"MY LOVE FOR YOU"

Author : Always_Yewook

Main Characters : Kim Yesung & Kim Ryeowook

Characters : Some Super Junior Members

Disclaimer : This Fanfict is Mine but the cast belong to God

Warning : B x B, Typos, No Plagiat

.

.

.

Chapter 2

.

.

.

Pagi ini terasa begitu berbeda bagi Ryeowook ketika dirinya menyadari kalau Yesung tidak ada disampingnya saat terbangun. Dia buru-buru keluar kamar, mencari dimana sahabatnya itu.

"Yesung, kenapa kau tidur disini?," tanya Ryeowook ketika mendapati Yesung tidur disofa.

Yesung terbangun dan meregangkan badannya, "Aku tidak bisa tidur semalam, jadi aku memutuskan menonton TV tapi aku malah ketiduran."

Ryeowook menggangguk mengerti. "Kau ingin aku buatkan sarapan apa pagi ini?"

"Terserah kau saja"

"Kau pagi ini masuk kuliah pagi, kan? Kita berangkat bersama?"

"Tidak. Badanku pegal, aku ingin melanjutkan tidur. Sepertinya aku tidak masuk dijam pertama."

"Tidak biasanya kau membolos"

"Tidak usah mengkhawatirkanku," Yesung bangun dari sofa, dengan mata yang setengah terbuka dia masuk ke kamar dan kembali tertidur.

Ada yang berbeda dengan sahabatnya itu, tapi Ryeowook tidak ingin berpikir yang macam-macam dulu, mungkin Yesung memang butuh istirahat lebih. "Aku juga tidak bisa tidur semalam," ucap Ryeowook yang tidak bisa didengar Yesung.

.

.

.

Saat ini Ryeowook dan Kyuhyun sedang duduk di bangku taman kampus mereka setelah mata kuliah pertama selesai, jam berikutnya akan dimulai setengah jam lagi. Sekedar informasi, Ryeowook berada dikelas yang sama dengan Kyuhyun, sedangkan Yesung bersama Eunhyuk dan Donghae.

"Tadi malam, diperjalanan menuju apartemen aku mengaku pada Yesung kalau aku adalah gay"

Kyuhyun buru-buru menoleh ke samping, menatap Ryeowook dengan mata sedikit melotot. "Kau serius?"

"Tentu saja"

"Lalu bagaimana reaksinya?"

"Dia bilang dia akan tetap menyayangiku sebagai sahabat apapun yang terjadi dan dia tidak akan jijik sama sekali padaku walaupun aku adalah seorang gay"

"Apa kau mengatakan kalau kau juga menyukainya?"

Ryeowook menggeleng, "Aku rasa aku tidak akan mengatakan itu sampai kapan pun."

"Kau tidak ingin dia tau perasaanmu setelah semua perhatian yang kau berikan?"

Ryeowook tersenyum kaku, "Kau tidak mengerti, Kyu. Aku bahkan menyesal setelah mengaku gay padanya"

"Dia mengaku masih tetap menjadi sahabatku mungkin karna dia takut aku sakit hati, tapi aku yakin kalau dia sebenarnya jijik padaku. Pria normal mana yang nyaman tinggal dengan seorang gay," Ryeowook mati-matian menahan air matanya agar tidak menetes.

Sementara itu dibalik sebuah dinding kampus, Yesung memperhatikan Ryeowook dan Kyuhyun. "Sepertinya orang yang disukai Ryeowook adalah Kyuhyun. Ck~ Pria seperti itu yang dia sukai? Seleranya benar-benar rendah, jelas-jelas aku jauh lebih baik dari Kyuhyun. Tunggu dulu, mikir apa aku ini"

GREB

"Hey~ Kenapa kau tidak masuk jam pertama? Apa Ryeowook tidak membangunkanmu," rangkulan Donghae mengejutkannya dari aksi mengintip.

"Aish. Lepaskan! Aku tidak mau ketularan olehmu," omel Yesung sambil melepas rangkulan kuat Donghae. "Ketularan apa maksudmu? Aku sehat-sehat saja"

Yesung menatap Donghae tajam, "Mulai sekarang jaga jaraklah dariku. Aku tidak mau ketularan jiwa gay mu itu," setelah mengatakan itu Yesung berjalan duluan menuju kelasnya.

