"..kita akan bertunangan di Los Angeles?" ia bertanya, bingung. Teman-teman yang akan ia undang kan dari Jepang semua, bagaimana mungkin mereka harus membeli tiket pesawat yang semakin ke sini semakin melambung harganya hanya demi melihat pertunagannya? "Kenapa tidak di Jepang saja?"
"Yah, aku sibuk," jawab Robert. "Nanti aku yang bayar semua akomodasinya."
Robert Haydn, 25 tahun. Mantan peserta "kompetisi pencarian Dewa." Kini ia adalah seorang enterpenteur sukses, jadwalnya begitu sibuk. Meluangkan waktu untuk acara pertunangan mereka adalah hal yang begitu susah – bahkan Mori sempat yakin hampir mustahil. Tapi toh setelah dengan selektif mem-postpone acara-acara yang kurang penting, mereka pada akhirnya menemukan tanggal pertunangan mereka.
3 November.
"Kau tahu, besok aku harus bertemu klien. Pentiing sekali. Kalau sampai aku nanti kecapekan, persahaan yang rugi," jawabnya, mencoba menenangkan gadis berambut aqua itu.
"Baiklah."
The Odds and The Reality.
2. bitter [or] sweet
Disclaimer: Law of Ueki (c) Fukuchi Tsubasa.
Terdengar jeda sejenak pada telepon. Nampaknya sang lawan bicara sedang menganalisa apa yang sedang ia ucapkan, sementara ia membayangkan apa yang sebenarnya Ueki betul-betul rasakan begitu mendengar kata-kata itu.
"Err, pertunangannya di Los Angeles. Biaya akomodasi ditanggung Robert," ucapnya membelah kesunyian yang membuatnya merasa semakin bersalah.
"Los Angeles?"
"Iya," ucapnya, lalu langsung ia sambut dengan kalimat lain, "K-kalau kau sibuk, tidak papa kok tidak ikut." Malah mungkin lebih baik, pikirnya. Setidaknya ia tak perlu berurusan dengan muka Ueki yang akan membuatnya semakin bersalah.
"Tenang saja. Aku tidak sibuk kok. Tapi.. aku kan tidak pintar bahasa Inggris, bagaimana kalau nanti aku tersesat?"
OK, entah kenapa, Ueki kembali sukses membuatnya K.O. Ia kini sedang ketakutan akan reaksi laki-laki itu: takut kalau nanti dia marah atau diam saja dan membuatnya tidak nyaman.
..tapiii... bertanya dengan polosnya?
Terima kasih, Tuhan. Ia men"jitak" meja di sebelahnya, berpura-pura membayangkan bahwa itu adalah kepala si rambut hijau Ueki, sementara tangan sebelahnya memegang telepon erat-erat. "Yah, nanti aku jemput, kok."
"Ngomong-ngomong, selamat atas pertunangannya," ucap Ueki, tulus namun menohok hati Mori seketika
"M-makasih." Padahal aku setengah berharap kalau dia marah. Tapi ia berusaha terdengar sebahagia mungkin, seceria mungkin. Kan ia harus menjadi "calon mempelai wanita" yang berbahagia. Yah, paling tidak semua orang mengharapkannya untuk bahagia akan kabar "manis" yang sebenarnya terasa "pahit".
"Secret admirer."
Ia menulis itu di lipatan kartu valentine yang ia selipkan di pita yang mengikat coklat berbentuk hati itu. Ia sengaja menulisnya dengan tulisan tangan terbaik yang ia bisa, ia sengaja menulisnya dengan warna merah marun agar terlihat manis.
Sang penerima? Siapa lagi kalau bukan Ueki Kosuke.
Ia sih sebenarnya sudah menyiapkan coklat untuk Ueki buat hari Valentine yang akan ia kasih langsung, bersama-sama dengan coklat untuk ayahnya dan laki-laki lain yang telah memberi kontribusi besar untuk kehidupannya (Sano, Hideyoshi *mungkin*, Koba-sen, dan lainnya).
Tapi, khusus untuk Ueki, ia ingin memberinya satu hal yang khusus. Well, orang yang menempati tempat spesial di hati harus diberi sesuatu yang spesial juga, kan?
Tapi.. entah mengapa, ia masih tak bisa membayangkan bagaimanakah ia akan memberikan "coklat spesial" ini untuk Ueki.
