didengar terlinga para mahkhluk fana. Tak ada yang tahu kebenarannya.
Lalu bagaimana jika memang ada dua jiwa neraka di satu jaman? Bagaimana jika ada dua yang terkuat di waktu yang sama? Hanya ada satu jawabannya.
Semua yang ada disekitarnya akan musnah.
Tidak boleh ada dua matahari dilangit. Jika dua jiwa dari neraka saling bertubrukan maka salah satunya harus musnah.
Menghilang seakan tak pernah ada di dunia ini.
Musnah tanpa ada yang pernah tahu keberadaannya selama ini.
.
.
.
Gerimis yang mengguyur kota malam itu membuat udara semakin terasa dingin. Gemuruh guntur sesekali terdengar menandakan hujan masih akan berlangsung lama. Hyukjae segera merapatkan mantelnya sembari berjalan membawa kertas belanja di kedua tangannya. Suara langkahnya gemericik saat menapak jalan basah yang ia lalui. Tetesan air hujan membuat mantelnya basah sebagian.
Laki-laki itu berjalan menuju area gedung pemukiman, masuk ke salah satu gedung sebelum menaiki tangga menuju apartemennya berada. Dapat ia rasakan tubuhnya yang pegal sehabis bekerja terasa semakin nyeri saat melangkah di setiap undakan.
Lantai tujuh, pintu paling ujung adalah tempatnya tinggalnya sekarang. Senyumnya terukir saat akhirnya meraih ganggang pintu. Memasukan kunci, ia segera membuka pintunya. Tepat saat pintu kayu itu terbuka, iris hitamnnya dapat melihat apa yang selalu menunggunya didalam sana.
Donghae ada disana.
Duduk diatas lantai kayu tepat didepan pintu. Menunggunya pulang seperti biasanya. Ya, seperti biasa.
Dapat Hyukjae lihat bagaimana iris cokelat itu berubah saat melihatnya. Bagaimana rasa senang itu terpancar begitu ketara saat Donghae melihatnya. Tubuh itu perlahan bangkit saat Hyukjae menutup pintu dibelakangnya. Sembari tersenyum ia segera berjalan masuk setelah melepas sepatunya.
"Apa yang kau lakukan hari ini?"Tanya Hyukjae sembari menaruh semua belanjaannya di atas konter dapur dengan Donghae yang mengikutinya.
"Menunggumu."
Jawaban itu membuat Hyukjae melihat sosok didepannya. Senyumnya menghilang.
"Sepanjang hari?"
Donghae mengangguk.
"Lalu bagaimana dengan pazelmu?"
"Sudah selesai."
"Semuanya?"
Lagi-lagi Donghae mengangguk sembari telunjuknya mengarah pada bingkai pazel yang sudah ia selesaikan. Hyukjae kehabisan kata-kata melihatnya. Itu adalah pazel yang baru ia belikan kemarin. Pazel rumit yang mungkin butuh waktu lebih dari satu bulan untuk menyelesaikannya, namun Donghae menyelesaikannya tak sampai 24 jam.
Hyukjae mendekat sebelum jemarinya menyentuh pipi Donghae. Ada segaris kekhawatiran di iris hitam itu.
"Berapa lama kau menungguku di depan pintu hari ini?"
"Aku tidak tahu."
Sepanjang hari, tebak Hyukjae. Laki-laki itu menghela nafas. Bukan tanpa alasan Hyukjae membelikan Donghae pazel. Porsi kerjanya yang hampir mengabiskan waktu seharian membuat Hyukjae tak bisa selalu bersama Donghae. Namun ia tak ingin Donghae hanya menunggunya sepanjang hari, ia ingin Donghae memiliki hal yang bisa dilakukan saat Hyukjae sedang berkerja.
Sehingga Donghae tak akan merasa kesepian, tak akan merasa sendirian.
Mencoba meringankan suasana diantara mereka, Hyukjae segera tersenyum pada sosok didepannya. Membuka kembali belanjaannya.
"Aku membeli daging dan jamur, kita bisa membuat rebusan daging untuk makan malam."Mencoba kembali ceria Hyukjae segera mulai menyiakan bahan, ia selalu tahu Donghae menyukai daging.
Dan malam itu berjalan seperti biasa, dengan Donghae yang akan selalu diam menatapnya. Yang akan menatapnya dengan iris cokelatnya yang sendu namun syarat akan makna. Dengan pemikirannya sendiri, dengan benaknya sendiri.
Akhirnya mereka duduk di bawah sofa setelah selesai makan malam, melihat rintik hujan dari balik jendela. Duduk bersebelahan diatas karpet tebal berbagi selimut hangat. Dengan serius Hyukjae menatap Donghae yang dengan begitu cepat menyelesaikan rubiknya tanpa kesulitan.
Donghae memberikan rubiknya pada Hyukjae. Setiap sisi rubik itu telah sewarna, membuat lelaki kurus itu tersenyum lembut padanya sembari mengelus kepalanya.
"Kau melakukanya dengan baik."Sangat baik jika boleh Hyukjae katakan.
Donghae melakukannya hampir sempurna dalam segala hal.
Tiga tahun telah berlalu sejak Hyukjae pertama kali menemukan Donghae. Tiga tahun sejak mereka pindah ketempat ini. Waktu yang cukup untuk melihat perubahan Donghae yang begitu signifikan. Kecerdasannya, tingkah lakunya, pemahamannya, segalanya mengalami perubahan yang begitu jauh.
Donghae bisa berbicara dengan baik sekarang meski ia masih tak bicara banyak. Ia cenderung mengungkapkan apa yang ada dikepalanya dengan tindakan. Seperti tadi, dia tak pernah mengatakan jika ia ingin Hyukjae cepat pulang, namun ia menunjukannya dengan menunggu didepan pintu setiap harinya.
Kecerdasannya bahkan begitu tak biasa. Hyukjae tak tahu bagaimana Donghae melakukanya tapi dia selalu mempelajari segala sesuatu begitu cepat, menguasainya dengan mudah tanpa kesulitan. Satu hari Hyukjae mengajarinya membaca maka hari berikutnya Donghae akan menyelesaikan satu buku tebal penuh tulisan tanpa kesulitan. Satu hari Hyukjae mengajarinya berhitung satu hingga sepuluh maka hari berikutnya Donghae akan menguasahi aljabar dan logaritma.
Donghae juga memahami hal-hal disekitarnya dengan baik. Hyukjae tahu Donghae sering mempertanyakan hal yang sulit tentang keadaan mereka, namun Donghae juga tahu bahwa ia tak harus bertanya karena Hyukjae juga tak tahu jawabannya.
Donghae memahami Hyukjae dengan baik. Tahu kapan harus bertanya kapan tidak. Kapan harus bicara kapan tidak. Terkadang Hyukjae berfikir bahwa ia bagai buku terbuka untuk Donghae, begitu mudah dibaca isi hati dan pikirannya.
Rengkuhan hangat yang menglilingi tubuhnya membuat Hyukjae tersadar dari lamunannya. Donghae mendekat padanya, mempertemukan kedua iris mereka dalam tatapan yang begitu hangat dan lembut.
Lama mereka hanya saling melihat refleksi yang tegambar di bola mata masing-masing sebelum Donghae perlahan mendekat. Mempertemukan bibir mereka dalam sentuhan yang begitu lembut dan ringan. Bagimana tekanan itu hanya sejenak Hyukjae rasakan sebelum Donghae kembali menjauh namun tetap menjaga jarak yang begitu dekat dengannya. Kembali menatap matanya dengan kelembutan yang sama.
"Kau merindukanku?" Bisik Hyukjae karena jarak wajah mereka yang begitu dekat.
Donghae tak menjawab, hanya kembali mendekat dan menekan bibir Hyukjae dengan miliknya. Mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan lewat sentuhannya. Menyampaikan kerinduannya lewat ciumannya.
.
.
.
Kilatan langit itu terlihat sebelum suara guntur menggelegar. Hujan yang turun semakin lebat membuat tanah hutan itu semakin lembab. Setiap tetesan airnya menyentuh daun pinus sebelum jatuh terserap ditanah yang basah.
Srak
Ranting itu patah saat sosok serigala itu dengan begitu cepat melewatinya sebelum disusul yang lainnya. Suara empat kaki mereka yang menapak tanah basah membuat kebisingan ditengah hutan yang sunyi. Melewati batu dan dan daratan miring dengan kekuatan yang mereka miliki. Mereka tak peduli jika bulu-bulu hitam mereka basah atau udara di hutan ini serasa menusuk tulang. Mereka harus terus berlari.
Mereka harus melarikan diri.
Sang alpha langsung menghentikan langkahnya tiba-tiba diikuti seluruh pak-nya. Bola mata birunya menajam menatap waspada didepan sana. Eramannya terdengar sebagai peringatan untuk yang lainnya.
Ia bisa merasakannya.
Kegelapan yang ada didekat mereka.
"Kenapa kalian selalu mempersulit keadaan?"
Suara itu terdengar sebelum dengan perlahan sosok itu muncul dari kegelapan. Sebuah langkah yang tak terbaca oleh sang alpha.
Bagaimana aura hitam yang meguar menyesakkan tergorokan serigala itu. Sebuah perasaan yang tak asing saat ia bertemu musuh mereka dari ribuan tahun silam. Sisi berlawanan yang tak akan pernah berdamai dengan mereka. Dengan kulitnya yang pucat. Dengan taringnnya yang tersembunyi di sosoknya yang rupawan. Dengan iris emasnya yang penuh kutukan.
Vampir.
Eraman sang alpha semakin keras dengan iris birunya yang semakin menggelap, memperingatkan vampir didepannya untuk tak mendekat dan mencari masalah dengannya ataupun seluruh kelompoknya. Namun seperti tak terpengaruh laki-laki penghisap darah itu dengan tenang mendekati pemimpin para manusia serigala itu.
"Kesempatan terakhir, menyerah?"Hal itu terucap dengan begitu datar dan tanpa perasaan. Seakan bukan puluhan nyawa para werewolf ini yang menjadi taruhannya.
Seakan sepakat dengan pemimpin mereka, para serigala itu mengeram berbahaya membuat kernyitan heran dari vampir didepan mereka.
Sampai matipun mereka tak sudi tunduk dengan mahkhluk terkutuk ini.
Dan hal yang terjadi selanjutnya begitu cepat saat tiba-tiba saja alpha itu melompat pada musuh didepannya. Mencoba menancapkan taring dan cakarnya untuk mengoyak tubuh vampir didepannya.
Mereka berguling ditanah basah tanpa ada satupun yang berani mendekat. Semua serigala menyalak seakan menyerukan hal sama yaitu agar pemimpin mereka menghabisi vampir terkutuk didepan mereka.
Namun semua serigala itu bungkam saat tiba-tiba saja justru teriakan alpha mereka terdengar. Dapat mereka lihat bagaimana tangan pucat itu menembus tubuh pemimpin mereka sebelum ditarik tanpa perasaan. Membiarkan tubuh serigala terkuat di pak itu terkapar ditanah basah. Mengejang dengan darah yang mengalir bercampur dengan air hujan.
Iris kememasan itu melihat bagaimana perlahan tubuh serigala itu berubah. Menjadi sesosok laki-laki kuat yang kini hanya menunggu ajalnya. Dengan sisa nafas terakhirnya iris biru itu melihat vampir yang berdiri angkuh tepat didepannya. Eramnnya terdengar menjadi satu-satunya pertahanan yang ia miliki meski taring dan ekornya tengah menghilang.
"Sudah aku katakan, kenapa kalian selalu mempersulit keadaan? Hal ini dapat diselesaikan tanpa harus mengeluarkan tenaga."
Tangan pucat itu terulur mengambil seutas kalung perak dengan batu biru yang menyala di leher alpha itu. Tepat saat vampir itu menarik putus kalung itu dari leher sang werewolf, tubuh terluka itu melebur bagai abu dan tersapu angin. Iris kemasan itu melihat batu biru ditangannya.
"Secuil keabadian yang seharusnya tak dimiliki mahkhuk seperti kalian."
Bagai lemah dan tak berdaya para serigala itu menunduk ditempatnya. Menurunkan kakinya menjatuhkan harga diri mereka. Alpha mereka telah dikalahkan, begitu juga dengan mereka semua. Tak ada jalan lain selain tunduk dengan yang berkuasa.