"Apa katamu! Kau pikir ini penyakit menular eoh?! Rasakan ini!," Donghae menyusul Yesung dan kembali merangkul Yesung, kali ini lebih kuat. "Rasakan! Biar saja ini tertular seperti yang kau katakan!"

"AKU BILANG LEPASKAN, LEE DONGHAE!"

Keributan keduanya pun menjadi bahan lirikan mahasiswa yang melihatnya.

.

.

Jam kuliah Ryeowook dan Kyuhyun sudah selesai, kini keduanya tengah berjalan menuju kantin untuk makan siang. Belum sampai ke tujuan, seorang wanita terdengar memanggil nama Kyuhyun dari arah belakang, keduanya menoleh serentak. Ah~ ternyata Victoria.

"Ada apa, Vict?"

"Dosen Jung menyuruh kita datang ke ruangannya"

"Untuk apa?"

Victoria mengendikkan bahunya, "Aku juga kurang tau, tapi aku rasa ini berkaitan dengan club kita"

Kyuhyun mengangguk, lalu pandangannya beralih ke Ryeowook. "Kau mau ikut dengan kami atau-"

"Tidak. Aku mau ke kantin saja, aku sudah sangat lapar. Kalian cepatlah temui Dosen Jung"

"Oke, Kaja Victoria"

"Bye~ Ryeowook," Victoria melambaikan tangannya pada Ryeowook sebelum pergi bersama Kyuhyun. Ryeowook hanya membalas dengan senyuman manisnya.

"Tidak heran kenapa Yesung menyukainya. Dia ramah, pintar, cantik, baik. Kasihan sekali jika Victoria ditakdirkan dengan Yesung"

Ryeowook kembali menuju kantin, sendirian. Setelah sampai di kantin, Ryeowook memicingkan matanya, mencari tempat yang pas untuk menikmati makan siangnya. Tanpa diduga, seseorang yang sangat ia kenal tengah duduk sendirian di meja dekat jendela. Tanpa pikir panjang Ryeowook langsung menghampirinya. Yesung.

"Hey~," sapa Ryeowook.

"Oh, sedang apa kau disini?," tanya Yesung bodoh. "Tentu saja untuk makan siang. Kau belum memesan makanan?"

"Belum, aku sedang menunggu Victoria"

"Oh tadi dia-"

Belum sempat Ryeowook menyelesaikan ucapannya, Yesung mendapat sebuah pesan. Yesung tampak kecewa setelah membaca pesan tersebut.

"Hah~ Victoria mendadak harus menemui Dosen Jung," kesal Yesung.

"Iya, dia bersama Kyuhyun"

"Apa? Bersama Kyuhyun?"

Ryeowook mengangguk, "Menurut yang ku dengar tadi sepertinya akan membahas club kampus mereka"

Yesung menghela nafasnya, "Apa aku harus ikut club itu juga yah?," tanya Yesung ntah pada siapa. Ryeowook hanya tersenyum saja.

"Kalau begitu, sekarang kau ingin pesan apa? Biar aku pesankan"

"Terserah kau saja"

Beberapa menit kemudian, keduanya sudah menikmati makan siang mereka. Yesung tampak lahap menikmati makanannya, sampai tidak peduli dengan sisa makanan yang menempel di sudut bibirnya. Melihat itu, Ryeowook refleks mengangkat tangannya untuk membersihkan sisa makanan.

Tapi Yesung lebih cepat untuk menepis tangan Ryeowook. "Jangan lakukan itu. Orang-orang akan berpikir kalau kita adalah pasangan gay. Kau sengaja ingin mempermalukanku eoh?," kemudian Yesung mengambil tasnya kemudian pergi begitu saja meninggalkan Ryeowook.

"Maaf," lirih Ryeowook begitu pelan yang tentu saja tidak didengar Yesung karna pria itu sudah keluar dari area kantin.

Ryeowook tersenyum pahit. Dia tidak menyangka kalau Yesung akan berkata seperti itu padanya. Mata Ryeowook mulai berkaca-kaca tapi dia mencoba untuk menyumpitkan lagi makanan ke dalam mulutnya.

