Piece of Memory
Disclaimer: Naruto dan semua karakter gak akan jadi punya saia. Kalo ceritanya pasti punya saia atuh (jadi sunda)
Chapter 1 finally update
special hinaxkiba (walaupun cuma slight)
RnR?
Review Replies
Light-Sapphire-Chan: Light-Senpai, saia aja yang ngebuat gak kepikiran kenapa Naruto selingkuh *ditimpuk pake printer*
Yaah udah deh saia buat alasannya, karena Hinata... terlalu perfect untuknya
*ditimpuk pake karung beras*
Tapi-tapi yang pastinya sih Naruto gak selingkuh sama Sakura karena ada Sasuke. Di sini Hinata gak akan saia buat mati kok *horrrreeee* tapi (ada tapinya nih) tunggu apdetan chapter aja deh *dilempari sandal*
Sangat membuat penasaran yaa? Saia juga begitu o_O goomeeen kalo ujuk-ujuk prolognya *sembah sujud*
Kennko-hime: Wah, tadi saia gak sengaja baca profil senpai, ternyata senpai udah kuliah *nggak nyangka, saia ini ternyata masih junior sekali, masih kelas 2 SMP*
Gomen, di sini saia buatnya Hinata gak terlalu sopan *dijyuuken Hinata*
Kalo ningrat... kayaknya nggak juga *dikaiten Hyuuga sekeluarga*
Kaya, pastinya. Gomeeen sekali ya senpai, saia kalo udah ngetik-mode:ON suka lupa kasih titik (tapi udah saia edit ntu chapter jadi ada titik, hehe...) Gomen lagi kalo alurnya kecepetan, jadinya gajebo begini. Saia emang bloon bikin prolog *jedotin kepala ke tembok*
Kennko-senpai, arigatou sekali udah mau nge-ripyu fic saia yang udah jelek, gaje, gak mutu pula *peluk-peluk senpai sambil banjir air mata*
Italic : kata hati
Chapter 1
Hinata POV
"Kau tahu Hinata-chan, aku sangat mencintaimu!" kata yang terlontar dari bibirnya waktu itu tiba-tiba muncul di otakku.
Cinta? Cinta!? Kau bilang ini cinta!? Jangan membuatku tertawa, Naruto Uzumaki! Memang kau pernah bilang kau cinta padaku, tapi coba kau lihat apa yang kau anggap 'cinta' itu padaku.
-Flashback-
10 Oktober
"Eh, Naruto-kun, coba lihat apa yang aku buatkan untukmu" aku menunjukkannya sebuah syal.
"Huh? Apa itu? Sama sekali tidak berguna" katanya. Dia bilang begitu padaku. Dia bisa bilang begitu tanpa melirik sedikit pun ke arahku?!
"Hari ini kan kau ulang tahun. Ini aku..."
"Halo... ya, ada apa?" ia berjalan meninggalkanku sendirian.
"... Rajut sendiri..." tanpa kusadari air mataku jatuh membasahi tanganku yang hampir membengkak.
"... Kau berubah"
Ya, berubah. Benar-benar berubah 180 derajat. Naruto-kun yang sekarang benar-benar bukan Naruto-kun yang selalu baik padaku, yang selalu menyisihkan waktu untukku, yang selalu mencintaiku.
".... Kau benar-benar bukan Naruto yang kukenal."
-
Restoran
"Hinata-chan, coba lihat ini." Sakura-chan menunjukkanku sebuah cincin di jari manisnya.
"Jangan bilang kalau Sasuke-kun..."
"Semalam ia melamarku."
"!! Benarkah!!? Selamat Sakura-chan!! Jadi kapan... kau..." mataku tiba-tiba menatap sebuah meja yang disusuki oleh seorang gadis berambut hitam bersama seorang pemuda berambut pirang yang mirip Naruto-kun.
"(Naruto-kun? Apa itu Naruto-kun? Ya itu dia. Tapi, sedang apa ia bersama gadis itu? Jangan-jangan...)" aku langsung menggelengkan kepalaku.
"(Tidak, gadis itu pasti kliennya. Tadi dia bilang dia ada lunch meeting sama kliennya. Mungkin mereka janjian di sini. Tapi...)"
