Author: Tata (istrinyaTaeil)

Pairing: NoRen, slight Markmin (not really slightly)

Cast: Lee Jeno, Hwang Renjun, Mark Lee, Na Jaemin

Warn: OOC?

Ch.2

.

.

"Ibuku suka sekali bilang 'masa sih anak SMA natal sendirian saja' dan langsung bercerita panjang lebar tentang masa mudanya. Digandrungi banyak lelaki lah, berganti pasangan lah… pokoknya tak pernah ada ujungnya sampai aku lelah juga mendengarnya." Jeno menenggak minumannya yang sudah tidak terlalu panas. "Anak durhaka."

"Ahahaha," tawa Renjun mendengar dua kata terakhir Jeno. "Tapi 'kan natalnya kita dirayakan dengan yang lain juga. Kalaupun pasangan yang dimaksud itu ada, tetap tidak bisa jalan berdua." Renjun merujuk pada anggota NCT yang lain, yang keberadaannya detik itu tidak diketahui.

Jeno mengangguk mantap, sambil menelan kunyahan kue yang ada di mulutnya. "Nah, itu dia. Aku jadi punya alasan. Untung label kita ada program buat rookies. Kalau tidak, aku pasti sudah dipanggang habis-habisan oleh ibu."

"Bebannya berat ya, mengharuskan anak SMA semuanya sudah punya pacar," gerutu Renjun. Tangannya mengaduk-aduk latte miliknya dengan sendok. "Tapi kalau Jeno, pasti sebenarnya banyak yang mengantre untuk jadi pacar."

Kata-kata Renjun lalu membuat Jeno terkekeh. "Tahu saja."

"Ya tahu lah. Apalagi kalau mereka melihatmu hari ini. Biasanya memang kamu sudah keren sih, tapi hari ini lebih dari biasanya." Renjun mendengus. Dia sebenarnya sedari tadi menyadari saja kalau cewek-cewek di kafe itu berkali-kali melirik ke tempat duduk mereka. Sesekali ketika salah sepasang mata mereka bertemu dengan sepasang mata Renjun, mereka langsung memalingkan pandangan. 'Maaf deh, kalau bertemu matanya denganku, bukan dengan Jeno'.

"Duh, jangan bikin berharap begitu dong…."

Renjun melihat lagi ke arah Jeno karena mendengar sepertinya Jeno mengatakan sesuatu, tapi suaranya pelan sekali. Apalagi dia mengucapkannya sambil menangkupkan mukanya dengan kedua tangannya. Makin tidak terdengar kata-katanya.

Tapi Renjun yakin Jeno mengatakan sesuatu. "Maaf, tadi tidak dengar. Kamu bilang sesuatu?"

Jeno lalu menggeleng. Satu tangannya lalu mengusap tengkuknya. Napas panjang ia buang keras-keras.

Gelagatnya terlihat sangat aneh di mata Renjun, tapi kalau orang yang bersangkutan tidak mau menjawab, ya sudah. Dia tidak akan memaksa.

Jeno berdeham sebelum berbicara lagi. "Tapi kamu sendiri hari ini juga berbeda dari biasanya. Aku benar tidak menyangka kau bakal datang terlambat karena kesulitan memilih baju. Padahal bisa saja kau datang dengan baju biasa."

Renjun tersedak dibuatnya, lalu dia hanya melemparkan pandangan ke luar kafe. "B-Biasa saja."

Mau tahu apa yang ada di pikiran Jeno sekarang? Dia yakin hampir 100% kalau Renjun sebenarnya terlalu semangat untuk jalan hanya dengannya malam itu, sampai tidak bisa memutuskan harus memakai baju apa.

Sebenarnya ada benarnya juga sih. Dia memang semangat. Tapi Jeno lupa kalau Renjun aslinya tidak tahu kalau dia hanya akan jalan berdua dengan Jeno. Jadi Renjun semangat untuk menghabiskan sisa-sisa tahun ini dengan anggota-anggota NCT Dream yang selama setahun terakhir sudah berjuang bersama-sama.