"Hiks," satu isakan lolos dari mulut kecil Ryeowook, dirinya mencoba untuk mengunyah makanan yang ada di mulutnya, dia juga berusaha mati-matian agar air matanya tidak menetes.

Tissue. Ryeowook mengambil cepat tissue yang ada di atas meja, lalu buru-buru menutup kedua matanya dengan tissue itu.

"Ryeowook, kau kenapa?"

"Tidak, aku tidak kenapa-napa," bohong Ryeowook ketika Eunhyuk tiba-tiba saja datang. "Matamu merah. Kau menangis?"

"Tentu saja tidak. Aku tidak sengaja menggigit cabai, jadi air mataku keluar saking pedasnya. Haha"

Eunhyuk duduk dihadapan Ryeowook dan menatap temannya itu tajam. "Tak usah bohong padaku, makanan yang kau pesan itu sama sekali tidak ada cabainya."

SKAK

Sedetik kemudian, tangisan Ryeowook pecah. Dia tidak peduli dengan mahasiswa lain yang menatapnya heran. "Yes hiks~ Yesung, Eunhyuk-ah.. hiks hiks"

"Kenapa? Ada apa dengannya?"

Ryeowook mencoba menenangkan dirinya dan menceritakannya semuanya pada salah satu sahabatnya itu.

Setelah mendengarkan semuanya, Eunhyuk menggeser bangkunya untuk bersebelahan dengan Ryeowook agar bisa merangkul bahunya.

"Seharusnya kau mengatakan padaku lebih awal, Ryeowook-ah"

"Maafkan aku"

Eunhyuk mengelus punggung kecil Ryeowook, "Sudahlah, tenangkan dirimu. Masalah Yesung biar aku, Donghae dan juga Kyuhyun yang akan menghajarnya untukmu."

"Jangan seperti itu. Aku tidak mau Yesung membenci kalian juga hanya karna aku"

.

.

Sementara itu dengan Yesung, dia berjalan ke arah gerbang kampus, menyusuri jalan yang dilihat matanya. Pikirannya tengah sibuk mencerna perkataan yang baru saja dilontarkan pada sahabat terbaiknya.

Saat sebuah bus berhenti tepat di salah satu halte, tanpa berpikir arah tujuan Yesung langsung masuk ke Bus itu dan duduk di bangku kosong. Sungguh dia tidak peduli kemana tujuan Bus ini, dia hanya butuh berpikir sekarang.

Yesung merasa hatinya terasa sesak, ntah kenapa. "Apa perkataanku tadi keterlaluan?"

"Tapi wajar saja kan aku mengatakannya, bagaimana kalau aku dikira Gay. Aku tidak mau"

.

.

Setelah kejadian hari ini, Ryeowook belum pulang sampai sekarang jam menunjukkan pukul sebelas malam. Yesung tidak hentinya memandang jam di ponselnya, "Dia pasti marah padaku. Baiklah, kalau dia pulang aku hanya perlu minta maaf saja kan?. Tapi kalau dia tidak pulang bagaimana?"

Yesung sudah beratus kali berniat untuk menelpon Ryeowook, tapi gengsinya benar-benar besar sekali kali ini. Kalau keadaan sedang tidak canggung, mungkin saat ini Yesung sudah mencari Ryeowook keseluruh Seoul, terdengar berlebihan tapi memang itulah yang akan dia lakukan. Jadilah sekarang ini pikirannya dipenuhi hal yang membuatnya khawatir.

Ketika sibuk dengan pikirannya, pintu apartemen terdengar terbuka. Yesung langsung bangkit dari duduknya dan mendekati Ryeowook yang sekarang sedang membuka sepatunya.

"Darimana saja kau?," tanya Yesung sok ketus. "Aku dari apartemen Kyuhyun"

"Untuk apa kau ke sana?"

"Aku menceritakan sikapmu padaku hari ini dan dia marah besar"

"Kau mengadu?," tanya Yesung pada Ryeowook yang saat ini melewatinya begitu saja. "Aku memang mengatakan segalanya pada Kyuhyun"

"Apa dia tau kalau kau… gay?"