.
.
.
Siwon berjalan menyusuri lorong terbuka pusat organisasi dan pelatihan pemburu di kota ini. langkah kakinya mengantarnya pada perpustakan utama tempat itu, dengan deretan rak-rak buku raksasa dan tumpukan buku-buku tua berbahasa kuno. Jendela besar dengan gaya khas bangunan eropa itu membuat sinar matahari diluar masuk leluasa dan menjadi penarangan yang cukup di setiap sudut.
Iris tajam itu mengedar, melihat sekitar sebelum menemukan rekannya yang duduk di tengah ruangan. Pada salah satu deretan kursi dan meja mesar disana. Tumpukan buku-buku tua yang begitu besar terlihat berserakan di meja besar didepanya. Tanpa mengatakan apapun ia duduk tepat didepan rekannya. Alisnya mengernyit saat tahu buku-buku apa yang bertumpuk didepannya.
"Apa ada pemburu yang pernah melihat mahkhluk malam dengan sayap hitam?" Kyuhyun bertanya tanpa melihat rekannya itu, iris kelamnya masih sibuk membaca tiap deret kalimat pada buku yang ia pegang.
"Mahkhluk bersayap hitam?"
"Ya, disini tertulis mahkhluk itu memiliki sepasang sayap layaknya malaikat, namun karena pekatnya jiwa yang ia miliki membuat bulu-bulu sayapnya berwarna hitam pekat."
Siwon akhirnya mengerti kemana hal ini berujung.
"Maksudmu seperti yang membunuh penyihir tiga tahun lalu?"
Kyuhyun melihat rekannya itu, tidak menjawab. Siwon sama sekali tak menyangka bahwa hal itu masih membayangi rekannya selama ini.
"Harus berapa kali kukatan padamu bahwa kasus itu sudah ditutup, Kyuhyun. Tak ada lagi informasi yang bisa digali mengenai hal itu."
"Ada ribuan informasi yang bisa didapat jika kalian membiarkanku mencarinya."
"Itu tak akan merubah apapun untuk saat ini."
"Ya, tapi bisa saja merubah hal buruk yang akan datang dimasa depan."
"Kyuhyun, aku mengerti tapi-"
"Ini iblis."
Keheningan itu tercipta saat pandangan mereka bertemu. Bagaimana sesuatu yang dingin menyapa kulit mereka karena menyinggung mahkhluk gelap yang begitu terlarang keberadaannya.
"Tak ada yang tahu seberapa kuat mereka, tak ada yang pernah tahu sejauh apa kerusakan yang bisa mereka timbulkan. Tidak ada."Ucapan itu hampir seperti bisikan namun terdengar sangat jelas ditelinga Siwon.
"Ada ribuan nyawa yang dipertaruhkan disini, dan aku tak akan mengambil resiko itu."
Iris kelam didepan Siwon itu terlihat penuh tekat, sesuatu yang mengingatkannya bahwa rekannya ini selalu tahu apa yang ia lakukan. Selalu berfikir jauh lebih dari yang lainnya. Seseorang yang dulu kehilangan seluruh keluarganya karena dibantai mahkhluk malam.
Sebuah luka yang membuatnya menjadi salah satu pemburu terbaik yang ada sekarang.
"Baiklah."
Pada akhirnya Siwon hanya bisa setuju. Tak ada yang akan bisa menandingi kekeras kepalaan Kyuhyun.
"Jika... jika ini memang benar iblis, lalu kenapa ia membunuh penyihir itu dan menghentikan penyerangan malam itu?"
"Aku juga tidak tahu, tapi para mahkhluk itu memang sering bersegitegang dengan alasan mereka masing-masing. Tak ada satupun diantara mereka yang ingin dipandang lebih rendah satu sama lain."
Meski begitu Kyuhyun juga tak yakin dengan hal ini. Jika memang itu adalah iblis bukankah penyerangannya akan semakin menjadi? Karena niat para penyihir itu jelas untuk menyerang manusia. Lalu apa niat iblis itu membunuh penyihir itu?
Apakah ini sebuah kebetulan?
Atau memang ada sesuatu yang tak mereka ketahui di balik ini semua?
Atau justru memang sejak awal tak ada iblis disini?
Kyuhyun menggelengkan kepalanya. Tidak, ia yakin ini iblis, instingnnya mengatakan hal itu meski tak ada bukti yang bisa membenarkannya. Karena segala kecurigaannya selama ini selalu mengarah pada hal itu, tak ada pelaku yang lebih masuk akal selain mahkhluk neraka paling dilaknat itu.
Tidak ada.
"Tadi pagi ada laporan dari pemburu yang berjaga di pos selatan."Ucap Siwon mengganti topik pembicaraan.
"Laporan apa?"
"Mereka menemukan mayat werewolf ditengah hutan. Dari bekas lukanya jelas itu sebuah pembunuhan."
"Vampir?"
"Sepertinya, tapi Kyuhyun... "Kyuhyun mendongak hanya untuk menemukan tatapan serius rekannya.
"Mayat werewolf itu, seorang alpha."Hal itu membuat Kyuhyun reflek menutup buku ditangannya.
"Apa? Kau yakin?"
Kediaman Siwon menjawab semuanya. Kyuhyun termenung, bukanlah hal yang baru mendengar bentrokan antara vampir dan werewolf. Diantara semua mahkhluk malam kedua jenis ini adalah yang paling sering terlibat masalah satu sama lain. Tak jarang bentrokan mereka menimbulkan korban dari kedua belah pihak, namun baru kali ini Sang alpha yang menjadi korban.
Bukanlah masalah serius jika mayat itu adalah werewolf biasa, itu pasti hanya bentrokan biasa. Tapi ini adalah pemimpinnya. Untuk apa seorang vampir membunuh seorang alpha?
Pasti ada alasan dibalik itu semua, dan mereka yakin hal ini pasti akan merugikan manusia.
.
.
.
Hyukjae tersenyum saat melihat Donghae keluar dari kamar, masih dengan piama tidurnya. Ia berjalan pelan mendekati Hyukjae sebelum duduk tenang di meja makan seperti biasa. Melihat Hyukjae yang sibuk menyiapkan sarapan.
"Pagi, Donghae."Donghae hanya tersenyum menanggapinya.
"Aku membuatkan roti isi daging kesukaanmu untuk sarapan. Aku buatkan banyak untuk nanti siang juga." Senyum Hyukjae begitu lebar saat mengatakannya.
Tangan pucat itu dengan cekatan menaruh ham, telur dan keju diatas roti yang sudah dibakar. Hyukjae mengambil pisau setelah menaruh roti lain diatasnya, ingin membaginya menjadi dua sehingga lebih mudah dimakan. Tak menyadari bahwa iris cokelat itu melihat pakaiannya yang begitu rapi, menandakan bahwa Hyukjae akan pergi bekerja sebentar lagi. Senyum Donghae menghilang saat menyadarinya.
"Hyuk."
"Ya-Aaw!"
Pisau itu terjatuh di meja setelah sukses mengiris jari Hyukjae karena laki-laki itu mendongak menyahut panggilan Donghae. Donghae menghampirinya, melihat darah segar mengalir dari jari pucat itu. Ia menyentuh tangan Hyukjae pelan.
"Sakit?"Hyukjae tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa."
Hyukjae melangkah pergi dari sana mencari kotak obat tanpa tahu iris cokelat itu mengikutinya hingga menghilang dibalik tembok. Perlahan bola mata itu melihat tangannya sendiri. Melihat noda luka yang tak sengaja menempel ditelapak tangannya. Ada bekas darah Hyukjae di tangannya.
Berwarna sangat merah.
"Donghae! Bisa kau ambilkan tisu dikamar?" Seruan Hyukjae itu menyadarkannya, membuatnya segera beranjak melupakan apa yang menganggunya sejenak.
Tak perlu waktu lama untuk Hyukjae mengobati lukanya. Ia segera menyelesaikan sarapan dan segera bersiap untuk bekerja.
"Ingat Donghae, selalu kunci pintunya. Jangan bukakan untuk siapapun kecuali aku, mengerti?"Pesannya sembari memakai mantel didepan pintu.
"Kau selalu mengatakan itu setiap hari."
"Supaya kau selalu ingat, dan jangan pergi kemanapun tanpaku."
Donghae hanya mengangguk ringan membuat Hyukjae bernafas lega.
"Kalau begitu aku berangkat dulu!"
Senyum ceria Hyukjaae menghilang saat melihat kerutan di dahi Donghae, iris cokelat itu melihatnya dengan cara yang kapan saja bisa meluluhkan hatinya. Perlahan tangan hangat itu meraih tangan pucatnya. Mengenggamnya erat seperti tak ingin melepasnya.
"Donghae, kau tahu aku harus bekerja."
Donghae tak mengatakan apapun, hanya menunduk memainkan jemari Hyukjae. Tentu Hyukjae tahu maksud bahasa tubuh sosok didepannya ini. Donghae tak ingin ia pergi, ia ingin Hyukjae dirumah menemaninya. Hyukjae pun ingin sekali seperti itu, tapi ia tak bisa meninggalkan pekerjaanya begitu saja.
Perlahan lelaki kurus itu mendekat. Menyentuh pipi hangat itu dengan jemarinya, membuat iris cokelat sendu itu menatapnya langsung.
"Bersabarlah, Donghae. Aku janji akan berusaha pulang secepat yang aku bisa. Jadi baik-baiklah dirumah, hem?"Seburat kekecewaan itu telihat jelas di iris cokelat didepannya.
"Akan kubelikan sesuatu yang enak nanti, bagaimana?"
Cukup lama sebelum perlahan Donghae melepas genggamannya, membuat Hyukjae tersenyum dan menepuk kepalanya lembut. Donghae hanya diam saat perlahan pintu kayu itu tertutup menelan sosok Hyukjae. Tetap diam saat perlahan telinganya mendengar langkah kaki itu semakin menjauh sampai akhirnya tak terdengar.
Membuat segala disekitarnya begitu sunyi dan hampa.
Perlahan tubuh besar itu menyentuh lantai. Duduk bersila sembari memandang pintu kayu itu untuk berjam-jam kedepan. Dia tak akan berpindah tempat hingga pintu itu terbuka.
Sampai suara langkah kaki itu terdengar kembali.
Sampai iris cokelatnya melihat senyum hangat Hyukjae untuknya kembali.
Hiruk pikuk kota besar ini bukanlah hal asing untuk Hyukjae, ia lahir dan besar di kota jadi ia dengan mudah bisa beradaptasi dengan baik. Ia segara memasuki sebuah gedung berlantai tujuh dipusat kota, menyapa pegawai lain sebelum duduk dibilik kerjanya. Membuka komputer kerjanya, ia segera membaca deretan kalimat yang harus ia terjemahkan.
Ini adalah kantor penerbitan di kota ini, Hyukjae dengan mudah mendapatkan pekerjaan ditempat ini karena fasih berbahasa asing. Tugasnya adalah mentranslit buku-buku luar sebelum diterbitkan oleh perusahaan. Sebuah pekerjaan yang tak terlalu menyulitkan namun sayang begitu menyita waktunya.
"Cerita fantasi lagi."
Hyukjae melihat Sungmin, rekan kerjanya yang kini membuka naskah buku berbahasa asing ditangannya.
"Aku heran kenapa para pengarang ini begitu menyukai menulis cerita tentang para mahkhluk malam? Jelas-jelas mereka berbahaya."Hyukjae hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Semakin berbahaya sesuatu maka justrus akan semakin menarik menurut mereka, Hyung. Lihat saja hasil penjualan buku tentang mereka."Ryewook dibagian editor ikut menimpali sembari memberikan naskah yang perlu diperbaiki pada Hyukjae.
"Apa orang-orang ini tak pernah melihat berita? Bahkan pagi ini ada berita tentang seorang anak diserang werewolf dan disini aku malah menemukan romance picisan tentang werewolf. Werewolf baik hati? Yang benar saja, penulis-penulis ini perlu kembali kerealita."
Ryewook hanya menggeleng, Sungmin tipe orang yang realistis. Bukan sekali ini ia berkomentar tentang naskah yang ia terjemahkan jika khayalan sang pengarang terlalu tinggi untuk diterima akal sehatnya. Sungguh tak cocok dengan pekerjaanya.