Ia akan memberinya secara sembunyi-sembunyi, jelas. Ia tak mungkin memberinya terang-terangan.. meski ia juga tak yakin Ueki akan menyadari kalau sang "secret admirer" adalah dia meski ia kasih secara terang-terangan. Yah, mengingat betapa lamanya otak itu dalam berproses. Tapi.. entah mengapa, ia bingung bagaimana cara ia memberinya secara sembunyi-sembunyi?
Menaruh di loker? Oalah, ia tak yakin Ueki akan menyadari sang coklat tengah menunggu untuk dibuka. Ueki kan orangnya tidak teliti.
Menaruh di atas meja? Uh, ia juga tak terlalu yakin. Karena kelas mereka berbeda, pasti sangat mencolok jika ada seorang gadis dari kelas lain yang diam-diam menyelinap. Dan jika orang lain sampai tahu... ia bisa-bisa harus menyembunyikan muka saking malunya.
Lalu, bagaimana caranya?
Ia mendesah bingung. Otaknya serasa mampet hanya demi hal sepele begini. Cinta memang runyam – meski itu hanya cinta monyet.
Dan Ueki takkan pernah sadar akan rasa-rasa seperti itu. Tidak dulu, tidak sekarang. Si pria pecinta keadilan ini mungkin kaya akan rasa persahabatan, rasa kasih sayang, tapi cinta tidak masuk pada Kamus Besar-nya. Bahkan ia tak menangkap nada ragu yang tersempil pada kata-kata "terimakasih"-nya.
"Ooh, pasti kamu bahagia sekali. Aku turut berbahagia untukmu."
Seharusnya kata-kata seperti ini manis, kan? Tapi entah mengapa, terasa begitu pahit, pikirnya jengah.
"Well, yah, untuk melengkapi kebahagiaanku, kau bisa datang. Meramaikan suasana. Aku kangen padamu," pada kalimat terakhir, ia mengucapkannya sepelan mungkin: nyaris ragu, meski itu kata-kata yang paling ia yakini diantara kata-kata semu yang ia ucapkan sebelumnya. Hanya saja.. kata-kata itu terlalu emosional. Ia takut berharap terlalu banyak.
"Tenang saja," terdengar jeda, nafas Ueki yang ia kenal terdengar jelas di telepon, "Aku pasti akan datang. Tapi nanti kamu temani aku ya, aku betul-betul buta bahasa Inggris."
"Tentu saja." Iya, tentu saja.
Toh pada akhirnya ia memutuskan untuk menaruhnya di tas sekolah. Ia akan menaruhnya begitu Ueki sibuk membersihkan sampah dan menaruh tasnya di kursi. Biasanya, kegiatan "ritual" membersihkan sampah di taman ini terlalu sakral untuk Ueki sampai-sampai ia tak akan menyadari kalau ada seseorang di belakangnya, misalnya.
Dan pastinya, mau tak mau Ueki akan sadar ada coklat "nyasar" ditasnya kalau ia hendak menyiapkan buku pelajaran untuk besok.
Ia membayangkan, apa yang akan Ueki rasakan begitu melihat coklat tersebut. Apakah ia penasaran? Apakah ia bahagia? Atau ia tetap memasang muka datar? Atau jangan-jangan ia tidak tahu arti "secret admirer"? Yah, meski ia berteman dengan Ueki, sering kali ia tak bisa membaca pikirannya – sekedar menebakpun susah.
Dan tentu saja, rencananya berjalan dengan mulus. Terlalu mulus bahkan. Seakan-akan segala aspek di dunia ini *?* mendukung niat "iseng ala fangirl" ini. Yah, kata orang, semua orang suka cinta, jadi mungkin saja dunia seakan melancarkan hal ini karena.. mereka suka melihat adegan cinta yang one-sided ini?
"Mori, kau kenapa melamun?"
Aha, Ueki ternyata menyadari sedari tadi Mori tidak bekerja sama sekali. Ia merasa malu kepergok duduk-duduk begitu. Untung coklat spesial itu sudah keburu ia taruh di tasnya. Coba kalau Ueki memergokinya dengan kotak coklat di pangkuannya. Atau malah lebih parah lagi, menangkap basah ia yang sedang menaruh coklat di tasnya.
"Capek, habis pelajaran olahraga," jawabnya. "Maaf ya. Sebentar lagi ya, aku duduk dulu."