Ryeowook berhenti berjalan, "Dia sudah lama mengetahuinya"

"Apa? Kenapa kau lebih dulu memberitahunya dari pada aku? Kita bahkan tinggal bersama," Yesung menghampiri Ryeowook dan berdiri tepat dihadapannya.

"Aku tidak memberitahunya, tapi dia tahu sendiri. Aku juga heran, kita bahkan tinggal bersama tapi kenapa Kyuhyun yang lebih mengerti aku dan menjaga perasaanku walaupun dia tau aku gay."

BAM!

Yesung seperti dilempar bom, perkataan Ryeowook begitu telak. "Aku minta maaf," ucap Yesung pada akhirnya.

"Tidak. Dari awal aku lah yang salah karna tidak memberitahumu, kau pasti sangat kecewa padaku. Mulai sekarang aku akan berhati-hati dengan sikapku padamu, aku tidak akan melakukan hal yang akan membuatmu malu. Dan kalau kau merasa tidak nyaman tinggal bersamaku kau boleh mencari tempat tinggal yang baru"

"Kau mengusirku?"

Ryeowook menggeleng cepat. "Tidak. Mana mungkin aku mengusir sahabatku"

Yesung mendecak sebal, "Sudahlah, bilang saja kau mengusirku"

"Aku tidak mau ribut denganmu, Yesung" Ryeowook melangkah ke satu-satunya kamar di apartemen itu tapi baru selangkah Yesung sudah menahan pergelangan tangannya.

"Aku tau kenapa kau ingin aku pergi dari sini"

"Sudah aku bilang aku tidak mengusirmu!"

"Kau menyukai Kyuhyun kan?," tanya Yesung dengan tatapan tajam. "Apa?"

"Aku tau kau menyukainya. Karna itu kau mengusirku agar kau bisa membawa Kyuhyun ke sini sesuka hatimu"

"YESUNG!," Ryeowook berteriak kuat, tidak peduli dengan tetangga yang akan terbangun karna mendengar suaranya.

Yesung melepaskan genggaman tangannya, dia sangat tau Ryeowook sedang marah saat ini.

"Kau benar-benar tidak tau apa-apa. Hiks~ kau bodoh sekali. Aku membencimu!," Ryeowook mengusap kasar air matanya dan langsung masuk ke kamar.

BRAK

Pintu tertutup dengan kasar. Walaupun tertutup, Yesung bisa mendengar tangisan Ryeowook. Apa yang baru saja aku lakukan? Yesung bertanya pada dirinya sendiri.

Dia sungguh tidak bermaksud untuk membuat Ryeowook menangis. Perkataannya keluar begitu saja dari mulutnya, sungguh itu berbeda dengan yang ada di hatinya dan sekarang Ryeowook sudah menangis karnanya. Yesung menjambak rambutnya frustasi.

Menyesali perbuatannya, Yesung menyusul masuk ke kamar.

Ryeowook terduduk di pinggir kasur dengan wajah yang sepenuhnya tertutup oleh tangan kecilnya, menangis sesenggukkan.

"Ryeowook-ah," panggil Yesung. "Aku tidak bermaksud berkata seperti itu. Aku minta maaf," Yesung duduk bersimpuh didepan Ryeowook yang masih menangis.

"Aku hanya tidak suka kau lebih dekat dengan... dengan...," Yesung tidak bisa melanjutkan perkataannya.

Ryeowook menurunkan telapak tangannya dari wajah merahnya karna menangis, dilihatnya wajah kebingungan Yesung yang sedang bersimpuh di depannya.

"Maksudku- Aku menganggapmu sebagai orang yang paling dekat denganku dan kau juga harus seperti itu. Kalau ada masalah atau apapun itu kau harus mengatakannya padaku, kau tau aku orangnya tidak baik dalam memahami perasaan orang kan?"

"Bodoh. Kalau kau menganggapku adalah orang terdekatmu. Lalu kenapa kau begitu marah padaku saat kejadian di kantin tadi?. Jujur saja padaku, kau jijik denganku kan?"

"Tidak. Sungguh!"

"Kalau tidak itu berarti kau takut orang akan berpikiran kalau kau adalah gay dan kau juga takut Victoria akan menjauhimu kan?"