"Hinata-chan, ada apa?" Sakura-chan menegurku yang sejak tadi bengong
"!! Ah, ah... tidak... Lukisan yang di sana bagus sekali." aku berbohong padanya sambil menunjuk ke arah lukisan yang ada di sebelah meja Naruto-kun dan gadis itu.
"Tadi sampai di mana ya? Oh ya, jadi kapan kau akan menikah? (kenapa mereka mesra sekali? Semoga saja dugaanku ini salah)"
-
24 Desember
Malam
"Halo..."
"H-halo... Naruto-kun...!"
"Aku sibuk, lain kali saja ya." telepon dimatikan. Ia mematikan teleponku sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Aku meletakkan ponselku di kasur.
"..." aku menyandarkan punggungku di kaki kasur kamarku. Memeluk kedua kakiku dan membiarkan kepalaku menyentuh lutut.
"... Naruto-kun, aku mengerti kau sibuk. Tapi setidaknya aku harap kau datang untuk merayakan natal tahun ini bersamaku... se... seperti biasanya." air mataku kembali menetes. Terus menetes. Ponselku tiba-tiba berbunyi. Aku langsung mengambil ponselku. Aku sangat berharap itu dari Naruto-kun. Ternyata... bukan. Dari Sakura-chan.
-
Happy Karaoke
Room 701
"Hinata-chan, akhirnya kau datang!" Sakura-chan menyambutku. Kulihat di sana hanya ada ia dan Sasuke-kun.
"Sakura-chan, ada apa menyuruhku datang ke sini? Ini kan pesta perayaan natal pribadi kalian." aku mengusap kedua mataku yang sembab karena terus-terusan menangis.
"Begini Hinata-chan..."
"... Dobe sudah berani main perempuan." kata-kata Sasuke tadi membuatku sangat terkejut
"!!! Ma... main perempuan?"
"Aku sering melihatnya keluar dari klub malam. Mabuk, bersama seorang gadis berambut hitam. Aku pikir gadis itu kau, tapi tenyata bukan."
"!! (Gadis itu, pasti gadis itu!!) Maaf aku harus..."
"Jangan sekarang, Hinata!"
"Kenapa?! Aku memang sudah curiga! Gadis itu, gadis yang makan siang bersama Naruto-kun di restoran 3 hari lalu... memang gadis yang yang sudah membuat Naruto-kun lupa padaku!!!" mata ini mulai berkaca-kaca lagi. Aku langsung keluar meninggalkan mereka berdua.
"Aku akan mengejarnya."
"... Tidak. Tidak perlu Sakura. Cepat atau lambat Hinata juga pasti akan tahu.. Biarkan dia pergi."
"... Baiklah..."
Aku berlari menuju ke arah mobil Jazz -lavender milikku. Aku menyeka air mata yang terus mengalir ini. Tidak akan ada seorang pemuda yang akan membiarkan bajunya basah oleh air mataku. Tidak, mungkin ada. Mungkin nii-san. Tapi aku bukan gadis yang suka mengadu. Aku ini hanya gadis bodoh yang hanya bisa menangis. Aku ini benar-benar gadis bodoh yang cengeng.
"Hinata...." seorang pemuda mengetuk kaca mobilku sambil memanggil namaku.
"! Kiba-kun." Aku langsung menghapus air mataku dan membuka kaca mobilku.
"Kenapa kau ada di sini, Kiba-kun?" tanyaku.
"Oh, aku tadi kebetulan keliling-keliling sekitar sini untuk melihat suasana natal. !? Kau habis menangis ya?"
"! Ti... tidak. Tadi mataku kelilipan debu."
"Boleh aku masuk? Di luar dingin sekali."
"Tentu." Aku membuka pintu mobilku
"Wah, di sini hangat ya"
"Begitulah"
"... Tadi kau menangis ya? Kalau boleh tahu kenapa?"
"! Aku tidak..."
"Jangan bohong padaku, Hinata. Pasti Naruto kan yang membuatmu menangis?"
"!!" tepat sekali, air mataku kembali jatuh untuk ketiga kalinya malam ini. Ia mendekapkan kepalaku ke dadanya. Aku menangis dengan kuat di dadanya
"(Menangislah, Hinata. Karena hanya ini satu-satunya cara menenangkanmu.)"
Aku terus menangis. Akhirnya ada seorang pemuda yang rela bajunya basah oleh air mata gadis cengeng ini...