Kata-katanya jadi terasa janggal. Ia jadi merasa malu. Pipinya cepat bersemu merah meski ia tahu dengan otak kapasitas mungil milik Ueki, ia jelas tak mungkin akan menyadari apa yang baru saja ia lakukan.
Tapi, entah mengapa, ia tetap malu. Ia malu karena janji yang mereka buat – dengan dorongannya—malah ia patahkan duluan.
Sepanjang hari, ia merasa bersalah akan tindakan "remaja"nya ini.
Mori ingat betul, setelah itu ia berusaha untuk lebih acuh tak acuh pada Ueki. Berusaha menutup-nutupi rasa bersalahnya dengan berusaha melupakan hal itu. Tapi ia tak bisa. Rasa bersalah lebih kuat daripada keinginanya untuk berpura-pura, sehingga ia semakin ke sini semakin linglung hendak bertingkah apa di depan Ueki.
Dan efek itu masih terasa sampai sekarang. Sampai mereka dewasa, sampai mereka sudah hidup masing-masing.
"Makasih, Mori."
Jawaban itu terasa begitu aneh di telinganya. Bukan seharunya ia yang bilang terimakasih duluan– secara etika – meski sebenarnya perasaannya malah tambah kalut? Tapi apa yang bisa ia ucapkan? Ia akhirnya hanya bisa membalas.
"Sama-sama. Terimakasih juga mau datang ke acara pertunanganku. Aku yakin kau pasti sibuk," basa-basinya. Ia merasa begitu mixed saat ini. Di satu sisi, ia ingin memotong segala basa-basi busuk yang membuat lidahnya asin ini. Tapi di satu sisi.. ia tak tahu hendak berkata apa setelah sekian lama berubah.
"Aku betul-betul tidak sibuk, kok. Toh kan pertunangannya hari libur," jawab orang di seberang, begitu polos. Mori kembali men"jitak" meja di sebelahnya. Korban tidak bersalah dari rasa kesalnya akan kepolosan Ueki.
"Oh," jawabnya. Ia lalu diam sejenak sebelum melihat jam tangan dan tersadar ia terlalu lama berhubungan dengan teman lamanya. Ia punya kesibukan sendiri sekarang. "Goodbye."
"Dah."
"Mori, aku dapat coklat dari...entahlah, siapa. Ini, buat kamu saja," kata Ueki keesokan harinya. "Aku sudah kebanyakan makan coklat. Jadinya eneg-enegan."
Sesaat, Mori merasa marah. Ia ingin menjitaknya berulang kali, ingin menggantungnya, bahkan. Usahanya membuat coklat, memilih warna pita yang cantik, memilih kartu, memilih bungkus, dan menuliskan "secret admirer" malah berakhir gagal. Ia ingin menyalahkan seseorang, tapi siapa?
..mungkin dunia juga sudah eneg-enegan dengan cinta yang terlalu banyak di hari Valentine.
"Makasih." Meski enggan, herannya ia segera merampas coklat tersebut. Ia terlalu marah. Ia tak mengerti apa yang terjadi di dunia ini. Hei, ia hanya berharap Ueki menikmati coklat spesial buatannya, dan, tada, tiba-tiba keesokan harinya ia yang memakan coklat yang tidak ia tujukan untuk dirinya itu.
Ia memakannya. Tepatnya, ia melahapnya. Terdengar bunyi kraus kencang yang begitu menulikan telinganya. Dan herannya, coklat itu terasa pahit. Tidak manis seperti yang ia pikirkan.
..ia bingung, padahal ia telah membubuhkan gula sesuai takaran. Dan begitu ia mencobanya beberapa hari silam, rasanya begitu manis. Namun kini, coklat itu tak ubahnya puyer yang paling ia benci.
Dunia memang ajaib.
Begitu ia menutup telepon, matanya terasa basah.
-..to be continued..-
Authornotes:
-Yeah, saya apdet dalam sehari. Untung lagi ada ide. BTW, saya udah mikirin endingnya. Ayo, semangati saya dengan review supaya saya rajin apdet :p.
-Yah, saya mau promosi Indonesia Fanfiction Award 2010! Yah.. meski saya yakin udah banyak yang tahu, saya jelasin aja yah. IFA itu semacam acara untuk mengapresiasi fanfiksi Indonesia dengan menominasikan fanfic yang anda anggap layak menang. Untuk info.. klik aja link di profil saya #halahmales.
-Review, anyone?