Yesung terdiam, dia tidak berbohong saat berkata kalau dia tidak suka Ryeowook dekat dengan Kyuhyun tapi dia juga tidak memungkiri perkataan Ryeowook barusan. Tentu saja dia takut itu terjadi, dia sudah lama mengincar Victoria dan tidak akan mungkin kehilangannya hanya karna perkiraan orang kalau dia dan Ryeowook adalah pasangan.

Sebenarnya Yesung tidak masalah jika terlihat sangat akrab dengan Ryeowook atau disangka gay sekalipun dia tidak peduli, karna memang seperti itu lah kedekatan mereka tapi itu berubah setelah Ryeowook mengaku kalau dirinya gay, Yesung jadi memikirkannya. Kalau mahasiswa di kampus mereka tau Ryeowook gay, maka habislah dia.

"Sepertinya dugaanku benar. Baiklah, mulai sekarang aku akan menjaga jarak darimu atau seolah tidak saling mengenal, dengan begitu kau tidak perlu takut dikira gay denganku. Aku lelah, aku ingin tidur" Ryeowook membaringkan dirinya dan memunggungi Yesung.

"Tidak. Jangan bercanda. Kita mana mungkin seperti itu, Ryeowook."

Karna tidak ada tanggapan dari Ryeowook membuat Yesung kembali kesal. "Oke! Aku ikuti aturanmu!

.

.

.

Saat sedang terpejam di bangku kuliahnya karna semalaman Yesung tidak bisa tertidur karna memikirkan permasalahannya dengan Ryeowook tiba-tiba saja seseorang menarik kerah baju Yesung hingga membuatnya berdiri seketika.

"APA-APAAN KAU?!," teriak Yesung saat melihat siapa pelakunya.

"Seharusnya aku yang berkata seperti itu, bodoh!"

"Donghae! Donghae! Lepaskan Yesung," diwaktu yang tepat Eunhyuk datang dan melepas genggaman Donghae di kerah Yesung.

"Kita harus memberinya pelajaran"

Dengan tatapan kesal ke Donghae, Yesung membenahi bajunya yang kusut. "Oh! Ryeowook juga mengatakannya pada kalian?. Dia mencari perlindungan pada kalian karna sekarang aku dan dia sedang tidak baik?"

"Kenapa kau berubah seperti ini, Yesung?. Kau tau kan Ryeowook sangat baik padamu, tega sekali hanya karna dia seperti itu kau bersikap seperti itu padanya!"

"Aku akui itu memang salahku dan aku juga sudah meminta maaf padanya. Tapi dia malah menyuruhku keluar dari apartemennya"

"Tidak mungkin Ryeowook mengusirmu!," geram Donghae.

Yesung tersenyum miring, "Kalau tidak percaya tanyakan saja padanya. Kalian mau tau kenapa dia ingin aku pergi dari apartemennya?, itu supaya dia bisa dengan bebas menyuruh Kyuhyun datang dan melakukan apapun"

"Apa maksudmu? Kenapa kau tiba-tiba membawa nama Kyuhyun?"

"Kalian pasti belum mengetahui ini. Ryeowook menyukai Kyuhyun"

Untung saja saat ini tidak ada siapapun di kelas, jadi tidak ada yang mendengar perkataan Yesung barusan

"Tidak mungkin," sanggah Eunhyuk. Kemarin Ryeowook sendiri yang mengatakan di kantin kalau orang yang disukainya itu adalah Yesung.

"Terserah kalian mau percaya padaku atau tidak," Yesung kembali duduk di bangkunya.

.

.

Ryeowook sendiri tidak masuk kuliah hari ini karna tidak enak badan. Kyuhyun yang khawatir mendatangi apartemen Ryeowook –dan Yesung- setelah selesai dengan kuliahnya.

"Kenapa tiba-tiba sekali sakitnya eoh?" tanya Kyuhyun.

"Ntahlah. Kepalaku pusing sekali." Kini keduanya duduk di sofa hitam yang berada di ruang utama apartemen itu.

"Astaga! Ada apa dengan matamu, kenapa sembab seperti itu?. Jangan bilang kau menangis semalaman."