27 Desember
Malam
Aku memutuskan untuk melihat apa yang ia lakukan di apartemennya. Aku dengar tadi sore Naruto-kun dinner bersama perempuan kurang ajar itu di sebuah resto. Dan bilang padaku ia ia sibuk di kantor. Dasar laki-laki bodoh. Kau pikir kau bisa terus membohongiku. Aku membuka ponselku. Menekan tombol 'call' pada namanya.
"Maaf nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, silakan..." aku langsung mematikan teleponku. Benar-benar pintar.
Aku menekan bel di sebelah kanan pintu apartemennya. Tidak ada sahutan. Aku menekan bel itu beberapa kali. Barulah laki-laki brengsek ini membukakan pintu.
"Hinata-chan! Ada..."
"(Masih pura-pura bodoh ya?)" pikirku. Aku langsung masuk ke dalam apartemennya.
"Mana dia?" tanyaku padanya.
"Dia, dia siapa?"
"Selingkuhanmu! Mana dia?!" emosiku meluap.
"A... apa maksudmu?!"
"Sudahlah! Tidak usah pura-pura tidak tahu!! Mana dia?!" tiba-tiba seorang gadis muncul dari dalam kamar mandi.
"(Gadis ini, gadis yang waktu itu!!) Jadi ini ya selingkuhanmu, brengsek?! Pintar juga kau mengelabuiku selama ini" aku tersenyum kecut.
"A... aku bisa jelaskan padamu, Hinata-chan!!"
"Tidak ada yang perlu kau jelaskan lagi padaku!! Batalkan pertunangan kita dan jangan pernah menggangguku lagi, dasar brengsek!!!" aku melempar cincin pertunangan kami ke arahnya, lalu berlari keluar aprtemennya. Dengan berurai air mata.
-
Kami-sama, apa ini kado untukku? Terima kasih, karena sudah memberikan kado paling pahit seumur hidupku. Dan kau juga...
"Dasar Brengsek!!!" mobil SUV itu terus mengikutiku. Aku menaikkan kecepatan mobilku.
Tanpa kusadari, satu minivan sudah siap menabrakku.
-
Aku hanya bisa mendengar bunyi alarm mobilku yang terus berbunyi.
Kami-sama...
-
CKRAAAASSSH!!!
-
Sebuah mobil menabrak mobilku. Kini aku tak bisa merasakan apa-apa.
-
Sekali lagi terima kasih, atas kadonya.
-
Aku menutup mataku.
-
BRAAAK!
-
BLAAAR!!!
-
"Hinata, Hinata-chan?" aku mendengar suaranya. Suara Naruto-kun. Memanggil namaku.
-
"Hinata, aku mohon sadarlah." Aku membuka mataku. Pandanganku kabur, tapi aku bisa melihat wajahnya, walaupun samar-samar'
'Kami-sama, terima kasih sudah membiarkanku melihat wajahnya, walaupun yang terakhir kalinya.'
-
"N-Naruto-kun..."
"Hinata-chan, maafkan aku! Aku... aku sudah...!"air matanya jatuh membasahi pipiku yang sudah berlumuran darah. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku memegang pipinya.
".... Tidak apa... Naruto-kun. Maafkan aku... A... aku mencintaimu Naruto...-kun..." tenagaku habis. Tanganku terjatuh. Membuat bekas darah di pipinya
-
Terima kasih atas semuanya, Naruto
-
Maaf, aku harus pergi, I love you...
-
"HINATAAAAAAA!!!!!!!"
-TBC-
Ampuuun, jangan bunuh saia Naruto FC! *sembah sujud*
Ampuni saia kalo masih kurang titik atau salah typo, karena saia juga manusia
Ampuni saia kalo banyak sekali time skip-nya
Ampuni saia kalo peristiwa di fic ini mirip dengan lagu 'Teruskanlah' Agnes Monica
Ampuni saia karena di prolog ada kesalahan maksud di bagian terakhir. Harusnya saat itu bukan hujan air, tapi hujan salju karena saia baru ingat kalo di Jepang, bulan desember itu lagi musim salju.
Ampuni saia karena ficnya udah jelek, lebai, abal-abal, gajebo, ga mutu pula
Arigatou sudah membaca chapter ini
Uzumaki Kat
Mind to review?