Tapi hal macam itu tidak perlu diketahui Jeno. Demi kebaikannya. Biarkan dia merasa senang.

"Eh, aku ke toilet dulu ya," kata Renjun sambil memundurkan kursinya supaya dia bisa berdiri. Jeno membalas dengan anggukan. Pandangan matanya mengawasi punggung Renjun dari tempat dia duduk, memastikan dia sudah pergi.

Ketika dia yakin Renjun sudah tidak melihatnya, Jeno segera meraih hpnya di kantung jaketnya. Segera ia ketik pesan dengan cepat.

To: Jaemin

Jaem. Kamu lagi sama Mark hyung kan? Ketemuan yuk di skating rink, please! Aku lagi sama Renjun. Darurat.

Jeno mengetik dengan cepat. Struktur kalimat tidak dia indahkan lagi asalkan orang yang menerima pesannya mengerti maksudnya. Dengan tidak sabaran ia menunggu balasan.

From: Jaemin

Tuh, 'kan. Kemarin padahal kami sudah menawarkan berempat saja. Batu sih jadi orang. Kata Mark hyung oke-oke saja. Aku pakai mantel biru, hyung abu-abu. Kalian saja yang cari kami ya.

p.s Laporan lengkapnya ditunggu tahun depan~ aku dan hyung menunggu.

Jeno bisa lega sekarang. Ia daritadi ragu untuk menelpon atau sekadar mengirim pesan pada salah satu antara Mark dan Jaemin karena kemarin itu, Jeno memang menolak ajakan Jaemin untuk pergi bersama, seperti yang barusan dikatakan Jaemin di pesannya. Jeno lumayan menyadari kalau kemarin dia lumayan keras kepala, cukup untuk membuatnya malu untuk menghubungi mereka berdua. Tapi pada akhirnya lihat saja, Jeno melupakan gengsinya karena nanti usahanya malah sia-sia.

Dilihatnya jam yang melingkari pergelangannya. Pukul 10.25. Dia berpikir untuk pergi ke tempat janjiannya kira-kira 10 menit lagi, melihat kue milik Renjun masih sisa. Dia tidak mau memburu-buruinya.

Tidak lama, Renjun kembali dan langsung menghabiskan kuenya tanpa Jeno harus beritahu. "Eh, kita ketemuan sama Mark hyung jam berapa? Kita jalan lagi sekarang atau nanti saja?"

"Kalau sudah selesai, kita sekarang saja." Tidak menjawab pertanyaan Renjun yang pertama, Jeno langsung membereskan bawaannya, yang lalu diikuti Renjun. Iya, ya. Kok janjian tidak menentukan waktunya sih. Ya sudahlah, lihat keadaan saja nanti.

Lokasi rink-nya tidak jauh, tapi juga tidak dekat. Lumayan makan waktu jika jalan kaki, tapi juga rasanya buang-buang uang jika sampai naik taksi. Merasa waktu yang mereka punya lumayan banyak, tidak seperti uangnya, mereka memutuskan jalan kaki saja. Jalan kaki ramai-ramai asyik juga, pikir Jeno sambil menikmati pemandangan malam yang ramai pejalan kaki.

Dari sekian banyak pejalan kaki di sana, tak sedikit yang berjalan dengan bergandengan tangan.

"Aku ingin tahun depan merayakan liburan-liburan dengan pacar~" celetuk Renjun sambil menghembuskan napas pada tangannya yang disatukan. "Tapi mana bisa ya. Aku lebih ingin tahun depan kita bisa jadi sesibuk mungkin sampai bahkan tidak bisa mengobrol dengan cewek karena artinya kita sukses." Senyumnya merekah diiringi tawa renyah.

"…Memangnya sekarang sedang ada orang yang kausuka?" tanya Jeno, merasa harus hati-hati dalam memilih katanya. Renjun menggeleng. "Tapi pernah suka seseorang sebelumnya?"