Ryeowook mencoba menertawai kebodohannya, "Iya. Aku tidak bisa menahan air mata untuk berhenti keluar dan untung saja Yesung tidur di sofa jadi aku bisa menangis dengan bebas."

"Masih tentang kejadian di kantin kemarin?"

Ryeowook menggeleng lemah. "Dia sudah meminta maaf atas kejadian itu tapi sesuatu lebih buruk terjadi setelahnya"

"Apa?"

"Aku tidak tau apa maksudnya. Yang jelas dia tidak suka dengan kedekatan kita, dia merasa tersaingi olehmu. Parahnya dia mengira kalau aku menyukaimu."

Penjelasan Ryeowook membuat Kyuhyun tertawa renyah, "Bukankah itu artinya dia menyukaimu. Hey~ Cintamu akan terbalas"

"Kau sempat bercanda dengan keadaan seperti ini?. Yesung sangat menyukai Victoria, kau tau itu kan?"

"Aku tanya padamu. Apa kau menyukai wajah cantik Victoria?"

Ryeowook mengangguk.

"Apa kau menyukai sifatnya yang baik kepada siapa saja?"

Ryeowook mengangguk lagi.

"Apa kau menyukai otak pintarnya?"

Lagi-lagi Ryeowook mengangguk. "Kau menyukai semuanya kan?. Itu artinya kau juga sama dengan Yesung yang menyukai Victoria."

"Tidak. Yesung benar-benar jatuh cinta padanya"

"Kau tau sendiri kan Yesung itu buruk dalam memahami perasaan orang lain, aku jadi punya firasat kalau dia juga buruk dalam memahami dirinya sendiri. Mengerti maksudku kan?"

Ryeowook memutar bola matanya, "Jadi maksudmu sebenarnya Yesung menyukaiku hanya saja dia tidak menyadarinya?"

Kyuhyun menjentikkan jarinya, "Tepat!," Kyuhyun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dapur, membuka kulkas untuk mencari sesuatu yang bisa melepas dahaganya.

"Jangan menghiburku dengan sesuatu yang tidak mungkin sama sekali"

"Jadi bagaimana aku harus menghiburmu?"

"Buatkan aku sesuatu yang bisa untuk ku makan"

"Hmm~ Baiklah, kau istirahat saja di kamar"

"Terima kasih, Kyuhyun-ah"

Kyuhyun kembali melihat isi kulkas, mencari sesuatu yang bisa dimasaknya sementara Ryeowook kembali menyamankan dirinya di tempat tidur.

Setelah berkutat lebih dari 1 jam di dapur, Kyuhyun masuk ke kamar Ryeowook dengan nampan yang berisi hasil masakannya. "Ryeowook, bangun. Makananmu sudah siap"

Ryeowook membuka matanya dengan perlahan, sepertinya pusing di kepalanya semakin menjadi. 'Pasti ini karna aku belum makan apapun sedari pagi' pikirnya.

Dengan perlahan juga Ryeowook menyingkap selimutnya dan bersandar di kepala kasurnya. "Aku menunggu selama itu dan yang kau sajikan hanya semangkuk bubur ayam?"

"Dan segelas susu, hehe" cengir Kyuhyun begitu bangga dengan hasil masakannya.

"Rasanya enakkan?"

"Apa itu penting? Kau sedang sakit sekarang dan aku yakin lidahmu sedang tidak berfungsi dengan baik. Jadi mau enak ataupun tidak itu sama saja. Cepat buka mulutmu. Aaa~~," kyuhyun menyendokkan bubur buatannya ke mulut Ryeowook.

"Tidak burukkan?"

"Tidak ada rasanya," cela Ryeowook. "Eiy~ Itu karna kau sedang sakit," elak Kyuhyun.

CKLEK

"Haha~ Baru ditinggal setengah hari sudah suap-suapan eoh?," ejek Yesung yang ternyata sudah pulang.

"Sepertinya aku memang harus cepat-cepat angkat kaki dari apartemen ini. Sehingga tidak ada yang bisa mengganggu kalian."

"Yesung, ini tidak seperti yang kau pikirkan," ucap Ryeowook lemah.

Yesung menghiraukan ucapan Ryeowok barusan. "Kyuhyun, bagaimana kalau kita bertukar tempat tinggal?. Bukankah ini tawaran yang bagus untuk kita bertiga?"