"Mereka mencari uang dengan imajinasi mereka, mereka dilarang kembali kerealita."Hyukjae menyahut membuat Sungmin hanya menghela nafas lalu mulai membuka naskah cerita fantasi ditangannya.
"Kau benar, Hyuk. Tapi ini tetap janggal, bagaimana mungkin seorang werewolf meninggalkan kehidupannya dengan mudah? Para mahkhluk malam itu memiliki cara hidup yang begitu berbeda dengan manusia. Sangat mustahil mereka memiliki jiwa manusiawi."
Senyum Hyukjae menghilang saat mendengarnya.
"Tidak mungkin mereka hidup dengan cara yang kita lakukan, mereka terlalu kuat untuk sebuah kehidupan biasa selayaknya manusia. Mereka harus menggunakan kekuatan mereka, mereka harus hidup sesuai dengan kebutuhan mereka. Cara mereka, bukan cara manusia."
Hyukjae terdiam, semua kenyataan itu seakan kembali mengingatkannya. Tentang tindakannya, tentang keputusannya.
"Bukannya aku membela mereka, tapi kurasa jika mereka tiba-tiba saja berubah baik dan hidup selayaknya manusia justru terdengar seperti memenjarakan mereka. Mengurung mereka untuk tak melakukan apapun. Itu cukup kejam."
Penjara?
Apa Hyukjae juga tengah membangun hal itu tanpa sadar?
Apakah hal yang salah jika ia ingin Donghae hidup selayaknya dirinya?
Ini seperti menuang air kedalam gelas. Perlu sebuah wadah yang sesuai agar pas sesuai takaran airnya. Tapi jika wadah yang disediakan terlalu kecil untuk kapasitas airnya maka yang terjadi adalah tak bisa tertampung seluruhnya. Tumpah keman-mana. Berantakan.
Karena wadah itu bukanlah yang seharusnya, bukan yang dibutuhkannya.
Kekuatan itu terlalu besar jika hanya untuk berubah menjadi selemah manusia.
.
.
.
Para pemburu itu melangkah dengan cekatan namun mencoba tak menimbulkan suara. Beberapa dari mereka mencoba menaiki tangga di sebuah gedung apartement di pinggir kota itu. salah satu dari mereka menghentikan langkahnya saat menginjak lantai berikutnya.
Ada para penghuni apartemen itu didepan mereka, namun mereka semua sudah mati. Bergeletakan dengan luka robek di leher mereka.
Pemburu itu menyentuh interkom yang terhubung di telinganya.
"Vampir."
Siwon mendengarnya dengan jelas ucapan rekannya yang ada digaris paling depan. Dengan cepat ia segera berjalan untuk menyusul mereka yang ada di garis depan. Vampir bukanlah lawan yang bisa dihadapi hanya dengan segelintir pemburu tak peduli sehebat apapun mereka. Mereka harus cepat sebelum hal yang tak mereka inginkan terjadi.
Itu hanya beberapa langkah sebelum ia akan menaiki tangga saat tiba-tiba saat sesosok werewolf melompat kearahnya. Membuatnya jatuh menghantam lantai dengan taring serigala yang coba menerkamnya. Namun ini bukanlah situasi yang asing baginya, dengan mudah ia mengambil kesempatan untuk menembuskan pedang perang ke tubuh manusia serigala itu.
Telingan mendengar dengan jelas keributan yang terjadi di lantai atas, dengan komandonya para pemburu yang ikut bersama segera menaiki tangga dengan pedang perang yang siap membelah apa saja.
Dan perkelahian itu tak terhindarkan saat bentrokan kedua sisi yang begitu berbeda itu terjadi. Raungan dan suara tebasan terjadi dimana-mana. Siwon begitu terkejut tepat saat ia berhasil menepas salah satu werewolf, tiba-tiba saja datang satu lagi mengigit pedangnya menariknya hingga terlepas dari genggamannya.
Werewolf itu meraung ganas padanya lalu berlari kearahnya akan menerkam tepat saat ia berhasil mengeluarkan senapannya dan menembaknya tepat dikepala manusia srigala itu. Meninggalkan rekan-rekannya yang sedang bertarung, Siwon masuk lebih jauh kedalam. Berlari menuju lorong sempit sebelum mendobrak pintu dengan senapan ditangannya. Membuat sosok dikegelapan yang sedang menikmati santapannya itu terganggu.
Iris keemasan itu melihat manusia didepannya, sama sekali tak merasa terancam. Ia perlahan berdiri melempar jasad tak bernyawa ditangannya itu bak sampah yang sudah tak berguna. Dengan cepat pemburu itu menekan pelatuk senapannya, melancarkan tembakan beruntun kearah mahkhluk penghisap darah itu.
Tepat saat peluru itu habis, barulah ia tersadar jika vampir itu sudah menghilang. Dengan cepat ia memeriksa sekitar, ia kehilangan target utamanya. Ia menyibak korden kamar apartemen itu membuatnya dapat melihat para kumpulan werewolf itu berlarian menuju hutan. Dengan nafas terengah ia menyentuh interkom ditelingannya.
"Kyuhyun."
"Ya?"
"Mereka bersekutu."
.
.
.
Dengan santai ia mengusap bekas darah dimulutnya dengan sapu tangan, langkahnya menggema di lantai lorong bangunan gelap penuh akan lukisan dikanan kiri dindingnya. Seorang laki-laki bermata biru mengikutinya hingga mereka tiba diruang utama.
Tempat mahkhluk terkuat itu berada.
Sosok itu berdiri membelakanginya, menatap langit malam yang terlihat lebih suram dari biasannya. Seakan tertutup oleh pekatnya kegelapan yang berasal darinya. Sayap hitamnnya membentang begitu angkuh dan penuh kearoganan.
Tuannya yang bahkan tak memiliki nama, tak memiliki identitas.
Sang iblis.
"Kau mendapatkannya, Changmin?"Suara itu menggema penuh akan aura tak biasa.
Perlahan vampir itu mendekat, memberikan kalung berliontin batu biru pada Tuannya.
"Batu yang bisa memberikan keabadian seperti yang anda minta."
Tangan kuat itu menggenggamnya sebelum matanya berubah hitam menyeluruh selayaknya bagaimana batu itu mulai berubah menghitam tertelan dalam kegelapan. Mata iblis itu tertutup merasan tubuhnya yang seakan dialiri oleh kehidupan, oleh keabadian.
Namun itu tak berlangsung lama saat keabadian itu tak mampu menyentuh jiwanya. Tak mampu mencegah dunia fana yang terus mengikis jiwanya perlahan. Raungannya terdengar bersamaan dengan hancurnya batu itu ditangannya.
Tidak cukup.
Percumah, bahkan batu keabadian ini pun tak mampu mencegah kematiannya.
"Tuan-"
"Aku membutuhkan jiwa lain, aku membutuhkannya segera!"
"Aku tidak bisa menemukan jiwa segelap milikmu, Tuan."
Mata hitam menyeluruh itu menatap iris emas vampir itu, tersenyum begitu menakutkan.
"Jiwa itu ada, disuatu tempat diluar sana. Aku dapat merasakannya."
Changmin terdiam, mustahil ada iblis lain selain tuannya. Tak ada jiwa segelap milik tuannya.
Iblis itu melihat sosok lain selain hambanya yang setia. Sekali lihat pun ia tahu bahwa mahkhluk itu adalah werewolf. Ia memberikan isyarat untuk mendekat. Beta itu perlahan mendekat, tubuh manusianya perlahan berubah disetiap langkah yang ia ambil mendekati iblis didepannya.
Tangan iblis itu mencengkram, membuat kuku tajamnya menembus kulit tangannya. Mengalirkan darah hitam sepekat kegelapan dari lukanya. Menetes diatas lantai marmer. Sosok serigala sempurna itu perlahana mengendus darah iblis itu.
"Bawa jiwa itu padaku, dan kembalikan keabadianku seperti sedia kala."
Werewolf itu menyalak sebelum berlari melompat keluar dari tempat itu.
Aungannya terdengar memanggil seluruh paknya yang berjumlah puluhan, para serigala itu berlari mengikuti beta mereka tepat saat tawa iblis itu terdengar.
Ia akan mendapatkan jiwanya yang baru. Ia tak akan membiarkan dunia fana ini mengikis jiwanya. Ia tak akan meninggalkan dunia ini. Tak peduli apapun yang terjadi.
.
.
.
Donghae tersentak dan terbangun dari tidurnya, dengan cepat ia menegakan tubuhnya seperti sesuatu baru saja mengejutkannya. Ia semakin panik saat tak mendapati sosok yang seharusnya berbaring disebelahnya.
"Hyuk! Hyukjae!"
Teriakan itu segera membuat Hyukjae berlari kekamar dengan gelas berisi air yang baru separuh ia minum. Ia sedang didapur untuk minum karena terbagun ditengah malam saat tiba-tiba mendengar teriakan Donghae.
"Ada apa?"Tanyanya khawatir sembari menaruh gelasnya di meja nakas. Melihat dari betapa paniknya Donghae ia tahu sesuatu yang buruk baru saja terjadi.
Belum sempat Hyukjae menyentuh ranjang, tangan kuat itu sudah menarik tubuhnya. Memeluknya dengan begitu putus asa. Dengan kebingungan lelaki kurus itu membalas pelukan Donghae, menepuk punggungnya mencoba menenangkannya.
"Tidak apa-apa, Donghae. Aku disini."Bisiknya lembut saat merasakan deru nafas Donghae yang tak normal.
Perlahan Hyukjae mengajak Donghae kembali berbaring, masih dengan Donghae yang tak mau melepaskannya. Perlahan tangan pucat itu mengelus rambut hitam Donghae, atau sesekali menepuk punggunya lembut. Dapat ia rasakan deru nafas Donghae dilehernya yang tadinya begitu cepat kini perlahan kembali normal.
"Hyuk."Suara Donghae memecah keheningan dikamar itu.
"Ya?"
"Aku bermimpi buruk."
"Tidak apa-apa, itu hanya mimpi."
"Tapi kau menghilang disana."
Tangan Hyukjae berhenti diudara.
"Kau tiba-tiba saja menghilang dan tak bisa kutemukan dimanapun. Aku terus memanggilmu tapi kau tak menjawabku."
Dapat Hyukjae rasakan betapa kuat cengkraman Donghae pada tubuhnya. Seakan lepas sedikit saja ia akan melebur bersama udara, menghilang tanpa jejak.
Tangan pucat itu mengusap rambut Donghae sebelum ia mencium keningnya lembut. Menyampaikan kasih sayangnya untuk meredam ketakutan yang ada. Hyukjae memeluk Donghae sama eratnya.
"Aku selalu disini, Donghae. Tepat disisimu. Aku tak akan pergi kemanapun."
Bahkan jika Hyukjae harus mati sekalipun, ia tak akan pernah meninggalkan Donghae. Tak akan pernah.
"Kau janji?"
"Ya, aku janji. Karena itu kau juga harus janji tak akan meninggalkanku."
"Janji."
"Kalau begitu semua akan baik-baik saja."
Perlahan Donghae kembali menutup matanya. Hyukjae benar, tak ada yang perlu ia khawatirkan. Keduanya kembali tertidur saling mendekap, sebagai usaha untuk merasakan kehadiran satu sama lain. Sebagai usaha untuk memastikan mereka tak sendirian didunia ini.
Mungkin memang keadaan mereka jauh dari kata sempurna. Satu hari terkadang begitu sulit untuk dihadapi. Satu malam terkadang terasa begitu menakutkan. Tapi setidaknya mereka memiliki satu sama lain untuk saling berpegang, hanya memiliki satu sama lain untuk saling menguatkan.
.
.
.
Keesokan harinya Donghae bangun lebih terlambat dari biasanya. Hyukjae sudah berangkat bekerja, meninggalkan sepiring sarapan dengan catatan kecil dimeja makan untuknya. Iris cokelat itu menatap sekitarnya, apartemen yang bersih namun sunyi seperti biasa.
Perlahan ia berjalan menuju jendela besar di sudut ruang. Jemarinya menyentuh kaca, bola matanya bergerak menatap dunia diluar sana. Ada bangunan-bangunan besar yang selalu membuatnya bertanya-tanya apakah Hyukjae ada disana? Orang-orang yang berlalu lalang dibawah sana pun selalu membuatnya penasaran, kemana mereka semua pergi?