"Tentu saja pernah! Aku kan juga lewat masa puber." Dia memajukan bibirnya, merasa diremehkan orang yang katanya memiliki antrean panjang untuk menjadi pacarnya ini. "Tapi ya biasa lah. Dia juga sudah menyukai orang lain –aku dengar dari teman yang akses informasinya cepat. Tukang gosip sih, padahal cowok."

"Hmm… sayang sekali."

"Kalau Jeno? Sekarang sedang suka seseorang?"

"Eh? Aku?" Jeno menunjuk ke arahnya sendiri. Renjun mengangguk. "Aku… sekarang ada sih."

Renjun lalu heboh sendiri, sambil berkata 'sudah kuduga!'. "Siapa? Siapa? Apa aku mengenalnya?"

Bukannya menjawab, Jeno hanya mengendikkan bahu. Tanda ia tidak mau memberitahu. Renjun merengek kecewa, lalu mengubah permintaannya jadi supaya diberikan petunjuk atau ciri-ciri atau bahkan inisial.

"Dia… ngg…," kata Jeno dengan suara pelan dan pandangan yang terlempar entah ke mana, menghindari mata Renjun yang berbinar tidak sabar. "…manis kalau pakai warna pink."

"Aaaaw~" Renjus gemas mendengar jawabannya. Dia tidak menyangka Jeno dapat dibuat terpana hanya karena warna baju yang digunakan. "Dia suka pakai warna pink? Feminin sekali~"

Mereka terus mengobrol tentang topik yang sudah diganti Jeno dengan lihainya, seperti menjadi tebak-tebakan apa yang sedang dilakukan anggota yang lain saat itu. Renjun memang mudah terbawa arus pembicaraan dan Jeno lega tentang itu. Tebak-tebaknya berjalan lumayan lama, sampai mereka tidak sadar sudah sampai di rink. Jeno segera menuju loket karcis lalu bersama Renjun mengambil sepatu skate di tempat yang sudah disediakan di sana.

Apa mereka bisa skating? Oh, ayolah. Mereka menari sambil menaiki hoverboard.

Yah, setidaknya itulah yang mereka pikirkan. Tapi ketika baru menginjakkan kaki di rink, mereka menghabiskan kira-kira tiga menit hingga terbiasa. Keduanya sempat terjatuh dan saling menertawakan satu sama lain. Tidak lupa mereka mengambil beberapa selfie, baik untuk dipamerkan maupun untuk jadi bahan tertawaan nantinya –foto aib.

"Lihat, nih! Di foto yang ini mata kita mirip!" Renjun menunjuk salah satu foto mereka di bagian matanya sendiri yang terlihat seperti bulan setengah.

Mereka terus tertawa, sambil melanjutkan meluncur dengan cepat karena sudah terbiasa. Ketika sedang berusaha mengambil foto lagi, Renjun melihat ada dua sosok yang terlihat familiar ikut masuk ke dalam layar hp-nya. Dia langsung menolehkan kepala.

"Itu Jaemin dan hyung!" pekik Renjun. Tangannya yang memegang hp diturunkan. "Kok kita lupa sih kalau janjian ketemu sama mereka?"

Jeno hanya tertawa garing. Dia kira Renjun tidak akan ingat.

"Susul mereka yuk! Kayaknya mereka belum menyadari kita," seru Renjun sambil bersiap meluncur ke arah kedua temannya itu.

Jeno menghela napas, berpikir untuk kembali ke rencananya yang dibuat on the spot. Tapi baru saja dia ingin mengikuti Renjun yang sudah meluncur pelan ke arah mereka, dia langsung memanggil Renjun untuk berhenti. Renjun berhenti dan membalikkan badannya dengan tampang heran. "Ada apa?"

"Ngg… menurutku, kita dekati mereka nanti saja…," jawab Renjun dengan senyum yang sedikit dibuat-buat. Seharian itu, Renjun kerap melihat wajah macam itu sampai bosan. Tidak mengerti maksud Jeno, Renjun berbalik badan siap kembali meluncur.