"Apa kau serius?. Aku rasa itu memang ide bagus," Kyuhyun meletakkan mangkuk bubur yang sedari di pegangnya di meja nakas lalu ia mendekati Yesung yang berdiri di ambang pintu.

"Oh, kau setuju?"

"Tentu saja, dengan begitu Ryeowook tidak perlu lagi bertemu dengan pria pecundang sepertimu setiap hari. Cepat kemasi barangmu, dan 083015 adalah password apartemenku. Kau sudah tau alamatnya kan?, nanti malam aku akan mengambil barang-barangku, sekarang aku harus menemani Ryeowook."

BUGH

Satu pukulan telak mengenai pipi Kyuhyun, Yesung marah ternyata.

"YESUNG!," jerit Ryeowook. "Kau bilang aku pecundang?," Yesung menyambar kerah Kyuhyun yang saat ini tersungkur di lantai.

Kyuhyun hanya membalas dengan seringaiannya.

"Yesung ku mohon hentikaa~."

Ryeowook yang kondisi tubuhnya sedang lemah ditambah perkelahian sahabatnya itu membuat tubuhnya tambah melemas. Saat akan turun dari tempat tidur untuk melerai sahabatnya ia terjatuh pingsan.

"Ryeowook!," Kyuhyun langsung mendekati Ryeowook dan merangkulnya. "Bangun, Ryeowook! Ryeowook!," karna merasa terlalu khawatir Kyuhyun langsung membopong Ryeowook untuk membawanya ke rumah sakit.

"Mau kau bawa kemana dia?," cegat Yesung.

"Tentu saja ke rumah sakit, bodoh!. Kau bisa menyetirkan? cepat ambil kunci mobilku di meja sofa. Kita harus segera membawa Ryeowook."

Yesung hanya diam dan menuruti perkataan Kyuhyun. Apa Ryeowook seperti itu karna dirinya, pikirnya.

Selama di perjalanan, Yesung mencuri-curi pandang dari kaca, dilihatnya wajah pucat Ryeowook yang masih betah terpejam dan juga Kyuhyun yang tampak begitu khawatir di kursi belakang.

Yesung sebenarnya khawatir, sangat khawatir malah. Tapi dia tidak ingin menunjukkannya, toh Ryeowook hanya bahagia jika tau Kyuhyun yang mencemaskannya, begitulah pemikirannya.

.

.

Kyuhyun keluar dari kamar rawat Ryeowook dan ikut duduk di samping Yesung yang menunggu diluar.

"Kau tidak ingin melihatnya?"

"Bagaimana keadaannya?," tanya Yesung.

"Kata Dokter dia terlalu banyak pikiran, dia hanya butuh istirahat. Besok kalau dia sudah merasa baikan sudah diperbolehkan pulang."

Yesung bersyukur didalam hatinya.

"Sepertinya kita tidak perlu bertukar tempat tinggal, biar Ryeowook saja yang pindah ke tempatku. Setelah keluar dari rumah sakit aku akan langsung membawanya ke apartemenku"

Yesung sontak menoleh ke namja jangkung di sampingnya, "Kenapa kau terburu-buru seperti itu?"

"Aku akan lebih leluasa menjaganya jika di apartemenku. Aku tidak bisa mempercayaimu saat ini, bahkan dia berada di rumah sakit saat ini itu karnamu."

"Kau menyalahkanku?"

"Kau pikir siapa lagi yang pantas disalahkan?"

"Aku tidak ingin ribut denganmu ditempat seperti ini"

"Baguslah. Kau bisa pulang sekarang, terima kasih sudah mau mengantar Ryeowook ke rumah sakit. Kau mau ku pinjamkan mobil?"

"Aku tidak butuh"

"Kalau kau tidak keberatan bisakah kau mengemasi barang Ryeowook, besok aku akan mengambilnya"

Tidak ada sahutan dari Yesung, namja itu sudah berjalan menyusuri lorong panjang rumah sakit. Kyuhyun pun tak berniat untuk memastikan apa Yesung akan melakukan permintaannya atau tidak.

.

.

.

TBC

Give me review dong ah /?

What do you think about this chapter?

/sok inggris/