Langit begitu mendung hari ini, sangat disayangkan karena Donghae ingin melihat langit biru dengan awan putih seperti kapas. Satu hari akan terasa panjang saat tak ada Hyukjae disekitarnya. Tapi hari ini ia tidak menghabiskan waktunya di depan pintu. Kini ia duduk menatap langit kelabu diatas sana, menunggu kapan akan berubah biru dan cerah.
Donghae bisa berdiam diri ditempat yang sama tanpa terganggu ataupun bosan. Ia akan diam dirumah seperti apa yang Hyukjae katakan padanya, ia akan menunggu Hyukjae seperti yang diminta. Perlahan ia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, masih melihat awan kelabu di luar sana. Perlahan Donghae memejamkan matanya.
Ia merindukan Hyukjae.
Ia merindukan Hyukjae lebih dari biasanya. Ia merasa membutuhkan kehadiran Hyukjae lebih dari biasanya.
Milikku.
Donghae begitu terkejut saat mendengar suara itu. Ia bangun lalu mengedarkan pandanganya ke sekitar. Ia jelas mendengar seseorang bicara tepat ditelingannya.
Jiwa milikku.
Donghae mundur saat kembali mendengarnya, tangannya mencengkram dadanya yang tiba-tiba saja terasa begitu sesak dan menyakitkan. Seperti ada sesuatu yang mencengramnya didalam.
"Argh!"
Tubuh itu berlutut dilantai kayu, masih menahan rasa sakit yang semakin menjadi. Cengkramannya semakin erat didadanya karena sesuatu seakan membelah dadanya. Tubuhnya terasa semakin panas dan tegang, dan tepat saat matanya kembali terbuka sudah hitam sepenuhnya.
Kekuatan itu bergejolak, dan ia tak pernah tahu bagaimana mengontrolnya. Jadi saat ia tak bisa lagi menahannya, semuanya lepas begitu saja. Menimbulkan ledakan luar biasa yang menghancurkan apapun disekitarnya.
Bermil-mil jauhnya dari sana, jiwa yang sama gelapnya tengah tersenyum begitu menakutkan. Ia bisa merasakannya.
Jiwa gelap yang akan menjadi miliknya.
.
.
.
Langkah kaki Hyukjae begitu berantakan, ia berlari dengan diilanda kepanikan menembus kerumunan orang. Langkahnya terhenti saat melihat gedung apartemen itu, hancur sebagian seakan-akan sebuah buldoser tengah menghantamnya.
"... aku tidak tahu, tapi tiba-tiba semuanya meledak. Dan-dan ada sesuatu yang muncul disana, ada sayap hitam dipunggungnya." Suara salah satu penghuni apartemen yang memberikan keterangan pada polisi itu terdengar jelas ditelinga Hyukjae.
Sayap hitam.
"Donghae..."
Laki-laki kurus itu sudah akan menerobos masuk ke apartemen namun para petugas kebakaran mencegahnya.
"Aku harus mencari seseorang, dia ada didalam sana!"
"Sudah tidak ada siapapun didalam sana, nak."
Tidak ada siapapun? Tidak mungkin. Lalu dimana Donghae?
Dengan cepat Hyukjae keluar dari kerumunan, dengan kebingungan dan tak tentu arah ia berkeliling disekitar.
"Donghae!"
Seruan itu terdengar tak kenal lelah, terus memanggil satu nama itu berkali-kali. Ia yakin Donghae masih ada disekitar, Donghae tak akan pergi kemana pun tanpa dirinya. Hyukjae sudah diabang menangis karena putus asa saat langkahnya terhenti didepan gang antar gedung yang begitu sepi. Tempat itu begitu gelap, mengingatkannya pada sudut perpustakan tempat ia bertemu Donghae.
Mungkinkah?
Perlahan kakinya mendekati kegelapan itu. Merasakan tekanan akrab yang sudah lama tak ia rasakan. Dan saat iris hitamnnya melihat sosok yang duduk dikegelapan itu, Hyukjae tanpa pikir panjang berlari menghampirinya.
"Donghae! Ya Tuhan, Donghae!"
Laki-laki itu berlutut didepan sosok dengan sayap hitam itu. Menangkup wajahnya dengan tangan bergetar karena begitu cemas.
"Astaga, aku sangat takut terjadi sesuatu padamu. Bagaimana-"
"Hitam."
Bisikan itu memotong perkataan Hyukjae.
"Apa?"
Donghae menunduk, memperlihatkan telapak tangannya yang terkena bercak hitam. Iris cokelat itu kembali melihat Hyukjae dengan kebingungan.
"Kenapa ini berwarna hitam? Kenapa tidak merah seperti milikmu, Hyuk?"
Tak ada kata yang keluar dari mulut Hyukjae, ia tak bisa menjawabnya. Bagaimana warna darah mereka yang begitu berbeda. Hyukjae tak bisa menjawabnya.
"Aku ini sebenarnya apa, Hyuk?"
Ada sesuatu yang seakan menembus dada Hyukjae saat Donghae mengatakan itu. Membuatnya sesak dan hampir tak bisa bernafas.
"Kenapa aku begitu berbeda denganmu?"
Menyadarkannya pada realita, realita yang coba tak ia pedulikan selama ini.
Tangan pucat itu menangkup wajah Donghae. Membuat iris cokelat itu menatap tepat pada matanya. Menahan segala sesak dan gejolak didadanya saat melihat kesedihan diiris cokelat itu.
"Kau adalah Donghae."
Getar pada suaranya karena ia tidak hanya sedang meyakinkan sosok didepannya ini, namun juga meyakinkan dirinya sendiri. Perlahan tangan kurus itu mendekap sosok itu, menyentuh bulu sayapnya yang begitu hitam kelam.
"Kau adalah Donghae."Ucapnya begitu putus asa saat tubuhnya balas direngkuh.
Namun sekuat apapun Hyukjae mencoba mengingkarinya, sekuat apapun mengabaikannya. Hal itu tak akan pernah berubah, tak akan pernah bisa ditutupi. Satu hal yang bahkan tak sanggup terucap dimulutnya. Satu hal yang merupakan sebuah kebenaran.
Kebenaran bahwa Donghae adalah jiwa gelap yang berasal dari neraka.
Bahwa Donghae adalah seorang iblis yang berbahaya.
.
.
.
Greek.
Kursi itu terdorong mundur karena Kyuhyun yang reflek berdiri setelah mendengar laporan salah satu pemburu.
"Kau yakin?"
"Iya, saksi ini mengatakan setelah ledakan di apartemen itu terjadi ia melihat sosok bersayap hitam disana."
"Kalau begitu tunggu apa lagi! Bawa aku kesana!"
"Tunggu, Kyu!"
Seruan Siwon mencegah rekannya itu beranjak. Pemburu tinggi tegap itu membuka semua data kasus penyerangan werewolf yang terjadi baru-baru ini didepan rekannya. Membuat rekannya itu melihatnya tak mengerti.
"Semua penyerangan itu dilakukan oleh kelompok werewolf yang sama Kyuhyun. Seluruh gerak-gerik mereka begitu mencurigakan, mereka seperti sedang mencari-cari sesuatu."
"Lalu?"
"Mereka bahkan ada disekitar tempat ledakan apartemen itu berada."Jari Siwon menunjuk data yang baru saja disampaikan pemburu didepan mereka.
Dahi Kyuhyun mengernyit, ia mulai bisa membaca situasi yang coba rekannya sampaikan.
"Jika memang dugaanku benar mereka sedang mencari sesuatu, maka kemungkinan besar apa yang mereka cari sama dengan apa yang kita cari."
Kyuhyun terbelalak.
Iblis. Mereka semua mencari iblis.
"Dan jika mereka mencari hal yang sama, akan lebih mudah untuk kita mengikuti jejak para werewolf ini. Tak ada yang bisa menandingi indera penciuman seorang serigala, Kyuhyun."
.
.
.
Kereta itu melewati stasiun dengan kecepatan tinggi, membuat sapuan angin menggerakkan rambut Hyukjae yang duduk disalah satu kursi tunggu yang ada disana. Laki-laki itu menunduk, melihat Donghae yang terlelap dipangkuannya. Jemari pucat itu perlahan membelai rambut hitam iblis itu. Menjauhkan mimpi buruk darinya.
Dua tas ransel hitam terlihat tergeletak didekat mereka. Berisi beberapa keperluan yang bisa mereka beli. Hyukjae juga sudah mengambil sebagian tabungannya. Iris hitamnnya melihat arah datangannya kereta malam yang akan mereka tumpangi, terlihat lengang. Belum ada tanda-tanda kedatangan. Jika kereta mereka datang tepat waktu, maka mereka akan tiba ditempat tujuan saat fajar.
Ya, mereka akan pergi.
Kekacauan sebelumnya cukup membuat keberadaan Donghae akan terendus oleh para pemburu. Karena itu mereka harus segera pergi dari tempai ini, Hyukjae tak ingin mengambil resiko. Semakin lama mereka ditempat ini maka akan semakin berbahaya.
Hyukjae kembali menunduk saat merasa Donghae tersentak dalam tidurnya, dahinya mengernyit menandakan ia terganggu dalam tidurnya. Tangannya bergerak menarik satu tangan Hyukjae, memeluknya dalam usaha mencari pegangan.
"Sssht." Bisik Hyukjae lembut sembari tangan pucatnya mengusap rambut Donghae lembut. Menenangkannya.
Perlahan tubuh iblis itu kembali tenang, kernyitan didahinya menghilang dan nafasnya kembali teratur. Iris hitam itu kembali melihat sekitarnya. Sorot matanya meredup.
Sejak awal Hyukjae tahu tengah kota bukanlah hal yang tepat untuk Donghae. Ia tahu ia egois menempatkan mereka disini, tapi mereka tak memiliki banyak pilihan. Seluruh tempat terasa berbahaya bagi mereka. Semua mata seakan mengawasi mereka dan bisa kapan saja mengetahui kebenarannya.
Kebenaran bahwa tangan yang selalu ia genggam ini adalah milik sebuah jiwa paling gelap.
Sosok yang begitu dilaknat keberadaanya.
Kereta mereka datang, memutus pikiran Hyukjae. Perlahan ia menepuk pundak Donghae, membangunkan iblis itu agar mereka bisa segera pergi dari kota ini.
"Kita akan pergi kemana?"
Hyukjae merebahkan kepalanya di pundak Donghae saat mereka sudah duduk didalam kereta.
"Ketempat yang baik untukmu."Jawabnya dibarengi dengan kereta yang mulai bergerak.
Kereta itu bergerak jauh menuju ke utara, menaiki tanjakan pegunungan dan daratan tinggi hingga tepat saat fajar menyingsing akhirnya mereka telah sampai ditujuan.
Donghae melihat sekitarnya. Penuh pepohonan pinus disana-sini dengan kontur berbukit-bukit. Hyukjae memeriksa catatan dan bertanya pada orang untuk memastikan mereka ada ditempat tujuan.
Mereka menumpang pada sebuah truk barang untuk melanjutkan perjalanan setelah keluar dari satasion. Tempat itu begitu sepi, hanya ada sedikit bangunan warga sisanya adalah pohon-pohon pinus besar yang berjajar.
Untuk sejenak mengingatkan Hyukjae pada tempat dimana ia pertama kali menemukan Donghae.
Merasa telah sampai di ujung jalan, Hyukjae segera mengajak Donghae turun. Tepat di depan hutan pinus yang begitu dingin dan sunyi. Hanya ada suara hewan dan daun yang tersapu angin. Mengencangkan ranselnya, keduanya segera memasuki hutan. Menyusuri jalan setapak yang hampir tak terlihat.
"Bukankah ini menyenangkan? Kita sudah lama tak berjalan-jalan diluar seperti ini."
Hyukjae tersenyum sembari melihat Donghae yang berjalan dibelakangnya. Mencoba meringankan suasana diantara mereka setelah sebelumnya melalui hari yang begitu panjang dan melelahkan. Tangan pucat itu menyentuh batang pohon pinus, ia mendongak mengagumi ukuran serta tinggi pohon itu tanpa tahu iris cokelat itu terus mengawasinya.
Iblis itu melihat lengkungan hangat dibibir Hyukjae. Sebuah suara deretan ketukan mengalihkan perhatiannya. Ia mendongak melihat salah satu cabang pohon. Ada seekor burung disana, membenturkan paruhnya seperti mencoba menembus batang pohon.