"Memangnya kenapa? Nanti keburu mereka–"

Kalimat Renjun terpotong.

"AH." Jeno merutuki kedua temannya yang jauh di sana. Iya, mereka yang sedang meluncur sambil bergandengan tangan dan tadi sempat cium-cium bibir. Di publik. Haha. Mereka melakukannya dengan sangat cepat, tapi tepat bersamaan dengan ketika Renjun membalikkan badannya.

Renjun melihatnya. Tubuhnya seketika diam. Jeno yang hanya dapat melihat punggungnya, langsung mendekat dan memegang pundaknya. Dia balikkan badan laki-laki di depannya ini supaya dia bisa melihat wajahnya.

Merah. Wajahnya merah.

"R-Renjun…?" tanya Jeno, setengah khawatir, setengah tidak percaya.

Renjun menempelkan kedua telapak tangannya pada kedua pipinya yang memerah. "…A… ah…?! K-Kok…?!" Renjun mulai heboh, sambil terus memegangi wajahnya yang ia rasa memanas. Hampir saja dia teriak kalau tidak Jeno tutup mulutnya lalu menariknya ke pinggir rink.

Jeno melihat sekeliling, mencari dua orang yang dipikirnya benar-benar nekad itu. Sepertinya mereka sudah menjauh meninggalkan TKP.

"Jenoooo!" Renjun memekikkan namanya akhirnya. "Tadi kamu lihat?!"

"Lihat."

"A-Aku tidak menyangka mereka–..? Kok… kayaknya kamu tenang-tenang saja?" Renjun bingung melihat Jeno yang terlihat kelewat tenang padahal mereka baru saja menyaksikan hal yang sangat mengejutkan bagi Renjun.

Jeno, entah untuk keberapa kalinya hari itu mengusap tengkuknya. Terpikir untuk mencari-cari alasan lagi tapi dia tidak mau mengambil risiko lebih dari ketika dia berbohong soal rencana ketemuan dengan Mark dan Jaemin. "Aku biasa saja karena aku sudah tahu mereka memang… begitu. Eh, tapi aku juga kaget melihat mereka bisa senekad itu!"

Renjun menganga, terkejut mendengar Jeno baru saja memberitahunya kalau kedua temannya itu selama ini pacaran dan dia tidak mengetahuinya. "…Siapa lagi yang tahu selain kamu?"

"Donghyuck tahu. Taeil hyung tahu. Yuta hyung, Taeyong hyung, Ten hyung… kurasa semuanya selain kamu, Chenle, dan Winwin hyung tahu. Eh, mungkin Chenle dan Winwin hyung sekarang sudah tahu." Mengingat seberapa obvious-nya Mark dan Jaemin bertingkah.

Renjun sama sekali tidak senang mendengarnya. "…Apa Jaemin sebenarnya tidak mempercayaiku?" dia kecewa, membayangkan Jaemin yang merupakan teman dekatnya merahasiakan tentang dirinya sudah mendapatkan pacar.

Jeno segera membantah. Dia kemudian menjelaskan kalau sebenarnya memang Mark dan Jaemin inginnya merahasiakan saja dari semuanya kecuali mereka-mereka yang kelahiran 2000. Jaemin sengaja mengajak Donghyuck dan Jeno berkumpul dan kemudian dia mulai pengumumannya. Nah, saat itu, Renjun sedang di China. Jaemin sendiri juga tidak ingin mengatakan hal sepenting itu lewat hp. Dia ingin mengatakannya langsung supaya dia juga bisa melihat reaksi pertama Renjun setelah mendengar kabar gembiranya.

"Kelahiran 2000? Kan cuma ada empat orang kelahiran 2000! Tadi kamu bilang semuanya tahu!"

"I-Iya, aku belum selesai. Sebenarnya, waktu Jaemin dan Mark hyung sedang bicara denganku dan Donghyuck, Johnny hyung sepertinya mencuri dengar… dan… yah, begitulah." Jeno ingat betul kalau keesokan harinya para hyung memperlakukan Mark dan Jaemin dengan cara yang sedikit berbeda. Seperti sengaja melontarkan pernyataan dan nasihat yang sedikit mengarah. 'Mark, aku kira kamu suka sama yang lebih tua…' atau 'aku percaya kalian bisa bagi waktu. Jangan sampai menelantarkan kewajiban ya'.