"Itu burung pelatuk."
Donghae segera melihat Hyukjae yang berjalan mendekatinya, ikut melihat seekor burung pelatuk yang mencoba membuat lubang dibatang pohon.
"Sebentar lagi musim gugur, mereka pasti sedang membuat rumah."
Rumah?
Donghae kembali melihat bagaimana burung itu tak kenal lelah untuk menembus kerasnya batang pohon pinus sebelum merasakan jemari ramping itu menyusup di sela-sela jemarinya.
"Ayo, kita juga harus segara menemukan rumah."
Mereka segera melanjutkan perjalanan. Berjalan menyusuri hutan bersama, dengan tangan yang terpaut kuat.
Mereka berjalan berjam-jam menembus hutan. Sesekali akan beristrirahat. Makan dan melihat kompas memasttikan mereka tak tersesat. Matahari semakin membumbung tinggi saat akhirnya mereka menemukan danau.
"Ketemu!" Seru Hyukjae lalu berlari menuju arah danau.
Senyumannya terukir saat melihat apa yang mereka cari. Sebuah bangunan yang berdiri kokoh tak jauh dari danau. Sebuah kabin.
Rumah bagi mereka.
Donghae menyusul Hyukjae, melihat bangunan dua lantai dengan atap dan dinding kayu didepannya. Hyukjae dengan semangat menaiki undakan sebelum perlahan membuka pintu kayu yang tak terkunci itu untuk melihat kedalam.
Tidak buruk.
Mungkin memang sangat kotor tapi cukup hangat untuk mereka. Bahkan Hyukjae bisa melihat perapian disudut ruangan. Iris hitamnnya melihat langit-langit, ada lampu diatas sana yang berarti tempat ini dilengkapi dengan listrik.
"Bagaimana menurutmu? Lumayan bukan?"Tanya gembira pada Donghae yang ditanggapi sebuah senyuman ringan.
Hyukjae mengetahui tempai ini dari cerita teman kerjanya yang tersesat dihutan saat mencoba mendaki gunung. Ia mengatakan menemukan kabin terbengkalai secara tak sengaja dan Hyukjae memutuskan menayakan letaknnya. Sudah lama Hyukjae ingin pindah ketempat ini bersama Donghae, tapi ia perlu menabung untuk kebutuhan mereka sebelum memutuskan hidup menyendiri tanpa orang lain seperti ini. Seharusnya mereka akan pindah kemari setahun lagi.
Namun semua rencana sudah berubah sekarang, mau tak mau mereka harus memisahkan diri dari keramaian sekarang.
"Baiklah, kita harus membersihkan tempat ini sebelum gelap!"
.
.
.
Crash.
Batang korek api itu menyala sebelum api itu menyentuh ujung lilin membuat ruangan itu terang. Listrik kabin ini masih belum berfungsi, mengharuskan lilin menjadi satu-satunya sumber cahaya untuk malam ini. Hyukjae segera mengambil kain hangat didalam ransel, menutup ranjang usah dengan kain agar bisa mereka tempati malam ini.
Perlahan ia berjalan keluar kamar, menuruni tangga kayu mencari keberadaan Donghae. Hari sudah sangat gelap, ia hanya berharap Donghae tak berkeliaran terlalu jauh dan tersesat.
"Donghae!"Serunya saat ia keluar dari kabin.
Melihat sekitar, Hyukjae melangkah menuju danau. Disana iris hitamnya akhirnya menemukan sosok yang ia cari. Berdiri membelakanginya tepat didepan danau. Melihat genangan air danau yang begitu tenang. Air danau yang memantulkan bias cahaya bulan diatas sana.
"Donghae?"
Iblis itu perlahan melihat kearahnya.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Donghae tak menjawab, ia justru mengulurkan tangannya. Meminta Hyukjae menyambut uluran tangannya. Ikut bersamanya.
Seperti terhipnotis, tangan pucat itu perlahan menerima uluran sang iblis. Mengikutinya saat dengan hati-hati tubuhnya ditarik masuk kedalam danau. Tenggelam bersama jiwa gelap didepannya.
"Donghae, ini sudah terlalu malam untuk mandi-"
Hyukjae memekik setelahnya karena tangan kuat itu menariknya jatuh kedalam air. Membuatnya reflek memegangan pundak Donghae. Melingkarkan tangannya di leher kuat itu. Baju mereka basah, dan air danau yang dingin terasa hingga pundak mereka.
"Donghae."
Panggilan itu hanya dijawab oleh rengkuhan kuat yang Hyukjae rasakan ditubuhnya. Tak perlu waktu lama sebelum iris mereka bertemu. Hyukjae terdiam, cara Donghae melihatnya mampu membuat tubuhnya lemas tak bertenaga. Bagaimana dominasi itu seakan melelehkan tubuhnya.
Membuatnya tak berdaya.
Iblis itu perlahan mendekat, menyapukan ujung bibirnya disepanjang pelipis dan pipi Hyukjae. Tangan pucat itu mencengkram kaos Donghae yang basah saat merasakan hembusan nafas hangat dilehernya.
Kesadaran Hyukjae mulai samar, akal sehatnya terkikis hampir tak bersisa.
Dan saat bibir tipis itu menyentuh miliknya, Hyukjae tak bisa menolak. Menekan miliknya dan bergerak perlahan untuk memilikinya. Menghisap rasa manisnya penuh kebutuhan. Rasa manis yang tak akan pernah cukup untuk jiwa segelap ini.
Semuanya terasa menghilang saat lidah hangat itu bergerak didalam mulutnya. Semuanya terasa putih saat air liur mereka bercampur. Hyukjae tak kuasa melawan.
Semuanya hanya terasa salah dan benar disaat bersamaan.
Ia mendapat ciuman iblis ditengah danau di dalam hutan. Dengan tubuh yang hampir terendam air sepenuhnya. Tepat dibawah remang cahaya bulan ditengah gelapnya malam.
Iblis yang seakan telah memiliki jiwa raganya.
Memiliki sepenuh hatinya.
.
.
.
Kyuhyun menatap serius berkas-berkas diatas mejanya. Jemarinya membuka lembaran, membaca tiap deretan kalimat yang ada disana. Disana tertulis data diri seorang laki-laki yang tiba-tiba saja menarik perhatiannya. Penyewa apartemen yang memiliki kerusakan paling parah di insiden ledakan beberapa hari lalu.
Lee Hyukjae.
Nama itu tertulis begitu jelas, seorang laki-laki berusia 27 tahun dengan perawakan kurus dan wajah kecil. Awalnya orang ini tak begitu ia perhatikan, namun saat tahu bahwa ternyata Hyukjae ini tiba-tiba saja menghilang setelah insiden ledakan itu kecurigaan Kyuhyun muncul.
Bukan hanya menghilang dari tempat tinggalnya namun juga dari tempatnya bekerja, seakan lenyap begitu saja tanpa jejak. Tidak ada yang tahu keberadaannya. Tak ada yang tahu pula sanak saudaranya.
Itu sangat aneh.
Sejak awal Kyuhyun merasa ada yang ganjil dengan kasus ini. Dan laki-laki bernama Lee Hyukjae ini semakin membuatnya rumit. Kyuhyun tak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi.
Pintu ruang kerjanya yang tiba-tiba terbuka memutus pemikiran Kyuhyun. Terlihat rekannya terengah seperti habis berlari.
"Para pemburu menemukan jejak werewolf."Ucap Siwon membuat Kyuhyun lekas berdiri.
Sekarang mungkin memang masih berupa teka-teki, namun mereka yakin akan menemukan semua jawabannya.
Para werewolf itu berlari begitu cepat melesat di daratan terjal. Puluhan dari mereka mengikuti sang beta yang berada tepat didepan. Beta itu menghentikan langkahnya, menaikan hidungnnya untuk mengendus bau sekitar. Eramannya terdengar saat apa yang ia cari berada sudah dekat dengannya.
Mata birunya menatap daratan perbukitan yang diselimuti hutan pinus. Ia segera mengaung, memberitahu seluruh paknya.
Serigala itu kembali berlari, mengais jejak lurus tepat kearah utara.
.
.
.
Hyukjae mengerjap, kesadarannya mulai terkumpul karena bangun dari tidurnya. Ia tersenyum saat melihat wajah terlelap Donghae disebelahnya. Telunjuknya menyentuh hidung iblis itu, mengetuk-etuk ujungnya membuat kernyitan didahi Donghae karena merasa terganggu.
Iblis itu menarik tubuh Hyukjae lebih dekat, menggeliat mencari posisi ternyaman saat meringkuk pada manusia disampingnya.
"Kau sudah bangun, bukan?"Tanya Hyukjae saat merasakan deru nafas Donghae dilehernya.
Bukannya jawaban yang ia dapatkan, Hyukjae justru merasa tubuhnya terangkat karena Donghae menariknya. Membuatnya sekarang berada tepat diatas tubuh iblis ini. Iris cokelat itu terlihat saat Donghae membuka matanya. Mata mereka beradu, menyelami hati masing-masing.
Perlahan Donghae mendekatkan wajahnya, namun tangan pucat itu segera menutup mulutnya.
"Aku tidak mau! Kau belum sikat gigi."Tolak Hyukjae tahu apa isi pikiran iblis ini.
Kembali menarik tubuh ramping diatasnya, Donghae menggesekkan hidungnnya di leher Hyukjae. Membuat manusia itu terkekeh sebelum mengeluh geli. Gerakan mereka membuat ranjang usang itu berdecit, namun tak ada satupun diantara mereka yang peduli. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pagi yang tenang dan menyenangkan untuk mereka. Mereka tak perlu mengkhawatirkan apapun dan tak perlu mencemaskan apapun.
Mata mereka kembali bertemu. Perlahan tangan pucat Hyukjae menyingkirkan helaian rambut hitam itu dari kening Donghae. Menikmati bagaimana iris cokelat itu serasa ingin menenggelamkannya.
"Mari hidup seperti ini saja, Donghae."
Hal itu terucap begitu saja. Hyukjae tersenyum saat mata sendu itu menatapnya tak mengerti.
"Mari hidup ditempat ini, hanya kita berdua. Tempat ini tidak buruk, hanya perlu sedikit perbaikan. Kita bisa sama-sama membangunnya. Aku juga akan mencari pekerjaan yang tak perlu meninggalkanmu setiap hari. Jadi kita punya banyak waktu bersama-sama. Bagaimana?"
Donghae tersenyum lalu menarik tubuh Hyukjae. Ia mencium pipi Hyukjae sekilas sebelum memeluk tubuh ramping itu erat-erat membuat Hyukjae tertawa. Hati keduanya terasa begitu penuh, hangat dan geli disaat bersamaan. Sebuah ungkapan bahagia yang begitu mereka dambakan selama ini. Tangan kurusnya balas memeluk iblis itu sama eratnya.
"Disini kita tak perlu mengkhawatirkan apapun. Tak perlu memikirkan apapun."
Manusia itu kembali menutup matanya. Merasakan kehangatan tubuh seorang iblis yang merengkuhnya kuat. Seorang iblis yang membuatnya rela melakukan apapun untuknya. Memberikan apapun untuknya. Hyukjae tak peduli jika yang ia lakukan adalah hal yang salah, sebuah dosa. Yang ia pedulikan hanya Donghae disisinya.
Itu saja.
.
.
.
Hari itu langit begitu cerah, membuat air danau terlihat gemerlapan memantulkan sinar matahari. Udara terasa hangat namun tetap sejuk karena banyaknnya pepohonan. Suara burung pelatuk yang sedang membuat sarang dan gemerisik serangga berdengung ditelinga mereka.
"Ah, tunggu!"
Seruan itu menghentikan tangan Donghae yang akan mengayunkan palu. Ia melihat Hyukjae yang terlihat cemas disampingnnya.
"Seperti yang kukatakan tadi, pelan saja Donghae."
Kernyitan didahi Donghae menandakan keheranannya pada Hyukjae yang seperti tak percaya padanya. Ia kembali mengayunkan palunya akan memukul paku agar kayu menutup bagian yang berlubang.
"Ah stop!"Lagi-lagi seruan Hyukjae menghentikannya.
Kali ini Donghae melihat Hyukjae kesal. Bukannya Hyukjae meragukan Donghae, tapi ia tahu betul seberapa kuat tenaga iblis ini. Pohon saja bisa tumbang ia dorong, apalagi cuma selapis kayu seperti ini. Pasti rubuh seketika.
BRAK
Apa Hyukjae bilang, baru saja Hyukjae membahasnya. Tembok kayu itu hancur akibat pukulan palu Donghae, menambah pekerjaan Hyukjae hari ini. Setelah itu Hyukjae menyuruh Donghae mencari kayu. Terserah ia mau merobohkan pohon pinus atau apa, yang penting iblis itu jauh-jauh dari kabin selama Hyukjae memperbaiki tembok.
Siang hari setelah makan siang mereka memutuskan mencuci kain dan peralatan yang mereka temukan di dalam kabin.
"Ya!"
Seru Hyukjae saat wajahnya terkena cipratan air hasil keusilan Donghae. Iblis itu hanya tersenyum tanpa dosa. Seperti tidak kapok, iblis itu kembali melakukan hal yang sama saat Hyukjae begitu serius membersihkan noda pada kain. Kesal, manusia itu menangkup air dikedua tangannya sebelum berlari mengejar Donghae yang sudah melarikan diri.
"Kemari kau! Jangan lari!"
Tepat saat mereka hampir menyelesaikan seluruh pekerjaan, suara gemuruh dilangit terdengar. Hyukjae mendongak, melihat langit kelabu menandakan akan turun hujan. Ia sama sekali tak sadar bahwa cuaca berubah begitu cepat. Ia segera mempercapat menata persedian kayu saat gerimis mulai membasahi pakaiannya sebelum memanggil Donghae yang masih membelah batang kayu tak jauh darinya.
Dengan cepat Hyukjae menghampiri Donghae, menarik tangannya untuk segera berteduh dikabin.
"Ayo, akan kubuatkan sesuatu yang hangat untuk kita."
Donghae membalas senyum Hyukjae. Membiarkan tangan pucat itu menuntunnya ke kabin, rumah mereka. Namun belum sampai kaki mereka menyentuh teras kabin tiba-tiba saja langkahnya terhenti, senyumnnya menghilang seketika. Hyukjae yang merasakan perubahan itu segera berbalik melihatnya.
"Donghae?"
Iblis itu berbalik melihat hutan, iris cokelatnya menajam dan tangannya reflek menarik Hyukjae agar mendekat padanya. Iblis ini merasakannya, sesuatu tengah menuju kearah mereka. Suara gerimis yang mulai membasahi mereka adalah satu-satunya yang terdengar.
"Donghae, ada apa?"
Pertanyaan Hyukjae itu terjawab saat iris hitamnya menangkap sesuatu yang keluar dari hutan. Berbulu hitam dan memiliki taring tajam.
Werewolf.
Manusia itu mencengkram tangan iblis didekatnya saat melihat para serigala itu meuncul satu persatu. Tak hanya didepan mereka tapi juga disekeliling mereka. Mengepung mereka.
Desissan serta geraman menakutkan itu seakan menelan nyali Hyukjae. Dari mana mereka semua datang?
Dengan mengeram berani, satu persatu werewolf itu mendekat membuat Donghae semakin menyembunyikan Hyukkjae dibalik tubuhnya. Iris cokelatnya menatp para serigala itu penuh permusuhan.
Ditanah inilah kumpulan werewolf itu bertemu dengan iblis yang mereka cari. Dibawah langit kelabu dan gemuruh guntur. Ditengah gerimis hutan yang membasahi tanah berlumut.
.
.
.
Tangan itu terulur. Mengambil sejumput bulu hitam milik manusia serigala diatas tanah basah. Kyuhyun melihat sekitarnya, mereka ada ditengah hutan pinus. Para serigala itu membawa mereka jauh ke utara.
Hutan utara tepatnya.
Panggilan interkom ditelinganya mengalihkannya. Ia segera menekan sambungannya.
"Ya?"
"Kami menemukannya."
Tepat saat itu Kyuhyun dapat mendengar aungan serigala dari kejauhan. Ia melihat Siwon, mereka saling menganguk sebelum masuk lebih dalam ke hutan. Ketempat dimana mereka akan menemukan semuan jawabannya.
.
.
.
Manusia itu semakin merapat pada iblis disampingnnya saat merasakan langkah para serigala ini mendekatinya. Ia dapat merasakan tubuh Donghae menegang, seakan waspada dengan apapun yang nantinya tiba-tiba menyerang mereka.
Serigala itu ada disetiap sudut. Mendesis dengan taringnya yang tajam, siap melompat pada mereka dengan cakarnya kuat. Bagai tenang sebelum badai, detik-detik itu begitu menakutkan. Dan dalam satu geraman sang beta, para werewolf itu menyerang bersamaan.
Buak
Satu tinjuan itu menghantam tepat di kepala serigala itu saat berani mendekatinya sebelum satu lagi mencoba mengigitnya. Donghae mencengkram leher serigala itu lalu membuangnnya jauh menghantam kawananya. Satu lagi melompat kearah punggunya, mencoba menerkam lehernya. Namun Donghae dengan mudah menariknya kebawah sebelum menghantamkan dua pukulan telak ke kepala manusia serigala itu.
"Ark! Donghae!"Seruan Hyukjae mengalihkannya.
Satu seriaga kini mendorong Hyukjae ditanah, mencoba menancapkan taringnya pada manusia itu sebelum Donghae melemparnya menjauh. Belum sempat Donghae memastikan keadaan Hyukjae saat seringala lainnya mulai menerkamnya, menggigitnya disana-sini sebagai usaha untuk melumpuhkannya. Mereka ada puluhan, dan coba mengkeroyok satu iblis didepan mereka.
"Donghae..."
Hyukjae mencoba bangkit saat melihat puluhan serigala itu mencoba menyerang Donghae, namun langkahnya terhenti saat ada tangan kuat yang mencengkramnya, membalik tubuhnya untuk bertemu iris keemasan yang begitu menakutkan.
Vampir.
Manusia itu mematung saat menyadarinya.
Changmin menyeringai melihat respon mahkhluk lemah didepannya.
"Manusia" Gumannya sebelum tanpa diduga mencengkram leher manusia didepannya.
Mencekiknya sembari mengangkat tubuh manusia itu dari tanah. Menikmati saat wajah menderita itu tersaji didepannya.
Hyukjae menggeliat tak berdaya dicengkraman seorang vampir. Cengkraman dilehernya terasa menyakitkan, dapat ia rasakan kuku tajam itu menancap dikulitnya membuat darah segar mengalir dari sana. Kedua kakinya bergerak mencoba menggapai tanah yang sudah tak bisa ia pijak.
Nadasnya semakin sesak dan ia sudah tak mampu bertahan saat hanya satu nama yang ia ingat.
Donghae.
Gelombang kekuatan itu membuat para serigala itu terlembar ke udara sebelum menghantam pohon dan tanah. Changmin segera melempar tubuh lemah dicengkramannya begitu saja saat melihat jiwa gelap itu tengah tepat berada didepannya.
Mata itu sudah hitam menyeluruh dan sayap hitam itu membentang begitu kuat seakan melambangkan otoritasnya.
Jiwa dari neraka.
Seorang iblis.
Hyukjae terbatuk-batuk ditanah, sebelum iris hitamnya menyadari sosok Donghae sekarang. Ia terbelalak.
Tidak.
Siwon mengepalkan tangannya diudara membuat rekan-rekannya berhenti. Bola matanya melihat tak percaya dengan apa yang ada didepannya.
Kyuhyun benar. Itu memang iblis.
Vampir itu berjalan mendekat separuh tak percaya. Tak percaya bahwa jiwa segelap milik tuannya memang ada. Dapat ia rasakan bagaimana udara yang semakin berat karena pekatnya kegelapan disekitarnya.
Ia sama sekali tak sadar mata hitam menyeluruh itu tengah mengincarnya sejak awal. Tangan iblis itu terulur membuat tubuh vampir itu terseret kearahnya hingga jemari kuat itu kini mencengkram leher penghisap darah itu.
Dengan tanpa perasaan ia mencengkram leher vampir itu semakin kuat, membuatnya menggeliat kesakitan. Namun Donghae tak peduli, ia akan membalas dengan cara yang sama.
Vampir itu tak kuasa menahan kekuatan seorang iblis. Tak membutuhkan waktu lama sebelum akhirnya lehernya hancur hingga membuat kepalanya hampir putus. Darah segar mengalir dari tubuhnya saat iblis itu membuangnya bagai sampah setelah tak bernyawa.
Mata hitam menyeluruh itu melihat kumpulan serigala yang menjauh darinya, memberikan peringatan secara tak langsung pada mereka semua. Peringatan bahwa selangkah saja mereka berani menginjakkan kaki di otoritasnya maka akan bernasip sama seperti vampir didepan mereka.
Perlahan Donghae beranjak mendekati Hyukjae. Setiap langkah yang ia ambil bersamaan dengan bola matanya yang berubah normal dan sayapnya yang tertangkup lalu menghilang. Iris cokelatnya dapat melihat luka dileher Hyukjae yang mengucurkan darah manusia itu.
"Donghae..."
Panggilan itu terasa begitu berat, seakan Donghea dapat merasakan rasa sakit Hyukjae secara kasat mata.
Itu hanya tinggal beberapa langkah lagi. Beberapa langkah lagi menggapai Hyukjae saat tiba-tiba saja aura kuat itu serasa menghentikan jantungnnya. Bagaimana keberada sosok lain dibelakangnnya itu begitu tak terduga.
Dan setelah itu segalanya terjadi begitu cepat. Saat sosok bersayap hitam itu meraih tubuh Donghae dari belakang. Saat iris hitam Hyukjae melihat senyum menakutkan dari jiwa gelap bersayap hitam itu.
"TIDAK!" Seruan manusia itu terdengar tepat saat sosok itu membawa Donghae menghilang bersamanya.
Menyisakan kabut hitam yang menutupi jejaknya.
Dengan begitu putus asa manusia itu mencoba meraihnya namun percumah, Donghae sudah menghilang. Dengan begitu panik dan kebingungan ia meneriakkan nama Donghae berkali-kali.
Tidak, mereka tidak boleh membawa Donghae darinya!
Mereka tak bisa membawanya pergi begitu saja!
Manusia itu tak tahu saat seorang beta mulai berjalan kearahnya, siap menancapkan taringnya pada manusia lemah itu sebelum tanpa diduga sebuah pedang perak menembus dadanya. Membuatnya mati seketika.
Kyuhyun menyarungkan kembali pedangnya, sebelum disusul oleh rekan-rekan pemburu lainnya. Mata kelamnya melihat manusia di ujung sana. Seorang manusia yang tak biasa. Seorang manusia yang bisa terikat oleh jiwa paling gelap yang berasal dari neraka.
Lee Hyukjae.
.
.
.
Tubuh Donghae dilempar begitu saja menghantam tembok kuat itu sebelum terkapar dilantai. Dengan cepat matanya berubah hitam sepenuhnya, namun sebelum sayap hitamnya keluar ia merasakan tubuhnya tercengkram kuat sebelum jatuh dilantai tak berdaya.
"Tak usah repot-repot melawanku, bocah."
Suara itu begitu berat dan penuh otoritas. Tangannya terulur diudara dalam usaha mencengkram bayi iblis didepannya agar tak kemana-mana. Donghae mencoba melawan sekuat tenaga namun kekuatan yang lebih besar darinya itu seakan mengelilinya, menghimpitnya tanpa ampun.
Iblis itu mendekat pada Donghae, berjongkok lalu menepuk kepala anak itu ringan.
"Jadilah anak baik nak, maka semuanya akan baik-baik saja."
Ringisan Donghae terdengar saat iblis itu menangkut wajahnya dengan satu tangan. Mengangkat iblis muda itu dengan begitu mudah seakan sangat ringan. Ia menggerakkan tangan lainnya, membuatnya menghitam sebelum kuku-kuku panjang itu muncil begitu saja.
Menyeringai kejam, iblis itu menancapkan kukunya tepat didada Donghae membuat iblis muda itu berteriak kesakitan. Dapat ia rasakan bagaimana kuku-kuku itu mencengkram jantungnnya didalam. Seakan-akan ingin mencabutnya begitu saja. Darah hitamnnya mengalir deras seiring dengan rasa sakit luar biasa yang ia rasakan.