Dan kau tahu? Johnny saat itu sibuk menutupi wajahnya dengan majalah. Diyakini bahwa itu dia lakukan sebagai upaya meredam tawanya lantaran melihat apa yang disuguhkan di depan matanya –Mark dan Jaemin yang kebingungan bukan main. Kira-kira butuh waktu setengah hari sampai keduanya mengerti apa yang terjadi setelah Jeno dan Donghyuck menginterogasi Johnny. Mereka takut dianggap tidak bisa jaga rahasia. Akhirnya, mereka bisa membuktikan bahwa mereka tidak bersalah dengan membuat Johnny mengaku sambil tertawa terbahak-bahak.

Renjun diam. Ia benar-benar bisa membayangkan tampang tidak-akan-pernah-kapok Johnny sedang melakukan pengakuan yang tidak diwarnai penyesalan sedikitpun.

Kalau dipikir lagi, Renjun beberapa bulan terakhir memang bertanya-tanya tentang bagaimana dalam tatapan Jaemin ada sesuatu yang ia tidak ketahui apa itu tiap kali Jaemin menatap Mark, baik dari dekat maupun jauh. Begitu juga ketika Mark yang menatap Jaemin tanpa disadari oleh Jaemin sendiri.

Sebenarnya Jeno juga memiliki sesuatu yang ingin ia tanyakan pada Renjun. Jeno merasa reaksi Renjun terlalu tenang untuk orang yang baru saja memergoki temannya pacaran padahal keduanya… laki-laki. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, Jeno memutuskan untuk mengurungkan niatnya.

.

.

TBC

A/n. Yha gw aslinya pengen 2 chapter aja tapi jadinya kepanjangan dan akhirnya dipotong;;

Gw ada resolusi mulai tanggal 1 udah serius belajar, jadi ya…. Ehe. Sekarang tanggal 30 ya. Lusa dong ya. POKOKNYA TANGGAL 31 UP CHAPTER TERAKHIR DAN BYE :'(( semoga muncul lagi februari dengan ff NoRen (atau Markmin? Atau dua-duanya? Atau malah bukan dua-duanya?;;) yang rada bagusan dikit aamiin

Btw makasih yang udah review dan baca 3 uwu daku senang hahaha

daunlontar: renjun: "aku maunya jalan sama temen2 gimana dong:'((" ||| jeno: "aduh hati ini ada perih-perih kenapa ya". Tahun baru sendirian asal bahagia mah gapapa wkwkk

BlueBerry Jung: iya nihh lagi suka banget NoRen kkkk sebenernya gw malah gak kebayang Renjun seme;;; Tata-nim? Boleh gak yaa hahaa Tata aja lebih lucu uwu /tapi orangnya gak lucu sih

Iceu Doger: Renjun jadi kayak cewek ngebayanginnya wkwkk IYA KAN YA mau sedeket apa tapi kalo berdua mah tetep keki :/

tryss: tadaa udah update~ makasih yaa udah baca uwu besok apdet lagi~

ludfidongsun: jeno bakal banyak berjuang di fic ini hahaha ketemu gak yaa *w*

fangirlalala: renjun: "padahal aku udah semangat…" || Jeno: "author, plis gw mau digoreng sampe kapan". Siap! Ditunggu buat tanggal 31 juga ya chapter 3~

BinnieHwan: siapa sih yang gak lemah sama unyunya renjun~ gigi gingsulnya is justice!

mufuru: Jeno: "sebenernya sih aku suka juga sama sisi dia yang gak peka (habisnya lucu hngg/) tapi lama2 ada perih2nya gitu. Pokoknya makasih dukungannya" || Renjun: "sekarang aku juga jadi ragu pengen ketemu atau nggak…"