Donghae tak bisa melawan. Ia tak pernah belajar untuk melawan seperti seharusnya iblis dibesarkan. Tak pernah tahu bagaimana kekuatannya akan bereaksi dan batas yang sanggup ia lakukan. Ia tak pernah tahu. Satu-satunya yang ia tahu hanya Hyukjae. Selama ini hanya Hyukjae yang ia kenal. Hanya kasih sayang manusia itu yang selalu mengiringi hari-harinya.
Iblis itu hanya melihat hal itu dengan gembira, ia mendapatkan jiwa yang tengah ia idam-idamkan.
Tinggal selangkah lagi. Tinggal selangkah lagi maka hidupnya akan abadi.
Donghae kembali berteriak saat tangan itu mencabut kuku-kuku yang menancap didadanya. Tubuhnya kembali dilempar ke lantai begitu saja dengan luka menganga didadanya. Luka menganga yang perlahan menghitam dan mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
Nafas Donghae terputus-putus. Tubuhnya lemas seakan seluruh kekuatannya baru saja terhisap tanpa sisa. Padangannya mengabur dan kepalnya terasa berat. Tak membutuhkan waktu lama sebelum akhirnya ia kehilangan kesadarannya.
Hal terakhir yang ia ingat sebelum pingsan adalah senyuman iblis menakutkan didepannya. Melontarkan kata-kata menakutkan tak beperasaan.
"Selangkah lagi, selangkah lagi dan jiwamu akan menjadi milikku."
.
.
.
Mata gadis pemburu itu mengamati tahanan mereka yang hanya duduk diam tak bergerak ditengah penjara. Ia mendekat pada rekannya.
"Mahkhluk apa dia?"
"Dia manusia."
Tentu saja jawaban itu mengejutkannya. Penjara pemburu hanya diperuntukan untuk para mahkhluk malam.
"Lalu kenapa dia ditahan?"
"Kudengar ia bersekongkol dengan iblis."
"Ya Tuhan, iblis? Bukankah mereka hanya mitos?"
"Tidak, mereka ada tapi-"
Obrolan mereka terputus saat salah satu kapten pemburu terbaik itu datang kedalam tahanan. Kyuhyun segera meminta salah satu pemburu yang ada disana untuk membukakan pintu penjara untuknya. Langkahnya yang menggema membuat Hyukjae perlahan mendongak manatap kearahnya.
Pemburu itu mengambil satu kursi disana sebelum duduk tepat didepan Hyukjae. Iris kelamnya mengamati laki-laki didepannya. Hyukjae tampak lebih tenang sekarang setelah hari sebelumnnya terus berontak dan memanggil-manggil satu nama.
"Namamu Lee Hyukjae, benar?"
Tak ada jawaban yang terdengar. Hyukjae tetap bungkam. Pemburu itu menyilangkan tangannya, melihat laki-laki didepannya dengan serius.
"Hyukjae, kau tahu apa yang sudah kau lakukan? Kau bisa saja di penjara seumur hidup karena menyembunyikan keberada mahkhluk malam."
Semua itu terdengar jelas ditelingan Hyukjae, namun tak ada reaksi apapun darinya.
"Dan jika mahkhluk malam itu setingkat iblis, maka kau dipastikan akan dihukum mati."
Tangan pucat itu tercengkram,namun ia berhasil mencegak suara apapun keluar dari mulutnya. Karna Hyukjae tak peduli semua itu. Sama sekali tak peduli.
"Apakah kematian pun sudah tak menakutkan untukmu, Hyukjae?"
"Lepaskan aku."
"Untuk apa aku melepaskan tahanan berat sepertimu?"
"Aku harus menemukannya."
"Siapa? Iblis itu?"
"Dia bukan iblis!"
Hyukjae berdiri saat meneriakkannya. Ia tak suka seseorang menyebut Donghae dengan cara seperti itu. Donghae bukanlah iblis. Bagi Hyukjae sosok itu hanyalah Donghae.
Donghae saja.
Perlahan Kyuhyun ikut berdiri. Menjajarkan pandangan matanya pada manusia berdosa menurutnya.
"Aku tak tahu apa yang dilakukan iblis itu padamu, Hyukjae. Tapi harus kuingatkan kembali bahwa wujud serta kekuatan yang kau anggap bukan iblis itu membuktikan jati dirinya yang sebenarnya. Ia adalah salah satu mahkhluk paling berbahaya didunia ini. Ia berasal dari neraka dan bisa menghabisi siapapun yang ia inginkan tanpa perasaan."
"Dia tak pernah menyakiti siapapun."
"Lalu bagaimana dengan penyihir tiga tahun yang lalu?"
Hyukjae bungkam tak bisa menjawab.
"Hanya tinggal menunggu waktu sebelum ia menemukan kesenangan membantai manusia."
"Dia tidak seperti itu!"
"Sekarang memang belum tapi dia akan melakukannya."
Iris kelam Kyuhyun berubah tajam saat mengatakannya. Seakan menegaskan kenyataan pada laki-laki didepannya.
"Dia adalah iblis, Hyukjae. Jiwanya berasal neraka dan keberadaannya sangat salah."
Tangan Hyukjae tercengkram, dadanya terasa sesak pada setiap penekanan kata yang pemburu didepannya ini lakukan.
"Dan satu hal yang akan menanti mereka. Kematian. Suka atau tidak mereka akan lenyap dari dunia ini. Harus lenyap dari dunia ini."
Sesak itu semakin terasa hingga membuat Hyukjae lupa bernafas.
"Aku yang akan memastikan hal itu sendiri, Hyukjae. Akan kupastikan iblis itu mati tepat didepan mataku. Karena sampai kapanpun mereka tak bisa diterima didunia ini. Mereka tak berhak hidup didunia ini."Ucap Kyuhyun sebelum beranjak dari sana meninggalkan Hyukjae yang perlahan merosot di kursi.
Airmatanya mengalir begitu saja tanpa dia sendiri menyadarinya karena sesak yang ia rasakan didada. Semua ucapan pemburu itu seakan menyayat hatinya tak kasat mata. Bagaimana cara mereka menatap Donghae, bagaimana cara mereka mengartikan keberadaan Donghae.
Semua itu hanya menyakiti hatinya semakin dalam.
.
.
.
Lambang dan tulisan itu tersebar melingkar diatas lantai marmer tepat mengelilingi kobaran api merah yang menyala bak lidah neraka. Suara mantra dari para penyihir itu mengalun bagai doa kematian. Bulan merah yang ada dilangit gelap itu sekan menjadi saksi bisu akan jiwa gelap yang akan berpindah.
Perlahan Donghae membuka matanya saat kesadarannya kembali. Pandangannya begitu kabur, hanya terlihat samar-samar cahaya kuning didepannya. Kepalanya perlahan mendongak hanya untuk menyadarai ia duduk dilantai dingin dengan kedua tangannya yang dirantai. Saat pandangannya semakin jelas ia dapat melihat orang-orang berjubah disekitarnya. Melontarkan kata-kata aneh yang membingungkan.
Ia mencoba bergerak namun hal itu justru membuat luka didadanya semakin melebar. Tubuhnya tak bisa beregenerasi, sesuatu seperti menahannya didalam. Suatu kekuatan yang lebih besar darinya.
Para penyihir itu selesai dengan mantranya tepat saat bulan merah itu ada dipuncaknya. Ini saatnya. Mereka menunduk saat tuan mereka melangkah mendekati jiwa yang akan ia ambil alih. Tangannya terulur meraih kepala iblis muda yang berlutut didepannya.
Bibirnya mulai mengucapkan hal-hal terlarang itu selaras dengan matanya yang berubah hitam sepenuhnya. Erangan kesakitan Donghae terdengar setelahnya, sesuatu seperti sedang diserap keluar dari tubuhnya, membuatnya semakin lemah dan lemah.
Dapat iblis itu rasakan jiwa segar yang mengalir pada tubuhnya. Membuatnya tak akan lagi terkikis dunia fana. Yang akan membuatnya abadi selamanya. Ia tak akan pernah memanggil jiwa baru sebagai penerusnya, tak akan pernah mengorbankan diri demi jiwa baru sebagai penerusnya. Ia akan tetap didunia ini hingga tujuannya bisa ia gapai sendiri.
Ia akan melakukannya dengan tangannya sendiri.
Rasa sakit ditubuhnya membuat Donghae hampir kehilangan kesadarannya. Ia ingin semuanya menghilang. Ia ingin kembali pada Hyukjae. Ia ingin kehangatan serta senyum itu untuknya.
Ia membutuhkannya.
Sangat membutuhkannya.
Cara Hyukjae menatapnya.
"Donghae."
Cara Hyukjae memanggilnya.
"Aku akan selalu disini Donghae. Tepat disisimu."
Mata itu terbuka, hitam sepenuhnya sebelum gejolak itu tak terbendung. Iblis itu begitu terkejut saat merasakan jiwa didepannya ini seakan lebih kelam dari yang terlihat. Semakin kelam hingga mulai menakutkan.
Mencoba menekannya dengan kekuatannya sendiri, namun benturan kekuatan itu yang semakin kuat saling menekan akhirnya menimbulkan ledakan kekuatan yang mengancurkan apa saja disekitarnya. Membuat tubuh iblis itu terlempar menghantam dan menghancurkan tembok itu tak bersisa.
Iblis itu terbatuk, memuntahkan darah dari mulutnya. Dengan tertatih-tatih ia mendekat dan eramannya terdengar saat jiwa iblis muda itu sudah menghilang.
.
.
.
Sayap itu tak bisa sepenuhnya menanggung berat tubuhnya. Sesekali tubuhnya akan jatuh ditanah atau bersandar pada batang pohon yang ia temukan. Nafasnya terengah menahan luka mengaga didadanya yang seperti tak akan pernah sembuh selamanya.
Tubuhnya jatuh tersungkur tepat didepan kabin gelap.
"Hyuk."
Panggilan itu terdengar lemah seiring dengan tubuhnya yang berusaha sekuat tenaga berjalan memasuki kabin. Namun hanya kekosongan dan kehampaan yang ada. Iris cokelatnya bergetar saat tak menemukan sosok yang ia cari.
"Hyukjae."
Panggilan itu hanya menggema tanpa ada yang menjawab.
Tubuhnya kembali rubuh, ringisannya terdengar saat luka itu terasa semakin menyakitkan. Matanya terpejam sembari mencari pegangan. Namun ia tersentak saat sesuatu masuk kedalam pikirannya.
Ia kembali berdiri, iris cokelatnya melihat tepat kearah hutan. Tepat kearah selatan tempat peradaban berada.
Itu Hyukjae.
Ia dapat merasakannya.
Merasakan jiwa manusia yang seharusnya menjadi miliknya.
Satu-satunya jiwa yang ia inginkan.
.
.
.
.
Siwon hanya diam menatap layar yang terhubung pada kamera pengawas. Melihat satu-satunya tahanan manusia di tempat ini. Lee Hyukjae ini, ada sesuatu yang membuat Siwon bertanya-tanya. Bagaimana bisa manusia ini hidup dengan seorang iblis? Pasti ada alasan yang kuat. Alasan yang menjelaskan segalanya.
Namun segala pemikirannya terpotong saat seorang pemburu datang dengan wajah panik kearahnya.
"Gerbang timur, ada iblis digerbang timur!"
Ledakan itu bergema dan mengetarkan tempat Hyukjar berada. Suara keributan diluar membuatnya berdiri dari kediamannya. Sesuatu tengah terjadi diluar sana. Sesuatu yang tidak biasa.
"Donghae."
.
.
.
Tembakan itu secara beruntun menembaki mahkhluk bersayap hitam yang menembus gerbang pusat pelatihan pemburu. Membuat peluru-peluru panas itu menembus tubuh dan sayapnya, mengalirkan darah hitam itu tanpa bisa menutup kembali.
Tangan Donghae terulur, mencengkram membuat menara itu rubuh dan menghentikan manusia yang coba menghalanginya.
Hyukjae.
Ia membutuhkan Hyukjae.
Namun saat langkah berikutnya ia ambil, sebuah meriam terlempar kearahnya. Meladak dan membuat tubuhnya terpental begitu saja.
Getaran yang terasa di sel tahananya itu semakin membuat Hyukjae cemas. Dapat ia dengar keributan semakin menjadi. Donghae, ia yakin ini adalah Donghae.
"Keluarkan aku dari sini!"Serunya entah pada siapa dengan tangan yang terborgol kuat.
Ia harus keluar dari sini!
Ia harus bertemu Donghae.
Hyukjae begitu terkejut saat seorang pemburu tiba-tiba saja datang dan masuk ke dalam sel tahanannya. Namun laki-laki itu segera mendekat.
"Kumohon lepaskan aku. Dia membutuhkanku. Kumohon."
Pintanya dengan mata yang mulai mengabut. Hyukjae sudah tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Dan satu-satunya cara yang tersisa adalah dengan memohon. Namun tubuhnya mundur saat pemburu itu justru menarik pedangnya. Mengacungkannya seakan siap menebas apapun didepannya. Hyukjae menutup matanya saat padang perak itu terayun kearahnya, siap merasakan rasa sakit akibat sabetan pedang.
Trang
Borgol itu terlepas, Hyukjae kembali membuka matanya. Melihat tubuhnya yang sama sekali tak terluka namun borgol ditangannya justru terlepas. Ia melihat pemburu didepannya dengan tak percaya.
"Pergi."Ucap Siwon datar tanpa emosi
Sejenak Hyukjae terlihat ragu namun akhirnya kakinya melangkah keluar dari sel tahanan. Meninggalkan Siwon yang melihat punggunya hingga menghilang.
Tubuh para pemburu itu terlempar keudara. Pedang-pedang mereka seakan tak berguna menghentikan langkah iblis itu. Meski luka menganga terlihat ada disana, namun Donghae tak peduli.
Kyuhyun dengan cepat melihat beberapa pemburu yang ada diluar sana. Mereka membawa padang perak berlari menyerbu satu iblis disana. Dengan cepat ia menuruni tangga, akan berlari menuju sel tahanan. Langkahnya terhenti saat Siwon tiba-tiba muncul menghalanginya.
"Kita harus memindahkan tahanan Hyukjae."
"Dia sudah pergi."
"Apa?! Bagaimana bisa?!"
"Aku melepaskannya."
Kyuhyun terbelalak menatap tak percaya pada rekannya.
"Bagaimana bisa kau melakukan hal itu!"
"Kita sama-sama tahu apa yang dicari iblis itu, Kyuhyun."
"Itu bukan alasan masuk akal membiarkan Hyukjae lari!"Seru Kyuhyun frustasi.
"Cobalah melihat dari sudut pandang yang lain, bisa saja hanya Hyukjae yang bisa menghentikan iblis itu."
Kyuhyun bungkam, sebelum berbalik menghunus pedangnya. Ia akan bertarung melawan iblis itu seperti seharusnya. Ia akan meleyapkan mahkhluk terkutuk itu seperti seharusnya.
Langkahnya ia buat secepat mungkin, dengan begitu kebingungan Hyukjae mencari jalan keluar tempat ini ditengah keributan. Langkahnya terhenti saat ia menemukan anak tangga.
Ia harus ketempat yang tinggi. Ya, benar! Supaya ia bisa tahu dimana Donghae berada.
Dengan cepat ia menaiki anak-anak tangga melingkar di bangunan itu. Sekilas ia dapat melihat pertarungan diluar sana. Para pemburu itu tengah mengkeroyok satu sosok.
"Donghae."
Hyukjae semakin mempercepat langkahnya. Ia harus berada ditempat paling tinggi. Ia harus berada ditempat dimana Donghae bisa melihatnya.
Sring.
Pedang perak itu berhasil menembus pundaknnya, membuat ringisan itu terdengar dari iblis itu. Peluru-peluru senapan itu menyusul membuat lukanya semakin parah. Tapi ia tak akan menyerah, ia harus melihat Hyukjae. Ia harus bertemu dengan Hyukjae.
Hyukjae.
Donghae tersentak. Ia dengan segera mendongak, iris cokelatnya mencari-cari saat jiwa manusia miliknya terasa. Dan ia menemukannya, tepat diatas sana.
Sayap hitam itu terbentang, membuat iblis itu dengan mudah berada diatas atap bangunan disana. Satu tangannya berpegang pada besi.
Dan akhirnya Donghae bisa melihatnya. Ada Hyukjae jauh disana. Tepat diatas menara tertinggi dibangunan itu. Melihat kearahnya seakan mereka saling berhadapan tanpa jarak yang begitu jauh seperti ini.
Rasa rindu itu terasa menyakitkan tiba-tiba, kebutuhan untuk satu sama lain itu menjadi seperti siksaan.
"Hyuk."
Sayap itu sudah akan terbentang untuk menemui jiwa miliknya saat tiba-tiba saja tubuhnya dihantam secara tiba-tiba.
Dua iblis itu berguling diatas tanah, mereka saling mencekik mencoba menekan kekuatan masing-masing. Dengan seluruh kekuatannya iblis itu menghantamkan tubuh Donghae ke atas tanah.
"Lihat dirimu, lemah tak berdaya. Kau hanyalah iblis yang tak tahu apa-apa."
Ucapan itu terdengar meremehkan namun Donghae tak peduli. Ia kembali melihat kearah Hyukjae berada tanpa tahu iblis lainnya memperhatikan hal itu.
Seringaian itu terbentuk sebelum ia kembali mendekati Donghae. Mencekik lehernya sembari mengangkat tubuhnya dengan mudah.
"Mari kita selesaikan hal ini. Berikan jiwamu padaku supaya aku bisa membunuh manusia kesayanganmu itu setelahnya."
Tubuh Donghae menengang mendengarnya.
"Kau tenang saja akan kupastikan kematiannya akan sangat indah dan menyakitkan. Membuatnya merasakan sakit disetiap jengkal tubuhnya dan mati perlahan."
Tidak.
Hyukjae tak akan mati.
Iblis itu kembali mengulurkan tangannya, ia akan mengabil jiwa iblis ini. Ia akan hidup abadi. Ia akan membuat dunia ini takluk dibawah kakinya.
Dia akan menguasahinya seorang diri.
CRASH.
Ibils itu terbatuk memuntahkan darah. Bola matanya menatap tak percaya pada tangan hitam berkuku yang menembus dadanya. Ia kembali mendongak melihat mata hitam menyeluruh milik iblis muda yang seharusnya mati ditangannya. Menjadi jiwanya.
Namun kini sayapnya justru terbentang penuh otoritas, kegelapanya seakan bisa menekan apa saja sembari malakukan hal yang sama yang ia lakukan pada iblis muda ini sebelumya. Mengoyak dadanya, mencabut jantungnya dengan paksa.
Tangan iblis itu segera mencengram tubuh Donghae.
"Aku tak akan mati! Aku tak akan pernah mati! ARRGH!"
Luka menganga itu semakin menghitam menjalar dengan cepat membuatnya mengeras bak arang sebelum hancur membuat ledakan luar biasa yang menyapu tempat itu tanpa sisa.
.
.
.
Hyukjae kembali berdiri setelah ledakan besar itu. Dengan cepat menuruni tangga agar bisa mencapai Donghae secepatnya. Ia menabrak para bemburu itu, memasuki kerumunan mencoba mancapai Donghae.
Semua orang terdiam ditempatnya. Tak ada yang berani bergerak saat melihat bagaimana iblis ini membunuh iblis lainnya.
Siapa yang akan mengalahkan iblis yang membunuh seorang iblis?
Tidak ada.
Donghae terengah sebelum tubuhnya rubuh berlutut ditanah. Tenaganya serasa menghilang, kekuatannya seakan habis tak bersisa. Hampir saja ia menghantam tanah saat tiba-tiba saja tangan hangat itu menangkapnya, membawanya kepelukan hangat.
"Donghae."
Matanya kembali terbuka saat mendengar panggilan lembut itu.
Ada Hyukjae disana.
Hyukjae yang begitu ia rinduan.
Tangannya perlahan terangkat. Memegang pipi pucat itu, mengotorinya dengan darah hitam secara tak sengaja.
"Ketemu."Bisiknya.
Senyum tipisnya terukir.
"Akhirnya ketemu."
Ucapnya sebelum perlahan menutup matanya. Butir bening itu mengalir diwajah pucat manusia itu saat mendengarnya. Ia memeluk erat iblis itu seakan takut Donghae menghilang diiringi isakannya. Tangisannya semakin keras saat mengingat keadaan ini.
Keadaan dimana segalanya terlihat salah untuk mereka. Keadaan dimana semua pihak menginginkan iblis ini musnah.
Kenapa tidak ada satupun yang merasa iba pada mereka?
Kenapa tidak ada yang sedikit saja memberikan belas kasihannya pada mereka?
Mereka hanya ingin bersama, hanya menginginkan satu sama lain. Tidak lebih. Apakah itu terlalu sulit untuk dikabulkan?
Hyukjae semakin mengeratkan pelukannya saat melihat Kyuhyun mendekat. Pemburu itu berjalan dengan pedang peraknya yang mengacung siap menebas apa saja. Iris hitam itu melihat pemburu itu dengan penuh air mata, memohon padanya.
"Kumohon, jangan."Isaknya melindungi Donghae dipelukannya.
Kyuhyun menatapnya, melihat bagaimana tangan pucat itu mencengkram tubuh iblis itu erat. Melihat bagaimana cara manusia ini menangisinya.
Perlahan pedang perak itu turun sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Sekeras apapun hatinya ia masihlah manusia, dan sebagai manusia ia memiliki belas kasihan.
.
.
.
Auditorium itu penuh akan para calon pemburu tingkat dasar, mereka dengan seksama mendengarkan pengajar mereka yang merupakan seorang kapten terbaik di devisi pemburu.
"Iblis."
Ucapnya setelah selesai menuliskan satu nama itu dipapan tulis.
"Mereka adalah jiwa gelap yang berasal dari neraka. Mereka adalah mahkhluk yang paling dilaknat dan paling berbahaya. Konon akan ada satu iblis dalam satu dekade kehidupan. Hanya akan ada satu iblis disatu masa."
"Kapten Kyuhyun!"
"Ya?"
Kyuhyun mempersilahkan calon pemburu yang mengacungkan jarinya itu untuk bicara.
"Jika memang ada satu iblis disetiap masa, apa sekarang juga ada? Maksudku, seorang iblis yang hidup diluar sana?"
Semua orang lekas melihat Kyuhyun menunggu jawaban. Kapten itu tersenyum sebelum bersandar pada meja dan menyilangkan tangannya.
"Tentu saja ada."
.
.
.
Matahari bersinar terang diatas langit biru. Angin bertiup lembut mengoyangkan bunga-bunga disana. Kakinya melangkah dijalan setapak menyusuri ladang bunga yang begitu luas. Iris hitamnnya menangkap warna-warni bunga musim semi yang tengah mekar seluruhnya.
Langkahnya terhenti saat menangkap sosok yang berdiri ditengah ladang bunga. Mendongak sembari menutup mata untuk merasakan hangatnya sinar matahari tepat diatasnya.
Sosok berjiwa hitam yang mampu berdiri dibawah cahaya.
Menyadari kehadirannya, iblis itu melihat kearahnya. Tersenyum begitu lebar sebelum dengan semangat berlari kearahnya.
Senyumannya semakin lebar saat satu tangannya mengulurkan setangkai mawar untuknya. Berwarna sangat merah dan mekar sempurna.
Seakan mewakili hati iblis ini untuknya. Mewakili kasih sayangnnya yang tak terbatas.
Perlahan tangan pucat itu meraihnya, sebelum mendekat pada iblis itu menyatukan kening mereka. Menutup mata, merasakan hangat hati mereka karena kehadiran satu sama lain.
Kedua mata itu terbuka, membuat kedua iris itu beradu. Memegang pipi iblis itu, Hyukjae akhirnya berbisik pelan ditelinganya.
"Aku akan selalu disini Donghae, tepat disisimu."
.
.
.
END
Oke! Aku gak peduli, aku gak akan pernah buat cerita ini lagi! Gila! Puyeng aku mikir alurnya, ampun! Tapi disatu sisi aku juga bangga bisa menyelesaikannya.
Membosankan? Gak jelas? Tolong dimaklumi hahaha
Oh please jangan minta sequel lagi, aku bisa gila wkwkwkwk
Oh satu lagi yang paling penting HAPPY EUNHYUK DAY semua muah muah!
Makasih udah baca ini dan midnight, yang review yang dukung. Pokoknya semuanya gomawo!
See u next story :D
